At Taujih

Mengawal Wacana Iqomatuddiin

Idzharud Dien Fie Daaril Kufr

Rasulullah SAW bersabda:
أَوْثَقُ عُرَى الإِيْمَانِ الْحُبُّ فِي اللهِ وَ الْبُغْضُ فِي اللهِ
“Ikatan iman yang paling kuat adalah cinta karena Allah dan benci karena Allah.” (HR. Ibnu Jarir)

Al- Wala` wal Bara` adalah salah satu bagian pokok dari pokok-pokok ajaran Islam. Wala` maksudnya dekat dengan kaum muslimin dengan mencintai mereka, membantu dan menolong mereka atas musuh-musuh mereka dan bertempat tinggal bersama mereka. Sedangkan bara` adalah memutus hubungan atau ikatan hati dengan orang-orang kafir, sehingga tidak lagi mencintai mereka, membantu dan menolong mereka serta tidak tinggal bersama mereka.
Wajib hukumnya bagi seorang muslim untuk merealisasikan al-wala` wal bara`. Kedudukan al-wala` wal bara` dalam Islam sangatlah tinggi, karena dialah tali iman yang paling kuat.
Di antara bentuk bara` seorang muslim adalah hijrahnya seorang muslim dari daarul kufri menuju daarul islam. Allah SWT berfirman,
“Sesungguhnya orang-orang yang diwafatkan malaikat dalam keadaan menganiaya diri sendiri, (kepada mereka) malaikat bertanya: “Dalam keadaan bagaimana kamu ini?”. Mereka menjawab: “Adalah kami orang-orang yang tertindas di negeri (Mekah)”. Para malaikat berkata: “Bukankah bumi Allah itu luas, sehingga kamu dapat berhijrah di bumi itu?”. Orang-orang itu tempatnya neraka Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali, kecuali mereka yang tertindas baik laki-laki atau wanita ataupun anak-anak yang tidak mampu berdaya upaya dan tidak mengetahui jalan (untuk hijrah), mereka itu, mudah-mudahan Allah mema’afkannya. Dan adalah Allah Maha Pema’af lagi Maha Pengampun.” (QS. An-Nisaa`: 97-99)
Syaikh Shalih Fauzan mengatakan, “Bekerjanya seorang muslim untuk mengabdi atau melayani orang kafir adalah haram, karena hal itu berarti penguasaan orang kafir atas orang muslim serta penghinaannya. Bertempat tinggal terus menerus di antara orang-orang kafir juga diharamkan. Karena itu Allah mewajibkan hijrah dari Negara kafir menuju Negara muslim dan mengancam yang tidak mau berhijrah tanpa udzur syar’i.”
Syaikh Manshur Al-Bahuti berkata, “Wajib hijrah bagi orang yang tidak mampu idzharud dien di sebuah daarul harbi, yaitu Negara di mana dominan hukumnya adalah hukum-hukum kafir.”

Lalu bagaimanakah Negara yang bisa disebut sebagai Negara muslim dan Negara kafir?
Tentang Daarul Islam, Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Shalih Al-Jarbu’ mengatakan, “Daarul Islam adalah setiap sebidang tanah yang hukum di dalamnya menggunakan hukum Islam secara terang-terangan.”
Imam Ibnul Qayyim Al-Jauziyah mengatakan, “Mayoritas ulama` mengatakan bahwa daarul Islam adalah Negara yang dikuasai oleh umat Islam dan hukum-hukum Islam diberlakukan di negeri tersebut. Bila hukum-hukum Islam tidak diberlakukan, Negara tersebut bukanlah daarul Islam. Contohnya Thaif, sekalipun letaknya sangat dekat dengan Makkah, namun dengan terjadinya fathu Makkah, Thaif tidak berubah menjadi daarul Islam.”
Sedangkan tentang Daarul Kufri, Al-Qadhi Abu Ya’la Al-Hanbali berkata, “Setiap Negara dimana hukum yang dominan adalah hukum kafir dan bukan hukum-hukum Islam, maka ia adalah Daarul Kufri.”
Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Shalih Al-Jarbu’ mengatakan, “Daarul Kufri adalah setiap sebidang tanah yang di dalamnya menggunakan hukum-hukum kufri secara terang-terangan dan tidak terjadi peperangan antara mereka dengan kaum muslimin. Ia dihukumi sebagai daarul harbi pada waktu terjadi perdamaian. Maka setiap darul harbi adalah daarul kufri, tidak sebaliknya.”

Yang Dimaksud Dengan Idzharud Dien
Syaikh Muhammad bin Sa’id bin Salim Al-Qahthani mengatakan bahwa yang dimaksud dengan idzharud dien adalah menampakkan permusuhan kepada orang-orang kafir. Maka barangsiapa yang tidak berbara` kepada orang-orang musyrik, mereka belum melakukan idzharud dien.
Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Shalih Al-Jarbu’ mengatakan, “Kebanyakan orang berkeyakinan bahwa maksud dari idzharud dien adalah ketika mereka bisa shalat, puasa dan membaca Al-Qur`an di negara yang kafir, atau negara harbi, sedangkan tidak ada seorang pun yang menolakmu, atau menyakitimu. Jika engkau melakukan hal itu, maka engkau telah menampakkan dienmu di antara mereka. Ini adalah kesalahan yang fatal. Karena Allah SWT telah berfirman:
“Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia; ketika mereka berkata kepada kaum mereka : “Sesungguhnya kami berlepas diri daripada kamu dari daripada apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran)mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja. Kecuali perkataan Ibrahim kepada bapaknya : Sesungguhnya aku akan memohonkan ampunan bagi kamu dan aku tiada dapat menolak sesuatupun dari kamu (siksaan) Allah”. (Ibrahim berkata): “Ya Tuhan kami hanya kepada Engkaulah kami bertawakkal dan hanya kepada Engkaulah kami bertaubat dan hanya kepada Engkaulah kami kembali.” (QS. Al-Mumtahanah: 4)
Maka yang dimaksud dengan idzharud dien adalah mengumumkan kufurnya undang-undang (negara yang tidak berhukum dengan hukum Islam) dan menampakkan permusuhan kepada mereka. Agar para orang kafir dan orang murtad tahu bahwa kita mengingkari mereka dan mengumumkan permusuhan kepada mereka.
Maka diantara bentuk idzharud dien adalah mengkafirkan thoghut . Dan hal itu merupakan bentuk berpegang kepada Al-‘Urwatl Wutsqa (tali Allah yang amat kuat).
Allah SWT berfirman,
“Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus.” (QS. Al-Baqarah: 256)

Keadaan Orang Yang Hendak Berhijrah
Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Shalih Al-Jarbu’ menyebutkan bahwa ada empat keadaan orang yang hendak berhijrah:
1. Orang yang tidak mampu untuk Idzharud Dien, dan mampu berhijrah.
Para Ahlul ‘Ilmi telah sepakat bahwa orang yang seperti ini wajib berhijrah. Dan barangsiapa yang tidak berhijrah, maka ancaman Allah SWT menunggunya dan Rasul SAW berbara` terhadapnya. Bahkan hingga seorang wanita yang tidak mendapatkan seorang mahram yang menemaninya, jika ia aman ketika dalam perjalanan. Atau jika rasa takutnya dalam perjalanan lebih sedikit daripada ia tinggal di negerinya. Hal ini berdasarkan firman Allah SWT:
“Sesungguhnya orang-orang yang diwafatkan malaikat dalam keadaan menganiaya diri sendiri , (kepada mereka) malaikat bertanya : “Dalam keadaan bagaimana kamu ini ?”. Mereka menjawab : “Adalah kami orang-orang yang tertindas di negeri (Mekah)”. Para malaikat berkata : “Bukankah bumi Allah itu luas, sehingga kamu dapat berhijrah di bumi itu ?”. Orang-orang itu tempatnya neraka Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.” (QS. An-Nisaa`: 97)
Juga berdasarkan sebuah hadits yang berbunyi, “Hijrah tidak akan terputus selama musuh masih memerangi.” (HR. Ahmad, 1/192 dari jalur ‘Abdullah bin As-Sa’diy. Al-Haitsami berkata perawi-perawinya tsiqah)
Imam Asy-Syafi’i rahimahullahi berkata di dalam Ahkamul Qur`an, “Dan Rasulullah SAW telah mewajibkan kepada orang yang mampu untuk berhijrah untuk keluar (dari negerinya) jika ia termasuk orang yang mendapatkan fitnah dalam diennya, serta tidak ada yang menghalanginya. Allah SWT berfirman tentang seseorang yang berpaling dari hijrah kemudian meninggal, sedang ia tidak sempat untuk berhijrah, “Sesungguhnya orang-orang yang diwafatkan malaikat dalam keadaan menganiaya diri sendiri , (kepada mereka) malaikat bertanya : “Dalam keadaan bagaimana kamu ini ?”. Mereka menjawab : “Adalah kami orang-orang yang tertindas di negeri (Mekah)”. Para malaikat berkata : “Bukankah bumi Allah itu luas, sehingga kamu dapat berhijrah di bumi itu ?”. Orang-orang itu tempatnya neraka Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.” (QS. An-Nisaa`: 97).
Dan Allah SWT telah menjelaskan tentang uzdur orang-orang yang lemah, “kecuali mereka yang tertindas baik laki-laki atau wanita ataupun anak-anak yang tidak mampu berdaya upaya dan tidak mengetahui jalan (untuk hijrah). Mereka itu, mudah-mudahan Allah mema’afkannya. Dan adalah Allah Maha Pema’af lagi Maha Pengampun.” (QS. An-Nisaa`: 98-99).
Dan dikatakan “’Asa (mudah-mudahan)” dari Allah maksudnya adalah wajib (pasti). Ini menunjukkan sunnah Rasulullah SAW bahwa kewajiban hijrah adalah bagi yang mampu, dan itu hanya bagi orang yang diennya terkena fitnah, di negeri tempat ia masuk islam. Karena Rasulullah SAW mengizinkan sebagian orang untuk tinggal di Makkah setelah keislaman mereka, di antaranya: Al-‘Abbas bin ‘Abdul Muthalib, dan selainnya jika tidak takut terkena fitnah.”
2. Orang yang tidak mampu untuk Idzharud Dien, tetapi tidak mampu berhijrah.
Para Ahlu ‘Ilmi telah bersepakat bahwa pada keadaan ini dibolehkan untuk tidak berhijrah. Dan tidak ada yang menyelisihinya. Hal ini berdasarkan firman Allah SWT:
“…. kecuali mereka yang tertindas baik laki-laki atau wanita ataupun anak-anak yang tidak mampu berdaya upaya dan tidak mengetahui jalan (untuk hijrah).” (QS. An-Nisaa`: 98)
Yang dimaksud tidak mampu di sini adalah baik itu karena sakit atau terpaksa untuk tinggal di negeri kafir atau dalam keadaan lemah, seperti wanita dan anak-anak, atau udzur lainnya yang berbentuk kelemahan yang membatalkan kewajiban hijrah.
Ibnu Qudamah rahimahullah berkata di dalam kitab Al-Mughni, “Orang yang tidak diharuskan berhijrah, yaitu orang-orang yang lemah/tidak mampu, baik itu karena sakit, atau terpaksa untuk tetap tinggal, atau karena lemah; baik itu wanita, anak-anak atau yang semisal mereka. Maka tidak diharuskan berhijrah bagi mereka. Ini berdasarkan firman Allah SWT,
“…. kecuali mereka yang tertindas baik laki-laki atau wanita ataupun anak-anak yang tidak mampu berdaya upaya dan tidak mengetahui jalan (untuk hijrah).” (QS. An-Nisaa`: 98-99)”
Imam Asy-Syafi’i rahimahullah mengatakan, “Allah memaafkan bagi orang yang tidak mampu berhijrah dari orang-orang yang terkena fitnah. Maka Allah SWT berfirman, “Kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam beriman (dia tidak berdosa), akan tetapi orang yang melapangkan dadanya untuk kekafiran, maka kemurkaan Allah menimpanya dan baginya azab yang besar.” (QS. An-Nahl: 106)”
Walaupun diperbolehkan untuk tidak berhijrah, tetapi hendaknya ia selalu mempersiapkan bekal untuk keluar dari negeri tersebut dan selalu mencari kesempatan untuk bisa berhijrah serta tidak boleh lalai dari memikirkan hal tersebut.
3. Orang yang mampu untuk Idzharud Dien, tetapi tidak mampu berhijrah.
Keadaan ketiga ini tidak berbeda dengan keadaan sebelumnya. Hanya saja ia mampu untuk idzharud dien. Maka ia juga diperbolehkan untuk tidak berhijrah sampai Allah SWT memberikan jalan keluar baginya. Dan hendaknya ia juga selalu berusaha untuk segera berhijrah dari negeri tersebut.
4. Orang yang mampu untuk Idzharud Dien, dan ia mampu untuk berhijrah.
Para Ulama` berbeda pendapat dalam masalah ini.
Pendapat pertama mengatakan, ia tidak diwajibkan berhijrah. Dan hukumnya adalah mustahabbah baginya. Ini adalah pendapat yang masyhur dari madzhab Hanafiyah kecuali Al-Hasan.
Dalil yang mereka gunakan diantaranya adalah sabda Nabi SAW, “Tidak ada hijrah setelah terjadinya fath , akan tetapi hanya ada jihad dan niat.” (HR. Muttafaqun ‘Alaih)
Sedangkan pendapat yang kedua mengatakan, bahwa ia wajib untuk berhijrah dan berdosa jika tidak berhijrah. Hal ini karena Allah SWT tidak memaafkannya (karena ia tidak termasuk orang yang udzur sebagaimana yang telah disebutkan dalam ayat). Ini adalah pendapat jumhur dari madzhab Malikiyyah, Syafi’iyyah dan Hanabilah.
Diantara dalil yang mereka berdalil dengannya adalah firman Allah SWT QS. An-Nisaa`: 97. Juga sabda Nabi SAW, “Aku berlepas diri dari setiap orang muslim yang tinggal di tengah-tengah orang-orang musyrik.” (HR. Abu Daud, Tirmidzi dan Nasa`i)
Sedangkan pendapat yang rajih menurut Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Shalih Al-Jarbu’ adalah pendapat yang kedua. Karena dalil pendapat yang kedua, shahih dan sangat sharih. Wallahu A’lam bish Shawab.

Maraji’:
1. Kitabut Tauhid, Syaikh Sholeh Fauzan Al-Fauzan.
2. Kasyful Qana`, 3/43.
3. Al-I’lam bi Wujubil Hijrah min Daaril Kufri ila Daaril Islami, Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Shalih Al-Jarbu’.
4. Ahkamu Ahli Dzimmah, Imam Ibnul Qayyim Al-Jauziyah, Daarul Ilmi lil Malayien, 1983.
5. Al-Mu’tamadu fie Ushuuli Dien, Daarul Masyriq: Beirut, 1974.
6. Al-Wala` wal Bara` , Syaikh Muhammad bin Sa’id bin Salim Al-Qahthani, Darut Thayyibah: Riyadh, Cet. I.
7. Al-Mughni, Ibnu Qudamah.
8. Ahkamul Qur`an, Imam Asy-Syafi’i.

Filed under: Aqidah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: