At Taujih

Mengawal Wacana Iqomatuddiin

ust. abdullah sungkar

http://www.archive.org/details/audio_abdullah_sungkar

Filed under: Audio ceramah

NASIONALISME, KEDOK MELANGGENGKAN KEKUASAAN

• Setiap orang yang ingin menegakkan islam dianggap anti nasionalisme. Nasionalisme seperti sebuah standart kebahagiaan Indonesia.

Para elit politik yang mengkalim diri ’nasionalis’, selalu melihat Islam tidak nasionalis dan mengancam Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Tak hanya itu, orang-orang yang menyodorkan syari’at islam untuk diterapkan di negeri ini sebagai solusi berbagai masalah desebut dengan tidak “nasinalis”. Benarkah demikian ?
Padahal inti nya adalah menyejahterakan bangsa Indonesia. Bukan nasinalisme dan anti nasionalisme. Apa gunanya kalau ternyata tidak membuat sejahtera dan hanya menyengsarakan.
Bahkan ketika salah satu partai yang berasaskan islam berusaha untuk mengangkat calonnya, dan berhadapan dengan parpol-parpol berazas pancasila mereka mengatakan “ kita sedang berhadapan dengan musuh idiologis. Presiden SBY adalah musuh politik, tapi ada yang lebih dari itu, yaitu musuh ideologis, dan kita sedang berhadapan dengan musuh ideologis”. (www.detik.com 15 Maret 2006)
Jika sikap mereka terhadap sesama parpol saja demikian, apa lagi dengan orang-orang yang diluar parpol ? mungkin akan dijuluki dengan julukan-julukan yang lebih kasar. Sudah banyak para pejuang-pejuang islam zaman dahulu di sebut pemberontak hanya karena ingin menerapkan syari’at islam di negeri ini. Hanya karena ingin menggantikan undang-undang negeri ini, dan menyelamatkan negeri ini dari kehancuran moral dianggap sebagai orang yang tidak nasionalis. Mareka akan tetap mempertahankan aspek pluralisme dan Bhinneka Tunggal Ika, karena mereka tidak senang jika pluralisme dan Kebhinnekatunggalikaan terancam, katanya.
Permasalahan ini sebenarnya merupakan sesuatu yang penting ditinjau dari sudut pemikiran Islam. Jika dilihat pada umumnya, sebenarnya mereka menebarkan fitnah atas perjuangan harakatul ishlah (gerakan perbaikan). Mereka telah menumpas perjuangan generasi muda dalam usahanya memperbaiki negeri ini. Mereka tidak menengok kebelakang peran pejuang-pejuang islam Indonesia. Dan dibalik semua itu, ada tujuan yang mereka sembunyikan yaitu melanggengkan kekuasaan elit politik di negeri ini.

Islam dan Nasionalisme
Nasionalisme menjadi sebuah isme yang dianut oleh rakyat setiap negara. Islam menjadikan dakwahnya bersifat universal dan integral, dan melihat bahwa tidak ada sisi baik yang ada pada sebuah isme, kecuali telah dirangkum dan diisyaratkan dalam dakwah islam ini. Banyak orang terpesona dan mengaku sebagai seorang nasionalis dengan persepsi nasionalisme yang mereka anut masing-masing.
Jika yang dimaksud nasionalisme oleh para penyerunya adalah mencintai tanah air, akrab dengannya, rindu kepadanya, dan ketertarikan pada hal di sekitarnya, maka sesungguhnya hal ini telah tertanam dalam fitrah manusia di satu sisi. Yaitu negeri yang menerapkan islam dan berusaha mengatur manusia dan hukum-hukum islam. Bahkan syaikh Abdullah Azzam menulis buku Ad difa’ ‘an aroodhil muslimiin ahammu furudhul a’yaan (membela tanah air umat islam sesuatu yang paling penting diantara kewajiban-kewajiban lain).
Adalah sahabat Bilal a yang telah mengorbankan segalanya demi akidah dan agama, adalah juga Bilal yang mengungkap kerinduan pada Mekah melalui bait-bait syair yang lembut dan indah.

Oh angan … mungkinkah semalam saja aku dapat tidur
Di suatu lembah, dan rumput idkhir serta teman di sekitarku
Mungkinkah sehari saja aku mendatangi mata air mijannah
Mungkinkah Syamah dan Thafil nampakkan diri padaku

Rasulullah SAW tatkala mendengar gambaran tentang Mekah dari Ushail, tiba-tiba saja air mata beliau bercucuran, karena rindu padanya. Maka beliau berkata, ”Wahai Ushail, biarkan hati ini tenteram.”
Dalam suatu hadist Rasulullah ` bersabda :
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَدِىِّ بْنِ حَمْرَاءَ الزُّهْرِىِّ قَالَ رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- وَاقِفًا عَلَى الْحَزْوَرَةِ فَقَالَ : وَاللَّهِ إِنَّكِ لَخَيْرُ أَرْضِ اللَّهِ وَأَحَبُّ أَرْضِ اللَّهِ إِلَى اللَّهِ وَلَوْلاَ أَنِّى أُخْرِجْتُ مِنْكِ مَا خَرَجْتُ
Dari Abdullah bin Adi bin Hamro’ Az zuhri berkata : saya melihat Rasulullah ` di atas kendaraannya, kemudian bersabda : Demi Allah, sesungguhnya engkau (Makkah) adalah sebaik-baik bumi Allah dan bumi Allah yang paling kucintai. Seandainya aku tidak dikeluarkan darimu (Makkah) maka saya tidak akan keluar. (HR. Muslim, At Tirmidzi, Ahmad ).
Jika yang dimaksud nasionalisme oleh para penyerunya adalah keharusan bekerja serius untuk membebaskan tanah air dari penjajah, mengupayakan kemerdekaannya, serta menanamkan makna kehormatan dan kebebasan dalam jiwa putra-putrinya, maka sesungguhnya kaum muslimin Indonesia telah memberikan tauladan terbaik di saat perebutan kemerdekaan tanah air Indonesia dari tangan penjajah.
Hampir mayoritas perjuangan bangsa ini dipimpin oleh kaum santri dengan keberanian yang luar biasa, dan ketulusan yang tidak terbeli dengan sesuatu yang lebih murah nilainya.
Jika yang dimaksud nasionalisme oleh para penyerunya adalah memperkuat ikatan antar anggota masyarakat di satu wilayah dan membimbing mereka menemukan cara pemanfaatan kokohnya ikatan untuk kepentingan bersama, maka Islam menganggap itu sebagai kewajiban yang tidak dapat ditawar. Nabi ` telah bersabda, ”Dan jadilah kamu hamba-hamba Allah yang bersaudara.”
Mereka yang mengaku sebagai seorang yang nasionalis ternyata dilapangan hanya untuk melanggengkan keuasaan, menumpuk harta, mengeruk kekayaan dan bahkan menggunakan fasilitas-fasilitas pemerintah untuk kepentingan pribadi dan keluarga. Lihatlah ! berapa banyak rumah mewah yang mereka miliki, mobil mahal dan seluruh perabotan serba mahal. Jauh jika kita melihat sejarah penguasa-penguasa islam. Mereka hidup sederhana dan tidak akan mungkin menumpuk harta, sedangkan rakyat dibiarkan hidup sengsara. Maka jangan heran jika negeri ini tidak akan menjadi sejahtera karena undang-undang dan peraturannya hanyalah diperalat penguasa untuk kelompok tertentu. Mereka takut jika islam diterapkan, karena seluruh kecurangan-kecurangan tidak akan diberikan ruang gerak sedikitpun. Bahkan Rasulullah ` akan menghukum anak beliau jika mencuri. Sebagaimana bersabdanya :
لَوْ أَنَّ فَاطِمَةَ ابْنَةَ مُحَمَّدٍ سَرَقَتْ لَقَطَعْتُ يَدَهَا
Seandainya Fatimah binti Muhammad mencuri, akan aku potong tangannya (HR. Bukhori). Sungguh ajaran yang agung. Sebaliknya dinegeri yang nasionalis ini berapa pencuri-pencuri berdasi yang telah diadili ?, sebaliknya, mereka dilindungi oleh kroni-kroninya.
Jika nasionalisme yang mereka anut hanya memusatkan seluruh perhatian tertuju kepada kemerdekaan negaranya saja, dan kemudikan memfokuskan pada aspek-aspek fisik semata, maka Islam lebih luas daripada itu. Islam membimbing seluruh bangsa dengan cahaya menuju rahmat. Semuanya dilakukan bukan untuk mencari harta, popularitas, kekuasaan atas orang lain, dan bukan pula untuk memperbudak bangsa lain, akan tetapi untuk mencari ridha Allah semata, membahagiakan alam denganNya. Sehingga seluruh dunia mampu bekerjasama membangun dunia yang penuh rahmat Allah k.
Penutup
Tidak dapat disangkal bahwa Islam merupakan komponen penting yang turut mem-bentuk dan mewarnai kehidupan masyarakat Indonesia dari waktu ke waktu. Perjuangan umat Islam merupakan suatu proses ke arah pembentukan pola tatanan baru dalam dinamika kehidupan beragama, berbangsa, dan bernegara.
Dalam kurun waktu permulaan abad 20 hingga abad 21 sekarang ini, pergerakan Islam memberikan peran tersendiri di negeri ini. Perjalanan sejarah umat Islam di Indonesia memperlihatkan peranan yang amat dominan dalam menyuarakan dan menegakkan kemerdekaaan dalam segala aspeknya; menentang penjajahan, mengupayakan kemerdekaan politik untuk membebaskan diri dari belenggu pen-jajahan, perjuangan bersenjata dalam perang kemerdekaan, perjuangan di alam pembangunan dalam mengisi kemerde-kaaan, hingga menyuarakan kemerdekaaan berpikir, umat Islam tampil paling depan dengan segala konsekwensinya. Tapi, banyak kalangan yang melupakan peran tersebut dan menghalangi para penegak syari’at dan menamakan dengan nama yang tak pantas. Mereka tidak tahu bahwa tidak ada solusi untuk memperbaiki negeri ini kecuali dengan syari’at islam.
Jika dalam kemerdakaan, jutaan darah umat Islam telah tumpah ditambah sikap hidupnya yang senantiasa akan disumbangkan demi kemerdekaan Negara ini, lantas apa sumbangan Negara ini terhadap islam ? (Amru)

Filed under: syubhat

BERDALIL DENGAN MASLAHAT DAKWAH

Para pengusung demokrasi mengatakan : keikut sertaan kami dalam pesta demokrasi tidak lain untuk mendapatkan kemaslahatan yang banyak. Bahkan mereka menyangka bahwa majlis demokrasi adalah sebuah maslahah mursalah dan dakwah. Dakwah kepada kebenaran, mengubah kemungkaran, meringankan tekanan terhadap da’I dan dakwah islam. Dan bahkan meninggalkan kemaslahatan ini berarti telah meninggalkan kesempatan untuk menerapkan syari’at islam di bumi. Sebaliknya kesempatan tersebut akan dimanfaatkan oleh orang-orang nashoro, komunis dan yang lainnya. Semuanya berkisar seputar maslahah.
Berdalil dengan maslahat adalah pengakuan bahwa memang tidak ada satupun dalil syar’i yang shahih yang membolehkan pekerjaan tersebut. Akan tetapi perlu dipahami bahwa, maslahah tidak dapat dipakai ketika dalil-dalil syar’i telah datang dengan jelas.
Sedangkan masuknya ke parlemen bukanlah sebuah maslahah yang diterima dengan pertimbangan al qur’an dan as sunnah. Karena seluruh suluruh dari tujuan syari’at, juga berbagai tujuan dan sarana lainnya, semuanya berfungsi sebagai sarana yang dizinkan untuk meraih tujuan yang paling tinggi dan pokok dari seluruh prinsip. Karena tujuan yang paling tinggi dan prinsip yang paling pokok inilah Allah Ta’ala menciptakan makhluk, mengutus para rasul, menurunkan berbagai kitab suci, mensyariatkan jihad, wala’ dan bara’. Tujuan yang paling tinggi tersebut adalah mengesakan Allah ta’ala semata dengan menujukan kepada-Nya seluruh bentuk ibadah lahir dan batin, serta mengkufuri seluruh yang dituhankan, diibadahi dan ditaati selain Allah Ta’ala. Allah ta’ala berfirman :
      
“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku”. (QS. 51:56)
            •     
“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan keta’atan kepada-Nya dalam(menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan meunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.” (QS Al Bayyinah : 5)
    •       
“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan):”Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu”, (QS An Nahl 36)
Terbukti kondisi orang-orang yang mendukung keikut sertaan dalam parlemen bertentangan secara total (diametral) dengan tauhid, dan tujuan agung dien ini dan bahkan merusak tauhid. Dengan demikian secara akal dan syariat, maslahat yang mereka nyatakan adalah maslahat batil yang tidak disahkan oleh syariat, sehingga tidak bisa dijadikan dalih (bolehnya berjuang lewat parlemen).

Syarat sebuah maslahah
Jika memang mereka memakai dalil maslahah, maka hal tersebut haruslah dikaji secara mendalam. Karena maslahah tidak bias diambil kecuali dengan syarat. Diantara syarat tersebut adalah :
1. hendaklah maslahat tersebut tidak bertentangan dengan dali-dalil Al Qur’an dan As sunah. Jika maslahat tersebut bertentangan dengan satu nash saja dari Al Qur’an atau as sunah, maka maslahat tersebut bukan maslahat yang disahkan, melainkan kerusakan yang harus dijauhi. Kondisi para pendukung pejuang lewat parlemen ini ternyata banyak menyelisihi nash-nash Al Qur’an dan as sunah. Diantaranya diamnya mereka dari pelecehan hokum Allah k tentang halal dan haram, bersikap lunak terhadap orang-orang kafri dan lain sebagainya. Dengan demikian, tidak sah menganggap kondisi mereka tersebut sebagai sebuah maslahat yang disahkan oleh syariat.
2. Syarat lainnya adalah maslahat tersebut tidak mengakibatkan hilangnya maslahat lain yang lebih penting atau setaraf. Merupakan tindakan kesia-siaan yang sama sekali tidak bermanfaat. Sementara seorang mukmin dilarang berbuat kesia-siaan dan menghambur-hamburkan waktu untuk kegiatan yang tidak ada faedahnya. Permisalannya adalah bagaikan orang yang bekerja demi meraih keuntungan satu dinar, namun pada saat yang bersamaan pekerjaannya menyebabkan hilangnya keuntungan satu dinar.
3. Di antara syarat lainnya adalah bahwa berdalil dengan maslahat atau maslahat mursalah membutuhkan ilmu dan pemahaman tentang skala prioritas sesuai dengan urutan dan urgensi tujuan syariat, bukan berdasar perkiraan orang-orang yang membawa induk kerusakan namun menganggapnya sebagai maslahat, dan menganggap berada di jalan yang benar !!!!.
Demikian juga, berdalil dengan maslahat memutuhkan ketaqwaan, sikap wara’ dan khasyah kepada Allah Ta’ala. Sehingga maslahat (kepentingan / keuntungan) pribadi tidak ikut bermain dengan mengatas namakan maslahat dakwah. Dhahirnya bekerja untuk maslahat dakwah, namun sejatinya dalam batin bekerja untuk maslahat pribadi atau partai. Hal ini akan anda lihat dengan jelas ketika menyaksikan ujian terendah sekalipun yang mempertaruhkan antara maslahat dakwah dengan maslahat pribadi atau partai .
Maslahat dakwah, sering kali hanyalah sebuah kalimat kebenaran yang diselewengkan untuk melakukan sebuah kebatilan, terlebih lagi di kalangan pengikut bid’ah dan hawa nafsu, para pencari kursi, kedudukan dan jabatan dalam pemerintahan para thaghut !!!.
Sayid Qutub mengatakan dalam Fi Dzilalil Quran :” Sesungguhnya istilah maslahat dakwah wajib dibuang dari kamus para aktivis dakwah. Karena istilah ini menggelincirkan dan menjadi pintu masuk setan. Setan masuk melalui piintu ini ketika sulit baginya masuk lewat pintu maslahat pribadi. Maslahat dakwah ternyata sudah berubah menjadi berhala yang disembah oleh para aktivis dakwah, bersamaan dengan itu mereka melupakan metode dakwah yang orisinil. (hukmul islam fi ad dimukrotiyah, Abu Bashir).

Berdalih dengan qoidah akhoffu dhoruroini (mengambil kerusakan yang paling ringan).
Menempuh salah satu dosa yang teringan itu terjadi tanpa adanya kesengajaan atau perencanaan niat sebelumnya. Melakukannya disebabkan oleh kondisi yang memaksa dan membolehkan untuk memilih perbuatan buruk yang teringan di antara dua keburukan, di mana seseorang dipaksa untuk memilih salah satu dari dua keburukan yang sama sekali tidak bisa ia hindari. Dalam kondisi seperti ini, kaedah tadi dipakai ; pilihan yang paling sedikit keburukannya dan paling sedikit menyelisihi syar’i, itulah yang dikerjakan. Manakala paksaan atau kondisi darurat tersebut sudah hilang, ia tidak boleh lagi melakukan keburukan tersebut atau terus menerus melakukannya karena kaedah ushuliyah menyatakan ,” Apa yang boleh karena udzur, menjadi tidak boleh jika udzur tersebut hilang.”
Perkataan syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dan para ulama lain dalam masalah kaedah ini yang dijadikan dalih oleh para pendukung demokrasi ini, semuanya terikat oleh syarat ini. Pertanyaan kami, dimana posisi mereka dibandingkan syarat ini sehingga mereka (berdalih) menggunakan kaedah “memilih keburukan teringan dari dua keburukan) ? anda melihat mereka terus menerus melakukan berbagai ketergelinciran dan pelanggaran syariat yang sudah tersebut di depan, karena kondisi terpaksa dan darurat, ataukah karena melakukannya dengan kebebasan dan hak penuh mereka untuk memilih, dan menganggapnya sebagai sebuah jihad fi sabilillah ???
Ada perbedaan antara orang yang sengaja mencari-cari hal yang haram dan medan fitnah —sebagaimana kondisi para pendukung demokrasi—kemudian ia terjatuh dalam kondisi terpaksa dan darurat, dengan orang yang sengaja lari, menjauhi dan tidak sedikitpun bermaksud kepada hal yang haram dan kondisi fitnah, lantas ditakdirkan berada dalam kondisi terpaksa dan darurat. Orang yang pertama sama sekali tidak mempunyai udzur kalau ia terjatuh dalam hal yang dilarang syariat, kaedah “memilih keburukan teringan dari dua keburukan “ tidak berlaku atasnya. Sedang orang kedua mempunyai udzur kalau terjatuh dalam hal yang dilarang syariat, dan kaedah “memilih keburukan teringan dari dua keburukan “ tidak berlaku atasnya. Hanya orang kedua saja yang boleh menggunakan kaedah “memilih keburukan teringan dari dua keburukan “.
(b)- Syarat kedua ; maslahat yang ingin diraih dari melakukan keburukan tersebut harus lebih besar dari kerusakan yang dilakukan. Dengan demikian, maslahat apa yang akan diraih oleh kalangan pendukung demokrasi, jika mereka sendiri terus menerus melakukan induk segala kerusakan dan keburukan, yaitu kesyirikan dan kekafiran ????
Maslahat mana lagi yang lebih besar dari tauhid, dan kerusakan mana lagi yang lebih besar dari kerusakan syirik ????
(c)- Syarat ketiga ; sudah tidak ada jalan lain yang masyru’ (ditetapkan syariat) dalam rangka menolak kerusakan tersebut atau merealisasikan maslahat tersebut. Sementara dalam permasalahan berjuang lewat parlementer ini, masih ada metode syar’i lain demi menolak kerusakan ini.
(d)- Syarat keempat ; kondisi darurat itu diperkirakan sesuai dengan kebutuhan. Maka tidak boleh berluas-luas (terlalu bersikap lapang) dalam melakukan hal yang dilarang syariat melebihi tuntutan kondisi darurat. Kaedah ushuliyah menyatakan,” Jika meluas, akan dipersempit.”
Kalangan pendukung demokrasi adalah orang yang paling luas membuka pintu melakukan hal yang dilarang syariat dengan mengatas namakan kondisi darurat palsu yang tidak ada realitanya.
(e)- Jika kerusakan dan kemaslahatan berimbang, maka didahulukan menolak kerusakan daripada meraih kemaslahatan. Dalam masalah perjuangan lewat jalur parlemen ini, kerusakan-kerusakan besar dihadapkan dengan kemaslahatn kecil yang sebagian besarnya palsu dan tidak ada realitanya.
(f)- Ketika memilih bekerja dalam lembaga majelis permusyawaratan rakyat, para anggota parlemen tidak memilih keburukan teringan dari dua keburukan, melainkan memilih keburukan yang paling berat. Mereka memilih keburukan yang tidak ada lagi keburukan di atasnya, mereka memilih keburukan kesyirikan dan kekafiran.
Mungkin tulisan ini cukup menyakitkan bagi saudara-saudara kita yang berpartai. Akan tetapi tidaklah kami menyampaikan kecuali karena ingin saudara-saudara kami menjauhi sistim syirik ini, serta bersama-sama mendapatkan keridhaan Allah Ta’ala. Dan kemudian memilih cara yang ditempuh Rasulullah ` dalam menegakkan negeri madinah. Karena kemuliaan itu datang dengan mengikuti sunnah Rasulullah `. dan sunnah Rasulullah ` dalam menegakkan daulah adalah dakwah, amar ma’ruf nahyu munkar serta jihad fisabililllah. (Amru, nukilan dari buku hukmul islam fi ad dimukrotiyah, karya Abu Bashir dengan penambahan).

Filed under: syubhat

Khalid Al Islambuly [Eksekutor Anwar Sadat (fir’aun modern)

Sejarah Islam mengabadikan bahwa Mesir adalah sebuah negeri yang melahirkan Fir’aun. Sebuah nama yang diabadikan Allah untuk mewakili manusia yang mengaku dirinya Tuhan. Fir’aun yang terlahir di negeri ini ternyata tidak hanya di zaman nabi Musa ‘alaihi salam saja, namun sampai detik inipun Fira’un-Fir’aun baru masih bercokol di pucuk pimpinan Mesir. Allah Maha Adil. Allah melahirkan ‘Fir’aun’, Allah pun menurunkan ‘Musa’ sebagai sosok Mujahid yang gagah berani menentang kedzaliman.
Adalah Khalid Islambuly, seorang pemuda gagah berani yang menorehkan sejarah emas perjuangan Islam. ‘Azzamnya yang kuat melahirkan sejarah baru pergerakan Islam. Di tangan timnyalah Sadat berhasil di’eksekusi’. Khalid terlahir sebagai anak keempat dari empat bersaudara. Ia terbina dalam keluarga yang ta’at. Menurut keterangan ibunya, Khalid paling menjaga shalat lima waktunya, perwatakannya senantiasa jujur dan amanah. Sejak kecil hatinya senantiasa terbakar mendengar kebengisan Yahudi terhadap kaum Muslimin.
Tahun 1978, Khalid lulus dari akademi militer Mesir. Namun jiwa kemiliterannya tidak membuat luntur ‘azzamnya yang kuat dalam memerangi Yahudi. Keterlibatannya dalam sebuah tandzim menghantarkannya kepada pemahaman, bahwa Islam ini bukanlah hanya sekadar shalat dan puasa saja, namun kesempurnaan Islam juga meliputi jihad, pengorbanan, dan tanggung jawab.
Khalid masuk menjadi anggota militer Mesir. Prestasinya cukup gemilang, sehingga menghantarkannya di jajaran elite militer Sadat. Tanggal 6 Oktober merupakan hari yang paling bersejarah bagi Khalid. Hari itu militer Mesir mengadakan sebuah perhelatan akbar berupa devile dan demonstrasi persenjataan. Dalam kesempatan ini, Khalid terpilih menjadi salah satu bagian dari devile itu. Dalam hatinya ia berkata, “Baru kali ini aku dilibatkan dalam momen seperti ini, pastilah Allah memberi hikmah yang besar pada diriku.”
Setelah merenung beberapa saat, terdetik dalam hatinya untuk melaksanakan tugas suci; membunuh Sadat. Hatinya sesak melihat kelakuan Sadat yang sudah melewati batas. Sadat telah kafir, meninggalkan hukum Allah, kerja sama dengan Yahudi dalam memerangi kaum Muslimin dan memenjarakan ulama’-ulama’ yang mukhlis. Tak hanya itu, ia telah bekerjasama dengan orang-orang kafir untuk memerangi islam.
Hari itu cuaca Mesir cukup cerah. Menurut rencana, perhelatan ini akan dihadiri langsung oleh Anwar Sadat. Sudah menjadi peraturan kemiliteran Mesir, bahwa dalam acara seperti ini tak satupun boleh membawa peluru tajam. Namun Khalid dan timnya tidak kehabisan akal, puluhan peluru ia masukkan ke pakaian dalamnya. Khalid berada dalam sebuah barisan pasukan tank yang telah terkondisikan sebelumnya. Setelah keluar dari markas militer, peluru segera ia masukkan ke dalam magazine senjata laras panjangnya.
Tank tepat melewati depan kursi Sadat. Komando dari luar telah berkumandang. Dengan langkah cepat, Khalid segera muncul ke permukaan sembari memberondongkan pelurunya ke arah Sadat. Ketika itu Sadat sedang asyiknya menikmati demonstrasi pesawat-pesawat tempur Angkatan Udara Mesir. Khalid tidak sendiri di sana, ada tim yang ikut menembaki Sadat. Satu peluru tepat menembus leher Sadat. Belum yakin Sadat tewas, dengan tenangnya Khalid turun dari tank dan mengulangi berondongannya ke tubuh Sadat. Tak satupun ada yang melawan, karena peluru tajam hanya di senapan Khalid dan timnya. Beberapa bulan Khalid sempat menjadi buron militer Mesir. Semua taqdir di tangan Allah. Khalid tertangkap dan dipenjarakan di penjara militer Mesir. Sedikitpun tak nampak kesedihan di wajah Khalid. Bahkan tatkala sang ibunda menjenguknya di penjara, Khalid tersenyum sembari mengatakan, “Sungguh aku telah membunuh Fir’aun Mesir Anwar Yahudi, karena ia telah mengingkari Allah, meninggalkan hukum syariat, bekerja sama dengan Yahudi dalam memerangi Islam dan berkhianat terhadap masjidil Aqsha.”
Akhirnya Khalid Islambuly dieksekusi Mahkamah Militer Mesir pada tanggal 8 Maret 1982. Tatkala berbajukan merah, baju ekseskusi, Khalid berkata, “Wahai ibuku, bagaimana pendapatmu tentangku?” Ibunya berkata, “Ilbas jadiidan wa ‘isy sa’iidan wa mut syahiidan.” (Selamat mengenakan pakaian baru. Hiduplah mulia dan matilah sebagai seorang syuhada’).
Begitulah jiwa yang tegar dan kuat telah menghabisi fir’aun baru. Dengan misinya yang rapi dan sabar telah menghasilkan prestasi yang gemilang. Menyongsong maut dengan senyum. Karena ia tahu bahwa para bidadari telah menunggunya di jannah. Kita berdo’a semoga kita bisa berkumpul dengan para syuhada’ di jannah sana, walaupun mungkin kita belum bisa beramal sebagaimana amal mereka. Amiin

Filed under: Profil Mujahid

MENJADI ISTRI AKTIVIS

Memang jadi istri aktivis itu ada senangnya dan juga ada susahnya. Senang mungkin karena suaminya banyak mengisi waktunya untuk perjuangan islam. Otomatis kita kan juga dapet pahalanya. Susahnya itu jika kita sering ditinggal, mungkin kita kurang diperhatikan, apalagi ketika suami kurang peka, waaaah bikin pusing dech pokoknya. Tapi kalau kita sabar dan paham akan tugas suami kita Allah pasti akan memberikan pahala besar di akhirat kelak.
Aku tinggal di sebuah desa. Yaah desa yang sejuk dan damai. Aku adalah anak terakhir dari tiga bersaudara. Kami memang hidup sederhana. Setiap aku menginginkan seauatu, entah tas baru, sepatu baru dan lainnya aku harus menunggu bersabar karena uang yang pas-pasan. Ku kumpulkan uang serupiah demi serupiah untuk membeli sesuatu yang kuinginkan.
Ringkas cerita, aku menikah dengan seorang aktivis dan da’I yang aktivitasnya sangat penuh. Dalam satu pekan tak ada waktu malamnya yang kosong kecuali satu malam saja, sedangkan pulangnya rata-rata jam 10 malam. Padahal diriku adalah seorang guru TK yang berangkat jam 07.30 dan pulang sampai rumah jam 15.00. sehingga ia berada di rumah saat aku tidak ada di rumah, ketika aku di rumah ia yang pergi. Pada awalnya tak terbayangkan kalau aku harus jadi istri seorang aktivis. Tapi itu harus tetap ku jalani karena memang aku telah menerima pinangannya.
Ada pesan dari ustadzahku saat itu “ Dik jangan kaget lho jadi istri da’I seperti beliau itu lho. Karena pasti banyak aktivitasnya. Apa lagi kalau dakwah luar daerah bisa jadi sampai dua atau empat bulan tidak pulang, dan ingat lho dik, suamimu adalah da’i yang waktunya sangat dibutuhkan ummat. Jangan sampai kau menuntut banyak darinya. Bersikaplah dewasa. Selesaikanlah persoalanmu sendiri. Jangan melibatkanya, kecuali memang sesuatu yang harus melibatkannya atau karena engkau tidak bisa menyelesaikannya.” Pesan itu selalu aku ingat dan tak pernah ku lupa.
Pada suatu saat, suamiku mendapat tugas untuk belajar dua bulan di suatu kota yang jauh dariku. Dan aku ditinggal sedang dalam keadaan sakit. Sungguh berat rasanya. Tapi aku harus mengikhlaskannya, dan inyaAllah ada hikmah yang besar dibalik itu semua.
Setelah 10 hari suamiku meninggalkan rumah, ternyata sakitku bertambah parah. Tipes yang kuderita sudah stadium tinggi. Akhirnya aku pergi sendirian kerumah sakit untuk periksa. Setelah periksa, ternyata aku tidak boleh pulang dan harus mondok di rumah sakit.
Pikiranku kacau. Aku berpikir siapa yang harus menungguku di rumah sakit ? uang dari mana untuk biaya pengobatan? Sementara suami jauh dariku. Aku sebenarnya tidak ingin memberitahukan ini kepada suamiku. Tapi apakah aku mampu untuk menghadapinya sendirian ?. akhirnya aku sampaikan kepada suamiku. Akan tetapi aku sampaikan untuk tidak pulang saja. Walaupun akhirnya ia pulang setelah beberapa hari untuk menungguiku.
Persendianku menjadi lemas ketika dokter berkata ” Ya, harus bathres karena ini sudah positif tipes, tidak boleh banyak gerak dan banyak turun”. Ku beranikan diri untuk bertanya, ” kenapa begitu bu, apa bahayanya kalau sering turun?”, bu dokter itu berkata,” nanti bisa komplikasi ke heparnya”.
Ya Allah begitu parahkah kondisi penyakitku sampai aku harus bathres. Tanpa terasa air mata ini berjatuhan membasahi pipi. Kalau aku harus bathres gimana, sedang suami tidak ada di sampingku, dan apakah aku akan mampu menjalani ini semua, dan akan sampai kapan aku harus bathres pikiran itu selalu menghantui pikiranku di tempat tidur. Ya robby begitu besar ujian yang kau berikan. Sanggupkah hamba dalam menghadapi ini semua. La khaula wala quwwata illa billah, tiada kekuatan kecuali dari Allah. Ya Allah berilah hamba kekuatan.
Kepada siapa aku harus besbicara, kepada ibu yang menungguiku rasanya tidak mungkin aku tidak ingin membebaninya. Akhirnya aku sms kepada suamiku yang sedang dalam perjalanan pulang dari luar kota. Aku katakan apakah aku sanggup menghadapi ini semua. Subhanallah dialah seorang lelaki yang paling sabar yang aku kenal, seseorang yang tidak pernah mengeluh ketika sesuatu menimpanya, yang selalu bersyukur terhadap Rabnya, yang selalu berbaik sangka terhadap semua orang dialah yang menghiburku memberikan kata- kata yang membuat aku semangat “Allah tidak akan memberi beban di luar kemampuan hamba-Nya. Sabar ya. Engaku adalah tipe wanita yang tegar.memiliki jiwa mandiri. Paham arti ujian. Yakinlah. Semakin berat ujian semakin dekat kemenangan”. Kata-kata itu begitu dalam masuk dalam hati ini dan menjadi obat tersendiri bagiku. Alhamdulillah ya Allah, kau berikan aku suami yang penyayang dan penyabar.
Begitulah sekelumit kisah yang masih terngiang-ngiang pada pikiranku. Aku berpesan kepada para akhwat, janganlah kita menjadi para istri yang menambah beban suami. Dampingilah suami kita dalam keadaan senang atau susah. Karena kita yakin bahwa tugas suami-suami kita dalam menegakkan din ini sangatlah berat. Marilah kita mencontoh Khodijah d yang mendampingi Rasulullah ` saat mendapat beban berat yaitu risalah kenabian. Renungkan lah wahai para akhwat, bagaimana Khodijah menyelimuti Rasulullah `, kemudian berkata
Sekali-kali tidak, demi Allah, Ia tidak akan menghinakanmu selama-lamanya. Engkau adalah seorang yang selalu menyambung persaudaraan, meringankan beban orang lain, gemar bershodaqoh, dan menghormati tamu, dan menolong atas orang-orang yang berbuat kebaikan.
Suami kita butuh profil wanita yang tegar sebagaimana khodijah. Para suami kita sangat membutuhkan wanita yang tegar, dan tabah. Bukan wanita yang cengeng, kekanak-kanakan, yang tidak mau ditinggal suaminya, ingin selalu bersama, padahal ada pekerjaan-pekerjaan berat yang harus diemban dan harus meninggalkan keluarga. Semoga kita deberi kesabaran untuk mendampingi para suami mujahid. Mendorong mereka untuk sabar dan istiqomah dan tidak loyo hanya karena permasalahan-permasalahan kecil.

Filed under: kisahku

Idzharud Dien Fie Daaril Kufr

Rasulullah SAW bersabda:
أَوْثَقُ عُرَى الإِيْمَانِ الْحُبُّ فِي اللهِ وَ الْبُغْضُ فِي اللهِ
“Ikatan iman yang paling kuat adalah cinta karena Allah dan benci karena Allah.” (HR. Ibnu Jarir)

Al- Wala` wal Bara` adalah salah satu bagian pokok dari pokok-pokok ajaran Islam. Wala` maksudnya dekat dengan kaum muslimin dengan mencintai mereka, membantu dan menolong mereka atas musuh-musuh mereka dan bertempat tinggal bersama mereka. Sedangkan bara` adalah memutus hubungan atau ikatan hati dengan orang-orang kafir, sehingga tidak lagi mencintai mereka, membantu dan menolong mereka serta tidak tinggal bersama mereka.
Wajib hukumnya bagi seorang muslim untuk merealisasikan al-wala` wal bara`. Kedudukan al-wala` wal bara` dalam Islam sangatlah tinggi, karena dialah tali iman yang paling kuat.
Di antara bentuk bara` seorang muslim adalah hijrahnya seorang muslim dari daarul kufri menuju daarul islam. Allah SWT berfirman,
“Sesungguhnya orang-orang yang diwafatkan malaikat dalam keadaan menganiaya diri sendiri, (kepada mereka) malaikat bertanya: “Dalam keadaan bagaimana kamu ini?”. Mereka menjawab: “Adalah kami orang-orang yang tertindas di negeri (Mekah)”. Para malaikat berkata: “Bukankah bumi Allah itu luas, sehingga kamu dapat berhijrah di bumi itu?”. Orang-orang itu tempatnya neraka Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali, kecuali mereka yang tertindas baik laki-laki atau wanita ataupun anak-anak yang tidak mampu berdaya upaya dan tidak mengetahui jalan (untuk hijrah), mereka itu, mudah-mudahan Allah mema’afkannya. Dan adalah Allah Maha Pema’af lagi Maha Pengampun.” (QS. An-Nisaa`: 97-99)
Syaikh Shalih Fauzan mengatakan, “Bekerjanya seorang muslim untuk mengabdi atau melayani orang kafir adalah haram, karena hal itu berarti penguasaan orang kafir atas orang muslim serta penghinaannya. Bertempat tinggal terus menerus di antara orang-orang kafir juga diharamkan. Karena itu Allah mewajibkan hijrah dari Negara kafir menuju Negara muslim dan mengancam yang tidak mau berhijrah tanpa udzur syar’i.”
Syaikh Manshur Al-Bahuti berkata, “Wajib hijrah bagi orang yang tidak mampu idzharud dien di sebuah daarul harbi, yaitu Negara di mana dominan hukumnya adalah hukum-hukum kafir.”

Lalu bagaimanakah Negara yang bisa disebut sebagai Negara muslim dan Negara kafir?
Tentang Daarul Islam, Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Shalih Al-Jarbu’ mengatakan, “Daarul Islam adalah setiap sebidang tanah yang hukum di dalamnya menggunakan hukum Islam secara terang-terangan.”
Imam Ibnul Qayyim Al-Jauziyah mengatakan, “Mayoritas ulama` mengatakan bahwa daarul Islam adalah Negara yang dikuasai oleh umat Islam dan hukum-hukum Islam diberlakukan di negeri tersebut. Bila hukum-hukum Islam tidak diberlakukan, Negara tersebut bukanlah daarul Islam. Contohnya Thaif, sekalipun letaknya sangat dekat dengan Makkah, namun dengan terjadinya fathu Makkah, Thaif tidak berubah menjadi daarul Islam.”
Sedangkan tentang Daarul Kufri, Al-Qadhi Abu Ya’la Al-Hanbali berkata, “Setiap Negara dimana hukum yang dominan adalah hukum kafir dan bukan hukum-hukum Islam, maka ia adalah Daarul Kufri.”
Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Shalih Al-Jarbu’ mengatakan, “Daarul Kufri adalah setiap sebidang tanah yang di dalamnya menggunakan hukum-hukum kufri secara terang-terangan dan tidak terjadi peperangan antara mereka dengan kaum muslimin. Ia dihukumi sebagai daarul harbi pada waktu terjadi perdamaian. Maka setiap darul harbi adalah daarul kufri, tidak sebaliknya.”

Yang Dimaksud Dengan Idzharud Dien
Syaikh Muhammad bin Sa’id bin Salim Al-Qahthani mengatakan bahwa yang dimaksud dengan idzharud dien adalah menampakkan permusuhan kepada orang-orang kafir. Maka barangsiapa yang tidak berbara` kepada orang-orang musyrik, mereka belum melakukan idzharud dien.
Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Shalih Al-Jarbu’ mengatakan, “Kebanyakan orang berkeyakinan bahwa maksud dari idzharud dien adalah ketika mereka bisa shalat, puasa dan membaca Al-Qur`an di negara yang kafir, atau negara harbi, sedangkan tidak ada seorang pun yang menolakmu, atau menyakitimu. Jika engkau melakukan hal itu, maka engkau telah menampakkan dienmu di antara mereka. Ini adalah kesalahan yang fatal. Karena Allah SWT telah berfirman:
“Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia; ketika mereka berkata kepada kaum mereka : “Sesungguhnya kami berlepas diri daripada kamu dari daripada apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran)mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja. Kecuali perkataan Ibrahim kepada bapaknya : Sesungguhnya aku akan memohonkan ampunan bagi kamu dan aku tiada dapat menolak sesuatupun dari kamu (siksaan) Allah”. (Ibrahim berkata): “Ya Tuhan kami hanya kepada Engkaulah kami bertawakkal dan hanya kepada Engkaulah kami bertaubat dan hanya kepada Engkaulah kami kembali.” (QS. Al-Mumtahanah: 4)
Maka yang dimaksud dengan idzharud dien adalah mengumumkan kufurnya undang-undang (negara yang tidak berhukum dengan hukum Islam) dan menampakkan permusuhan kepada mereka. Agar para orang kafir dan orang murtad tahu bahwa kita mengingkari mereka dan mengumumkan permusuhan kepada mereka.
Maka diantara bentuk idzharud dien adalah mengkafirkan thoghut . Dan hal itu merupakan bentuk berpegang kepada Al-‘Urwatl Wutsqa (tali Allah yang amat kuat).
Allah SWT berfirman,
“Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus.” (QS. Al-Baqarah: 256)

Keadaan Orang Yang Hendak Berhijrah
Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Shalih Al-Jarbu’ menyebutkan bahwa ada empat keadaan orang yang hendak berhijrah:
1. Orang yang tidak mampu untuk Idzharud Dien, dan mampu berhijrah.
Para Ahlul ‘Ilmi telah sepakat bahwa orang yang seperti ini wajib berhijrah. Dan barangsiapa yang tidak berhijrah, maka ancaman Allah SWT menunggunya dan Rasul SAW berbara` terhadapnya. Bahkan hingga seorang wanita yang tidak mendapatkan seorang mahram yang menemaninya, jika ia aman ketika dalam perjalanan. Atau jika rasa takutnya dalam perjalanan lebih sedikit daripada ia tinggal di negerinya. Hal ini berdasarkan firman Allah SWT:
“Sesungguhnya orang-orang yang diwafatkan malaikat dalam keadaan menganiaya diri sendiri , (kepada mereka) malaikat bertanya : “Dalam keadaan bagaimana kamu ini ?”. Mereka menjawab : “Adalah kami orang-orang yang tertindas di negeri (Mekah)”. Para malaikat berkata : “Bukankah bumi Allah itu luas, sehingga kamu dapat berhijrah di bumi itu ?”. Orang-orang itu tempatnya neraka Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.” (QS. An-Nisaa`: 97)
Juga berdasarkan sebuah hadits yang berbunyi, “Hijrah tidak akan terputus selama musuh masih memerangi.” (HR. Ahmad, 1/192 dari jalur ‘Abdullah bin As-Sa’diy. Al-Haitsami berkata perawi-perawinya tsiqah)
Imam Asy-Syafi’i rahimahullahi berkata di dalam Ahkamul Qur`an, “Dan Rasulullah SAW telah mewajibkan kepada orang yang mampu untuk berhijrah untuk keluar (dari negerinya) jika ia termasuk orang yang mendapatkan fitnah dalam diennya, serta tidak ada yang menghalanginya. Allah SWT berfirman tentang seseorang yang berpaling dari hijrah kemudian meninggal, sedang ia tidak sempat untuk berhijrah, “Sesungguhnya orang-orang yang diwafatkan malaikat dalam keadaan menganiaya diri sendiri , (kepada mereka) malaikat bertanya : “Dalam keadaan bagaimana kamu ini ?”. Mereka menjawab : “Adalah kami orang-orang yang tertindas di negeri (Mekah)”. Para malaikat berkata : “Bukankah bumi Allah itu luas, sehingga kamu dapat berhijrah di bumi itu ?”. Orang-orang itu tempatnya neraka Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.” (QS. An-Nisaa`: 97).
Dan Allah SWT telah menjelaskan tentang uzdur orang-orang yang lemah, “kecuali mereka yang tertindas baik laki-laki atau wanita ataupun anak-anak yang tidak mampu berdaya upaya dan tidak mengetahui jalan (untuk hijrah). Mereka itu, mudah-mudahan Allah mema’afkannya. Dan adalah Allah Maha Pema’af lagi Maha Pengampun.” (QS. An-Nisaa`: 98-99).
Dan dikatakan “’Asa (mudah-mudahan)” dari Allah maksudnya adalah wajib (pasti). Ini menunjukkan sunnah Rasulullah SAW bahwa kewajiban hijrah adalah bagi yang mampu, dan itu hanya bagi orang yang diennya terkena fitnah, di negeri tempat ia masuk islam. Karena Rasulullah SAW mengizinkan sebagian orang untuk tinggal di Makkah setelah keislaman mereka, di antaranya: Al-‘Abbas bin ‘Abdul Muthalib, dan selainnya jika tidak takut terkena fitnah.”
2. Orang yang tidak mampu untuk Idzharud Dien, tetapi tidak mampu berhijrah.
Para Ahlu ‘Ilmi telah bersepakat bahwa pada keadaan ini dibolehkan untuk tidak berhijrah. Dan tidak ada yang menyelisihinya. Hal ini berdasarkan firman Allah SWT:
“…. kecuali mereka yang tertindas baik laki-laki atau wanita ataupun anak-anak yang tidak mampu berdaya upaya dan tidak mengetahui jalan (untuk hijrah).” (QS. An-Nisaa`: 98)
Yang dimaksud tidak mampu di sini adalah baik itu karena sakit atau terpaksa untuk tinggal di negeri kafir atau dalam keadaan lemah, seperti wanita dan anak-anak, atau udzur lainnya yang berbentuk kelemahan yang membatalkan kewajiban hijrah.
Ibnu Qudamah rahimahullah berkata di dalam kitab Al-Mughni, “Orang yang tidak diharuskan berhijrah, yaitu orang-orang yang lemah/tidak mampu, baik itu karena sakit, atau terpaksa untuk tetap tinggal, atau karena lemah; baik itu wanita, anak-anak atau yang semisal mereka. Maka tidak diharuskan berhijrah bagi mereka. Ini berdasarkan firman Allah SWT,
“…. kecuali mereka yang tertindas baik laki-laki atau wanita ataupun anak-anak yang tidak mampu berdaya upaya dan tidak mengetahui jalan (untuk hijrah).” (QS. An-Nisaa`: 98-99)”
Imam Asy-Syafi’i rahimahullah mengatakan, “Allah memaafkan bagi orang yang tidak mampu berhijrah dari orang-orang yang terkena fitnah. Maka Allah SWT berfirman, “Kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam beriman (dia tidak berdosa), akan tetapi orang yang melapangkan dadanya untuk kekafiran, maka kemurkaan Allah menimpanya dan baginya azab yang besar.” (QS. An-Nahl: 106)”
Walaupun diperbolehkan untuk tidak berhijrah, tetapi hendaknya ia selalu mempersiapkan bekal untuk keluar dari negeri tersebut dan selalu mencari kesempatan untuk bisa berhijrah serta tidak boleh lalai dari memikirkan hal tersebut.
3. Orang yang mampu untuk Idzharud Dien, tetapi tidak mampu berhijrah.
Keadaan ketiga ini tidak berbeda dengan keadaan sebelumnya. Hanya saja ia mampu untuk idzharud dien. Maka ia juga diperbolehkan untuk tidak berhijrah sampai Allah SWT memberikan jalan keluar baginya. Dan hendaknya ia juga selalu berusaha untuk segera berhijrah dari negeri tersebut.
4. Orang yang mampu untuk Idzharud Dien, dan ia mampu untuk berhijrah.
Para Ulama` berbeda pendapat dalam masalah ini.
Pendapat pertama mengatakan, ia tidak diwajibkan berhijrah. Dan hukumnya adalah mustahabbah baginya. Ini adalah pendapat yang masyhur dari madzhab Hanafiyah kecuali Al-Hasan.
Dalil yang mereka gunakan diantaranya adalah sabda Nabi SAW, “Tidak ada hijrah setelah terjadinya fath , akan tetapi hanya ada jihad dan niat.” (HR. Muttafaqun ‘Alaih)
Sedangkan pendapat yang kedua mengatakan, bahwa ia wajib untuk berhijrah dan berdosa jika tidak berhijrah. Hal ini karena Allah SWT tidak memaafkannya (karena ia tidak termasuk orang yang udzur sebagaimana yang telah disebutkan dalam ayat). Ini adalah pendapat jumhur dari madzhab Malikiyyah, Syafi’iyyah dan Hanabilah.
Diantara dalil yang mereka berdalil dengannya adalah firman Allah SWT QS. An-Nisaa`: 97. Juga sabda Nabi SAW, “Aku berlepas diri dari setiap orang muslim yang tinggal di tengah-tengah orang-orang musyrik.” (HR. Abu Daud, Tirmidzi dan Nasa`i)
Sedangkan pendapat yang rajih menurut Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Shalih Al-Jarbu’ adalah pendapat yang kedua. Karena dalil pendapat yang kedua, shahih dan sangat sharih. Wallahu A’lam bish Shawab.

Maraji’:
1. Kitabut Tauhid, Syaikh Sholeh Fauzan Al-Fauzan.
2. Kasyful Qana`, 3/43.
3. Al-I’lam bi Wujubil Hijrah min Daaril Kufri ila Daaril Islami, Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Shalih Al-Jarbu’.
4. Ahkamu Ahli Dzimmah, Imam Ibnul Qayyim Al-Jauziyah, Daarul Ilmi lil Malayien, 1983.
5. Al-Mu’tamadu fie Ushuuli Dien, Daarul Masyriq: Beirut, 1974.
6. Al-Wala` wal Bara` , Syaikh Muhammad bin Sa’id bin Salim Al-Qahthani, Darut Thayyibah: Riyadh, Cet. I.
7. Al-Mughni, Ibnu Qudamah.
8. Ahkamul Qur`an, Imam Asy-Syafi’i.

Filed under: Aqidah

RINGKASAN MILLAH IBRAHIM

Penjelasan Millah Ibrahim

وَمَن يَرْغَبْ عَن مِّلَّةِ إِبْرَاهِيمَ إِلاَّ مَن سَفِهَ نَفْسَهُ وَلَقَدِ اصْطَفَيْنَاهُ فِي الدُّنْيَا وَإِنَّهُ فِي اْلأَخِرَةِ لَمِنَ الصَّالِحِينَ
Artinya: “Dan tidak ada yang benci kepada agama Ibrahim, kecuali orang yang memperbodoh dirinya sendiri, dan sungguh Kami telah memilihnya di dunia dan sesungguhnya dia di akhirat benar-benar termasuk orang yang saleh.” (QS. Al Baqarah, 2: 130)
ثُمَّ أَوْحَيْنَآ إِلَيْكَ أَنِ اتَّبِعْ مِلَّةَ إِبْرَاهِيمَ حَنِيفًا وَمَاكَانَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ
Artinya: “Kemudian Kami wahyukan kepadamu (Muhammad): “Ikutilah agama Ibrahim seorang yang hanif”. dan bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan Rabb.” (QS. An Nahl, 16: 123)
Allah Subhanahu Wa Ta ‘Ala telah mensucikan dakwahnya di hadapan kita dan memerintahkan penutup para Nabi dan rasul agar mengikutinya, serta Dia menjadikan safaahah (dungu/bodoh sekali) sebagai sifat bagi setiap orang yang tidak suka terhadap jalan dan manhajnya. Sedangkan Millah Ibrahim adalah:
● Memurnikan ibadah kepada Allah saja dengan segala makna yang di kandung oleh kata ibadah.(5)
● Berlepas diri dari syirik dan para pelakunya.
إخلاص العبادة لله وحده، بكل ما تحويه كلمة العبادة من معان[1].
* والبراءة من الشرك وأهله.
يقول الإمام الشيخ محمد بن عبد الوهاب رحمه الله تعالى: ”أصل دين الإسلام وقاعدته أمران:
الأول: الأمر بعبادة الله وحده لا شريك له والتحريض على ذلك والموالاة فيه وتكفير من تركه.
الثاني: الإنذار عن الشرك في عبادة الله والتغليظ في ذلك والمعاداة فيه وتكفير من فعله“ اهـ

Al Imam Asy Syaikh Muhammad Ibnu Abdil Wahhab rahimahullah berkata: Pokok dien Al Islam dan kaidahnya ada dua:
Pertama: – Perintah ibadah kepada Allah saja tidak ada sekutu bagi-Nya
– Dorongan kuat atas hal itu
– Melakukan loyalitas di dalamnya
– Dan mengkafirkan orang yang meninggalkannya
Kedua : – Peringatan dari penyekutuan dalam ibadah kepada Allah
– Kecaman keras terhadap hal itu
– Melakukan permusuhan di dalamnya
– Dan mengkafirkan orang yang melakukannya
(majmu’atut Tauhid).

PERINGATAN PERTAMA:
Merealisasikan tauhid hanya dengan mempelajarinya.
Ada yang mengira bahwa Millah Ibrahim ini terealisasi pada zaman kita ini dengan cara mempelajari tauhid, dan mengetahui bagian-bagian dan macam-macamnya yang tiga dengan sekedar ma’rifah nadhariyah (teoritis)…. Terus diam dari (mensikapi) ahlul bathil dan tidak menyatakan serta menampakkan bara’ah dari kebatilan mereka.
Maka terhadap macam orang seperti itu kami katakan: Seandainya Millah Ibrahim adalah seperti itu, tentulah kaumnya tidak melemparkan beliau ke dalam api karenanya, bahkan seandainya ia bermudahanah terhadap mereka, mendiamkan sebagian kebatilan mereka, tidak menjelek-jelekkan tuhan-tuhan mereka, tidak menyatakan permusuhan terhadap mereka, dan mencukupkan dengan tauhid nadhariy yang ia kaji bersama pengikut-pengikutnya dengan pengkajian yang tidak keluar pada waqi’ ‘amali (realita praktek) yang menjelma dalam bentuk al wala, al bara’, cinta, benci, memusuhi, dan menjauh karena Allah, bisa jadi bila beliau melakukan hal itu mereka membukakan baginya semua pintu, bahkan bisa saja mereka mendirikan baginya sekolah-sekolah dan lembaga-lembaga seperti pada zaman kita yang di dalamnya dipelajari tauhid nadhariy ini… dan bahkan bisa saja mereka itu memasang di atasnya papan nama yang besar dan mereka menamakannya: Madrasah atau Ma’had tauhid, fakultas dakwah dan ushuluddien,…. dll. Ini semua tidak membahayakan mereka dan tidak mempengaruhi mereka selama hal itu tidak keluar pada realita dan praktek. Dan seandainya universitas-universitas, sekolah-sekolah, dan fakultas-fakultas ini mengeluarkan bagi mereka ribuan skripsi, karya ilmiah dan risalah Magister dan Doktoral tentang ikhlas, tauhid dan dakwah, tentulah mereka tidak mengingkari hal itu, bahkan justeru mereka memberikan ucapan selamat dan memberikan hadiah-hadiah, ijazah-ijazah dan gelar-gelar yang besar buat para peraihnya … selama hal itu tidak menyinggung kebatilan, keadaan dan realita mereka, serta selama tetap pada keadaannya yang terkaburkan.
Syaikh Abdullathif Ibnu Abdirrahman berkata dalam Ad Durar As Saniyyah: “Tidak terbayang -bahwa seseorang- mengetahui tauhid dan mengamalkannya namun tidak memusuhi para pelaku syirik, sedangkan orang yang tidak memusuhi mereka maka tidak dikatakan kepadanya (bahwa) ia mengetahui tauhid dan mengamalkannya,” (Juz Al Jihad hal: 167)
Dan beliau berkata juga dalam Ad Durar As Saniyyah: “Sedangkan idhharud dien adalah mengkafirkan mereka, mencela ajaran mereka, menjelek-jelekkan mereka, bara’ dari mereka, berhati-hati dari mencintai mereka dan cenderung kepadanya, dan menjauhi mereka. Dan idhharud dien itu bukan hanya shalat.” (dari Juz Al Jihad: 196)
Abul Wafa Ibnu Uqaid rahimahullah berkata: “Bila engkau ingin melihat posisi Islam di tengah manusia zaman sekarang, maka jangan kau lihat berjubelnya mereka di pintu-pintu masjid dan gemuruh mereka dengan labbaika, namun lihatlah keselarasan mereka terhadap musuh-musuh syari’at. Maka berlindunglah… berlindunglah pada benteng dien ini dan berpeganglah pada tali Allah yang kokoh, serta cepatlah bergabung dengan wali-wali-Nya al mukminin, dan hati-hatilah dari musuh-musuh-Nya yang selalu menyelisihi. Sungguh sarana mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu Wa Ta ‘Ala yang paling utama adalah membenci orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya dan menjihadinya dengan tangan, lisan dan hati sesuai kemampuan.” (Ad Durar, Juz Al Jihad, hal: 238)
Al’Alamah Ibnul Quyyim rahimahullah berkata: “Tatkala Allah Subhanahu Wa Ta ‘Ala melarang kaum muslimin dari loyalitas terhadap orang-orang kafir, maka hal itu menuntut untuk memusuhi mereka, bara’ darinya dan terang-terangan memusuhi mereka disetiap keadaan.” (Badai-ul Fawaid 3/69)
وَلاَتَرْكَنُوا إِلَى الَّذِينَ ظَلَمُوا فَتَمَسَّكُمُ النَّارُ وَمَالَكُم مِّن دُونِ اللهِ مِنْ أَوْلِيَآءَ ثُمَّ لاَتُنصَرُونَ

Artinya: “Dan janganlah kalian cenderung kepada orang-orang dhalim yang menyebabkan kalian disentuh api neraka, dan sekali-kali kalian tiada mempunyai seorang penolong selain daripada Allah, kemudian kamu tidak akan diberi pertolongan.” (QS. Hud, 11: 113)
وقد قال المفسرون في قوله تعالى: (وَلا تَرْكَنُوا) الركون هو الميل اليسير.
* وقال أبو العالية: لا تميلوا إليهم كل الميل في المحبة ولين الكلام.
* وقال سفيان الثوري: من لاق لهم دواة أو برى لهم قلماً أو ناولهم قرطاساً دخل في ذلك.
* قال الشيخ حمد بن عتيق: فتوعد سبحانه بمسيس النار من ركن إلى أعدائه ولو بلين الكلام.

Para ahli tafsir berkata tentang firman-Nya Subhanahu Wa Ta ‘Ala. “ولاتركنوا” Ar Rukuun adalah kecenderungan yang sedikit.
Abul ‘Aaliyah berkata: “Janganlah kalian cenderung pada mereka dengan kecenderungan yang banyak dalam kecintaan dan perkataan yang lembut.”
Sufyan Ats Tsauriy berkata: “Atau mengambilkan kertas baginya, maka ia telah masuk dalam hal itu.”
Syaikh Hamd Ibnu ‘Atiq berkata: “Maka Allah Subhanahu Wa Ta ‘Ala mengancam dengan sentuhan api neraka orang yang cenderung kepada musuh-musuh-Nya dengan ucapan yang lemah lembut.”
Syaikh Abdullathif Ibnu Abdurrahman – dan beliau tergolong Aimmah Dakwah Najdiyyah Salafiyyah – juga berkata setelah menuturkan sebagian perkataan al mufassirun yang lalu tentang makna cenderung. ”Itu dikarenakan dosa syirik adalah dosa terbesar yang dengannya Allah didurhakai dengan beragam tingkatannya, maka apa gerangan bila hal itu ditambah dengan apa yang lebih buruk, yaitu perolok-olokan terhadap ayat-ayat Allah, menggeser hukum-hukum dan perintah-perintah-Nya, serta menamakan hukum yang menyelisihinya dengan keadilan, sedangkan Allah, Rasul-Nya dan kaum mukminin mengetahui bahwa itu adalah kekafiran, kejahilan dan kesesatan. Orang yang sedikit memiliki penjunjungan (pada dien) dan di hatinya ada sedikit kehidupan tentu dia cemburu terhadap Allah, Rasul-Nya, kitab-Nya dan Dien-Nya, serta dahsyatlah pengingkaran dan bara’ahnya di setiap kesempatan dan majelis. Ini tergolong jihad yang mana menjihadi musuh tidak terealisasi kecuali dengannya. Maka pergunakanlah kesempatan idhhar dienullah, mudzakarah dengannya, mencela orang yang menyalahinya, bara’ah darinya dan dari para pelakunya. Perhatikanlah sarana-sarana yang menjerumuskan pada kerusakan terbesar ini dan perhatikanlah nash-nash syari’at yang menjelaskan sarana-sarana dan jalan-jalan (yang menghantarkannya), karena mayoritas manusia meskipun dia tabara’ darinya dan dari pelakunya namun ia adalah tentara bagi orang-orang yang loyal pada mereka, tenang dengan mereka dan tinggal dengan perlindungan mereka, Wallahul musta’an.“ (Ad Durar Juz Al Jihad hal 161). Sungguh indah sekali, seolah beliau berbicara tentang zaman kita.
Dan perlu engkau ketahui di akhir ini bahwa manusia sikapnya terhadap kebenaran ini ada beberapa macam:
1. Orang yang teguh lagi terang-terangan dengan Millah Ibrahim dan dengan dien seluruh rasul sesuai dengan apa yang lalu, dia tidak takut dijalan Allah celaan orang yang mencela, maka ia termasuk thaifah dhahirah yang mendapat pertolongan, yaitu penyeru pada kebenaran yang berbaur dengan manusia dan sabar atas gangguan mereka, dialah yang mendapatkan kemenangan dengan kemuliaan di dunia dan akhirat, yang mana Allah berfirman tentangnya:
وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلاً مِّمَّن دَعَآ إِلَى اللهِ وَعَمِلَ صَالِحًا وَقَالَ إِنَّنِى مِنَ الْمُسْلِمِينَ
Artinya: “Dan siapa yang lebih baik ucapannya dari orang yang menyeru kepada Allah, dan beramal shalih, serta dia berkata. “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri.” (QS. Fushshilat, 4: 33).
Dan ia adalah yang dimasukkan dengan hadits:
المُؤْمِنُ الَذِيْ يُخَالِطُ النَّاسَ وَيَصْبِرُ عَلَى أَذَاهُمِ خَيْرٌ
Artinya: “Orang mukmin yang berbaur dengan manusia dan sabar terhadap gangguan mereka adalah lebih baik…”
Dan gangguan hanya terjadi padanya karena dia mendatangkan apa yang dibawa oleh para rasul… dia tidak mudahanah terhadap ahlul bathil, tidak cenderung pada mereka atau ridla dengan kebatilan mereka, namun ia bara’ dari mereka, menampakkan permusuhan terhadap mereka, dan meninggalkan/menjauhi setiap apa yang bisa membantu mereka atas kebathilannya, baik berupa jabatan, profesi, pekerjaan atau jalan. Dan orang yang keadaannya seperti ini tidak ada dosa baginya dengan tinggalnya dia di tengah masyarakat mereka, dan negeri-negeri mereka, dan tidak wajib atasnya hijrah dari negeri mana saja.
Syaikh Hamd Ibnu ‘Atiq berkata saat menjelaskan firman Allah Subhanahu Wa Ta ‘Ala: “Sungguh telah ada bagi kalian suri tauladan yang baik pada diri Ibrahim dan orang-orang yang bersamanya”… Hingga akhir Al Mumtahanah: 4. Dan makna (بدا) adalah nampak dan jelas. Sedangkan yang dimaksud adalah penegasan terang-terangan akan terus berlangsungnya permusuhan dan kebencian bagi orang yang mentauhidkan Rabbnya dengan kaum musyrikin. Siapa yang merealisasikan hal itu secara ilmu dan amal, dan ia menyatakannya terang-terangan sehingga penduduk negerinya mengetahui hal itu darinya maka hijrah tidak wajib atasnya dari negeri mana saja. Dan adapun orang yang tidak seperti itu, namun dia justeru mengira bahwa bila ia dibiarkan shalat, shaum dan haji maka hijrah gugur darinya, maka sungguh ini tergolong kebodohan akan dien ini dan sikap lalai dari intisari risalah para rasul…” (Ad Durar Juz Al Jihad hal: 199)
Dan orang macam ini bila terang-terangan menyatakan al haq dan dia diancam akan dibunuh dan disiksa sedangkan tidak ada di sana negeri tempat hijrah maka baginya tauladan yang baik pada diri Ashhabul Kahfi yang ingin menyelamatkan diennya dan mereka lari ke gunung…, dan baginya juga tauladan yang baik pada Ashhabul Ukhdud yang dibakar hidup-hidup dalam rangka mempertahankan aqidah dan tauhid mereka…. Mereka tidak lemah dan tidak menyerah (pada musuh)… dan baginya juga tauladan yang baik pada diri sahabat-sahabat Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam yang hijrah, jihad, berperang dan terbunuh. Dan cukuplah Tuhannu sebagai pemberi petunjuk dan penolong.
Dan andai tak ada mereka hampir (bumi) oleng dengan penghuninya…
Namun pasak-pasak dan paku-pakunya adalah mereka…
Dan andai tak ada mereka tentu (bumi) gelap dengan penghuninya…
Namun mereka di dalamnya adalah purnama dan bintang-bintang…
2. Orang yang lebih rendah kedudukannya dari yang pertama, yang tidak mampu meniti jalan ini yang dipenuhi dengan resiko, dia mengkhawatirkan diennya dan dia tidak mampu menampakkan hal itu dengan terang-terangan. Dia mengasingkan diri dengan kambing-kambingnya yang digiring ke daerah hutan dan lereng-lereng gunung, dia beribadah kepada Allah seraya lari dengan diennya dari fitnah.
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُوشِكُ أَنْ يَكُونَ خَيْرَ مَالِ الْمُسْلِمِ غَنَمٌ يَتْبَعُ بِهَا شَعَفَ الْجِبَالِ وَمَوَاقِعَ الْقَطْرِ يَفِرُّ بِدِينِهِ مِنْ الْفِتَنِ – البخارى.
3. Orang yang tertindas yang menutup pintu rumahnya lagi mengkonsentrasikan diri pada urusan keluarganya saja, dia berusaha untuk keselamatan keluarganya dan menjaga mereka dari syirik, para pelakunya dan dari api neraka yang kayu bakarnya adalah manusia dan batu… dia menjauhi orang-orang kafir dan berpaling dari mereka, dia tidak menampakkan sikap ridla terhadap kebatilan mereka dan tidak membantunya dengan bentuk bantuan apapun… Dan mesti untuk hal ini dalam rangka keselamatan tauhidnya keberadaan hatinya teguh tentram dengan permusuhan dan kebencian terhadap syirik dan kaum musyirkin seraya menunggu hilangnya penghalang… dan menunggu-nunggu kesempatan untuk kabur membawa diennya dan untuk hijrah ke negeri yang lebih minimal keburukannya yang di sana dia bisa menampakkan diennya, seperti hijrah para Muhajirin ke Habasyah.
4. Orang yang menampakkan ridla terhadap ahlul bathil lagi mudahannah (basa-basi) terhadap kerusakan dan kesesatan mereka. Maka ini ada tiga keadaan yang telah disebutkan oleh Syaikh Hamd Ibnu ‘Atiq dalam Sabilun Najah wal Fikak hal: 62.
Keadaan pertama: Setuju terhadap mereka dalam dhahir dan bathin, maka ini kafir di luar Islam, sama saja baik dipaksa atau tidak. Dan dia tergolong orang yang Allah firmankan:

وَلَكِن مَّن شَرَحَ بِالْكُفْرِ صَدْرًا فَعَلَيْهِمْ غَضَبٌ مِّنَ اللهِ وَلَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمُُ
Artinya: “Akan tetapi orang yang melapangkan dadanya untuk kekafiran, maka kemurkaan Allah menimpanya dan baginya adzab yang besar.” (QS. An Nahl, 16: 106)

Keadaan kedua: Setuju terhadap mereka dan cenderung terhadap mereka di dalam bathin, padahal di dhahirnya dia menyelisihi mereka, ini kafir juga, dan merekalah orang-orang munafiq.
Keadaan ketiga: Setuju terhadap mereka secara dhahir padahal di bathin menyelisihi mereka. Dan ini ada dua macam:
Pertama: Dia melakukan hal itu karena sebab dia berada dalam genggaman mereka dengan disertai pukulan, diikat dan diancam dibunuh, maka bila keadaannya seperti ini boleh baginya menampakkan sikap setuju terhadap mereka secara dhahir dengan disertai hati tuma’ninah dengan keimanan, sebagaimana yang terjadi pada Ammar. Allah Subhanahu Wa Ta ‘Ala berfirman:
إِلاَّ مَنْ أُكْرِهَ وَقَلْبُهُ مُطْمَئِنٌّ بِاْلإِيمَانِ
Artinya: “Kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam beriman.” (QS. An Nahl, 16: 106).
Saya berkata. Dan seyogyanya bagi orang seperti ini sebagaimana yang telah kami sampaikan agar selalu berupaya seperti orang-orang tertindas dari kalangan sahabat Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam untuk lari membawa diennya dan selalu berdo’a:
رَبَّنَآأَخْرِجْنَا مِنْ هَذِهِ الْقَرْيَةِ الظَّالِمِ أَهْلُهَا وَاجْعَل لَّنَا مِن لَّدُنكَ وَلِيًّا وَاجْعَل لَّنَا مِن لَّدُنكَ نَصِيًرا
Artinya: “Ya tuhan kami keluarkahlah kami dari negeri ini yang dzalim penduduknya dan berilah kami pelindung dari sisi Engkau, dan berilah kami pertolongan dari sisi Engkau.” (QS. An Nisa, 4: 75)
Kedua: Menyetujui mereka secara dhahir namun bathin menyelisihinya sedangkan ia tidak ada dalam genggaman mereka. Namun dia lakukan itu bisa jadi karena ingin kedudukan, atau harta, atau berat dengan tanah air, atau keluarga, atau takut terjadi sesuatu pada hartanya, sesungguhnya orang dengan keadaan ini adalah murtad dan kebencian terhadap orang-orang kafir di dalam bathin adalah tidak berguna baginya, dan ia itu tergolong orang yang Allah Firmankan:
ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ اسْتَحَبُّوا الْحَيَاةَ الدُّنْيَا عَلَى اْلأَخِرَةِ وَأَنَّ اللهَ لاَيَهْدِي الْقَوْمَ الْكَافِرِينَ
Artinya: “Yang demikian itu disebabkan karena sesungguhnya mereka mencintai kehidupan di dunia lebih dari akhirat, dan bahwasannya Allah tiada memberi petunjuk kepada kaum yang kafir.” (QS. An Nahl, 16: 107).
Allah Subhanahu Wa Ta ‘Ala mengabarkan bahwa yang mendorong mereka untuk berbuat kekafiran bukanlah kejahilan atau kebenciannya dan juga bukan kecintaan kepada kebathilan, namun ia hanyalah bagian dunia yang lebih mereka utamakan atas dien ini… beliau berkata: “Dan ini adalah makna perkataan Syaikhul Islam Muhammad Ibnu Abdil Wahhab rahimahullah”.
Di Antara Metode Para Thaghut Untuk Membancikan Millah Ibrahim
Dan Membunuhnya Di Jiwa Para Du’at
Artinya: “Maka mereka menginginkan supaya kamu bersikap lunak lalu mereka bersikap lunak (pula kepadamu).” (QS. Al Qalam, 68: 9).

وَإِن كَادُوا لَيَفْتِنُونَكَ عَنِ الَّذِي أَوْحَيْنَآ إِلَيْكَ لِتَفْتَرِيَ عَلَيْنَا غَيْرَهُ وَإِذًا لاَتَّخَذُوكَ خَلِيلاً
Artinya: “Dan sesungguhnya mereka hampir memalingkan kamu dari apa yang telah Kami wahyukan kepadamu, agar kamu membuat yang lain secara bohong terhadap Kami; dan kalau sudah begitu tentulah mereka mengambil kamu jadi sahabat yang setia.” (QS. Al Isra, 17: 73)
Sayyid Quthub rahimahullah berkata saat menjelaskan ayat ini setelah beliau menyebutkan upaya-upaya kaum musyrikin untuk tawar menawar dengan Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam atas banyak hal dari urusan dien dan dakwahnya, yang diantaranya: meninggalkan celaan terhadap tuhan-tuhan mereka dan apa yang dipegang nenek moyang mereka serta yang lainnya…, beliau berkata: “Upaya-upaya (percobaan) ini yang mana Allah melindungi Rasul-Nya darinya, yaitu upaya-upaya (muhawalat) para penguasa yang selalu dilakukan pada para pengibar dakwah, adalah muhawalah menggiurkan mereka agar menyimpang meskipun sedikit dari istiqamah dakwah dan shalabah (keteguhan)nya…. dan mereka mau rela dengan solusi jalan tengah yang ditawarkan kepada mereka dengan imbalan materi yang sangat banyak. Dan diantara para aktivis dakwah ada orang yang terpalingkan dengan hal ini dari dakwahnya, karena ia memandang masalah ini hanya sepele. Dan para penguasa tidak menuntut dia meninggalkan dakwahnya secara total, akan tetapi mereka menuntut sedikit perubahan agar kedua pihak bisa bertemu di tengah jalan. Sedangkan syaitan terkadang masuk (menjerumuskan) pembawa dakwah dari celah ini, sehingga dia berpikir bahwa kebaikan dakwah adalah ada dalam sikap menarik (simpati) para penguasa kepadanya meskipun dengan cara tanazul (mengorbankan sedikit dakwah) dari salah satu sisinya…!!!. Akan tetapi penyimpangan sedikit di awal jalan adalah akan sampai pada penyimpangan total di akhir jalan. Dan pembawa dakwah yang mau menerima penyerahan dalam satu bagian darinya meskipun sedikit dan dia mau membuka tutupnya meskipun kecil, maka ia tidak kuasa berdiri saat itu selamat dengannya di awal mula… karena persiapannya untuk berserah diri makin bertambah setiap kali ia mundur satu langkah ke belakang! Sedangkan para penguasa (thaghut) terus mengulur para aktivis dakwah. Bila para aktivis itu menyerahkan pada satu bagian saja, maka mereka telah kehilangan wibawa dan perlindungan dirinya, dan para pihak pemeran pun mengetahui bahwa keberlangsungan tawar-menawar dan naiknya harga keduanya akan berakhir untuk kemenangan pihak penguasa (dalam merekrut) kepada barisannya. Ia adalah kekalahan ruhiyyah (jiwa) dengan cara bertolak pada penguasa dalam nusrah dien. Sedangkan Allah sajalah yang dijadikan pegangan oleh kaum mukminin dalam dakwahnya… dan kapan saja merebak kekalahan dalam sanubari, maka kekalahan ini tidak akan menjadi kemenangan…!!!”

● Bahkan bisa saja kalangan para thaghut itu memanfaatkan sikap sesat yang berbahaya ini… dan mereka mengendalikan banyak dari kalangan ulama yang jahil itu untuk menghalang-halangi (manusia) dari para du’at dan membuat (orang) takut dari kelompok-kelompok Islam mereka yang mana (para du’at) itu adalah lawan bagi para ulama itu dalam dakwah ilallah atau dalam madzhab atau manhaj atau yang lainnya… bahkan sering kali para thaghut itu meminta fatwa-fatwa dari mereka untuk menangkap para du’at itu, menghabisi mereka dan dakwah-dakwah mereka dengan dalih bahwa mereka itu termasuk khawarij atau bughat yang menentang lagi menebar kerusakan di muka bumi… (ketahuilah sesungguhnya merekalah para perusak itu) sedangkan mereka mengetahuinya dan merasakannya…. Dan sungguh telah kami saksikan penyimpangan fatal ini banyak sekali pada orang-orang zaman kita ini… hanya kepada Allahlah tempat mengadu…
Dan para ulama yang miskin ini tidak mengetahui bahwa para ikhwan mereka dari kalangan para du’at meskipun jauh menyimpang… maka sesungguhnya itu adalah penyimpangan karena kejahilan atau takwil… bahkan kalau seandainya itu (penyimpangan) atas dasar ilmu dan ngotot, maka tidak akan sampai pada tingkatan penyimpangan para thaghut dan penentangan mereka terhadap Allah dan dien-Nya.
● Dan diantaranya juga mengiming-iming kaum mukminin dan para du’at dengan jabatan, posisi penting, pekerjaan dan gelar-gelar… memberikan kepada mereka fasilitas-fasilitas khusus, harta dan tempat tinggal, dan mengucurkan materi kepada mereka dan yang lainnya… sehingga dengannya mereka mampu membatasinya, membebaninya dan menutup mulutnya… serta mereka bisa merealisasikan bersamanya sebuah peribahasa: “Payudara yang menyusuimu tidak akan kamu gigit.” Begitulah hingga akhirnya para du’at atau para ulama itu tersesatkan oleh para thaghut dan pemerintahannya… sampai-sampai mereka itu menutupi kebatilan para thaghutnya dengan fatwa-fatwa mereka yang beraneka ragam dan dengan menuturkan keutamaan dan kebaikan-kebaikannya serta memuji mereka siang malam.
Ibnu Al Jauziy berkata dalam Talbis Iblis hal 121: “Dan diantara tipu daya Iblis terhadap para Fuqaha adalah berbaurnya mereka dengan para amir dan penguasa, bermudaharah terhadap mereka, dan meninggalkan pengingkaran terhadap mereka padahal ada kemampuan atas hal itu.”
Dan berkata pada hal 122: “Dan secara umum, sesungguhnya masuk menemui para penguasa adalah bahaya yang sangat besar karena niat terkadang baik di awal masuk kemudian berubah dengan sebab perbuatan baik mereka, pelayanannya, atau karena ingin apa yang ada pada tangan mereka, dan dia tidak tahan untuk mudahanah pada mereka dan meninggalkan pengingkaran atas mereka. Dan sungguh Sufyan Ats Tsauriy Radliyaallahu ‘Anhu berkata: “Saya tidak takut dari penghinaan mereka terhadap saya, hanya saja saya takut dari penghormatan mereka, sehingga hati saya cenderung kepada mereka.”
Seandainya orang yang berakal berfikir tentang orang-orang yang mana Sufyan menghawatirkan hatinya cenderung kepada mereka, tentulah dia mendapatkan perbedaan yang jauh antara mereka dengan para thaghut masa kita ini… Fallallahul Musta’an… Dan semoga Allah merahmati orang yang berkata:
Tidak ada sesuatu yang lebih rugi bagiannya dari para orang alim…
Yang dipermainkan oleh dunia bersama orang-orang jahil…
Dia berupaya membelah agamanya…
Dan menghilangkannya karena ingin mengumpulkan harta…
Orang yang tidak merasa diawasi Rabbnya dan tidak mencintainya…
Maka binasalah dirinya, hartanya dan keluarganya…
● Diantaranya juga penampakkan sebagian para thaghut akan sikap perhatian mereka terhadap sisi-sisi dan cabang-cabang dari dien ini dan dakwah terhadapnya supaya dengannya mereka bisa merekrut banyak para du’at dan para ulama yang mereka khawatirkan ketulusannya, dan kecintaan masyarakat terhadap mereka. Maka merekapun mendirikan buat para du’at dan ulama itu lembaga-lembaga, pesantren-pesantren, dan siaran-siaran. Dan mereka menyibukannya dengan departemen-departemen wakaf, proyek-proyeknya, rencana-rencananya dan yang lainnya yang tidak menyentuh kezaliman dan kerusakan para thaghut itu.
● Dan di antaranya juga apa yang diberikan kepada banyak du’at berupa izin dan kelayakan untuk dakwah dan khutbah serta apa yang mereka dirikan berupa Lembaga Amar Ma’ruf Nahi Munkar (di Saudi) yang berupaya untuk merekrut para du’at yang bersemangat tinggi dan menghalangi mereka dari kemungkaran-kemungkaran pemerintah, politiknya, kebatilannya dan kerusakan besar para thaghutnya… dengan cara menyibukkan mereka dengan sebagian kemungkaran-kemungkaran orang awam… terutama kemungkaran-kemungkaran mereka yang bisa mengancam keamanan negara dan kestabilan kekuasaan para thaghut…. Dan mereka tidak akan melampauinya pada tingkatan-tingkatan yang lebih tinggi dan lebih besar selama mereka telah mengikat diri mereka dengan lembaga itu atau surat izin itu yang mengendalikan mereka dan dakwahnya serta mengekangnya…
● Dan diantara hal itu juga adalah penghancuran, pembabatan dan pembunuhan yang mereka lakukan terhadap millah ini di jiwa-jiwa anak didik dari kalangan anak-anak kaum mukminin lewat sekolahan-sekolahan mereka, lembaga-lembaga mereka, sarana-sarana informasi mereka dan yayasan-yayasan thaghut mereka yang beraneka ragam. Sungguh para thaghut itu lebih busuk dan lebih hebat makarnya daripada Fir’aun. Mereka tidak mau menggunakan cara Fir’aun dalam membunuhi anak-anak kecuali di akhir keadaan saat semua metode mereka yang busuk lainnya tidak mampu. Sebelumnya mereka berupaya keras untuk membunuh millah ini dalam jiwa mereka. Mereka tidak membunuh generasi secara fisik sebagaimana yang dilakukan Fir’aun, namun mereka membunuh millah ini, pada jiwa mereka, sehingga dengannya mereka membinasakan generasi ini dengan sebenar-benarnya. Dan itu dengan cara mendidik mereka untuk loyal pada thaghut-thaghut itu, terhadap undang-undangnya dan pemerintahannya lewat sekolah-sekolah yang bejat ini dan sarana-sarana informasi mereka lainnya yang dimasukkan dan dibawa oleh banyak orang jahil dari kalangan kaum muslimin ke rumah-rumah mereka. Daripada para thaghut itu mengusik manusia dengan cara mempercepat pembunuhan dengan sebenarnya… maka mereka mengikuti politik yang busuk ini agar orang-orang bertasbih memuji mereka dan menyebutkan keutamaannya dengan dasar bahwa mereka telah memberantas buta huruf, menyebarkan ilmu dan kemajuan… Dan di atas itu semua dan di bawah kedok ini mereka mendidik anak-anak kaum muslimin sebagai para pengikut yang setia dan abdi yang tulus terhadap pemerintahan mereka, undang-undang mereka dan keluarga-keluarga mereka yang berkuasa… atau minimal mereka itu mendidik generasi yang miring, bodoh, menyimpang, tidak menyukai dakwah yang kokoh dan millah yang lurus ini, lagi mudahanah terhadap ahlul bathil… yang tidak kuat bahkan tidak pantas untuk menghadapi mereka atau berfikir tentangnya.
ثُمَّ جَعَلْنَاكَ عَلَى شَرِيعَةٍ مِّنَ اْلأَمْرِ فَاتَّبِعْهَا وَلاَتَتَّبِعْ أَهْوَآءَ الَّذِينَ لاَيَعْلَمُونَ. إِنَّهُمْ لَن يُغْنُوا عَنكَ مِنَّ اللهِ شَيْئًا وَإِنَّ الظَّالِمِينَ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَآءُ بَعْضٍ وَاللهُ وَلِيُّ الْمُتَّقِينَ
Artinya: “Kemudian Kami jadikan kamu berada di atas suatu syari’at (peraturan) dari urusan (agama) itu, maka ikutilah syari’at itu dan janganlah kemu ikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui. Sesungguhnya mereka sekali-kali tidak akan dapat menolak dari kamu sedikitpun dari (siksaan) Allah. Dan sesungguhnya orang-orang yang zalim itu sebagian mereka menjadi penolong bagi sebagian yang lain, dan Allah adalah pelindung orang-orang yang bertaqwa.” (QS. Al Jatsiyah, 45: 18-19).

Dan begitulah seandainya kita mengamati ayat-ayat Al Qur’an tentulah kita mendapatkan puluhan bahkan ratusan ayat-ayat yang menunjukkan terhadap makna-makna yang penting ini… Allah Subhanahu Wa Ta ‘Ala tidak menciptakan hamba-hamba-Nya sia-sia… dan tidaklah meninggalkan mereka menganggur (tanpa tugas). Apakah tidak cukup bagi para du’at jelas dan kokohnya manhaj ini…??? Apakah tidaklah lapang bagi mereka apa yang telah lapang bagi Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam dan para Nabi sebelumnya…??? Apakah belum tiba saatnya bagi mereka untuk bangun dari kelalaiannya…??? dan meluruskan penyimpangan-penyimpangan itu…??? Atau apakah belum cukup bagi mereka (hal itu) sebagai keterjatuhan di ajang permainan para thaghut… penyembunyian akan kebenaran… talbis terhadap manusia… dan penyia-nyiaan akan usaha dan umur…??? Sesungguhnya demi Allah hanya ada satu pilihan… syari’at Allah atau hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui…??? Di sana tidak ada kemungkinan ketiga… dan tidak ada jalan tengah antara syari’at yang lurus dengan hawa nafsu yang berubah-ubah…
Dan sesungguhnya ayat-ayat ini menentukan jalan aktivis dakwah dan membatasinya, serta di dalamnya sudah mencukupi lagi tidak membutuhkan ucapan, komentar atau tafshil (perincian)… sesungguhnya ia adalah syari’at yang satu, ia adalah yang berhak mendapatkan sifat ini. Dan yang selainnya adalah hawa nafsu yang bersumber dari kejahilan. Wajib atas pembawa panji dakwah untuk mengikuti syari’at saja dan meninggalkan hawa nafsu seluruhnya. Dia wajib untuk tidak berpaling dari sesuatu yang merupakan ajaran syari’at kepada sesuatu yang merupakan ajaran hawa nafsu. Para pengusung hawa nafsu satu sama lain saling menopang untuk menghadang pembawa syari’at… sehingga tidak boleh dia mengharapkan pada sebagian mereka pembelaan baginya… mereka itu bersekongkol atas dirinya… yang sebahagian penolong bagi sebahagian yang lain… akan tetapi mereka meskipun demikian adalah lebih lemah dari (mampu) membahayakannya… Dan mereka tidak akan membahayakannya kecuali gangguan-gangguan celaan saja. Allah-lah Penolong dan Pelindungnya, dan mana perwalian di samping perwalian (Allah)? Dan mana orang-orang lemah yang bodoh lagi tak berdaya yang mana sebagian mereka penolong bagi sebahagian yang lain di samping pembawa syari’at yang penolongnya adalah Allah… (Diambil dari Adh Dhilal dengan perubahan)
Dan Allah adalah pelindung bagi orang-orang yang bertaqwa…
Ini adalah jalannya… maka apakah ada orang-orangnya…???

Ringkasan dari Kitab “Millah Ibrahim” karangan Abu Muhammad Al Maqdisi

Filed under: Aqidah

PENGUMUMAN

Mohon maaf kepada para pengunjung blog ini jika beberapa komentar tidak kami tampilkan. Di karenakan komentar yang tidak mendidik tidak ilmiyah dengan berdasar dalil dan cenderung emosional. Semua itu kami lakukan untuk meminimalisir perdebatan yang tidak ilmiyah dan di dasari atas emosi saja

Tanggalan

Jam dinding



Blog Stats

  • 310,886 hits

Pengunjung

online