At Taujih

Mengawal Wacana Iqomatuddiin

BERDALIL DENGAN MASLAHAT DAKWAH

Para pengusung demokrasi mengatakan : keikut sertaan kami dalam pesta demokrasi tidak lain untuk mendapatkan kemaslahatan yang banyak. Bahkan mereka menyangka bahwa majlis demokrasi adalah sebuah maslahah mursalah dan dakwah. Dakwah kepada kebenaran, mengubah kemungkaran, meringankan tekanan terhadap da’I dan dakwah islam. Dan bahkan meninggalkan kemaslahatan ini berarti telah meninggalkan kesempatan untuk menerapkan syari’at islam di bumi. Sebaliknya kesempatan tersebut akan dimanfaatkan oleh orang-orang nashoro, komunis dan yang lainnya. Semuanya berkisar seputar maslahah.
Berdalil dengan maslahat adalah pengakuan bahwa memang tidak ada satupun dalil syar’i yang shahih yang membolehkan pekerjaan tersebut. Akan tetapi perlu dipahami bahwa, maslahah tidak dapat dipakai ketika dalil-dalil syar’i telah datang dengan jelas.
Sedangkan masuknya ke parlemen bukanlah sebuah maslahah yang diterima dengan pertimbangan al qur’an dan as sunnah. Karena seluruh suluruh dari tujuan syari’at, juga berbagai tujuan dan sarana lainnya, semuanya berfungsi sebagai sarana yang dizinkan untuk meraih tujuan yang paling tinggi dan pokok dari seluruh prinsip. Karena tujuan yang paling tinggi dan prinsip yang paling pokok inilah Allah Ta’ala menciptakan makhluk, mengutus para rasul, menurunkan berbagai kitab suci, mensyariatkan jihad, wala’ dan bara’. Tujuan yang paling tinggi tersebut adalah mengesakan Allah ta’ala semata dengan menujukan kepada-Nya seluruh bentuk ibadah lahir dan batin, serta mengkufuri seluruh yang dituhankan, diibadahi dan ditaati selain Allah Ta’ala. Allah ta’ala berfirman :
      
“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku”. (QS. 51:56)
            •     
“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan keta’atan kepada-Nya dalam(menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan meunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.” (QS Al Bayyinah : 5)
    •       
“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan):”Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu”, (QS An Nahl 36)
Terbukti kondisi orang-orang yang mendukung keikut sertaan dalam parlemen bertentangan secara total (diametral) dengan tauhid, dan tujuan agung dien ini dan bahkan merusak tauhid. Dengan demikian secara akal dan syariat, maslahat yang mereka nyatakan adalah maslahat batil yang tidak disahkan oleh syariat, sehingga tidak bisa dijadikan dalih (bolehnya berjuang lewat parlemen).

Syarat sebuah maslahah
Jika memang mereka memakai dalil maslahah, maka hal tersebut haruslah dikaji secara mendalam. Karena maslahah tidak bias diambil kecuali dengan syarat. Diantara syarat tersebut adalah :
1. hendaklah maslahat tersebut tidak bertentangan dengan dali-dalil Al Qur’an dan As sunah. Jika maslahat tersebut bertentangan dengan satu nash saja dari Al Qur’an atau as sunah, maka maslahat tersebut bukan maslahat yang disahkan, melainkan kerusakan yang harus dijauhi. Kondisi para pendukung pejuang lewat parlemen ini ternyata banyak menyelisihi nash-nash Al Qur’an dan as sunah. Diantaranya diamnya mereka dari pelecehan hokum Allah k tentang halal dan haram, bersikap lunak terhadap orang-orang kafri dan lain sebagainya. Dengan demikian, tidak sah menganggap kondisi mereka tersebut sebagai sebuah maslahat yang disahkan oleh syariat.
2. Syarat lainnya adalah maslahat tersebut tidak mengakibatkan hilangnya maslahat lain yang lebih penting atau setaraf. Merupakan tindakan kesia-siaan yang sama sekali tidak bermanfaat. Sementara seorang mukmin dilarang berbuat kesia-siaan dan menghambur-hamburkan waktu untuk kegiatan yang tidak ada faedahnya. Permisalannya adalah bagaikan orang yang bekerja demi meraih keuntungan satu dinar, namun pada saat yang bersamaan pekerjaannya menyebabkan hilangnya keuntungan satu dinar.
3. Di antara syarat lainnya adalah bahwa berdalil dengan maslahat atau maslahat mursalah membutuhkan ilmu dan pemahaman tentang skala prioritas sesuai dengan urutan dan urgensi tujuan syariat, bukan berdasar perkiraan orang-orang yang membawa induk kerusakan namun menganggapnya sebagai maslahat, dan menganggap berada di jalan yang benar !!!!.
Demikian juga, berdalil dengan maslahat memutuhkan ketaqwaan, sikap wara’ dan khasyah kepada Allah Ta’ala. Sehingga maslahat (kepentingan / keuntungan) pribadi tidak ikut bermain dengan mengatas namakan maslahat dakwah. Dhahirnya bekerja untuk maslahat dakwah, namun sejatinya dalam batin bekerja untuk maslahat pribadi atau partai. Hal ini akan anda lihat dengan jelas ketika menyaksikan ujian terendah sekalipun yang mempertaruhkan antara maslahat dakwah dengan maslahat pribadi atau partai .
Maslahat dakwah, sering kali hanyalah sebuah kalimat kebenaran yang diselewengkan untuk melakukan sebuah kebatilan, terlebih lagi di kalangan pengikut bid’ah dan hawa nafsu, para pencari kursi, kedudukan dan jabatan dalam pemerintahan para thaghut !!!.
Sayid Qutub mengatakan dalam Fi Dzilalil Quran :” Sesungguhnya istilah maslahat dakwah wajib dibuang dari kamus para aktivis dakwah. Karena istilah ini menggelincirkan dan menjadi pintu masuk setan. Setan masuk melalui piintu ini ketika sulit baginya masuk lewat pintu maslahat pribadi. Maslahat dakwah ternyata sudah berubah menjadi berhala yang disembah oleh para aktivis dakwah, bersamaan dengan itu mereka melupakan metode dakwah yang orisinil. (hukmul islam fi ad dimukrotiyah, Abu Bashir).

Berdalih dengan qoidah akhoffu dhoruroini (mengambil kerusakan yang paling ringan).
Menempuh salah satu dosa yang teringan itu terjadi tanpa adanya kesengajaan atau perencanaan niat sebelumnya. Melakukannya disebabkan oleh kondisi yang memaksa dan membolehkan untuk memilih perbuatan buruk yang teringan di antara dua keburukan, di mana seseorang dipaksa untuk memilih salah satu dari dua keburukan yang sama sekali tidak bisa ia hindari. Dalam kondisi seperti ini, kaedah tadi dipakai ; pilihan yang paling sedikit keburukannya dan paling sedikit menyelisihi syar’i, itulah yang dikerjakan. Manakala paksaan atau kondisi darurat tersebut sudah hilang, ia tidak boleh lagi melakukan keburukan tersebut atau terus menerus melakukannya karena kaedah ushuliyah menyatakan ,” Apa yang boleh karena udzur, menjadi tidak boleh jika udzur tersebut hilang.”
Perkataan syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dan para ulama lain dalam masalah kaedah ini yang dijadikan dalih oleh para pendukung demokrasi ini, semuanya terikat oleh syarat ini. Pertanyaan kami, dimana posisi mereka dibandingkan syarat ini sehingga mereka (berdalih) menggunakan kaedah “memilih keburukan teringan dari dua keburukan) ? anda melihat mereka terus menerus melakukan berbagai ketergelinciran dan pelanggaran syariat yang sudah tersebut di depan, karena kondisi terpaksa dan darurat, ataukah karena melakukannya dengan kebebasan dan hak penuh mereka untuk memilih, dan menganggapnya sebagai sebuah jihad fi sabilillah ???
Ada perbedaan antara orang yang sengaja mencari-cari hal yang haram dan medan fitnah —sebagaimana kondisi para pendukung demokrasi—kemudian ia terjatuh dalam kondisi terpaksa dan darurat, dengan orang yang sengaja lari, menjauhi dan tidak sedikitpun bermaksud kepada hal yang haram dan kondisi fitnah, lantas ditakdirkan berada dalam kondisi terpaksa dan darurat. Orang yang pertama sama sekali tidak mempunyai udzur kalau ia terjatuh dalam hal yang dilarang syariat, kaedah “memilih keburukan teringan dari dua keburukan “ tidak berlaku atasnya. Sedang orang kedua mempunyai udzur kalau terjatuh dalam hal yang dilarang syariat, dan kaedah “memilih keburukan teringan dari dua keburukan “ tidak berlaku atasnya. Hanya orang kedua saja yang boleh menggunakan kaedah “memilih keburukan teringan dari dua keburukan “.
(b)- Syarat kedua ; maslahat yang ingin diraih dari melakukan keburukan tersebut harus lebih besar dari kerusakan yang dilakukan. Dengan demikian, maslahat apa yang akan diraih oleh kalangan pendukung demokrasi, jika mereka sendiri terus menerus melakukan induk segala kerusakan dan keburukan, yaitu kesyirikan dan kekafiran ????
Maslahat mana lagi yang lebih besar dari tauhid, dan kerusakan mana lagi yang lebih besar dari kerusakan syirik ????
(c)- Syarat ketiga ; sudah tidak ada jalan lain yang masyru’ (ditetapkan syariat) dalam rangka menolak kerusakan tersebut atau merealisasikan maslahat tersebut. Sementara dalam permasalahan berjuang lewat parlementer ini, masih ada metode syar’i lain demi menolak kerusakan ini.
(d)- Syarat keempat ; kondisi darurat itu diperkirakan sesuai dengan kebutuhan. Maka tidak boleh berluas-luas (terlalu bersikap lapang) dalam melakukan hal yang dilarang syariat melebihi tuntutan kondisi darurat. Kaedah ushuliyah menyatakan,” Jika meluas, akan dipersempit.”
Kalangan pendukung demokrasi adalah orang yang paling luas membuka pintu melakukan hal yang dilarang syariat dengan mengatas namakan kondisi darurat palsu yang tidak ada realitanya.
(e)- Jika kerusakan dan kemaslahatan berimbang, maka didahulukan menolak kerusakan daripada meraih kemaslahatan. Dalam masalah perjuangan lewat jalur parlemen ini, kerusakan-kerusakan besar dihadapkan dengan kemaslahatn kecil yang sebagian besarnya palsu dan tidak ada realitanya.
(f)- Ketika memilih bekerja dalam lembaga majelis permusyawaratan rakyat, para anggota parlemen tidak memilih keburukan teringan dari dua keburukan, melainkan memilih keburukan yang paling berat. Mereka memilih keburukan yang tidak ada lagi keburukan di atasnya, mereka memilih keburukan kesyirikan dan kekafiran.
Mungkin tulisan ini cukup menyakitkan bagi saudara-saudara kita yang berpartai. Akan tetapi tidaklah kami menyampaikan kecuali karena ingin saudara-saudara kami menjauhi sistim syirik ini, serta bersama-sama mendapatkan keridhaan Allah Ta’ala. Dan kemudian memilih cara yang ditempuh Rasulullah ` dalam menegakkan negeri madinah. Karena kemuliaan itu datang dengan mengikuti sunnah Rasulullah `. dan sunnah Rasulullah ` dalam menegakkan daulah adalah dakwah, amar ma’ruf nahyu munkar serta jihad fisabililllah. (Amru, nukilan dari buku hukmul islam fi ad dimukrotiyah, karya Abu Bashir dengan penambahan).

Filed under: syubhat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: