At Taujih

Mengawal Wacana Iqomatuddiin

RINGKASAN MILLAH IBRAHIM

Penjelasan Millah Ibrahim

وَمَن يَرْغَبْ عَن مِّلَّةِ إِبْرَاهِيمَ إِلاَّ مَن سَفِهَ نَفْسَهُ وَلَقَدِ اصْطَفَيْنَاهُ فِي الدُّنْيَا وَإِنَّهُ فِي اْلأَخِرَةِ لَمِنَ الصَّالِحِينَ
Artinya: “Dan tidak ada yang benci kepada agama Ibrahim, kecuali orang yang memperbodoh dirinya sendiri, dan sungguh Kami telah memilihnya di dunia dan sesungguhnya dia di akhirat benar-benar termasuk orang yang saleh.” (QS. Al Baqarah, 2: 130)
ثُمَّ أَوْحَيْنَآ إِلَيْكَ أَنِ اتَّبِعْ مِلَّةَ إِبْرَاهِيمَ حَنِيفًا وَمَاكَانَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ
Artinya: “Kemudian Kami wahyukan kepadamu (Muhammad): “Ikutilah agama Ibrahim seorang yang hanif”. dan bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan Rabb.” (QS. An Nahl, 16: 123)
Allah Subhanahu Wa Ta ‘Ala telah mensucikan dakwahnya di hadapan kita dan memerintahkan penutup para Nabi dan rasul agar mengikutinya, serta Dia menjadikan safaahah (dungu/bodoh sekali) sebagai sifat bagi setiap orang yang tidak suka terhadap jalan dan manhajnya. Sedangkan Millah Ibrahim adalah:
● Memurnikan ibadah kepada Allah saja dengan segala makna yang di kandung oleh kata ibadah.(5)
● Berlepas diri dari syirik dan para pelakunya.
إخلاص العبادة لله وحده، بكل ما تحويه كلمة العبادة من معان[1].
* والبراءة من الشرك وأهله.
يقول الإمام الشيخ محمد بن عبد الوهاب رحمه الله تعالى: ”أصل دين الإسلام وقاعدته أمران:
الأول: الأمر بعبادة الله وحده لا شريك له والتحريض على ذلك والموالاة فيه وتكفير من تركه.
الثاني: الإنذار عن الشرك في عبادة الله والتغليظ في ذلك والمعاداة فيه وتكفير من فعله“ اهـ

Al Imam Asy Syaikh Muhammad Ibnu Abdil Wahhab rahimahullah berkata: Pokok dien Al Islam dan kaidahnya ada dua:
Pertama: – Perintah ibadah kepada Allah saja tidak ada sekutu bagi-Nya
– Dorongan kuat atas hal itu
– Melakukan loyalitas di dalamnya
– Dan mengkafirkan orang yang meninggalkannya
Kedua : – Peringatan dari penyekutuan dalam ibadah kepada Allah
– Kecaman keras terhadap hal itu
– Melakukan permusuhan di dalamnya
– Dan mengkafirkan orang yang melakukannya
(majmu’atut Tauhid).

PERINGATAN PERTAMA:
Merealisasikan tauhid hanya dengan mempelajarinya.
Ada yang mengira bahwa Millah Ibrahim ini terealisasi pada zaman kita ini dengan cara mempelajari tauhid, dan mengetahui bagian-bagian dan macam-macamnya yang tiga dengan sekedar ma’rifah nadhariyah (teoritis)…. Terus diam dari (mensikapi) ahlul bathil dan tidak menyatakan serta menampakkan bara’ah dari kebatilan mereka.
Maka terhadap macam orang seperti itu kami katakan: Seandainya Millah Ibrahim adalah seperti itu, tentulah kaumnya tidak melemparkan beliau ke dalam api karenanya, bahkan seandainya ia bermudahanah terhadap mereka, mendiamkan sebagian kebatilan mereka, tidak menjelek-jelekkan tuhan-tuhan mereka, tidak menyatakan permusuhan terhadap mereka, dan mencukupkan dengan tauhid nadhariy yang ia kaji bersama pengikut-pengikutnya dengan pengkajian yang tidak keluar pada waqi’ ‘amali (realita praktek) yang menjelma dalam bentuk al wala, al bara’, cinta, benci, memusuhi, dan menjauh karena Allah, bisa jadi bila beliau melakukan hal itu mereka membukakan baginya semua pintu, bahkan bisa saja mereka mendirikan baginya sekolah-sekolah dan lembaga-lembaga seperti pada zaman kita yang di dalamnya dipelajari tauhid nadhariy ini… dan bahkan bisa saja mereka itu memasang di atasnya papan nama yang besar dan mereka menamakannya: Madrasah atau Ma’had tauhid, fakultas dakwah dan ushuluddien,…. dll. Ini semua tidak membahayakan mereka dan tidak mempengaruhi mereka selama hal itu tidak keluar pada realita dan praktek. Dan seandainya universitas-universitas, sekolah-sekolah, dan fakultas-fakultas ini mengeluarkan bagi mereka ribuan skripsi, karya ilmiah dan risalah Magister dan Doktoral tentang ikhlas, tauhid dan dakwah, tentulah mereka tidak mengingkari hal itu, bahkan justeru mereka memberikan ucapan selamat dan memberikan hadiah-hadiah, ijazah-ijazah dan gelar-gelar yang besar buat para peraihnya … selama hal itu tidak menyinggung kebatilan, keadaan dan realita mereka, serta selama tetap pada keadaannya yang terkaburkan.
Syaikh Abdullathif Ibnu Abdirrahman berkata dalam Ad Durar As Saniyyah: “Tidak terbayang -bahwa seseorang- mengetahui tauhid dan mengamalkannya namun tidak memusuhi para pelaku syirik, sedangkan orang yang tidak memusuhi mereka maka tidak dikatakan kepadanya (bahwa) ia mengetahui tauhid dan mengamalkannya,” (Juz Al Jihad hal: 167)
Dan beliau berkata juga dalam Ad Durar As Saniyyah: “Sedangkan idhharud dien adalah mengkafirkan mereka, mencela ajaran mereka, menjelek-jelekkan mereka, bara’ dari mereka, berhati-hati dari mencintai mereka dan cenderung kepadanya, dan menjauhi mereka. Dan idhharud dien itu bukan hanya shalat.” (dari Juz Al Jihad: 196)
Abul Wafa Ibnu Uqaid rahimahullah berkata: “Bila engkau ingin melihat posisi Islam di tengah manusia zaman sekarang, maka jangan kau lihat berjubelnya mereka di pintu-pintu masjid dan gemuruh mereka dengan labbaika, namun lihatlah keselarasan mereka terhadap musuh-musuh syari’at. Maka berlindunglah… berlindunglah pada benteng dien ini dan berpeganglah pada tali Allah yang kokoh, serta cepatlah bergabung dengan wali-wali-Nya al mukminin, dan hati-hatilah dari musuh-musuh-Nya yang selalu menyelisihi. Sungguh sarana mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu Wa Ta ‘Ala yang paling utama adalah membenci orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya dan menjihadinya dengan tangan, lisan dan hati sesuai kemampuan.” (Ad Durar, Juz Al Jihad, hal: 238)
Al’Alamah Ibnul Quyyim rahimahullah berkata: “Tatkala Allah Subhanahu Wa Ta ‘Ala melarang kaum muslimin dari loyalitas terhadap orang-orang kafir, maka hal itu menuntut untuk memusuhi mereka, bara’ darinya dan terang-terangan memusuhi mereka disetiap keadaan.” (Badai-ul Fawaid 3/69)
وَلاَتَرْكَنُوا إِلَى الَّذِينَ ظَلَمُوا فَتَمَسَّكُمُ النَّارُ وَمَالَكُم مِّن دُونِ اللهِ مِنْ أَوْلِيَآءَ ثُمَّ لاَتُنصَرُونَ

Artinya: “Dan janganlah kalian cenderung kepada orang-orang dhalim yang menyebabkan kalian disentuh api neraka, dan sekali-kali kalian tiada mempunyai seorang penolong selain daripada Allah, kemudian kamu tidak akan diberi pertolongan.” (QS. Hud, 11: 113)
وقد قال المفسرون في قوله تعالى: (وَلا تَرْكَنُوا) الركون هو الميل اليسير.
* وقال أبو العالية: لا تميلوا إليهم كل الميل في المحبة ولين الكلام.
* وقال سفيان الثوري: من لاق لهم دواة أو برى لهم قلماً أو ناولهم قرطاساً دخل في ذلك.
* قال الشيخ حمد بن عتيق: فتوعد سبحانه بمسيس النار من ركن إلى أعدائه ولو بلين الكلام.

Para ahli tafsir berkata tentang firman-Nya Subhanahu Wa Ta ‘Ala. “ولاتركنوا” Ar Rukuun adalah kecenderungan yang sedikit.
Abul ‘Aaliyah berkata: “Janganlah kalian cenderung pada mereka dengan kecenderungan yang banyak dalam kecintaan dan perkataan yang lembut.”
Sufyan Ats Tsauriy berkata: “Atau mengambilkan kertas baginya, maka ia telah masuk dalam hal itu.”
Syaikh Hamd Ibnu ‘Atiq berkata: “Maka Allah Subhanahu Wa Ta ‘Ala mengancam dengan sentuhan api neraka orang yang cenderung kepada musuh-musuh-Nya dengan ucapan yang lemah lembut.”
Syaikh Abdullathif Ibnu Abdurrahman – dan beliau tergolong Aimmah Dakwah Najdiyyah Salafiyyah – juga berkata setelah menuturkan sebagian perkataan al mufassirun yang lalu tentang makna cenderung. ”Itu dikarenakan dosa syirik adalah dosa terbesar yang dengannya Allah didurhakai dengan beragam tingkatannya, maka apa gerangan bila hal itu ditambah dengan apa yang lebih buruk, yaitu perolok-olokan terhadap ayat-ayat Allah, menggeser hukum-hukum dan perintah-perintah-Nya, serta menamakan hukum yang menyelisihinya dengan keadilan, sedangkan Allah, Rasul-Nya dan kaum mukminin mengetahui bahwa itu adalah kekafiran, kejahilan dan kesesatan. Orang yang sedikit memiliki penjunjungan (pada dien) dan di hatinya ada sedikit kehidupan tentu dia cemburu terhadap Allah, Rasul-Nya, kitab-Nya dan Dien-Nya, serta dahsyatlah pengingkaran dan bara’ahnya di setiap kesempatan dan majelis. Ini tergolong jihad yang mana menjihadi musuh tidak terealisasi kecuali dengannya. Maka pergunakanlah kesempatan idhhar dienullah, mudzakarah dengannya, mencela orang yang menyalahinya, bara’ah darinya dan dari para pelakunya. Perhatikanlah sarana-sarana yang menjerumuskan pada kerusakan terbesar ini dan perhatikanlah nash-nash syari’at yang menjelaskan sarana-sarana dan jalan-jalan (yang menghantarkannya), karena mayoritas manusia meskipun dia tabara’ darinya dan dari pelakunya namun ia adalah tentara bagi orang-orang yang loyal pada mereka, tenang dengan mereka dan tinggal dengan perlindungan mereka, Wallahul musta’an.“ (Ad Durar Juz Al Jihad hal 161). Sungguh indah sekali, seolah beliau berbicara tentang zaman kita.
Dan perlu engkau ketahui di akhir ini bahwa manusia sikapnya terhadap kebenaran ini ada beberapa macam:
1. Orang yang teguh lagi terang-terangan dengan Millah Ibrahim dan dengan dien seluruh rasul sesuai dengan apa yang lalu, dia tidak takut dijalan Allah celaan orang yang mencela, maka ia termasuk thaifah dhahirah yang mendapat pertolongan, yaitu penyeru pada kebenaran yang berbaur dengan manusia dan sabar atas gangguan mereka, dialah yang mendapatkan kemenangan dengan kemuliaan di dunia dan akhirat, yang mana Allah berfirman tentangnya:
وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلاً مِّمَّن دَعَآ إِلَى اللهِ وَعَمِلَ صَالِحًا وَقَالَ إِنَّنِى مِنَ الْمُسْلِمِينَ
Artinya: “Dan siapa yang lebih baik ucapannya dari orang yang menyeru kepada Allah, dan beramal shalih, serta dia berkata. “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri.” (QS. Fushshilat, 4: 33).
Dan ia adalah yang dimasukkan dengan hadits:
المُؤْمِنُ الَذِيْ يُخَالِطُ النَّاسَ وَيَصْبِرُ عَلَى أَذَاهُمِ خَيْرٌ
Artinya: “Orang mukmin yang berbaur dengan manusia dan sabar terhadap gangguan mereka adalah lebih baik…”
Dan gangguan hanya terjadi padanya karena dia mendatangkan apa yang dibawa oleh para rasul… dia tidak mudahanah terhadap ahlul bathil, tidak cenderung pada mereka atau ridla dengan kebatilan mereka, namun ia bara’ dari mereka, menampakkan permusuhan terhadap mereka, dan meninggalkan/menjauhi setiap apa yang bisa membantu mereka atas kebathilannya, baik berupa jabatan, profesi, pekerjaan atau jalan. Dan orang yang keadaannya seperti ini tidak ada dosa baginya dengan tinggalnya dia di tengah masyarakat mereka, dan negeri-negeri mereka, dan tidak wajib atasnya hijrah dari negeri mana saja.
Syaikh Hamd Ibnu ‘Atiq berkata saat menjelaskan firman Allah Subhanahu Wa Ta ‘Ala: “Sungguh telah ada bagi kalian suri tauladan yang baik pada diri Ibrahim dan orang-orang yang bersamanya”… Hingga akhir Al Mumtahanah: 4. Dan makna (بدا) adalah nampak dan jelas. Sedangkan yang dimaksud adalah penegasan terang-terangan akan terus berlangsungnya permusuhan dan kebencian bagi orang yang mentauhidkan Rabbnya dengan kaum musyrikin. Siapa yang merealisasikan hal itu secara ilmu dan amal, dan ia menyatakannya terang-terangan sehingga penduduk negerinya mengetahui hal itu darinya maka hijrah tidak wajib atasnya dari negeri mana saja. Dan adapun orang yang tidak seperti itu, namun dia justeru mengira bahwa bila ia dibiarkan shalat, shaum dan haji maka hijrah gugur darinya, maka sungguh ini tergolong kebodohan akan dien ini dan sikap lalai dari intisari risalah para rasul…” (Ad Durar Juz Al Jihad hal: 199)
Dan orang macam ini bila terang-terangan menyatakan al haq dan dia diancam akan dibunuh dan disiksa sedangkan tidak ada di sana negeri tempat hijrah maka baginya tauladan yang baik pada diri Ashhabul Kahfi yang ingin menyelamatkan diennya dan mereka lari ke gunung…, dan baginya juga tauladan yang baik pada Ashhabul Ukhdud yang dibakar hidup-hidup dalam rangka mempertahankan aqidah dan tauhid mereka…. Mereka tidak lemah dan tidak menyerah (pada musuh)… dan baginya juga tauladan yang baik pada diri sahabat-sahabat Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam yang hijrah, jihad, berperang dan terbunuh. Dan cukuplah Tuhannu sebagai pemberi petunjuk dan penolong.
Dan andai tak ada mereka hampir (bumi) oleng dengan penghuninya…
Namun pasak-pasak dan paku-pakunya adalah mereka…
Dan andai tak ada mereka tentu (bumi) gelap dengan penghuninya…
Namun mereka di dalamnya adalah purnama dan bintang-bintang…
2. Orang yang lebih rendah kedudukannya dari yang pertama, yang tidak mampu meniti jalan ini yang dipenuhi dengan resiko, dia mengkhawatirkan diennya dan dia tidak mampu menampakkan hal itu dengan terang-terangan. Dia mengasingkan diri dengan kambing-kambingnya yang digiring ke daerah hutan dan lereng-lereng gunung, dia beribadah kepada Allah seraya lari dengan diennya dari fitnah.
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُوشِكُ أَنْ يَكُونَ خَيْرَ مَالِ الْمُسْلِمِ غَنَمٌ يَتْبَعُ بِهَا شَعَفَ الْجِبَالِ وَمَوَاقِعَ الْقَطْرِ يَفِرُّ بِدِينِهِ مِنْ الْفِتَنِ – البخارى.
3. Orang yang tertindas yang menutup pintu rumahnya lagi mengkonsentrasikan diri pada urusan keluarganya saja, dia berusaha untuk keselamatan keluarganya dan menjaga mereka dari syirik, para pelakunya dan dari api neraka yang kayu bakarnya adalah manusia dan batu… dia menjauhi orang-orang kafir dan berpaling dari mereka, dia tidak menampakkan sikap ridla terhadap kebatilan mereka dan tidak membantunya dengan bentuk bantuan apapun… Dan mesti untuk hal ini dalam rangka keselamatan tauhidnya keberadaan hatinya teguh tentram dengan permusuhan dan kebencian terhadap syirik dan kaum musyirkin seraya menunggu hilangnya penghalang… dan menunggu-nunggu kesempatan untuk kabur membawa diennya dan untuk hijrah ke negeri yang lebih minimal keburukannya yang di sana dia bisa menampakkan diennya, seperti hijrah para Muhajirin ke Habasyah.
4. Orang yang menampakkan ridla terhadap ahlul bathil lagi mudahannah (basa-basi) terhadap kerusakan dan kesesatan mereka. Maka ini ada tiga keadaan yang telah disebutkan oleh Syaikh Hamd Ibnu ‘Atiq dalam Sabilun Najah wal Fikak hal: 62.
Keadaan pertama: Setuju terhadap mereka dalam dhahir dan bathin, maka ini kafir di luar Islam, sama saja baik dipaksa atau tidak. Dan dia tergolong orang yang Allah firmankan:

وَلَكِن مَّن شَرَحَ بِالْكُفْرِ صَدْرًا فَعَلَيْهِمْ غَضَبٌ مِّنَ اللهِ وَلَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمُُ
Artinya: “Akan tetapi orang yang melapangkan dadanya untuk kekafiran, maka kemurkaan Allah menimpanya dan baginya adzab yang besar.” (QS. An Nahl, 16: 106)

Keadaan kedua: Setuju terhadap mereka dan cenderung terhadap mereka di dalam bathin, padahal di dhahirnya dia menyelisihi mereka, ini kafir juga, dan merekalah orang-orang munafiq.
Keadaan ketiga: Setuju terhadap mereka secara dhahir padahal di bathin menyelisihi mereka. Dan ini ada dua macam:
Pertama: Dia melakukan hal itu karena sebab dia berada dalam genggaman mereka dengan disertai pukulan, diikat dan diancam dibunuh, maka bila keadaannya seperti ini boleh baginya menampakkan sikap setuju terhadap mereka secara dhahir dengan disertai hati tuma’ninah dengan keimanan, sebagaimana yang terjadi pada Ammar. Allah Subhanahu Wa Ta ‘Ala berfirman:
إِلاَّ مَنْ أُكْرِهَ وَقَلْبُهُ مُطْمَئِنٌّ بِاْلإِيمَانِ
Artinya: “Kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam beriman.” (QS. An Nahl, 16: 106).
Saya berkata. Dan seyogyanya bagi orang seperti ini sebagaimana yang telah kami sampaikan agar selalu berupaya seperti orang-orang tertindas dari kalangan sahabat Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam untuk lari membawa diennya dan selalu berdo’a:
رَبَّنَآأَخْرِجْنَا مِنْ هَذِهِ الْقَرْيَةِ الظَّالِمِ أَهْلُهَا وَاجْعَل لَّنَا مِن لَّدُنكَ وَلِيًّا وَاجْعَل لَّنَا مِن لَّدُنكَ نَصِيًرا
Artinya: “Ya tuhan kami keluarkahlah kami dari negeri ini yang dzalim penduduknya dan berilah kami pelindung dari sisi Engkau, dan berilah kami pertolongan dari sisi Engkau.” (QS. An Nisa, 4: 75)
Kedua: Menyetujui mereka secara dhahir namun bathin menyelisihinya sedangkan ia tidak ada dalam genggaman mereka. Namun dia lakukan itu bisa jadi karena ingin kedudukan, atau harta, atau berat dengan tanah air, atau keluarga, atau takut terjadi sesuatu pada hartanya, sesungguhnya orang dengan keadaan ini adalah murtad dan kebencian terhadap orang-orang kafir di dalam bathin adalah tidak berguna baginya, dan ia itu tergolong orang yang Allah Firmankan:
ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ اسْتَحَبُّوا الْحَيَاةَ الدُّنْيَا عَلَى اْلأَخِرَةِ وَأَنَّ اللهَ لاَيَهْدِي الْقَوْمَ الْكَافِرِينَ
Artinya: “Yang demikian itu disebabkan karena sesungguhnya mereka mencintai kehidupan di dunia lebih dari akhirat, dan bahwasannya Allah tiada memberi petunjuk kepada kaum yang kafir.” (QS. An Nahl, 16: 107).
Allah Subhanahu Wa Ta ‘Ala mengabarkan bahwa yang mendorong mereka untuk berbuat kekafiran bukanlah kejahilan atau kebenciannya dan juga bukan kecintaan kepada kebathilan, namun ia hanyalah bagian dunia yang lebih mereka utamakan atas dien ini… beliau berkata: “Dan ini adalah makna perkataan Syaikhul Islam Muhammad Ibnu Abdil Wahhab rahimahullah”.
Di Antara Metode Para Thaghut Untuk Membancikan Millah Ibrahim
Dan Membunuhnya Di Jiwa Para Du’at
Artinya: “Maka mereka menginginkan supaya kamu bersikap lunak lalu mereka bersikap lunak (pula kepadamu).” (QS. Al Qalam, 68: 9).

وَإِن كَادُوا لَيَفْتِنُونَكَ عَنِ الَّذِي أَوْحَيْنَآ إِلَيْكَ لِتَفْتَرِيَ عَلَيْنَا غَيْرَهُ وَإِذًا لاَتَّخَذُوكَ خَلِيلاً
Artinya: “Dan sesungguhnya mereka hampir memalingkan kamu dari apa yang telah Kami wahyukan kepadamu, agar kamu membuat yang lain secara bohong terhadap Kami; dan kalau sudah begitu tentulah mereka mengambil kamu jadi sahabat yang setia.” (QS. Al Isra, 17: 73)
Sayyid Quthub rahimahullah berkata saat menjelaskan ayat ini setelah beliau menyebutkan upaya-upaya kaum musyrikin untuk tawar menawar dengan Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam atas banyak hal dari urusan dien dan dakwahnya, yang diantaranya: meninggalkan celaan terhadap tuhan-tuhan mereka dan apa yang dipegang nenek moyang mereka serta yang lainnya…, beliau berkata: “Upaya-upaya (percobaan) ini yang mana Allah melindungi Rasul-Nya darinya, yaitu upaya-upaya (muhawalat) para penguasa yang selalu dilakukan pada para pengibar dakwah, adalah muhawalah menggiurkan mereka agar menyimpang meskipun sedikit dari istiqamah dakwah dan shalabah (keteguhan)nya…. dan mereka mau rela dengan solusi jalan tengah yang ditawarkan kepada mereka dengan imbalan materi yang sangat banyak. Dan diantara para aktivis dakwah ada orang yang terpalingkan dengan hal ini dari dakwahnya, karena ia memandang masalah ini hanya sepele. Dan para penguasa tidak menuntut dia meninggalkan dakwahnya secara total, akan tetapi mereka menuntut sedikit perubahan agar kedua pihak bisa bertemu di tengah jalan. Sedangkan syaitan terkadang masuk (menjerumuskan) pembawa dakwah dari celah ini, sehingga dia berpikir bahwa kebaikan dakwah adalah ada dalam sikap menarik (simpati) para penguasa kepadanya meskipun dengan cara tanazul (mengorbankan sedikit dakwah) dari salah satu sisinya…!!!. Akan tetapi penyimpangan sedikit di awal jalan adalah akan sampai pada penyimpangan total di akhir jalan. Dan pembawa dakwah yang mau menerima penyerahan dalam satu bagian darinya meskipun sedikit dan dia mau membuka tutupnya meskipun kecil, maka ia tidak kuasa berdiri saat itu selamat dengannya di awal mula… karena persiapannya untuk berserah diri makin bertambah setiap kali ia mundur satu langkah ke belakang! Sedangkan para penguasa (thaghut) terus mengulur para aktivis dakwah. Bila para aktivis itu menyerahkan pada satu bagian saja, maka mereka telah kehilangan wibawa dan perlindungan dirinya, dan para pihak pemeran pun mengetahui bahwa keberlangsungan tawar-menawar dan naiknya harga keduanya akan berakhir untuk kemenangan pihak penguasa (dalam merekrut) kepada barisannya. Ia adalah kekalahan ruhiyyah (jiwa) dengan cara bertolak pada penguasa dalam nusrah dien. Sedangkan Allah sajalah yang dijadikan pegangan oleh kaum mukminin dalam dakwahnya… dan kapan saja merebak kekalahan dalam sanubari, maka kekalahan ini tidak akan menjadi kemenangan…!!!”

● Bahkan bisa saja kalangan para thaghut itu memanfaatkan sikap sesat yang berbahaya ini… dan mereka mengendalikan banyak dari kalangan ulama yang jahil itu untuk menghalang-halangi (manusia) dari para du’at dan membuat (orang) takut dari kelompok-kelompok Islam mereka yang mana (para du’at) itu adalah lawan bagi para ulama itu dalam dakwah ilallah atau dalam madzhab atau manhaj atau yang lainnya… bahkan sering kali para thaghut itu meminta fatwa-fatwa dari mereka untuk menangkap para du’at itu, menghabisi mereka dan dakwah-dakwah mereka dengan dalih bahwa mereka itu termasuk khawarij atau bughat yang menentang lagi menebar kerusakan di muka bumi… (ketahuilah sesungguhnya merekalah para perusak itu) sedangkan mereka mengetahuinya dan merasakannya…. Dan sungguh telah kami saksikan penyimpangan fatal ini banyak sekali pada orang-orang zaman kita ini… hanya kepada Allahlah tempat mengadu…
Dan para ulama yang miskin ini tidak mengetahui bahwa para ikhwan mereka dari kalangan para du’at meskipun jauh menyimpang… maka sesungguhnya itu adalah penyimpangan karena kejahilan atau takwil… bahkan kalau seandainya itu (penyimpangan) atas dasar ilmu dan ngotot, maka tidak akan sampai pada tingkatan penyimpangan para thaghut dan penentangan mereka terhadap Allah dan dien-Nya.
● Dan diantaranya juga mengiming-iming kaum mukminin dan para du’at dengan jabatan, posisi penting, pekerjaan dan gelar-gelar… memberikan kepada mereka fasilitas-fasilitas khusus, harta dan tempat tinggal, dan mengucurkan materi kepada mereka dan yang lainnya… sehingga dengannya mereka mampu membatasinya, membebaninya dan menutup mulutnya… serta mereka bisa merealisasikan bersamanya sebuah peribahasa: “Payudara yang menyusuimu tidak akan kamu gigit.” Begitulah hingga akhirnya para du’at atau para ulama itu tersesatkan oleh para thaghut dan pemerintahannya… sampai-sampai mereka itu menutupi kebatilan para thaghutnya dengan fatwa-fatwa mereka yang beraneka ragam dan dengan menuturkan keutamaan dan kebaikan-kebaikannya serta memuji mereka siang malam.
Ibnu Al Jauziy berkata dalam Talbis Iblis hal 121: “Dan diantara tipu daya Iblis terhadap para Fuqaha adalah berbaurnya mereka dengan para amir dan penguasa, bermudaharah terhadap mereka, dan meninggalkan pengingkaran terhadap mereka padahal ada kemampuan atas hal itu.”
Dan berkata pada hal 122: “Dan secara umum, sesungguhnya masuk menemui para penguasa adalah bahaya yang sangat besar karena niat terkadang baik di awal masuk kemudian berubah dengan sebab perbuatan baik mereka, pelayanannya, atau karena ingin apa yang ada pada tangan mereka, dan dia tidak tahan untuk mudahanah pada mereka dan meninggalkan pengingkaran atas mereka. Dan sungguh Sufyan Ats Tsauriy Radliyaallahu ‘Anhu berkata: “Saya tidak takut dari penghinaan mereka terhadap saya, hanya saja saya takut dari penghormatan mereka, sehingga hati saya cenderung kepada mereka.”
Seandainya orang yang berakal berfikir tentang orang-orang yang mana Sufyan menghawatirkan hatinya cenderung kepada mereka, tentulah dia mendapatkan perbedaan yang jauh antara mereka dengan para thaghut masa kita ini… Fallallahul Musta’an… Dan semoga Allah merahmati orang yang berkata:
Tidak ada sesuatu yang lebih rugi bagiannya dari para orang alim…
Yang dipermainkan oleh dunia bersama orang-orang jahil…
Dia berupaya membelah agamanya…
Dan menghilangkannya karena ingin mengumpulkan harta…
Orang yang tidak merasa diawasi Rabbnya dan tidak mencintainya…
Maka binasalah dirinya, hartanya dan keluarganya…
● Diantaranya juga penampakkan sebagian para thaghut akan sikap perhatian mereka terhadap sisi-sisi dan cabang-cabang dari dien ini dan dakwah terhadapnya supaya dengannya mereka bisa merekrut banyak para du’at dan para ulama yang mereka khawatirkan ketulusannya, dan kecintaan masyarakat terhadap mereka. Maka merekapun mendirikan buat para du’at dan ulama itu lembaga-lembaga, pesantren-pesantren, dan siaran-siaran. Dan mereka menyibukannya dengan departemen-departemen wakaf, proyek-proyeknya, rencana-rencananya dan yang lainnya yang tidak menyentuh kezaliman dan kerusakan para thaghut itu.
● Dan di antaranya juga apa yang diberikan kepada banyak du’at berupa izin dan kelayakan untuk dakwah dan khutbah serta apa yang mereka dirikan berupa Lembaga Amar Ma’ruf Nahi Munkar (di Saudi) yang berupaya untuk merekrut para du’at yang bersemangat tinggi dan menghalangi mereka dari kemungkaran-kemungkaran pemerintah, politiknya, kebatilannya dan kerusakan besar para thaghutnya… dengan cara menyibukkan mereka dengan sebagian kemungkaran-kemungkaran orang awam… terutama kemungkaran-kemungkaran mereka yang bisa mengancam keamanan negara dan kestabilan kekuasaan para thaghut…. Dan mereka tidak akan melampauinya pada tingkatan-tingkatan yang lebih tinggi dan lebih besar selama mereka telah mengikat diri mereka dengan lembaga itu atau surat izin itu yang mengendalikan mereka dan dakwahnya serta mengekangnya…
● Dan diantara hal itu juga adalah penghancuran, pembabatan dan pembunuhan yang mereka lakukan terhadap millah ini di jiwa-jiwa anak didik dari kalangan anak-anak kaum mukminin lewat sekolahan-sekolahan mereka, lembaga-lembaga mereka, sarana-sarana informasi mereka dan yayasan-yayasan thaghut mereka yang beraneka ragam. Sungguh para thaghut itu lebih busuk dan lebih hebat makarnya daripada Fir’aun. Mereka tidak mau menggunakan cara Fir’aun dalam membunuhi anak-anak kecuali di akhir keadaan saat semua metode mereka yang busuk lainnya tidak mampu. Sebelumnya mereka berupaya keras untuk membunuh millah ini dalam jiwa mereka. Mereka tidak membunuh generasi secara fisik sebagaimana yang dilakukan Fir’aun, namun mereka membunuh millah ini, pada jiwa mereka, sehingga dengannya mereka membinasakan generasi ini dengan sebenar-benarnya. Dan itu dengan cara mendidik mereka untuk loyal pada thaghut-thaghut itu, terhadap undang-undangnya dan pemerintahannya lewat sekolah-sekolah yang bejat ini dan sarana-sarana informasi mereka lainnya yang dimasukkan dan dibawa oleh banyak orang jahil dari kalangan kaum muslimin ke rumah-rumah mereka. Daripada para thaghut itu mengusik manusia dengan cara mempercepat pembunuhan dengan sebenarnya… maka mereka mengikuti politik yang busuk ini agar orang-orang bertasbih memuji mereka dan menyebutkan keutamaannya dengan dasar bahwa mereka telah memberantas buta huruf, menyebarkan ilmu dan kemajuan… Dan di atas itu semua dan di bawah kedok ini mereka mendidik anak-anak kaum muslimin sebagai para pengikut yang setia dan abdi yang tulus terhadap pemerintahan mereka, undang-undang mereka dan keluarga-keluarga mereka yang berkuasa… atau minimal mereka itu mendidik generasi yang miring, bodoh, menyimpang, tidak menyukai dakwah yang kokoh dan millah yang lurus ini, lagi mudahanah terhadap ahlul bathil… yang tidak kuat bahkan tidak pantas untuk menghadapi mereka atau berfikir tentangnya.
ثُمَّ جَعَلْنَاكَ عَلَى شَرِيعَةٍ مِّنَ اْلأَمْرِ فَاتَّبِعْهَا وَلاَتَتَّبِعْ أَهْوَآءَ الَّذِينَ لاَيَعْلَمُونَ. إِنَّهُمْ لَن يُغْنُوا عَنكَ مِنَّ اللهِ شَيْئًا وَإِنَّ الظَّالِمِينَ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَآءُ بَعْضٍ وَاللهُ وَلِيُّ الْمُتَّقِينَ
Artinya: “Kemudian Kami jadikan kamu berada di atas suatu syari’at (peraturan) dari urusan (agama) itu, maka ikutilah syari’at itu dan janganlah kemu ikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui. Sesungguhnya mereka sekali-kali tidak akan dapat menolak dari kamu sedikitpun dari (siksaan) Allah. Dan sesungguhnya orang-orang yang zalim itu sebagian mereka menjadi penolong bagi sebagian yang lain, dan Allah adalah pelindung orang-orang yang bertaqwa.” (QS. Al Jatsiyah, 45: 18-19).

Dan begitulah seandainya kita mengamati ayat-ayat Al Qur’an tentulah kita mendapatkan puluhan bahkan ratusan ayat-ayat yang menunjukkan terhadap makna-makna yang penting ini… Allah Subhanahu Wa Ta ‘Ala tidak menciptakan hamba-hamba-Nya sia-sia… dan tidaklah meninggalkan mereka menganggur (tanpa tugas). Apakah tidak cukup bagi para du’at jelas dan kokohnya manhaj ini…??? Apakah tidaklah lapang bagi mereka apa yang telah lapang bagi Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam dan para Nabi sebelumnya…??? Apakah belum tiba saatnya bagi mereka untuk bangun dari kelalaiannya…??? dan meluruskan penyimpangan-penyimpangan itu…??? Atau apakah belum cukup bagi mereka (hal itu) sebagai keterjatuhan di ajang permainan para thaghut… penyembunyian akan kebenaran… talbis terhadap manusia… dan penyia-nyiaan akan usaha dan umur…??? Sesungguhnya demi Allah hanya ada satu pilihan… syari’at Allah atau hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui…??? Di sana tidak ada kemungkinan ketiga… dan tidak ada jalan tengah antara syari’at yang lurus dengan hawa nafsu yang berubah-ubah…
Dan sesungguhnya ayat-ayat ini menentukan jalan aktivis dakwah dan membatasinya, serta di dalamnya sudah mencukupi lagi tidak membutuhkan ucapan, komentar atau tafshil (perincian)… sesungguhnya ia adalah syari’at yang satu, ia adalah yang berhak mendapatkan sifat ini. Dan yang selainnya adalah hawa nafsu yang bersumber dari kejahilan. Wajib atas pembawa panji dakwah untuk mengikuti syari’at saja dan meninggalkan hawa nafsu seluruhnya. Dia wajib untuk tidak berpaling dari sesuatu yang merupakan ajaran syari’at kepada sesuatu yang merupakan ajaran hawa nafsu. Para pengusung hawa nafsu satu sama lain saling menopang untuk menghadang pembawa syari’at… sehingga tidak boleh dia mengharapkan pada sebagian mereka pembelaan baginya… mereka itu bersekongkol atas dirinya… yang sebahagian penolong bagi sebahagian yang lain… akan tetapi mereka meskipun demikian adalah lebih lemah dari (mampu) membahayakannya… Dan mereka tidak akan membahayakannya kecuali gangguan-gangguan celaan saja. Allah-lah Penolong dan Pelindungnya, dan mana perwalian di samping perwalian (Allah)? Dan mana orang-orang lemah yang bodoh lagi tak berdaya yang mana sebagian mereka penolong bagi sebahagian yang lain di samping pembawa syari’at yang penolongnya adalah Allah… (Diambil dari Adh Dhilal dengan perubahan)
Dan Allah adalah pelindung bagi orang-orang yang bertaqwa…
Ini adalah jalannya… maka apakah ada orang-orangnya…???

Ringkasan dari Kitab “Millah Ibrahim” karangan Abu Muhammad Al Maqdisi

Filed under: Aqidah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: