At Taujih

Mengawal Wacana Iqomatuddiin

Panduan Program Kegiatan di Bulan Ramadhan (Rekomendasi DR. Raghib As-Sirjani)

Dengan menyebut nama Allah dan segala puji atas-Nya. Shalawat serta salam semoga terlimpahkan atas Rasulullah saw. Amma ba’du.

Bulan Ramadhan telah tiba dan kesempatan untuk berlomba-lomba dalam kebaikan pun terbuka lebar. Karenanya, supaya tidak ada sedikitpun kebaikan yang terlewatkan maka kita harus memiliki program.

Nasihat Umum:

1. Program ini dapat Anda modifikasi sesuai dengan keadaan dan kondisi Anda masing-masing.

2. Bila ada salah satu program penting yang terlewatkan, usahakan untuk menggantinya pada tahapan lainnya.

3. Ketika waktu-waktu kosong, seperti ketika menunggu shalat (antara adzan dan iqomat) maka gunakan untuk hal-hal yang bermanfaat seperti baca Al-Qur’an dan dzikir.

4. Ajak sauadara-saudara Anda, teman-teman dan keluarga Anda dalam menjalankan program ini untuk memberikan motivasi dan menghindari futur (bosan).
Baca entri selengkapnya »

Filed under: makalah, Nasehat tuk penuntut ilmu

Hati-hatilah dari Pemikiran Murji’ah Gaya Baru

Telah muncul pada akhir masa sahabat orang yang menganggap bahwa iman yang dapat menyelamatkan pelakunya dari neraka adalah syahadat yang hanya diucapkan dengan lesan dan diikrarkan dalam hati. Walaupun ia belum pernah beramal shalih entah shalat, zakat, haji, berbakti pada orang tua, dan belum pernah melaksanakan berbagai perintah diin, dan ia mengira tidak membatalkan imannya dan tidak mengeluarkan dari millah islam.

Demikian pula jika ia berbuat kemungkaran dan melakukan seluruh dosa-dosa besar, bahkan sujud kepada selain Allah, berdo’a kepada selain-Nya, menghalalkan yang diharamkan Allah, menharamkan yang dihalalkan Allah, dan berhukum atas segala urusan dengan hukum selain islam, bahkan walaupun mencela Allah dan rasul-Nya serta diin. Mereka menganggap bahwa itu adalah amalan dhohir sedangkan hatinya masih beriman – menurut anggapan mereka – dan tidak mengeluarkan mereka dari keislaman.

Mereka mengira bahwa orang yang semasa hidupnya belum pernah sujud sama sekali, belum melakukan perintah Allah satupun, dan melakukan berbagai amalan-amalan kekafiran telah mendapat rahmat Allah di akhirat. Dan mereka mendapatkan syafa’at di akhirat. Mereka menganggap jika mendapat adzab di akhirat maka akan diringankan dengan syafa’at dan syahadat dia dengan lesan dan hatinya saat di dunia.
ketika muncul pemikiran yang berbahaya ini, tampillah para tabi’in dan ulama’ ahlussunnah menyeru untuk menjauhi pemikiran tersebut disetiap tempat. Mereka serukan ummat untuk menjauhi pemikiran yang hina dan telah merusak pondasi-pondasi islam ini. merekapun menamai fitnah ini dengan fitnah irja’.
Baca entri selengkapnya »

Filed under: dirosatul firoq, makalah, Manhaj, Nasehat tuk penuntut ilmu

SIFAT SEORANG PENUNTUT ILMU

Rajinnya para penuntut ilmu untuk mendatangi majlis-majlis ilmu dan kajian keislaman adalah sebuah kemestian. Bahkan melahap kitab-kitab para ulama’ dan mengkajinya lewat bimbingan para ustadz juga harus dilakukan. Semua itu adalah sebuah cara untuk mendapatkan ilmu dan menata hati kita agar senantiasa dekat dengan Allah Ta’ala.

Disamping itu, kita juga harus memahami hal-hal yang menjadikan ilmu kita menjadi barakah. Karena keberkahan adalah sesuatu yang amat penting dalam menuntut ilmu. Betapa banyak kita saksikan seseorang yang rajin menuntut ilmu, akan tetapi tidak ada pengaruh dan peningkatan sedikitpun terhadap ibadah dan amalannya. Bisa jadi dalam satu pekan ia mengahadiri 3 atau bahkan 4 majlis.tetapi majlis tersebut hanya sebagai hiburan hati dari kesempitan dan kerupekan hidup yang sedang ia jalani. Rasulullah sallallahu alaihi wasallam bersabda :

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ ، قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : أَشَدُّ النَّاسِ عَذَابًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَالِمٌ لَمْ يَنْفَعْهُ عِلْمُهُ
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata, bersabda Rasulullah sallallahu alaihi wasallam : Manusia yang paling berat adzabnya pada hari kiamat adalah seorang ‘alim yang tidak bermanfaat bagi orang tersebut ilmunya. [ Mu’jamus shaghir At Tabrani ].

Inilah ancaman dari Rasulullah sallallahu alaihi wasallam kepada orang yang ilmunya tidak berkah. Tidak menambah kebaikan pada aqidahnya, ibadahnya, akhlaq dan tingkah lakunya. Karena memang seharusnya ilmu agama itu akan membentuk pemikiran, hati dan anggota badanya. Jika hal tersebut tidak dia dapatkan, pasti karena ketidak berkahan seseorang dalam mendapatkan ilmu.
Baca entri selengkapnya »

Filed under: Nasehat tuk penuntut ilmu

HAL-HAL YANG HARUS DIJAUHI OLEH PENCARI ILMU [2]

3. Mendengarkan ahlul bid’ah dan belajar dengannya. Diantara yang harus dihindari ahlul ‘ilmi adalah duduk bersama ahlul ahwa’ dan bid’ah. Dan diam di hadapan mereka, dan belajar pada mereka terutama bagi orang-orang yang masih awalan dalam mencari ilmu. Semua itu ditakutkan akan terpengaruh dengan mereka atau sedikit-sedikit akan terpengaruh dengan akhlaq dan subhat-subhat mereka tanpa ia sadari.
Rasulullah sallallahu alaihi wasallam bersabda :

“Sesungguhnya perumpamaan teman yang shalih dengan teman yang buruk adalah seperti penjual minyak wangi dan pandai besi. Seorang penjual minyak wangi bisa memberimu atau kamu membeli darinya, atau kamu bisa mendapatkan wanginya. Dan seorang pandai besi bisa membuat pakaianmu terbakar, atau kamu mendapat baunya yang tidak sedap.” (Hadits Shahih, diriwayatkan oleh Bukhari (No. 5534), Muslim (No. 2638) dan Ahmad (No.19163)
Dan beliau bersabda :

Diantara tanda hari kiamat disandarkan ilmu pada orang kecil.
Dan yang dimaksud kecil adalah ahlul bid’ah dan ahwa’ walaupun umur mereka mencapai seratusan tahun.
Berkata Abu shalih Mahbub bin Musa : Aku bertanya pada Ibnul Mubarak siapakah orang-orang kecil itu ?. beliau berkata : Ahlul bid’ah.

Dari Syu’aib bin Harb berkata : Aku mendengar At Tsauri berkata : Barang siapa yang mendengar dari ahlul bid’ah Allah tidak memberikan manfaat dengan apa yang ia dengar. Dan barang siapa menyalaminya maka telah lepas islam ikatan demi ikatan.

Aku katakan [ abu basyir ] : Bagaimana dengan orang yang menyalami para taghut kafir dan fajir, duduk dengan mereka, membela mereka …. Tidak diragukan lagi bahwasanya ia lebih pantas sebagai mana yang disebutkan At Tsauri rahimahullahu.

Demikian pula Imam Malik bin Anas berkata : Janganlah kalian ambil ilmu dari 4 golongan dan ambillah dengan yang selain itu. Janganlah kalian ambil ilmu dari orang bodoh yang dikenal kebodohannya walaupun banyak orang yang meriwayatkannya. Janganlah diambil dari pendusta yang berdusta dalam pembicaraan sesama manusia jika ia tertuduh dengan hal tersebut walaupun ia tidak tertuduh berdusta atas nama rasulullah. Dan janganlah diambil ilmu dari pengikut hawa nafsu yang mengajak manusia terhadap nafsu dan juga seorang syaikh yang memiliki keutamaan dan hali ibadah jika tidak mengetahui apa yang dikatakan.
Baca entri selengkapnya »

Filed under: makalah, Nasehat tuk penuntut ilmu

HAL-HAL YANG HARUS DIJAUHI OLEH PENCARI ILMU [1]

Diambil dari sebagian kitab :
Mudzakarotu fi tholabil ‘ilmi
Pengarang : Abu Basyir At Turthusi
Penterjemah : Amru

Ketahuilah wahai pencari ilmu, sesungguhnya engkau pada hari ini hidup pada tataran pencari ilmu, dan besuk bisa jadi Allah akan memberikan padamu kehidupan yang kalian harus bersungguh-sungguh menyampaikan.
Hari ini kalian membutuhkan orang lain, dan jangan lupa bahwa suatu saat nanti kalian akan dibutuhkan manusia. Dan ketahuilah bahwa dalam mencari ilmu kalaian akan menhadapi berbagai rintangan dan jurang. Kadang-kadang sebagian jurang tersebut akan membuat kalian terbunuh jika kalian tidak hati-hati dalam mensikapinya ….. !
Diantara jurang-jurang yang mungkin akan kalian jumpai adalah :

1. Menyembunyikan ilmu pada saat dibutuhkan … entah karena benci atau suka : dan inilah akhlaq jelek yang selalu menempel pada pemempin dan ulama’ ahli kitab.. Allah Ta’ala telah mengancam pelakunya dengan laknat dan adzab yang pedih. Lebih khusus lagi pada saat manusia sangat membutuhkannya, bersamaan dengan hilangnya para penyeru tentang ilmu ini sehingga kebutuhan terhadapnya amat sangat penting. Maka penjelasan saat itu amat sangat diperlukan. Allah Ta’ala berfirman :

إِنَّ الَّذِينَ يَكْتُمُونَ مَا أَنزَلْنَا مِنَ الْبَيِّنَاتِ وَالْهُدَى مِن بَعْدِ مَا بَيَّنَّاهُ لِلنَّاسِ فِي الْكِتَابِ أُولَـئِكَ يَلعَنُهُمُ اللّهُ وَيَلْعَنُهُمُ اللَّاعِنُونَ
Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan-keterangan (yang jelas) dan petunjuk, setelah Kami menerangkannya kepada manusia dalam Al Kitab, mereka itu dila’nati Allah dan dila’nati (pula) oleh semua (mahluk) yang dapat mela’nati, [ al baqarah : 159 ].
Dan berfriman Allah Ta’ala :

إِنَّ الَّذِينَ يَكْتُمُونَ مَا أَنزَلَ اللّهُ مِنَ الْكِتَابِ وَيَشْتَرُونَ بِهِ ثَمَناً قَلِيلاً أُولَـئِكَ مَا يَأْكُلُونَ فِي بُطُونِهِمْ إِلاَّ النَّارَ وَلاَ يُكَلِّمُهُمُ اللّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَلاَ يُزَكِّيهِمْ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ
Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah diturunkan Allah, yaitu Al Kitab dan menjualnya dengan harga yang sedikit (murah), mereka itu sebenarnya tidak memakan (tidak menelan) ke dalam perutnya melainkan api , dan Allah tidak akan berbicara kepada mereka pada hari kiamat dan tidak mensucikan mereka dan bagi mereka siksa yang amat pedih. [ al baqarah : 174 ]

Dan inilah ancaman yang keras terhadap orang-orang yang menyembunyikan al haq takut akan gaji mereka dan kenikmatan dunia mereka yang akan diancamkan kepada mereka oleh para taghut.
Baca entri selengkapnya »

Filed under: makalah, Nasehat tuk penuntut ilmu

ADAB SEORANG MURID

diterjemahkan dari buku Adabul ‘alim wal Muta’allim karya Imam Nawawi bab Adab-adab seorang pelajar / murid
Penterjemah : Amru

Maka adab seorang murid terhadap dirinya dan pelajarannya seperti adab seorang guru : dan kami telah jelaskan hal tersebut :

1. Hendaknya ia selalu membersihkan hatinya dari berbagai kotoran agar baik dalam menerima ilmu dan penjagaannya serta buah dari ilmu tersebut. Dan dalam shahihain dari Rasulullah sallahu alaihiwasallam : sesungguhnya dalam badan ada segumpal daging, jika baik daging tersebut maka baiklah seluruh badannya, dan jika rusak rusaklah seluruh badannya, ketahuilah ia adalah hati”. Dan mereka berkata : membersihkan hati agar bisa menerima ilmu seperti membersihkan bumi untuk ditanami.

2. Dan Hendaknya memutus hubungan yang menyibukkan dari kesempurnaan dalam mendapatkan ilmu, dan ridho dengan sedikit dari makanan serta bersabar dari kesempitan hidup.

Berkata Asy Syafi’I rahimahullah : Tidaklah seseorang mencari ilmu ini [ ilmu diin ] dengan kekayaan dan kemuliaan jiwa dan mendapatkan keberuntungan. Akan tetapi barang siapa mencarinya dengan kehinaan diri dan kesempitan hidup dan berhidmat terhadap ‘ulama ia akan mendapat keberhasilan. Dan berkata juga : tidaklah ilmu didapatkan kecuali dengan kesabaran dan kehinaan. Dan beliau juga berkata : tidaklah pencari ilmu itu akan berhasil kecuali dengan kebangrutan, dan dikatakan : dan tidak pula kekayaan serta kecukupan.
Dan berkata Malik bin Anas rahimahullah : Tidaklah seseorang mendapatkan ilmu din ini dengan apa yang ia inginkan sampai ia tertimpa kefakiran dan akan mempengaruhi kefakiran tersebut pada segala sesuatu.
Dan berkata Imam abu hanifah rahimahullah : Kefakiran akan menolong segala cita-cita. Dan memutus segala ikatan [ duniawi ] dengan mengambil sedikit tanpa menambah juga akan menolongnya.

Dan berkata Ibrahim al Ajurri : Barangsiapa mencari ilmu dengan kefakiran akan diberikan kefahaman.
Dan berkata Khotib al baghdadi dalam kitabnya al jaami’u liaadabil ar roowi was saami’ : Disunnahkan bagi pencari ilmu untuk membujang jika itu memngkinkannya supaya tidak ia putus kesibukannya dengan hak-hak istri dan konsentrasi dengan mencari ma’isyah sehingga memalingkan dia dari kesempurnaan dala mencari ilmu. Dan berhujjah dengan hadist : sebaik-baik kalian setelah sedikitnya harta adalah seorang yang tidak memiliki keluarga dan anak.

Dari Ibrahim bin ‘Adham rahimahullah : Barang siapa terbiasa di paha wanita tidaklah beruntung, yaitu tersibukkan dengannya. Dan ini terjadi pada kebanyakan manusia termasuk orang-orang yang khusus.
Dan dari Sufyan At Tsauri : Jika seorang faqih menikah maka ia telah mengarungi lautan, maka jika telah memiliki anak pecahlah kapal tersebut.

Dan berkata Sufyan terhadap seseorang : Apakah engkau telah menikah ?. kemudian ia berkata : belum. Tidaklah engkau tahu bahwa engkau dalam ampunan / kebaikan.

Dan dari Bisyr Al Hafi rahimahullah : barang siapa yang tidak membutuhkan wanita [ nikah ] hendaklah ia bertaqwa pada Allah, dan janganlah engkau terikat dengan kesibukan terhadapnya.

[ aku katakan ] pendapat semua ini sama dengan madzhab kami, bahwa madzhab kami berpendapat siapa saja yang belum begitu butuh menikah disunnahkan baginya mengakhirkannya, demikian pula jika ia sudah berkehendak menikah akan tetapi lemah untuk memikul beban pernikahan. Dan di dalam shahihaini dari Usamah bin Zaid semoga Allah meridhoi keduanya dari nabi sallallahu ‘alaihi wasallam berkata : Tidaklah aku tinggalkan setelahku satu fitnah yang lebih bahaya atas laki-laki dari seorang wanita. Dan dalam shshih Muslim Dari Abu Sa’id Al-Khudri ra,dia berkata bahawa Rasulullah saw bersabda,”Sesungguhnya dunia ini manis dan mempersona,sedangkan Allah menugaskan kamu di dalam nya,maka Dia hendak melihat bagaimana kamu berbuat. Kerana itu takutlah terhadap (fitnah/godaan) dunia dan takutlah terhadap (fitnah) wanita” (HR Muslim)
Baca entri selengkapnya »

Filed under: makalah, Nasehat tuk penuntut ilmu

Download Audio: “Nasehat Salaf u/ Salafi – Ustadz Farid Okbah & Ustadz Ahmad Rofi’i”

Acara: Bedah Buku “Nasehat Salaf untuk Salafi”;

Tempat: Masjid Al-Azhar, Bekasi; Waktu: Kamis, 13 Mei 2010, Pukul 08.30 WIB sampai Dzhuhur.

Para Pembicara: (1) Pembicara Pertama: Ustadz Farid Ahmad Okbah, MA, (2) Pembicara Kedua: Ust. Ahmad Rofi’i, Lc.

1. Pembukaan oleh Moderator: Ust. Ust. Dedy

Download File

2. Pembicara Pertama: Ustadz Farid Ahmad Okbah, MA

Download File

3. Pembicara Kedua: Ust. Ahmad Rofi’i, Lc

Download File

Sumber: http://alislamu.com

Filed under: Audio ceramah, dirosatul firoq, Nasehat tuk penuntut ilmu

MACAM-MACAM ILMU FARDLU ‘AIN

Judul Asli :

Aqsaamul Ilmi
Alladzi Huwa Fardhu ‘Ain

Penulis :

Syaikh Abqul Qodir bin Abdul Aziiz

Edisi Indonesia :

Macam-macam Ilmu Fardhu ‘Ain

Alih Bahasa :

Abu Musa Ath Thoyyar

Publikasi :

Maktab Al Jaami’

© All Right Reserved
Silahkan memperbanyak tanpa merubah isi, pergunakanlah untuk kepentingan kaum Muslimin

“Demi Kembalinya seluruh Dien hanya milik Allah Ta’ala”

MACAM-MACAM
ILMU FARDLU ‘AIN

Ilmu yang wajib dipelajari, ditinjau dari kadar kebutuhan yang berupa perkataan dan perbuatan dibagi menjadi 2 pokok:
1. Ilmu yang sejak awal wajib dipelajari oleh setiap muslim supaya dia bisa melaksanakan kewajiban-kewajiban yang terus berulang-ulang, dan supaya dia bisa melaksanakan muamalat yang sering dibutuhkan. Ilmu yang semacam ini mencakup 2 bagian:
A. Bagian yang umum yang wajib bagi seluruh mukallafiin (orang-orang yang terkena kewajiban/orang berakal yang telah baligh) untuk mempelajarinya dimanapun dan kapanpun. Dan yang ini akan kami sebut sebagai “Ilmu Fardlu ‘Ain Yang Bersifat Umum”.
B. Bagian yang khusus, yang wajib dipelajari oleh sebagian mukallafiin dan tidak wajib dipelajari bagi sebagian yang lainnya. Dalam hal ini kadarnya satu sama yang lain berbeda sesuai kewajiban yang diemban masing-masing dan yang ini akan kami sebut sebagai “Ilmu Fardlu ‘Ain Yang Bersifat Khusus”.
2. Ilmu yang tidak wajib untuk dipelajari oleh orang muslim kecuali ketika terjadi sesuatu atau hampir terjadi sesuatu, yang biasanya kejadian itu tidak berulang-ulang, dan permasalahan ini dinamakan dengan “An nawaazil” (kejadian yang bersifat temporer). Bagian ini akan kami sebut sebagai: “Ilmu Tentang Ahkaamun Nawaazil (permasalahan-permasalahan yang bersifat temporer)”. Bagian ini juga berbeda-beda kadarnya antara seseorang dengan yang lainnya sesuai dengan kejadian yang menimpa dirinya.
Dari sini dapat disimpulkan bahwa ilmu yang fardlu ‘ain itu ada 3 bagian:
 Ilmu Fardlu ‘ain yang bersifat umum
 Ilmu Fardlu ‘ain yang bersifat khusus dan
 Ilmu tentang Ahkaamun Nawaazil.
Dan masalah ini telah kami singgung dalam pasal 1 pada bab ini. Dan kami akan sebutkan berikut ini ciri-cirinya masing-masing secara ringkas insya Alloh.

Baca entri selengkapnya »

Filed under: Nasehat tuk penuntut ilmu

URGENSI JIHAD DALAM PENEGAKAN SYARI’AT

Segala puj bagi Allah Ta’ala, Dzat yang Maha Kuasa dan Perkasa yang telah menjadikan kekuatan sebagai penopang tegaknya Dien ini, yang telah menjadikan besi sebagai inti kekuatan, yang menyimpan kekuatan luar biasa, sebagai pendamping Al Qur’an selaku hujjah bagi kaum muslimin.

Sholawat serta salam untuk Rosul tauladan, Muhammad shollallaahu ‘alaihi wasallam, seorang pemimpin mujahidin, yang telah menegakkan Dien ini dengan dakwah dan jihad, dengan Al Qur’an dan Al Hadid. Al Qur’an di tangan kanan dan Al Hadid di tangan kiri. Seorang motifator yang bersabda : “Saya diutus menjelang hari kiamat dengan pedang, sehingga Allah Ta’ala dijadikan satu-satunya yang diibadahi, tidak ada sekutu bagi-Nya, dijadikan rizkiku dibawah bayanggan tombakku, dijadikan kecil dan hina orang yang menyelisi urusanku, barangsiapa yang menyerupai suatu kaum maka dia itu adalah termasuk golongan kaum itu” [ Shohih Bukhori ]

kilasan sejarah

Kalau kita melihat perjalanan perjuangan penegakan Dien pada zaman salaful ummah, yakni pada masa Rosulullah shollallahu ‘alaihi wasallam beserta para shabatnya, maka kita akan mendapatkan kesimpulan bahwasanya tegaknya Dien ini dipenuhi dengan lumuran darah dan pengorbanan jiwa dan raga dalam medan jihad. Sehingga rosulullah bersabda : :”Sesungguhnya siyahah ummatku adalah Jihad fie sabilillah” [ Sunan Ibnu Majah. Bab Jihad : 383. (No. Hadits : 2486) ]

Dengan jihadlah kemuliaan ummat ini terangkat, dengan jihadlah kehidupan kaum muslimin akan terbangaun, dengan jihad exsistensi kaum muslimin terwujud dan dengan jihadlah Dien ini tertegak.

Sejarah futuh makkahpun diwarnai dengan suasana jihad, karena keberangkatan rosulullah dari madinah telah menyiapkan pasukan perang yang lengkap dengan membuat setrategi penyergapan dari empat arah. Sehingga dengan ini kaum kafir quraisy takut dan menyerahkan diri.

Begitu juga perjalanan kekholifahan para shabat beliau. Abu bakar orang yang menumpas gerakan penentang zakat dengan jalan jihad. Umar bin Khottob dalam rangka pengembangan kekuasaan daerah Islam pun dengan jihad. Sehingga tidak ada satu celah perjalanan penegakan syari’at pada zaman itu dengan selain jihad, baik dengan Demokrasi ataupun dengan melalui parlementer dan institusi. Dengan jalan ini (jihad) tegaklah kalimat Allah dan tersebarlah syi’ar-syi’ar Islam di penjuru bumi.

Namun sejak runtuhnya kekholifahan Turki Utsmani pada tahun 1924 M, kondisi kaum muslimin kocar-kacir dan berpecah-belah, seperti kapal pecah yang kehilangan nahkoda. Kesatuan kaum muslimin tercerai berai, kekuatan kaum muslimin porak poranda, sehingga yang kita lihat sekarang adalah perpecahan dan kelemahan. Kewibawaan dan kemuliaan yang dulu menjadi kharisma seorang mukmin, kini pudar dan berubah menjadi kehinaan dan kerendahan. Kekuatan kaum muslimin sudah tidak diperhitungkan lagi oleh musuh, dan exsistensi kaum muslimin sudah tidak diakui di atas percaturan politik di dunia ini.

Dalam kelemahan dan kebingungan ini, kaum muslimin mencoba mencari format langkah perjuangan untuk menegakkan kembali menara kebesaran yang dulu pernah menjulang tinggi ke angkasa. Ada dari mereka yang hanya dengan dakwahnya saja tanpa mempersiapkan kekuatan untuk jihad, ada yang bergerak dengan cara mengikuti arus demokrasi. Dan masih banyak lagi format lain yang dijadikan langkah perjuangan untuk menegakkan Dien ini. Adapaun hasil yang kita lihat adalah kegagalan dan kekalahan.

Melihat kegagalan dan kekalahan ini, disini saya mencoba untuk menampilkan makalah ilmiyah tentang “Urgensi Jihad Dalam Penegakan Syari’at”. Semoga dengan makalah ini dapat menjadi solusi dan membentuk wacana baru kita, serta sebagai perbandingan dari konsep-konsep yang ada, baik itu konsep Demokrasi, parlementer atau yang lainnya. Saya buat makalah ini sebagai kepedulian dan sumbang sih saya terhadap tegaknya Dien (syari’at) di muka bumi ini. Amin
Baca entri selengkapnya »

Filed under: Manhaj, Nasehat tuk penuntut ilmu, Uncategorized

Mencari Sosok Ulama Panutan

By : Anshar Al-Muslimin Publisher

Kaedah-Kaedah Umum Mengenali Sosok Ulama Panutan

[1]- Standar kebenaran adalah Al-Qur’an, Al-Sunah dan ijma’ ulama. Al-Qur’an dan Al-Sunah dipahami dan diamalkan sesuai pemahaman dan pengamalan para al-salaf al-shalih (generasi shahabat, tabi’in, tabi’u tabi’in) dan para ulama tsiqah yang mengikuti jejak mereka. Barang siapa berpegangan kepada ketiga sumber ajaran Islam ini, ia adalah seorang ahlu sunah wal jama’ah.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ قَالَ (تَرَكْتُ فِيْكُمْ شَيْئَيْنِ لَنْ تَضِلُّوا بَعْدَهُمَا كِتَابَ اللهِ وَسُنَّتِي وَلَنْ يَتَفَرَّقَا حَتىَّ يَرِدَا عَلَيَّ الْحَوْضَ).
Dari Abu Hurairah bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda,” Telah kutinggalkan di antara kalian dua hal. Kalian tidak akan pernah tersesat sesudah keduanya, yaitu kitabullah dan sunahku. Keduanya tak akan pernah berpisah sampai datang kepadaku di haudh nanti.”[1]

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata :

فَمَنْ قَالَ بِالْكِتَابِ وَ السُّنَّةِ وَ ْالإِجْمَاعِ فَهُوَ مِنْ أَهْلِ السُّنَّةِ وَ اْلجَمَاعَةِ
” Barang siapa berpendapat berdasar Al-Qur’an, Al-Sunah dan ijma’, ia adalah seorang ahlu sunah wal jama’ah.”[2]

Beliau juga mengatakan :

فَدِيْنُ اْلمُسْلِمِيْنَ مَبْنِيٌّ عَلَى اِتِّبَاعِ كِتَابِ اللهِ وَ سُنَّةِ نَبِيِّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَمَا اتَّفَقَتْ عَلَيْهِ اْلأُمَّةُ. فَهَذِهِ الثَّلاَثَةُ أُصُوْلٌ مَعْصُوْمَةٌ . وَمَا تَنَازَعَتْ فِيْهِ اْلأُمَّةُ رُدَّ بِهِ إِلَى اللهِ وَالرَّسُولِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.
” Dien (agama) umat Islam dibangun di atas dasar mengikuti (iitiba’) Kitabullah, Sunah Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa salam dan apa yang disepakati oleh ummat (ijma’ ulama mujtahidin). Ketiga hal ini adalah dasar-dasar yang ma’shum (terjaga dan bebas dari kesalahan). Adapun persoalan yang diperselisihkan oleh umat, harus dikembalikan kepada Allah dan Rasul Shallallahu ‘alaihi wa salam.”[3]

[2]- Tiada yang terjaga dan terbebas dari kesalahan dan dosa besar (ma’shum) selain para Nabi ‘alaihim sholatu wa salam. Setiap ulama -–termasuk para ulama sahabat radiyallahu ‘anhum— seberapapun tinggi kapasitas keilmuannya, bisa salah dan bisa benar. Pendapat, fatwa dan tindakan mereka bisa benar dan salah. Oleh karenanya, harus dikaji dan ditimbang berdasar Al-Qur’an, Al-Sunah dan ijma’. Apabila sesuai dengan ketiganya, berarti pendapatnya benar dan harus diterima, siapapun ulama Islam tersebut. Apabila menyelisihi ketiganya, berarti pendapatnya salah dan harus ditolak, siapapun ulama tersebut.
Sebagai konskuensinya, seorang muslim tidak boleh taklid buta kepada seorang ulama dengan menerima semua pendapat, fatwa dan tindakannya tanpa menghiraukan kebenaran dan kesalahannya, kesesuaian dan penyelisihannya terhadap Al-Qur’an, Al-Sunnah dan ijma’ ulama. Para ulama sejak generasi sahabat, tabi’in, tabi’u tabi’in sampai para ulama madzhab (Abu Hanifah, Malik, Syafi’i, Ahmad, Al-Auza’i, Laits bin Sa’ad, Thabari, Daud Al-Dzahiri dan lain-lain) telah melarang umat Islam untuk taklid buta. Mereka memerintahkan umat Islam untuk menimbang pendapat mereka dengan Al-Qur’an, Al-Sunah dan ijma’. Bila bertentangan dengan ketiga dasar tersebut, pendapat mereka harus ditinggalkan.

عَنْ عَائِشَةَ رَضِي اللَّه عَنْهَا قَالَتْ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ فِيهِ فَهُوَ رَدٌّ.
‘Aisyah radiyallahu ‘anha berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda : ” Siapa yang mengada-adakan hal yang baru dalam urusan kita (dien) ini, tanpa ada dasarnya dari dien, maka ia tertolak.”[4]

عَنْ الْعِرْبَاضِ بْنِ سَارِيَةَ يَقُولُ وَعَظَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَوْعِظَةً ذَرَفَتْ مِنْهَا الْعُيُونُ وَوَجِلَتْ مِنْهَا الْقُلُوبُ فَقُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ هَذِهِ لَمَوْعِظَةُ مُوَدِّعٍ فَمَاذَا تَعْهَدُ إِلَيْنَا قَالَ قَدْ تَرَكْتُكُمْ عَلَى الْبَيْضَاءِ لَيْلُهَا كَنَهَارِهَا لَا يَزِيغُ عَنْهَا بَعْدِي إِلَّا هَالِكٌ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ فَسَيَرَى اخْتِلَافًا كَثِيرًا فَعَلَيْكُمْ بِمَا عَرَفْتُمْ مِنْ سُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ الْمَهْدِيِّينَ عَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ*
‘Irbadh bin Sariyah radiyallahu ‘anhu berkata : Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salam memberi wejangan yang membuat air mata kami menetes dan hati kami bergetar. Kami berkata,” Ya Rasulullah ! Nampaknya, nasehat anda ini adalah wejangan orang yang akan berpisah. Apa yang anda pesankan kepada kami ?“
Beliau bersabda,” Aku telah meninggalkan kalian diatas jalan yang terang. Malamnya sama dengan siangnya. Tak ada seorangpun yang menyeleweng dari jalanku kecuali ia akan binasa (tersesat). Barang siapa di antara kalian dikarunia usia lebih panjang, ia akan melihat banyak perselisihan. Maka hendaklah kalian senantiasa komitmen dengan sunahku dan sunah al-khulafa’ al-rasyidin al-mahdiyin. Gigitlah dengan gigi geraham kalian !”.[5]

Shahabat Ibnu Abbas radiyallahu ‘anhuma berkata,” Hampir-hampir turun hujan batu dari langit atas kalian. Saya katakan “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda demikian”, tetapi kalian justru mengatakan “Abu Bakar berkata demikian.”

Demikianlah, perkataan sahabat Abu Bakar radiyallahu ‘anhu sekalipun tidak boleh digunakan untuk melawan Al-Qur’an dan Al-Sunah. Ketika khalifah Al-Manshur Al-’Abbasi menawarkan ide mewajibkan buku hadits Al-Muwatha’ kepada seluruh rakyat, imam Malik bin Anas rahimahullah selaku pengarang buku tersebut justru menolaknya. Alasannya, seratus ribu lebih para sahabat radiyallahu ‘anhum telah berpencar ke seluruh penjuru negeri Islam, dengan membawa dan menyiarkan ilmu yang diterima dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salam. Setiap daerah mempunyai ulama dari kalangan sahabat. Otomatis, tingkat keilmuan setiap daerah berbeda dan bertingkat-tingkat. Dan tentu saja, ilmu Imam Malik belum mewakili ilmu keseluruhan sahabat yang telah terpencar tersebut.

[3]- Berdasar kedua poin di atas, kebenaran diukur lewat kesesuaian sebuah perkara dengan Al-Qur’an, Al-Sunah dan ijma’, bukan berdasar siapa yang mengatakan atau melakukan perkara tersebut. Senioritas, tingkat keilmuan atau banyak sedikitnya pengikut tidak menjadi ukuran dan jaminan sebuah pendapat atau tindakan sesuai dengan kebenaran. Seorang muslim hanya terpaku kepada Al-Qur’an, Al-Sunah dan ijma’ ulama. Ia tidak terpaku kepada figuritas, senioritas atau kemasyhuran ulama. Pun, tidak terpaku kepada banyaknya pengikut sebuah pendapat. Ia bisa menyeimbangkan antara menghormati para ulama, dengan memilah-milah pendapat dan tindakan mereka dengan timbangan Al-Qur’an, Al-Sunah dan ijma’.
Abdullah bin Mas’ud radiyallahu ‘anhu berkata :

” Barang siapa mengambil suri tauladan, hendaklah ia mengambilnya dari orang-orang yang telah mati, karena orang yang masih hidup tidak ada jaminan selamat dari fitnah (kesesatan, ketergelinciran, kesalahan). Mereka adalah para sahabat Muhammad radiyallahu ‘anhum ; generasi paling utama umat ini, paling baik hatinya, paling mendalam ilmunya, dan paling sedikit takaluf (membuat-buat, memaksakan diri, bersikap wajar dan apa adanya). Mereka telah dipilih Allah untuk menemani Nabi-Nya dan menegakkan dien-Nya. Kenalilah keutamaan mereka ! Ikutilah jejak-jejak mereka ! Berpegang teguhlah dengan akhlak dan sejarah kehidupan mereka sesuai kemampuan kalian ! Karena mereka berada di atas petunjuk yang lurus.”[6]
Baca entri selengkapnya »

Filed under: makalah, Nasehat tuk penuntut ilmu, Uncategorized

PENGUMUMAN

Mohon maaf kepada para pengunjung blog ini jika beberapa komentar tidak kami tampilkan. Di karenakan komentar yang tidak mendidik tidak ilmiyah dengan berdasar dalil dan cenderung emosional. Semua itu kami lakukan untuk meminimalisir perdebatan yang tidak ilmiyah dan di dasari atas emosi saja

Tanggalan

Jam dinding

millahibrahim_1



Blog Stats

  • 131,055 hits

Pengunjung

online

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.