At Taujih

Mengawal Wacana Iqomatuddiin

MEMAKNAI RAHMATAN LIL ‘ALAMIN

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ
Dan kami tidak mengutus kamu (Muhammad) melainkan untuk rahmat bagi semesta alam” (QS al-Anbiya’ [21]: 107).

Banyak dari ummat islam yang keliru memahami ayat ini. Dengan ayat ini mereka menuduh orang-orang yang amar ma’ruf nahyu munkar dan jihad fi sabilillah sebagai “teroris”. Dengan ayat ini pula mereka mereka mengusulkan agar porno grafi dan porno aksi dilanggengkan di negeri ini. Dengan ayat ini pula mereka berdalil bahwa islam sangat toleran dengan kemaksiatan dan kemungkaran. Sehingga tidak heran jika ada seorang islam liberal yang mengatakan bahwa Amerika serikat adalah negeri yang rahmatan lil ‘alamin. Sorganya dunia, karena di negeri inilah semua yang dilakukan oleh manusia dilindungi hukum. Jadi, bersandingnya masjid dengan pelacuran adalah rahmatan lil ‘alamin. Membiarkan perzinaan dan pelacuran berkembang adalah rahmatan lil ‘alamin. Dan kehidupan serba boleh itu adalah rahmatan lil ‘alamin. Itulah pemikiran-pemikiran bodoh yang telah dihembuskan oleh musuh-musuh islam pada ummat kita.
Melalui tulisan kecil ini kita bahas apa rahmatan lil ‘alamin yang sebenarnya agar kita terhindar dari syubhat-syubhat yang muncul dan merasuki pemikiran ummat. Dan kita berlidung pada Allah Ta’ala dari kesalahan-kesalahan tulisan ini.

Makna rahmatan lil ‘alamin
Jika kita membaca ayat itu dengan seksama dan dengan pemahaman yang benar serta menyeluruh, kita akan mendapatkan bahwa Alloh  mengutus Nabi Muhammad  dengan seluruh syari’at (hukum) yang dibawanya sebagai rahmat bagi seluruh alam. Jadi, kata rahmat dalam ayat tersebut merupakan hasil akhir yang dicapai oleh umat manusia setelah mereka menerapkan syari’at Islam secara keseluruhan. Maka jelaslah letak kesalahan kita dan masyarakat selama ini yang mengatakan bahwa kata rahmat merupakan ‘ilat (alasan) diutusnya Rosululloh  sehingga mereka berani menyalahkan dan mendiskreditkan para pejuang jihad fi sabilillah dan amar ma’ruf nahi mungkar dengan menggunakan ayat ini.
Imam As Syaukani, pengarang kitab tafsir Fathul Qodir menerangkan maksud ayat tersebut dalam tafsirnya :
وَمَا أَرْسَلْنَاكَ يَا مُحَمَّدْ بِالشَرَائِعِ وَالْأَحْكَامِ إِلاَّ رَحْمَةً لِجَمِيْعِ النَاسِ
“Tidaklah Kami mengutus Engkau wahai Muhammad dengan syariah dan hukum kecuali menjadi rahmat bagi seluruh manusia.”

Imam al Baidhowi menjelaskan dalam tafsirnya :
لِأَنَّ مَا بَعَثَتْ بِهِ سَبَبٌ لِإِسْعَادِهِمْ وَمَوْجِبُ لِصَلاَحِ مَعَاشِهِمْ وَمَعَادِهِمْ
Karena tidaklah dia (Muhammad  ) diutus dengannya (syari’at) sebagai sebab kebahagiaan mereka dan kebaikan mereka dunia dan akhirat
Sedangkan Imam al Mawardi menjelaskan dalam tafsirnya :
الرَحْمَةُ وَجْهَانِ :أَحَدُهُمَا : الهِدَايَةُ إِلَى طَاعَةِ اللهِ وَاسْتِحْقَاقُ ثَوَابِهِ .الثَانِي : أَنَّهُ مَا رَفَعَ عَنْهُمْ مِنْ عَذَابِ الْاِسْتِئْصَالِ
Rahmad dalam ayat ini ada dua makna : pertama petunjuk untuk taat pada Allah dan mendapatkan pahalanya. Yang kedua : diangkatnya dari mereka adzab yang menyeluruh.
Dengan demikian Islam sebagai rahmatan lil alamin akan terwujud dengan taat kepada Allah  dan dibarengi dengan penerapan syariah dan hukum Islam, bukan yang lain. Dan penerapan syariah Islam yang dimaksud tentu saja harus totalitas (menyeluruh) bukan sepotong-sepotong, baik dalam urusan pribadi, keluarga, golongan, masyarakat, negara, bahkan dunia.

Rahmatan lil ‘alamin adalah tegaknya islam
Islam dengan segala macam hukumnya telah menjadi momok yang menakutkan, terutama sejak dipaksakannya rekayasa sejarah yang mendiskreditkan Islam dan gerakan Islam. Selama ini digambarkan betapa seram dan ngerinya hukum Islam jika diterapkan dan betapa sadisnya hukum rajam dan potong tangan dan seterusnya.
Akhirnya Islampobia menjalar di masyarakat, bahkan orang-orang yang berstatus muslim pun takut kalau hukum Islam diterapkan di Indonesia Raya ini. Padahal kalau mereka mau melihat Islam dari sumbernya yang asli yaitu Qur’an dan Sunnah dengan pemahaman generasi-generasi terbaik yang dipuji Alloh dan Rosul-Nya, maka mereka akan mendapati agama Islam sebagai agama rahmat dan kasih sayang untuk seluruh alam.
Lihatlah, bagaimana Rosululloh  melarang kaum Muslimin untuk mengganggu orang-orang non-Islam yang hidup sebagai kafir dzimmi. Yaitu orang kafir yang termasuk warga negara Islam yang dilindungi selama mereka mentaati peraturan-peraturan negara dan membayar jizyah (semacam upeti atau pajak). Rosululloh  bersabda:
إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ لَمْ يُحِلَّ لَكُمْ أَنْ تَدْخُلُوا بُيُوتَ أَهْلِ الْكِتَابِ إِلَّا بِإِذْنٍ وَلَا ضَرْبَ نِسَائِهِمْ وَلَا أَكْلَ ثِمَارِهِمْ إِذَا أَعْطَوْكُمْ الَّذِي عَلَيْهِمْ

“Sesungguhnya Alloh tidak mengijinkan kalian untuk masuk ke rumah orang-orang ahli kitab kecuali dengan seijin mereka, tidak boleh memukul mereka dan mengambil buah-buahan mereka selama mereka memberikan kepada kalian kewajiban mereka.” (HR. Abu Dawud).
Demikianlah warga negara non-Islam diberikan hak-haknya dan dijaga hartanya. Tidak boleh dirampas hartanya atau dibunuh jiwanya dengan zolim selama mereka mentaati peraturan-peraturan Islam walaupun kita sama-sama tahu bahwa kedudukan mereka lebih rendah dari kaum muslimin sebagaimana ucapan Umar bin Khottob a: “Rendahkanlah mereka tapi jangan zolimi mereka.” (Majmu’ Fatawa Ibnu Taimmiyah : 28 / 653)
Suatu hari Rosululloh  didatangi dua orang utusan dari Musailamah Al-Kadzab, seorang nabi palsu. Kemudian beliau bersabda: “Apakah kalian mau bersaksi bahwa Muhammad adalah Rosululloh?” Mereka berkata: “Kami bersaksi bahwa Musailamah adalah Rosululloh.” maka Rosululloh bersabda: “Aku beriman kepada Alloh dan para rosul-Nya! Kalau saja aku membolehkan untuk membunuh seorang utusan tentu akan aku bunuh kalian berdua!” mendengar ucapan beliau, mereka berdua masuk Islam dan keduanya ingin tinggal bersamanya. Akan tetapi Rosululloh tetap memerintahkannya untuk kembali kepada kaum yang mengutusnya. Maka Rosululloh  bersabda: “Sesungguhnya aku tidak akan melanggar perjanjian dan tidak akan menahan para utusan. Maka kembalilah engkau! Kalau di dalam diri kalian tetap ada keimanan seperti sekarang ini, maka kembalilah kemari.” (HR. Abu Dawud, An-Nasa’i).
Demikianlah, betapa indah jika islam berkuasa. Memberikan hak-hak ahlu dhimmah dan tidak mendholimi mereka. Bandingkan dengan pemerintahan demokrasi. Semu penuh dengan pendholiman dan penindasan. Karena syari’at islam dibangun atas dasar ibadah pada Allah Ta’ala tidak hanya dalam urusan dunia. Sedang syari’at-syari’at selain islam dibangun hanya berdasarkan pikiran dan tidak pernah berhubungan dengan kehidupan akhirat.

Para ulama memahami bahwa Khilafah adalah kewajiban mendasar di antara kewajiban-kewajiban agung dalam agama Islam. Kewajiban ini bahkan merupakan kewajiban terbesar (al-fardh al-akbar) karena merupakan tumpuan bagi pelaksanaan seluruh kewajiban lain. Sebab, banyak hukum yang tidak bisa tegak tanpa adanya Khilafah seperti hukum-hukum yang terkait dengan sistem ekonomi, pendidikan, sosial, peradilan, keamanan, politik dan militer (termasuk di dalamnya jihad dan perjanjian dengan negara-negara asing), dll. Oleh karena itu, kelalaian kaum Muslim dalam melaksanakan kewajiban menegakkan Khilafah ini termasuk ke dalam salah satu dosa besar.
Berkaitan dengan hal ini, Imam Ahmad, melalui riwayat dari Muhammad bin Auf bin Safyan al-Hamashi, mengatakan, “Fitnah akan terjadi manakala tidak ada Imam/Khalifah yang melaksanakan urusan orang banyak.” (Abu Yaâ’la al-Farraâ, Al-AhkÃm as-SulthÃniyah, hlm. 19).
Ibn Taimiyah, juga menyatakan, “Upaya menjadikan kepemimpinan (Khilafah) sebagai bagian dari agama dan sarana untuk ber-taqarrub kepada Allah . adalah sebuah kewajiban.” (Ibn Taimiyah, As-SiyÃsah asy-Syarâ’iyyah, hlm. 161). Adalah keliru memahami Islam rahmatan lil alamin bisa terwujud tanpa Khilafah. Sama kelirunya, menganggap penerapan syariah Islam oleh negara secara formal sebagai ancaman. Justru tanpa negara bagaimana mungkin syariah Islam secara menyeluruh (bukan hanya aspek ritual, moral, dan individual) bisa terwujud.
Islam rahmatan lil âalamin bukanlah Islam yang mereduksi syariah Islam hanya aspek individual. Bukan pula Islam yang memilih tunduk kepada Barat dengan mereduksi jihad dalam pengertian qital (perang) menjadi hanya perang melawan hawa nafsu. Sebab jihad dalam pengertian qital (perang) adalah kewajiban syariah. Bukan pula Islam yang diam saja ketika Barat menjajah kaum muslim dengan Ideologi Kapitalismenya. Sebab, syariah Islam mewajibkan umat Islam untuk menerapkan hanya syariah Islam dan bukan ideologi musuh-musuh Islam. Singkatnya, Islam rahmatan lil alamin akan terwujud dengan penerapan syariah Islam oleh Daulah Khilafah Islam. [Amru]

About these ads

Filed under: syubhat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 30 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: