At Taujih

Mengawal Wacana Iqomatuddiin

KARAKTER SEORANG MUJAHID


يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا مَنْ يَرْتَدَّ مِنْكُمْ عَنْ دِينِهِ فَسَوْفَ يَأْتِي اللَّهُ بِقَوْمٍ يُحِبُّهُمْ وَيُحِبُّونَهُ أَذِلَّةٍ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ أَعِزَّةٍ عَلَى الْكَافِرِينَ يُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلا يَخَافُونَ لَوْمَةَ لائِمٍ ذَلِكَ فَضْلُ اللَّهِ يُؤْتِيهِ مَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, Barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, Maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintaiNya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya), lagi Maha mengetahui.” (Q.S. Al Maidah :54).

Allah Ta’ala telah mengabarkan pada kita semua bahwa barang siapa yang memalingkan diri dan tidak mau memperjuangkan dan menolong din Allah Ta’ala dan syariatnya, sungguh akan digantikan dengan satu kaum yang lebih bik dari mereka. Mereka yang lebih komitment dengan diennya, lebih lurus jalannya, dan lebih serius dalam menegakkan din ini. Hal ini sebagaimana yang Allah sebutkan dalam firmanya ;

وَإِنْ تَتَوَلَّوْا يَسْتَبْدِلْ قَوْمًا غَيْرَكُمْ ثُمَّ لَا يَكُونُوا أَمْثَالَكُمْ
Dan jika kalian berpaling, niscaya Dia akan mengganti (kalian) dengan kaum yang lain, dan mereka tidak akan seperti kalian (ini). [ QS. Muhammad : 38 ].

Imam At Tabari berkata bahwa ancaman dari Allah ini ditujukan kepada orang-orang yang akan murtad dengan pengetahuan Allah setelah wafatnya nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam. Demikian pula janji-Nya kepada orang-orang yang beriman dengan ilmu Allah pula bahwasanya ada diantara mereka yang tidak berubah dan tidak berganti diennya. Dan ketika wafatnya nabi sallallahu alaihi wasallam, maka murtadlah beberapa kaum dari penduduk al wabar dan sebagian penduduk al midar. Maka Allah menggantikan orang-orang yang lebih baik dari mereka.

Walau para ulama’ ahli tafsir menjelaskan sebab turunnya ayat ini dengan sebuah peristiwa pada zaman sahabat radyiallahu ‘anhum, akan tetapi ayat inipun juga tetap berlaku pada generasi berikutnya. Karena memang ayat al qur’an ini diturunkan kepada seluruh ummat nabi sallallahu alaihi wasallam. Dan tidak hanya kepada para sahabat saja.

Karakter penegak syari’at
Dari surat almaidah ayat 54 di atas dapat kita ambil pelajaran yang sangat berharga. Yaitu sebuah karakter yang harus dimiliki oleh para penegak syari’at. Atau mereka yang ingin menjadi para pejuang-pejuang islam penegak syari’at. Diantara karaktersebut adalah ;

Pertama : Memiliki kecintaan yang mendalam kepada Allah Ta’ala. Mereka inilah Abu Bakar dan para sahabatnya. Dalam riwayat yang lain disebutkan bahwa mereka adalah kaum saba’ atau juga yamamah dan juga ada yang menyebutkan mereka itu dari Yaman. Begitulah Ibnu katsir menyebutkan dalam tafsirnya.
Sedangkan Ibnu Taimiyah menyebutkan dalam kitab beliau al ubudiyah ketika menjelaskan tentang kecintaan pada Allah Ta’ala dengan mengatakan :

قَدْ جَعَلَ الله لِأَهْلِ مَحَبَّتِهِ عَلَامَتَيْنِ: ِاتْبَاعُ الرَّسُوْلِ، وَالْجِهَادُ فِي سَبِيْلِ اللهِ؛ وَذَلِكَ لِأَنَّ الْجِهَادَ حَقِيْقَتُهُ اَلْاِجْتِهَادُ فِي حُصُوْلِ مَا يُحِبُّهُ اللهُ مِنَ الْإِيْمَانِ وَالْعَمَلُ الصَّالِحُ، وَفِي دَفْعِ مَا يُبْغِضُهُ مِنَ الْكُفْرِ وَالْفُسُوْقِ وَالْعِصْيَانِ ا- هـ.
Allah telah menjadikan tanda-tanda orang yang mencintai-Nya pada dua hal : Mengikuti Rasulullah dan jihad fi sabilillah. Yang demikian itu karena jihad pada hakekatnya adalah buah dari puncaknya iman dan amal shalih serta apa yang dibencinya dari kekufuran, kefasikan dan kemaksiatan. [ Al ‘Ubudiyah : 91 ].
Begitu indahnya ketika Imam Ibnu Taimiyah menjelaskan bahwa tanda-tanda orang yang mencintai Allah Ta’ala adalah dengan mengikuti Rasulullah sallallahu alaihi wasallam dan jihad fisabilillah. Mengikuti Rasulullah sallallahu alaihi wasallam adalah syarat sebuah kecintaan. Sedangkan aljihad adalah diantara bukti kecintaan seseorang yang tinggi kepada Robbnya.” Karena ia mengorbankan harta dan bahkan nyawanya untuk Allah Ta’ala padahal keduanya adalah sesuatu yang sangat berharga baginya, jika tidak memiliki sifat ini sangat mungkin seseorang meninggalkan perjuangannya karena secuil kesenangan dunia dan pasti bakhil untuk berkorban di jalan Allah Ta’ala.

Kedua : lemah lembut terhadap orang-orang beriman dan tegas terhadap orang-orang kafir. Tentang karakter ini, Imam Ibnu Katsir berkata, “Inilah sifat orang mukmin yang sempurna yaitu tawadhu’ dan rendah diri kepada saudara dan para walinya, kemudian keras kepada musuh-musuhnya(orang kafir). Hal ini sebagaimana juga disebutkan dalam surat Al Fath: 29

Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka.

Begitulah Rasulullah salallahu ‘alaihi wasallam memiliki sifat Dokhuk dan qittal yaitu ramah, santun dan tawadhu’ kepada para kekasihnya dan keras kepada musuhnya. Seseorang yang memiliki sifat ini tidak akan pernah merubah penilaian kepada musuh-musuhnya, sekali musuh tetap musuh tidak berubah menjadi kawan yang baik dan ramah. Ia pasti terus istiqomah dan tidak akan tertipu dengan makar musuh-musuhnya.
Sedangkan Imamn As Sa’di berkata : Keras dan tegas kepada musuh Allah adalah suatu bentuk taqarrub pada Allah Ta’ala, karena seorang hamba membenci apa yang dibenci Allah. Dan ini tidaklah mengurangi makna dari usaha untuk mendakwahi mereka dengan cara yang paling baik. Maka terkumpullah ketegasan dan kelemah lembutan dalam berdakwah pada mereka. Dan semua ini demi sebuah kemanfaatan yang akhirnya juga akan kembali pada mereka.

Ketiga : Senantiasa berjihad di jalan Allah Ta’ala dan tidak takut terhadap celaan orang-orang yang mencela. Abu Basyir berkata tentang ciri thoifah al mansuroh dalam bab jihad, “Engkau lihat dalam jihad, mereka selalu berada di garis terdepan pertahanan kaum muslimin, jika terhenti maka segera mencari barisan yang lain untuk kembali menghidupkan syariat jihad.” Ujian dan fitnah tidak bisa menghentikan mereka, makar dan kekuatan musuh tidak mereka takutkan baik pengusiran, penyiksaan, penjara atau kematian. Mereka terus berjuang setiap berhasil menaklukan satu wilayah segera membuka medan jihad yang lain untuk terus menghidupkan kewajiban jihad di jalan Allah. Selesai.

Hal ini merupakan hasil dari sangat cintanya seseorang kepada dunia, sebagaimana Allah berfirman:
“Wahai oramg-orang yang beriman! Mengapa kalian jika disuruh untuk berangkat perang dijalan Allah kalian merasa berat dan ingin tinggal di tempatmu, apakah kalian lebih senang dengan kehidupan dunia dari pada akhirat? Ketahuilah, sesungguhnya perhiasan dunia jika dibandingkan akhirat sangat kecil sekali” (At Taubah 38).

Sangat berbeda dengan orang-orang munafik. Diantara sifat orang munafik adalah tidak mau berjihad dan mencari berbagai macam alasan untuk tidak berjihad. Karena memang orang munafiq lebih mencintai kehidupan dunianya daripada kehidupan di akhirat.

Ketika perang tabuk Rasulullah berkata kepada seorang munafiq: “Apakah kalian hendak ikut berperang?”. Orang munafiq itu berkata:”Ya Muhammad, jangan engkau fitnah kami, karena di Romawi banyak wanita-wanita cantik”

Sebagian diantara mereka menggembosi semangat kaum muslimin, menghasut untuk tidak berangkat jihad. Mereka berkata : “Janganlah kalian keluar (berjihad) di waktu panas”

Sebagian beralasan: “Sesungguhnya rumah-rumah kami adalah aurat” . Dan berbagai macam cara mereka untuk tidak berang jhad bersama Rasululah. Bahkan ketika ada shahabat yang shahid mereka mencibir dengan mengatakan: “Kalau seandainya mereka bersama kami niscaya dia tdak akan mati”. Itulah diantara sifat kaum munafiqin yang anti terhadap jihad karena cinta dunia dan takut mati.

Sedangkan makna “walaa yakhoofuuna laumata laaim” yaitu tidak takut terhadap celaan orang-orang yang mencela. Maksudnya, mereka lebih mengedepankan ridha Rob mereka dan takut celaan dari-Nya dibandingkan celaan dari makhluq. Ini menunjukkan kekuatan pendirian dan cita-cita mereka. Karena hati yang lemah akan melahirkan cita-cita yang lemah. Dan cita-cita itu akan sirna saat celaan datang dari para pencela. Dan akan menghancurkan mereka saat hujatan datang mendera. Dalam hati mereka ada yang diibadahi selain Allah. Peribadahan itu sebanding atas takutnya celaan dari manusia dibanding celaan dari Allah. Dan hati seseorang tidak akan selamat peribadahan pada selain Allah sampai tidak ada yang ditakuti kecuali celaan Allah. [ Tafsir as Sa’di }

Dalam hal ini Rasulullah sallallahu alaihi wasallam bersabda dalam hadistnya ;

لَا يَحْقِرَنَّ أَحَدُكُمْ نَفْسَهُ أَنْ يَرَى أَمْرًا لِلَّهِ عَلَيْهِ فِيهِ مَقَالًا ثُمَّ لَا يَقُولُهُ فَيَقُولُ اللَّهُ مَا مَنَعَكَ أَنْ تَقُولَ فِيهِ فَيَقُولُ رَبِّ خَشِيتُ النَّاسَ فَيَقُولُ وَأَنَا أَحَقُّ أَنْ يُخْشَى
“Janganlah salah seorang di antara kalian menghinakan dirinya, yaitu jika ia melihat satu perkara yang menjadi hak Allah dan menjadi kewajibannya untuk dibicarakan, kemudian dia tidak membicarakannya. Maka Allah akan bertanya (padanya di hari Kiamat) ‘Apa yang menghalangimu untuk mengatakannya’ Kemudian dia akan menjawab, ‘Rabbku, aku takut kepada manusia’. Maka Allah berkata, ‘Hanya Akulah yang paling berhak engkau takuti’.” [ HR. Imam Ahmad, Ibnu Hibban dan Ibnu Majah yang dishahihkan oleh Al-Albani di dalam shahihul jami’ halaman 1814 ].

Dan ketika Allah Ta’ala memuji para hambanya dengan sifat-sifat yang terpuji tersebut, kemudian Ia menutup dengan firman-Nya “Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya”. Hal ini menjelaskan pada kita bahwa semua ini adalh karunia dari Allah agar kita sebagai hambanya tidak ujub dan sombong. Dan agar kita senantiasa bersyukur dan senantiasa menambah karunia tersebut dengan berbagai ketaatan.

Demikianlah beberapa karakter generasi yang akan Allah menangkan dan kuatkan untuk menguasai bumi. Dan kita jika benar-benar menginkan menjadi generasi tersebut, maka harus berusaha untuk memiliki karakter-karakter di atas. Ingatlah bahwa tinggi dan kuatnya cita-cita sebanding lurus dengan usaha untuk merealisasikannya. Jika cita-cita tinggi, ia akan berussaha memiliki kriteria tersebut. Sebaliknya, jika cita-cita rendah, jauhlah ia dari kriteria tersebut. Tidak ada daya dan kekuatan kecuali milik Allah Ta’ala. [ Amru ].

About these ads

Filed under: Tafsir

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 30 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: