At Taujih

Mengawal Wacana Iqomatuddiin

SYURO BUKAN DEMOKRASI

Banyak orang yang menganggap bahwa demokrasi adalah syuro. Karena keyakinan mereka yang salah ini, sehingga banyak orang yang mengadopsi pemikiran demokrasi dan diterapkan di negeri-negeri yang mayoritas muslim.

Syura bukanlah demokrasi karena syura adalah pengambilan pendapat sedangkan demokrasi adalah sistem pemerintahan Barat yang berasaskan pada ide sekularisme yang kufur. Adanya kemiripan antara syura dan demokrasi tidak ada maknanya sama sekali karena keduanya mempunyai basis ideologi yang berbeda secara diametral.

Perlu diingat, sistem demokrasi telah dijadikan sebagai salah satu senjata Barat untuk menghancurkan Islam. Ini tampak ketika negara-negara Barat mengadakan Konferensi Berlin pada akhir abad ke-18 M. Negara-negara penjajah itu memang tidak mencapai kata sepakat bagaimana membagi-bagi Negara Khilafah Utsmaniyah—mereka sebut sebagai The Sick Man—andaikata “orang sakit” ini telah masuk liang lahat. Namun, mereka menyepakati satu hal, yaitu memaksa Khilafah untuk menerapkan sistem demokrasi. Akhirnya, Khilafah menerapkan sistem kementerian (al-wuzarah) seperti dalam sistem demokrasi sebagai akibat paksaan dan tekanan Barat. Ketika Khilafah hancur pada 1924, Barat segera meracuni pemikiran umat Islam dengan menulis berbagai buku yang menyatakan bahwa Islam adalah agama demokratis atau bahwa demokrasi berasal dari ajaran Islam.

Atas dasar itu, siapa saja yang mengatakan bahwa demokrasi adalah bagian ajaran Islam, misalnya dengan mengatakan demokrasi adalah syura itu sendiri, berarti dia telah bersekutu dengan para penjajah yang kafir untuk turut menghancurkan Islam dan menyesatkan umat Islam. Propaganda demokrasi yang palsu dan penuh pemaksaan ini tak punya tujuan lain, kecuali untuk mencegah bangkitnya ideologi Islam dalam sebuah sistem Khilafah sekaligus untuk melestarikan hegemoni ideologi kapitalisme-demokratik yang kufur di seluruh dunia, agar umat manusia tetap terus-menerus hidup dalam ketertindasan, penderitaan, serta kesengsaraan di dunia dan akhirat.

Siapakah ahlus syuro ?
Tidak pahamnya seseorang terhadap ahlus syuro akan berakibat fatal. Karena keberadaan merekalah yang akan menjadikan sebuah negeri menjadi baik ataupun jelek. Dipilihnya seseorang yang tidak pantas menjadi ahlus syuro hanya akan menambah kerusakan dan kehancuran sebuah negeri. Atau dengan kata lain, tidaklah mungkin orang-orang kafir atau yang tidak mampu memegang urusan ini diberikan kepercayaan sebagaimana sistim demokrasi. Makanya islam memiliki kriteria yang berbeda dengan kriteria demokrasi dalam mengangkat seseorang menjadi anggota DPR atau MPR.

Ahlul halli wal ‘aqdi adalah sekelompok manusia yang memiliki kedudukan dalam urusan din dan ahlaq serta kemampuan dalam melihat kondisi dan mengatur ummat. Mereka juga disebut dengan ahlus syuro, ahli ro’yi wat tadbir atau yang disebutkan oleh para ulama’ dengan : kumpulan para ulama’ dan pemimpin serta ahli taujih yang mungkin dapat berkumpul.[ nihayatul muhtaj ila syarhil minhaj 7/390 ]

Sedangkan yang menjadi persyaratan untuk menjadi ahlul halli wal ‘aqdi dijelaskan oleh as Syaikh Abdullah bin Umar bin Sulaiman ad Damiji dalam buku beliau Imamatul ‘Udma ‘inda ahlussunnah waljama’ah antara lain :

Pertama : Islam. Ini adalah syarat wajib diantara syarat yang lain. Tidak diperbolehkan seorang muslim memberikan perwalian kepada orang-orang kafir. Allah Ta’ala berfirman :
وَلَن يَجْعَلَ اللّهُ لِلْكَافِرِينَ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ سَبِيلاً
dan Allah sekali-kali tidak akan memberi jalan kepada orang-orang kafir untuk memusnahkan orang-orang yang beriman. (QS An Nisa’ : 141)
Berkata Ibnu Mundhir : Telah sepakat para ahlul ‘ilmi bahwasanya seorang kafir tidak memiliki kekuasaan terhadap seorang muslim. ( Ahkamu ahlud dzimmah : 2/414).
Karena seorang mukmin tidak boleh ta’at kepada selain muslim, juga tidak boleh tunduk kepadanya, serta tidak boleh mengagungkan dan memuliakan mereka karena Allah Ta’ala telah menghinakannya karena kekurufan mereka. Jelas disini bahwa tidak pantas bagi orang-orang kafir untuk diberikan kekuasaan untuk mengurusi urusan-urusan kaum muslimin.

Kedua : berakal. Tidak diperbolehkannya memberikan perwalian terhadap orang yang tidak sempurna akalnya. Karena tidak mungkin ia akan mengtur sebuah negara, jika mengurusi dirinya sendiri saja tidak sanggup.

Ketiga : laki-laki. Allah Ta’ala berfirman :
Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita) (QS. An Nisa’ : 34)
Dalam hadist Rasulullah  juga bersabda :
لَنْ يُفْلِحَ قَوْمٌ وَلَّوْا أَمْرَهُمُ امْرَأَةً
Sekali-kali suatu kaum tidak akan beruntung jika yang menjadi pemegang urusan mereka adalah seorang wanita (HR. Bukhori)

Ke empat : orang yang bebas [bukan budak].
Kelima : al ‘adalah. Yaitu seseorang yang menjauhkan dari dosa-dosa kecil maupun besar serta perbuatan-perbuatan yang menurunkan harga diri seseorang.
Ke enam : memiliki ilmu yang memadai. Yaitu ilmu yang dengannya membantu dia dalam memilih kholifah dan menyelesaikan berbagai permasalahan ummat.
Ke tujuh : memiliki banyak ide dan hikmah. Disamping memiliki ilmu din yang baik, ia juga harus memiliki banyak ide serta tepat dalam memilih siapa dan pertimbangan apa yang harus dia putuskan demi kebaikan negerinya.

Sedangkan jumlah ahlul halli wal ‘aqdi menurut pendapat yang kuat tidak ada ketentuan yang pasti. Melihat kebutuhan yang diperlukan oleh negeri tersebut. Sedangkan tugas-tugas mereka diantaranya adalah : memilih kholifah, membai’atnya, menurunkannya jika terjadi kekufuran serta beberapa urusan yang membutuhkan pertimbangan dari mereka.

Hal-hal yang dimusyawarahkan
Syuro dilaksanakan pada perkara agama dan kejadian-kejadian yang belum ada ketentuannya dari Allah yang harus diikuti. Juga pada urusan keduniaan yang dapat dicapai melalui ide dan perkiraan yang kuat.

Pendapat inilah yang dianggap paling kuat oleh Al-Jashshash dengan alasan-alasan yang disebut dalam buku beliau. Lalu beliau juga berkata: “Dan pasti musyawarah Nabi pada hal-hal yang belum ada nash atau ketentuannya dari Allah. Di mana tidak boleh bagi beliau melakukan musyawarah pada hal-hal yang telah ada ketentuannya dari Allah. Dan ketika Allah tidak mengkhususkan urusan agama dari urusan dunia ketika memerintahkan Nabi-Nya untuk musyawarah, maka pastilah perintah untuk musyawarah itu pada semua urusan. Dan nampaknya pendapat ini pula yang dikuatkan oleh Ibnu Hajar dalam kitabnya Fathul Bari (13/340) setelah menyebutkan pendapat-pendapat di atas. Jadi tidak semua perkara dimusyawarahkan sampai-sampai sesuatu yang telah ditentukan syariat pun dimusyawarahkan. Yang mendukung hal ini adalah bacaannya Abdullah bin ‘Abbas:
وَشَاوِرْهُمْ فِي بَعْضِ الْاَمْرِ
“Maka bermusyawarahlah dengan mereka dalam sebagian urusan itu.” (Tafsir Al-Qurthubi, 4/250) Semua hal di atas kaitannya dengan musyawarah yang dilakukan oleh Nabi. Maka yang boleh dimusyawarahkan oleh umatnya perkaranya semakin jelas, yaitu pada hal-hal yang belum ada nash atau ketentuannya baik dari Allah atau Rasul-Nya. Artinya, jika telah ada ketentuannya dari syariat, maka tidak boleh melampauinya. Dan mereka harus mengikuti ketentuan syariat tersebut. Allah ta’ala berfirman:
          •   •    
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasulnya dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha mendengar lagi Maha Mengetahui. (Al-Hujurat: 1)

Al-Imam Al-Bukhari mengatakan: “Maka Abu Bakar tidak memilih musyawarah jika beliau memiliki hukum dari Rasulullah…” [Shahih Al-Bukhari, 13/339-340 dengan Fathul Bari]
Dan sebaliknya. Jika sudah ada ketentuannya dalam syariat namun mereka tidak mengetahuinya, atau lupa, atau lalai, maka boleh bermusyawarah untuk mengetahui ketentuan syariat dalam perkara tersebut, bukan untuk menentukan sesuatu yang berbeda dengan ketentuan syariat. Al-Imam Asy-syafi’i mengatakan: “Seorang hakim/ pemimpin diperintahkan untuk bermusyawarah karena seorang penasehat akan mengingatkan dalil-dalil yang dia lalaikan dan menunjuki dalil-dalil yang tidak dia ingat, bukan untuk bertaqlid kepada penasehat tersebut pada apa yang dia katakan. Karena sesungguhnya Allah tidak menjadikan kedudukan yang demikian (diikuti dalam segala hal) itu bagi siapapun setelah Nabi (Fathul Bari, 13/342).

Perbedaan Syura dengan Demokrasi
Dari uraian di atas, dapat kita pahami adanya perbedaan fundamental antara syura dan demokrasi. “Demokrasi bukanlah syura, karena syura artinya adalah meminta pendapat (thalab ar-ra’y). Sebaliknya, demokrasi adalah suatu pandangan hidup dan kumpulan ketentuan untuk seluruh konstitusi, undang-undang, dan sistem (pemerintahan).”

Ini berarti, menyamakan syura dengan demokrasi bagaikan menyamakan sebuah sekrup dengan sebuah mobil; tidak tepat dan tidak proporsional. Mengapa? Sebab, syura hanyalah sebuah mekanisme pengambilan pendapat dalam Islam, sebagai bagian dari proses sistem pemerintahan Islam (Khilafah). Sebaliknya, demokrasi bukan hanya sekadar proses pengambilan pendapat berdasarkan mayoritas, namun sebuah jalan hidup (the way of life) yang holistic, yang terrepresentasikan dalam sistem pemerintahan menurut peradaban Barat. Kenyataan bahwa demokrasi adalah sebuah tipe sistem pemerintahan dapat dibuktikan. Misalnya, melalui pernyataan Presiden Lincoln pada peresmian makam nasional Gettysburg (1863) di tengah berkecamuknya Perang Saudara di AS. Lincoln menyatakan, “Demokrasi adalah pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat.” (Melvin I. Urofsky, 2003: 2). Oleh karena itu, menyamakan syura dengan demokrasi tidaklah tepat dan jelas tak proporsional.

Jika ada kemiripan antara syuro dengan demokrasi, itu menjadi lebih tak bermakna jika kita mengkaji ciri-ciri sistem demokrasi secara lebih mendasar dan komprehensif. sistem demokrasi mempunyai ciri-ciri: berlandaskan pada falsafah sekularisme (pemisahan agama dari kehidupan); dibuat oleh manusia; didasarkan pada 2 (dua) ide pokok, yaitu: (1) kedaulatan di tangan rakyat dan (2) rakyat sebagai sumber kekuasaa, memegang prinsip suara mayoritas dan menuntut kebebasan individu (freedom) agar kehendak rakyat dapat diekspresikan tanpa tekanan. Maka jelaslah disini, jika ada orang yang menganggap sama anatara syuro dan demokrasi itu bukti kedangkalan ilmu din mereka atau karena rusaknya pemikiran mereka.

Iklan

Filed under: syubhat

Dr. najih Ibrahim, kepada aktivis muslim

DIEN ITU NASEHAT
Demikianlah Rasulullah sallahu alaihi wasallam berpesan untuk kita, dan inilah yang melatarbelakangi tulisan kami dalam lembaran-lembaran berikut. Kami menulis ini bukan karena tidak ada pekerjaan, dan bukan pula karena ada yang mau membacanya. Kami menulis karena kami merasa ada nasehat yang harus kami sampaikan kepada ikhwah, para aktivis, sebagai satu bentuk partisipasi kami dalam ‘perjalanan’ yang diberkati ini. Perjalanan untuk menegakkan dien dan meninggikan panji-panjinya.

Kami, sebagaimana dikatakan oleh sahabat yang mulia, ‘Abdullah bin Rawahah radhiyallahu ‘anhu, “Kita tidak memerangi manusia dengan bilangan, kekuatan, dan jumlah kita. Kita hanya memerangi mereka karena dien ini. Dien yang Allah memuliakan kita dengannya.”
Oleh karena itu, lazim bagi kita untuk berpegang teguh kepada dien ini melebihi seorang muqatil (tenaga tempur) yang memegang erat senjatanya di tengah kecamuk pertempuran. Sebab muqatil, kapan pun ia mengendorkan pegangannya, sirnalah harapannya untuk mendapatkan kemenangan, bahkan sirna pulalah segala asanya untuk tetap hidup. Demikian pula halnya dengan ‘ahluddiin’, kapan pun mereka lengah di dalam diennya -meski sesaat- semua citanya untuk menggapai kemenangan akan lenyap.
Sesungguhnya Allah hanya menolong orang-orang yang taat, ikhlas, berpegang teguh, dan bertawakkal kepada-Nya. Allah berfirman
وَلَيَنصُرَنَّ اللهُ مَن يَنصُرُهُ
Dan sesungguhnya Allah, benar-benar akan menolong orang-orang yang menolong (dien)-Nya. (al-Hajj : 40)

Maka barang siapa tidak ‘menolong’ Rabb-nya, Dia pun tidak akan menolongnya. Barangsiapa bermaksiat kepada-Nya, Dia akan meninggalkannya, membiarkannya bersama musuh-musuhnya.

‘Umar al-Faruq radhiyallahu ‘anhu pernah berkata, “Kala kita tidak mampu mengalahkan musuh dengan ketaatan kita niscaya mereka akan mengalahkan kita dengan kekuatan mereka.”
Ternyata ‘Umar radhiyallahu ‘anhu lebih mengkhawatirkan dosa-dosa pasukannya daripada kekuatan musuhnya. Inilah bukti kesempurnaan pemahaman dan kebrilianan akal beliau.
Betapa kita ~di saat merasakan suasana ini~ ingin agar suasana ini senantiasa hadir di hati dan akal kita, tidak meninggalkan kita selama-lamanya.

Betapa kita ingin mengerti ~dengan ilmu yakin~ bahwa Allah telah menjamin kemenangan dien-Nya dan akan selalu menjaganya .. Maka barangsiapa selalu bersama Islam ke mana pun ia berputar, hati dan anggota badannya senantiasa taat kepada Allah, pastilah Allah akan menolongnya .. Barangsiapa menyimpang dari jalan yang lurus, pertolongan pun akan menjauh darinya.

Allah Mahatahu lagi Maha Bijaksana.. Allah Mahatahu. Artinya tidak ada sesuatu pun dari urusan kita yang tersembunyi bagi-Nya. Dia Mahatahu akan batin dan niat kita seperti halnya Dia Mahatahu akan lahir dan amal kita. Dia Maha Bijaksana. Artinya Dia akan selalu menempatkan segala sesuatu pada tempatnya. Dia tidak akan memberikan anugerah berupa penjagaan dan pertolongan kepada siapa yang tidak berhak mendapatkannya.. Dan orang yang tidak berhak atas anugerah ini, sungguh tiada bagian untuknya selain keterpurukan.. Na’udzu billah, kita memohon perlindungan kepada Allah dari kehinaan di hadapan-Nya.
Nafsu terus memberontak, setan terus menggoda, dunia terus berhias, dan hawa sering sekali memenangkan pertempuran.

Mereka semua telah hadir. Mereka ingin menghalangi antara seorang hamba dengan kemenangan dan kejayaannya di dunia dan di akhirat.
Mereka berempat benar-benar musuh utama kita. Jika kita mampu menguasainya (nafsu, setan, dunia, dan hawa) niscaya akan lebih mudah bagi kita untuk menguasai musuh-musuh kita dari kalangan manusia..

Sebaliknya, jika kita dikuasai oleh keempatnya, sungguh antara kita dan musuh-musuh kita tiada lagi bedanya, sama-sama bermaksiat kepada Allah .. sementara mereka masih memiliki sesuatu yang lain; kekuatan yang lebih daripada yang kita miliki.. dan jika sudah demikian, kita akan kalah menghadapi mereka.

Kalimat-kalimat yang kami tulis di sini merupakan nasehat untuk membantu di dalam usaha mengalahkan nafsu, setan, dunia, dan hawa..
Wahai saudaraku, yang kami inginkan hanyalah menunjukkan yang baik … untuk menutup satu celah yang kami lihat… atau menambahkan yang kurang… atau menunjukkan yang makruf.

Peran kami adalah … berkata-kata dan memberi nasehat.
Celah tidak akan pernah tertutup, kekurangan tidak akan pernah hilang, dan yang makruf tidak akan pernah terwujud… kecuali dengan amal.
Di sinilah peranmu wahai saudaraku, peran kita semua.
Tentu saja, kata-kata bukan sekedar untuk diucapkan, tetapi ia untuk dipahami … dan diamalkan.
وَقُلِ اعْمَلُوْا فَسَيَرَى اللهُُ عَمَلَكُمْ وَرَسُوْلُهُ وَالْمُؤْمِنُوْنَ وَسَتُرَدُّوْنَ إِلَى عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُوْنَ
Dan katakanlah, “Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat perkerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberikan-Nya kepada kamu apa yang kamu kerjakan”. (at-Taubah : 105)

lebih lengkapnya download di ling ini.
1. ling pertama download
2. ling kedua
download

Filed under: download buku

MANHAJ SALAF DALAM MENATAP PERJUANGAN

Allah subhanahu wa ta’ala menciptakan makhluk-makhluk-Nya khususnya manusia, tidaklah dibiarkan begitu saja. Demi kebaikan mereka, Allah Ta’ala telah menetapkan aturan-aturan yang harus dilaksanakan. Tidak bisa tidak, itulah as-Shiroth al-Mustaqim. Sedikit saja manusia berpaling darinya, ia akan terjerembab dalam kubangan lumpur kesengsaraan. Sehingga tatkala Islam sebagai Syari’ah Samawy tidak lagi eksis memimpin dunia, Barat -yang notabene musuh Islam- tampil memimpin dan menguasai dunia. Maka bukannya kedamaian dan keadilan sebagai hasilnya akan tetapi justru kebobrokan dan kejahiliyahanlah yang kemudian menyebar dan mendominasi wajah dunia.

Kondisi dunia islam
Kondisi ummat Islam dewasa ini, tidak terlepas dari rentetan peristiwa yang menimpa mereka sejak Khilafah Islamiyah melemah hingga pada akhirnya runtuh. Selain bahwa mereka telah meninggalkan dien mereka dan sibuk dengan urusan-urusan dunia. Rasulullah shallallah ‘alaihi wa-sallam:
عَنِ ابْنِ عُمَرَ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ « إِذَا تَبَايَعْتُمْ بِالْعِينَةِ وَأَخَذْتُمْ أَذْنَابَ الْبَقَرِ وَرَضِيتُمْ بِالزَّرْعِ وَتَرَكْتُمُ الْجِهَادَ سَلَّطَ اللَّهُ عَلَيْكُمْ ذُلاًّ لاَ يَنْزِعُهُ حَتَّى تَرْجِعُوا إِلَى دِينِكُمْ »
Jika kalian sudah berdagang dengan riba, rela dengan pertanian, mengikuti ekor-ekor sapi (beternak) dan meninggalkan jihad, niscaya Allah akan menguasakan kehinaan pada kalian yang tidak diangkat kehinaan tersebut sampai kalian kembali kepada dien kalian. (HR. Abu dawud)
Konspirasi musuh-musuh Islam sangat besar dan ganas. Selama berabad-abad mereka menjajah negeri-negeri Islam, yang mengakibatkan kerugian materi, cacat mental dan kebodohan yang tiada tara. Komunis dengan revolusi-nya, Zionis dengan program Israel Raya-nya dan Salibis dengan Kristenisasi Internasionalnya adalah tiga kekuatan dunia yang tidak rela melihat Islam eksis dimuka bumi. Mereka benar-benar ingin mencabut Islam sampai akar-akarnya. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman :
وَلَن تَرْضَى عَنكَ الْيَهُودُ وَلاَ النَّصَارَى حَتَّى تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ قُلْ إِنَّ هُدَى اللَّهِ هُوَ الْهُدَى وَلَئِنِ اتَّبَعْتَ أَهْوَآءَهُمْ بَعْدَ الَّذِي جَاءَكَ مِنَ الْعِلْمِ مَالَكَ مِنَ اللَّهِ مِن وَلِيٍّ وَلاَ نَصِيرٍ {120} البقرة
Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu sehingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah:”Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang sebenarnya)”. Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu. (QS. 2:120)
يُرِيدُونَ لِيُطْفِئُوا نُورَ اللهِ بِأَفْوَاهِهِمْ وَاللهُ مُتِمُّ نُورِهِ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ {8} الصفّ
Mereka ingin memadamkan cahaya Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, dan Allah tetap menyempurnakan cahaya-Nya meskipun orang-orang kafir benci.
Komunis dengan revolusinya telah menghapus beberapa negeri Islam dari peta dunia. Kita tidak akan menemukan lagi nama Turkistan di wilayah China, dan Bukhoro yang sekarang di wilayah Rusia. Ambisi mereka sangat kuat, bahkan Indonesia hampir menjadi korban revolusi komunis. Jihad Afghanistan juga menjadi bukti atas makar mereka.
Bagi Zionis dan Salibis Khilafah adalah lambang persatuan, kesatuan dan kekuatan ummat Islam yang selalu menjadi ancaman. Mereka bersekongkol untuk menghapuskannya. Makar mereka berhasil dengan dihapuskan Khilafah Turki Utsmani oleh Mustofa Kamal Ataturk la’natullah ‘alaihi pada tanggal 3 Maret 1924 dan Turki mereka ganti dengan pemerintahan Sekuler.
Dalam mengahadapi musuh-musuh Islam, sebagian kaum muslimin membentuk lembaga-lembaga illegal seperti ; Ikhwanul Muslimin, Hizbut-Tahrir, Jama’ah Tabligh, jama’ah salafiyah dan lain-lain. Secara umum hadaf (tujuan) mereka lebih specific dan terarah dibanding lembaga-lembaga resmi seperti NU, Muhammadiyah, al irsyad, yakni mereka menginginkan wujudnya kembali Khilafah Islamiyah di muka bumi.
Ikhwanul Muslimin
Jama’ah ini berdiri pada bulan Dzulhijjah 1347 H/1928 M. di kota Isma’iliyah (Mesir)oleh Hasan Al Banna. Jama’ah ini bertujuan (target) untuk membina/membentuk pribadi muslim, keluarga muslim, masyarakat muslim, pemerintahan Islam dan dunia Islam dengan Islamisasi.
Hizbut Tahrir
Jama’ah ini lebih terfokus pada politik praktis. Didirikan oleh Taqiyyuddin an-Nabhany di Yordania pada 19 oktober 1378 H/1959 M. Sasaran dan tujuan HT adalah ; memulai cara hidup yang Islami, memikul amanat dakwah dan membangun masyarakat diatas asas yang baru dengan mengikuti Undang-Undang HT yang memuat 182 pasal.
Jama’ah Tabligh
Jama’ah Tabligh didirikan di negeri Hindia di kota Sahar Nufur oleh Syaikh Muhammad Ilyas bin Syaikh Muhammad Isma’il. Jama’ah ini sangat giat berdakwah dengan satu istilah yang cukup dikenal, yakni Jaulah/khuruj (mengadakan perjalanan). Perjalanan dakwah tersebut berupaya membimbing dan menunjukkan ummat kepada kewajiban fardi seperti shalat, shoum, akhlaq karimah dan lain-lain, tanpa masuk kekancah politik.
Tak dapat dipungkiri, bahwa wujud mereka membawa dampak yang cukup positif. Namun banyak hal yang mengharuskan mereka kembali kepada manhaj Salaf :
• Fonomena gerakan yang terkesan meremehkan tradisi keilmuan.
• Fonomena gerakan yang menjadikan rasio sebagai sandaran dalam masalah-masalah aqidah.
• Fonomena gerakan yang terlalu tasahul (memudahkan) dalam bersikap terhadap ahlul bid’ah hatta bid’ah kufriyyah, disamping ada yang terlalu ghuluw (berlebihan) dalam mensikapi orang -orang yang berbeda pendapat dalam masalah-masalah ijtihady.
• Fonomena gerakan yang salah kaprah dalam mengaplkasikan al-Wala’ wal-Bara’ , sehingga memasukkan orang-orang kafir dalam majlis syura-nya. Bahkan ada yang berkompetisi untuk memperjuangkan Islam lewat jalur parlemen dibawah sistem kuffar.
• Fonomena gerakan yang dakwahnya bersifat parsial, sehingga hanya beramal pada sektor-sektor tertentu dengan menafikan sektor lain. Seperti bergerak di sektor politik atau sektor keilmuan saja, beramar makruf tanpa nahi munkar, dan lain-lain… bahkan ada yang memisahkan dien dari politik.
• Fenomena gerakan yang menjadikan at tasfiyah wat tarbiyah saja dan menafyikan perjuangan dengan kekuatan dan jihad fi sabilillah.
Harakah Islamiyah lazim untuk mengadakan restrospeksi secara kontinyu ; Sudahkah aqidah, akhlaq, manhaj perjuangan dan seluruh pemahaman telah mengacu pada Salafus Shalih.
Sebab kemaslahatan ummat yang menjadi cita setiap pergerakan tidak akan wujud kecuali dengan mengikuti (ittiba’) jalan yang telah ditempuh generasi awal Islam. Imam Malik berkata :
لَنْ يَصْلُحَ آخِرَ هَذِهِ الْأُمَّة إِلاَّ بِمَا صَلُحَ بِهِ أَوَّلُهَا
“Generasi akhir ummat ini tidak akan kembali jaya, kecuali dengan apa-apa yang telah mengantarkan kejayaan generasi awal”
Umar bin Khottob  berkata :
“نَحْنُ قًوْمٌ أًعَزَّنَا اللهُ بِالْإِسْلاَمِ فَمَتَى اِبْتَغَيْنَا بِغَيْرِ الْإِسْلاَمِ أَذَلَّنَا اللهُ”. رواه الطَبَرِي فِي تَفْسِيْرِهِ (13/478)
“Kami adalah kaum yang Allah mulyakan dengan islam, maka setiap kami mengharapkan kemuliaan di luar Islam, Allah menghinakan kami.” ( At Tobari 13/478 ).
Manhaj Salaf dan perjuangan
Islam turun dengan syari’at dan manhaj. Syari’at adalah hukum-hukum sedangkan manhaj adalah metode dalam menerapkan hukum tersebut.
Allah Ta’ala berfirman :
Dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu. untuk tiap-tiap umat diantara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. ( Al Maidah : 48)
Ibnu Katsir menjelaskan Syir’atan wa minhajan :
سَبِيْلاً إِلَى الْمَقَاصِدِ الصَحِيْحَةِ، وَسُنَّةُ أَيْ: طَرِيْقًا وَمَسْلَكًا وَاضِحًا بَيِّنًا.
Jalan kepada tujuan yang benar,sedangkan sunnah adalah jalan yang terang dan jelas. (tafsir Ibnu Katsir)
Sayyid qutub dalam tafsirnya menyampaikan :
Dengan hal itu Allah Ta’ala telah menutup seluruh pintu masuknya setan, lebih husus lagi adalah yang nampak darinya kebaikan dan memikat hati dan bisa merapatkan shof (antara yahudi dan islam) dengan cara meremehkan sesuatu dari syari’at Allah, sebaliknya mereka menerima ridhonya orang banyak atau menerima apa yang disebut shof yang satu. (Tafsir fi dhilalil qur’an, ayat tersebut)

Sedangkan dalam mengembalikan kekhilafahan, ummat islam harus memiliki kekuatan. Sebagaimana talah Allah Ta’ala sebutkan dalam al qur’an :
لَقَدْ أَرْسَلْنَا رُسُلَنَا بِالْبَيِّنَاتِ وَأَنزَلْنَا مَعَهُمُ الْكِتَابَ وَالْمِيزَانَ لِيَقُومَ النَّاسُ بِالْقِسْطِ وَأَنزَلْنَا الْحَدِيدَ فِيهِ بَأْسٌ شَدِيدٌ وَمَنَافِعُ لِلنَّاسِ وَلِيَعْلَمَ اللَّهُ مَن يَنصُرُهُ وَرُسُلَهُ بِالْغَيْبِ إِنَّ اللَّهَ قَوِيٌّ عَزِيزٌ
Sesungguhnya Kami telah mengutus rasul-rasul Kami dengan membawa bukti-bukti yang nyata dan telah Kami turunkan bersama mereka Al Kitab dan neraca (keadilan) supaya manusia dapat melaksanakan keadilan. Dan Kami ciptakan besi yang padanya terdapat kekuatan yang hebat dan berbagai manfaat bagi manusia, (supaya mereka mempergunakan besi itu) dan supaya Allah mengetahui siapa yang menolong (agama)Nya dan rasul-rasul-Nya padahal Allah tidak dilihatnya. Sesungguhnya Allah Maha Kuat lagi Maha Perkasa (al Hadid : 25)
Sedangkan Ibnu Taimiyah berkata :
فَالدِيْنُ الْحَقِّ لاَ بُدَّ فِيْهِ مِنَ الْكِتَابِ الْهَادِي وَالسَيْفُ النَاصِر .. فَالْكِتَابُ يُبَيِّنُ مَا أَمَرَ اللهُ بِهِ وَمَا نَهَى عَنْهُ ، وَالسَيْفُ يَنْصُرُ ذَلِكَ وَيُؤَيِّدُهُ
Maka din yang benar haruslah ada didalamnya kitab yang menunjukkan dan pedang yang menolong …. Maka kitab menjelaskan perintah dan larangan Allah dalam kitab tersebut, dan pedang menolong dan menguatkan kitab tersebut. (Minhajus sunnah an nabawiyah : 1/142).
Dari beberapa pemaparan di atas, dapat kita simpulkan bahwa jalan para salaf dalam menegakkan negara madinah adalah dengan dakwah dan jihad. Jika jihad tidak dapat ditegakkan maka wajib ber I’dad. Sebagaimana penjelasan Ibnu Taimiyah :

وكما يجب الاستعداد للجهاد، بإعداد القوة ورباط الخيل في وقت سقوطه للعجز، فإن ما لا يتم الواجب إلا به فهو واجب‏.‏ مجموع الفتاوى: 28/259.
Sebagaimana wajib untuk I’dad dalam jihad, dengan mempersiapkan kekuatan dan menunggang kuda pada saat tidak mampu karena lemah. Maka sesungguhnya sesuatu yang wajib tidak akan sempurna dengan sesuatu tersebut, maka sesuatu tersebut menjadi wajib. (Majmu’ fatawa : 28/259).
Sedangkan dalam menegakkan syari’at islam yang hari ini sangat dibenci barat dan pemerintahan-pemerintahan sekuler, tidak ada cara lain harus mendakwahi mereka, dan jika tidak mau jalan satu-satunya adalah jihad fisabilillah. Para ulama’ menjelaskan :

قال الشيخ محمد حامد الفقي: ”ومثل هذا وشر منه من اتخذ من كلام الفرنجة قوانين يتحاكم إليها في الدماء والفروج والأموال ويقدمها على ما علم وتبين له من كتاب الله وسنة رسوله صلى الله عليه وسلم ، فهو بلا شك كافر مرتد إذا أصر عليها ولم يرجع إلى الحكم بما أنـزل الله، ولا ينفعه أي اسم تسمى به، ولا أي عمل من ظواهر أعمال الصلاة والصيام والحج ونحوها“ [كتاب فتح المجيد شرح كتاب التوحيد: هامش ص396 ط: أنصار السنة.].
قال الشيخ محمد بن إبراهيم آل الشيخ: ”إن الحكم بغير ما أنـزل الله يكون كفرا أكبر في أحوال، الخامس منها يصف حال كثير من بلاد المسلمين الآن وصفا دقيقا – قال – فهذه المحاكم الآن في كثير من أمصار الإسلام مهيأة مكملة مفتوحة الأبواب، والناس إليها أسراب إثر أسراب، يحكم حكامها بينهم بما يخالف حكم السنة والكتاب من أحكام ذلك القانون وتلزمهم به وتقرّهم عليه وتحتّمه عليهم. فأي كفر فوق هذا الكفر، وأي مناقضة للشهادة بأن محمدا رسول الله بعد هذه المناقضة“ [من رسالة تحكيم القوانين.].
قاله الشيخ أحمد شاكر: ”أفيجوز مع هذا في شرع الله أن يحكم المسلمون في بلدهم بتشريع مقتبس عن تشريعات أوربة الوثنية الملحدة؟ – إلى قوله – إن الأمر في هذه القوانين الوضعية واضح وضوح الشمس، هي كفر بواح لا خفاء فيه ولا مداورة“ [عمدة التفسير لأحمد شاكر: 4/173-174.].

Kembali pada salaf tidak hanya dari segi aqidah. Akan tetapi kembali pada salaf haruslah sempurna. Karena islam telah menurunkan syari’at sekaligus membimbing bagaimmana menerapkan syari’at tersebut.
Jadi, diamnya ummat dari kekafiran para penguasa, ataupun terjunnya mereka kekancah perpolitkan dan kepartaian tidak ada contohnya dari para salaf. Bahkan hal ini menyelisihi pendapat mereka.

Filed under: Aqidah

PENGUMUMAN

Mohon maaf kepada para pengunjung blog ini jika beberapa komentar tidak kami tampilkan. Di karenakan komentar yang tidak mendidik tidak ilmiyah dengan berdasar dalil dan cenderung emosional. Semua itu kami lakukan untuk meminimalisir perdebatan yang tidak ilmiyah dan di dasari atas emosi saja

Tanggalan

Jam dinding



Blog Stats

  • 325,176 hits

Pengunjung

online