At Taujih

Mengawal Wacana Iqomatuddiin

Manhaj Salaf

بسم الله الرحمن الرحيم
MUQODDIMAH

KONDISI WAQI’I DUNIA SECARA GLOBAL

Allah subhanahu wa ta’ala menciptakan makhluk-makhlukNya khususnya manusia, tidaklah dibiarkan begitu saja. Demi kebaikan mereka, Allah subhanahu wa ta’ala telah menetapkan aturan-aturan yang harus dilaksanakan. Tidak bisa tidak, itulah as-Shiroth al-Mustaqim. Sedikit saja manusia berpaling darinya, ia akan terjerembab dalam kubangan lumpur kesengsaraan. Sehingga tatkala Islam sebagai Syari’ah Samawy tidak lagi eksis memimpin dunia, Barat -yang notabene musuh Islam- tampil memimpin dan menguasai dunia. Maka bukannya kedamaian dan keadilan sebagai hasilnya akan tetapi justru kebobrokan dan kejahiliyahanlah yang kemudian menyebar dan mendominasi wajah dunia.

Kebobrokan Barat

Barat seperti Amerika, Inggris, Prancis kelihatannya memang negara-negara maju dan berperadaban tinggi, namun pada hakekatnya keropos dan bobrok, ibarat bangunan tinggi megah namun keropos pondasinya. Permusuhan dan pemberontakan terhadap agama dikumandangkan, kebenaran agama tidak lagi dijadikan standart kehidupan. Akal dan hawa nafsulah yang dominan dan berbicara diatas segalanya. Faham materialis telah mengakar di hati dan fikiran, bahkan telah menjadi ideologi yang menjadi tolak ukur segalanya. Tak mengherankan jika hati (ruh) dan fikiran mereka kosong, kotor dan ternoda mengakibatkan kegelisahan dan ketidak tenteraman hidup yang berkepanjangan.
Ditambah lagi negara yang berfahamkan materialis ini, selain tidak mampu memberikan ketentraman hidup, juga tidak mampu mencegah tindak kejahatan rakyatnya, dan masyarakat dunia. Hal ini dikarenakan sistem politik dan undang-undang yang mereka terapkan hasil rekayasa otak mereka yang terbatas, didasari hawa nafsu, dan sangat jauh dari kebenaran. Kerusakan dan kebobrokan Barat tak dapat dipisahkan dari Demokrasi Liberal yang mereka terapkan.
Fakta menunjukkan bahwa Barat, sejak dulu terkenal sebagai negara penjajah, mengeksploitasi kekayaan negara yang dijajahnya, menyebarkan faham kapitalis, menyerukan agama sesat dan tak henti-hentinya mencampuri urusan (politik) negara lain. PBB dan Barat -Amerika khususnya- yang menyatakan sebagai polisi dunia dan selalu menggembar-gemborkan HAM, akan buru-buru menawarkan “jasa dan bantuan” kepada negara-negara yang sedang dilanda konflik dan pertikaian dengan dalih, demi perdamaian dan kemanusiaan. Namun tak jarang terjadi, bukannya bantuan dan kesejukan yang diperoleh negara tersebut, malah kadang beban dan ‘cekikan’ Baratlah yang mereka rasakan, terlebih jika negara tersebut negara Islam. Hal ini biasanya terjadi setelah Barat melihat bahwa negara tersebut tidaklah memberikan keuntungan duniawi kepadanya.
Jangankan menangani negara lain, permasalahan dalam negeri saja, banyak yang tidak tertangani. Diskriminasi kulit putih terhadap kulit hitam yang sampai sekarang belum juga terselesaikan, menunjukkan indikasi ini. Atau adanya diskriminasi terhadap minorotas muslim di Amerika, Prancis dan lain-lain adalah contoh lain.
Kebobrokan juga melanda perokonomian mereka. Faham kapitalis telah melahirkan berbagai macam virus ganas, adanya monopoli perdagangan, yang besar menginjak yang kecil, adalah hal yang ‘wajar’ di Barat. Imperialisme dan eksploitasi habis-habisan di negara-negara jajahan, menjamurnya para konglomerat, terjadinya kesenjangan ekonomi antara kelompok the have dan the have not, serta dilegalkannya riba cukup menjadi bukti betapa rusaknya sistem perekonomian mereka. Akhirnya timbullah jiwa materialisme, bergaya hidup mewah, berperilaku konsumtif, individualis dan permisif.
Sementara itu, gaung independensi ekonomi yang santer di Barat juga melahirkan emansipasi wanita, memunculkan wanita karir dan menimbulkan faham kebebasan wanita. Akibatnya, semakin kompleks saja penyakit kronis yang ditimbulkan, mulai dari menjamurnya wanita yang bekerja diluar rumah, adanya prinsip hidup serba gampang dan serba bebas, anti nikah, ogah mengandung, dan juga malas menjadi ibu rumah tangga. Dampaknya merebaklah perzinaan, di bukanya pub-pub malam, diperbolehkannya kumpul kebo, hingga dilegalkannya aborsi, inseminasi buatan dan perkawinan antar lesbi.
Belum lagi semakin meningkatnya tindak kriminal, perampokan, perkosaan, pembunuhan, penipuan, korupsi, kolusi dan lain-lain. Menunjukkan betapa kosong dan kotornya ruh dan hati mereka. Akhirnya mabuk-mabukan, seks bebas, obat penenang menjadi pelarian demi mendapatkan dan menggapai ketenangan hidup. Bahkan bunuh diri menjadi jalan pintas untuk mendapatkan kepuasan spiritual. Bunuh diri massal yang dilakukan 913 orang dari sekte Gereja Kuil Rakyat pada tahun 1978, dan tindakan serupa di tahun-tahun berikutnya, menjadi bukti nyata bahwa Barat benar-benar dilanda dan diguncang krisis spiritual yang begitu memprihatinkan. Na’udzu billah !!!

Kebobrokan Timur

Dunia Timur seperti Rusia dan China ikut menyemarakkan kejahiliyaan, berbondong-bondong mengambil kesesatan materialisme. Setelah itu masing-masing negara berupaya menyempurnakan dengan mengotak-atik dan mengembangkannya. Ironisnya bukannya kebaikan dan kemajuan yang diraih, akan tetapi yang mereka dapatkan justru teori-teori yang semakin sesat dan menyesatkan.
Sosialis Komunis yang menurut mereka sebagai faham kebalikan demokrasi liberal, pada hakekatnya sama saja, saudara kembar yang induknya materialisme, bahkan lebih ekstrim terhadap peniadaan Rabb. Sebagai penciptanya, Karl Marx menyatakan bahwa Tuhan tidak ada, dan kehidupan adalah kebendaan semata. Kekosongan ruh pada faham Komunis menjadi sebab utama semua kerusakan yang ada. Sebagaimana peradaban materialisme yang tampak maju dengan penemuan-penemuan baru dan kecanggihan tekhnologi pada hakekatnya sedang berlari cepat menuju kehancuran. Ada sesuatu yang tidak pernah didapatkan oleh hati mereka. Tokoh-tokoh filsafat Barat mengakui akan hal ini . Dan telah telah banyak kritikan terhadap teori Karl Marx yang kosong ruh tersebut. Semua itu membuktikan rapuhnya ideologi Sosialis Komunis.
Semboyan kebersamaan, sama rata dan pemberantasan imperialisme hanyalah alat untuk menutupi kediktatoran penguasa rezim soaialis komunis. Lenin yang bengis adalah contohnya. Ia telah membunuh jutaan manusia dan lebih dari 500 tokoh komunis yang menjadi saingannya dibunuh. Adapun Stalin adalah Lenin kedua yang lebih biadab, bahkan konon dialah oknum dibalik terbunuhnya Lenin. Bila Stalin memerintah penangkapan terhadap seseorang, maka wajib diyakini bahwa orang tersebut musuh penghancur negeri. Kemunafikan dan kebohongan sudah menjadi ciri khas mereka Dunia telah menyaksikan dengan jelas kebiadaban dan kejahatan revolusi Lenin. Penjajahan terhadap negeri-negeri kecil disekitarnya dengan kekejaman dan kekerasan, telah meninggalkan kesengsaraan yang berkepanjangan .
Sosialis Komunis di Cina telah menghasilkan pembantaian demi pembantaian -diantaranya pembantaian yang terjadi di lapangan Tiananment- dan mengantarkannya menjadi negara terkorup di dunia. mereka sangat refresif terhadap umat Islam di kawasan sekitarnya.
Peniadaan kepemilikan rakyat dan menjadikannya sebagai milik negara, sangat bertolak belakang dengan naluri fitri manusia. Suatu teori yang tidak pernah ada sebelumnya dalam sejarah kehidupan manusia. Problem kemiskinan yang dijanjikan akan terselesaikan, ternyata kebalikannya. Kebiasaan antri panjang selama dua hingga tiga jam hanya untuk memperoleh sepotong roti atau membeli telur dari pasar atau membeli sabun untuk mencuci piring, itu semua merupakan barokah sosialisme. Di Cina, upaya fanatik dan brutal untuk restrukturisasi petani Cina ke dalam ‘Komune Rakyat’, telah mengakibatkan matinya berjuta- juta petani dalam kelaparan dan kekerasan, dan mengakibatkan ekonomi semakin buruk. Selain itu sentralisasi ekonomi oleh negara yang berlebihan mengakibatkan kemerosotan produktivitas ekonomi. Demikian juga riba, semakin mempercepat saja tibanya kebangkrutan.
Peniadaan naluri kemerdekaan individual dan pengungkapan spiritual diri, telah melumpuhkan kreativitas sosial, Perbedaan kasta dan tingkatan yang sengaja dibuat negara, menimbulkan rusaknya kehidupan sosial.
Allah subhanahu wa ta’ala membuktikan kerapuhan idiologi sosialis komunis dengan runtuhnya Uni Soviet. Negera-negara Sosialis lainnya tinggal menunggu giliran kehancuran yang pasti tiba.

KONDISI DUNIA ISLAM DEWASA INI
Kondisi ummat Islam dewasa ini, tidak terlepas dari rentetan peristiwa yang menimpa mereka sejak Khilafah Islamiyah melemah hingga pada akhirnya runtuh. Selain bahwa mereka telah meninggalkan dien mereka dan sibuk dengan urusan-urusan dunia. Rasulullah shallallah ‘alaihi wa-sallam:
إذا تبايعتم بالعينة ورضيتم بالزرع واتبعتم أدناب البقر وتركتم الجهاد سلطه الله عليكم ذلاّ لا ينزعه منكم حتى ترجعوا إلى دينكم.
Jika kalian sudah berdagang dengan riba, rela dengan pertanian, mengikuti ekor-ekor sapi (beternak) dan meninggalkan jihad, niscaya Allah akan menguasakan kehinaan pada kalian yang tidak diangkat kehinaan tersebut sampai kalian kembali kepada dien kalian.
Konspirasi musuh-musuh Islam sangat besar dan ganas. Selama berabad-abad mereka menjajah negeri-negeri Islam, yang mengakibatkan kerugian materi, cacat mental dan kebodohan yang tiada tara. Komunis dengan revolusi-nya, Zionis dengan program Israel Raya-nya dan Salibis dengan Kristenisasi Internasionalnya adalah tiga kekuatan dunia yang tidak rela melihat Islam eksis dimuka bumi. Mereka benar-benar ingin mencabut Islam sampai akar-akarnya.
Allah subhanahu wa ta’ala berfirman :
وَلَن تَرْضَى عَنكَ الْيَهُودُ وَلاَ النَّصَارَى حَتَّى تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ قُلْ إِنَّ هُدَى اللَّهِ هُوَ الْهُدَى وَلَئِنِ اتَّبَعْتَ أَهْوَآءَهُمْ بَعْدَ الَّذِي جَاءَكَ مِنَ الْعِلْمِ مَالَكَ مِنَ اللَّهِ مِن وَلِيٍّ وَلاَ نَصِيرٍ {120} البقرة
Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu sehingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah:”Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang sebenarnya)”. Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu. (QS. 2:120)

يُرِيدُونَ لِيُطْفِئُوا نُورَ اللهِ بِأَفْوَاهِهِمْ وَاللهُ مُتِمُّ نُورِهِ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ {8} الصفّ
Mereka ingin memadamkan cahaya Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, dan Allah tetap menyempurnakan cahaya-Nya meskipun orang-orang kafir benci.
.
Komunis dengan revolusinya telah menghapus beberapa negeri Islam dari peta dunia. Kita tidak akan menemukan lagi nama Turkistan di wilayah China, dan Bukhoro yang sekarang di wilayah Rusia. Ambisi mereka sangat kuat, bahkan Indonesia hampir menjadi korban revolusi komunis. Jihad Afghanistan juga menjadi bukti atas makar mereka.
Bagi Zionis dan Salibis Khilafah adalah lambang persatuan, kesatuan dan kekuatan ummat Islam yang selalu menjadi ancaman. Mereka bersekongkol untuk menghapuskannya. Makar mereka berhasil dengan dihapuskan Khilafah Turki Utsmani oleh Mustofa Kamal Ataturk la’natullah ‘alaihi pada tanggal 3 Maret 1924 dan Turki mereka ganti dengan pemerintahan Sekuler.

Kondisi Negeri-negeri Islam
Hari ini Sekulerisme adalah wabah terbesar yang tengah menimpa sebagian besar kaum muslimin dinegeri-negeri Islam. Musuh-musuh Islam mengarahkan pandangan kaum muslimin ke Eropa agar mereka sialau melihat kemajuan materi dan ilmu pengetahuan. Dengan sengaja mereka menanamkan di benak kaum muslimin, kalau mereka ingin maju maka jalan satu-satunya adalah melakukan apa yang dilakukan orang Eropa terhadap gerejanya. Kaum muslimin harus melemparkan dienul Islam kepojok-pojok masjid dan menyingkirkannya dari sisi-sisi kehidupan.
Dien bukan lagi panglima. Ulama’ bukan lagi rujukan utama. Ulama’ dibutuhkan hanya untuk hal-hal parsial dan yang disesuaikan dengan selera penguasa.
Yang demikian ini masih ditambah dengan kekaguman pemerintahan negara-negara Islam terhadap Demokrasi Barat yang berprinsip kedaulatan mutlak ditangan rakyat, atau Sosialis Timur yang prinsip-prinsipnya sangat bertentangan dengan fitrah manusia.
Turki telah mengadopsi Sekulerisme dengan penuh kekerasan dan paksaan, dan sangat merugikan Islam. Bahkan Turki semakin tidak mandiri, selalu mengekor dan bergantung kepada Barat.
Mesir yang pernah mempraktekkan Sosialis Komunis dan Demokrasi Liberal, tidak mampu memberantas kelaparan, kemiskinan dan kebodohan. Pertanian Mesir tidak ada kemajuan, bahkan Mesir sangat menggantungkan pangan terhadap ekspor gandum dari Amerika, padahal dahulu Mesir pengekspor gandum terberas di dunia . Anwar Sadat pernah berkata; Sosialisme telah membawa perekonomian Mesir hingga titik nol.
Mengadopsi peradapan Barat atau Timur berarti mengundang kebobrokan mereka ke negeri-negeri Islam yang suci. Kemajuan mereka hanyalah fatamorgana belaka.

Fenomena organisasi-organisasi Islam
Fonomena diatas membangkitkan semangat sebagian kaum muslimin untuk meringankan bahkan menghilangkan penderitaan ummat. Maka didirikanlah berbagai lembaga resmi Internasional seperti :

OKI (Organisasi Konferensi Islam)
Didirikan pasca runtuhnya Khilafah pada bulan mei 1926 untuk mengisi kekosongan lembaga polotik bagi ummat Islam. Konferensi ini diikuti oleh berbagai delegasi negara-negara muslim di dunia. Konferensi tersebut bermaksud menghidupkan persatuan ummat Islam dan mengajak negara-negara Islam mengamankan tempat-tempat suci ummat Islam dari cengkeraman musuh.

Rabithah Alam Islamy (RAI)
Rabithah Alam Islami adalah organisasi Islam Internasional yang berdiri di Makkah pada bulan Mei 1964. Diantara tujuannya adalah menyampaikan dakwah dan ajaran Islam, menyatukan ummat, mengantisipasi pemikiran-pemikiran yang sesat serta membela dan memecahkan masalah-masalah ummat.

WAMY
Organisasi ini menangani berbagai macam aktifitas kepemudaan. Didirikan di Riyadl pada tahun 1972. Diantara tujuannya adalah menyebarkan fikrah Islam yang bersumber dari tauhid murni, menjalin kesatuan pemikiran dan ukhuwwah antar pemuda serta membantu mereka untuk dapat lebih berperan dalam membangun masyarakat.

Haiatul Ighotsah al-Islamiyah (HII)
Badan bantuan internasional ini berkantor di Jeddah. Lembaga ini didukung oleh orang-orang kaya di Saudi Arabia. Diantara aktifitasnya ; membantu ummat Islam yang tertimpa musibah seperti gempa, membangun masjid, menyantuni fakir miskin dan menangani dakwah.

Krisis aqidah, kebodohan ummat dan penderitaan ummat akibat penjajahan menjadi penyebab berdirinya organisasi-organisasi Islam di Indonesia, antara lain :

Muhammadiyah
Didirikan pada tanggal 18 November 1912 oleh K.H.Ahmad Dahlan. Di antara sasaran pokok perjuangan Muhammadiyah adalah memurnikan ajaran Islam, menegakkan amar ma’ruf nahi munkar, mengajak masyarakat untuk memeluk dan mempraktikkan ajaran Islam serta mempergiat usaha di bidang pendidikan dan sosial. Sebagai gerakan yang berafiliasi kepada syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab, maka gerakan ini menyatakan sebagi Ahlus-Sunnah wal-Jama’ah berdasarkan Al-Qur’an dan As-Sunnah.

Al Irsyad
Pada tanggal 6 September 1914, Ahmad Syorkaty yang lahir di Sudan mendirikan lembaga pendidikan Al-Irsyad. Seiring dengan berjalannya waktu, berkembanglah al-Irsyad dengan bidang-bidang yang lain. Tujuannya tidak jauh berbeda dengan gerakan Muhammadiyah, dan gerakan inipun menyatakan Ahlus-Sunnah wal-Jama’ah.

Nahdlatul Ulama’ (NU)
NU yang didirikan pada tanggal 31 Januari 1926 oleh K.H. Hasyim Asy’ari lebih sebagai antitesa dari gerakan reformis dan modernis yang dipandang menyudutkan kaum muslimin tradisional kala itu. Gerakan ini mengikrarkan sebagai pengikut Ahlus Sunnah wal-Jama’ah yang bersumberkan Al-Qur’an, as-Sunnah, Ijma’ dan Qiyas. Dalam bidang fiqh menganut salah satu fiqh empat madzhab, dalam praktek, mereka merupakan penganut kuat madzhab Syafi’i. Dalam masalah tauhid, menganut ajaran Asy’ariyah-Maturudiyah. Dan dalam tasawwuf, menganut dasar-dasar ajaran Abu Qasim al-Junaid. Dalam menerapkan Ahlus-Sunnah wal-Jama’ah, para Kyai NU berakulturasi dengan kultur dan sosial masyarakat Indonesia.

Peran lembaga-lembaga tersebut cukup besar bagi ummat Islam dalam menyelesaikan sebagian problematika ummat. Meski di sana-sini tak luput dari kekurangan.
OKI misalnya, dinilai terlalu lemah dalam bersikap, karena tekanan dari para pengucur dana dan dari PBB, sehingga kebijakan-kebijakan dalam konferensipun hanya sekedar tulisan. Adapun Robithah, WAMY, HI Muhammadiyah, NU dan seterusnya yang membatasi ruang geraknya dalam bidang sosial keagamaan, hanya mampu menyelesaikan sebagian penderitaan/kekurangan ummat dalam masalah dan bidang yang diayahinya. Karena wujud mereka yang formal yang senantiasa terkait dengan birokrasi sistem yang berlaku, menjadikan mereka tidak mampu berbuat banyak. Ormas-ormas yang menyatakan sebagai Ahlus-Sunnah wal-Jama’ah tersebut perlu bermuhasabah, sejauh mana intensitas mereka dalam memegang prinsip-prinsip Ahlus-Sunnah wal-Jama’ah, mengingat prinsip Ahlus-Sunnah wal-Jama’ah tidak berhenti pada statement global. Tentunya as-Salaf as-Shalih sebagai tolak ukur dari semua itu.

Fonomena gerakan-gerakan Islam
Dalam mengahadapi musuh-musuh Islam, sebagian kaum muslimin membentuk lembaga-lembaga (baca: jama’ah) illegal seperti ; Ikhwanul Muslimin, Hizbut-Tahrir, Jama’ah Tabligh dan lain-lain. Secara umum hadaf (tujuan) mereka lebih specific dan terarah dibanding lembaga-lembaga resmi sebelumnya, yakni mereka menginginkan wujudnya kembali Khilafah Islamiyah di muka bumi.

Ikhwanul Muslimin
Jama’ah ini berdiri pada bulan Dzulhijjah 1347 H/1928 M. di kota Isma’iliyah (Mesir)oleh Hasan Al Banna. Jama’ah ini bertujuan (target) untuk membina/membentuk pribadi muslim, keluarga muslim, masyarakat muslim, pemerintahan Islam dan dunia Islam dengan Islamisasi.

Hizbut Tahrir
Jama’ah ini lebih terfokus pada politik praktis. Didirikan oleh Taqiyyuddin an-Nabhany di Yordania pada 19 oktober 1378 H/1959 M. Sasaran dan tujuan HT adalah ; memulai cara hidup yang Islami, memikul amanat dakwah dan membangun masyarakat diatas asas yang baru dengan mengikuti Undang-Undang HT yang memuat 182 pasal.

Jama’ah Tabligh
Jama’ah Tabligh didirikan di negeri Hindia di kota Sahar Nufur oleh Syaikh Muhammad Ilyas bin Syaikh Muhammad Isma’il. Jama’ah ini sangat giat berdakwah dengan satu istilah yang cukup dikenal, yakni Jaulah/khuruj (mengadakan perjalanan). Perjalanan dakwah tersebut berupaya membimbing dan menunjukkan ummat kepada kewajiban fardi seperti shalat, shoum, akhlaq karimah dan lain-lain, tanpa masuk kekancah politik.

Tak dapat dipungkiri, bahwa wujud mereka membawa dampak yang cukup positif. Namun banyak hal yang mengharuskan mereka kembali kepada manhaj Salaf :
Fonomena gerakan yang terkesan meremehkan tradisi keilmuan.
Fonomena gerakan yang menjadikan rasio sebagai sandaran dalam masalah-masalah aqidah.
Fonomena gerakan yang terlalu tasahul (memudahkan) dalam bersikap terhadap ahlul bid’ah hatta bid’ah kufriyyah, disamping ada yang terlalu ghuluw (berlebihan) dalam mensikapi orang -orang yang berbeda pendapat dalam masalah-masalah ijtihady.
Fonomena gerakan yang salah kaprah dalam mengaplikasikan al-Wala’ wal-Bara’ , sehingga memasukkan orang-orang kafir dalam majlis syura-nya. Bahkan ada yang berkompetisi untuk memperjuangkan Islam lewat jalur parlemen dibawah sistem kuffar.
– Fonomena gerakan yang dakwahnya bersifat parsial, sehingga hanya beramal pada sektor-sektor tertentu dengan menafikan sektor lain. Seperti bergerak di sektor politik atau sektor keilmuan saja, beramar makruf tanpa nahi munkar, dan lain-lain… bahkan ada yang memisahkan dien dari politik. Harakah Islamiyah lazim untuk mengadakan restrospeksi secara kontinyu ; Sudahkah aqidah, akhlaq, manhaj perjuangan dan seluruh pemahaman telah mengacu pada Salafus Shalih.
Sebab kemaslahatan ummat yang menjadi cita setiap pergerakan tidak akan wujud kecuali dengan mengikuti (ittiba’) jalan yang telah ditempuh generasi awal Islam. Imam Malik berkata :

لن يصلح آخر هذه الأمة إلا بما صلح به أولها

“Generasi akhir ummat ini tidak akan kembali jaya, kecuali dengan apa-apa yang telah mengantarkan kejayaan generasi awal”

KESADARAN KEMBALI KEPADA MANHAJ SALAF

Manhaj Salafus-Shalih merupakan frame (bingkai) pembeda antara Ahlus-Sunnah wal-Jama’ah dengan seluruh firqoh Ahlul-Bid’ah. Ia merupakan satu-satunya jalan penyelamat (makhraj) dari fitnah perpecahan yang menimpa ummat seperti yang disebut oleh Rasulullah . dalam hadits iftiroqul Ummah :
…و تفترق أمتي على ثلاث وسبعين ملة كلهم في النار إلا واحدة وهي الجماعة.
وفي رواية : ما أنا عليه وأصحابي.
“Semuanya dineraka kecuali satu, yaitu al-Jama’ah. Dalam riwayat lain: yaitu yang aku dan para Sahabatku berada diatasnya”.
Tanpa komitmen untuk beriltizam kepadanya, para pencari kebenaran hanya akan tersesat dari Shirathol Mustaqim. Bahkan akan menyesatkan siapa saja yang mengikuti mereka. Dengarlah wasiyat Sahabat Ibnu Mas’ud radliyallah ‘anhu;
إنكم ستجدون أقواما يزعمون أنهم يدعونكم إلى كتاب الله وقد نبذوه وراء ظهوركم. فعليكم بالعلم و إيّاكم والتبدّع وإيّاكم والتنطّع وإياكم والتعمّق وعليكم بالعتيق.
“Kalian akan mendapati golongan-golongan yang menyangka bahwa mereka menyeru kalian kepada kitabullah. Padahal kitabullah telah mereka lemparkan dibelakang punggung mereka. Maka hendaklah kalian berilmu dan jangan berbuat bid’ah, jangan berlebihan, jangan kelewatan dan hendaklah kalian selalu berpegang kepada generasi pendahulu (salaf).

Fonomena Kembali Kepada Salaf
Manhaj as-Salafus Shalih merupakan standart kebenaran. Ia tidak boleh diklaim milik suatu kelompok tertentu dengan menafikan kelompok Ahlus-Sunnah lainnya. Bahkan lazim bagi seluruh kelompok yang mengaku sebagai Ahlus Sunnah wal-Jama’ah untuk menjadikan manhaj ini sebagai asas perjuangan.
Komitmen terhadap Salaf tidak boleh menimbulkan sikap ta’ashub golongan, membuat standart baru dalam al-Wala’ wal-Bara’ selain atas dasar kitabullah dan as-Sunnah, atau konsentrasi terhadap beberapa masalah aqidah yang dihadapi oleh Salafus-Shalih sebagai tuntutan pada zaman itu, lalu menafikan berbagai masalah kontemporer yang menjadi tuntutan waqi’i hari ini.
Salafiyah tidak boleh berhenti pada kerja keras pembebasan ummat dari syirik kubur dan paganisme, lalu membiarkan merajalelanya syirik sistem dan hukum jahilyah. Ia juga bukan pernyataan ‘perang’ terhadap Ahlul Bid’ah -penyeru tasbih dan ta’thil dalam Asma’ was Sifath- lalu membiarkan usaha mencampakkan Syare’ah Allah subhanahu wa ta’ala, menggantinya dengan undang-undang batil hingga tersebar kerusakan dan kemungkaran di segala sektor kehidupan ummat.
Kondisi dan waqi’i tiap zaman selalu berbeda, sehingga menimbulkan tuntutan yang berbeda antara satu zaman dengan zaman lain. Tuntutan zaman pada masa Sahabat menegakkan daulah, mempertahankannya dari serangan musuh dan menyebarkan Islam keseluruh penjuru. Sehingga akan didapatkan bahwa setiap Sahabat adalah mujahid.yang hidup dari satu jihad kepada jihad lain. Hal itu karena jihad pada masa itu adalah fardlu ‘ain. Masa Tabi’in dan Tabi’ut-Tabi’in identik dengan zaman keemasan ilmu Islam, sehingga muncullah Ulama-ulama besar dan masyhur. Mereka mengkhidmadkan hidup dan potensinya demi berkembangnya ilmu Islam. Karena tuntutan waqi’i zaman itu adalah menjaga dan mengembangkan al Ilmu dan as-Sunnah, dan menghadapi kesesatan segala firqah.
Sebagai contoh, pada masa Imam Ahmad, fitnah `al-Qur’an adalah makhluk` menjadi tuntutan zaman yang mesti segera dibasmi. Maka Imam Ahmad dan para Ulama’ segera bangkit memperjuangkan as-Sunnah dan menolak kebathilan tersebut.
Hari ini ummat Islam telah kehilangan induk semangnya. Khilafah Islamiyah sebagai benteng pertahanan terkuat aqidah, telah runtuh. Syari’ah Allah subhanahu wa ta’ala tidak lagi tegak, undang-undang produk manusia mendominasi mayoritas negeri-negeri Islam. Izzah Islam dan kehormatan kaum muslimin jatuh sirna. Makar dan konspirasi kuffar tertuju kepada mereka … .
Kita harus bangkit membawa panji tauhid dan merealisasikan hak-hak tauhid, sebagai penyerahan total kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Allah berfirman :
وَعَدَ اللهُ الَّذِينَ ءَامَنُوا مِنكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي اْلأَرْضِ كَمَااسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُم مِّن بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا يَعْبُدُونَنِي لاَيُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا وَمَن كَفَرَ بَعْدَ ذَلِكَ فَأُوْلاَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ {55}النور
Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman diantara kamu dan mengerjakan amal-amal saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah meneguhkan orang-orang sebelum mereka. Dan Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan merobah (keadaan) mereka dari ketakutan menjadi aman sentausa.Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku.Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang yang fasik. (QS. 24:55)

Akan tetapi ada beberapa hal yang tidak boleh dilupakan oleh para pejuang Islam, mereka mesti komitmen dan konsisten di atas manhaj yang menjadikan kejayaan generasai awal. Serta tetap mampu mengantisipasi tantangan waqi’i yang ada dengan tepat. Dan selalu bergerak untuk merealisasikan cita-citanya dalam suatu keordinasi (tandlim) yang teratur, rapi seakan-akan sebuah bangunan yang berdiri kokoh “ كأنهم بنيان مرصـوص “.

Bukankah ini wasiat yang mashur dari Kholifah Ali bin Abi Thalib rodliallahu’anhu :
الحق بلا نظام يغلبه الباطل بنظام
“Al-haq yang tidak tertandlim akan dikalahkan oleh kebathilan yang tertandlim”

MANHAJ SALAAFUS SHALIH*
Kenapa kita belajar manhaj salaf ?
Belajar tentang manhaj penting karena :
Karena permasalahan manhaj adalah permasalahan yang sangat penting dalam kehidupan manusia terutama dalam hal ilmu dan amal, entah dia selaku pribadi atau sebuah komonitas. Seseorang yang tidak punya manhaj dalam kehidupannya seperti orang yang membangun sebuah bangunan kemudian ia runtuhkan kemudian ia bangun kembali ia runtuhkan dan seterusnya karena mendapatkan berbagai masukan tentang bangunan yang dibangun dari orang lain. Orang yang tidak jelas manhajnya ia akan menekuni hari ini dengan banyak menghafal al qur’an, maka ketika orang-orang beralih kepada hadist dia akan tekuni ilmu hadist tersebut dan ia tinggalkan hafalan al qur’annya, ketika orang-orang menekuni ilmu fiqih ia akan imut menekuni dan ia tinggalkan belajar hadist dan seterusnya sehingga umurny habis untuk mencicipi berbagai hal yang tidak jelas. Maka dari itu manhaj sangat penting untuk menuntun seseorang pada satu jalan.
pentingnya manhaj yang kedua adalah, karena kita hidup di zaman kebangkitan islam dari berbagai seginya. Maka jika shohwah islamiyah ini tidak dituntun oleh manhaj syar’I tidaklah begitu bermanfaat untuk Islam. Gambarannya adalah seperti air hujan yang jatuh mengenai bangunan atau jatuh di padang pasir yang tidak ada manfaatnya sama sekali. Berbeda ketika air hujan tersebut jatuh pada tumbuhan akan menjadikan tumbuhan tersebut subur dan tumbuh bersar. Demikian pula perkembangan islam ini jika tidak didasari manhaj yang benar maka tidak akan banyak berguna terhadap Islam dan bahkan menimbulkan syubhat baru bagi Islam.
Banyak kita jumpai orang-orang berbicara tentang manhaj. Akan tetapi mereka tidak memahami apakah itu manhaj ? apa yang diinginkan dengan manhaj ?, ketika ditanya tentang hal tersebut banyak yang tidak bisa berbicara karena memang belum memiliki ilmu tentangnya.
Manhaj adalah :
هو حديث عن هذه الكلمة في أصلها الشرعي جاءت هذه الكلمة في القرآن الكريم في قوله عز وجل [ لكل جعلنا منكم شرعة ومنهاجا ] وجاءت أيضا في أحاديث من أشهرها الحديث الصحيح [ تكون فيكم النبوة ما شاء الله أن تكون ، ثم يرفعها الله تعالي إذا شاء أن يرفعها ثم تكون خلافة علي منهاج النبوة ما شاء الله تعالي أن تكون ، ثم يرفعها الله تعالي إذا شاء أن يرفعها ، ثم يكون ملكا جبريا ثم يكون ملكا عاضا ثم تكون فيكم خلافه علي منهاج النبوة ثم سكت صلي الله عليه وآله وسلم ] .
المنهاج او المنهج يعني بها الطريقة التي كان عليها النبي صلى الله عليه وسلم في حكم الأمه فإنه عليه الصلاة والسلام وإن كان نبيا مرسلا مؤيدا بالوحي من السماء إلا أنه كان حاكما في أمته عليه الصلاة والسلام يقيم الحدود ويجبي الزكاة ويوزعها ويبعث العمال إلي الأمصار ويأمر الناس بالمعروف وينهاهم عن المنكر ويعقد العقود ويقيم الحروب ويبرم معاهدات السلام كما هو معروف في تفاصيل سيرته فإذا قال عليه الصلاة والسلام في الحديث السابق تكون خلافة على منهاج النبوة فالمعنى أنه عليه الصلاة والسلام زكى الخلفاء الراشدين من أصحابه أنهم يحكمون بهديه وسيرته بالعدل والانصاف والحكم بما أنزل الله وعدم التغيير أو التبديل وهكذا زكى النبي صلى الله عليه وسلم الخلافة الراشدة التي تأتي في آخر الزمان علي منهاج النبوه وقد ذهب بعضهم الي أن المقصود خلافة عمر بن عبدالعزيز رضي الله عنه والأقرب والله أعلم أن الخلافة علي منهاج النبوة قد تكون هي خلافة في آخر الزمان علي يد المهدي الموعود الذي أخبر النبي صلي الله علية وسلم بظهوره فإنه سكت بعدها مما يدل علي أنها آخر الأمر ونهاية المشوار وأنها خلافة يجتمع عليها المسلمون
Ta’rif salafus shalih.
Secara Bahasa : salaf berasal dari kata : سلف , berarti : تقدم, مضى, سبق (mendahului, telah lewat/ yang lalu, terdahulu).
Orang Salaf yaitu orang terdahulu. والسلف : القوم المتقدمون فى السير
Dan salih berati : ذو خير (yang baik), sebagai deskripsi/sifat bagi kata salaf.

Secara Istilah : as-Salafus as-Shalih adalah tiga generasi pertama Islam pilihan, yaitu generasi Sahabat, Tabi’in dan Tabi’ut-Tabi’in.

وَالسَّابِقُونَ اْلأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَاْلأَنصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُم بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا اْلأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَآ أَبَدًا ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ { التوبة : 100}
artinya : Dan as-Sabiqunal awwalun dari orang-orang Muhajirin dan orang-orang Anshor dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan ihsan, Alloh ridho kepada mereka dan mereka ridho kepada Alloh , dan Alloh menyediakan bagi mereka jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya . Itulah keberuntungan yang besar. ( at Taubah 100 )
عن عبد الله بن بسر قال: قال رسول الله : طوبى لمن رآني وطوبى لمن رأى من رآنى طوبى لهم وحسن مآب {رواه الطبراني} وفي رواية الحاكم : طوبى لمن رآني وطوبى لمن رأى من رآني وطوبى لمن رأي من رأي من رآني.
Dari Abdullah bin Busr radliyallahu ‘anhu Rasulullah saw bersabda : Keberuntungan bagi orang-orang yang melihatku, keberuntungan bagi orang yang bertemu dengan orang yang melihatku. Bagi mereka keberuntungan dan tempat kembali yang baik. .
Sedang dalam riwayat Hakim ; Keberuntungan bagi orang melihatku, keberintungan bagi orang yang bertemu dengan yang melihatku, keberuntungan bagi orang yang bertemu dengan orang yang bertemu dengan yang melihatku.
Manhaj Salaf adalah manhaj yang disebutkan oleh Rasulullah dalam hadits Iftiroqul Ummah :
ما انا عليه واصحا بي”” Yaitu Manhaj yang ditempuh oleh Nabi dan para Sahabat serta yang mengikuti mereka sampai generasi Tabi’in dan Tabi’ut-Tabi’in termasuk para Ulama’ Ahlus-Sunnah yang termasyhur dan terpercaya seperti Abu Hanifah, Imam Malik, Syafi’i, Ahmad, Bukhari, Muslim dan Ahlus-Sunan serta para Ulama’ pada masa itu yang tidak termasuk Ahli Bid’ah.
Manhaj ini dilanjutkan dan diserukan oleh para Ulama’ abad -abad berikutnya, seperti Ibnu Taimiyah, Ibnu Katsir, Ibnul Qoyyim, Adz-Dzahaby dan lain-lain dari para Ulama’ terpercaya yang berjalan diatas manhaj Salafus-Shalih sampai hari ini..
Salafiyah dalam perjalanan sejarah mencakup dua pengertian.
Pertama, Salafiyah adalah manhaj ilmu dalam berta’mul (berinteraksi) dengan dua sumber ilmu yaitu Al Qur an dan As Sunnah dengan bersandar sepenuhnya hanya kepada keduanya saja serta membuang jauh-jauh selain keduannya dalam menghukumi maksud dari gerak dalam hidup ini.
Kedua, Salafiyah sebagai gerak hidup, jalan dan tingkah laku dalam mengejewantahkan manhaj yang dimaksud. Maka bisa dikatakan Salafiyah adalah manhaj yang telah digariskan oleh generasi awal umat ini dari para Shahabat Rasulullah Sallallahu’alaihiwasallam baik dalam bentuk ilmu maupun amal itulah salafiyah dan demikian pula seharusnya kita berbuat dan beramal. Dan diantara rahmat Allah dengan manhaj Yang berupa manhaj ilmi dan amaly sekaligus yaitu bahwa manhaj ini telah ditegakkan oleh oran-orang berta’amul dengan manhaj ini dalam bentuk yang paling tinggi dan sempurna sehingga mereka menjadi manhaj dan manhaj adalah mereka. Sehingga dengan demikian nama manhaj ini selalu bergandengan dan melekat dengan syakhsiyah mereka, manhaj ini selalu dilekatkan dengan mereka karena mereka adalah para pendahulu (salaf) yang lebih dahulu dari semua orang dalam melaksanakan manhaj ini baik kadar maupun waktu.

Perintah untuk mengikuti mereka.

Ibnul Qoyyim berkata : Ittiba’ terhadap salafusshalih adalah berpegang teguh terhadap jalan dan manhaj-manhaj mereka

وَالسَّابِقُونَ اْلأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَاْلأَنصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُم بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا اْلأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَآ أَبَدًا ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ {100}
artinya : Dan as-Sabiqunal awwalun dari orang-orang Muhajirin dan orang-orang Anshor dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan ihsan, Alloh ridho kepada mereka dan mereka ridho kepada Alloh , dan Alloh menyediakan bagi mereka jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya . Itulah keberuntungan yang besar. ( at Taubah 100 )
وَمَن يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِن بَعْدِ مَاتَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَى وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَاتَوَلَّى وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ وَسَآءَتْ مَصِيرًا {115} النساء
“Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya. dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mu’min, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia kedalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruknya tempat kembali”. (QS. 4:115)
عليكم بسنتي وسنةالخلفاء الراشدين المهديين من بعدي عضوا عليها بالنواجد وإيّاكم ومحدثات الأمور فإنّ كلّ بدعة ضلالة {رواه ابو داود والترمذي وابن ماجة}

Rasulullah saw bersabda : “Hendaklah engkau berpegang teguh dengan sunnahku dan sunnah Khulafa’ur-Rasyidin yang mendapat petunjuk sesudahku, gigitlah dengan gigi gerahammu. Dan hati-hatilah terhadap perkara-perkara (dien) yang diadakan., Sesungguhnya setiap bid’ah itu kesesatan.”
عَنْ ابن مَسْعُود z قَالَ : مَنْ كَانَ مُتَأَسِيًا فَلْيَتَأَسَّ بِاَصْحَابِ رَسُوْلِ اللهِ`فَإِنَّهُمْ كَانُوْا أَبَرُّ هَذِهِ الْأُمَّةِ قُلُوْباً وَأَعْمَقُهَا عِلْمًا وَأَقَلُّهَا تَكَلُّفًا وَأَقْوَمُهَا هَدْيًا وَأَحْسَنُهَا حَالًا. قَوْمٌ اِخْتَارَهُمُ اللهُ لِصَحْبَةِ نَبِيِّهِ وَإِقَامَةُ دِيْنِهِ فَاعْرِفُوا لَهُمْ فَضْلَهُمْ وَاتبَعُوْا أَثَارَهُمْ، فَإِنَّهُمْ كَانُوْا عَلَي الهُدَى الْمُسْتَقِيْم
Ibnu Mas’udradliyallahu ‘anhuberkata : Barang siapa yang ingin mengikuti seseorang hendaklah ia mengikuti para Sahabat Ra. Karena sesungguhnya hati mereka adalah sebaik-baik hati manusia. Ilmu mereka adalah sedalam-dalam ilmu manusia. Paling sedikit bebannya (tidak mengada-adakan urusan yang memberatkan mereka). Paling lurus jalan hidupnya dan paling baik akhlaqnya. Suatu kaum yang dipilih oleh Allah swt untuk menolong NabiNya dan menegakkan diennya. Maka akuilah Fadlilah mereka. dan Ikutilah atsar-atsarnya karena sungguh mereka berada diatas Sirotul Mustaqim.
قال إبراهيم النخعي رحمه الله : وَكَفَى عَلَى قَوْمٍ وِزْرًا أَنْ تُخَالَفَ أَعْمَالَهُمْ أَعْمَالَ أَصْحَابَ نَبِيِّهِمْ ` .
Ibrahim an-Nakho’i berkata : Cukuplah menjadi kejahatan suatu kaum, jika mereka menyelisihi perbuatan para Sahabat radliallahu ‘anhum.

Keutamaan as-Salaf us Shalih radliyallahu ‘anhum.

as-Salafus Salih adalah generasi Islam terbaik seperti yang telah di sabdakan Rasulullah saw :
خيرالناس قرني ثم الذين يلونهم ثم الذين يلونهم ثم يجيئ اقوام تسبق شهادة أحدهم يمينه ويمينه شها دته {البخاري و مسلم}
“Sebaik-baik adalah generasiku, kemudian generasi setelah mereka kemudian generasi setelah mereka, Kemudian datang suatu kaum yang kesaksiannya mendahului sumpahnya. Dan sumpahnya mendahului kesaksiannya”. (Bukhari-Muslim)
قال ابن قيّم الجوزية : إنّ الفتوى بالأثار السّلفية والفتاوى الصحابيّة أولي بالأخذ بها من أراء المتأخّرين وفتويهم، وإن قربها إلي الصّواب بحسب قرب أهلها من عصر الرسول صلوات الله وسلامه عليه وعلي أله، وإنّ فتاوى الصّحابة أولي أن يؤخذبها من فتاوى التابعين، وفتاوى التابعين أولي من فتاوى تابعى التابعين…
Ibnul Qoyyim berkata: Sesungguhnya fatwa dari atsar as-Salafus Salih dan fatwa-fatwa sahabat lebih utama untuk di ambil dari pada pendapat-pendapat dan fatwa-fatwa mutaakhirin ( orang belakang ). Karena dekatnya fatwa terhadap kebenaran sangat terkait dengan kedekatan pelakunya dengan masa Rasulullah Saw. maka fatwa-fatwa sahabat lebih didahulukan untuk di ambil dari fatwa-fatwa tabi’in dan fatwa-fatwa tabi’in lebih di dahulukan dari fatwa-fatwa tabiut-tabiin.

قال ابن رجب : فأفضل العلوم في تفسير القرآن ومعاني الحديث والكلام في الحلال والحرام ما كان مأثورا عن الصحابة والتابعين وتابعيهم وأن ينتهي إلي أئمة الإسلام المشهورين المقتدى بهم.

Ibnu Rajab berkata : Seutama-utama ilmu adalah dalam penafsiran al-Qur’an dan makna-makna hadits serta dalam pembahasan halal dan haram yang ma’tsur dari para sahabat, tabi’in dan tabiut-tabi’in yang berakhir pada Aimmah terkenal dan diikuti .

Manhaj Talaqqi as-Salaf as-Shalih

Masdar Talaqqi : Sumber pengambilan Ilmu adalah al-Qur’an, as-Sunnah dan Ijma’. Ibnu Taimiyah berkata : Dien kaum muslimin dibangun atas dasar: Mengikuti Kitabullah, Sunnah RasulNya dan Kesepakatan Ummat (Ijma’). Ini adalah tiga pokok/landasan yang maksum.
Beliau juga berkata : Ciri Ahlul Furqoh adalah menyelesihi al-Kitab, as-Sunnah dan Ijma’. Maka barang siapa yang berprinsip dengan al-Kitab, as-Sunnah dan Ijma’ adalah termasuk ahlus-Sunnah wal-Jama’ah.

Menafsirkan al-Qur’an dengan yang Ma’tsur. Yaitu ; Penafsiran yang berdasarkan manqul (pengambilan) shahih, dengan urut-urutan ; Tafsir al-Qur’an dengan al-Qur’an, al-Qur’an dengan as-Sunnah karena Sunnah sebagai penjelas dari Kitabullah lalu dengan riwayat dari para Sahabat, karena mereka adalah generasi yang paling tahu tentang Kitabullah. Lalu dengan perkataan kibarut- Tabi’in karena kebanyakan dari mereka mendapatkan tafsir tersebut dari Sahabat.

Hadits yang Sahih merupakan hujjah Syar’iyyah dalam beramal menurut Ijma’. Salaf tidak membedakan antara hadits mutawatir maupun ahad sebagai hujjah baik dalam masalah Aqidah atau Ahkam. . Mereka tidak mengotak-atik dengan ra’yu dalam memahami suatu hadits agar sesuai dengan seleranya.

Kedudukan Aqwal Sahabat. Amal dan qoul Sahabat adalah hujjah bagi para Tabi’in, juga menjadi hujjah bagi generasi sesudah tabi’in… Kecuali beberapa kelompok di antaranya ; Syiah al-Imamiyah, Khowarij dan Dhohiriyah… Ijma’ mereka merupakan hujjah menurut Ijma’ Ahlus-Sunnah. Sedangkan bila Sahabat berikhtilaf, maka para Tabi’in tidak keluar dari perkataan para sahabat.

Qiyas Sahih merupakan hujjah muktabar dalam masalah Ahkam. Ibnu Abdil Barr berkata : Tidak ada ikhtilaf dikalangan fuqoha’ dan seluruh Ahlis-Sunnah, ahlul-Fiqh dan ahlul-Hadits dalam menolak qiyas pada masalah tauhid, dan menerima dalam masalah Ahkam kecuali Dawud al-Asbahany (Dhohiriyah).

Nash yang Sahih tidak bertentangan dengan Akal sehat. Ahlus-Sunnah wal-Jama’ah mendahulukan nash yang Sahih diatas Akal . Jika Nash dan Akal bertentangan, hanya ada dua kemungkinan. Nashnya yang tidak Sahih atau Akalnya yang rusak. Karena Nash yang Sahih tidak akan bertentangan dengan Akal yang sehat.

Tidak mewajibkan taqlid bagi setiap orang. Tidak mewajibkan ijtihad dan mengaharamkan taqlid bagi setiap orang, Juga tidak mewajibkan taqlid dan melarang ijtihad bagi setiap orang. Ijtihad diberlakukan bagi yang mampu, dan taqlid diberlakukan bagi yang tidak mampu.

Prinsip-prinsip Salaf :

1) Rukun Islam dan Iman. Salaf ber I’tiqod bahwa rukun Islam itu ada lima dan rukun Iman itu ada enam sesuai dengan nash qoth’y dan Ijma’ Ummat.

2) Mengitsbatkan Asma’ dan Sifat.
Sesungguhnya Ashabul hadits yang berpegang teguh kepada kitab dan sunnah menyaksikan keesaan Alloh. Mereka berma’rifah kepada-Nya melalui sifat-sifat-Nya yang Dia wahyukan atau yang disampaikan oleh Rosululloh shallallah ‘alaihi wa-sallam. Mereka mengitsbatkan seluruh sifat yang tersebut dalam al-qur-an dan hadits yang shohih seperti sifat pengdengaran, penglihatan, mata, wajah, ilmu, kekuatan, qudroh, ‘izzah, keagungan, murka, kehidupan, dan lain sebagainya dengan tidak menganggapnya serupa dengan sifat-sifat makhluq. Mereka berhenti pada dhohir yang difirmankan oleh Alloh ta’ala dan yang disabdakan oleh Rosululloh shallallah ‘alaihi wa-sallam. tanpa menambahkan, tidak menanyakan kaifiyahnya, tidak mentasybihkan, tidak menyelewengkan, tidak mengganti lafaldz yang dipahami oleh bangsa Arab dengan takwil yang mungkar.
3) Berkeyakinan bahwa al-Qur’an adalah Kalamullah.
Abu Ja’far at-Tohawy berkata : Bahwasananya al-Qur’an adalah Kalamullah, ia datang dariNya tanpa kaifiyah dalam (hal) bagaimana dikatakanNya, ia diturunkan kepada RasulNya sebagai wahyu. Orang-orang beriman membenarkannya dengan haq dan meyakininya bahwa ia adalah benar-benar kalamullah Ta’ala, bukan makhluk seperti perkataan manusia. Maka barang siapa yang mendengarkannya, lalu menganggap bahwa ia perkataan manusia, maka ia telah Kafir.

4) Iman itu mencakup perkataan dan perbuatan dan bahwa Iman itu bisa bertambah dan berkurang.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata : Dan termasuk prinsip Ahlus-Sunnah wal-Jama’ah, bahwa dien dan Iman itu mencakup perkataan dan perbuatan: perkataan hati dan lisan, serta perbuatan hati, lisan dan anggota badan. Juga bahwa Iman itu bertambah dengan ketha’atan dan berkurang dengan kemaksiyatan.
Imam Bukhari berkata : Aku telah bertemu dengan lebih dari seribu Ulama’ diberbagai negeri, tidak aku dapatkan seorangpun dari mereka kecuali menyatakan bahwa iman itu mencakup perkataan dan perbuatan, bertambah dan berkurang.

5) Tidak ada yang Maksum kecuali Rasulullah shallallah ‘alaihi wa-sallam.
Ahlus-Sunnah wal-Jama’ah menyatakan, tidak ada yang maksum dalam pandangan mereka selain Rasulullah shallallah ‘alaihi wa-sallam. Menurut mereka para Ulama’ tidaklah maksum. Akan tetapi semua orang diambil dan ditinggalkan perkataannya kecuali Rasulullah shallallah ‘alaihi wa-sallam.

6) Menghormati Sahabat :
Sikap Salaf terhadap perselisihan yang terjadi dikalangan Sahabat adalah diam dan mensucikan lisan mereka dari menyebut hal-hal yang bermuatan aib bagi mereka.
Dan bahwa masing-masing mereka adalah mujtahid. Jika benar mendapatkan dua pahala dan jika salah mendapatkan satu pahala.
Dan mereka mengasihi semuanya dan memberikan loyalitas pada mereka. (as-Salaf as-Shalih) menghormati dan mendo’akan istri-istri Nabi dan menyatakan bahwa mereka adalah Ummahatul Mukminin.

7) Prinsip dalam al-Wala’ wal-Bara’
Ahlus-Sunnah wal-Jama’ah mendasarkan al-Wala’ dan al-Bara’ kepada al-Haq semata, yaitu kepada kitabullah dan sunnah Rasulullah shallallah ‘alaihi wa-sallam. Bukan atas dasar suku (etnis), daerah, madzhab, syaikh, atau kelompok tertentu. Mereka menilai pribadi, kelompok ataupun perkumpulan dengan berdasarkan asas ini.
Barang siapa beriman wajib diberikan wala’ secara penuh dari golongan manpun ia… . Dan orang kafir, wajib diterapkan permusuhan secara penuh, dari golongan manapun ia. Adapun orang yang dalam dirinya terdapat keimanan dan kefajiran diberikan Wala’ sebatas keimanannya dan diberikan permusuhan sebatas kefajirannya.

8) Amar Makruf Nahi Munkar.
Ahlus-Sunnah adalah ahlu Amar Makruf dan Nahi Munkar dengan tetap menjaga al-jama’ah. Ini adalah pilar utama dan kaedah yang agung yang menjadikan mereka khoiru Ummah yang dikeluarkan bagi manusia. Mereka menegakkan urusan ini sesuai dengan kaidah-kaidah syar’i. Disaat bersamaan mereka tidak keluar dari pokok dan kaidah besar lainnya. Yaitu tetap menjaga keutuhan Jama’ah, menyatukan hati, kesatuan kalimat dan menjauhi perpecahan dan ikhtilaf.

9) Ketaatan kepada Amir.
Wajib mendengar dan ta’at kepada para Imam dan Amirul Mukminin yang adil maupun yang fajir. Tidak keluar (khuruj) darinya selama tidak memerintahkan kemaksiyatan.
Telah terdapat dalam nash-nash al Kitab, as-Sunnah dan Ijma’ Salaful Ummah bahwa Waliyyul Amri, Imam Shalat, Hakim, Amir Pasukan, Amil Zakat, Mereka ditaati dalam masalah-masalah Ijtihady. Bukannya ia yang menta’ati pengikutnya dalam masalah ijtihad tersebut, akan tetapi merekalah yang menta’atinya, dengan meninggalkan pendapat-pendapat mereka demi pendapatnya (amir). Karena maslahat jama’ah dan persatuan, mafsadah firqoh dan ikhtilaf, adalah urusan yang lebih besar dari pada masalah parsial yang sepele.

10) Jihad dan shalat di belakang Imam fajir.
Salaf ber-i’tiqod bahwa jihad dan haji dibelakang Imam yang baik ataupun yang fajir terus berlangsung sampai hari Kiamat.
Dan telah menjadi prinsip Ahlus-Sunnah wal-Jama’ah bahwa jihad tetap dilaksanakan bersama penguasa yang baik maupun yang fajir. Karena sesungguhnya Allah memperkokoh dien ini dengan seseorang yang fajir dan dengan kaum yang tidak berakhlak.

11) Memerangi Orang yang menolak Syari’at Islam.
Ibnu Taimiyah berkata : Telah menjadi ketetapan dalam Kitab dan Sunnah serta Ijma’ ummat bahwasannya siapa saja yang keluar dari Syare’at Islam wajib diperangi walaupun dia mengucapkan syahadat.
Beliau berkata: Dan wajib mendahului untuk memerangi mereka setelah sampai dakwah Nabi saw kepada mereka atas ketetapan ini. Sedang apabila mereka mendahului menyerang kaum muslimin, maka kewajiban memerangi mereka bertambah kuat.

12) Tidak menggampangkan takfir .
Berbeda dengan Murji’ah, Khowarij dan Mu’tazilah, salaf tidak mengatakan bahwa pelaku dosa besar adalah kafir, selama ia tidak menghalalkannya. Mereka juga tidak mengatakan bahwa perbuatan maksiat tidak membahayakan iman. Salaf juga berpendapat jika orang-orang yang berbuat dosa besar mati dalam keadaan beriman, mereka tidak kekal di neraka.

13) Tidak meninggalkan sholat di belakang ahlul Qiblah.
Ahlussunnah wal jama’ah tetap melaksanakan shalat dibelakang imam yang baik ataupun yang fajir dari kalangan Ahli kiblat. Demikian juga dengan menshalati janazahnya.

14) Sikap terhadap Ahlul Bid’ah.
Kewajiban Ahlus-Sunnah terhadap Ahlul Bid’ah adalah menjelaskan keadaan mereka, mengingatkan ummat akan bahayanya, menyiarkan Sunnah dan menerangkannya kepada kaum muslimin, kemudian mengenyahkan kebid’ahan serta mencegah kezhaliman dan permusuhan mereka (Ahlul-Bid’ah). Semua itu dimanifestasikan dengan tetap berpijak pada keadilan serta berdasarkan Kitab dan Sunnah.
Ahlus-Sunnah wal-Jama’ah didalam mensikapi Ahlul Bid’ah yang menyembunyikan kebid’ahannya, tidaklah sama dengan sikap mereka terhadap Ahlul Bid’ah yang menyiarkan atau menyerukan kebid’ahannya. Seorang yang menyiarkan atau menyerukan kebid’ahan, bahayanya merembet kepada orang lain. Karena itu wajib di cegah, diingkari dan pelakunya diberi pelajaran (iqob) baik berupa isolasi atau yang lain sampai ia jera (meninggalkannya). Adapun yang menyembunyikan kebid’ahan maka diingatkan secara sembunyi-sembunyi dan dirahasiakan.
Semua sikap yang diambil oleh ahlus-Sunnah wal-Jama’ah ini tidaklah menghalangi mereka dari mendo’akan ahli Bid’ah agar mendapatkan hidayah, rahmat atau ampunan selama belum diketahui kemunafikan dan kekafiran bathin mereka.

15) Tawassuth dan I’tidal.
Ahlus-Sunnah wal-Jama’ah adalah ahlu Tawassuth dan I’tidal. Diantara ifrath (terlalu berlebihan) dan tafrith (melalaikan), dan diantara sikap ghuluw (berlebihan) dan sikap Jufa` (melalaikan). Mereka berada ditengah (jika disejajarkan dengan) firqah-firqah Ummat. Sebagaimana Ummat berada ditengah (jika disejajarkan dengan) millah-millah yang lain.
(Dalam masalah sifat Allah) mereka berada diantara Ahlut-Ta’thil, Jahmiyah dan Ahlut-Tamtsil, Musyabbihah. (Dalam masalah Af’al Allah) mereka berada diantara Qodariyah dan Jabariyah. Demikian pula (dalam masalah ancaman Allah), mereka berada diantara Murji’ah dan Wa’idiyah , Qodariyah dan yang selain mereka. Adapun (dalam masalah Iman dan Dien), mereka berada diantara Haruriyah (khowarij) dan Mu’tazilah, dan diantara Murji’ah dan Jahmiyah. Adapun dalam (mensikapi para Sahabat Rasulullah shallallah ‘alaihi wa-sallam) mereka berada diantara Rafidlah dan Khawarij.
Penutup
Dari pemaparan di atas, tampak jelas bahwa manhaj as-Salaf as-Shalih adalah pegangan yang harus dijadikan oleh mereka yang berjuang atas nama Islam, sebagai bingkai yang melatarbelakangi, memotivasi dan mengarahkan semua derap langkah. Sehingga mencapai tujuan perjuangan yaitu li-i’laai kalimatillah.
Tiga generasi itu berada pada posisi puncak yang terjaga dari kesesatan. Generasi yang terpercaya dari segi ilmu, amal dan perjuangan. Mereka telah terbukti sebagai pembawa panji-panji Islam ke seluruh jagad raya tanpa pamrih. Pendeta-pendeta di malam hari dan singa-singa di siang hari. Berjuang tiada mengenal lelah. Prinsip mereka mentauhidkan Allah subhanahu wa ta’ala ; menyerahkan totalitas kehidupannya kepadaNya dan mengikuti jejak Rosulullah shollahu ‘alaihi wasallam dalam keadaan susah dan gembira. Mereka meyakini bahwa bangunan Islam harus berdiri, yang asasnya tauhid, tiangnya sholat dan puncaknya adalah jihad fi sabilillah. Mereka selain mengerjakan yang wajib, cinta kepada segala pintu kebaikan ; berpuasa sunnah, qiyamullail, bersedekah, membaca al Qur’an dengan tadabbur, banyak bedzikir dalam segala kondisi, menjaga hati dari segala hal yang dapat merusaknya, menjaga lisan dari ucapan-ucapan yang tidak bermanfaat, lebih senang menyalahkan diri sendiri daripada menyalahkan orang lain, sehingga banyak didapat ucapan mereka :
” يا ليتني شجرة تعضد… !”
“Alangkah baiknya kalau aku jadi sebuah pohon yang dipotong saja… !”
Mereka sibuk dengan berbagai kebajikan yang dapat mendekatkan diri mereka kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Mereka jauh dari hawa nafsu yang membelenggu, karena mereka meyakini :

المحبوس من حبس قلبه عن ربه تعالى والمأسور من أسره هواه.
Yang disebut sebagai orang yang terpenjara adalah orang yang hatinya terpenjara (sehingga tidak dapat berhubungan dengan) Robbnya ta’ala. Dan yang disebut sebagai orang yang tertawan adalah orang yang ditawan oleh hawa nafsunya.
Mereka jauh dari perbuatan bid’ah dan ahli bid’ah, selain jauh dari dosa dan maksiat. Lihatlah ucapan Abdullah bin al Mubarok rahimahullah :
رأيت الذنوب تميت القلوب و قد يورث الذلّ إدمانها
وترك الذنوب حياة القلوب وخير لنفسك عصيانها
وهل أفسد الدين إلاّ الملوك و أحبار السوء و رهبانها
Aku melihat dosa-dosa itu mematikan hati
Terus bergumul dengannya hanyalah mengakibatkan kehinaan
Dan meninggalkan dosa-dosa itu hidupnya hati
Untuk dirimu, yang terbaik adalah menjauhinya
Tak ada yang merusak dien, selain para raja (yang dholim)
Dan para pendeta serta rahib yang busuk (ulama ‘ su’)
Generasi as Salaf adalah generasi yang menjunjung persaudaraan dan persatuan umat Islam, ruhama’ antar mereka, dan tegas serta keras terhadap orang kafir. Mereka senantiasa berjihad fi sabilillah, karena ia perisai umat Islam dari kehinaan sekaligus pembawa kejayaaan Islam, itulah di antara ibadah mereka :
عليك بالجهاد فإنه رهبانية الإسلام
Hendaklah kamu berjihad, karena sesungguhnya Jihad Adalah kerahiban Islam.
Hati mereka terikat selalu dengan al-Qur’an, karena ia dapat meluluh-lantahkan kekerasan. Lihatlah satu contoh yang disampaikan oleh shohaby Jubair bin Muth’im radliyallahu ‘anhu :
عن جبير بن مطعم قال : سمعت ر

سول الله ص م يقرأ في المغرب بالطور فلما بلغ هذه الأية : { أَمْ خُلِقُوا مِنْ غَيْرِ شَىْءٍ أَمْ هُمُ الْخَالِقُونَ {35} أَمْ خَلَقُوا السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضَ بَل لاَّيُوقِنُونَ {36} أَمْ عِندَهُمْ خَزَآئِنُ رَبِّكَ أَمْ هُمُ الْمُصَيْطِرُونَ {37} كاد قلبي أن يطير.
Aku mendengar Rasulullah saw membaca surat at-Thuur dalam shalat maghrib. Ketika sampai ayat “Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatupun ataukah mereka yang menciptakan (diri mereka sendiri (Ataukah mereka telah menciptakan langit dan bumi itu; sebenarnya mereka tidak meyakini (apa yang mereka katakan( Ataukah di sisi mereka ada perbendaharaan Rabbmu atau merekakah yang berkuasa “? hampir- hampir hatiku terbang.

Ringkasan amalan para sahabat yang menjadi tolak ukur bagi kita adalah, sebagaimana yang dibawakan oleh Imam al Auza’y rahimahullah :
خمس كان عليه أصحاب النبي ` : لزوم الجماعة و اتباع السنة و عمارة المسجد وتلاوة القرآن وجهاد في سبيل الله.
Ada lima perkara yang dipegang erat oleh para sahabat Nabi shollahu ‘alaihi wasallam muhammad shollahu ‘alaihi wasallam : Konsisten terhadap al Jama’ah, mengikuti sunnah, memakmurkan masjid, membaca al Quran dn jihad fi sabilillah.
Kita perlu menginspeksi diri dan membangun perjuangan Islam kita di atas garis as-Salaf . Meskipun masa kita sekarang ini penuh kejahiliyahan, akan tetapi hal itu adalah tanggung jawab kita untuk merubahnya. Ingatlah nasehat Imam asy Syafi’y rahimahullah :
نعيب زماننا والعيب فينا وما لزماننا عيب سوانا
Kita ini mencela zaman kita, padahal aib itu ada pada diri kita,
Bahkan zaman kita ini tidak mempunyai aib selain kita.
Dan senantiasa kita camkan bahwa awal perjuangan kita adalah menundukkan diri kita agar sesuai dengan Islam, sebagaimana nasehat Ali bin Abi Tholib radliyallahu ‘anhu :
ميدانكم الأول أنفسكم فإن انتصرتم عليها كنتم على غيرها أقدر و إن خذلتم فيها كنتم على غيرها أعجز فجربوا معها الكفاح أولا.
Medan kamu yang pertama adalah diri kalian. Jika kamu telah berhasil menundukkannya, untuk menundukkan yang lain kamu akan lebih mampu. Begitu juga jika kamu gagal menundukkannya, kamu lebih lemah untuk menundukkan yan lain. Untuk itu cobalah bergelut dengan diri terlebih dulu.
Kita perlu mengembangkan ilmu dan amal serta menjauhkan diri dari perdebatan-perdebatan yang tidak bermanfaat, karena hal itu menyia-nyiakan waktu dan membuat hati semakin keras. Para as Salaf sepakat bahwa :
إذا أراد الله بعبد شرّا أغلق عنه باب العمل و فتح عليه باب الجدل
Jika Allah subhanahu wa ta’ala menghendaki kesengsaraan bagi seorang hamba, Ia akan menutup pintu amal baginya dan membukakan pintu jidal (debat) baginya.
Semoga kita semua diberikan oleh Allah subhanahu wa ta’ala petunjuk ke jalan yang lurus sampai akhir hayat dengan husnul khotimah, dan diberikan kemudahan untuk berjalan di atas garis Rosulullah shollahu ‘alaihi wasallam dan para ulama as-Salafus Shalih demi mencapai ridlo Allah subhanahu wa ta’ala semata

والله أعلم بالصواب

Amru

Filed under: Aqidah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: