At Taujih

Mengawal Wacana Iqomatuddiin

MACAM-MACAM ILMU FARDLU ‘AIN

Judul Asli :

Aqsaamul Ilmi
Alladzi Huwa Fardhu ‘Ain

Penulis :

Syaikh Abqul Qodir bin Abdul Aziiz

Edisi Indonesia :

Macam-macam Ilmu Fardhu ‘Ain

Alih Bahasa :

Abu Musa Ath Thoyyar

Publikasi :

Maktab Al Jaami’

© All Right Reserved
Silahkan memperbanyak tanpa merubah isi, pergunakanlah untuk kepentingan kaum Muslimin

“Demi Kembalinya seluruh Dien hanya milik Allah Ta’ala”

MACAM-MACAM
ILMU FARDLU ‘AIN

Ilmu yang wajib dipelajari, ditinjau dari kadar kebutuhan yang berupa perkataan dan perbuatan dibagi menjadi 2 pokok:
1. Ilmu yang sejak awal wajib dipelajari oleh setiap muslim supaya dia bisa melaksanakan kewajiban-kewajiban yang terus berulang-ulang, dan supaya dia bisa melaksanakan muamalat yang sering dibutuhkan. Ilmu yang semacam ini mencakup 2 bagian:
A. Bagian yang umum yang wajib bagi seluruh mukallafiin (orang-orang yang terkena kewajiban/orang berakal yang telah baligh) untuk mempelajarinya dimanapun dan kapanpun. Dan yang ini akan kami sebut sebagai “Ilmu Fardlu ‘Ain Yang Bersifat Umum”.
B. Bagian yang khusus, yang wajib dipelajari oleh sebagian mukallafiin dan tidak wajib dipelajari bagi sebagian yang lainnya. Dalam hal ini kadarnya satu sama yang lain berbeda sesuai kewajiban yang diemban masing-masing dan yang ini akan kami sebut sebagai “Ilmu Fardlu ‘Ain Yang Bersifat Khusus”.
2. Ilmu yang tidak wajib untuk dipelajari oleh orang muslim kecuali ketika terjadi sesuatu atau hampir terjadi sesuatu, yang biasanya kejadian itu tidak berulang-ulang, dan permasalahan ini dinamakan dengan “An nawaazil” (kejadian yang bersifat temporer). Bagian ini akan kami sebut sebagai: “Ilmu Tentang Ahkaamun Nawaazil (permasalahan-permasalahan yang bersifat temporer)”. Bagian ini juga berbeda-beda kadarnya antara seseorang dengan yang lainnya sesuai dengan kejadian yang menimpa dirinya.
Dari sini dapat disimpulkan bahwa ilmu yang fardlu ‘ain itu ada 3 bagian:
 Ilmu Fardlu ‘ain yang bersifat umum
 Ilmu Fardlu ‘ain yang bersifat khusus dan
 Ilmu tentang Ahkaamun Nawaazil.
Dan masalah ini telah kami singgung dalam pasal 1 pada bab ini. Dan kami akan sebutkan berikut ini ciri-cirinya masing-masing secara ringkas insya Alloh.


Pertama:
Ilmu Fardlu ‘Ain Yang Bersifat Umum

Bagian ini wajib dipelajari oleh seluruh mukallaf di setiap tempat dan di sepanjang masa, sehingga semua orang muslim wajib mempelajarinya. Diantaranya adalah:
1. Memahami rukun Islam yang 5 yaitu kesaksian bahwa tidak ilaah kecuali Alloh dan bahwa Muhammad adalah utusan Alloh, mendirikan sholat, mengeluarkan zakat, shoum Romadlon dan haji bagi orang yang mampu menempuh perjalanannya.

Dan pada rukun yang pertama (2 kalimah syahadah) tidak cukup hanya sekedar mengucapkan saja, akan tetapi harus memahami makna keduanya dan syarat-syarat syah syahadat laa ilaaha illallooh, sehingga ia tidak terjerumus pada hal-hal yang membatalkan keduanya.

Abu Haamid Al Ghozaaliy rh berkata: “Maka apabila seseorang yang berakal telah baligh dengan ihtilam (mimpi basah) atau karena telah mencapai umur baligh pada pagi hari misalnya, maka kewajiban dia pertama kali adalah mempelajari 2 kalimah syahadah dan memahami maknanya. Yaitu kalimat Laa ilaaha illalloh, Muhammadur Rosulullooh.” (Ihayaa-u ‘Uluumid Diin I/25).

Adapun makna keduanya adalah: syahadat laa ilaaha illallooh mengandung an nafyu (penafian) yaitu laa ilaaha, dan al itsbaat (penetapan) yaitu illalloh, sehingga maksudnya adalah meniadakan segala bentuk uluuhiyyah (peribadatan) dari selain Alloh dan meninggalkan ibadah kepada selainNya, serta menetapkan uluuhiyyah hanya untuk Alloh, dengan cara mengesakanNya, dalam bentuk atau berbagai bentuk ibadah untukNya semata seperti sholat, do’a, nadzar, penyembelihan. Al Khouf (rasa takut) ar rojaa’ (harapan) dan at tahaakum (berhakim). Barang siapa yang menyelewengkan salah satu dari ibadah-ibadah tersebut, atau yang lainnya kepada selain Alloh, maka perbuatannya tersebut telah membatalkan ucapannya dan dia belum merealisasikan makna syahadat bahkan ia menjadi kafir, karena ia melakukan hal-hal yang membatalkan syahadat. Oleh karena itu supaya syahadat itu syah harus terealisasikan makna yang terkandung di dalamnya yang berupa an nafyu (peniadaan) dan al itsbaat (penetapan). Ibadah itu hakekatnya adalah at tadzallul (merendah) dan al khudluu’ (tunduk). Hal ini terealisasikan dengan menyesuaikannya hamba pada gerakan-gerakannya, diamnya, pikiran-pikirannya, dan betikan-betikan hatinya sesuai dengan kehendak Alloh dengan cara berpegang teguh dengan perintah dan larangannya pada setiap urusan. Sebagaimana firman Alloh kepada nabiNya:

قل إن صلاتي ونسكي ومحياي ومماتي لله رب العالمين لا شريك له وبذلك أمرت وأنا أول المسلمين
“Katakanlah sesungguhnya sholatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Alloh Robb semesta alam, tidak ada sekutu bagiNya dan begitulah aku diperintahkan dan aku adalah orang yang pertama kali berserah diri”. (QS. Al An’aam:162-163).

Inilah kemurnian ibadah. Oleh karena itu sebagian ulama’ mendefinisikan bahwa ibadah itu adalah “melaksanakan apa yang diperintahkan Alloh melalui lisan para RosulNya”.

Kemudian Alloh menjadikan penyelewengan terhadap perintah dan larangan itu bertingkat-tingkat. Penyelewengan yang paling besar adalah penyelewengan yang mencabut hakekat ibadah dari pokoknya dan yang membatalkan syahadat laa ilaaha illallooh. Dan ini adalah merupakan hal-hal yang menyebabkan kekafiran yang mencakup keyakinan perkataan dan perbuatan yang telah dinyatakan oleh Syaari’ (Alloh sang Pembuat Syariat) atas kafirnya orang yang melakukannya. Kemudian tingkatan setelah itu adalah dosa-dosa besar yang tidak menyebabkan kekafiran dan yang menjadikan pelakunya fasiq kemudian setelah itu dosa-dosa kecil.

Adapun syahadat “Muhammadur Rosululloh” artinya adalah mempercayai segala apa yang diberitakannya dan mentaati segala perintahnya. Kalimat ini juga berarti menjadikannya sebagai satu-satunya yang diikuti. Dengan demikian dari jalan Rosul SAW lah seorang hamba mengetahui bagaimana cara beribadah kepada Robbnya dan bagaimana melaksanakan tuntutan-tuntutan syahadat yang pertama yaitu syahadat “laa ilaaha illalloh” maka beribadah kepada Alloh sesuai dengan ajaran RosulNya SAW dan tidak sesuai dengan apa yang dipandang baik oleh akal dan hawa nafsunya atau akal dan hawa nafsu orang lain. Oleh karena itu Alloh berfirman:

قُلْ إِن كُنتُمْ تُحِبُّونَ اللهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللهُ غَفُورُُ رَّحِيمُُ
“Katakanlah jika kalian mencintai Alloh maka ikutilah aku (Muhammad) niscaya Alloh mencintai kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian dan Alloh Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Ali Imron:31).
Adapun syarat-syarat syah syahadat “Laa ilaaha illalloh” adalah :

 Al ‘Ilmu (mengetehui), kebalikannya adalah Al jahlu (tidak mengetahui / bodoh), maksudnya adalah mengetahui maknanya sebagaimana yang telah disebut di atas.
 Al Yaqiin (yakin), kebalikannya adalah Asy Syakk (ragu-ragu).
 Al Ikhlaash (ikhlas), kebalikannya adalah Asy Syirku (syirik).
 Ash Shidqu (jujur, tulus), kebalikannya adalah Al Kadzibu (dusta).
 Al Mahabbah (cinta), kebalikannya adalah Al Bughdlu (benci).
 Al Inqiyaad (patuh), kebalikannya adalah At Tarku (meninggalkan).
 Al Qobuul (menerima), kebalikannya adalah Ar Rodd (menolak).
 Kufur terhadapa segala sesuatu yang diibadahi selain Alloh.
Inilah syarat-syarat agar iman seorang hamba syah dan amalannya diterima di akhirat. Adapun pada hukum dhohir di dunia kita tidak boleh mengetes orang apakah ia telah memenuhi syarat syah tersebut. Khususnya bagi diantara syarat-syarat tersebut merupakan amalan hati yang tidak mungkin manusia mengetahuinya. Akan tetapi yang dituntut dari seorang hamba di dunia ini hanyalah al iqroor (mengikrarkan) dan al inqiyaad (taat). Maka apabila ia mengucapkan 2 kalimat syahadat dan tidak melakukan salah satu dari pembatal-pembatal Islam, maka dia seorang muslim. Sedangkan al yaqiin, al ikhlaash, as shidqu, dan al mahabbah merupakan amalan dan ibadah hati yang tidak ada cara untuk mengetahuinya di dunia ini. Meskipun ia mempunyai tanda-tanda. Permasalahan ini diserahkan kepada Alloh yang akan ia hisab pada Hari Qiyamat. Sebagaimana sabda Rosululloh SAW:

فإذا قالوها عصموا مني دماءهم وأموالهم إلا بحق الإسلام و حسابهم على الله تعالى
“Apabila mereka telah mengucapkannya maka terjagalah darah dan harta mereka dariku kecuali dalam hak Islam, dan hisab mereka terserah kepada Alloh. Hadits ini muttafaqun ‘alaihi.
Peringatan:

Memahami makna 2 kalimat syahadat bukanlah syarat untuk menentukan seseorang itu Islam secara dhohir, namun ia merupakan syarat syah hakekat Islam yang sebenarnya. Pembahasan masalah ini ada 2 tingkatan:
A. Memahami makna 2 kalimat syahadat bukanlah syarat untuk menentukan seseorang itu sebagai orang Islam. Artinya kalau ada orang masuk Islam maka tidak harus dites tentang masalah ini untuk menentukan dia sebagai orang Islam. Dan begitupun jika seseorang secara dhohir Islam, maka tidak harus dites pemahamannya tentang makna 2 kalimat syahadat untuk menetapkan dia sebagai orang Islam. Dalil yang menunjukkan tidak wajibnya mengetes permasalahan ini adalah bahwa Nabi SAW menerima Islamnya seseorang yang masuk Islam tanpa harus mengetesnya dan beliau memberlakukan kepada orang tersebut hukum-hukum Islam kemudian mereka mempelajari apa yang menjadi kewajiban mereka setelah itu. Hal ini ditunjukkan dalam sabda beliau SAW kepada Usaamah bin Zaid ra. :

أقتلته بعد ما قال لا إله إلا الله
“Apakah kamu bunuh dia setelah dia mengucapkan laa ilaaha illalloh” (Hadits ini Muttafaqun ‘alaihi).
Dengan demikian beliau menjadikan seseorang itu terjaga hanya dengan mengucapkan syahadat, dan ini menunjukkan beliau menetapkannya sebagai orang Islam.
Adapun hadits dan Nabi SAW yang menyebutkan bahwa beliau mengetes beberapa orang, hal itu hanya pada keadaan-keadaan tertentu saja yang tidak dianggap sebagai hukum asal, karena beliau tidak mengetes terhadap puluhan ribu yang masuk islam pada masa hidup beliau SAW. Oleh karena itu beliau melakukan pengetesan itu boleh jadi atau pasti karena sebab-sebab tertentu. Adapun hadits tentang budak perempuan yang Rosululloh SAW katakan :

أعتقها فإنها مؤمنة
“Merdekakan dia karena sesungguhnya dia adalah mukminah” hadits ini diriwayatkan muslim.
Sebab pengetesannya adalah karena penetapan iman seorang budak adalah syarat syah untuk memerdekakannya. Karena sesungguhnya Alloh ta’ala telah mewajibkan dalam beberapa keadaan untuk membebaskan budak yang beriman seperti dalam firmannya :

فتحرير رقبة
“Maka bebaskanlah budak yang beriman”.
Pengetesan iman budak perempuan tersebut adalah sebagaimana pengetesan seorang Qodhiy atau hakim tentang keislaman dan ‘adaalah (bisa dipercaya) nya para saksi, supaya kesaksian mereka dapat diterima maka pengetesan semacam ini hukumnya wajib. Pembahasan ini disebutkan dalam firman Alloh :

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا إِذَا جَآءَكُمُ الْمُؤْمِنَاتُ مُهَاجِرَاتٍ فَامْتَحِنُوهُنَّ
“Wahai orang-orang yang beriman apabila datang kepada kepada kalian wanita-wanita beriman yang berhijrah maka ujilah mereka” (Al-Mumtahanah : 10).

Serta penjelasannya dalam tafsir ayat ini, pada kondisi-kondisi semacam ini dan yang semisalnya hukumnya wajib untuk menguji dan inilah yang disebut “At tabayyun asy syar’iy” (klarifikasi yang disyari’atkan).
Adapun yang mau masuk islam, atau orang yang dhohirnya Islam (dan ini disebut sebagai muslim mastuurul hal), orang semacam ini tidak wajib diuji pemahamannya tentang makna dua kalimt syahadah untuk menentukan status dia sebagai orang Islam di dunia. Dan barangsiapa yang berpendapat demikian dia adalah orang yang berbuat bid’ah. Dan inilah yang disebut sebagai at tabayyun al bid’iy (klarifikasi yang bid’ah). Menjadikan pemahaman semacam ini sebagai orang Islam adalah mirip dengan orang-orang mutakallimiin (orang-orang ahli filsafat) yang menjadikan belajar dalil-dalil aqli sebagai syarat syahnya iman. Dan ini adalah syarat yang bathil sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Hajar rahimahullah. Al Ghozaaliy berkata: “Sekelompok orang berbuat melampau batas, mereka mengkafirkan kaum muslimin yang awam, dan mereka berpendapat bahwa orang yang tidak memahami aqidah beserta dengan dalil-dalil yang mereka uraikan adalah kafir, dengan demikian mereka mempersempit rahmat Alloh yang luas. Dan mereka menjadikan Jannah itu hanya khusus sebagai sekelompok kecil dari kalangan mutakallimiin.Yang semacam ini juga dikatakan oleh Abu Al-Mudhoffar bin as-sam’aaniy, beliau membantah orang yang berpendapat seperti diatas dengan panjang lebar dan beliau menukil dari kebanyakan para imam fatwa bahwa mereka mengatakan: tidak boleh membebankan orang-orang awam untuk meyakini hal-hal yang pokok berdasarkan dalil-dalilnya. Karena hal itu lebih berat dari pada belajar cabang-cabang Fiqih. — Sampai Ibnu Hajar mengatakan — dan sebagian mereka mengatakan yang dituntut dari mereka adalah kepercayaaan yang mantap yang tidak ada keraguan padanya terhadap keberadaan Alloh ta’ala dan beriman kepada Rosul-Rosul-Nya dan dengan ajaran-ajaran yang mereka bawa dengan cara apapun ia sampai kepada keadaan seperti itu meskipun dengan cara sekedar taqlid jika yang demikian itu menjadikan dia bebas dari kegoncangan. Al Qurthubiy berkata: “Inilah pendapat yang dipegangi oleh para ‘Imam fatwa dan imam-imam salaf sebelum mereka. Sebagian mereka berhujjah dengan fitroh dasar manusia, sebagaimana yang telah lalu, dan juga berhujjah dengan riwayat yang mutawaatir (banyak sekali) dari Nabi SAW kemudian juga dari sahabat bahwasanya mereka menetapkan Islam orang-orang Arab kolot yang sebelumnya mereka adalah penyembah berhala. Mereka (Nabi & para sahabat) menerima Islam mereka (orang-orang Arab kolot) dengan mengikrarkan 2 kalimat syahadat dan dengan mematuhi hukum-hukum Islam tanpa mengharuskan mereka untuk mempelajari dalil-dalil.” (Fat-hul Baariy XIII/349-353) An Nawawiy juga mengatakan hal yang serupa dengan perkataan tersebut. Dalam Shohiih Muslim Bi Syarhin Nawawiy I/210-211 dan Ibnu Hajar mengulangi perkataan yang semakna dengan perkataan tersebut ketika menjelaskan hadits no. 20 dan 25. Nanti akan ada tambahan keterangan dalam pembahasan masalah At tabayyun asy syar’iy dan at tabayyun al-bid’iy pada akhir-akhir pembahasan I’tiqood bab 7 dalam buku ini insya Alloh.

B. Memahami makna 2 kalimat syahadat merupakan syarat syah hakekat Islam yang sebenarnya, yaitu Islam yang berguna di sisi Alloh dan di akhirat kelak. Dalam masalah ini Al Ghozaliy mengatakan — pada perkataan beliau yang tersebut di atas — : “Sesungguhnya wajib bagi seorang laki-laki apabila telah baligh untuk memahami makna 2 kalimat syahadat. Hal ini wajib karena beberapa sebab:
• Diantaranya karena suatu kewajiban yang tidak sempurna kecuali dengan suatu hal maka sesuatu tersebut menjadi wajib. Maka wajib bagi seorang hamba untuk memahami 2 kalimat syahadat yaitu tauhid uluuhiyyah dan menjauhi syirik serta menjadikan Nabi SAW sebagai satu-satunya orang yang diikuti. Karena sesungguhnya inilah hakekat kewajiban seseorang hamba — bukan hanya sekedar mengucapkan 2 kalimat syahadat — Hal ini dalilnya adalah firman Alloh :

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أَمَّةٍ رَّسُولاً أَنِ اعْبُدُوا اللهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ
“Dan sesungguhnya telah kami utus seorang Rosul pada setiap umat yang mengatakan beribadahlah kalian kepada Alloh dan jauhilah thoghut” (QS. An Nahl:36).
Ayat ini merupakan tafsiran makna syahadat “Laa ilaaha illalloh”. Oleh karena itu dapat melaksanakan kewajiban-kewajibannya yang merupakan hakekat kalimat tersebut.
Dan Rosulullah SAW bersabda:

حق الله على العباد أن يعبدوه ولا يشرك به شيئا
“Hak Alloh atas hamba-hambanya adalah hendaknya mereka beribadah kepadaNya dan tidak mensekutukanNya dengan sesuatu apapun” (Hadits ini Muttafaqun ‘alaihi).
Hadits ini juga merupakan makna syahadat “Laa ilaaha illallaah”.

• Bahwasanya syahadat (kesaksian) itu tidak bisa dianggap kesaksian baik secara bahasa maupun secara syar’iy kecuali jika memahami apa yang disaksikan. Dalilnya adalah firman Alloh:
إلا من شهد بالحق وهم يعلمون
“Kecuali orang yang menyaksikan dengan benar dan mereka mengetahui”(QS.Az-Zukhruf:86).
Oleh karena itu harus tahu ilmunya supaya syah syahadatnya. Dan ada dalil-dalil lain yang menunjukkan atas wajibnya memahami makna syahadat, diantaranya firman Alloh:
هَذَا بَلاَغٌ لِّلنَّاسِ وَلِيُنذَرُوا بِهِ وَلِيَعْلَمُوا أَنَّمَا هُوَ إِلَهٌ وَاحِدٌ وَلِيَذَّكَّرَ أُوْلُو اْلأَلْبَابِ
“Ini adalah penjelasan bagi manusia dan supaya mereka diberi peringatan dengannya dan supaya mereka mengetahui bahwa Dia adalah ilaah yang satu” (QS. Ibrahim:52).
Dan sabda Rosululloh SAW:

من مات وهو يعلم أنه لا إله إلا الله دخل الجنة
“Barangsiapa yang mati dan dia mengetahui bahwasanya tidak ada ilaah kecuali Alloh niscaya ia masuk Jannah” (HR. Muslim dari sahabat Utsman ra).

Dalam hadits ini beliau menjadikan pemahaman terhadap makna syahadat merupakan syarat masuk Jannah dan syarat bergunanya 2 kalimat syahadat sesuai dengan hakekatnya. Karena memahami maknanya merupakan kunci untuk mengamalkan konsekuensi-konsekuensi wajib 2 kalimat syahadat.
Alloh Subhaanahu wa Ta’ala berfirman:

أَمْ لَهُمْ شُرَكَآؤُاْ شَرَعُوا لَهُم مِّنَ الدِّينِ مَالَمْ يَأْذَن بِهِ اللهُ
“Apakah mereka mempunyai sekutu-sekutu yang membuat syariat untuk mereka dari Dien yang tidak diijinkan oleh Alloh” (QS. Asy-Syuro:21).
Sedangkan salah satu makna dien adalah peraturan dan undang-undang hidup manusia baik peraturan itu benar atau batil. Karena Alloh menamakan apa yang dilakukan oleh orang-orang kafir yang berupa kekafiran dan kebatilan sebagai dien.
Yaitu dalam firmanNya:

لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِيَ دِينِ
“Bagi kalian dien kalian dan bagiku dienku” (QS. Al Kaafiruun:5).
Dan diantara bentuk syirik pembuatan syariat pada zaman ini adalah berkumpulnya beberapa kelompok manusia sebagai pemegang hak untuk membuat syariat untuk manusia. Diantaranya adalah para pembuat undang-undang ciptaan manusia tersebut yang terdiri dari para ahli perundang-undangan, para anggota parlemen dan para pemimpin negara. Mereka itulah yang pada hakekatnya menjadi robb-robb yang membuat syariat selain Alloh.

Sedangkan kaum muslimin yang awam lalai dari syirik akbar ini dan mereka ikut serta dalam mengangkat mereka sebagai robb-robb dengan cara mengikuti pemilu anggota parlemen dan ikut serta dalam memberikan pendapat untuk menguji para pemimpin negara. Ini semua adalah pembatal kalimat “Laa ilaaha illalloh”. Diantara orang awam tersebut ada yang terjerumus ke dalam syirik ini karena ketidak tahuannya terhadap makna laa ilaaha illallooh.

Dan di antara mereka seandainya mengetahui maknanya pasti ia berhati-hati. Permasalahan inilah yang menyadarkan kamu betapa pentingnya mengajarkan kaum muslimin, secara umum akan makna 2 kalimah syahadat.

• Syirik dalam berhukum.
Yaitu berhukum dengan selain syariat Alloh yang berupa undang-undang ciptaan manusia dan perangkat-perangkatnya. Dan ini adalah musibah yang telah merata. Alloh berfirman :
أَلَمْ تَرَإلِىَ الَّذِينَ يَزْعُمُونَ أَنَّهُمْ ءَامَنُوا بِمَآأُنزِلَ إِلَيْكَ وَمَآأُنزِلَ مِن قَبْلِكَ يُرِيدُونَ أَن يَتَحاَكَمُوا إِلَى الطَّاغُوتِ وَقَدْ أُمِرُوا أَن يَكْفُرُوا بِهِ وَيُرِيدُ الشَّيْطَانُ أَن يُضِلَّهُمْ ضَلاَلاً بَعِيدًا
“Tidakkah kamu memperhatikan kepada orang-orang yang menyangka bahwa mereka beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada orang yang diturunkan sebelum kamu? Mereka hendak berhukum kepada thogut, padahal mereka telah diperintahkan mengkufurinya. Dan syetan ingin menyesatkan mereka dengan kesesatan yang jauh” (QS. An Nisaa:60).

• Sesungguhnya orang-orang Arab yang mana Nabi SAW diutus di tengah-tengah mereka adalah para pemilik bangsa Arab yang fasih berbicara dan faham dengan penjelasan. Bahkan perkataan-perkataan mereka dijadikan landasan — dalil — terhadap kaidah-kaidah bahasa Arab, sebagaimana juga dijadikan landasan dalam buku-buku para ulama bahasa. Dan sungguh mereka itu faham dengan makna 2 kalimat syahadat tersebut, dan bahwasanya laa ilaaha illallooh itu maknanya adalah tauhid uluuhiyah dan mengesakan Alloh dalam beribadah, dengan dalil bahwa Nabi SAW ketika meminta mereka untuk mengucapkan 2 kalimat syahadat, orang-orang kafir diantara mereka mengatakan — sebagaimana yang diceritakan oleh Alloh:

أجعل الآلهة إلها واحدا
“Apakah dia menjadikan ilah-ilah itu menjadi satu ilah”.
Dengan demikian mereka mengetahui bahwa yang dimaksud dengan syahadat adalah melepaskan diri dari berbagai ilaah yang lain. Kalau pemahaman orang Arab yang kafir saja demikian, lalu bagaimana dengan mereka yang sudah masuk Islam?

Semua ini menunjukkan atas wajibnya memahami makna 2 kalimat syahadat supaya dapat melaksanakan tuntutan keduanya dan tidak terjerumus kepada hal-hal yang membatalkan keduanya. Ini semua kembali kepada kepada apa yang telah kami tetapkan di depan atas wajibnya berilmu sebelum berucap dan berbuat.
Ini semua berkenaan dengan hakekat Islam yang sebenarnya yang dapat berguna bagi seorang hamba di sisi Alloh. Adapun pada hukum yang berlaku di dunia adalah barangsiapa yang mengucapkan 2 kalimat syahadat maka dia adalah seorang muslim selama tidak diketahui dia melakukan sesuatu dari pembatal-pembatal Islam sedangkan hisabnya dikembalikan kepada Alloh.

Pada kesempatan ini saya ingin mengingatkan dengan peringatan yang keras atas wajibnya mengajari orang-orang awam dari kaum muslimin tentang makna dua kalimat syahadat. Khususnya pada zaman ini yang mana kesyirikan yang membatalkan tauhid telah melanda berbagai negeri kaum muslimin dalam berbagai bentuk. Diantara yang paling berbahaya adalah sebagai berikut:

• Syirik dalam membuat syariat atau undang-undang.
Sesungguhnya pembuatan syariat untuk manusia itu merupakan hak murni bagi Alloh Ta’ala. Sehingga tidak ada yang membuat syariat kecuali Alloh Ta’ala. Alloh berfirman:
وَلِيٍّ وَلاَيُشْرِكُ فِي حُكْمِهِ أَحَدًا
“Tidak ada seorangpun yang bersekutu dengannya dalam hukumnya” (QS. Al-Kahfi:26).
Maka barang siapa yang membuat syariat bagi manusia dengan sesuatu yang tidak diijinkan Alloh, maka dia telah menjadikan dirinya sebagai robb bagi mereka dan menjadikan dirinya sebagai sekutu bagi Alloh dalam pembuatan syariat bagi manusia.

Ibnul Qoyyim berkata: “Alloh mengabarkan bahwa orang yang berhukum kepada selain ajaran yang dibawa oleh Rosul, maka dia telah berhukum kepada thoghut.”
Sedangkan thoghut itu sebagaimana yang didefinisikan oleh Ibnul Qoyyim, yaitu: “Segala sesuatu yang seorang hamba itu melampaui batas padanya yang berupa sesembahan atau panutan atau sesuatu yang ditaati.

Dengan demikian thoghut itu adalah segala sesuatu yang dijadikan tempat berhukum oleh suatu kaum selain Alloh dan RosulNya, atau yang mereka ibadahi selain Alloh atau yang mereka ikuti tanpa ada keterangan dari Alloh atau yang mereka taati padahal mereka tidak mengetahui bahwa ketaatan tersebut merupakan ketaatan kepada Alloh. Ini semua adalah thoghut-thoghut di dunia ini yang jika anda perhatikan dan juga jika anda perhatikan keadaan manusia bersamanya niscaya anda melihat bahwa kebanyakan mereka menyeleweng dari ibadah kepada Alloh kepada ibadah kepada thoghut dan menyeleweng dari berhukum kepada Alloh dan Rosul kepada berhukum kepada thoghut dan menyeleweng dari ketaatan kepadaNya dan dari mengikuti Rosul-Nya kepada ketaatan dan mengikuti thoghut.” (A’laamul Muwaqqi’iin I/ 50)

• Syirik perbuatan kepada orang-orang yang telah mati. Selain Alloh ta’ala dengan bentuk berdo’a kepada mereka, beristighotsah kepada mereka, bernadzar dan menyembelih korban untuk mereka. Ini semua adalah syirik akbar yang telah menyebar di sebagian besar negara-negara kaum muslimin. Alloh berfirman :
ذَلِكُمُ اللهُ رَبُّكُمْ لَهُ الْمُلْكُ وَالَّذِينَ تَدْعُونَ مِن دُونِهِ مَايَمْلِكُونَ مِن قِطْمِيرٍ {13} إِن تَدْعُوهُمْ لاَيَسْمَعُوا دُعَآءَكُمْ وَلَوْ سَمِعُوا مَااسْتَجَابُوا لَكُمْ وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ يَكْفُرُونَ بِشِرْكِكُمْ وَلاَيُنَبِّئُكَ مِثْلُ خَبِيرٍ
“Itulah Alloh Robb kalian, Dialah yang memiliki kekuasaan, sedangkan yang kalian seru (ibadahi) selain Alloh itu tidak berkuasa sedikitpun meskipun setipis kulit ari. Jika kamu seru mereka, mereka tidak mendengar seruan kamu, dan seandainya mereka mendengar, mereka tidak dapat menyahut. Dan pada hari qiyamat mereka mengingkari atas perbuatan syirik kalian. Dan tidak ada yang dapat memberimu keterangan seperti yang Maha Mengetahui” (QS. Fathir:13-14)

Oleh karena itu wajib bagi setiap muslim untuk memahami makna syahadat laa ilaaha illalloh dan Muhammad Rosulullah, agar dia bisa menjaga diri dari kesyirikan.

Diantara kitab yang terpenting untuk membantu hal ini adalah Fat-hul Majiid Syarhu Kitaabit Tauhiid, karangan Syaikh ‘Abdur Rohmaan bin Hasan bin Syaikhul Islaam Muhammad bin ‘Abdul Wahhaab. Semoga Alloh merahmati mereka semua. Dan ini adalah salah satu kitab yang saya sarankan kepada setiap muslim untuk membacanya, karena kitab ini menerangkan dengan jelas makna laa ilaaha illalloh dan juga menerangkan pembatal-pembatalnya yang banyak terjadi di mana-mana.

2. Memahami rukun Iman yang 6:
Yaitu beriman kepada Alloh, para malaikatNya, kitab-kitabNya, para RosulNya, Hari Akhir dan beriman kepada taqdir yang baik maupun yang buruk. Dan inilah rukun iman yang disebutkan dalam hadits Jibril ‘alaihis salaam.
Selain memahami rukun-rukun tersebut, ada 2 hal yang harus diperhatikan:

A. Sesungguhnya iman itu berupa perkataan dan perbuatan, bertambah dan berkurang, perkataan hati dan perkataan lisan, dan perbuatan hati dan perbuatan anggota badan.
Adapun yang dimaksud dengan perkataan hati adalah: Pemahaman dan pembenarannya yang kokoh yang mendorong untuk taat dan patuh.
Sedangkan perkataan lisan adalah: Mengucapkan 2 kalimat syahadat.
Sedangkan perbuatan hati adalah: Ibadah-ibadah hati seperti ikhlas, khosy-yah (takut), cinta dan pasrah — Dan kami akan membahas nanti —Sedangkan perbuatan anggota badan adalah: Pelaksanaan terhadap perintah dan larangan syariat. Dan bahwasanya iman itu bertambah dan berkurang. Bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan kemaksiatan, sampai ia tidak tersisa sedikitpun.

B. Sesungguhnya umat ini setelah wafatnya Nabi SAW terpecah belah menjadi banyak kelompok, dalam berbagai keyakinan dan pendapat. Dan diantara kelompok-kelompok ini hanya satu saja yang selamat, sedangkan kelompok-kelompok lainnya binasa dan masuk dalam ancaman. Adapun kelompok yang selamat tersebut, selamat karena mengikuti ajaran Nabi SAW dan para sahabatnya dan mereka itulah Ahlus Sunnah wal Jama’ah.

Adapun kelompok-kelompok yang binasa, mereka tersesat karena membuat-buat pendapat yang baru yang bertentangan dengan ajaran Nabi SAW dan para sahabatnya.
Pemahaman tentang perpecahan semacam ini, dan juga bagaimana yang benar, lebih ditekankan lagi pada daerah yang di sana tersebar kelompok-kelompok sesat dan bid’ah tersebut.
Yang semacam ini merupakan peringatan yang wajib bagi kaum muslimin. Faedah memahami perpecahan ini adalah wajib mempelajari keyakinan-keyakinan yang diperselisihkan itu sesuai dengan madzhab Ahlus Sunnah wal Jama’ah.

3. Memahami bagian-bagian tauhid
Tauhid adalah iman kepada Alloh SWT yaitu rukun iman yang pertama. Dan tauhid itu ada 2 bagian:

A. Tauhid Rubuubiyyah.
Yaitu tauhid al-ma’rifah wal itsbat atau tauhid al-ilmiy al-khobariy. Maksudnya adalah : meyakini bahwa Alloh itu Esa Dzatnya, perbuatan-perbuatannya dan sifat-sifatnya dan tidak ada sekutu bagiNya.

اللَّهُ الصَّمَدُ {2} لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ
“Tidak beranak dan tidak diperanakkan dan tidak ada seorangpun yang sama denganNya” (QS. Al Ikhlas:2-3).
Dan meyakini bahwa Alloh itu berada di atas langit bersemayam di atas ‘Arsy, terpisah dari makhluk dan dia bersama mereka dengan ilmuNya, kekuasaanNya, meliputiNya, pendengaranNya, penglihatanNya. Dan meyakini bahwa Dia Alloh

ليس كمثله شيء وهو السميع البصير
“Tidak ada sesuatupun yang sama seperti Dia dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat”.
Dan meyakini bahwasanya hanya Dialah Robb yang berkuasa, Yang mencipta, Yang memberi rizqi, Yang memberi manfaat, Yang mendatangkan bahaya, Yang menghidupkan, Yang mematikan, Yang membuat syariat bagi ciptaanNya dan tidak ada seorangpun yang bersekutu denganNya dalam hal ini kecuali atas ijinNya dan kehendakNya, sama saja sesuatu itu yang Dia cintai dan ridhoi atau yang dia benci dan tidak ia sukai. Dan meyakini bahwa Alloh itu Maha Kuasa atas segala sesuatu dan tidak ada sesuatupun yang melemahkanNya.
Sebagian penulis memasukkan tauhid asma’ wa shifat dalam tauhid Rubuubiyah dan sebagian yang lain menjadikan satu bagian tersendiri. Jika tauhid asma’ wa shifat ini disendirikan maka tauhid Rubuubiyyah hanya terbatas pada mentauhidkan Alloh pada Dzat dan perbuatan-perbuatanNya. Mau pakai pembagian yang manapun, saya nasehatkan agar pelajaran Asma’ wa Shifat itu hanya sekedar teori yang terbatas pada penjelasan mengenai madzhab Ahlus Sunnah dan madzhab-madzhab ahlu bid’ah dalam masalah ini. Akan tetapi ketika mempelajarinya harus dikaitkan dengan kehidupan seorang muslim dan mu’amalat hariannya baik secara lahir maupun batin. Sehingga pemahaman sifat-sifat Al Ma’iyyah (kebersamaan Alloh dengan hambaNya) dapat menumbuhkan rasa malu terhadap Alloh Ta’ala, dan sangat berharap untuk mendapatkan ma’iyyahNya yang khusus untuk orang-orang yang bertaqwa sehingga ia sungguh-sungguh untuk menjadi golongan orang-orang yang bertaqwa. Dan pemahaman terhadap sifat Al Bashor (penglihatan Alloh) dapat menumbuhkan rasa malu jika Alloh melihatnya sedang melakukan perbuatan yang dilarangNya dan dia suka kalau Alloh melihat dia sedang taat kepadaNya. Dan pemahaman terhadap As Sam’u (pendengaran Alloh) dapat mencegahnya dari mengucap perkataan yang dapat mengakibatkan hukuman Alloh dan ia suka untuk mengucapkan ucapan yang dapat membuat Alloh ridho kepadanya. Dan pemahaman terhadap Qudroh (kekuasaan Alloh) dapat menimbulkan sikap tawakal (pasrah) kepada Alloh dan tsiqqoh (yakin) dengan janjiNya. Dan begitu seterusnya pada nama-nama dan sifat-sifat Alloh yang lainnya. Karena sesungguhnya semua apa yang berada di jagad raya ini baik berupa ciptaannya atau permasalahan hanyalah merupakan konsekuensi dari nama-nama dan sifat-sifat Alloh. Karena tidak mungkin nama-nama dan sifat-sifat tersebut tidak berkonsekwensi, dan pemahaman tentang masalah ini adalah merupakan pemahaman yang paling Agung dan paling Mulia sebagaimana dikatakan oleh Ibnul Qoyyim, dan buku-buku beliau penuh dengan penjelasan masalah ini.

B. Tauhid Uluuhiyyah
Yaitu tauhid dalam beribadah dan berkehendak atau At Tauhiid Al Iroodiy Ath Tholabiy maksudnya adalah beribadah hanya kepada Alloh saja atau mengesakan Alloh dalam beribadah. Sebagaimana yang telah kami sebutkan dalam makna syahadat laa ilaaha illalloh .
Dan dari situ dapat kita pahami bahwa tauhid rubuubiyyah itu merupakan ILMU sedangkan tauhid uluuhiyyah adalah AMAL, dan merupakan dampak dari tauhid Rubuubiyyah pada amalan-amalan seorang hamba. Dan keduanya harus ada supaya syah tauhid dan imannya. Seorang hamba tidaklah dikatakan beriman jika hanya bertauhid Rubuubiyyah saja, karena sesungguhnya orang-orang kafir yang diperangi oleh Nabi SAW dan beliau halalkan darah dan harta mereka, mereka mengakui tauhid Rubuubiyyah dan mengakui bahwa Alloh adalah satu-satunya pencipta, tidak ada sekutu bagiNya, Yang mendatangkan manfaat dan marabahaya, Yang mengatur segala urusan, sebagaimana firman Alloh kepada NabiNya SAW:

قُلْ مَن يَرْزُقُكُم مِّنَ السَّمَآءِ وَاْلأَرْضِ أَمَّن يَمْلِكُ السَّمْعَ وَاْلأَبْصَارَ وَمَن يُخْرِجُ الْحَيَّ مِنَ الْمَيِّتِ وَيُخْرِجُ الْمَيِّتَ مِنَ الْحَيِّ وَمَن يُدَبِّرُ اْلأَمْرَ فَسَيَقُولُونَ اللهُ فَقُلْ أَفَلاَتَتَّقُونَ
“Katakanlah, siapakah Yang memberi rizki kalian dari langit dan bumi atau siapakah Yang menguasai pendengaran dan penglihatan dan siapakah Yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan Yang mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan siapakah Yang mengatur urusan. Maka mereka mengatakan: “Allah” maka katakanlah “Apakah kalian tidak mau bertaqwa” (QS. Yunus:31).

Pengakuan mereka ini tidak memasukkan mereka ke dalam Islam karena mereka menyekutukan Alloh dalam uluuhiyyahNya karena mereka beribadah kepada selain Alloh dengan cara berdoa, istighotsah, bernadzar, menyembelih korban dan berhukum kepada selain syariat Alloh Ta’ala.

Oleh karena itu yang pertama kali didakwahkan oleh para Rosul kepada kaumnya adalah beribadah hanya kepada Alloh saja dan tidak ada sekutu bagiNya — yaitu tauhid uluuhiyyah sebagaimana firman Alloh Ta’ala:
وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أَمَّةٍ رَّسُولاً أَنِ اعْبُدُوا اللهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ
“Dan telah kami utus pada setiap umat seorang Rosul (yang menyerukan): “beribadahlah kalian kepada Alloh dan jauhilah thoghut”.

Dan ketika Nabi Muhammad SAW mengutus Mu’aadz kepada penduduk Yaman, beliau bersabda kepadanya:
إنك تقدم على قوم من أهل الكتاب فليكن أول ما تدعوهم إلى أن يوحدوا الله تعالى
“Sesungguhnya engkau mendatangi kaum dari ahli kitab, maka hendaknya yang pertama kali kamu serukan kepada mereka adalah supaya mereka mentauhidkan Alloh” (HR. Al Bukhoriy no. 7372).
Yang dimaksud adalah tauhid uluuhiyyah berdasarkan riwayat-riwayat lain mengenai hadits yang sama, diantaranya:

فليكن أول ما تدعوهم إليه عبادة الله
“Maka hendaknya yang pertama kali engkau serukan kepada mereka adalah beribadah kepada Alloh” (HR. Al Bukhoriy no. 1458)
dan diantaranya:
فإذا جئتهم فادعهم إلى إن يشهدوا أن لا إله إلا الله و أن محمدا رسول الله
“Maka apabila kamu mendatangi mereka, serulah mereka untuk bersaksi bahwa tidak ada ilaah kecuali Alloh dan Muhammad adalah utusan Alloh.” (HR. Al Bukhoriy no. 4347).
Semua ini menunjukkan bahwa tauhid adalah kewajiban yang pertama kali dan semua ibadah tidak diterima dan tidak syah kecuali dengannya. Oleh karena itu Rosulullah SAW memerintahkan rukun Islam yang lainnya — dalam hadits Mu’aadz — setelah melaksanakan tauhid beliau SAW bersabda:

فليكن أول ما تدعوهم إلى أن يوحدوا الله تعالى فإذا عرفوا ذلك فأخبرهم أن الله فرض عليهم خمس صلوات في يومهم وليلتهم فإذا صلوا فأخبرهم أن الله افترض عليهم زكاة أموالهم تؤخذ من غنيهم فترد على فقيرهم فإذا أقروا بذلك فخذ منهم وتوق كرائم أموال الناس
“Maka hendaklah pertama kali yang kamu serukan kepada mereka agar mereka mentauhidkan Alloh Ta’ala. Apabila mereka telah mengetahui hal itu maka beritahukan kepada mereka bahwa Alloh mewajibkan kepada mereka sholat 5 kali sehari semalam, dan apabila mereka telah sholat maka beritahukan kepada mereka bahwa Alloh mewajibkan zakat pada harta mereka, yang diambil dari orang kaya diantara mereka dan diberikan kepada orang miskin diantara mereka dan hati-hatilah dengan kemuliaan harta manusia” (Hadits ini Muttafaqun ‘alaihi dengan menggunakan lafadz Al Bukhooriy no. 7372).

Oleh karena itu wajib bagi setiap hamba untuk memahami 2 macam tauhid tersebut, dan dia juga harus memahami bahwa imannya tidak syah kecuali dengan memenuhi keduanya dan sesungguhnya ini merupakan kewajiban hamba baik secara ilmu maupun secara amal.

4. Memahami pembatal-pembatal Islam.
Yaitu memahami apa itu kekafiran dan apa saja yang dapat menyebabkan kafir. Memahami hal ini wajib berdasarkan firman Alloh:

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أَمَّةٍ رَّسُولاً أَنِ اعْبُدُوا اللهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ
“Dan telah kami utus pada setiap umat seorang rosul (yang menyerukan): “beribadahlah kalian kepada Alloh dan jauhilah thoghut” (QS. An-Nahl:36).

Oleh karenanya seorang hamba wajib memahami apa itu thoghut supaya dia dapat menjauhinya berdasarkan ilmu. Karena imannya tidak akan syah kecuali jika ia menjauhi thoghut dan mengkufurinya, hal ini berdasarkan firman Alloh:

فَمَن يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ وَيُؤْمِن بِاللهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَى لاَ انْفِصَامَ لَهَا وَاللهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ
“Barangsiapa yang ingkar kepada thoghut dan beriman kepada Alloh maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Alloh Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui” (QS. Al-Baqoroh:256).

Kufur kepada thoghut dalam ayat ini lebih didahulukan daripada iman kepada Alloh, karena iman itu tidak akan syah kecuali dengan kufur terhadap thoghut. Dan kufur terhadap thoghut inilah yang dimaksud dengan “An nafyu” (penafian) pada syahadat laa ilaaha illalloh .
الطاغوت ini musytaq (pecahan kata) dari الطغيان yang artinya adalah segala sesuatu yang mana seorang hamba melampaui batas padanya yang berupa sesuatu yang diibadahi atau diikuti atau ditaati atau segala sesuatu yang mengeluarkan hamba dari iman ke dalam kekafiran yang mana kekafiran itu merupakan pokok dari segala yang melampaui batas.

Dan setelah disebutkan di atas definisi Ibnul Qoyyim terhadap thoghut. Ibnu Hajar rh. berkata “Berkata Ath Thobariy — mengenai definisi thoghut —: Yang benar menurutku adalah: segala sesuatu yang melampaui batas terhadap Alloh, yang diibadahi selain Alloh, baik dengan paksaan darinya terhadap orang yang beribadah kepadanya, baik berupa manusia, atau syaithan, atau hewan atau benda mati (Fat-hul Baariy XI/448) penjelasan hadits no. 6573. Dan banyak ulama yang mengatakan bahwa thoghut itu aslinya adalah syaithan yang menghiasi segala kekafiran kepada Alloh untuk manusia, sebagaimana firman Alloh Ta’ala ketika bercerita tentang Iblis:

قَالَ رَبِّ بِمَآ أَغْوَيْتَنِي لأُزَيِّنَنَّ لَهُمْ فِي اْلأَرْضِ وَلأُغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ {39} إِلاَّ عِبَادَكَ مِنْهُمُ الْمُخْلَصِينَ
“Dia berkata: “Wahai Robbku, lantaran engkau telah menyesatkan aku, maka aku pasti akan menghiasi untuk menipu mereka di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya kecuali hamba-hambaMu, diatnara mereka yang ikhlas. (Al Hijr: 39-40)

Dan wasiat Luqman yang pertama kali kepada anaknya, sebagaimana firman Alloh :
وَإِذْقَالَ لُقْمَانُ لابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَابُنَيَّ لاَتُشْرِكْ بِاللهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ
“Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, diwaktu ia memberi pelajaran kepada anaknya, “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan (Allah), sesungguhnhya syirik itu adalah kedholiman yang sangat besar (QS.Luqman : 13).
Sedangkan syirik jika diungkapkan secara lepas artinya sama dengan kekafiran. Oleh sebab itu wajib bagi seorang hamba untuk memahami kekafiran dan apa yang menyebabkan kekafiran atau memahami pembatal-pembatal islam dan pembatal-pembatal ini banyak sekali tidak terbatas. Dan yang paling popular adalah 10 hal yang dikumpulkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, kemudian pembatal-pembatal islam yang terdapat pada bab-bab murtad dalam kitb-kitab fiqih. Dan semua yang disebutkan ini hanyalah contoh-contoh.

5. Memahami ibadah-ibadah wajib bagi hati dan ini banyak dilalaikan manusia meskipun hukumnya wajib, bahkan sebagiannya masuk kedalam ashlul iman (pokok keimanan).
A. Seperti ikhlas berdasarkan firman Alloh :

وَمَآأُمِرُوا إِلاَّ لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَآءَ وَيُقِيمُوا الصَّلاَةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ وَذَلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ
“Dan tidaklah mereka diperintahkan kecuali untuk beribadah kepada Alloh dengan mengikhlaskan diin (agama) bagiNya” (QS.Al-Bayyinah : 5)
Oleh karena itu wajib atas setiap muslim mengetahiu bahwa ikhlas itu wajib dan bahwa ia merupakan syarat diterimanya amal di sisi Alloh Subhaanahu Wa ta’aala. Dan sesungguhnya amalan-amalan itu, seperti sholat, zakat dan lain-lain kadang kelihatannya didunia ini syah akan tetapi tidak diterima disisi Alloh dan pelakunya tidak diberi pahala karena tidak terpenuhinya syarat ikhlas ini. Dan ikhlas adalah beramal untuk Alloh semata. Dan ini merupakan amalan hati.

B. Al Khosy-yah (takut) berdasarkan firman Alloh :
فَاللهُ أَحَقُّ أَن تَخْشَوْهُ إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ
“Maka Alloh itu lebih berhak untuk kalian takuti jika kalian beriman” (QS.At-Taubah : 13)
C. Al Mahabbah (cinta)
Berdasarkan firman Alloh :
وَالَّذِينَ ءَامَنُوا أَشَدُّ حُبًّا للهِ
“Dan orang-orang yang beriman sangat besar cinta mereka kepada Alloh” (QS.Al-Baqarah : 165)
Dan Rosululloh SAW bersabda :
ثلاث من كن فيه وجد حلاوة الإيمان: أن يكون الله ورسوله أحب إليه مما سواهما، وأن يحب المرء لا يحبه إلا لله، وأن يكره أن يعود في الكفر بعد إذ أنقذه الله منه، كما يكره أن يقذف في النار
“Ada tiga hal jika ada pada seseorang maka dia akan mendapatkan manisnya iman. Hendaknya Alloh dan Rosul-Nya lebih ia cintai daripada selain keduanya, dan hendaknya ia mencintai seseorang ia tidak mencintainya kecuali karena Alloh dan hendaknya ia benci untuk kembali kepada kekafiran, setelah Alloh menyelamatkannya sebagaimana ia benci untuk dilemparkan kedalam neraka. (Hadits ini muttafaqun ‘alaihi)
Cinta Alloh dan Rosul-Nya bukanlah sekedar ucapan yang tidak ada hakekatnya, akan tetapi hakekatnya adalah merupakan ibadah hati yang mendorong untuk menyesuaikan diri dengan apa yang diinginkan oleh yang ia cintai dan membenci apa yang dibenci oleh yang dicintai, bahkan melaksanakan apa yang diperintahkan dan meninggalkan apa yang dilarang.
Al Qoodhiy ‘Iyaadl berkata: “Tentang kewajiban untuk mencintai Rosululloh SAW, Alloh berfirman :
قُلْ إِن كَانَ ءَابَآؤُكُمْ وَأَبْنَآؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ اقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَآ أَحَبَّ إِلَيْكُم مِّنَ اللهِ وَرَسُولِهِ وَجِهَادٍ فِي سَبِيلِهِ فَتَرَبَّصُوا حَتَّى يَأْتِيَ اللهُ بِأَمْرِهِ وَاللهُ لاَيَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ
“Katakanlah jika bapak-bapak kalian, anak-anak kalian, saudara-saudara kalian, istri-istri kalian, keluarga kalian, harta-harta yang kalian usahakan, perdagangan yang kalian khawatir akan kerusakannya dan tempat tinggal yang kalian senangi lebih kalian cintai daripada Alloh, Rosul-Nya, dan jihad dijalan-Nya, maka tunggulah sampai Alloh mendatangkan urusan-Nya dan Alloh tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik” (QS.At-Taubah : 24)
Cukuplah hal ini menjadi motivasi, peringatan, dalil dan alasan atas wajibnya untuk mencintai beliau SAW. Dan besarnya masalah ini dan berhaknya beliau untuk dicintai karena Alloh mengancam orang yang hartanya, keluarganya, dan anaknya lebih ia cintai dari pada Alloh dan Rosul-Nya dengan firman-Nya:
فَتَرَبَّصُوا حَتَّى يَأْتِيَ اللهُ بِأَمْرِهِ
“Maka tunggulah sampai Alloh mendatangkan urusan-Nya”
Kemudian Alloh menganggap mereka fasiq pada terusan ayat tersebut. Dan Alloh memberitahu kepada mereka bahwa mereka termasuk orang yang sesat dan tidak diberi petunjuk oleh Alloh.” (Asy Syifaa II/ 563).
Kemudian Al Qoodhiy ‘Iyaadl berkata: “Pasal, tanda-tanda cinta kepada Rosul SAW, ketahuilah bahwasanya orang yang mencintai sesuatu itu pasti dia lebih mengutamakannya dan lebih mengutamakan hal-hal yang sesuai dengan sesuatu tersebut. Kalau tidak begitu maka cintanya tidak tulus dan dia hanya mengaku-ngaku saja. Dengan demikian orang yang tulus dalam mencintai Nabi SAW, adalah orang yang terdapat padanya tanda-tanda cinta itu pada orang tersebut. Dan tanda yang paling pertama adalah meneladani beliau SAW, mengamalkan sunnahnya, mengikuti perkataan dan perbuatannya, merealisasikan perintah-perintahnya, menjauhi larangan-larangannya dan beradab dengan adab-adabnya baik dalam keadaan susah atau senang, dalam keadaan ringan atau berat, Dalilnya dalam masalah ini adalah firman Alloh :
قُلْ إِن كُنتُمْ تُحِبُّونَ اللهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللهُ غَفُورُُ رَّحِيمُُ
“Katakanlah jika kalian mencintai Alloh maka ikutilah aku niscaya Alloh akan mencintai kalian” (QS.Ali Imron : 31).
Ia juga mngutamakan apa-apa yang disyari’atkan dan diajarkan daripada apa yang diinginkan dirinya sendiri, serta hal-hal yang sesuai dengan hawa nafsunya. Alloh berfirman :
وَالَّذِينَ تَبَوَّءُو الدَّارَ وَاْلإِيمَانَ مِن قَبْلِهِمْ يُحِبُّونَ مَنْ هَاجَرَ إِلَيْهِمْ وَلاَيَجِدُونَ فِي صُدُورِهِمْ حَاجَةً مِّمَّآ أُوتُوا وَيُؤْثِرُونَ عَلَى أَنفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ
“Dan orang-orang yang menempati kota dan telah beriman sebelum (kedatangan) mereka (orang-orang Muhajirin) mereka mencintai orang yang berhijroh kepada mereka dan mereka tidak membutuhkan apa-apa yang telah mereka berikan kepada mereka (Muhajirin) dan mereka lebih mengutamakan mereka (muhajirin) daripada diri mereka sendiri meskipun mereka membutuhkan” (QS.Al-Hasyr : 9)
Dan membenci orang lain dalam rangka mencari ridho Alloh — sampai beliau mengatakan — dan diantaranya adalah membenci orang yang membenci Alloh dan RosulNya, memusuhi orang yang memusuhinya, menjauhi orang yang menyelisihi sunnahnya dan mengada-adakan masalah-masalah pada diinnya, dan merasa keberatan dengan segala hal yang menyelisihi syariat. Alloh SWT berfirman:
لاَّتَجِدُ قَوْمًا يُؤْمِنُونَ بِاللهِ وَالْيَوْمِ اْلأَخَرِ يُوَآدُّونَ مَنْ حَآدَّ اللهَ وَرَسُولَهُ
“Kamu tidak akan mendapatkan orang-orang beriman kepada Alloh dan Hari Akhir, saling mencintai dengan orang yang menentang Alloh dan RosulNya” (QS.Al Mujadalah:22).
Dan mereka para sahabat Nabi SAW telah membunuh orang-orang yang mereka cintai dan mereka telah memerangi bapak-bapak dan anak-anak mereka untuk mendapatkan ridho Alloh.” (Asy Syifaa II/571-576, terbitan Ilsa Al-Halabiy).
Tujuan dan penukilan perkataan Al Qoodhiy ‘Iyaadl ini adalah untuk menjelaskan bahwasanya meskipun cinta itu merupakan amalan hati yang wajib, namun ia mempunyai konsekuensi-konsekuensi yang berupa amalan-amalan anggota badan yang harus dilaksanakan. Hal ini sama juga dengan ibadah-ibadah hati yang lainnya seperti ar ridho, at tasliim (pasrah) dan yang lainnya.
D. Al Khouf (takut) dan Ar Rojaa’ (harapan)
Berdasarkan firman Alloh :
وَادْعُوهُ خَوْفًا وَطَمَعًا
“Dan berdoalah kepadaNya dengan penuh rasa takut dan harap. ” (QS. Al-A’raaf:56).
E. Bertawakkal kepada Alloh
Berdasarkan firman Alloh :
وعلى الله فليتوكل المؤمنون
“Dan hanya kepada Allohlah hendaknya bertawakkal orang-orang yang bertawakkal” (QS. Ali Imron:160).
F. Sabar dalam mentaati Alloh dan dalam menjauhi maksiat serta ketika tertimpa musibah. Alloh berfirman :
يا أيها الذين آمنوا استعينوا بالصبر والصلاة
“Dan minta tolong dengan sabar dan sholat” (QS.Al-Baqoroh:153).
Syaikh ‘Izzud Diin Ibnu ‘Abdis Salaam rahimahullah berkata: “Dan amalan-amalan hati itu banyak, diantaranya:
 Husnudz-dznon (berbaik sangka) kepada Alloh.
 Bersedih terhadap ketaatan yang ia lewatkan.
 Bergembira atas karunia dan rahmat Alloh.
 Cinta terhadap ketaatan dan iman serta benci terhadap kekafiran, kefasikan dan kemaksiatan, diantaranya adalah cinta karena Alloh dan benci karena Alloh. Seperti mencintai para Nabi dan membenci orang-orang yang berbuat maksiat dan orang-orang celaka, diantaranya adalah bersabar terhadap bencana dan bersabar dalam menjalankan ketaatan, dan bersabar untuk tidak melakukan kemaksiatan dan penyelewengan, diantaranya merendahkan diri, tunduk, khusyuu’, tadzakkur, (merenung), tayaqqudz (membangun kesadaran), ini dengan kebaikan orang-orang baik, dan ketaqwaan. Orang-orang yang bertaqwa diantaranya adalah menahan diri dan meninggalkan kebalikan dari kewajiban-kewajiban diatas, diantaranya rindu untuk berjumpa dengan Alloh, diantaranya mencintai orang-orang beriman sebagaimana mencintai untuk diri sendiri diantaranya berusaha dengan sungguh-sungguh melawan hawa nafsu syetan apabila mengajak untuk melakukan penyelewengan dan kemaksiatan, diantaranya mengingat penghancur kesenangan (kematian) dan berdiri di hadapan Robb seluruh langit, diantaranya adalah senang dengan mentaati Alloh, dan sedih dengan kemaksiatan kepada Alloh, karena sesungguhnya orang yang beriman itu merasa senang dengan kebaikannya dan merasa susah dengan kejelekannya, sebagaimana sabda Rosulullah SAW, diantaranya beriman dengan segala sesuatu yang diberikan oleh Alloh dan RosulNya baik yang telah berlalu atau yang akan datang, diantaranya adalah An Nasiihah (kesetiaan, nasehat) untuk setiap muslim, diantaranya membayangkan hal-hal yang menakutkan ketika hawa nafsu bangkit, diantaranya jika ia beribadah kepada Robbnya hendaknya seolah-olah ia melihatnya supaya ia dapat melakukan ibadah sesempurna mungkin, jika ia tidak mampu hendaknya seolah-olah Alloh melihat dia, dan inilah yang disebut ihsan dalam beribadah, sampai akhir apa yang beliau sebut dalam kitabnya yang berbujul Qowaa’idul Ahkaam Fii Mashoolihil Anaam I/89 terbitan Daarul Kutub Al ‘Ilmiyyah.
Inilah contoh-contoh ibadah yang wajib bagi hati. Dan keadaan seorang hamba itu tidak akan lurus kecuali dengan itu semua. Dengan itu semualah hatinya akan baik sehingga lurus seluruh anggota badannya untuk taat kepada Alloh. Karena amalan-amalan hati itu merupakan pokok dari amalan-amalan anggota badan dan juga merupakan pendorongnya sebagaimana sabda Rosulullah SAW:
ألا إن في الجسد لمضغة إذا صلحت صلح سائر الجسد وإذا فسدت فسد سائر الجسد الا وهي القلب
“Ingatlah sesungguhnya di dalam tubuh itu ada segumpal daging, apabila ia baik baiklah seluruh tubuh dan apabila ia rusak maka rusaklah seluruh tubuh, ingatlah dia itu adalah hati” (HR. Muttafaqun ‘alaihi).
6. Memahami tata cara thohaaroh (bersuci).
Karena ia merupakan syarat syah sholat, diantaranya hukum-hukum thoharoh yang wajib dimengerti adalah:
a. Mengenal ciri-ciri air yang syah untuk bersuci.
b. Mengenal benda-benda najis dan tata cara menghilangkan.
c. Mengetahui wajibnya istinjaa’ (cebok).
d. Memahami mandi wajib, seperti mandi janabat, haid dan nifas.
e. Mengetahui sunatul fithroh, seperti: khitan, membiarkan jenggot , istihdaad (memotong bulu kemaluan).
f. Mengetahui wudhu, syarat-syaratnya, hal-hal yang wajib padanya, sunnah-sunnahnya dan hal-hal yang membatalkannya.
g. Mengetahui tayamum, ketika apa ia disyariatkan dan bagaimana caranya.
7. Menghafal surat al fatihah.
Karena ia merupakan rukun sholat, dan disunnahkan untuk menghafal beberapa surat pendek, dan juga disunnahkan belajar hukum-hukum tajwid supaya dapat membaca Al Quran dengan bacaan yang benar.
8. Memahami tata cara sholat.
Dan ini merupakan kewajiban yang sangat ditekankan setelah 2 kalimat syahadat. Sholat inilah yang pertama kali akan dihisab pada hari kiamat dari seorang hamba dan ia merupakan rukun Islam yang kedua. Barangsiapa meninggalkannya maka ia kafir baik dia mengakui atas wajibnya sholat atau ia mengingkarinya, Inilah yang dijelaskan oleh Al Quran, As Sunnah dan yang disepakati oleh para sahabat, sebagaimana yang disebutkan oleh Ibnul Qoyyim di awal kitabnya yang berjudul Ash Sholaah. Hal ini akan kami singgung pada pembahasan aqidah (mabhatsul I’tiqood) pada bab ke 7 dalam kitab ini insya Alloh. Dan diantara hukum-hukum sholat yang wajib diketahui adalah:
a. Memahami syarat-syarat wajibnya yaitu: islam, berakal dan baligh, sedangkan anak yang mumayyiz sholatnya syah dia harus diperintahkan untuk melaksanakannya.
b. Memahami syarat-syarat syahnya, seperti thoharoh, menghadap qiblat, menutupi aurot, masuk waktunya dan niat.
c. Memahami tata cara sholat, rukun-rukunnya, hal-hal yang wajib padanya dan hal-hal yang sunnah.
d. Memahami sujud sahwi: sebab-sebabnya apa yang memulihkannya, dan bagaimana tata caranya.
e. Memahami hal-hal yang membatalkan sholat dan hal-hal yang dimakruhkan.
Selain memahami kewajiban-kewajiban tersebut hendaknya juga memahami sholat-sholat sunnah, juga yang sunnah mu-akkadah, seperti witir, sholat fajar kemudian rawatib. Karena kalau sunnah-sunnah tersebut terus-terus ditinggalkan akan menjadi cacat “al ‘adaalah” (bisa dipercaya sebagai saksi) pada seseorang, sebagaimana yang akan kami terangkan pada bab 4 dan 5 dalam kitab ini insya Alloh.
Dan juga karena kekurangan pada sholat-sholat wajib bisa ditutupi dengan sholat-sholat sunnah pada hari qiyamat sebagaimana yang disebutkan dalam hadits shohih.
f. Memahami tata cara sholat jama’ah, sholat jum’at dan 2 sholat ‘ied.
9. Memahami hukum-hukum yang berkaitan dengan jenazah. Ini merupakan fardhu kifayah namun kadang menjadi fardhu ‘ain pada beberapa keadaan, seperti 2 orang yang berpergian lalu salah satunya meninggal, sedangkan tidak bisa berhubungan dengan manusia. Oleh karenanya wajib memahami tata cara memandikan, mengkafani, mensholatkan dan menguburkan mayit.
10. Memahami hukum yang berkaitan dengan zakat.
Ini merupakan salah satu rukun islam. Oleh karena itu wajib bagi setiap muslim untuk memahami beberapa hukum yang berkaitan dengan zakat — seperti syarat-syarat wajibnya — dan apabila ia telah memenuhi syarat wajib maka ia wajib mempelajari hukum-hukumnya secara terperinci. Dengan demikian memahami beberapa hukum yang berkaitan dengan zakat — seperti syarat-syarat wajibnya – masuk ke dalam ilmu fardhu ‘ain yang umum, sedangkan hukum-hukum sisanya masuk ke dalam ilmu fardhu ‘ain yang khusus bagi orang yang telah terkena kewajiban zakat.
a. Adapun syarat-syarat wajib zakat adalah : islam, merdeka, memenuhi nishob, kepemilikan penuh terhadap nishob tersebut, dan mencapai haul (satu tahun) nishob tersebut. Dan tidak disyaratkan Al-Haul pada hal-hal yang keluar dari bumi.
Dengan demikian zakat itu wajib dikeluarkan dari harta anak kecil yang belum baligh, dan orang yang gila yang tidak berakal, karena tidak disyaratkan akal dan baligh.
Ini adalah pendapat mayoritas para ‘Ulama dan Abu Hanifah menyelisihinya.
b. Memahami hal-hal yang wajib dizakati: yaitu binatang ternak yang digembalakan, segala hal yang keluar dari bumi, madu, harta benda, dan barang-barang dagangan.
Dengan demikian maka wajib untuk memahami berapa nishob dari masing-masing jenis zakat tersebut.
c. Mengetahui siapa saja yang berhak mendapat zakat dan siapa saja yang tidak berhak.
d. Harus memahami syarat-syarat wajib zakat fitrah, banyaknya dan kapan waktu mengeluarkannya.
11. Memahami tata cara shoum (puasa) ini salah satu rukun islam, oleh karena itu wajib bagi setiap muslim untuk mengetahui bahwa Alloh telah mewajibkan dirinya shiyam pada bulan Ramadhan setiap tahun.
Dan juga wajib mengetahuinya :
a. Syarat-ayarat wajibnya, shiyam itu wajib atas setiap muslim yang baligh, berakal, mampu, baik laki-laki atau perempuan baik merdeka maupun budak.
b. Syarat-syarat syahnya, islam, mumayyiz, berakal, tidak sedang haidh atau nifas dan niat.
c. Tata cara shiyam yaitu menahan diri dari hal-hal yang membatalkan shiyam (seperti makan, minum, jima’ dan lain-lain) sejak terbit fajar sampai tenggelamnya matahari.
d. Haram berpuasa bagi orang yang sedang haidh dan nifas, mereka wajib berbuka dan mengqadha’ (menggantinya).
e. Dan setiap muslim wajib mengetahui hal-hal yang membatalkan shiyam apa saja yang harus diqodloo’ dan kafaroh dan apa saja yang hanya diqodloo’ saja.
f. Dan juga wajib mengetahui siapa saja yang boleh tidak berpuasa seperti orang sakit, orang tua yang tidak mampu shiyam, musafir dengan beberapa syarat, dan siapakah diantara mereka yang harus mengqodhoo’ dan siapa yang harus mengganti dengan memberi makan fakir miskin.
g. Dan diantara sunnah-sunnah bulan Ramadhan adalah sholat tarawih, i’tikaf, banyak membaca Al Qur’an dan banyak berbuat baik.
12. Memahami tata cara haji. Ini merupakan salah satu rukun Islam, maka setiap Muslim wajib mengetahui bahwa Alloh mewajibkan atas dirinya untuk melaksanakan haji sekali dalam seumur hidupnya.
a. Syarat-syarat wajibnya yaitu Islam, berakal, baligh, merdeka, mampu. Dan haji itu syah jika dilakukan oleh anak kecil dan budak, dan ia diberi pahala, namun hajinya itu tidak bisa menggantikan haji dalam Islam, sehingga jika anak itu telah dewasa dan budak tersebut telah merdeka mereka harus melaksakan haji lagi.
Dan adapun umroh diperselisihkan apakah wajib atau tidak.
b. Kemampuan: Ini merupakan salah satu syarat wajib haji, yaitu hal-hal yang dapat menyampaikan dia ke Baitullah untuk melaksanakan haji kemudian kembali lagi tanpa ada bahaya. Kemampuan itu berbeda-beda antara satu orang dengan yang lainnya. Apa yang wajib bagi orang yang jauh tidak wajib bagi orang yang dekat dan apa yang wajib bagi perempuan tidak wajib bagi laki-laki.
Secara umum haji itu merupakan ibadah badaniyyah maaliyyah (badan dan harta). Dan kemampuan ini berkaitan dengan badan dan harta serta keamanan perjalanan.
Maka barangsiapa yang mampu untuk melaksanakan haji, mempunyai harta untuk ongkos perjalanan dan harta yang melebihi kebutuhan pokoknya seperti tempat tinggal, kendaraan, pembantu dan harta dan harta untuk nafkah keluarganya maka orang seperti ini disebut mampu dan wajib untuk melaksanakan haji. Dan yang utama adalah menyegerakan haji ketika ia telah mempunyai kemampuan.
Dan disyari’atkan bagi seorang perempuan adanya suami atau mahrom yang menyertainya. Dan barangsiapa yang lemah dari sisi badannya (fisiknya) dengan kelemahan yang tetap, maka hendaknya dia mewakilkannya dengan seseorang untuk menghajikannya.
c. Maka barangsiapa yang telah terkena kewajiban haji dia wajib mempelajari hukum-hukum yang berkaitan dengan haji, hal-hal yang tersebut diatas merupakan bagian dari ilmu fardhu ‘ain yang umum, setiap muslim harus tahu kapan dia wajib melaksanakan haji. Adapun mempelajari hukum-hukum yang berkaitan dengan haji secara detail merupakan bagian ilmu fardhu ‘ain yang khusus, bagi yang telah terkena kewajiban haji dan bertekad untuk melaksanakannya. Orang ini wajib untuk mengetahui rukun-rukun, hal-hal yang merusak haji dan hal-hal yang harus dibayar fidyah.
d. Wajib memahami tata cara menyembelih qurban karena hal ini diperselisihkan para ‘Ulama madzhab atas kewajibannya..
13. Memahami hukum-hukum yang berkaitan dengan jihad.
Setiap muslim harus mengetahui bahwa Alloh mewajibkan jihad — yaitu memerangi orang-orang kafir — terhadap kaum muslimin. Alloh berfirman:
كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِتَالُ وَهُوَ كُرْهُُ لَّكُمْ وَعَسَى أَن تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرُُ لَّكُمْ وَعَسَى أَن تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَّكُمْ وَاللهُ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لاَ تَعْلَمُونَ
“Telah diwjibkan berperang atas kalian padahal perang itu kalian benci, dan bisa jadi kalian membenci sesuatu padahal ia baik bagi kalian dan bisa jadi kalian mencintai sesuatu padahal ia buruk bagi kalian. Dan Alloh mengetahui sedang kalian tidak mengetahui. (QS.Al-Baqarah: 216)
Jihad adalah fardhu kifayah, apabila ia telah dilaksanakan oleh sebagian kaum muslimin yang mencukupi, maka mereka mendapat pahala dan gugurlah dosa dari yang lainnya berdasarkan firman Alloh :
لاَ يَسْتَوِى الْقَاعِدُونَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ غَيْرُ أُوْلِى الضَّرَرِ وَالْمُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللهِ بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنفُسِهِمْ فَضَّلَ اللهُ الْمُجَاهِدِينَ بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنفُسِهِمْ عَلَى الْقَاعِدِينَ دَرَجَةً وَكُلاًّ وَعَدَ اللهُ الْحُسْنَى وَفَضَّلَ اللهُ الْمُجَاهِدِينَ عَلَى الْقَاعِدِينَ أَجْرًا عَظِيمًا
“Alloh mengutamakan orang-orang yang berjihad dengan harta dan jiwa raga mereka diatas orang-orang yang duduk (tidak berjihad) satu derajat. Dan masing-masing Alloh janjikan kebaikan, dan Alloh mengutamakan orang-orang yang berjihad diatas orang-orang yang duduk pahala yang sangat luas. (QS.An-Nisa’: 95)
Dalam kondisi semacam ini mempelajari hukum-hukum yang berkaitan dengan jihad merupakan fardhu ‘ain yang khusus.
Namun jihad terkadang menjadi fardhu ‘ain pada beberapa keadaan oleh karena itu kami masukkan kedalam ilmu fardhu ‘ain yang umum. Yaitu dalam 3 keadaan sebagai berikut :
a. Jika Imam memerintahkan seseorang atau sebuah kaum untuk berjihad maka mereka wajib berangkat. Berdasarkan firman Alloh :
مَالَكُمْ إِذَا قِيلَ لَكُمُ انْفِرُوا فِي سَبِيلِ اللهِ اثَّاقَلْتُمْ إِلَى اْلأَرْضِ
“Kenapa jika kalian dikatakan: “berangkatlah untuk berperang dijalan Alloh”, kalian merasa berat di bumi. (QS.At-Taubah : 38)
Dan berdasarkan sabda Nabi SAW :
وإذا استنفرتم فانفروا
“Dan jika kalian disuruh berangkat untuk berjihad, maka berangkatlah (Hadits riwayat: Muttafaqun ‘Alaih).
Termasuk dalam pengertian hadits ini adalah apabila pemimpin sebuah jama’ah yang berjihad atau kelompok yang berjihad memerintahkan kepada salah seorang pengikutnya maka ia wajib untuk berangkat, jika diantara keduanya ada ikatan bai’at yang mengharuskan untuk mendengar dan ta’at dalam jihad fisabilillah.
b. Dan jihad fardhu ‘ain bagi orang yang ikut keluar dalam sebuah peperangan yang fardhu kifayah sehingga pasukan kaum muslimin bertemu dengan musuh mereka. Maka haram bagi orang yang berada dalam pertempuran itu untuk pergi, dan dia wajib untuk bertahan, berdasarkan firman Alloh :
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا إِذَا لَقِيتُمْ فِئَةً فَاثْبُتُوا
“Wahai orang-orang yang beriman jika kalian bertemu dengan sebuah kelompok (musuh dalam berperang) maka bertahanlah” (QS.Al-Anfal : 45)
Dan juga berdasarkan firman Alloh :
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا إِذَالَقِيتُمُ الَّذِينَ كَفَرُوا زَحْفًا فَلاَ تُوَلُّوهُمُ اْلأَدْبَار {15} وَمَن يُوَلِّهِمْ يَوْمَئِذٍ دُبُرَهُ إِلاَّ مُتَحَرِّفًا لِقِتَالٍ أَوْ مُتَحَيِّزًا إِلَى فِئَةٍ فَقَدْ بَآءَ بِغَضَبٍ مِّنَ اللهِ وَمَأْوَاهُ جَهَنَّمُ وَبِئْسَ الْمَصِيرُ
“Wahai orang-orang yang beriman jika kalian bertemu dengan orang-orang kafir dalam medan pertempuran maka janganlah kalian berbalik membelakangi mereka. Dan barangsiapa yang berbalik membelakangi mereka, kecuali untuk mengatur pertempuran atau bergabung dengan kelompok yang lain maka dia telah kembali dengan kemurkaaan Alloh. Dan tempat kembalinya adalah jahannam, dan amat buruklah tempat kembalinya. (QS.Al-Anfal : 15-16)
c. Apabila musuh menduduki sebuah negeri maka jihad menjadi fardhu ‘ain atas penduduk negeri tersebut berdasarkan ayat-ayat di atas (QS.Al Anfal: 15-16 dan 45) karena keberadaan musuh di negeri kaum muslimin berarti 2 pasukan telah bertemu, maksudnya adalah pertemuan antara orang-orang kafir dengan orang-orang Islam. Dan masuk dalam pengertian ini: memerangi para penguasa murtad yang berkuasa dinegeri-negeri kaum muslimin dengan menjalankan undang-undang-undang ciptaan manusia kafir, karena mereka adalah musuh yang kafir dan menguasai negeri kaum muslimin. Jihad melawan mereka adalah fardhu ‘ain terhadap setiap muslim yang tinggal di negeri tersebut, dan barangsiapa yang tidak mampu maka ia harus mempersiapkan kekuatan untuk melaksanakan jihad, berdasarkan firman Alloh :
وَأَعِدُّوا لَهُم مَّااسْتَطَعْتُم مِّن قُوَّةٍ
“Dan persiapkanlah kekuatan semampu kalian untuk menghadapi mereka.” (Al Anfaal: 60)
Inilah tiga keadaan yang jihad menjadi fardhu ‘ain.
Dan jihad adalah termasuk ibadah yang tidak diterima disisi Alloh kecuali niatnya ikhlas, yaitu berperang dengan tujuan supaya kalimatullah tinggi, untuk menolong dien Alloh ta’ala, untuk memenangkan diin Alloh diatas semua dien walaupun orang-orang musyrik membenci.
Rosululloh SAW bersabda :
من قاتل لتكون كلمة الله هي العليا فهو في سبيل الله
“Barangsiapa berperang supaya kalimatullah tinggi maka dia di jalan Alloh”. (Hadits muttfaqun ‘alaih).
Adapun syarat-syarat wajibnya jihad adalah: Islam, baligh, berakal, laki-laki, merdeka, mempunyai biaya yang diperlukan untuk berjihad, fisik tidak cacat, izin kedua orang tuanya yang muslim dan izin orang yang menghutangi bagi yang berhutang, ini jika jihad fardhu kifayah.
Adapun apabila jihad itu menjadi fardhu ‘ain maka syarat-syaratnya adalah: Islam, baligh, berakal, laki-laki dan tidak cacat fisik, maka tidakdisyaratkan untuk izin kedua orang tua atau orang yang menghutangi, sebagaimana fardhu ‘ain-fardhu ‘ain yang lain.
Dengan demikian jihad ketika itu wajib atas budak dan atas orang yang tidak mempunyai biaya jika memungkinkan baginya untuk berjihad. Dan sebagian ahli fiqh berpendapat bahwa perempuan juga wajib berjihad karena fardlu ‘ain karena diqiyaskan dengan fardlu ‘ain-fardlu ‘ain yang lain, dan yang benar adalah tidak wajib sebagaimana yang telah saya teliti dalam kitabku Al ‘Umdah Fii I’daadil ‘Uddah. Dan jihad seorang wanita itu syah meskipun tidak wajib baginya.
14. Memahami kewajiban-kewajiban dan adab-adab pribadi, diantaranya:
a. Berbakti kepada kedua orang tua meskipun keduanya kafir dan mentaati keduanya selain maksiat. Sesungguhnya Alloh mensejajarkan antara tauhid kepada Alloh dan mentaati kedua orang tua pada banyak ayat diantaranya, seperti firman Alloh:
وَاعْبُدُوا اللهَ وَلاَتُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا
“Dan beribadahlah kepada Alloh dan janganlah kalian menyekutukanNya dengan sesuatupun dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua” (QS.An-Nisaa’:36).
Dan ayat-ayat yang semacam ini, dan berbakti kepada orang tua ini ditambah dengan menyambung shilaturrahmi (hubungan kerabat).
b. Selain itu seorang laki-laki harus memelihara keluarga dan orang-orang yang menjadi tanggungannya, dia wajib memberi nafkah kepada mereka, dan mengajari mereka tentang berbagai permasalahan dien dan membawa mereka untuk taat kepada Alloh.
c. Menjaga hak-hak tetangga, ini termasuk kewajiban.
d. Memuliakan tamu.
e. Memahami hak muslim atas muslim yang lainnya dan melaksanakannya, khususnya pada hal-hal yang wajib seperti menjawab salam, menengok orang sakit, mengiringi jenazah, membantu orang yang dalam kesulitan, dan memberi nasehat.
f. Wajib mentaati para pemimpin kaum muslimin pada hal-hal yang tidak maksiat, memuliakan mereka, dam memuliakan ‘Ulama, dan orang-orang yang mempunyai kebaikan dan keutamaan.
g. Wajib meminta izin, menundukkan pandangan dan menjaga pendengaran dari hal-hal yang diharamkan.
h. Wajib makan makanan yang halal dan menjaga diri dari yang haram.
i. Wajib jujur, amanah, menepati janji dan kesepakatan.
j. Amar ma’ruf dan nahi mungkar khususnya jika telah wajib.
k. Wanita wajib memakai hijab secara syar’i, dan niqob yang menutupi wajahnya dan menutupi diri dari orang-orang yang bukan mahromnya. Nanti akan kami singgung masalah niqob dan wajibnya bagi wanita untyuk menutupi wajahnya di hadapan laki-laki yang bukan mahromnya pada mabhats 8 bab 7 dalam kitab ini, insyaAllah.
l. Wanita wajib mentaati suaminya selama bukan maksiat dan menjaga hak-haknya. Ini semua adalah kewajiban dan disunnahkan untuk memahami adab-adab syar’i yang lainnya seperti adab makan, adab berteman, dan bergaul dengan orang, dzikir-dzikir yang disunnahkan dan akhlaq-akhlaq yang mulia.
15. Memahami hal-hal yang diharamkan.
Setiap muslim wajib memahami hal-hal yang di haramkan oleh Alloh yang pelakunya diancam denagn hukuman, diantaranya adalah :
a. Kemaksiatan-kemaksitan hati.
Diantaranya adalah kufur dengan hati, meskipun tidak dinampakkan dengan perkataan atau perbuatan. Inilah yang disebut nifaaq akbar (munafiq): seperti meyakini adanya sekutu-sekutu bagi Alloh, mengingkari hari kebangkitan membenci dien dan hukum-hukum syar’i dan mencintai kekafiran orang-orang kafir.
Dan diantara kemaksiatan hati adalah sombong, iri, riya’, cinta dan senang dengan kemaksiatan, mencintai orang-orang dholim dan orang-orang fasiq, suu-udzon (berburuk sangka), keras hati sehingga menghalangi untuk berbuat baik, dan marah yang tercela.
b. Dosa-dosa besar yang bersifat haddiyah (yang mengharuskan pelakasanaan hukum huduud di dunia) yaitu: Murtad (dengan perkataan atau perbuatan atau keyakinan yang telah ditetapkan oleh dalil syar’i atas kafirnya orang yang melakukannya), membunuh orang yang Alloh haramkan kecuali dengan hak, zina, menuduh orang lain berzina (qodzaf), mencuri, minum khomar, merampok ditengah jalan.
c. Kemaksiatan-kemaksiatan lisan.
Seperti dusta, ghibah, menadu domba, kesaksian palsu qodzaf (menuduh orang berzina),mencela, melaknat, mengolok-olok, meremehkan, menghina muslim, dan memakinya dan meratapi orang mati.
d. Kemaksiatan-kemaksiatan mata.
Seperti melihat wanita yang bukan mahramnya, dan amrod (anak laki-laki yang belum tumbuh bulu-bulunya) melihat kepada kemungkaran pada pertunjukan-pertunjukan, tempat-tempat hiburan, bioskop, televisi, dan lain-lain. Melihat orang-orang dholim dan tempat-tempat kedholiman.
e. Kemaksiatan-kemaksiatan telinga.
Seperti mendengar musik, hal-hal yang melalaikan dan perkataan yang kotor dan memata-matai.
f. Kemaksiatan-kemaksiatan kemaluan.
Seperti zina, liwaath (homo seks), sihaaq (lesbi), onani, dan tidak khitan bagi laki-laki.
g. Makanan-makanan dan minuman yang diharamkan.
Diantaranya bangkai, darah, daging babi, khomer, rokok, dan lain-lain seperti daging keledai jinak, binatang-binatang buas dan burung-burung yang berkuku tajam.
Diharamkan makan dan minum di bejana emas dan perak bagi laki-laki dan perempuan.
h. Harta-harta yang diharamkan.
Diantaranya mencuri, merampas (ghosob), riba, suap, judi, memakan dan mengingkari hak orang lain, makan harta anak yatim, menghianati amanah, curang dalam jual beli, menimbun berlebih-lebihan dan pelit dalam berinfaq, menginfaqkan harta untuk hal-hal yang diharamkan, dan jual beli hal-hal yang haram.
Dan setiap harta yang didapat dari usaha yang haram maka haram untuk dimakan, dan orang-orang yang makan harta haram itu.
إنما يأكلون في بطونهم نارا و سيصلون سعيرا
“Mereka tidak lain hanyalah memakan api pada perut mereka dan mereka akan masuk neraka.”
Dan yang masuk dalam usaha yang haram adalah harta-harta haram yang tersebut diatas. Juga upaya dari pekerjaan-pekerjaan haram dan ini banyak.
Juga harta yang diambil dari orang-orang kaya untuk dibagikan kepada orang-orang miskin dengan alasan sosialisme, dan keadilan sosial, baik yang berupa tanah perkebunan atau bangunan atau perabot rumah tangga atau uang, itu semua haram dan sama saja dengan merampas (ghosob) dan tidak halal meskipun telah lama.
Dan setiap orang yang memegang harta haram ia wajib bertaubat dan diantara syaratnya adalah mengembalikan harta tersebut kepada yang berhak. Jika tidak memungkinkan atau tidak ada pemiliknya (seperti upah dari pekerjaan haram) maka jalan untuk menyelamatkan diri dari harta haram tersebut adalah dengan menyedekahkannya. Inilah penyalurannya sebagaimana yang disebutkan oleh Ibnu Taimiyyah dan Ibnul Qoyyim pada beberapa tempat.
i. Kemaksiatan-kemaksiatan pakaian dan penampilan.
Seperti membuka aurot, sama saja dengan memakai pakaian sempit yang menonjolkan aurot, atau pakaian-pakaian yang tipis yang menampakkan aurot dari sela-selanya, menampakkan perhiasan (tabarruj), isbal (memanjangkan pakaian melebihi mata kaki), memakai sutra dan emas bagi laki-laki, laki-laki menyerupai wanita, dan sebaliknya, menyerupai dengan orang-orang kafir (tasyabbuh), memotong janggut, memotong dan menyambung rambut bagi perempuan dan memperuncing gigi.
j. Kemaksiatan-kemaksiatan yang berkaitan dengan bergaul dengan orang.
Seperti durhaka kepada orang tua, memutuskan hubungan saudara, mendholimi orang pada harta, darah dan kehormatannya, membuka aib kaum muslimin dan tidak menutupinya, mengganggu tetangga, membuat makar, curang, membuat tipudaya, menolong orang-orang dholim, memberontak kepada penguasa kaum muslimin dengan alasan yang tidak dibenarkan, menyepi dengan wanita yang bukan mahromnya dan wanita berpergian dengan tanpa mahrom.
k. Kemaksiatan-kemaksiatan pada mayit dan kuburan.
Seperti meratapi mayit, berkumpul untuk berduka dengan cara yang bid’ah, meninggikan bangunan kuburan melebihi batas yang disyariatkan, membangun kuburan dan memberinya lampu, duduk di atasnya, sholat menghadap kepadanya, membangun masjid di atasnya dan lain-lain dan telah disinggung di depan tentang kesyirikan ibadah kepada penghuni kuburan.
l. Haramnya sihir, perdukunan, nujum, dan mendatangi tukang sihir, dukun, ahli nujum atau mempercayai mereka, masuk dalam pengertian ini membaca “nasib anda hari ini” yang hampir terdapat pada majalah atau koran.
m. Haram menggambar benda-benda yang bernyawa dan memajangnya (kecuali photo untuk keperluan tertentu) dan haram membuat patung dan memajangnya.
n. Haram berhukum kepada undang-undang ciptaan manusia kafir, karena ia merupakan berhukum kepada thoghut, haram mengikuti pemilihan anggota wakil rakyat (parlemen) sama saja apakah dengan cara mendaftarkan diri atau memilih atau membantu. Dan diharamkan berhidmat dengan menjadi tentara para penguasa thoghut yang murtad atau menjadi polisi mereka.
Ini semua adalah kemaksiatan-kemaksiatan yang terpenting yang harus diketahui oleh setiap muslim, karena banyaknya kebutuhan untuk itu dan karena tersebarnya bencana-bencana dalam masalah tersebut, dan sebagian besar merupakan dosa besar yang ada ancamannya. Oleh karena itu wajib bagi orang yang melakukannya untuk meninggalkannya dan bertaubat.
16. Mengerti akan wajibnya taubat.
Setiap muslim wajib mengetahui tentang wajibnya bertaubat dari kemaksiatan, berdasarkan firman Alloh:
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا تُوبُوا إِلَى اللهِ تَوْبَةً نَّصُوحًا
“Wahai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kalian kepada Alloh dengan sebenar-benarnya” (QS.At-Tahrim:8).
Dan firman Alloh:
وَتُوبُوا إِلَى اللهِ جَمِيعًا أَيُّهَ الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
“Dan bertaubatlah kepada Alloh kalian semua wahai orang-orang yang beriman supaya kalian beruntung” (QS.An-Nuur:31).
Dan firman Alloh:
وَأَنِ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ
“Dan hendaknya kalian meminta ampun kepada Robb kalian kemudian bertaubat kepadanya” (QS. Hud :3)
Dan firman Alloh :
وَمَن لَّمْ يَتُبْ فَأُوْلاَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ
“Dan barangsiapa yang tidak bertaubat maka mereka adalah orang-orang dholim” (QS. Al-Hujurat : 11)
Inilah beberapa dalil atas wajibnya bertaubat.
Syaikh As Safaaroiniy Al Hambaliy rohimahullah (wafat 1188 H) berkata: “Ini termasuk apa yang disepakati oleh Ulama’, sesungguhnya mereka bersepakat bahwa bertaubat dari segala dosa itu wajib dilakukan dengan segera, dan tidak boleh di undur-undur sama saja apakah dosa kecil atau dosa besar.
Dan sesungguhnya taubat itu termasuk ajaran Islam yang penting dan termasuk dasar-dasarnya yang kuat.” (Lawaami’ul Anwaar Al Bahiyyah, karangan As Safaaroniy terbitan Al Maktab Al Islaamiy, 1411 H I/ 372).
Adapun syarat-syarat taubat agar diterima oleh Alloh adalah :
a. Berhenti dari kemaksiatan, dalilnya adalah :
وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَى مَا فَعَلُوا
“Mereka tidak mereruskan apa yang mereka lakukan” (QS. Ali ‘Imron : 135)
b. Menyesali perbuatan tersebut. Dalil adalah :
فَتُصْبِحُوا عَلَى مَافَعَلْتُمْ نَادِمِينَ
“Maka kalianpun menyesal terhadap apa yang kalian lakukan”(QS.Al-Hujurot : 6)
Dan juga firman Alloh :
لاَيَزَالُ بُنْيَانُهُمُ الَّذِي بَنَوْا رِيبَةً فِي قُلُوبِهِمْ إِلآَّ أَن تَقَطَّعَ قُلُوبُهُمْ
“Bangunan yang mereka bangun itu akan senantiasa menjadi keraguan dalam hati mereka kecuali hati mereka telah hancur” (QS.At-Taubah : 110)
Yang dimaksud dengan hancurnya hati adalah menyesal menurut beberapa ahli tafsir, hal ini disebutkan oleh Al Qurthubiy.
Ibnul Qoyyim mengatakan: “Adapun tentang penyesalan: Sesungguhnya taubat itu tidak akan terealisasi kecuali dengannya, karena orang yang tidak menyesal dengan amalan yang buruk itu menunjukkan dia senang dengannya dan dia tidak mau berhenti dari perbuatan tersebut dan disebutkan dalam kitab Al Musnad:
الندم توبة
“Penyesalan itu taubat”
(Madaarijus Saalikiin I/ 202)
c. Beristighfar dengan lisan.
Sebagian ulama’ menjadikan ini sebagai syarat, berdasarkan firman Alloh:
وَأَنِ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ
“Dan hendaklah kalian memohon ampun kepada Robb kalian kemudian bertaubatlah kepadanya” (QS. Huud : 3)
Dan juga firman Alloh :
وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ وَمَن يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلاَّ اللهُ وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَى مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ
“Dan orang-orang yang apabila melakukan perbuatan keji atau menganiaya diri mereka sendiri, mereka ingat kepada Alloh, lalu mereka memohon ampun atas dosa-dosa mereka, dan siapakah yang mengampuni dosa kecuali Alloh, dan mereka tidak meneruskan apa yang mereka kerjakan sedang mereka mengetahui (QS. Ali-Imron : 135).
d. Bertekat untuk tidak mengulangi kemaksiatan selama-lamanya, dalilnya adalah firman Alloh :
وَمَن تَابَ وَعَمِلَ صَالِحًا فَإِنَّهُ يَتُوبُ إِلَى اللهِ مَتَابًا
“Dan barangsiapa yang bertaubat dan beramal shalih maka sesungguhnya ia bertaubat kepada Alloh dengan sebenar-benarnya” (QS. Al Furqon : 71)
Dan firman Alloh :
فَمَن تَابَ مِن بَعْدِ ظُلْمِهِ وَأَصْلَحَ فَإِنَّ اللهَ يَتُوبُ عَلَيْهِ
“Maka barangsiapa yang bertaubat setelah berbuat dholim, dan berbuat baik maka sesungguhnya Alloh menerima taubatnya” (QS. Al Maidah : 39)
e. Taubat dilakukan pada waktu diterimanya taubat, yaitu sebelum sakarotul maut dalilnya adalah :
َلَيْسَتِ التَّوْبَةُ لِلَّذِينَ يَعْمَلُونَ السَّيِّئَاتِ حَتَّى إِذَا حَضَرَ أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ إِنِّي تُبْتُ الْئَانَ وَلاَالَّذِينَ يَمُوتُونَ وَهُمْ كُفَّارٌ أُوْلاَئِكَ أَعْتَدْنَا لَهُمْ عَذَابًا أَلِيمًا
“Dan taubat itu tidak diterima dari orang-orang yang mengerjakan amalan-amalan buruk sampai apabila kematian menjemputnya dia mengatakan “sesungguhnya aku sekarang bertaubat” (QS. An-Nisa’ : 18)
Dan bersabda Nabi SAW :
إن الله عز وجل يقبل توبة العبد ما لم يغرغر
“Sesungguhnya Alloh menerima taubat seorang hamba selama belum sekarat”
(HR. At Tirmidziy dan dia mengatakan hadits ini hasan dari Ibnu ‘Umar ra).
f. Melakukan hak-hak, dan kemaksiatan yang dilakukan hamba itu ada 2 macam :
 Kemaksiatan-kemaksiatan yang berkaitan dengan hak Alloh subhaanahu wa ta’ala. Dan ini ada 2 macam :
Pertama : Kemaksiatan yang tidak mengharuskan untuk melaksanakan hak akan tetapi cukup dengan memenuhi syarat-syarat taubat di atas, hal ini seperti minum khomer.
Kedua : Adalah kemaksiatan yang mengharuskan untuk melaksanakan hak seperti, keteledoran dalam puasa atau zakat atau membayar kafaroh atau fidyah atau nadzar dan lain-lain. Dan dalam hal ini wajib membayar apa yang dia langgar.
 Kemaksiatan-kemaksiatan yang berkaitan dengan hak manusia seperti: Mendholimi kehormatan atau harta atau fisik orang lain. Oleh karena itu orang yang mendholimi kehormatan orang lain ia harus meminta maaf, jika mendholimi hartanya ia harus mengembalikannya jika memungkinkan, dan kalau tidak maka sebagai gantinya, harus ia sedekahkan dan jika ia mendholimi fisiknya maka ia harus diqishosh, atau membayar diyat atau al arosy (diyat luka-luka) sesuai dengan kondisinya.
Sebagaian ulama’ ada yang menjadikan syarat taubah itu 4 saja seperti An-Nadawiy, dan sebagian yang lain ada yang menjadikan lebih dari 10 seperti Ibnu Hajar Al Haitsamiy dalam kitabnya Az Zawaajir. Dari semua ini aku memilih 6 di atas. Sebagian ulama’ mengatakan: “Orang yang menunda taubat harus bertaubat dari penundaan yang ia lakukan.”
Wa ba’du.
Ini semua adalah poin-poin penting dari ilmu fadhu ‘ain yang umum yang wajib dipelajari oleh setiap muslim.
Setiap muslim harus mengerti tentang rukun Islam, rukun iman, makna tauhid, makna syirik, dan kufur, supaya imannya syah dan tidak rusak lantaran ia terjerumus pada hal-hal yang membatalkannya.
Dan dia wajib mempelajari hukum-hukum thoharoh (bersuci), sholat, zakat, shoum, haji dan jihad supaya ibadahnya syah.
Dan dia wajib mempelajari kewajiban-kewajiban dan adab-adab syar’i, hal-hal yang dihalalkan dan diharamkan supaya mu’amalahnya benar.
Dan tidak wajib bagi setiap muslim untuk mengetahui dalil-dalinya secara terperinci untuk segala permasalahan yang kami sebutkan diatas. Akan tetapi cukup dia mengetahui bahwa hukum-hukum tersebut adalah ketentuan Alloh pada masalah-masalah tersebut. Meskipun dia tidak mengetahui dalilnya secara detail. Masalah ini akan kami paparkan pada pembahasan “Al Ittiba’ Wa Taqlid” pada bab 5 insya Alloh.
Dan dalil-dalil mengenai apa yang kami sebutkan di atas terdapat dalam berbagai kitab, dan kami akan menunjukkan buku-buku yang kami sarankan untuk dibaca dari setiap bab ilmu pada bab yang ke 7 pada akhir kitab ini insya Alloh, bagi yang ingin tambahan.
Dan wajib bagi setiap muslim untuk mempelajari semua apa yang telah kami disebutkan di atas kemudian mengajarkannya kepada keluarga dan anak-anaknya serta siapa saja yang menjadi tanggung jawabnya.
Dan wajib bagi para ulama dan orang-orang yang mempunyai kemampuan untuk menyebarkan ilmu yang wajib dipelajari tersebut kepada manusia.
Dan wajib bagi para pemimpin kaum muslimin untuk mengarahkan agar manusia mempelajari ilmu-ilmu tersebut dan mewajibkan mereka untuk mempelajarinya.
Dan kami akan menyebutkan pada bab 3 “Tata Cara Mencari Ilmu”. Kewajiban semua orang yang kami sebutkan di atas (yaitu para pemimpin, ulama dan orang umum) untuk menyebarkan ilmu, insya Alloh.

(Tambahan)
Saya mendapatkan dalam kitab “Al Ibaanah ‘An Syarii’atil Firqoh An Naajiyah”, karangan Abu ‘Abdullah Ibnu Bathoh (wafat 387 H), dia termasuk imam ahlussunnah yang sering disebut oleh Ibnu Taimiyyah dalam Majmu’ Fatawanya. Saya dapatkan ia menukil dari Adh Dhohaak Ibnu Muzaahim, beliau termasuk tabiit tabi’iin yang terkenal di Khurosan, wafat th. 105 H. Ringkasan dari syariat iman yang baik untuk dijadikan ringkasan ilmu fardhu ‘ain yang umum. Dan di sini saya nukilkan supaya bermanfaat bagi saudara-saudaraku muslimin.
Abu ‘Abdullah Ibnu Bathoh meriwayatkan dari Adh Dhohaak dengan sanadnya ia mengatakan: “Sesungguhnya yang paling benar jika seorang hamba memulai pembicaraan adalah dengan memuji Alloh. Dengan segala puji bagi Alloh, kita memujiNya lantaran apa yang telah ia lakukan kepada kita, yaitu menunjukan kita Islam, mengajarkan kita Al-Quran dan menganugrahkan kepada kita dengan Muhammad SAW dan bahwasanya Diin Alloh yang dibawa oleh nabinya SAW adalah iman, dan iman adalah Islam. Dengan itu pulalah, para rosul sebelumnya diutus. Alloh berfirman:
وَمَآأَرْسَلْنَا مِن قَبْلِكَ مِن رَّسُولٍ إِلاَّنُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لآ إِلَهَ إِلآ أَنَا فَاعْبُدُونِ
“Dan tidaklah kami mengutus seorang Rosulpun kecuali kami wahyukan bahwasanya tidak ada ilaah kecuali Aku, maka sembahlah Aku” (QS.Al-Anbiya’:25).
Yaitu beriman kepada Alloh, Hari Akhir, para Malaikat, dan para Nabi, dan membenarkan apa saja yang datang dari Alloh, dan pasrah terhadap qodho dan hukumNya, dan ridho dengan qodarnya, inilah yang disebut dengan iman, barangsiapa yang keadaannya seperti itu maka ia telah sempurtna imannya, dan barangsiapa yang beriman maka Alloh telah mengharamkan hartanya dan darahnya, dan dia mempunyai kewajiban sebagaimana kewajiban kaum muslimin. Akan tetapi ia tidak mendapatkan pahala dan tidak mencapai kemuliaan kecuali dengan mengamalkannya dan untuk mendapatkan pahala iman adalah dengan mengamalkannya.
Pengalamannya adalah dengan cara mentaati Alloh Ta’ala dengan melaksanakan hal-hal yang diwajibkan, menjauhi hal-hal yang diharamkan, meneladani orang-orang sholih, menegakkan sholat, mengeluarkan zakat, shiyam Romadhon, melaksanakan haji bagi yang mampu menempuh perjalanannya, menjaga pelaksanaan Jum’at dan jihad fii sabilillah, mandi janabat, bersuci dengan baik, berwudhu dengan baik untuk melaksanakan sholat dan melakukan kebersihan.
Dan juga berbakti kepada orang tua, menyambung hubungan kekeluargaan (shilaturrahmi), menyambung hubungan dengan orang yang diperintahkan oleh Alloh untuk menyambung, berakhlaq baik dengan teman, berbuat baik kepada kerabat, memahami hak setiap orang-orang yang mempunyai hak seperti bapak lalu ibu, lalu kerabat, lalu anak yatim, lalu orang miskin, lalu ibnu sabiil (orang yang sedang dalam berpergian), lalu orang yang meminta, lalu orang yang mempunyai hutang, lalu mukaatib (budak yang ingin merdeka dengan menebus dirinya sendiri), lalu tetangga, lalu teman, lalu budak.
Dan melakukan amar ma’ruf, nahi mungkar, cinta karena Alloh, benci karena Alloh, berwala’ (loyal) kepada para wali Alloh dan memusuhi musuh-musuhnya, berhukum dengan hukum Alloh, mentaati para pemimpin, marah, ridho, menepati janji, berkata benar, melaksanakan nadzar, melaksanakan janji, menjaga amanat yang berupa menyimpan rahasia atau harta, menyampaikan amanah kepada yang berhak, mencatat hutang yang bertempo dengan saksi 2 orang yang ‘aadil (mempunyai sifat ‘adaalah / dapat dipercaya) mempersaksikan terhadap transaksi jual beli, memenuhi permohonan orang untuk menjadi saksi, mencatat dengan cara yang adil sebagaimana yang telah diajarkan Alloh, memberikan kesaksian sesuai dengan sebenarnya dengan adil meskipun terhadap diri sendiri atau kedua orang tua atau kerabat, memenuhi takaran dan timbangan dengan adil, berdzikir (menyebut) kepada Alloh pada saat-saat yang penting, dan berdzikir kepada Alloh setiap saat, menjaga diri, menundukkan pandangan, menjaga kemaluan , dan menjaga seluruh anggota badan dari hal-hal yang haram, menahan marah, membalas kejahatan dengan kebaikan, bersabar terhadap musibah sedang dalam ridho dan marah, biasa-biasa dalam berjalan, dan beramal, bertaubat kepada Alloh dengan segera, memohon ampun dari dosa, mengetahui kebenaran dan para pelakunya, mengetahui keadilan ketika melihat pelakunya, dan mengetahui kedholiman apabila melihat pelakunya sebagaimana orang mengetahui dirinya jika ia mengerjakannya, menjaga hukum-hukum Allah, mengembalikan hal-hal yang diperselisihkan seperti hukum atau yang lainnya kepada orang yang mengetahuinya dan menjalankan apa-apa yang tidak diperselisihkan yang berupa Al Quran yang diwahyukan dan sunnah yang telah berjalan karena itu merupakan kebenaran yang tidak ada keraguan padanya mengembalikan permasalahan yang meragukan kepada ulil amri (pemimpin) yang darinya diputuskan perkara, meninggalkan perkara yang meragukan kepada yang tidak meragukan, meminta ijin kalau mau masuk rumah, sehingga ia tidak masuk rumah sampai dia minta ijin dan mengucapkan salam kepada penghuninya sebelum dia melihat kedalam rumah atau mendengarnya, kalau dia tidak mendapatkan seorangpun di dalamnya maka janganlah ia masuk tanpa ijin penghuninya, jika dikatakan pulanglah, maka lebih baik pulang jika mereka mengijinkan maka diperbolehkan masuk, adapun rumah-rumah yang tidak ada penghuninya dan di dalamnya ada yang dapat dimanfaatkan oleh orang-orang yang berpergian atau yang lainnya dan bersenang-senang di dalamnya maka tidak harus ijin, dan budak kecil atau besar dan mahrom penghuni rumah yang belum baligh harus meminta ijin pada 3 waktu dari malam dan siang atau akhir malam sebelum fajar dan ketika qoiluulah (tidur siang) ketika pemilik rumah sedang menyendiri dengan keluarganya dan setelah sholat isya’ ketika pemilik rumah kembali ke tempat tidurnya, dan apabila anak-anak yang merupakan mahrom pemilik rumah tersebut telah baligh maka ia wajib meminta ijin setiap saat.
Dan juga menjauhkan diri dari membunuh orang yang diharamkan Alloh kecuali dengan alasan yang benar, menjauhi untuk mengambil harta orang dengan cara batil, kecuali dengan cara jual beli atas dasar saling rela diantara mereka, menjauhkan diri dari memakan harta anak yatim dengan cara yang dholim, menjauhi minum khomer, menjauhi minuman dan makanan haram, menjauhi makan riba dan haram, menjauhi makan dari perjudian, suap dan rampasan, menjauhi an najsy (menawarkan harga yang tinggi bukan untuk membeli tetapi agar orang lain membelinya dengan harga yang tinggi) dan kedholiman, menjauhi mencari harta dengan cara yang tidak benar, menjauhi tabdziir dan membelanjakan harta pada sesuatu yang tidak benar, menghindari curang dalam timbangan dan takaran, menghindari pengurangan pada takaran dan timbangan, menghindari pembatalan bai’at dan menggulingkan para pemimpin, menjauhi pengkhianatan dan maksiat, menjauhi sumpah yang jahat dan menjauhi pelaksanaan sumpah untuk berbuat maksiat, menjauhi dusta dan berlebihan dalam berbicara, menjauhi kesaksian dusta, menjauhi menuduh, menjauhi menuduh wanita baik-baik berbuat zina, menjauhi mengumpat dan mencela, menjauhi saling mencela dengan laqob (sebutan-sebutan) menjauhi namiimah (mengadu domba) dan ghibah menjauhi tajassus (memata-matai), menjauhi buruk sangka kepada orang sholih (baik laki-laki maupun perempuan), menjauhi berbuat maksiat secara terus menerus dan meremehkannya, berhati-hati agar tidak menahan untuk melakukan kebenaran, dan terus-terusan dalam kesesatan dan tidak serius dalam kebenaran, berhati-hati dengan perbuatan dosa dan berlomba-lomba untuk berbuat jahat dan hati-hati dengan bangga terhadap diri sendiri, berhati-hati dengan gembira dan sombong, menjauhkan diri dari kata-kata yang jelek, membersihkan diri dari kata-kata yang kotor, menjauhkan diri dari berburuk sangka, dan membersihkan diri dari kencing dan buang air besar semuanya.
Inilah diin Alloh yaitu iman dan apa yang disyariatkan di dalamnya yang berupa membenarkan terhadap apa-apa yang datang dari sisi Alloh, dan apa-apa yang diterangkan berupa yang halal, yang haram, sunnah-sunnah dan kewajiban-kewajiban.
Ia telah menyebutkan apa-apa yang bermanfaat bagi orang-orang yang berakal, dan di atas setiap orang-orang yang berilmu itu ada yang Maha Tahu. Dan semua itu terkumpul dalam taqwa, maka bertaqwalah kalian kepada Alloh dan berpeganglah dengan taliNya, dan tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan Alloh. Saya memohon kepada Alloh agar menunjukkan kami dan juga kalian kepada hal-hal yang menyampaikan kami kepada kerihoan dan jannah (syurga) Nya.” Sampai disini perkataan Adh Dhohaak Ibnu Muzaahim.
Berkata Syaikh Abu ‘Abdillah Ibnu Bathoh: “Wahai saudara-saudaraku inilah syariat-syariat iman dan cabang-cabangnya dan akhlaq orang-orang yang beriman yang barangsiapa diantara mereka melaksanakan dengan sempurna maka mereka diatas hakekat iman, petunjuk yang nyata dan tanda-tanda ketaqwaan.
Maka setiap kali iman setiap hamba itu kuat, maka bertambahlah pandangannya dalam diinnya, kekuatan keyakinannya dan bertambahlah akhlaq-akhlaq tersebut dan dari hal-hal yang sejenisnya, dan memancarlah tanda-tandanya pada ucapan dan perbuatannya, semacam itu telah dijelaskan dalam Al Quran dan As-Sunnah dan diterima kebenarannya oleh akal yang telah Alloh tinggikan kedudukannya dan menang hujjahnya. Dan sesuai dengan kadar kurangnya iman seorang hamba dan melemahnya keyakinannya, semakin sedikitlah akhlaq-akhlaq tersebut di atas dan hilanglah dari perbuatannya dan pribadinya. Semoga Alloh memberi petunjuk kami dan kalian untuk melakukan hal-hal yang dapat meraih keridhoanNya dan terhindar dari segala bencana di dua alam, yaitu (dunia dan akhirat).” dari Kitab (Al Ibaanah ‘An Syariiatil Firqoh An Naajiyah tulisan Abu ‘Abdillah Ibnu Bathah II/650-653, cetakan Daarur Rooyah 1409 H).
Inilah penjelasan singkat tentang Ilmu Fardhu ‘Ain Yang Bersifat Umum dari Adh Dhohaak Ibnu Muzaahim yang meninggal awal abad ke 2 Hijriyah yang memuat penjelasan tentang rukun iman, rukun Islam, hal-hal yang diwajibkan, adab-adab syar’iy, hal-hal yang diharamkan, ditambah dengan beberapa adab yang disunnahkan dan akhlaq-akhlaq yang mulia.
Kemudian kita berpindah ke penjelasan tentang bagian ke-2 dari macam-macam ilmu yang fardhu ‘ain yaitu Ilmu Fardhu ‘Ain Bersifat Khusus.

Kedua:
Ilmu Fardhu ‘Ain Yang Bersifat Khusus

Yaitu : Kewajiban bagi sebagian mukallaf saja. Dan menjadi kewajiban seseorang pada saat-saat tertentu saja —- setiap orang yang terkena kewajiban syar’i (seperti zakat dan haji) — dan setiap orang yang melakukan perkara yang mubah (seperti dagang dan nikah) maka ia wajib mempelajari hukum-hukumnya karena wajibnya berilmu sebelum mengatakan dan sebelum berbuat.
Contohnya adalah: seperti yang dikatakan Ibnu Hazm rahimahulloh: “Kemudian wajib bagi orang yang mempunyai harta untuk mempelajari hukum-hukum yang berkaitan dengan zakat yang harus dia keluarkan, dan sama saja laki-laki atau perempuan atau budak atau orang-orang merdeka. Namun bagi orang yang tidak memiliki harta maka dia tidak wajib untuk mempelajari hukum-hukum yang berkaitan dengan zakat.
Kemudian orang yang terkena kewajiban bagi ia wajib mempelajari hukum-hukum haji dan umroh, dan hal ini tidak wajib bagi orang yang fisiknya tidak sehat dan tidak punya harta.
Kemudian bagi para komandan pasukan wajib memahami pertempuran, hukum-hukum jihad dan pembagian ghoniimah dan fai’.
Kemudian bagi para penguasa dan qodhi (hakim) wajib mempelajari berbagai hukum permasalahan dan huduud, dan hal ini wajib bagi orang lain.
Kemudian bagi para pedagang dan setiap orang yang menjual hasil buminya wajib mempelajari hukum-hukum jual beli, apa-apa saja yang yang dihalalkan dan apa saja yang diharamkan, dan hal ini tidak di wajibkan bagi orang yang tidak menjual dan tidak membeli.” (Al Ihkaam V/ 122)
Termasuk dalam permasalahan ini juga adalah orang yang tinggal disebuah negeri yang terdapat beberapa bid’ah atau beberapa kelompok sesat seperti syi’ah atau khowaarij atau qodariyyah atau bahaa-iyyah atau shuufiyyah dan lain-lain.Wajib bagi orang tersebut mempelajari hal-hal yang dapat menyelamatkan dirinya dari bid’ah-id’ah tersebut supaya imannya terjaga dari ketergelinciran, maka ia wajib untuk beriman secara terperinci yang tidak diwajibkan kepada orang lain yang tidak menghadapi apa yang ia hadapi. Inilah maksud dari perkataan Abu Haamid Al Ghozaaliy yang berbunyi: “Adapun tentang keyakinan-keyakinan dan amalan-amalan hati, maka wajib diketahui sesuai dengan hal-hal yang terbetik dalam hati. Jika terbetik dalam hatinya sesuatu yang keraguan tentang makna-makna dua kalimah syahadat, maka ia wajib mempelajari hal-hal yang dapat menghilangkan keraguan tersebut.
Namun jika hal itu belum terbetik dalam hatinya dan ia mati sebelum ia meyakini bahwa Kalaamulloh (firman Alloh) itu Qodiim (Maha Terdahulu) dan bahwasanya ia dapat dilihat dan bahwa ia bukanlah tempat untuk para makhluq dan sebagainya yang termasuk dalam keyakinan, maka dia mati dalam keadaan Islam secara ijma’.
Akan tetapi hal-hal yang terbetik di dalam hati yang berdampak terhadap keyakinan tersebut. Sebagiannya muncul secara alami, dan sebagiannya muncul karena mendengar dari penduduk setempat. Jika di negeri setempat tersebar ilmu kalaam (filsafat) dan bid’ah-bid’ah maka hendaknya ia menjaga diri dari hal-hal tersebut. Sejak pertama ia baligh dengan mempelajari kebenaran karena seandainya timbul kebathilan padanya maka ia wajib menghilangkannya dari dalam hatinya dan kadang hal itu sulit dilakukan sebagaimana jika seorang muslim tersebut sebagai pedagang, sedangkan telah tersebar dalam negerinya praktek riba, maka ia wajib mempelajari bagaimana menyelamatkan diri dari riba. Inilah kebenaran yang termasuk ilmu yang fadhu ‘ain, yang artinya adalah ilmu tentang tata cara mengamalkan kewajiban.
Maka barangsiapa yang telah mengetahui kewajiban dan kapan kewajiban tersebut dilaksanakan maka ia telah memahami Islam yang fardhu ‘ain.” (Ihyaa-u ‘Uluumid Diin I/ 26). Tentang perkataan Al Ghozaaliy “Sesungguhnya Kalaamulloh (firman Alloh) itu qodiim” ada perinciannya. Kalau mau silahkan lihat dalam Lawaami’ul Anwaar Al Bahiyah karangan As Safaaroiniy. Cet. Al Maktab Al Islaamiy 1411 H, I/ 27,112 dan 130 pada catatan kakinya.
Begitulah, setiap orang yang mau mengerjakan sebuah pekerjaan maka ia harus bertanya tentang tentang hukumnya, sehingga ia beramal berdasarkan ilmu. Hendaknya ia bertanya boleh atau tidak dia mengerjakannya? Seperti orang yang ingin melakukan sebuah pekerjaan atau propesi, atau ingin bermu’amalah dengan uang dan lain-lain, ia wajib bertanya tentang syari’atnya.
Dan, jika pada pekerjaan yang akan ia lakukan itu ada perincian hukumnya, maka ia wajib mempelajari hukumnya, secara terperinci. Ini semua berdasarkan atas wajibnya berilmu sebelum mengatakan dan berbuat.
Kemudian kita berpindah kebagian ke 3 dari macam-macam ilmu yang fardhu ‘ain.

Ketiga:
Ilmu Tentang Ahkaamun Nawaazil (Permasalahan-Permasalahan Yang Bersifat Temporer)

Ilmu fardhu ‘ain baik yang bersifat umum maupun yang bersifat khusus adalah ilmu tentang hal-hal yang berulang kali kejadiannya dan tidak terpisahkan dari seorang hamba. Adapun yang jarang terjadi maka ia tidak wajib mempelajarinya sejak awal, akan tetapi barangsiapa menghadapi sebuah permasalahan maka ia wajib mengetahui hukumnya supaya ia tidak mengatakan dan melakukan sesuatu tanpa berdasarkan ilmu.
Ilmu inilah yang dimaksud oleh An Nawawiy dalam ucapannya: “Kemudian, itu semua yang wajib adalah yang menjadi kunci dari pelaksanaan kewajiban dirinya yang sering terjadi dan bukan yang jarang terjadi, namun jika terjadi maka wajib ia mempelajarinya ketika itu.” (Al Majmuu’ I/ 25). An nawaazil adalah apa yang dikatakan oleh An Nawawiy sebagai apa-apa yang terjadi.
An Nawawiy juga mengatakan: “… ia wajib meminta fatwa apabila ia menghadapi suatu kejadian yang harus ia ketahui hukumnya. Namun jika di negerinya tidak ia dapatkan orang yang dapat ia mintai fatwa, maka ia wajib untuk menempuh perjalanan menuju orang yang dapat memberi fatwa kepadanya meskipun jauh dari rumahnya. Dan sungguh sekelompok salaf telah melakukan perjalanan untuk satu permasalahan selama berhari-hari.” (Al Majmuu’ I/ 54).
Begitulah, dan kami akan menjabarkan hukum-hukum orang yang meminta fatwa secara detail pada bab ke 5 dalam kitab ini insya Alloh.
Al Khothiib Al Baghdaadiy dan Ibnu ‘Abdil Al Barr keduanya meriwayatkan dari ‘Abdulloh Ibnul Mubaarok, semoga Alloh merahmatinya mereka semua. Ia berkata: “Wajib bagi orang yang menghadapi suatu permasalahan pada urusan agamanya untuk bertanya sampai ia mengetahuinya.” (Al Faqiih Wal Mutafaqqih I/ 45 dan Jaami’ul Bayaanil ‘Ilmi I/ 10).
Abu Haamid Al Ghozaaliy mengatakan — tentang an nawaazil — : “Sesungguhnya yang dilalui oleh seorang hamba pada siang dan malamnya tidaklah lepas pada kejadian-kejadian pada ibadah-ibadahnya dan muamalat-muamalatnya dari hal-hal yang baru, maka ia harus bertanya tentang segala sesuatu yang jarang terjadi tersebut. Dan dia harus juga mempelajari apa-apa yang diperkirakan akan terjadi dalam waktu dekat.” (Ihyaa-u Uluumid Diin I/ 27).
Dan diantara an nawaazil yang menimpa kaum muslimin secara umum di berbagai negri adalah berhukumnya mereka dengan selain syariat Islam, yaitu dengan undang-undang ciptaan manusia yang mereka buat sendiri.
Oleh karena itu semua kaum muslimin yang mukallaf baik laki-laki maupun perempuan wajib untuk memahami peristiwa ini karena berlakunya hukum buatan manusia ini menimbulkan kewajiban-kewajiban terhadap setiap individu mereka. Dan akan kami singgung hukum tentang kejadian ini pada mabhats pertama dan ke delapan dalam bab 7 dalam kitab ini insya Alloh.
Dan diantaranya juga adalah ajakan untuk berdemokrasi dan hal-hal yang menjadi konsekuensinya, seperti mendirikan partai politik dan parlemen perundang-undangan dan hal-hal yang menyertainya seperti mencalonkan diri dan pemilihan semua ini termasuk syirik yang tidak boleh seorang muslimpun terjerumus kepadanya dan wajib bagi setiap muslim untuk mewaspadainya dan mengingatkan orang lain tentang hal ini. Hal ini akan kami singgung pada awal bab 4 dan mabhats 8 pada bab 7 dalam kitab ini insya Alloh.
Sampai di sini kami tutup pembahasan tentang ilmu yang wajib dipelajari oleh setiap muslim yang tujuannya adalah menjelaskan bahwa tidak boleh bagi seorang muslim untuk mengatakan atau melakukan sesuatu sampai dia mengetahui hukum Alloh tentang sesuatu tersebut. Dan setiap muslim wajib mengetahui bahwa tidak ada sesuatupun di dunia ini kecuali ada hukumnya dalam syariat Alloh Subhaanahu wata’aala.
Alloh Subhaanahu wa ta’aala berfirman:
وَنَزَّلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ تِبْيَانًا لِّكُلِّ شَىْءٍ
“Dan kami turunkan kitab kepadamu sebagai penjelas segala sesuatu” (QS.An-Nahl:89)
Maka tidak ada sesuatupun kecuali masuk ke dalam salah satu hukum taklif yang lima, yaitu: wajib atau sunnah atau mubah atau makruh atau haram. Baik hal itu dijelaskan secara nash dalam Al Quran dan As Sunnah atau merupakan kesimpulan para ulama dengan menyamakan hukumnya dengan sesuatu yang ada nashnya.
Dan hal ini telah kami singgung dalam pembahasan Syariat Memenuhi Kebutuhan Manusia Sampai Hari Kiamat.

Diterjemahkan dari Al Jaami’ Fii Tholabil ‘Ilmisy Syariif, Syaikh ‘Abdul Qoodir bin ‘Abdul Aziiz I/108-142.
TAHANAN MABES POLRI, 3 Romadhon 1425 H

About these ads

Filed under: Nasehat tuk penuntut ilmu

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 34 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: