At Taujih

Mengawal Wacana Iqomatuddiin

CINTA TANAH AIR SEBAGIAN DARI IMAN, BENARKAH ?

images2حُبُّ اْلوَطَنِ مِنَ اْلإِيْمَانِ
“Cinta tanah air adalah sebagian dari iman”
hadist ini adalah hadist maudhu’ sebagaimana disebutkan dalam kitab Silsilatu Ahaaditsu Ad-Dhaifah wal Maudhuah wa Atsarus Sayyi fil Ummah karya Syaikh Al-Bany Hadits ke 36. Edisi terjemahan, Silsilah Hadits Dhaif dan Maudhu jilid-1, cetakan Gema Insani Press. Imam Jalaluddin as-Suyuthi juga menjelaskan bahwa hadist ini derajadnya tidak diketahui [ad-Durar al-Muntatsirah Fii al-Ahaadiits al-Musytahirah karya imam Jalaluddin as-Suyuthi, tahqiq Syaikh Muhammad Luthfi ash-Shabbagh, hal.110, no.190]

Banyak orang yang memakai hadist maudhu’ ini untuk memompa rasa patriotisme dan nasionalisme bangsa Indonesia. Dengan keyakinan bahwa hadis ini datang dari Rasulullah , ummat islam banyak yang membela mati-matian batas-batas negerinya tanpa memperdulikan diatas aturan apa negeri tersebut dibangun.

Jika negeri tersebut dibangun atas dasar islam dan berusaha menerapkan syari’at islam disetiap lininya, maka wajib bagi ummat islam untuk membelanya. Akan tetapi jika negeri tersebut dibangun bukan diatas syari’at islam, melainkan syari’at kekufuran, maka bagi seorang muslim haram membela peperangan tersebut, karena peperangan yang tidak dijalan Allah adalah dijalan toghut. Di dunia ini hanya ada dua jalan, sabilullah dan sabilut toghut, tidak ada jalan yang ketiga. Allah Ta’ala berfirman :
الَّذِينَ آَمَنُوا يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَالَّذِينَ كَفَرُوا يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ الطَّاغُوتِ فَقَاتِلُوا أَوْلِيَاءَ الشَّيْطَانِ إِنَّ كَيْدَ الشَّيْطَانِ كَانَ ضَعِيفًا

Orang-orang yang beriman berperang di jalan Allah, dan orang-orang yang kafir berperang di jalan thaghut, sebab itu perangilah kawan-kawan syaitan itu, Karena Sesungguhnya tipu daya syaitan itu adalah lemah. [ an Nisa’ : 76 ].
Ibnu Katsir menjelaskan : Orang-orang yang beriman berperang dalam ketaatan pada Allah dan keridhoan-Nya, dan orang-orang kafir berperang dalam ketaatan pada syetan. [ tafsir Ibnu Katsir ayat 76 ].

Jelaslah disini, jika seseorang cinta tanah air secara membabibuta, ia serahkan jiwa dan raga serta berperang karenanya tanpa berfikir pada kelompok manakah ia berperang, maka ia hanya akan dimanfaatkan setan untuk mengutkan kelompoknya.

Cinta tanah air Islam
Islam mengajarkan pada kita bahwa setiap bumi yang dikuasai ummat islam dan diterapkan syari’at islam adalah negeri islam. Dimanapun dan kapanpun berada. Tidak dibatasi warna kulit dan suku. Atau juga dibatasi oleh petak-petak tanah yang ditentukan oleh manusia. Dan jika ada sebuah syari’at islam diterapkan di negeri Islam kemudian diserang oleh musuh-musuh islam, wajib bagi ummatnya untuk membelanya. Dimulai dari yang terdekat yaitu rakyatnya, dan jika tidak mampu kewajiban tersebut meluas pada seluruh ummat islam di dunia. Ibnu Taimiyah berkata :
فَالْعَدُوُّ الصَائِلُ الذِي يُفْسِدُ الدِيْنَ وَالدُّنْيَا لاَ شَيْءَ أَوْجَبُ بَعْدَ الْإِيْمَانِ مِنْ دَفْعِهِ
Musuh yang menyerang yang merusak din dan dunia (ummat islam) tidak ada yang lebih wajib setelah iman kecuali menolaknya. [ Majmu’ fatawa 4/608 ]

Bahkan empat imam madzhab sepakat jika musuh masuk negeri Islam tidak ada lagi ijin bagi seorang yang berhutang kepada yang dihutangi, anak kepada orang tuanya, istri kepada suaminya karena jihad pada waktu tersebut fardhu ‘ain.
Hari ini, ketika bumi-bumi Islam dirampas oleh orang-orang kafir karena menerapkan syari’at Islam, wajib bagi setiap muslim untuk membelanya dengan berbagai kemampuan yang dimiliki. Lihatlah, bagaimana orang-orang Israel telah menjajah Palestina, Amerika dan sekutunya memerangi Afganistan dan Iraq, serta yang terbaru adalah merampas kembali Lembah swat dari kaum muslimin, maka wajib bagi kaum muslimin untuk membantu mereka. Jika masalahnya ketidakmampuan kita untuk pergi kesana, maka dengan harta atau minimal dengan do’a-do’a kita.

Ibnu Taimiyah berkata :
إِذَا دَخَلَ العَدُوُّ بِلاَدَ الْإِسْلاَمِ فَلاَ رَيْبَ أَنَّهُ يَجِبُ دَفْعُهُ عَلَى الْأَقْرَبِ فَالْأَقْرَب، إِذْ بِلاَدُ الْإِسْلاَمِِ كُلُّهَا بِمَنْزِلَةِ البَلْدَةِ الْوَاحِدَةِ، وَأَنَّهُ يَجِبُ النَفِيْرُ اِلَيْهِ بِلاَ إِذْنِ وَالِدٌ وَلاَ غَرِيْمٌ
Jika musuh telah masuk negeri Islam, maka tidak diragukan lagi wajib untuk menolaknya dimulai dari yang dekat. Karena semua negeri Islam kedudukannya sebagaimana satu negeri. Dan bahwasanya wajib untuk pergi kemedan jihad tanpa izin orang tua,orang hutang pada yang dihutangi. [ Majmu’ fatawa 4/608 ].

Inilah yang disebut cinta tanah air Islam. Yaitu dengan membelanya jika diserang, membangun negerinya dengan amar ma’ruf dan nahyu munkar, serta selalu menasehati pemimpinnya jika menjauh dari syari’at islam. Jadi standartnya bukan sebuah isme tertentu, dengan menuduh orang yang tidak cocok dianggap tidak cinta tanah air, jelas ini adalah pemikiran picik. Akan tetapi standartnya adalah syari’at Islam.

Siapa yang cinta dan perusak tanah air
Kalau kita perhatikan di sekeliling kita justru yang merusak tanah air sebenarnya orang-orang yang menggembar – gemborkan paham nasionalis. Yaitu mereka yang menyatakan dirinya sebagai pembela tanah air, pembela persatuan dan kesatuan. Bukankah kesyirikan dan kemaksiatan, kasus korupsi, proyek pembabatan hutan, pencemaran lingkungan, penindasan, kesewenang-wenangan dan yang lainnya dilakukan oleh mahluk yang menamakan dirinya nasionalis?, yang tiap tanggal 17 agustus khidmat merayakan hari kemerdekaan. Politikus yang gigih membela paham cinta tanah air. Padahal cinta tanah air tanpa didasari ilmu yang benar hanya akan menimbulkan kerusakan. Allah Ta’ala berfirman :
ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ
Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan Karena perbuatan tangan manusi, supay Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar). [ QS. Ar Ruum : 41 ]

Imam At Tobari menjelaskan : Telah nampak kemaksiatan dimuka bumi dan lautnya disebabkan tangan manusia melanggar apa yang telah Allah larang darinya. [ Tafsir At Tobari pada ayat tersebut ].

Maka jelaslah, mereka bukan pencinta tanah air tetapi pecinta sistem yang berlaku pada tanah air tersebut.. Karena sistem yang mereka cintai memeberikan keleluasaan untuk melakukan apa saja yang mereka inginkan dengan hukum yang berpihak pada kerakusan. Dengan penegak-penegak hukum yang bisa disogok. Mereka menyerukan pada rakyat untuk mencintai negeri ataupun negara dengan paham nasionalismenya, menyerukan persatuan, sampai menyebarkan hadis palsu. Tujuannya bukan kesejahteraan dan keadilan rakyat tapi keuntungan pribadi, kelompok atau golongan. Nasionalisme hanya dijadikan alat saja.

Sementara itu penegak-penegak syariat Islam dianggap sebagai perusak, pemecah persatuan, pengacau dll. Padahal menegakan syariat adalah refleksi dari cinta kepada Allah sekaligus refleksi rasa cinta pada manusia. Manusia sebagai mahluk yang bermartabat tidak boleh ditindas, dizahalimi. Manusia harus diselamatkan baik dalam kehidupan dunia dan akhirat. Juga refleksi dari cinta pada bumi tempat berpijak agar terpelihara dari kerusakan dan azab Allah. Allah sebutkan mereka itu dalam alqur’an
وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ لَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ قَالُوا إِنَّمَا نَحْنُ مُصْلِحُونَ (*) أَلَا إِنَّهُمْ هُمُ الْمُفْسِدُونَ وَلَكِنْ لَا يَشْعُرُونَ
Dan bila dikatakan kepada mereka:”Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi”. mereka menjawab: “Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan.”Ingatlah, Sesungguhnya mereka Itulah orang-orang yang membuat kerusakan, tetapi mereka tidak sadar. [ QS. Al Baqarah : 11-12].

Yang dimaksud kerusakan disini, ditafsirkan oleh Ibnu katsir dengan kekufuran dan perbuatan maksiat. Maka alasan orang-orang nasionalis untuk menyejahterakan Indonesia dengan melanggengakan berbagai kekufuran, kesyririkan dan kemaksiatan melalui dinas pariwisata dan yang lainnya, jelas tidak akan menjadi baik. Bahkan sebaliknya akan bertambah sengsara karena mereka telah melanggar aturan-aturan Allah Ta’ala.

Manusia diturunkan ke muka bumi untuk menjadi Khalifah, ia wajib menjadi pengatur dan pengelola bumi. Setiap muslim di manapun tinggal di bumi ini harus menunjukkan cintanya pada bumi tempat mereka berpinjak. Cinta pada tanah air tidak identik dengan acara cium mencium bendera atau upacara bendera. Tetapi harus dibuktikan dengan kerja nyata. Dalam kehidupan sehari-hari muslim yang mencintai tanah air akan selalu menjaga lingkungannya baik di darat, di laut maupun udara dari keruksakan. Ajaran Islam melarang umatnya untuk merusak hidup dan kehidupan.

Cinta tanah air Indonesia bukan dengan selalu melantunkan nyanyian “padamu negeri” atau “indonesia raya” dan yang lainnya. Atau dengan memeriahkan peringatan 17 Agustus yang kadang bertentangan dengan syari’at Islam. Atau dengan menangis-nangis saat pengibaran bendera merah putih. Tetapi cinta tanah air hanya dengan mengembalikan aturan hidup pada aturan Allah Ta’ala saja. Dengannya perdamain, keadilan, kesejahteraan, dan kebahagiaan pasti akan terwujud. Tanpanya hanya akan terjadi kesengsaraan yang takpernah ada ujungnya. [amru]

About these ads

Filed under: syubhat

13 Responses

  1. imchildish mengatakan:

    bentuk cinta disini dalam segi apa dulu ya baru bisa dibilang beriman?
    kalau seperti indonesia degera demokrasi yang tidak sesuai dengan hukum islam saya rasa bukan sebagian dari iman.

  2. slamet sulaiman mengatakan:

    Syukron,dengan artikel ini semoga bisa menambah keimanan kita

  3. jauhar mengatakan:

    orng yng mngatakan cinta tanah air sebagian dari iman itu hadist palsu, berarti dia tidak pernah membela tanah airnya, dan bhkan tnah airnya di rusak sendiri, kita wajib cinta tanah air, karena kita lahir di sini, tanah air kita sendiri, kalau kita tidak cinta tanah air kita sendiri, lalu siapa yang mencintai tanah air kita,……??????

    • sekarsidan mengatakan:

      ahlu ahwa!!! nasionalis..maaf.. busuk!!!

    • mufid mengatakan:

      Islam diikat dengan aqidah bukan bangsa/tanah air. orang yang cinta tanah air bukan karena negara menerapkan hukum islam secara kaffah dia termasuk asobiyah yaitu mengagung-agungkan golongan dan ini tidak ada bedanya dengan orang kafir karena orang kafir rela berperang mati-matian hanya karena tanah air bukan supaya hukum Allah SWT diterapkan. sadaralah bahwa hukum diseluruh dunia saat ini belum ada yang menerapkan islam secara kaffah maka kwajiban bagi setiap muslim untuk memperjuangkan, cinta tanah air telah menjadikan umat islam mundur karena umat islam yang seharusnya bersatu di seluruh dunia terpecah-pecah menjadi 50 negara lebih jadi kesimpulanya cinta tanah air/nasinalisme inilah umat islam dihancurkan ….. nasinalisme adalah sesat….. yang seharusnya kita pikirkan adalah umat islam dimanapun dia berada sebagai saudara kita bukan berdasarkan bangsa….perlu disimpulkan bahwa wajib mempertahankan negeri kaum muslimin (daulah islam) dari orang-orang kafir dan menyebarkan ke seluruh dunia. semoga menjadi renungan kita

    • mufid mengatakan:

      mana alasan anda untuk membenarkan hadist tentang cinta tanah air bukan hadist palsu? ancaman bagi pembuat hadist palsu…..
      Dari Abi Hurairah, ia berkata. Telah bersabda Rasulullah SAW ”Barang siapa yang berdusta atasku (yakni atas namaku) dengan sengaja, maka hendaklah ia mengambil tempat duduknya (yakni tempat tinggalnya) di neraka”.

      Hadits shahih dikeluarkan oleh Imam Bukhari (1/36) dan Muslim (1/8) dll.
      juga…
      ”Tidak seorangpun yang berkata atas (nama)ku dengan batil, atau (ia mengucapkan) apa saja (perkataan) yang tidak pernah aku ucapkan, melainkan tempat duduknya di neraka”.

      Sanad ini shahih atas syarat Bukhari dan Muslim.
      juga…
      Dari Amir bin Abdullah bin Zubair dari bapaknya (Abdullah bin Zubair), ia berkata. Aku bertanya kepada Zubair bin ‘Awwam : ”Mengapakah aku tidak pernah mendengar engkau menceritakan (hadits) dari Rasulullah SAW sebagaimana aku mendengar Ibnu Mas’ud dan si fulan dan si fulan..? Jawabnya : Adapun aku tidak pernah berpisah dari Rasulullah sejak aku (masuk) Islam, akan tetapi aku telah mendengar dari beliau satu kalimat, beliau bersabda : ”Barangsiapa yang berdusta atas (nama) ku dengan sengaja, maka hendaklah ia mengambil tempat duduknya di neraka”.

      Hadits shahih, dikeluarkan Bukhari (1/35), Abu dawud (No. 3651) dan Ibnu Majah (No. 36 dan ini lafadznya) dll.

      kita diciptakan berbangsa-bangsa untuk saling kenal mengenal dengan baik dan orang paling mulya diantara kita adalah orang yang paling takwa.. jadi kemulyaan di sisi Allah SWT bukan karena kita lahir di Indonesia atau di Arab atau di negara yang lain…. tapi karena ketakwaanya… kita disuruh berbuat baik kepada Alam, Manusia dan Mahluk Allah yang lain … jadi cinta itu tidak dibatasi oleh bangsa justru cinta itu harus dilandasi aqidah islam dan ketika kecintaan itu karena Allah dan Rasulnya maka kecintaan itu akan sempurna, sebagai contoh Ketika zaman kholifah umar bin abdul aziz menerapkan islam secara kaffah (dlm negara islam) maka yang terjadi kesejahteraan baik muslim maupun non muslim sampai-sampai tidak satupun manusia pada saat itu mau menerima zakat karena sudah pada makmur karena ketika kita menerapkan hukum Allah sangat jauh berbeda dengan kondisi saat ini antara lain: biaya sekolah,kwalitas dll adalah kwajiban negara (gratis), Rumah sakit gratis, tidak ada pajak kecuali negara dalam keadaan darurat itupun tidak bersifat permanen dan orang-orang yang benar-benar mampu dll ….. jadi siapa yang mencintai tanah air kita bukan dari sisi aqidah islam adalah orang yang kurang paham tentang ajaran islam karena ketika kita menerapkan hukum islam secara sempurna (khilafah) tidak hanya bangsa kita yang dilindungi tapi seluruh bangsa-bangsa yang mau tunduk dan patuh kepada syariah islam tanpa pandang bulu, alam ini akan terpelihara dengan baik, harga diri manusia akan terjaga aqidah manusia akan terselamatkan… bukankah dunia yang menciptakan Allah, begitu juga manusia, hewan, tumbuh-tumbuhan dan yang lain kenapa harus kita beda-bedakan tanah air kita dengan bangsa lain, apakah ketika orang-orang islam diperangi dengan jelas-jelas kita akan diam karena beralasan bukan tanah air kita? islam tidak seperti itu … jadi cinta tanah air adalah sebagian dari iman adalah menyesatkan.. islam rahmat bagi seluruh alam bukan hanya untuk indonesia. justru kita harus upayakan agar negara kita (Indonesia) dirubah sistemnya berdasarka ideologi islam agar kita bisa selamat dunia dan akhirat… karena kita semua dicipkan Allah dan akan bertanggung jawab kepada-Nya maka hukum yang pantas diterapkan hanyalah hukum Allah SWT bukan hukum buatan manusia (demokrasi)…

  4. Encuy mengatakan:

    Assalaamu’alaikum, setiap muslim adalah bersaudara. Maka dari itu ingatkan saudaramu apabila ia terlupa, beritahu ia apabila dirinya tidak mengetahui. Dan yang perlu diingat adalah Bangsa Indonesia ini adalah ciptaan Allah, seperti halnya Allah menciptakan Bangsa-bangsa sebelumnya. Berjuang untuk Bangsa= berjuang di jalan Allah, BUKAN NEGARA.

  5. jauhar mengatakan:

    kalau tidak tau janganlah kau sok tau apalagi sampai pasang blog ini,….. kita harus cinta tanah air, karna kita di ciptakan dari tanah dan air,… kalau kita tidak cinta tanah air, berarti kita juga tidak mencintai diri kita sendiri, kalau kita tidak mencintai diri sendiri, berarti kita merusak diri sendiri, kalau kita merusak diri kita sendiri, kita bisa merugikan orang lain, kalu kita merugikan orang lain, maka orang lain akan merasa tidak suka terhadap kita, kalau tidak suka berarti kita yang berdosa,..????????

  6. Paman Siwah mengatakan:

    Cinta Tanah Air Sebagian Dari Iman Adalah HADITS PALSU !

    بسم الله الرحمن الرحيم

    Ada sebuah kalimat yang sering disebut – sebut sebagai hadits Nabi –Shollallohu ‘Alayhi wa Sallam- di dalam majelis – majelis. Kalimat itu sangat populer dikalangan masyarakat awam dan para Ulama yang bukan ahli hadits.

    Lengkapnya berbunyi :

    “Hubbul wathoni minal Imaan (Cinta tanah air sebagian dari iman)”

    Akan tetapi para Ulama’ Ahli hadits (muhaditsin) menilai dan sepakat bahwa itu adalah HADITS PALSU (Maudhu’) karena Rasulullah –Shollallohu ‘Alayhi wa Sallam- tidak pernah mengatakan seperti itu.

    Imam As-Suyuti dan Al-Sakhowi berpendapat “lam ‘aqif ‘alayh (Saya tidak menemukannya)”. kalimat lam ‘aqif ‘alayh di dalam ulumul hadits (ilmu hadits) dikenal sebagai istilah untuk hadits maudhu’ (palsu).

    Imam Hasan ibn Muhammad Al-Shaghani yang mengarang kitab al-Masyariq seperti dinukil oleh Imam Al-Ajluni juga menegaskan bahwa hadits tersebut maudhu’ (palsu). Begitu juga dengan Imam Darwisy Al-Hut.

    Bahkan Ali Al-Qari berpendapat bahwa hadist itu tidak ada kaitannya antara cinta tanah air dan keimananan, dan itu aneh sekali.

    “Dan sesungguhnya kalau Kami perintahkan kepada mereka: “Bunuhlah dirimu atau keluarlah kamu dari kampungmu”, niscaya mereka tidak akan melakukannya kecuali sebagian kecil dari mereka.” (An-Nisaa’ : 66)

    Menurut Al-Qari, ayat ini menunjukkan orang – orang munafiq itu mencintai tanah air mereka dan mereka tidak beriman (kafir). Karenanya tidak ada kaitannya antara cinta tanah air dan keimanan.

    Sama kita tau bahwa hadits palsu HARAM untuk disebarkan bagi yang tau dan HARAM masuk ke dalam majelis – majelis.

    Rasulullah –Shollallohu ‘Alayhi wa Sallam- bersabda, “Sungguh, kedustaan atas namaku tidaklah seperti dusta atas nama selainku. Barangsiapa yang dengan sengaja berdusta atas namaku maka hendaknya ia menempati tempatnya di dalam NERAKA!” (HR. Bukhari no. 1291 dan Muslim no. 3)

    Dan sangat diharamkan jika kita menyampaikan suatu hadits yang kita tau bahwa itu hadits palsu yang tidak bersumber dari Rasulullah –Shollallohu ‘Alayhi wa Sallam-.

    Sebagaimana beliau –Shollallohu ‘Alayhi wa Sallam- bersabda,

    “Barangsiapa yang meriwayatkan dariku sebuah hadits , sedang ia tau bahwa hadits itu BOHONG, maka ia TERMASUK ORANG – ORANG PENDUSTA.” (HR. Muslim no. 4 dan Tirmidzi no. 2664)

    Bahkan sekarang banyak yang mengatakan perkataan para Shahabat (atsar) tanpa sanad, padahal sanad dalam ilmu hadits sangat penting. Mereka mengatakan Abu Bakar berkata begini, Umar berkata begini, Utsman berkata begini dan Ali berkata begitu, tapi tanpa sanad.

    Imam Abdullah bin Al-Mubarok –Rahimahulloh- seorang Tabi’in pernah berkata, “Sanad itu bagian dari agama. Seandainya tidak ada sanad, niscaya siapapun akan berbicara semaunya.” (Mqoddimah Shohih Muslim)

    Semoga Alloh mengampuni ‘Ulama tsiqah pendahulu kita di Indonesia maupun luar Indonesia yang tidak sengaja menyebarkan / menukil hadits ataupun atsar palsu di dalam kitab – kitabnya (saya tidak akan menyebutkan nama mereka satu persatu).

  7. hamba Allah mengatakan:

    A. PENGANTAR

    Pada tanggal 17 Agustus, biasanya hadits ini seringkali muncul dalam upacara-upacara untuk menumbuhkan semangat patriotisme dan menyuburkan rasa kebangsaan. Sehingga hadits ini begitu populer sekali di masyarakat, dihafal bahkan dianggap sebagai suatu hadits yang diucapkan oleh Nabi Muhammad.
    Namun permasalahannya adalah:

    Benarkah ungkapan tersebut termasuk hadits yang diucapkan oleh Nabi Muhammad?
    Bagaimana dengan substansi makna kandungannya?!

    Kajian berikut akan mencoba untuk mencari jawabannya.

    Wallahul Muwaffiq.

    .

    B. TEKS HADITS

    حُبُّ الْوَطَنِ مِنَ الإِيْمَانِ
    Cinta tanah air termasuk iman.

    Derajat Hadits dan Komentar Ulama:

    TIDAK ADA ASALNYA. Berikut ucapan para ulama pakar ahli hadits:

    As-Shoghoni berkata: “Termasuk hadits-hadits yang palsu”.
    As-Suyuthi berkata: “Saya tidak mendapatinya”.
    As-Sakhowi berkata: “Saya tidak mendapatinya”.
    Al-Ghozzi berkata: “Ini bukan hadits”.
    Az-Zarkasyi: “Saya belum mendapatinya”.
    Sayyid Mu’inuddin ash-Shofwi berkata: “Ini bukan hadits”.
    Mula al-Qori berkata: “Tidak ada asalnya menurut para pakar ahli hadits”.
    Al-Albani berkata: “Maudhu’ (palsu)”.
    Lajnah Daimah yang diketahui oleh Samahatus Syaikh Abdul Aziz bin Baz mengatakan: “Ucapan ini bukan hadits nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ia hanyalah ucapan yang beredar di lisan manusia lalu dianggap sebagai hadits.

    .

    C. MATAN HADITS

    Syaikh al-Albani berkata:

    “Dan maknanya tidak benar. Sebab cinta negeri sama halnya cinta jiwa dan harta; seseorang tidak terpuji dengan sebab mencintainya lantaran itu sudah tabiat manusia. Bukankah anda melihat bahwa seluruh manusia berperan serta dalam kecintaan ini, baik dia kafir maupun mukmin?!
    Allah berfirman:

    وَلَوْ أَنَّا كَتَبْنَا عَلَيْهِمْ أَنِ اقْتُلُوا أَنفُسَكُمْ أَوِاخْرُجُوا مِن دِيَارِكُم مَّافَعَلُوهُ إِلاَّ قَلِيلُُ مِّنْهُمْ
    Dan sesungguhnya kalau Kami perintahkan kepada mereka:”Bunuhlah dirimu atau keluarlah kamu dari kampungmu”, niscaya mereka tidak akan melakukannya, kecuali sebagian kecil dari mereka.

    (QS. An-Nisa’: 66)

    Ayat ini menunjukkan bahwa orang-orang kafir juga mencintai tanah air mereka. Musuh-musuh Islam telah menjadikan hadits palsu ini untuk menghilangkan syi’ar agama dalam masyarakat dan menggantinya dengan syi’ar kebangsaan, padahal aqidah seorang mukmin lebih berharga baginya dari segala apapun”.

    Berlebih-lebihan terhadap tanah air bisa sampai kepada derajat memberhalakannya.
    Dan terkadang Syetan menggambarkan kepada sebagian mereka bahwa tanah air lebih baik daripada surga ‘Adn, sebagaimana seorang di antara mereka mengatakan:

    هَبْ جَنَّةُ الْخُلْدِ الْيَمَنْ
    لاَ شَيْئَ يَعْدِلُ الْوَطَنْ
    Anggaplah bahwa surga yang kekal adalah Yaman
    Tidak ada sesuatupun yang melebihi tanah air.

    Seorang lainnya mengatakan:

    وَطَنِيْ لَوْ شُغِلْتُ بِالْخُلْدِ عَنْهُ
    نَازَعَتْنِيْ إِلَيْهِ فِي الْخُلْدِ نَفْسِيْ
    Tanah airku, seandainya aku disibukkan oleh surga darinya
    Niscaya jiwaku akan menggugatku di surga menuju tanah airku.

    .

    D. SEBAB TERSEBARNYA HADITS

    Al-Hafizh asy-Syaukani berkata menjelaskan sebab menyebarnya hadits-hadits palsu seperti ini:

    “Para ahli sejarah telah meremehkan dalam mengutarakan hadits-hadits bathil seputar keutamaan negeri, lebih-lebih negeri mereka sendiri. Mereka sangat meremehkan sekali, sampai-sampai menyebutkan hadits palsu dan tidak memperingatkannya, sebagaimana dilakukan oleh Ibnu Dabi’ dalam Tarikhnya yang berjudul “Qurrotul Uyun bi Akhbaril Yaman Al-Maimun” dan kitab lainnya yang berjudul “Bughyatul Mustafid bi Akhbar Madinah Zabid” padahal beliau termasuk ahli hadits.

    Maka hendaknya seorang mewaspadai dari keyakinan ini atau meriwayatkannya, karena kedustaan dalam masalah ini sudah menyebar dan melampui batas. Semua itu sebabnya adalah fithrah manusia untuk cintah tanah air dan kampung halamannya”.

    .

    E. APAKAH CINTA NEGERI TERLARANG?
    Al-Ustadz A. Hassan –semoga Allah merahmatinya- berkata: “Tidak ada undang-undang manusia yang tidak terdapat di hukum-hukum agama, larangan atas seorang mencintai bangsanya dan tanah airnya malah tidak terlarang, dia cinta kepada kerbau dan spinya, kambing dan anjingnya, kelinci dan kucingnya, ayam dan bebeknya.
    Sekali lagi, agama tidak menghalangi seseorang mencintai segala sesuatu hatta tanah dan pasir di negeri satrunya.
    Cuma, janganlah dibawa-bawa agama dalam urusan yang agama tidak jadikan urusan. Jangan dibawa-bawa kalimat:

    حُبُّ الْوَطَنِ مِنَ الإِيْمَانِ
    Cinta tanah air termasuk iman.

    Ini dikatakan hadits Nabi, padahal bukan.

    Kalau orang cinta tanah air membawakan hadits palsu itu, maka orang cinta kucing akan membawakan hadits palsu lain:

    حُبُّ الْهِرَّةِ مِنَ الإِيْمَانِ
    Cinta kucing itu sebagian dari iman.

    .

    F. HENDAKNYA UNTUK ISLAM BUKAN SEKADAR KEBANGSAAN

    Syaikh Muhammad al-Utsaimin berkata: “Kita apabila perang hanya untuk membela Negara tidak ada bedanya dengan orang kafir yang juga perang untuk membela Negara mereka.

    Seorang yang perang hanya untuk membela negeri saja maka dia bukanlah syahid, namun kewajiban kita sebagai muslim dan tinggal di negeri Islam adalah untuk perang karena Islam yang ada di negeri kita. Perhatikanlah baik-baik perbedaan ini, kita berperang karena Islam yang ada di negeri kita. Adapun sekadar karena negeri saja maka ini adalah niat bathil yang tidak berfaedah bagi seorang. Adapun ungkapan yang dianggap hadits “Cinta negeri termasuk keimanan” maka ini adalah dusta.

    Cinta Negara, apabila karena Negara tersebut adalah Negara Islam maka kita mencintainya karena Islamnya, tidak ada bedanya apakah Negara kelahiran kita ataukan Negara Islam yang jauh, maka wajib bagi kita untuk membelanya karena Negara Islam.
    Kesimpulannya, seharusnya kita mengetahui bahwa niat yang benar tatkala perang adalah untuk membela Islam di negeri kita atau membela Negara kita karena Negara Islam, bukan hanya karena sekedar Negara saja”.
    Al-Ustadz A. Hassan mengatakan: “Dalam mencintai tanah air secara kebangsaan itu ada beberapa kesalahannya yang besar bagi orang yang beragama Islam:

    Pertama: yang sebesar-besarnya, ialah menjalankan hukum-hukum yang bukan dari Allah dan RasulNya.

    Kedua: dengan terpaksa, karena pembawaan kebangsaan, memandang muslim di negerinya yang bukan sebangsa dan setanah air dengannya sebagai orang asing, padahal sebenarnya ia mesti pandang seperti saudara.

    Ketiga: Memutuskan perhubungan antara lain-lain negeri Islam dengan alasan mereka bukan sebangsa dan setanah air, walaupun Allah dan Rasul telah katakana mereka saudara yang mesti bersatu.

    Dari sini, dapat kita ketahui KESALAHAN ucapan sebagian tokoh tatkala mengatakan:

    “Kita tidak memerangi Yahudi karena masalah aqidah!!

    “Kita memerangi mereka karena tanah!! Kita tidak memerangi karena mereka kafir!!”

    “Tetapi kita memerangi karena mereka merampas tanah kita tanpa alasan yang benar!!!”.

  8. Ayah Raka mengatakan:

    Saya pernah membaca tulisan Abdullah Patani tentang Gerakan Freemason di Asia Tenggara yang di dalamnya tersebut beberapa kalimat yang dinukil dari buku milik orang-orang Yahudi yakni di antaranya adalah kalimat “Cinta tanah air Sebagian dari iman”. Barangkali bersumber dari buku itulah hadits palsu ini berasal. Buku tersebut berjudul “Syer Talmud Qaballa” yang berarti Nyanyian Talmud Kabbalah.

  9. orang baik mengatakan:

    se7.., tanah air kita kaum muslimin adalah setiap bumi yang dikuasai ummat islam dan diterapkan syari’at islam, dimanapun dan kapanpun berada…
    so.., kita wajib membebaskan seluruh wilayah islam yang terjajah oleh orang2 dholim, fasik dan kafir/..
    inga2 bung.., kita pernah menguasai 1/3 dari dunia..

    Ku melihat kematianku * tapi ku bergegas menyambutnya

    Telingaku menikmati dentingan pedang * dan tumpahan darahku akan menggetarkan nyawaku

    Bagaimana bisa ku bisa bersabar dengan dendam * dan besabar dengan semua rasa sakit ini

    Karena ketakutan jika kehidupan tak lagi bermakna bagiku * atau karena penghinaan yang kubenci

    Akan ku lempar hatiku tepat diwajah musuhku * hatiku adalah api dan baja

    Akanku lindungi tanahku dengan mata pedang * sehingga mereka tahu kalau aku adalah seorang lelaki

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 30 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: