At Taujih

Mengawal Wacana Iqomatuddiin

PENGARUH HARTA YANG HALAL

Harta yang halal hanya didapatkan dengan perasaan qona’ah. Yaitu perasaan cukup dengan pemberian Allah meskipun sedikit. Hal inilah yang menjaganya untuk mencari harta dengan jalan yang diharamkan. Dan tidaklah seorang hamba deberikan sesuatu yang lebih mulia lebih dibandingkan qona’ah. Ialah yang akan menjadikan seorang hamba senantiasa kaya walau berpenghasilan sedikit ataupun banyak. Hatinya selalu ridha dengan pemberian Allah sehingga melahirkan perasaan senang, tenang, mulia dan perasaan-perasaan lain.

Pengaruh harta halal
Harta halal akan melahirkan kebahagiaan dunia dan akhirat. Ia akan merasakan berbagai kenikmatan di dunia berupa ketenangan, kedamaian dan yang lainnya sebelum nantinya menikmati indahnya jannah. Kenikmatan dunia dan akhirat tersebut kita ringkas dengan beberapa diantaranya ;

Pengaruh pertama : Mewariskan Amal Shaleh. Rizki yang halal adalah bekal dan sekaligus pembangkit semangat amal shaleh. Allah Ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوا مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَاعْمَلُوا صَالِحًا إِنِّي بِمَا تَعْمَلُونَ عَلِيمٌ

“Hai rasul-rasul, makanlah dari makanan yang baik-baik, dan kerjakanlah amal yang saleh. Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Qs. al-Mukminun: 51)

Ibnu Katsir menyatakan: “Allah Ta’ala pada ayat ini memerintahkan para rasul ‘alaihimussalaam agar makan makanan halal, dan beramal shaleh. Disandingkannya dua perintah ini mengisyaratkan bahwa makanan halal adalah pembangkit amal shaleh. Dan sungguh mereka benar-benar telah mentaati kedua perintah ini.” (Tafsir Ibnu Katsir 5/477, baca juga: Adwaa’ul Bayan 5/339)

Apakah selama ini kita merasakan malas, dan berat untuk beramal?. Alangkah baiknya bila kita koreksi kembali makanan dan minuman kita. Jangan-jangan ada yang perlu ditinjau ulang.

Abu Sa’id Al Khudri mengisahkan: Pada suatu hari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam naik ke mimbar lalu beliau berkhutbah:

“Sesungguhnya yang paling aku takutkan atas kalian ialah keberkahan bumi yang akan Allah keluarkan untuk kalian.” Sebagian sahabat bertanya: “Apakah keberkahan bumi itu?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Perhiasan kehidupan dunia.” Selanjutnya seorang sahabat kembali bertanya: “Apakah kebaikan (perhiasan dunia) itu dapat mendatangkan kejelekan?”

Mendengar pertanyaan itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadi terdiam, sampai-sampai kami mengira bahwa beliau sedang menerima wahyu. Selanjutnya beliau menyeka peluh dari dahinya, lalu bersabda: “Manakah penanya tadi?”

Sahabat penanyapun menyahut: “Inilah aku.” Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadanya: “Kebaikan itu tidaklah membuahkan/mendatangkan kecuali kebaikan. Sesungguhnya harta benda ini nampak hijau (indah) nan manis (menggiurkan). Sungguh perumpamaannya bagaikan rerumputan yang tumbuh di musim semi. Betapa banyak rerumputan yang tumbuh di musin semi menyebabkan binatang ternak mati kekenyangan hingga perutnya bengkak dan akhirnya mati atau hampir mati. Kecuali binatang yang memakan rumput hijau, ia makan hingga ketika perutnya telah penuh, ia segera menghadap ke arah matahari, lalu memamahnya kembali, kemudian ia berhasil membuang kotorannya dengan mudah dan juga kencing. Untuk selanjutnya kembali makan, demikianlah seterusnya. Dan sesungguhnya harta benda ini terasa manis, barang siapa yang mengambilnya dengan cara yang benar dan membelanjakannya dengan benar pula, maka ia adalah sebaik-baik bekal. Sedangkan barang siapa yang mengumpulkannya dengan cara yang tidak benar, maka ia bagaikan binatang yang makan rerumputan akan tetapi ia tidak pernah merasa kenyang, (hingga akhirnya iapun celaka karenanya).” (Muttafaqun ‘alaih)

Pada riwayat Imam Muslim, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ الْخَيْرَ لاَ يَأْتِى إِلاَّ بِخَيْرٍ أَو خَيْرٌ هُوَ

“Sesungguhnya kebaikan yang sebenarnya tidaklah mendatangkan kecuali kebaikan, apakah harta benda itu benar-benar kebaikan?”

Sedangkan orang yang mengumpulkan harta kekayaan dengan cara yang tidak benar, melebihi keperluannya, dari jalan haram dan ia tidak membelanjakannya di jalan yang diridhai Allah, maka perumpamannya bagaikan orang yang makan akan tetapi tidak pernah merasa kenyang. Akibatnya ia ditimpa penyakit berbahaya dan terjerumus kebinasaan. Bagaikan binatang yang tidak pernah kenyang, atau orang sakit yang senantiasa kehausan, setiap kali ia minum, ia semakin bertambah haus, akibatnya perutnyapun semakin bengkak. Dan kelak pada hari kiamat, harta bendanya itu akan menjadi saksi atas ketamakannya, dan perilakunya yang senantiasa membelanjakan harta benda pada jalan-jalan yang dimurkai Allah. (Fathul Bari 11/246-249 & Syarah Muslim oleh Imam An Nawawi 7/141-144.)

Demikianlah perbandingan antara kehidupan manusia yang menjadikan harta kekayaan sebagai sarana penunjang bagi peribadahannya kepada Allah, dengan mereka yang menjadikan harta kekayaan sebagai pujaannya.

Manfaat Kedua: Menjadi Penyebab Diterimanya Amalan. Rizki halal, bukan hanya menjadi pembangkit semangat untuk beramal shaleh. Rizki halal juga menjadi penentu diteri atau tidaknya amalan kita.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan seorang lelaki yang berpergian jauh, hingga penampilannya menjadi kusut dan lalu ia menengadahkan kedua tangannya ke langit sambil berkata: ‘Ya Rab, Ya Rab,’ sedangkan makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram, dan dahulu ia diberi makan dari makanan yang haram, maka mana mungkin permohonannya dikabulkan.” (Riwayat Muslim)

Ibnu Rajab menjelaskan hadits ini dengan berkata: Pada hadits ini terdapat isyarat bahwa suatu amalan tidak diterima dan tidak berkembang kecuali dengan makanan halal. Dan sesungguhnya memakan makanan haram dapat merusak dan menjadikan amalan tidak diterima. Karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam seusai bersabda: “Sesungguhnya Allah itu baik, sehingga tidaklah akan menerima kecuali yang baik pula.” Beliau melanjutkannya dengan ucapan: “Sesungghnya Allah telah memerintahkan kaum mukminin dengan perintah yang telah Ia tujukan kepada para rasul. Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوا مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَاعْمَلُوا صَالِحًا إِنِّي بِمَا تَعْمَلُونَ عَلِيمٌ

“Hai rasul-rasul, makanlah dari makanan yang baik-baik, dan kerjakanlah amal yang saleh. Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Qs. Al Mukminun: 51)

Dan Allah juga berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ

“Wahai orang-orang yang beriman, makanlah dari rizki-rizki baik yang telah Kami karuniakan kepadamu.” Dengan demikian yang dimaksud dari sabda beliau ini ialah: Bahwa seluruh rasul dan umatnya diperintahkan agar senantiasa memakan makanan yang baik yaitu yang halal, dan juga agar beramal shaleh. Sehingga selama makanannya halal, maka amal shalehnyapun akan diterima. Dan bila makannya tidak halal, maka bagaimana mungkin amalannya dapat diterima?” (Jami’ul ‘Ulum wal Hikam, Syarah hadits ke-10)

Manfaat Ketiga: Pencegah dan Penawar Berbagai Penyakit. Marilah kita amati dan cermati berbagai penyakit yang diderita masyarakat. Berbagai tindakan preventif dan upaya pencegahan dan pengobatan telah ditempuh, akan tetapi penyakit seakan tak kenal gentar. Dari hari ke hari jumlah penderita penyakit terus bertambah, dan jenis penyakitpun juga berlipat ganda, dan silih berganti. Tidakkah keadaan ini menarik perhatian kita?. Tidakkah fenomena pilu ini mengusik perhatian kita, untuk kemudian mencari penyebab dan solusinya?.

Bila kita kembali kepada syari’at, niscaya dengan mudah kita menemukan jawaban dan solusinya. Berbagai penyakit dan wabah yang melanda adalah sebagian dari akibat perbuatan dosa umat manusia yang semakin hari semakin merajalela dan berlipat ganda. Dan diantara kemaksiatan yang telah mendarah daging di masyarakat ialah memakan makanan haram. Hampir-hampir keperdulian masyarakat kita terhadap kehalalan makanannya telah sirna. Kebanyakan dari kita hanya mengejar rasa enak dan nilai ekonomisnya.

Bila kita mulai merasa jenuh dan terusik dengan berbagai penyakit dan mahalnya biaya pengobatan yang sering kali tidak mendatangkan manfaat, maka kembalilah kepada syari’at agama kita. Hendaknya kita bersikap selektif terhadap makanan dan minuman yang kita konsumsi, Dengan demikian kita akan terhidar dari berbagai penyakit dan dapat menanggulangi derita penyakit yang terlanjur menimpa kita.

Pada suatu hari sahabat Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu memberikan petuah kepada kita. Beliau berkata :

“Bila engkau menginginkan kesembuhan dari penyakit, hendaknya ia menuliskan satu ayat dari Al Qur’an pada piring, lalu hendaknya ia membasuh tulisan ayat itu dengan air hujan. Seterusnya hendaknya ia meminta uang satu dirham (sejumlah uang) dari istrinya dengan syarat ia benar-benar rela memberikannya guna membeli madu, lalu minumlah, karena itu (campuran air basuhan dan madu yang dibeli dengan uang itu) adalah obat yang manjur.” (Riwayat Ibnu Abi Hatim dalam kitab tafsirnya, dan sanadnya oleh Ibnu Hajar dinyatakan hasan Fathul Bari 10/170)

Kebanyakan wabah penyakit, petaka, dan bencana yang menimpa umat manusia zaman sekarang ini, adalah akibat dari harta haram dan ambisi manusia mengeruk harta kekayaan dengan segala cara. Banyak dari pengusaha, badan usaha, bahkan pemerintahan yang tidak mempedulikan halal-haram dalam usaha-usahanya. Apapun barangnya asalkan mendatangkan keuntungan maka akan mereka perniagaan. Dengan cara apapun, asalkan menguntungkan dirinya, maka ia pasti menempuhnya. Bila tidak bisa mengambilnya dengan tangan sendiri, maka ia akan menyewa tangan orang lain guna mengambilnya.

Demikianlah pengaruh harta yang halal bagi muslim. Tentu seseorang yang ingin mendapatkan harta yang halal melakukan dua hal. Pertama; belajar tentang yang halal dan haram. Jika ia tidak mengetahui hendaklah mencari guru untuk belajar kepadanya. Kedua; setelah mengetahui, ia wajib untuk menghindari jalan-jalan yang haram dalam mencari rizki. Semoga kita senantiasa di dibimbing Allah Ta’ala dalam mendapatkan harta yang halal, dan memberkahi keluarga kita dengan harta tersebut. [ Amru ]

About these ads

Filed under: makalah

2 Responses

  1. himmah aliyah mengatakan:

    ustadz, orang tua saya dua-dua nya PNS. bagaimana gaji seorang pns? apakah termasuk syubhat? beberapa waktu yg lalu saya pernah mendengar pembahasan serupa, agar kita berhati-hati dengan sesuatu yang masuk ke dalam perut kita, hati-hati dengan yang syubhat apalagi yang haram. setelah mendengar pembahasan ttg itu, saya jadi bermuhasabah diri, jangan-jangan beberapa hal yang terjadi pada diri saya itu karena pengaruh dari sesuatu yang saya makan yang sumber dananya dari gaji kedua orang tua saya. bagaimana seharusnya sikap saya sementara hidup saya masih dibiayai sepenuhnya oleh orang tua. mohon penjelasannya, jazakumulloh khoiron…

    • admind mengatakan:

      hasil gaji pegawai negeri dirinci menjadi dua:

      pertama : Apabila pekerjaan tersebut tidak ada kaitannya dengan perkara-perkara haram, maka hukumnya boleh.sekalipun sumber dana pemerintah yang digunakan sebagai gaji tersebut bercampur antara halal dengan haram, selagi dia tidak mengetahui bahwa uang gaji yang dia terima jelas-jelas haram.

      secara pekerjaan selama pekerjaannya dalah halal, maka hasilnya juga halal. seperti para guru dan juga pegawai medis. karena mereka bekerja dan mendapatkan upah dari pekerjaan mereka. dan menerima pemberian orang kafirpun juga halal. yang jadi masalah itu adalah sumpah mereka untuk setia pada undang-undang yang ada. hal ini seperti nabi musa yang hidup pada asuhan fir’aun yang diberi makan oleh fir’aun.

      kedua : Apabila pekerjaan tersebut berhubungan dengan perkara-perkara haram seperti pajak, pariwisata haram, bank ribawi dan sejenisnya, maka hukum kerjanya juga haram, hasilnyapun juga haram karena itu termasuk tolong-menolong dalam kejelekan yang jelas diharamkan dalam Islam.

      وَتَعَاوَنُوْا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلاَ تَعَاوَنُوْا عَلَى الإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ وَاتَّقُوْا اللهَ إِنَّ اللهَ شَدِيْدُ الْعِقَابِ

      Dan tolong menolonglah dalam kebaikan dan taqwa, dan jangan tolong menolong dalam dosa dan pelanggaran. Dan bertaqawalah kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksaNya . (QS. Al-Maidah: 2)

      عَنْ جَابِرٍ قَالَ : لَعَنَ رَسُوْلُ اللهِ آكِلَ الرِّبَا وَمُوْكِلَهُ وَكَاتِبَهُ وَشَاهِدَيْهِ وَقَالَ : هُمْ سَوَاءٌ

      Dari Jabir berkata: Rasulullah melaknat pemakan riba, pemberinya, sekretarisnya dan dua saksinya. Dan beliau bersabda: Semuanya sama. (HR. Muslim: 1598)

      ada pembahasan yang bagus tentang hal ini. http://millahibrahim.wordpress.com/2007/11/02/status-bekerja-di-dinas-pemerintahan-thaghut/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 30 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: