At Taujih

Mengawal Wacana Iqomatuddiin

MENJADI ISTRI AKTIVIS

Memang jadi istri aktivis itu ada senangnya dan juga ada susahnya. Senang mungkin karena suaminya banyak mengisi waktunya untuk perjuangan islam. Otomatis kita kan juga dapet pahalanya. Susahnya itu jika kita sering ditinggal, mungkin kita kurang diperhatikan, apalagi ketika suami kurang peka, waaaah bikin pusing dech pokoknya. Tapi kalau kita sabar dan paham akan tugas suami kita Allah pasti akan memberikan pahala besar di akhirat kelak.
Aku tinggal di sebuah desa. Yaah desa yang sejuk dan damai. Aku adalah anak terakhir dari tiga bersaudara. Kami memang hidup sederhana. Setiap aku menginginkan seauatu, entah tas baru, sepatu baru dan lainnya aku harus menunggu bersabar karena uang yang pas-pasan. Ku kumpulkan uang serupiah demi serupiah untuk membeli sesuatu yang kuinginkan.
Ringkas cerita, aku menikah dengan seorang aktivis dan da’I yang aktivitasnya sangat penuh. Dalam satu pekan tak ada waktu malamnya yang kosong kecuali satu malam saja, sedangkan pulangnya rata-rata jam 10 malam. Padahal diriku adalah seorang guru TK yang berangkat jam 07.30 dan pulang sampai rumah jam 15.00. sehingga ia berada di rumah saat aku tidak ada di rumah, ketika aku di rumah ia yang pergi. Pada awalnya tak terbayangkan kalau aku harus jadi istri seorang aktivis. Tapi itu harus tetap ku jalani karena memang aku telah menerima pinangannya.
Ada pesan dari ustadzahku saat itu “ Dik jangan kaget lho jadi istri da’I seperti beliau itu lho. Karena pasti banyak aktivitasnya. Apa lagi kalau dakwah luar daerah bisa jadi sampai dua atau empat bulan tidak pulang, dan ingat lho dik, suamimu adalah da’i yang waktunya sangat dibutuhkan ummat. Jangan sampai kau menuntut banyak darinya. Bersikaplah dewasa. Selesaikanlah persoalanmu sendiri. Jangan melibatkanya, kecuali memang sesuatu yang harus melibatkannya atau karena engkau tidak bisa menyelesaikannya.” Pesan itu selalu aku ingat dan tak pernah ku lupa.
Pada suatu saat, suamiku mendapat tugas untuk belajar dua bulan di suatu kota yang jauh dariku. Dan aku ditinggal sedang dalam keadaan sakit. Sungguh berat rasanya. Tapi aku harus mengikhlaskannya, dan inyaAllah ada hikmah yang besar dibalik itu semua.
Setelah 10 hari suamiku meninggalkan rumah, ternyata sakitku bertambah parah. Tipes yang kuderita sudah stadium tinggi. Akhirnya aku pergi sendirian kerumah sakit untuk periksa. Setelah periksa, ternyata aku tidak boleh pulang dan harus mondok di rumah sakit.
Pikiranku kacau. Aku berpikir siapa yang harus menungguku di rumah sakit ? uang dari mana untuk biaya pengobatan? Sementara suami jauh dariku. Aku sebenarnya tidak ingin memberitahukan ini kepada suamiku. Tapi apakah aku mampu untuk menghadapinya sendirian ?. akhirnya aku sampaikan kepada suamiku. Akan tetapi aku sampaikan untuk tidak pulang saja. Walaupun akhirnya ia pulang setelah beberapa hari untuk menungguiku.
Persendianku menjadi lemas ketika dokter berkata ” Ya, harus bathres karena ini sudah positif tipes, tidak boleh banyak gerak dan banyak turun”. Ku beranikan diri untuk bertanya, ” kenapa begitu bu, apa bahayanya kalau sering turun?”, bu dokter itu berkata,” nanti bisa komplikasi ke heparnya”.
Ya Allah begitu parahkah kondisi penyakitku sampai aku harus bathres. Tanpa terasa air mata ini berjatuhan membasahi pipi. Kalau aku harus bathres gimana, sedang suami tidak ada di sampingku, dan apakah aku akan mampu menjalani ini semua, dan akan sampai kapan aku harus bathres pikiran itu selalu menghantui pikiranku di tempat tidur. Ya robby begitu besar ujian yang kau berikan. Sanggupkah hamba dalam menghadapi ini semua. La khaula wala quwwata illa billah, tiada kekuatan kecuali dari Allah. Ya Allah berilah hamba kekuatan.
Kepada siapa aku harus besbicara, kepada ibu yang menungguiku rasanya tidak mungkin aku tidak ingin membebaninya. Akhirnya aku sms kepada suamiku yang sedang dalam perjalanan pulang dari luar kota. Aku katakan apakah aku sanggup menghadapi ini semua. Subhanallah dialah seorang lelaki yang paling sabar yang aku kenal, seseorang yang tidak pernah mengeluh ketika sesuatu menimpanya, yang selalu bersyukur terhadap Rabnya, yang selalu berbaik sangka terhadap semua orang dialah yang menghiburku memberikan kata- kata yang membuat aku semangat “Allah tidak akan memberi beban di luar kemampuan hamba-Nya. Sabar ya. Engaku adalah tipe wanita yang tegar.memiliki jiwa mandiri. Paham arti ujian. Yakinlah. Semakin berat ujian semakin dekat kemenangan”. Kata-kata itu begitu dalam masuk dalam hati ini dan menjadi obat tersendiri bagiku. Alhamdulillah ya Allah, kau berikan aku suami yang penyayang dan penyabar.
Begitulah sekelumit kisah yang masih terngiang-ngiang pada pikiranku. Aku berpesan kepada para akhwat, janganlah kita menjadi para istri yang menambah beban suami. Dampingilah suami kita dalam keadaan senang atau susah. Karena kita yakin bahwa tugas suami-suami kita dalam menegakkan din ini sangatlah berat. Marilah kita mencontoh Khodijah d yang mendampingi Rasulullah ` saat mendapat beban berat yaitu risalah kenabian. Renungkan lah wahai para akhwat, bagaimana Khodijah menyelimuti Rasulullah `, kemudian berkata
Sekali-kali tidak, demi Allah, Ia tidak akan menghinakanmu selama-lamanya. Engkau adalah seorang yang selalu menyambung persaudaraan, meringankan beban orang lain, gemar bershodaqoh, dan menghormati tamu, dan menolong atas orang-orang yang berbuat kebaikan.
Suami kita butuh profil wanita yang tegar sebagaimana khodijah. Para suami kita sangat membutuhkan wanita yang tegar, dan tabah. Bukan wanita yang cengeng, kekanak-kanakan, yang tidak mau ditinggal suaminya, ingin selalu bersama, padahal ada pekerjaan-pekerjaan berat yang harus diemban dan harus meninggalkan keluarga. Semoga kita deberi kesabaran untuk mendampingi para suami mujahid. Mendorong mereka untuk sabar dan istiqomah dan tidak loyo hanya karena permasalahan-permasalahan kecil.

Filed under: kisahku

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: