At Taujih

Mengawal Wacana Iqomatuddiin

Khottob

Khottob

Pada awal tahun 1987, Kamp pelatihan Afghanistan selalu penuh dengan mujahidin yang datang dan pergi setiap hari. Pada hari itu, salah seorang komandan pelatihan calon mujahidin yang baru tiba di Afghanistan melihat seorang remaja yang kira-kira masih berumur 17 tahun di barisan depan, berambut panjang dan memiliki jenggot yang belum tumbuh sepenuhnya. Beliau menghampirinya memberi salam dan bertanya: “Siapakah namamu?”, anak itu menjawab: “Khattab”.
Anak ini kemudian tumbuh menjadi salah satu komandan mujahidin yang tangguh, bahkan dijuluki sebagai Khalid bin Walid abad ini. Tidak cukup baginya hanya mengusir Uni Sovyet dari Afghanistan, dia juga mengejar tentara Sovyet ke Tajikistan, Rusia di Chechnya, sampai mengusir Rusia dari Daghestan.

Semasa di Saudi Arabia
Sebelum syahid, identitas asli beliau masih misterius, tetapi setelah itu barulah keluarga dan teman-temannya menceritakan siapa dan bagaimana sejarah beliau.
Beliau dilahirkan di Saudi Arabia dengan nama asli Samir Sholeh bin Abdillah As-Suwailim pada tanggal 26 Muharram 1389 H (14 April 1969M). Menurut Abu Umar (saudara kandung Khattab), beliau mengeyam pendidikan dasar di kota Arar hingga kelas 3. Setelah itu beliau sekeluarga pindah ke kota Tsuqbah (bagian Timur Saudi Arabia) dan menyelesaikan sekolah dasarnya di sekolah Umar bin Khattab.
Lalu beliau menyelesaikan pendidikan Muthawashitah di sekolah Namudzajiyyah dan menyelesaikan Tsawanawiyahnya di kota Khobar. Selulus SMA , beliau meneruskan studi di Perusahaan Minyak ARAMCO melalui program kuliah singkat CBC selama waktu 6 bulan.
Menurut keluarganya, Khattab adalah anak yang cerdas dan pemberani, selalu memperhatikan sekolahnya. Beliau memiliki cita-cita tinggi, dengan berusaha mendapat beasiswa sekolah di luar negeri hingga meraih gelar Doktor. Beliau selalu menulis rencana-rencana beliau untuk masa depan di buku catatan pribadinya.
Di saat Khattab berpikir untuk meraih cita-citanya, peristiwa-peristiwa penting menimpa umat Islam di dunia, seperti invasi Uni Sovyet ke Afghanistan dan Intifadhah di Palestina, mempengaruhi pemikiran beliau yang akhirnya merubah semua rencana masa depan beliau.
Akhirnya sebelum usianya genap 18 tahun, beliau hijrah ke Afghanistan untuk menjawab panggilan ulama-ulama mujahidin saat itu seperti Asy-Syahid (Insya Allah) Syaikh Abdullah Azzam Rahimahullah, Asy-Syahid (Insya Allah) Syaikh Tamim Adnani Rahimahullah serta Syaikh Usamah bin Muhammad Bin Laden Hafizhahullah meskipun orang tuanya sebenarnya tidak terlalu menyetujuinya.

Di Afghanistan (1987-1994)
Beliau menyelesaikan latihan dasar kemiliteran dalam waktu yang singkat. Kecerdasannya mengundang decak kagum para pelatih. Salah seorang pelatih beliau, Hasan As-Sarehi mengatakan bahwa Khattab selalu merayunya agar dia diletakkan di barisan depan mujahidin saat berhadapan dengan tentara Uni Sovyet.
Dalam waktu enam tahun diwaktu usianya belum genap 24 tahun, Khattab telah menjadi salah satu komandan yang disegani oleh Uni Sovyet. Salah satu anak buah beliau pernah bercerita, di waktu dia berkendara mobil, tiba-tiba ban mobil itu bocor. Mereka segera turun untuk mengganti ban mobil tersebut. Di saat itu Khattab tiba, wajahnya tampak gelisah, lalu beliau menyuruh anak buahnya untuk memindahkan mobil tersebut dengan alasan tempat itu tidak cocok untuk mengganti ban. Anak buah Khattab mematuhinya walaupun mereka tahu bisa mengganti ban mobil tersebut tanpa harus memindahkan mobilnya. Tidak selang beberapa lama tiba-tiba jatuh bom tepat di tempat ban mobil tersebut bocor, maka anak buah beliau terkejut. Sejak itu anak buah Khattab semakin patuh terhadapnya. Itu semua adalah pertolongan Allah SWT, ketika seseorang menjadi pemimpin bagi sekelompok orang beriman, maka Allah SWT akan meneguhkan hatinya.
Pernah juga sahabatnya menceritakan bahwa suatu saat setelah terjadi kontak senjata dengan tentara Sovyet, Khattab yang baru tertembak dengan peluru 12,7mm kembali ke kelompoknya dengan terdiam serta menjaga ekspresi wajahnya walaupun sahabatnya tahu ada sesuatu yang tidak beres. Lalu sahabat tersebut bertanya ada apa dengannya. Khattab menjawab bahwa dia baru mendapat luka ringan. Sahabat tersebut membuka dengan paksa jaket yang dikenakan Khattab, tampaklah pendarahan parah karena luka di perut Khattab. Lalu sahabat tersebut berkata: Ini bukan luka ringan!”. Sahabat tersebut membawa Khattab ke garis belakang dengan mobil untuk ke rumah sakit.
Khattab juga ikut andil dalam operasi serta perencanaan penaklukan kota Jallalabad, Khost, dan Kabul di tahun 1993. Pada penaklukan Jallalabad, saat mujahidin mengambil alih kantor polisi yang digunakan intelijen Sovyet, ditemukan dimana-mana arsip tentang Khattab. Ternyata sepak terjang Khattab diawasi setiap hari, dibuktikan dengan adanya laporan harian tentang Khattab. Bagi Sovyet, Khattab telah mengakibatkan kekalahan serius di setiap medan pertempuran.
Khattab tinggal di Afghanistan dalam waktu yang lama, bahkan setelah Uni Sovyet kalah telak dan mundur dari Afghanistan, beliau bersikeras untuk tidak kembali ke rumah. Menurut saudaranya, sesekali Khattab mengirim video rekaman kegiatannya di Afghanistan saat bertempur ataupun di saat tenang bersama teman-temannya. Ayahnya ikut menonton video tersebut, lalu ayah Khattab berkata: “dia bodoh kalau dia ingin pulang!”. Ayahnya menyaksikan kehidupan mujahidin di Afghanistan, hidup dalam merdeka dalam menjalankan syari’at Allah SWT, barulah mengerti mengapa Khattab bersikeras untuk tidak pulang ke rumahnya.

Di Tajikistan (1994-1995)
Setelah Sovyet mundur dari Afghanistan, Khattab mendapat berita bahwa ada peperangan lagi di Tajikistan dengan musuh yang sama (Uni Sovyet). Lalu berangkatlah Khattab bersama sekelompok kecil Mujahidin ke Tajikistan.
Di sini Khattab mendapat banyak pengalaman baru yang berharga. Beliau menghabiskan waktu 4 bulan untuk persiapan dari membeli senjata, amunisi, alat komunikasi, serta kendaraan. Khattab bercerita bahwa menyeberangi sungai Jeihun(dekat perbatasan Tajikistan) yang deras merupakan jihad tersendiri. Pertama kali Khattab hanya melatih sekitar 100-120 mujahidin, lalu meningkat menjadi 300-400 orang dan lebih banyak seterusnya. Di sana keadaannya sangat sulit, persenjataan mujahidin yang minim, medan jihad yang merupakan pegunungan berat dengan ketinggian minimal antara 2500-3000m dari permukaan laut, serta bantuan para donatur yang sulit sampai karena medan berat tersebut, disamping perhatian umat Islam dunia yang kurang terhadap Tajikistan. Tetapi Allah Ta’ala selalu menolong mujahidin yang berjihad ikhlas karena ingin mendapat ridho dari-Nya.
Ketika di Tajikistan, Khattab kehilangan dua jari tangan kanannya karena sebutir bom tangan buatan sendiri. Bom tangan tersebut meletup di tangan beliau dan dua dari jari beliau cedera parah. Para Mujahid yang bersama-sama dengan beliau menyuruh beliau pergi ke Peshawar untuk mendapatkan pengobatan, tetapi Khattab enggan. Sebaliknya beliau meletakkan sedikit madu pada luka tersebut (seperti Sunnah Rasulullah SAW) dan membalutnya sambil menegaskan bahawa tidak perlulah beliau ke Peshawar. Jari-jari beliau kekal dalam balutan sedemikian sejak dari hari tersebut.

Perang Chechnya I (1995-1996)
Pada tahun 1995 terjadilah pemberontakan di Chechnya. Awalnya Khattab berpikir bahwa pemberontakan tersebut yang dipimpin oleh Jenderal Jauhar Dudayev merupakan pemberontakan jenderal komunis biasa dan ini hanya konflik internal dalam Rusia sendiri. Memang media-media di dunia berusaha menutupi masyarakat dunia untuk melihat konflik ini dari pandangan Islam.
Tapi setelah mengetahui yang sebenarnya bahwa Chechnya adalah wilayah dengan penduduk Islam yang ingin memberlakukan syari’at Allah Ta’ala dan lepas dari Rusia, barulah beliau bersiap-siap untuk menyambut panggilan jihad tersebut. Ucapan Khattab waktu itu adalah: “Ketika aku melihat kumpulan-kumpulan orang Chechen memakai kain lilit kepala dengan ‘Laa ilaha illallah…’ tertulis di atasnya dan mengumandangkan takbir, aku memutuskan jihad sedang berlangsung di bumi Chechnya dan aku harus ke sana”.
Khattab berangkat ke Chechnya bersama 12 mujahidin dari Daghestan, tujuan awal beliau ialah untuk melatih mujahidin disana. “Kami masuk Chechnya dan bertemu dengan sekelompok anak muda yang selalu menjaga sholat mereka. Mereka komitmen ingin berjihad fi sabilillah. Saya sangat heran hingga demi Allah saya menangis ketika melihat mereka,…..” , ujar Khattab.
Setelah itu Khattab memulai mengadakan program latihan dasar. Tak disangka sambutan dari pemuda di sana sangat luar biasa dan mereka berbondong-bondong untuk bergabung dengan mujahidin.
Pernah ada seorang nenek yang menghampiri Khattab dan berkata: “Saya ingin lepas dari Rusia dan hidup tenang menjalankan ajaran Islam, kami tidak ingin hidup dijajah Rusia”. Lalu Khattab bertanya: “apa yang bisa engkau sumbangkan bagi mujahidin?”. Lalu nenek itu menjawab: “aku tidak punya apapun yang bisa disumbangkan untuk mujahidin kecuali jaket yang sedang saya pakai ini, berikanlah kepada mujahidin”. Mendengar ucapan nenek itu, Khattab menangis lagi dan mulai saat itu Khattab berjanji tidak akan meninggalkan mujahidin di Chechnya, akhirnya tidak sekedar melatih, beliau juga bergabung dalam berbagai operasi mujahidin di Chechnya.
Pada 16 April 1996 Khattab memimpin 50 mujahidin menyerang konvoi kendaraan lapis baja Rusia di Shatoi. Sumber resmi Rusai mengatakan 50 kendaraan lapis baja Rusia hancur serta 223 pasukan Rusia tewas termasuk 26 perwira senior mereka. Insiden ini menggemparkan Rusia sehingga menyebabkan pemecatan 2 sampai 3 orang jenderal Rusia di Moskow dan Boris Yeltsin mengumumkan berita ini di parlemen Rusia. Lima mujahid syahid(Insya Allah) didalam operasi tersebut. Serangan ini juga berhasil diabadikan dalam video oleh mujahidin.
Setelah banyak serangan lainnya, akhirnya pada Agustus tahun 1996 mujahidin dibawah pimpinan Asy-Syahid(Insya Allah) Shamil Basayev Rahimahullah melakukan serangan besar-besaran ke Grozny ibukota Chechnya. Rusia pun kalah dan mundur total dari Chechnya. Lalu Khattab diangkat sebagai salah satu jenderal di Chechnya, di dalam pelantikannya juga hadir dua panglima Chechnya yaitu Shamil Basayev dan Salman Raduyev.
Menurut data statistik resmi Rusia, tentara mereka yang tewas dalam perang selama 3 tahun di Chechnya lebih banyak daripada selama 10 tahun mereka perang di Afghanistan.

Masa-Masa Tenang Setelah Rusia Mundur dari Chechnya
Setelah Rusia mundur, mulailah babak baru perjuangan mujahidin Chechnya. Khattab bersama mujahidin lain diminta pemerintah untuk mulai mengorganisir pasukan di seluruh Chechnya. Beliau membangun kamp-kamp pelatihan di Chechnya dan menjalin hubungan dengan seluruh pemuda di Kaukasus. Beliau bersama mujahidin juga membangun sekolah-sekolah dan fasilitas untuk mendidik para juru dakwah yang akan dikirim ke seluruh pelosok untuk berdakwah.
Banyak pemuda yang datang dari seluruh Kaukasus seperti Ingusetia, Daghestan, Uzbekistan, dan Tartaristan serta daerah lainnya. Aktifitas ini benar-benar membuat Rusia tidak tenang.
Setelah perang, Chechnya dilanda kesulitan ekonomi karena embargo dunia dengan diblokadenya perbatasan Chechnya dari seluruh wilayah oleh Rusia, maka dari itu para mujahidin membuat program bantuan ekonomi yang didapat dari para dermawan Islam di Saudi Arabia serta negara berpenduduk Islam lain.
Khattab pernah bertanya kepada seorang wanita tua di Chechnya: “Pernahkah ada bantuan luar negeri kepada kalian?”, wanita itu menjawab: “palang merah internasional pernah datang memberi kami 3 kg gula dan 4 kg tepung serta 2 liter minyak untuk waktu 2 tahun ”, sambil tertawa Khattab berkata: “itulah bantuan dari lembaga bantuan dunia!”.
Dimasa tenang ini juga Khattab melangsungkan sunnah Rasulullah ` yaitu menikah dengan salah satu wanita setempat. Begitu juga dengan mujahidin-mujahidin arab serta yang berasal dari daerah lain, mereka membaur dengan orang asli Chechnya dan banyak yang menikah dengan wanita setempat sehingga mereka telah menjadi keluarga.
Dalam masa tenang ini banyak sekali mata-mata Rusia yang dikirim untuk melakukan teror bom serta membunuh petinggi-petinggi mujahidin seperti Shamil Basayev, Ashlan Maskhadov, bahkan Khattab sendiri. Pernah mujahidin menangkap 37 orang agen intelijen Rusia yang menyusup ikut berlatih bersama mujahidin di kamp pelatihan dengan maksud untuk membunuh Shamil Basayev.
Semakin lama jumlah mujahidin di Chechnya semakin banyak, hingga pada suatu saat masa tenang ini berakhir setelah terjadinya peristiwa di Daghestan.

Perang di Daghestan dan Persiapan Perang Chechnya II
Daghestan merupakan wilayah yang berpendudukan Islam seperti Chechnya. Penduduk setempat sudah bosan dengan ulah pemerintah dan polisi setempat, di mana ada polisi, maka di situ pula terjadi pencurian, maksiat, mabuk-mabukan dan suap-menyuap. Maka penduduk suatu daerah disana mengusir pejabat dan polisi lokal serta memberlakukan syari’at Islam. Setelah itu penduduk dapat hidup tenang, kembali kerja di ladang, melakukan ibadah dan aktifitas lain dengan normal. Akhirnya daerah lain di Daghestan banyak yang ikut mengusir pejabat dan polisi lokal mereka dan ikut melaksanakan syari’at Islam.
Saat itu pemerintah lokal meminta bantuan kepada Rusia, maka penduduk setempat meminta bantuan kepada mujahidin di Chechnya. Rusia mengepung dan membombardir desa Karamakhiyo serta dua desa lainnya yang didalamnya terdapat 1000-an anak-anak dan 500-an wanita.
Khattab berkata: “Kalau orang-orang Daghestan ingin menyelesaikan masalah mereka secara internal boleh-boleh saja, tapi jika tentara Rusia ikut campur menyerang, maka tidak ada alasan yang melarang kami untuk membantu penduduk Daghestan mempertahankan diri,……….dan menurut syari’at, kita tidak boleh berdiam diri dan wajib membantu mereka.(muslim Daghestan)”. Akhirnya setelah mendapat persetujuan dari 17 ulama Daghestan serta majelis syuro’ mujahidin Chechnya, mujahidin yang dipimpin oleh Khattab sendiri masuk ke Daghestan pada tanggal 22 Desember 1997.
Mujahidin memukul Rusia di daerah Boltov serta daerah-daerah lain di Daghestan, Rusia mendapat kerugian yang tak terhingga di Daghestan, setiap konvoi kendaraan lapis baja mereka mendapat serangan sporadis dari mujahidin dan semua pos mereka di Daghestan direbut oleh mujahidin. Menurut laporan, Rusia kehilangan 300 kendaraan tempur mereka.
Karena Rusia merasa lelah di Daghestan akhirnya mereka menarik seluruh pasukan mereka mundur dari Daghestan. Setelah Rusia mundur dari Daghestan, maka mujahidin menarik personel mereka dari Daghestan hanya dalam waktu semalam. Dalam pertempuran ini Amir Khattab kehilangan seorang komandan bawahan beliau yaitu Asy-Syahid(Insya Allah) Abubakar Aqeedah.

Perang Chechnya II
Sewaktu Rusia mundur dari Chechnya, mereka sudah berjanji akan kembali lagi. Kali ini Rusia yang dipimpin Putin sudah mempersiapkan dengan matang untuk menyerang dan merebut kembali Chechnya dari tangan para mujahidin. Mereka merasa yakin dapat dengan mudah merebut Chechnya setelah mempelajari setiap gerak-gerik mujahidin. Padahal mereka tidak tahu Khattab dan para mujahidin lain sudah mempersiapkan kejutan untuk mereka.
Operasi yang terkenal saat perang Chechnya kedua ini ialah operasi Ramadhan 1419 H, waktu itu mujahidin benar-benar memberi pelajaran yang tak terlupakan bagi tentara Rusia dan serangan ke markas OMON (Pasukan Khusus Komando Rusia), operasi ini juga berhasil direkam dengan video oleh mujahidin.
Perlu diketahui semua operasi mujahidin di Chechnya terlebih dahulu meminta persetujuan dari Majelis Syuro’ Mujahidin yang pada waktu itu diketuai oleh Asy-Syahid(Insya Allah) Syaikh Abu Umar Asy-Syaif Rahimahullah (murid Syaikh Muhammad bin Sholeh Al-Utsaimin Rahimahullah).

Masa-Masa Menuju Ke Alam Baqa’
Setelah 14 tahun berada di medan jihad, akhirnya Khattab syahid pada Maret 2002. Khattab tidak mati terbunuh di medan pertempuran, Khattab tidak mati terbunuh karena terkena peluru atau karena pecahan bom, atau ditengah gempuran jet tempur yang sering beliau alami semasa hidupnya. Seluruh kekuatan militer Rusia tidak mampu menyentuh tubuh Khattab yang telah memaksa mereka merasakan pahitnya kekalahan. Namun beliau meninggal dunia justru dalam keadaan tenang bersama teman-temannya sesama mujahidin.
Khattab meninggal sebagai korban pengkhianatan. Khattab dibunuh oleh salah seorang kurir surat beliau. Kurir surat tersebut melumuri racun di surat yang dikirim untuk Khattab dari salah seorang pimpinan mujahidin. Waktu itu umurnya belum genap mencapai 33 tahun, tetapi hampir separuh umurnya dihabiskan di medan jihad.
Demikianlah profil mujahid yang telah mendermakan umurnya untuk islam. Kita berdo’a pada Allah k semoga dapat berkumpul bersamanya di jannah. Tetapi dengan syarat selalu mencintai merka, mendoakannya dan mencontoh perjuangannya. (Amru, dari sasak.net dengan perubahan)

Filed under: Profil Mujahid

One Response

  1. ahsan mengatakan:

    met berjuang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: