At Taujih

Mengawal Wacana Iqomatuddiin

dr. Ar Rantisi Rahimahullah

rantisiSaya katakan kepada kalian agar kalian tenang, seandainya ar rantisi, Az Zahhar, Haneya, Nazzar Royyan, Said Sayyam, dan semuanya pergi syahid, demi Allah kami akan semakin gemilang dan mencintai jalan ini. Tangan-tangan kita yang memegang senapan di dunia, insyaAllah ruh kita akan berpelukan disisi Allah Ta’ala. Karenaya, silahkan sharon dan kaum konspirator merajut harapannya di sini. Dan kami akan terus meneruskan perjuangan ini. Jalan kami sulit. Akan tetapi inilah satu-satunya jalan untuk mengantarkan kami pada cita-cita. Maka mutlaq pada kami tidak ada penyerahan kehinaan dan celaan. (Ar Rantisi)

Tidak kurang dari tiga puluh tahun Ar Rantisi berjihad. hanya semata-mata mengharap ridha Allah Ta’ala. Itulah jalan yang benar, dan inilah satu-satunya jalan yang akan mengantarkan kita pada kebahagiaan yang hakiki, kebahagiaan yang tiada tandingnya. Ini memang bukan jalan yang dihiasi dengan bunga indah menawan, bahkan sebaliknya penuh dengan berbagai rintangan dan menuntut pengorbanan namun cita-cita dan tujuan yang diidamkan membuat manusia mudah untuk melewati semua kepahitan Dan ini adalah Sunnatullah dalam berdakwah sejak zaman nabi Adam hingga kita sekarang ini.

Banyak dokter di muka bumi dengan berbagai macam keahlian dan spesialisasinya, tetapi sedikit sekali di antara mereka yang hafal Al-Qurân dan merindukan syahid di jalan Allah Ta’ala. Di antara yang sedikit itu adalah dokter Abdul Aziz Rantisi. Beliau adalah Abdul Aziz Ali Abdul Hafidz el Rantisi, dilahirkan pada tanggal 23 Oktober 1947 di desa Yabna, antara Asqolan dan Yafa. Keluarga Rantisi mengungsi ke Jalur Gaza dan menetap di Kamp Pengungsi Khan Yunis setelah terjadi perang (nakbah) 1948. Saat itu usia beliau baru menginjak 6 bulan. Beliau merupakan seorang dokter spesialis anak yang pernah bertugas di Rumah Sakit Naser, di lingkungan Kamp Khan Yunis, Jalur Gaza pada tahun 1976.

Pendidikan dan aktifitasnya
Rantisi tumbuh di tengah-tengah 9 saudara laki-laki dan dua orang saudara perempuan. Pada usia enam tahun, Abdul Aziz Ar-Ranteesi masuk bangku belajar di sekolah yang dikelola oleh Lembaga Bantuan untuk Para Pengungsi Palestina milik PBB (UNRWA). Kondisi ekonomi keluarga yang sulit memaksa Abdul Aziz Ranteesi bekerja pada umur enam tahun, demi membantu memikul beban keluarganya yang besar. Beliau termasuk anak yang sangat menonjol dalam studinya hingga selesai tahun 1965. Kemudian merantau ke Alexandria (Mesir) untuk untuk melanjutkan studinya di Universitas Iskandariah dalam bidang kedokteran.
Pada tahun 1972, Abdul Aziz Ranteesi menyelesaikan studi S1-nya dengan peringkat memuaskan. Selanjutnya beliau kembali ke Jalur Gaza. Dua tahun kemudia beliau berangkat kembali ke Alexandria untuk menyelesaikan program master di bidang kedokteran anak. Kemudian pada tahun 1976, beliau kembali ke Jalur Gaza dan bekerja sebagai dokter tetap di Rumah Sakit Nashir (yang merupakan Rumah Sakit Pusat di Khan Yunus). Beliau menikah dan dikaruniai enam orang anak (dua putra dan empat putri).

Ar-Ranteesi menduduki beberapa posisi dalam kegiatan kemasyarakatan di antaranya: anggota Dewan Majma’ Islamy dan Organisasi Kedokteran Arab di Jalur Gaza, dan juga di Bulan Sabit Merah Palestina. Bekerja di Universitas Islam di kota Gaza sejak pembukaannya tahun1978 sebagai dosen berbagai bidang akademis, dosen ilmu Genetika, dan ilmu Mikrobiologi.
Abdul Aziz Rantisi merupakan murid dari Syekh Ahmad Yasin, tokoh spiritual, qiyadah/ pemimpin pejuang Palestina melawan penjajah Zionis Israel di abad modern ini. Di bawah bimbingan Syekh Yasin, Abdul Aziz Rantisi dapat memahami arti kehidupandan perjuangan untuk meraih kesuksesan/ keberuntungan yang sesungguhnya, tegar dalam menghadapi cobaan, tidak terbuai dengan godaan dunia dan yang lebih penting lagi adalah bercita-cita untuk mati syahid.

Beliau pernah dipenjara bersama Sang Guru, Syekh Ahmad Yasin dan beberapa pejuang Palestina lainnya dari Hamas. Di penjara tersebut Abdul Aziz Rantisi melakukan murajaâ’ah (mengulang) Al-Qurâan yang sudah hafal diluar kepalanya sejak tahun 1990. Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenanganyang memperdayakan.
Untuk merealisasikan cita-citanya yaitu mati syahid, selain berdo’a, beliau
berjuang dengan ikhlas, tidak cinta dunia, tidak takut kepada siapapun kecuali kepada Allah, tidak mau kompromi dengan Zionis Israel, penjajah yang akan menghancurkan masjid Al-Aqsha, kiblat umat Islam pertama.

Pada tahun 1983 Rantisi ditangkap karena menolak membayar pajak kepada rezim Imperialis Israel. Pada tanggal 15 November 1988 beliau ditahan selama 21 hari.
Pada tanggal 4 Maret 1988 militer Imperialis Israel kembali menangkap beliau dan terus menjebloskannya dalam penjara Israel selama dua setengah tahun, atas dasar keterlibatannya dalam kegiatan aksi menentang penjajahan Zionis. Pada tanggal 4 September 1990 beliau dibebaskan. Kemudian pada 14 Desember 1990 beliau kembali ditahan secara administratif hingga satu tahun lamanya.

Pada 17 Desember 1992 beliau dideportasi bersama 400 aktifis dan kader Hamas serta Jihad Islam ke Lebanon Selatan. Akhirnya beliau pun tampil sebagai juru bicara resmi untuk para deportan yang bertahan di Kamp Pengungsi el Audah di wilayah Murjuz Zuhur untuk menuntut pihak rezim Imperialis Israel memulangkan mereka dan sebagai ungkapan protes penolakan terhadap kebijakan deportasi yang dilakukan pihak rezim Imperialis Israel.
Begitu pulang dari Murjuz Zuhur, beliau kembali ditangkap oleh pihak rezim Imperialis Israel. Kemudian Mahkamah Militer Imperialis Israel mengeluarkan putusan vonis penjara kepada beliau, dan akhirnya terus mendekam dalam penjara Imperialis Israel hingga pertengahan tahun 1997.

Menjadi pimimpin HAMAS
Ketika Syaikh Ahmad Yasin syahid, Senin, 22 Maret 2004 karena dirudal penjajah Zionis Israel. Maka terjadilah rapat yang memutuskan bahwa Ar Rantisi diangkat sebagai pemimpin Hamas. Tampuk qiyadah/ kepemimpinan Hamas diembannya dengan penuh tanggung jawab dan amanah. Rapat itu juga memutuskan Kholid musyal sebagai pemimpin politik Hamas. Beliau paham benar apa resiko yang akan dihadapinya. Karena israel sudah berkeinginan lama untuk membunuhnya.

Beliau sebagai qiyadah/pemimpin pengganti Syekh Ahmad Yasin sangat hati-hati terhadap uang atau materi. Dan amanah merupakan bagian dari hidupnya, sehingga beliau dipercaya oleh pengikut dan pendukungnya.

Ada kata-kata hikmah yang menjelaskan Tiada Tsiqah Tanpa Amanah, artinya bagaimana mungkin seseorang akan tsiqah (percaya) kalau orang yang diberi amanah apalagi sebagai qiyadah/ pemimpin dalam bermuamalah dengan anggota atau umat tidak amanah, berbohong, bersilat lidah untuk memperkaya diri atau menyelamat diri sendiri.

Pada saat-saat terakhir kehidupan dr. AbdulAziz Rantisi setelah dihantam roket penjajah Zionis Israel, Ketika badannya dipenuhi darah, kondisi sudah mulai agak lemah, beliau (AbdulAziz Rantisi) menunjuk ke kantong celananya, pengawalnya tidak paham apa maksudnya, setelah tangan pengawalnya dimasukkan ke kantong celana dr. Abdul Aziz Rantisi tampaklah beberapa uang, dr. Abdul Aziz Rantisi dengan kondisi tubuh yang sudah lemah meyampaikan pesan kepada pengawalnya, berikan uang tersebut kepada si fulan, Subhanallah, Allah memberikan kesempatan dan peluang kepada dr. Abdul Aziz Rantisi untuk meninggalkan dunia tanpa beban dan hutang serta menunaikan amanah untuk disampaikan kepada yang berhak.

Bahkan sehari sebelum dihantam roket penjajah Zionis Israel, beliau sudah
mengambil uang tabungan gajinya selama mengajar di Universitas Islam Gaza dan menghitung hutang yang akan dilunasinya. Termasuk beliau memberikan bantuan untuk biaya pernikahan anaknya, Ahmad. Setelah itu beliau berkata, “Sekarang, jika saya menemui Tuhanku, maka aku dalam keadaan bersih. Saya tidakmemiliki apa-apa dan tidak ada tanggungan apa-apa.”

Ketegaran prinsip
Ada sebuah kisah menarik yang terjadi pada saat di penjara. Yaitu sebuah ketegaran dalam memegang prinsip. Sehingga tak heran jika beliau sangat disegani oleh kawan maupun lawan.
Pada tahun 1991 saat berada di penjara Israel Negef guna menjalani hukuman penjara selama saetahun. Sejak dibukanya penjara ini tahun 1988 seluruh napi tidak diperbolehkan menemui keluarganya. Akhirnya terjadilah desakan dari pihak keluarga untuk memperbolehkan para napi dikunjungi oleh keluarga.

Diadakanlah dialog antara pihak Israel dan para perwakilan napi yang sebagian besarnya adalah pejuang-pejuang Palestina. Hadirlah di sana Chelty, yaitu pimpinan tahanan yang sangat dihormati oleh para napi karena sikap dia yang keras terhadap tahanan. Pada saat Chelty masuk ke ruangan, ia meminta para tahanan untuk berdiri menghormatinya. Akhirnya semua peserta berdiri kecuali beliau. Lalu mendekatlah ia kepada kepadanya dan berkata : Kenapa kamu tidak berdiri bersama-sama temanmu. Kemudian ia menjawab : Saya tidak mau berdiri kecuali pada Allah k. anda bukanlah Tuhan melainkan manusia. Oleh karena itu, saya tidak mau berdiri untuk manusia. Kemudian ia membentak dan berkata : “Kamu harus berdiri”. Akhirnya Syaikh Ar Rantisi bersumpah dan mengatakan : “Demi Allah saya tidak akan berdiri. Terlihatlah Chelty dalam ketidak nyamanan dan tidak tahu apa yang harus diperbuat.

Seorang kolonel dari fraksi fatah mengatakan padaku : “Jangan mundur akhi!”. Chelty tetap meminta ar Rantisi untuk berdiri. Akan tetapi permintaan itu tetap ia tolak. Akhirnya Chelty berbicara : Hai dokter, disini protokoler yang harus dihormati. Ar Rantisi menjawab : Agama saya lebih layak untuk dihormati dan agama saya melarang penganutnya untuk berdiri dengan maksud memulyakan seseorang. Lalu jalan keluarnya apa? Tannya deputi tersebut. “Saya pilih tetap duduk atau saya kembali ke rumah saya” jawab beliau tegas. Lalu Chelty menjawab : kembalilah kau ke rumahmu !”. Akhirnya ar rantisi keluar dari kantor tersebut dan diikuti oleh Ir. Ibrahim Ridwan dan Abdul ‘Aziz al Kholidi yang kedua duanya dari Hamas.

Beberapa hari setelah 9 bulan dan tinggal tiga bulan beliau keluar tahanan, para pemimpin tahanan meminta beliau untuk mengumpulkan barang-barangnya. Kemudian beliau dipindahkan ke sebuah penjara dengan lima puluh sel. Di sana hanya dihuni oleh 50 orang. Akhirnya terungkap bahwa apa yang dialami oleh ar Rantisi ini adalah balasan dari Chelty karena sikap beliau kepadanya beberapa waktu sebelumnya.

Dibawalah syaikh ar rantisi ke selnya bersamaan dengan para napi-napi yang lain. Setiap hari kecuali hari sabtu para tahanan tersebut disuruh keluar kehalaman yang dikelilingi kawat berduri. Waktu yang diberikan pada tahanan hanya satu jam untuk buang hajat. Karena memang di tahanan tidak ada kamar khusus untuk buang hajad. Beliau gunakan waktu dari sisa-sisa tahan untuk mengulang bacaan al qur’an yang telah beliau hafal semenjak bersama Syaikh Ahmad Yasin pada tahun 1990.

Kesyahidan beliau
Pada hari Sabtu, 25 Shafar 1425/17 April 2004, beliau berada dalam sebuah mobil bersama dengan tiga orang pengantarnya. Datanglah pesawat israel dan meluncurkan rudalnya tepat mengenai mobil yang ditumpanginya. Takayal lagi, mobil tersebut hancur, sedangkan beliau mengalami luka yang sangat parah. Kemudian beliau dibawa ke rumah sakit syifa’ di jalur Gaza. Tetapi nyawa beliau tidak tertolong lagi dan meninggal dalam keadaan syahid IsnyaAllah.
dr. Jam’ah Saqo direktur rumah sakit syifa’ mengatakan : dr. Abdullah Ar Rantisi syahid karena mendapatkan luka yang sangat serius pada dada dan lehernya. Korban lainnya adalah Akrom Nassar (ajudan), Muhammad Abu Namus dan yang satu lagi tidak diketahui identitasnya. Menurut beberapa sumber berita Palestina menyebutkan bahwa sedikitnya dua rudal ditembakkan oleh Israel dan tepat mengenai mobil yang ditumpangi Ar Rantisi.

Istri Ar Rantisi ketika mendengar berita kematian beliau seperti lazimnya perasaan setiap isteri kehilangan suami. Akan tetapi istri beliau tidak kehilangan kendali diri. Beliau tidak kehilangan iman dan ketsiqahannya kepada Allah. Ia paham bahwa peristiwa ini karunia dari-Nya.
Untuk mendapat kepastian segera ia mendengarkan radio Shautul Aqsa. Waktu itu sedang adzan Isya. Selepas adzan langsung diberitakan pengeboman mobil as-Syahid serta syahidnya pengawal beliau saat itu juga. Adapun beliau sendiri sedang mendapat perawatan darurat.
Isri beliau tak henti-henti bertahmid kepada Allah, lalu berwudhu dan salat Isya serta berdo’a agar Allah memberikan ketsabatan kepadanya dan kepada anak-anaknya.

Belaiau berwasiat kepada kelaurganya. Diantara isi wasiat beliau agar menghabiskan waktunya untuk berjihad, merealisasikan manhaj Allah dalam semua sisi kehidupannya; dalam bermuamalah, berakhlak, berjihad, beribadah, bersosial, berpolitik, berinteraksi dengan yang lain. Ini adalah wasiat paling besar yang beliau sampaikan kepada keluarganya.
Istri belaiu menuturkan bahwa beliau sangat gembira sekali dan kondisi spiritualnya, sebagaimana juga biasanya, sangat prima. Kalimat terakhir yang ia katakan kepada kami, “Semoga Engkau masukkan kami ke surga-Mu, wahai Allah, inilah puncak harapanku” Cita-cita tertinggi as-Syahid adalah agar Allah Ta’ala mengaruniainya kesyahidan. Tidak lebih dari itu.
Diantara karomah beliau adalah darah yang terus mengalir hingga dua puluh empat jam dari kesyahi-dannya. Tercium wangi kesturi dari seluruh anggota tubuhnya. Ketegaran dan keteguhan batin yang dirasakan istri dan anak-anaknya serta senyum manis yang terpancar dari gigi serinya, sepertinya merupa-kan karamah beliau.

Tercapailah keinginannya seperti kalimat yang pernah dia ucapkannya: Kita akan mati suatu hari nanti, tiada apa yang dapat mengubahnya. Jika maut disebabkan Apache (helikopter tempur buatan Amerika) atau serangan jantung, saya lebih rela memilihApache…”
Semoga Allah Ta’ala memberikan keteguhan hati, mengayomi dan memberikan taufik kepada kita. Semoga Allah Ta’ala mengarahkan jalan yang kita tempuh dan mengumpulkan kita bersama orang-orang yang kita kasihi yaitu para syuhada’ di surga-Nya kelak.
Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rezki.(QS: Ali Imran/3: 169).[Amru].

Filed under: Profil Mujahid

ABU UMAR AS SAIF

abu umarNama lengkapnya Muhammad bin Abdul1ah bin Saif At-Tamimi. dibesarkan di propinsi Al-Qashirn Kerajaan Saudi Arabia. Sebelumnya pernah menimba ilmu dan para ularna kaliber di Saudi Arabia, semisal “ Saikh Muhammad Shalih A1-’Utsaimin. Sebelum masuk dalam kancah jihad di Chechnya, kehidupan jihadnya dimulai dari Afghanistan, dengan mengikuti pelatihan militer di sana. kemudian beliau pindah ke Chechnya pada tahun 1417 H bertempat di kamp militer Panglima Khatthab rahimahullâh, dan berjihad di bawah komando Panglima Khatthab rahimahullâh pada permulaan terjadinya perang melawan Rusia.

Sejarah jihadnya
Setelah hengkangnya pasukan Rusia pada perang pertama dari bumi Chechnya dan dibarengi berdirinya Negara Chechnya, para petinggi Chechnya berkeinginan kuat untuk menerapkan syariat Islam. Lalu diangkatlah Syaikh Abu Umar As-Saif untuk mengawasi dan membimbing perja1anan dan pembelajaran calon hakim agama. Maka dan itu didirikanlah Sekolah Tinggi Hukum Agama Islam, dan kedua Sekolah tinggi Penegak Syariat di kota Guderrnes, di kemudian harinya meluluskan beberapa hakim dan pelajar terbaik.

kernudian pada tahun 1420 H, pasukan Rusia kembali melakukan agresi ke Chechnya. Kesempatan ini tidak disia-siakan oleh Syaikh Abu Umar As-Saif untuk rnenghunuskan senjatanya dan bergabung ke dalam barisan mujahidin. Beliau tidak hanya menjadi penasehat dan penggerak semangat jihad para mujahid, bahkan nasehat dan dorongan yang disampaikannya itu ikut mendarah daging dalam tubuhnya untuk terjun langsung ke kancah jihad bersama mujahidin lainnya.

Tidak sekali beliau terluka dalam peperangan melawan Rusia, bahkan tidak terhitung luka yang dialaminya ketika terjadi konfrontasi bersama pasukan Rusia. Bahkan tidak sedikit adanya usaha dan pihak Rusia untuk bisa membunuh beliau secara tiba-tiba selama perjalanan jihad beliau di Chechnya.

Tapi kesibukan beliau di kancah perang dalam memanggul senjata tidak menjadikannya lalai untuk menyebarkan ilmu syar’i di tengah-tengah masyarakat bahkan sampai pada kondisi sesulit dan separah apapun yang dihadapinya. Hal mi dibuktikan dengan keberhasilan beliau dalam mendirikan Ma’had Imam Syafi’i, dan kedua Ma’had Al-Hisbah, itu diluar kesibukan beliau dalam mengadakan dan mengisi diklat-diklat ilmu syar’i di berbagai daerah di Chechnya, untuk kalangan laki-laki dan perempuan. Hal ini memberikan dampak positif dalam membentuk daya paham masyarakat awam Islam yang ada di Chechnya—khususnya bagi para mujahidin—terhadap perkara-perkara dienul Islam, yang juga menjadi target Rusia dengan pelbagai cara dan metode yang sangat mengerikan untuk menjauhkan masyarakat awam Islam di Chechnya dan ajaran-ajaran Islam.

Bagi Syaikh Abu Umar As-Saif rahimahullâh tidak cukup kalau hanya berkecimpung dalam jihad menggunakan lisan, pena dan senjatanya saja. Lebih dari itu beliau juga berjihad dengan harta. ini terbukti dengan adanya usaha beliau dalam mendirikan Yayasan Al Huda yang mengampu peranan sangat besar dalam menampung dan membiayai keluarga mujahidin. Entah yang ditinggal mati syahid ataupun ditawan oleh pihak Rusia, atau rakyat yang sangat memerlukan bantuan, dan bahkan merogoh koceknya sendiri untuk beliau infakkan, Ketika ada salah seorang mujahidin yang tertawan pihak Rusia, beliau sendiri yang menebusnya dalam jumlah 10.000 US Dollar.

Selain itu semua, beliau juga masuk dalam jajaran atas para pendiri Majelis Syura Militer Mujahidin Chechnya.

Syahidnya beliau
Perhatian beliau terhadap mujahidin, tidak hanya terbatas pada rnasalah-masalah mujahidin yang ada di Chechnya saja, tapi diberikannya ke setiap ternpat bumi jihad, seperti di Irak. Beliau pernah berjihad langsung di sana, dan begitu juga di tanah jazirah Arab yang pernah mendapatkan siraman rohani yang sangat baik dan arahan-arahan dan nasehat-nasehat beliau,
Beliau menjurnpai syahidnya pada bulan Syawal 1426 hijriyah bersama isterinya, setelah kontak senjata dengan tentara Rusia, dalam kondisi maju pantang mundur sedikitpun.
Semoga Allah memberikan rahmat-Nya kepada seorang ‘alim yang satu ini yang telah membuktikan ilmunya dalam amalnya keseharian.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ مِنْ خَيْرِ مَعَاشِ النَّاسِ لَهُمْ رَجُلٌ مُمْسِكٌ عِنَانَ فَرَسِهِ فِي سَبِيلِ اللَّهِ يَطِيرُ عَلَى مَتْنِهِ كُلَّمَا سَمِعَ هَيْعَةً أَوْ فَزْعَةً طَارَ عَلَيْهِ يَبْتَغِي الْقَتْلَ وَالْمَوْتَ مَظَانَّهُ
“Di antara penghidupan yang paling baik dimiliki manusia, laki-laki yang menarik kekang kudanya dalam kancah jihad, bagaikan terbang di atas punggungnya, setiap ia mendengar hiruk pikuk dan suara minta tolong, ia pacu kudanya agar ia dibunuh dan mencari mati sesuai sangkaannya.” (HR. Muslim). [infojihad.com dengan perubahan]

Filed under: Profil Mujahid

Sayyid Quthb

images qtb(Pemikir Besar Islam Sepanjang Zaman)
Kepada para pemuda yang terbesit dalam khayalanku
Yang datang dengan membawa islam kembali sebagaimana ia muncul pertama kali
Yang berjihad di jalan Allah dan tidak takut celaan orang-orang yang mencela. (Sayyid Quthb)

Pertumbuhannya
Sayyid Quthb dilahirkan di sebuah desa bernama Musyah, salah satu pedesaan di daerah dataran tinggi pada tahun 1906 M. Desa Musyah termasuk dalam propinsi Asyuth.
Beliau dilahirkan dari kedua orang tua yang mulia dengan kehidupan berkecukupan. Keduanya mempunyai pembawaan seperti pembawaan orang-orang yang berasal dari dataran tinggi Mesir. Warna kulit kecoklatan, roman yang memperlihatkan sebagian nilai fitrah suci yang berupa kecemburuan atas harga diri. Kebaikan hati yang mengakar kuat dalam lubuk hati mereka, kemuliaan yang selalu menyertai mereka, baik dalam masa-masa paceklik maupun masa-masa subur.

Ada yang mengatakan bahwa Sayyid berasal dari India dan Husain –kakeknya yang ke empat- telah hijrah dari India ke tanah suci, yaitu Ka’bah dan tempat tinggal Nabi Muhammad. Kemudian pindah lagi ke Mesir dan menetap di desa Musyah.
Pendidikannya

Di masa awal anak-anak, beliau tumbuh di desanya dalam asuhan kedua orang tuanya. Mereka mendidiknya dengan menanamkan kecintaan terhadap agama, bermodalkan nilai-nilai agama suci yang sudah menjadi watak dasar mereka.

Kemudian pindah ke Kairo, tempat tinggal paman dari ibunya, untuk melanjutkan pendidikannya ke Universitas Darul Ulum. Sewaktu belajar di sana, bakat sastranya mulai menonjol. Beliau mulai menulis di beberapa majalah sastra dan majalah politik, di antaranya majalah Ar Risalah dan majalah Al Liwa’ Al Isytirikiyyah.

Pada tahun empat puluhan, beliau di nobatkan menjadi menjadi pemimpin redaksi majalah Al Fikr Al Jadid milik Muhammad Hilmi Al Minyawi. Dalam majalah ini, kecenderungan pertentangan Sayyid Quthb dengan raja Faruq sangat jelas. Sayyid Quthb mengkritik Raja Faruq dengan kritikan yang pedas secara terang-terangan. Hingga akhirnya, pemerintah terpaksa menutup majalah tersebut setelah terbit enam edisi.

Sayyid Quthb berguru kepada Al Aqqad dalam bidang satra. Selain berguru kepada Al Aqqad beliau juga berguru kepada Thaha Husain.
Pada awal tahun empat puluhan, beliau menulis dua buah buku yang sangat terkenal, yaitu At Tashwir Al Fanniy fi Al Qur’an dan Masyahid Al Qiyamah fi Al Qur’an. Beberapa dari pembaca benyak yangterkejut ketika mereka mendapati dua buah buku tersebut tidak terdapat lafadz basmalahnya. Namun ternyata, ketika itu Sayyid belum memiliki orientasi keislaman.
Dari Kancah Pergerakan Hingga Tiang Gantungan

Sayyid Quthb masuk Jama’ah Ikhwanul Muslimin pada tahun 1951 M. di awal permulaan masuknya ini, Sayyid kurang begitu mempedulikan urusan dakwah. Beliau juga belum mau berusaha untuk bertemu dengan komandan Jamaah Al Banna yang telah mengumpulkan putra-putra mesir pilihan langsung di bawah bimbingannya dan berada di antara barisannya.
Ada dua kejadian yang menimpa beliau, sehingga mendorong diri beliau masuk ke dalam divisi dakwah ini:

Pertama:
Kejadian pertama terjadi pada tanggal 13 Februari 1946 M. pada saat itu beliau berbaring di atas tempat tidur sebuah rumah sakit di Amerika, beliau melihat rambu-rambu hiasan, lampu-lampu listrik yang berwarna-warni dan beraneka ragam musik serta tarian barat. Beliau menanyakan, perayaan apa dengan semua itu. Maka mereka menjawab, “Pada hari ini di bagian timur ada seorang musuh besar agama Kristen yang telah terbunuh.” Pada hari ini, Hasan Al Banna telah terbunuh. Kejadaian ini cukup membuat hatinya bergncang keras. Hasan Al Banna??!! Kematiannya dirayakan dengan sangat meriah di Negara Amerikan. Kalau begitu orang tersebut adalah seorang yang ikhlas dan dakwahnya juga benar-benar membahayakan, sehingga membuat orang-orang Barat ketakutan.

Kedua:
Kejadian kedua terjadi di kediaman pimpinan Agen Intelejen Inggris yang berkedudukan di Amerika. Beliau di undang oleh pimpinan Agen Intelejen Inggris untuk datang ke kediamannya. Pembicaraan dimulai dengan membahas kondisi Negara-negara timur dan masa depan mereka, serta kemudian beranjak ke Mesir. Ternyata diskusi tentang jamaah Ikhwanul Muslimin mengambil bagian cukup besar dari pembicaraan tersebut. Dipaparkan kepada beliau laporan-laporan yang sangat rinci tentang kegiatan jamaah dan mengenai gerakan-gerakan serta khotbah-khotbah Al Banna sejak jamaah ini masih terdiri dari enam orang hingga tahun 1949.
Rincian itu menguatkan bukti bahwa mereka telah mengerahkan berbagai peralatan dan harta demi mengikuti kegiatan, gerakan-geraka dan keadaan-keadaan jamaah Ikhwanul Muslimin. Untuk tujuan itu, mereka mempersiapkan amunisi berupa dana yang besar dan para ahli hanya karena mereka ketakutan terhadap islam. Maka dia yakin, bahwa jamaah ini berada di atas kebenaran. Dan mulai saat itu dia bertekat untuk masuk sebagai anggota jamaah Al Ikhwan.
Masa Tahanan

Rangkaian ujian datang bertubi-tubi menghantam Ikhwanul Muslimin dan tokoh-tokoh pembesarnya. Pada tahun 1952 sesudah penembakan Thaghut Jamal Abdul Nashir di Mansyiyah Al Bakri kota Iskandariyah mulailah pengkapan-penangkapan menimpa Ikhwanul Muslimin. Ribuan pemuda dijebloskan ke penjara. Termasuk Sayyid, beliau tidak luput dari gelombang penangkapan tersebut. Apalagi pada waktu itu beliau menjabat sebagai kepala seksi penyebaran dakwah.

Di penjara, beliau mengalami siksaan yang sangat keras. Karena kejamnya siksaan tersebut menyebabkan paru-paru beliau mengalami pendarahan hebat, sehingga memaksa beliau untuk dipindah di rumah sakit. Saat berada di rumah sakit, vonis mati di jatuhkan kepada beliau. Meledaklah kemarahan bangsa-bangsa muslim. Mereka menumpahkan kemarahan mereka dengan mengadakan demontrasi-demontrasi di kantor-kantor kedutaan besar Mesir di berbagai pernjuru Negara Arab dan Negara Islam.

Akhirnya Gedung Republik mengeluarkan janji untuk tidak menghukum mati beliau. Pengadilan Sayyid Quthb berada pada urutan kedua dan dilaksanakan secara terbuka. Dalam sidang yang dipimpin Jamal Salim ini, memvonis beliau dengan pekerjaan-pekerjaan berat sumur hidup. Selang beberapa waktu dank arena kondisi kesehatan beliau mendapat remisi, sehingga masa tahanan beliau menjadi lima belas tahun.

Sayyid Quthb ditempatkan di Liman Thurah, sebuah penjara yang berisikan ratusan pemuda Al Ikhwan. Beliau menyaksikan dengan mata kepala sendiri pembantaian anggota Al Ikhwan di Liman Thurah. Pemerintah melepaskan senjata-senjata otomatis kepada anggota Al Ikhwan, sehingga mereka terbunuh dalam satu sel penjara. Ceceran daging-daging dari dua puluh satu pemuda Al Ikhwan menempel di dinding.

Sayyid Quthb menjalani hukuman di penjara dengan penuh kesabaran dan mengharap pahala dari Allah atas semua ujian ini. Sambil mendidik saudara-saudara senasib di sekelilingnya.
Kondisi kesahatan beliau semakin memburuk. Beliau menderita sakit nyeri dada yang sangat. Tubuh beliau yang kurus kering terdapat daftar beberapa penyakit. Tim dokter yang merawat beliau kepada Jamal Abdul Nashir dan menasehatinya, “Jika Anda menginginkan orang ini meninggal di luar penjara, bebaskan saja dia. Karena kematian bisa menjeputnya sewaktu-waktu. Namun justru Jamal Abdul Nashir malah mengundur-undur pembasan beliau. Hingga Ahmad Ablo turut campur untuk membebaskannya dari penjara. Mereka membuat kedustaan terhadap Ahmad Ablo dengan berpura-pura membebaskan beliau. Mereka memindahkan beliau ke Rumah Sakit Al Qathr Al ‘Aini (Universitas Kairo), karena kondisi kesehatan beliaulah yang menuntut pemindahan ini. Beliau dirawat di gedung Al ‘Aini selama enam bulan. Setelah itu dikembalikan lagi ke Liman Thurah.

Pada bulan April tahun 1964 diadakan perayaan dalam rangka selesainya fase pertama pembangunan bendungan Al Ali. Abdussalam Arif presiden Iraq, termasuk salah satu diantara orang-orang yang diundang. Beliau mendapat telegraf dari Mufti Iraq, yang menyuruhnya untuk memberi syafaat kepada Sayyid Quthb, agar dibebaskan dari penjara. Sehingga Abdussalam menjadai wasilah untuk membebaskan beliau. Hingga akhirnya beliau dibebaskan pada tahun 1964.

Setelah bebas Sayyid Quthb telah menyiapkan rancangan (draf) buku Al Ma’alim dan sudah mulai mengeditnya. Setelah beliau menyerahkan kepada penerbit maka terbitlah buku tersebut (Al Ma’alim). Cetakan perdana yang diterbitkan oleh Wahbah langsung terjual habis dalam waktu yang singkat. Ini membuat intelejen Mesir sangat terkejut dan membuat orang-orang komunis gerah. Mereka mencermati buku Al Ma’alim kata demi kata. Mereka sangat yakin bahwa buku tersebut akan membinasakan Ikhwanul Muslimin.

Pemerintah pertama-tama berusaha membungkam para dai yang berdakwah secara terang-terangan dengan penculikan-penculikan. Pada tahun 1965 penangkapan, pengejaran, dan pemberangusan dimulai. Sayyid Quthb ditangkap pada tanggal 26 April 1965 M. Beliau dijebloskan di penjara Militer yang sebelumnya berpindah dari satu penjara ke penjara lainnya.
Tuduhan yang dilontarkan kepada beliau adalah berupa pengkhianatan terbesar dengan kepemimpinan beliau dalam sebuah organisasi teroris yang ingin merubah system yang ada dengan kekuatan. Ini benar-benar suatu kenyataan dan kalimat kebenaran yang dipergunakan untuk maksud batil. Karena sudah menjadi kewajiban bagi seorang pembela kebenaran mengajak untuk membela agamanya dan mengaplikasikan islam dalam segala bidang kehidupan.

Introgasi dan penyiksaan berlangsung terus menerus selama setahun penuh, dari bulan Agustus tahun 1965 sampai bulan Agustus tahun 1966. Di awal masa introgasi dan masa persidangan di pengadilan beliau menjadi raksasa. Dengan berani dan tanpa takut beliau sering mengejek para polisi pengkhianat yang menjadi hakim dan menghukum permasalaham darah dan kehormatan. Hingga meledaklah kemarahan para algojo yang menghadapi Sayyid Quthb tersebut.

Dalam persidangan kali ini, dikeluarkanlah vonis mati terhadap sayyid Quthb. Vonis mati juga dijatuhkan kepada murid beliau Muhammad Yusuf Hawasyi dan Syaikh Abdul Fatah Ismail. Sayyid Quth berkata ketika vonis matik dikeluarkan, “Segala puji bagi Allah, akuu telah berjihad selama lima belas tahun sampai aku bisa meraih kesyahidan ini.” Eksekusi hukuman dilaksanakan pada waktu sahur (menjelang subuh), malam senin bertepatan dengan tanggal 29 Agustus 1966 M. Maka kembalilah jiwa yang besar ini menuju Penciptanya setelah usai memaikan perannya.

Manhaj Harakah Sayyid Quthb
Melihat apa yang menimpa Ikhwanul Muslimin, berupa penangkapan, penculikan, pembantaian terhadap anggotanya Sayyid melakukan evaluasi dan kajian mendalam terhadap harakah tersebut. Beliau membandingkan harakah ikhwanul muslimin dengan harakah pertama kali dalam islam. Dari pengamatannya ini maka jelaslah bagi sayyid Quthb bahwa, harakah islamiyah pada hari ini mengahadapi kondisi yang mirip dengan kondisi masyarakat ketika pertama kali islam datang. Dipandang dari dari sisi kebodohan mereka terhadap hakikat aqidah islam, jauh mereka dari nilai-nilai moral islam. Jadi bukan hanya sekedar jauh dari system dan syariat islam.
Maka secara ringkas menurut beliau, agar harakah islamiyah selalu eksis di tengah gelombang makar-makar orang kafir dan manhaj yang harus ditempuh adalah:

1. Menjadi keharusan bagi setiap harakah islamiyah untuk mengawali gerakannya dengan mengembalikan pemahaman manusia tentang makna islam dan akidah yang benar. Agar setiap ibadah ditujukan hanyak kepada Allah semata. Baik dalam keyakinan mengenai uluhiyyah-Nya atau dalam menjalankan syiar-syiar ibadah kepada-Nya, atau tunduk berhukum hanya kepada peraturan dan syariat-Nya. Karena hari ini manusia telah jauh dari pemahaman makna islam, baik dari dari sisi akidah, akhlak, maupun syariat islam.

2. Orang yang menyambut pemahaman ini dipilih dan kemudian ditarbiyah (dididik) dalam akhlak islam serta dibekali dengan kajian harakah islamiyah dan sejarahnya. Dipahamkan mengenai perjalanan sejarah islam dalam berinteraksi dengan berbagai kekuatan, masyarakat dan berbagai rintangan yang dihadapi.

3. Tidak memulai dengan membuat tandzim baru apa pun, kecuali setelah semua anggotanya mencapai pemahaman akidah yang benar dan berakhlak islami dalam berinteraksi dan berperilaku, serta memiliki bekal yang cukup.

4. Titik tolak itu bukan dimulai dari menuntut ditegakkannya sebuah system islam dan pemberlakuan syariat islam. Tapi, dimulai dari merubah masyarakat baik pengusa maupun rakyatnya kepada pemahaman islam yang benar dan membentuk pondasi yang kokoh. Meskipun tidak mencakup seluruh masyarakat, minimal mencakp unsur-unsur yang dapat memiliki pengaruh untuk mengarahkan masyarakat secara umum. Agar mereka cinta dan berjuang menegakkan system islam dan menjalankan syariat islam.

5. Penegakkan syariat islam tidak dapat dilakukan dengan cara merebut kekuasaan. Tapi, melalui perubahan masyarakat secara keseluruhan atau pemahaman beberapa kelompok masyarakat dalam jumlah yang mencukupi untuk mengarahkan seluruh masyarakat pada pemikirannya, nilai-nilainya, akhlaknya dan komitmennya dengan islam. Sehingga tumbuh kesadaran dalam jiwa mereka, bahwa menegakkan system dan syariat islam itu merupakan sebuah kewajiban.

6. Harus tersebut harus dilindungi ketika ia tenganh menapaki tahap-tahap langkahnya. Sehingga apabila harakah tersebut diserang dapat melawannya. Tapi, kekuatan tersebut tidak boleh menyerang atau menggunakan kekuatan untuk memaksakan system yang harus ditegakkan.

Ini beberapa manhaj harakah islamiyah yang harus ditempuh menurut beliau setelah melakukan evaluasi dan kajian mendalam terhadap ikhwanul muslimin. Semoga kita dapat mengambil perlajaran apa yang menimpa ikhwanul muslimin agar kita tidak terjurumus pada lubang yang sama.

Begitulah sekilas tentang Sayyid Quthb, yang telah menoreh perjalan hidupnya dengan perjuangan menegakkan kalimat Allah. Dialah yang telah menabur kembali fikrah jihadi di era modern ini. Dia pula yang telah menyemai pergerakan kebangkitan islam di zaman ini. Banyak karyanya yang telah menginpirasi kesadaran para aktivis dan menggoncang para thaghut di seluruh pelosok bumi. Sayyid Quthb.. begitu besar jasanya kepada umat ini. (Yazid).

Filed under: Profil Mujahid

PENDAPAT SALAF TENTANG BERHUKUM DENGAN QONUN WADL’IY

rezim kufur saudiPermasalahan berhukum dengan syari’at Allah adalah permasalahan yang sangat penting dalam masalah tauhid. Ia adalah inti tauhid uluhiyah. Dengannya para rasul diutus, wahyu diturunkan dan diberi beban dakwah yang sangat berat yaitu dakwah kepada tauhid uluhiyah. Karenanya para rasul dimusuhi dan berperang dengan musuh-musuhnya.

Akan tetapi hari ini ada segolongan muslim yang berusaha untuk mengkaburkan kewajiban berhukum pada syari’at Islam ini dari ummat. Mereka ber-hujjah dengan perkataan Ibnu ‘Abbas radliyalLaahu ‘anhuma dalam menafsirkan surat al-Maidah ayat 44 dengan tidak jujur. Padahal pendapat Ibnu Abbas dalam persoalan ini tidak mungkin dimaksudkan terhadap para penguasa hari ini yang menyingkirkan syariat Islam untuk menjadi hukum yang berlaku atas hamba-hamba Allah dan mereka menggantinya dengan hukum-hukum buatan manusia, mereka mewajibkan rakyat untuk tunduk dan berhukum dengannya. Sesungguhnya maksud dari perkataan beliau “ kufrun duna kufrin ” adalah seorang qadhi syar’iy atau amir muslim yang didorong oleh syahwat dan hawa nafsunya untuk menetapkan hukum di antara manusia dalam satu atau lebih kasus dengan selain hukum Allah, namun dalam hatinya ia masih mengakui bahwa dengan hal itu ia telah berbuat maksiat.

Kita dapatkan hari ini bahwa perbincangan seputar permasalahan-permasalahan ini menjadi ciri umum dari pembicaraan dalam majlis-majlis. Sekiranya persoalannya sekedar sekali atau dua kali majlis saja, barangkali dapat dipandang sebagai kekeliruan biasa. Namun ketika kita mendapati banyak majlis yang telah berbicara seputar permasalahan di atas dengan menuduh orang-orang yang tidak sependapat dengan mereka sebagai orang-orang bodoh dan tergesa-gesa, dengan ungkapan-ungkapan pedas dan kasar, padahal sesama muslim. Sebaliknya ungkapan yang sebanding tidak mereka tujukan kepada para penguasa sekuler yang merupakan faktor terbesar terjadinya bencana di tengah ummat ini dengan kejahatan mereka menjauhkan ummat ini dari kitab Rabbnya dan sunnah Nabi-Nya ShallalLaahu ‘alaihi wa Sallam, dan kejahatan mereka memaksa ummat ini untuk berjalan sesuai keinginan Barat yang kafir dan ridha dengan program-program Yahudi dan Nashrani.

Kita lihat di antara pengaruh ini, banyak pemuda-pemuda yang mengikuti pendapat tersebut, melihat para penguasa sekuler mustabdil [yang merubah syariat Allah] sebagai ulil amri [penguasa] syar’iy yang wajib kita dengar dan kita taati dan bahwa keluar dari ketaatan kepada mereka layaknya keluar dari penguasa-penguasa syar’iy ummat Islam masa awal dahulu. Sebaliknya, kita melihat mereka menilai saudara-saudara mereka yang memusuhi penguasa tadi layaknya Khawarij ahli bid’ah, tidak layak disikapi selain dengan celaan dan cercaan, bahkan barangkali sebagian berpendapat lebih jauh lagi dengan meminta penguasa memusuhi mereka dan lain sebagainya. Bahkan ada yang terang-terangan dan berani memastikan sebagai kilaab an-naar [maaf, anjing neraka].

Pendapat Ibnu ‘Abbas dalam menafsirkan surat Al-Maidah ayat 44
Dalam masalah ini ada beberapa atsar dari Ibnu Abbas mengenai surat Al Ma’idah ayat 44, sebagiannya memvonis kafir secara mutlaq atas orang yang berhukum dengan selain hukum Allah, sementara sebagian atsar lainnya tidak menyebutkan demikian. Karena itu, dalam menafsirkan ayat tersebut ada penjelasan rinci, antara lain :

1- Imam Waki’ meriwayatkan dalam Akhbar al-Qudhah I/41, ”menceritakan kepada kami Hasan bin Abi Rabi’ al-Jurjani, ia berkata, telah menceritakan kepada kami Abdu ar-Razaq dari Ma’mar dari Ibnu Thawus dari bapaknya ia berkata, ”Ibnu ‘Abbas telah ditanya mengenai firman Allah, ”Dan barang siapa tidak memutuskan perkara dengan hukum Allah maka mereka itulah orang-orang yang kafir. “
Beliau menjawab, ”Cukuplah hal itu menjadikannya kafir.”
Sanad atsar ini shahih sampai kepada Ibnu ‘Abbas, para perawinya adalah perawi Ash-Shahih selain gurunya Waki’, yaitu Hasan bin Abi Rabi’ al-Jurjani, ia adalah Ibnu Ja’d al-‘Abdi. Ibnu Abi Hatim mengatakan perihal dirinya, ”Aku telah mendengar darinya bersama ayahku, ia seorang shaduq [selalu bersikap jujur].” Ibnu Hiban menyebutkannya dalam Ats-Tsiqat. [Tahdzibu Tahdzib : I/515], dalam At-Taqrib I/505 Al-Hafidz mengomentarinya, ”Shaduq.”

2-. Memang benar, ada tambahan yang dinisbahkan kepada Ibnu ‘Abbas dalam riwayat yang lain, yaitu riwayat Ibnu Jarir Ath-Thabari [12053] Ibnu ‘Abbas berkata, ”Dengan hal itu ia telah kafir, dan bukan kafir kepada Allah, Malaikat, kitab-kitab dan rasul-rasul-Nya.”
Sanad atsar ini juga shahih, para perawinya adalah para perawi kutubu as-sitah selain Hanad dan Ibnu Waki’. Hanad adalah As-Sariy al-Hafidz al-Qudwah, para ulama meriwayatkan darinya kecuali imam Bukhari. [Tadzkiratul Hufadz : II/507]. Adapun Ibnu Waki’ adalah Sufyan bin waki’ bin Jarrah, Al Hafidz berkata dalam At Taqrib I/312, ”Ia seorang shaduq hanya saja ia mengambil hadits yang bukan riwayatnya, maka haditsnya dimasuki oleh hadits yang bukan ia riwayatkan. Ia telah dinasehati, namun ia tidak menerima nasehat tersebut sehingga gugurlah haditsnya.” Hanya saja ini tidak membahayakan, karena Hanad telah menguatkannya.

3- Al Hakim [II/313] telah meriwayatkan dari dari Thawus ia berkata, ”Ibnu Abbas berkata, ” Bukan kufur yang mereka [Khawarij] maksudkan. Ia bukanlah kekufuran yang mengeluarkan dari milah.
Maksudnya adalah Kufur duna kufrin.”
Al-Hakim mengatakan, ”Ini adalah hadits yang sanadnya shahih.” Atsar ini juga diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim sebagaimana disebutkan dalam tafsir Ibnu Katsir [II/62] dari Hisyam bin Hujair dari Thawus dari Ibnu ‘Abbas mengenai firman Allah, “Dan barang siapa tidak berhukum dengan hukum Allah maka mereka adalah orang-orang kafir.”
Beliau berkata,”Bukan kekufuran yang mereka maksudkan.”
Hisyam bin Hujair seorang perawi yang masih diperbincangkan. Ia dilemahkan oleh Imam Ahmad bin Hanbal dan Yahya bin Ma’in dan lain-lain. [Tahdzibu Tahdzib VI/25]. Ibnu ‘Ady menyebutkannya dalam Al Kamil fi Dhu’afai Rijal [VII/2569]. Demikian juga oleh Al ‘Uqaily dalam Al Dhu’afa al-Kabir [IV/238].

4- Ibnu Jarir [12063] meriwayatkan dari sanad Ali bin Abi Thalhah dari Ibnu Abbas, ia bekata, ”jika ia juhud [ingkar] terhadap apa yang diturunkan Allah maka ia telah kafir, dan barang siapa mengakuinya namun tidak berhukum dengannya maka ia adalah dholim dan fasiq.”
Sanad ini munqathi’ [terputus] karena Ali bin Abi Thalhah belum mendengar dari Ibnu Abbas sebagaiamana ia juga masih diperbincangkan. [Tahdzibu Tahdzib IV/213-2141].

Atsar Ibnu ‘Abbas bukanlah satu-satunya pendapat
Banyak orang yang menganggap atsar Ibnu Abbas sebagai satu-satunya pendapat salaf dan para ulama tafsir, bahkan pendapat seluruh firqah najiyah dalam masalah ini. Namun realita tidak seperti itu, karena telah nyata adanya perbedaan pendapat di antara ulama salaf dalam masalah ini. Sebagian di antara mereka membawanya kepada kekufuran akbar tanpa merincinya.

 Imam Ibnu Jarir telah meriwayatkan dalam tafsirnya [12061] : dari Al-Qamah dan Masruq bahwa keduanya bertanya kepada Ibnu Mas’ud tentang uang suap, maka beliau menjawab, ”Harta haram.” Keduanya bertanya, ”Bagaimana jika oleh penguasa?” Beliau menjawab, ”Itulah kekafiran.” Kemudian beliau membaca ayat ini:

” Dan barang siapa tidak memutuskan perkara dengan hukum Allah maka mereka itulah orang-orang yang kafir.”
Atsar ini sanadnya shahih sampai Ibnu Mas’ud, para perawinya tsiqah para perawi kutub as-sitah. [Tahdzibu Tahdzib VI/240,VI/41-42,III/497-498,II/380].

 Abu Ya’la dalam musnadnya [5266] meriwayatkan dari Masruq, ”Saya duduk di hadapan Abdullah Ibnu Mas’ud, tiba-tiba seorang laki-laki bertanya, ”Apakah harta haram itu ?” Beliau menjawab, ”Uang suap.” Laki-laki tersebut bertanya lagi, ”Bagaimana kalau dalam masalah hukum.” Beliau menjawab, ”Itu adalah kekufuran.” kemudian beliau membaca ayat:
”Dan barang siapa tidak memutuskan perkara dengan hukum Allah maka mereka itulah orang-orang yang kafir.”

Atsar ini juga diriwayatkan oleh Al-Baihaqi [X/139], Waki’ dalam Akhbar al-Qudhat I/52, dan disebutkan Al-Hafidz Ibnu Hajar dalam Al-Mathalibu Al-‘Aliyah II/250.

Ath-Thabrani dalam Al-Mu’jam Al-Kabir [IX/229 no. 9100] meriwayatkan dari Abul Ahwash dari Ibnu Mas’ud ia berkata, ”Uang suap dalam masalah hukum adalah kekufuran dan ia uang haram di antara manusia.” Al Haitsami dalam Majma’ [IV/199] berkata, ”Para perawinya perawi kitab ash-shahih.”

Waki’ dalam Akhbar al-Qudhat I/52 meriwayatkannya dengan lafal, ”Hadiah atas vonis [yang menguntungkan] adalah kekufuran, ia uang haram di antara kalian.”

Perbedaan pendapat ini juga dikuatkan oleh apa yang dikatakan oleh Ibnu al-Qayyim dalam Madariju As-Salikin I/336-337, di mana beliau mengatakan, ”Ibnu Abbas berkata, ”Bukanlah kekafiran yang mengeluarkan dari milah, tapi jika ia mengerjakannya berarti telah kafir namun bukan seperti orang yang kafir kepada Allah dan hari akhir.” Demikian juga pendapat Thawus…Ada yang mentakwil ayat ini kepada makna para penguasa yang meninggalkan berhukum dengan hukum Allah karena juhud [mengingkari]. Ini adalah pendapat Ikrimah, dan pendapat ini lemah karena mengingkari itu sendiri merupakan kekafiran baik ia sudah berhukum maupun belum. Ada juga yang mentakwilnya dengan makna meninggalkan berhukum dengan seluruh kandungan kitabullah…ada juga yang mentakwilnya dengan berhukum dengan hukum yang bertentangan dengan nash-nash secara sengaja, bukan karena salah dalam mentakwil. Ini disebutkan oleh Imam al-Baghawi dari para ulama secara umum. Ada juga yang mentakwilnya bahwa ayat ini untuk ahlul kitab…sebagian lainnya membawa makna ayat ini kepada kekafiran yang mengeluarkan dari milah.”

Pendapat yang dinukil oleh Ibnu al-Qayyim ini secara tegas menerangkan bahwa pendapat Ibnu Abbas yang dijadikan patokan sebagai pendapat bukanlah satu-satunya pendapat dalam masalah ini. Sebagian salaf ada yang membawa kekafiran dalam ayat ini kepada makna kafir yang mengeluarkan dari milah, sementara sebagian lainnya tidak demikian.

Dengan ini semua, kalau ada yang berpendapat bahwa setiap orang yang berhukum dengan selain hukum Allah telah kafir dengan kafir akbar yang mengeluarkan dari millah, maka ia telah mengikuti ulama salaf yang lebih dulu mengatakan hal itu. WalLaahu A’lam. [Amru, dari waqofatu ma’a Syaikh al Bani, Abu Isro’ As Suyuthi dengan perubahan].

Filed under: Aqidah

AT THOIFAH AL MANSURAH DARI ZAMAN KEZAMAN

afghaniAkan senantiasa ada sekelompok umatku yang menang di atas kebenaran…sampai datangnya keputusan Allah Ta’ala.

Thoifah al mansurah adalah sekelompok manusia yang terasing. Dari merekalah din ini akan tetap terjaga. Keasingan mereka bukanlah seperti orang-orang sufi yang menjauh dari manusia dan menyepi di gua-gua. Yang membiarkan kekuasaan toghud, orang-orang musyrik dan kafir merusak bumi dengan kesyirikan. Akan tetapi keasingan mereka karena berjihad di jalan Allah pada saat ummat islam cenderung terhadap kehidupan dunia. Mereka mengetahui bahwa keasingan adalah kemuliaan bagi mereka dan yang menjadikan tinggi derajad mereka. Tidaklah mereka takut terhadap kekuatan toghut walaupun mereka kecil. Dan tidaklah mereka gentar terhadap orang-orang yang menyelisinya walaupun mereka banyak. Allah  akan bersama mereka. Jika Allah sudah bersama mereka maka siapakah yang akan melawannya ?

Ciri thoifah al mansurah adalah jihad
Kebanyakan dari ulama salaf, seperti imam Ali bin Madini, Al Bukhari dan Ahmad, menyatakan bahwa thaifah manshurah adalah ashabul hadits. Namun ada sebuah kesulitan dalam pemahaman ketika mendapatkan hadits-hadits tentang thaifah manshurah menyebutkan salah satu sifat utama thaifah manshurah adalah jihad fi sabilillah, sebagaimana diriwayatkan oleh shahabat Jabir bin Abdullah, Imran bin Hushain, Mu’awiyah bin Abi Sufyan dan Uqbah bin Amir rhadiyallahu anhum. Bahkan sebab disabdakannya hadits tentang thaifah manshurah adalah untuk menunjukkan tetap berlangsungnya jihad sampai hari kiamat dan bahwa Islam akan menang melalui jihad ;

عَنْ سَلَمَةَ بْنِ نُفَيْلٍ الكِنْدِي، قَالَ: كُنْتُ جَالِساً عِنْدَ رَسُوْلِ اللهِ ، فَقَالَ رَجُلٌ: يَا رَسُوْلَ اللهِ، أَذَالَ النَّاسُ الْخَيْلَ، وَوَضَعُوا السِّلاَحَ، وَقَالُوا: لاَ جِهَادَ، قَدْ وَضَعَتِ الْحَرْبُ أَوْزَارَهَا ! فَأَقْبَلَ رَسُولُ اللهِ  بِوَجْهِهِ وَقَالَ : كَذَبُوا! اَلْآنَ، اَلْآنَ جَاءَ اْلقِتَالُ، وَلاَ يَزَالُ مِنْ أُمَّتِي أُمَّةٌ يُقَاتِلُوْنَ عَلىَ الْحَقِّ، وَيُزِيْغُ اللهُ لَهُمْ قُلُوْبَ أَقْوَامٍ وَيَرْزُقُهُمْ مِنْهُمْ، حَتَّى تَقُوْمَ السَّاعَةُ، وَحَتَّى يَأْتِيَ وَعْدُ اللهِ، وَالْخَيْلُ مَعْقُودٌ فِي نَوَاصِيهَا الْخَيْرُ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ
Dari Salamah bin Nufail Al Kindi ia berkata,’ Saya duduk di sisi Nabi, maka seorang laki-laki berkata,” Ya Rasulullah, manusia telah meninggalkan kuda perang dan menaruh senjata. Mereka mengatakan,” Tidak ada jihad lagi, perang telah selesai.” Maka Rasulullah menghadapkan wajahnya dan besabda,” Mereka berdusta !!! Sekarang, sekarang, perang telah tiba. Akan senantiasa ada dari umatku, umat yang berperang di atas kebenaran. Allah menyesatkan hati-hati sebagian manusia dan memberi rizki umat tersebut dari hamba-hambanya yang tersesat (ghanimah). Begitulah sampai tegaknya kiyamat, dan sampai datangya janji Allah. Kebaikan senantiasa tertambat dalam ubun-ubun kuda perang sampai hari kiamat.” (HR. Muslim.)

Maka, thaifah manshurah adalah kelompok ilmu dan jihad : kelompok yang berada di atas manhaj salafu sholih, berdasar ilmu yang shahih dan menegakkan Islam dengan jalan jihad fi sabilillah.

Oleh karena itu, setelah menyebutkan pendapat imam Bukhari dan Ahmad yang menyatakan bahwa thaifah manshurah adalah ashabu hadits, imam An Nawawi berkata :
“ Boleh jadi thaifah manshurah ini tersebar di antara banyak golongan kaum muskmin ; di antara mereka ada para pemberani yang berperang, para fuqaha’, para ahli hadits, orang-orang yang zuhud, orang-orang yang beramar makruf nahi mungkar, dan juga para pelaku kebaikan lainnya dari kalangan kaum mukin. Mereka tidak harus berkumpul di satu daerah, namun bisa saja mereka berpencar di penjuru dunia.”( Syarhu Shahih Muslim 13/67.)
Demikian juga imam Syaikhul Islam imam Ibnu Taimiyah, beliau menyatakan kelompok yang paling berhak mendapat sebutan thaifah manshurah adalah kelompok yang berjihad. Ketika berbicara tentang umat Islam di Syam dan Mesir yang berjihad melawan tentara Tartar yang beragam Islam namun berhukum dengan hukum Ilyasiq (hukum positif rancangan Jengish Khan), beliau berkata :

“ Adapun kelompok umat Islam di Syam, Mesir dan wilayah lain yang saat ini berperang demi membela Islam, mereka adalah manusia yang paling berhak masuk dalam golongan thaifah manshurah yang disebutkan oleh Rasulullah dalam hadits-hadits shahih yang sangat terkenal…”( Majmu’ Fatawa 28/531.)

Maka tak diragukan lagi, para ulama yang berjihad adalah kelompok muslim yang paling berhak disebut sebagai thaifah manshurah. Bahkan syaikhul Islam imam Ibnu Taimiyah menyatakan, kelompok umat Islam —sekalipun mereka adalah para ulama besar— yang tidak berjihad ketika jihad telah menjadi fardhu ‘ain adalah kelompok penggembos (thaifah mukhadzilah), bukan thaifah manshurah. Pada tahun 699 H tentara Tartar yang beragama Islam namun berhukum dengan hukum Ilyasiq, bergerak akan menyerang kota Halb (Syiria), pasukan Islam dari Mesir mundur sehingga hanya tersisa pasukan Islam Syam yang akan berjihad melawan Tartar. Saat itu beliau menulis surat kepada kaum muslimin dan menyatakan bahwa umat Islam terpecah menjadi tiga kelompok ;

فَهِذِهِ الْفِتْنَةُ قَدْ تَفَرَّقَ النَّاسُ فِيْهَا ثَلاَثَ فِرَقٍ :
اَلطَّائِفَةُ الْمَنْصُوْرَةُ وَهُمُ الْمُجَاهِدُوْنَ لِهَؤُلاَءِ اْلقَوْمِ الْمُفْسِدِيْنَ.
وَ الطَّائِفَةُ الْمُخَالِفَةُ وَهُمْ هَؤُلاَءِ الْقَوْمُ وَمَنْ تَحَيَّزَ إِلَيْهِمْ مِنْ خَبَالَةِ الْمُنْتَسِبِيْنَ إِلَى اْلإِسْلاَمِ
وَ الطَّائِفَةُ الْمُخَذِّلَةُ وَهُمُ الْقَاعِدُوْنَ عَنْ جِهَادِهِمْ وَ إِنْ كَانُوا صَحِيْحِي اْلإِسْلاَمِ.
فَلْيَنْظُرِ الرَّجُلُ أَيَكُونُ مِنَ الطَّائِفَةِ الْمَنْصُورَةِ أَمْ مِنَ الْخَاذِلَةِ أَمْ مِنَ الْمُخَالِفَةِ, فَمَا بَقِيَ قِسْمٌ رَابِعٌ.
“ Dalam menghadapi fitnah ini, manusia telah terpecah menjadi tiga kelompok :
Thaifah Manshurah ; yaitu kaum mukmin yang berjihad melawan kaum yang merusak (tartar).
Thaifah mukhalifah (kelompok musuh) ; yaitu kaum perusak (tartar) dan “sampah-sampah” kaum muslimin yang bergabung (memihak) kepada mereka.
Thaifah mukhadzilah : yaitu umat Islam yang tidak berjihad melawan mereka,s sekalipun keislaman mereka benar.
Maka hendaklah setiap orang melihat, termasuk kelompok manakah dirinya ; Thaifah Manshurah, Thaifah mukhadzilah ataukah Thaifah mukhalifah, karena tidak ada kelompok keempat !!!?”( Majmu’ Fatawa 26/416-417.)

Sebab thoifah al mansurah dinamai ashabul hadist
Yang mendorong para ulama salaf menyatakan bahwa thaifah manshurah adalah para ulama (terutama lagi ulama hadist) adalah kondisi zaman mereka, ketika itu semua orang sudah memahami jihad, jihad yang saat itu hukumnya fardhu kifayah telah tertangani dengan baik. Para khalifah setiap tahun mengirim pasukan jihad ke negara-negara kafir demi mendakwahkan Islam. Daerah-daerah perbatasan juga telah dipenuhi dengan kaum muslimin yang melaksanakan ribath. Problem terbesar justru adanya berbagai kelompok sesat dan bid’ah. Maka yang terlihat paling besar peranannya dalam menghadapi kelompok sesat dan bid’ah tersebut adalah para ulama. Adapun hari ini, ketika jihad telah menjadi fardhu ‘ain, jihad terbengkalai dan berbagai kelompok sesat / bid’ah semakin merajalela ; maka baik ulama maupun mujahidin dituntut untuk bekerja secara serius menangani bidang garap yang menjadi tanggung jawabnya. Maka tak diragukan lagi kelompok ulama yang berjihad adalah barisan terdepan thaifah manshurah. Maka boleh dikatakan bahwa thaifah manshurah adalah thaifah yang berjihad di atas manhaj salafu sholih, manhaj ahlu sunah wal jama’ah.
Thoifah al mansurah dan jihad mereka

Hari ini ada beberapa syubhat yang disebarkan pada umat islam, bahwa tidak boleh berjihad sampai tegaknya khilafah. Padahal ini adalah termasuk dasar-dasar pemahaman syi’ah. Yang lebih ajaib lagi yaitu memasukkan prinsip ini pada prinsip-prinsip ahlussunnah. Bukankah rasulullah  telah bersabda :
لَنْ يَبْرَحَ هَذَا الدِّيْنُ قَائِماً يُقَاتِلُ عَلَيْهِ عِصَابَةٌ مِنْ الْمُسْلِمِيْنَ حَتَّى تَقُوْمَ السَّاعَةُ
“ Dien ini akan senantiasa tegak, sekelompok umat Islam berperang di atas dien ini sampai tegaknya hari kiamat.” (HR. Muslim)
Maka tugas thoifah al mansurah hari ini adalah menegakkan jihad kepada orang-orang kafir yang menolak syari’at islam. [ amru ].

Filed under: Aqidah

JIHAD YANG TAK KITA INGINKAN

Syeikh Abu Basher semoga Allah bebaskan dari tawanan musuh, menasehati:

1. Kami tidak menghendaki jihad yang timbul akibat kebosanan, tidak sabar atas kenyataan maka dia mencari kematian untuk beristirahat lari dari kebosanan.

2. Kami tidak menghendaki jihad karena hawa nafsu sesaat supaya dikatakan si fulan telah berjihad di sini dan disini, namun apabila nafsu itu lenyap, selesailah semua amal jihad itu tak bersisa.

3.Kami tidak menghendaki jihad karena ketergesa-gesaan, memanen buah sebelum waktunya matang. Barangsiapa tergesa-gesa dalam suatu amalan sebelum waktunya, diharamkan memperolehnya. Perkara jihad sesuatu yang agung tidak ada yang dapat teguh padanya kecuali seseorang yang sabar menanti.

4. Kami tidak menhendaki jihad karena alasan melarikan diri dari situasai sulit yang sedang dihadadapinya atau lari dari tugas mengemban suatu amanat ummat.

5. Kami tidak menghendaki jihad yang tidak menimbang maslahat dan mafasid (kerusakan), yang tidak menimbang mana prioritas dan mana yang harus diakhirkan. Tidak peduli pada perkara-perkara syari dan pemikiran matang.

6. Kami tidak menghendaki jihad yang pasukannya menuju medan perang sebelum melalui batasan minimum i’dad (persiapan), lalu mudahlah dikalahkan oleh musuh.

7. Kami tidak menghendaki jihad demi kemaslahatan thaghut lalim. Apabila mereka mengijinkan beragkatlah pasukan itu dan jika mereka tak mengijinkan mereka pun mematuhi.

8. Kami tidak memginginkan jihad yang anggotanya terdiri dari para thaghut dan thaghut, maka berloyalitas pada thaghut dan bermusuhan dengan thaghut.

9. Kami tidak menghendaki jihad untuk melengserkan kekuasaan thaghut agar digantikan dengan taghut lain, kekufuran dengan kekufuran bentuk lain, sistem negara yang rusak dengan sistem negara yang rusak lain.

10. Kami tidak menghendaki jihad hanya untuk meraih puncak cita-cita tertinggi mati syahid lalu tidak peduli dengan kelangsungan perjuangan selanjutnya, tidak peduli pada fase-fase pembangunan pondasi dan bangunan Islam serta peraihan tujuan.

11. Kami tidak menghendaki jihad yang buahnya dipetik oleh thaghut zalim, seakan-akan kita dijadikan tameng dan kematian sedang mereka dengan konspirasi yang mereka susun memetik buahnya. Tujuan serta planing mereka tercapai sedang taktik mujahidin hancur lebur.

Inilah macam-macam jihad yang tidak kami inginkan, tidak kami seru dan tidak pula kami dukung.

Filed under: Manhaj

HUKUM MEMINTA PERTOLONGAN PADA ORANG KAFIR

images7Kami hanya meminta bantuan kepada tetangga kita orang nasrani, ketika rumah kita terbakar. Apakah hal seperti ini tidak diperbolehkan ?

Sesungguhnya bencana hebat dan petaka total yang menimpa Islam dan pemeluknya akibat mengundang tentara Kristen – Amerika dan Eropa – ke Jazirah Arab dalam Perang Teluk dengan jangka waktu yang tak terbatas, menjadi sebuah tragedi yang belum pernah terperikan pahitnya sepanjang sejarah kawasan ini, tidak di masa jahiliyyah maupun di masa Islam.
buruk dari tragedi ini mengguncangkan kekukuhan umat, sekaligus menempatkan para ulama di dalam sebuah ujian yang cukup pelik. Dalam menyikapinya, ulama terbagi dalam dua kelompok besar :

Kelompok pertama berpendapat bahwa sejumlah besar pasukan Kristen baik dari angkatan udara, angkatan darat maupun angkatan lautnya, – yang tersebar di seluruh penjuru negeri dari belahan timur sampai belahan barat – yang berdatangan ke negara Arab itu termasuk bab isti’anah (meminta bantuan) untuk melawan Irak dan Partai Ba’ats nya yang telah tersingkap kekafirannya sesudah serangannya atas Kuwait!! Bahwa sesungguhnya keberadaan kekuatan ini hanyalah sementara dan temporer, tidak akan sampai berbulan-bulan. Mereka akan segera berkemas dan kembali ke negeri mereka.

Sedangkan kelompok yang kedua berpendapat bahwa apa yang terjadi ini merupakan hasil dari rencana jangka panjang yang sudah diprogramkan sejak dulu. Rencana itu disusun dengan asumsi bahwa Irak akan menganeksasi Kuwait. Peristiwa itu menjadi pintu (akses) bagi masuknya kekuatan militer Barat untuk menjajah kawasan tersebut, sekaligus untuk menancapkan kuku kekuasaannya atas sumber-sumber minyak terbesar dunia. Dengan posisi yang sangat strategis di kawasan Teluk memungkinkan mereka untuk merealisasikan impian mereka dan ketamakan mereka secara historis terhadap kawasan ini.
Sesudah lewat sepuluh tahun dari kejadian itu, sekarang tampaklah tujuan busuk dari kekuatan militer ini. Tiada seorang pun yang mengalami kesulitan untuk mengetahui manakah di antara kedua kelompok di atas yang benar pendapatnya.

Masalahnya tidak sederhana
Yang membuat kita bersedih, masalah ini dipahami hanya dari konteks perselisihan fiqih, yang sangat jauh dari realita di lapangan. Yaitu perbedaan pendapat antara syaikh fulan dengan syaikh yang lain. Dan melupakan musibah yang terjadi dibalik peristiwa tersebut serta enggan untuk menyatukan pendapat.

Syaikh DR. Safar Al-Hawali di dalam risalahnya wa’du kisingger melontarkan pertanyaan-pertanyaan yang lebih bermuatan sebagai jawaban dari sekadar paparan persoalan. Beberapa pertanyaan di antaranya adalah :
1. Apakah termasuk bentuk isti’anah, menjadikan pemimpin pasukan koalisi itu – yakni Bush – sebagai orang yang berwenang memerintah dan melarang dalam persoalan ini, baik di waktu damai maupun di masa perang. Dimana jika mau dia bisa ikut turun ke medan tempur – dengan keridhaan si pemilik persoalan – yakni keluarga kerajaan. Demikian pula dengan para penguasa kawasan ini – seringkali mereka harus menerima butir perjanjian secara mutlak dengan ditekan lebih dahulu.

2. Bagaimana kita bisa menyepakati batasan keadaan darurat pada waktu dan tempat tertentu, apa dan bagaimana, di antara realita yang ada? Dari segi waktu tidak ada batasan yang definitif, tidak ada yang membatasinya selain mereka. Orang banyak telah mengetahui bahwa Amerika mempekerjakan penduduk setempat dengan janji-janji jangka panjang, ini mengiringi statemen mereka bahwa sesungguhnya perang telah berkecamuk hebat.

Dilihat dari segi lokasi, apakah mereka membiarkan satu bandara atau pangkalan militer tanpa memeriksanya? Dari sisi kuantitas, semua orang tahu bahwa jumlah mereka semakin hari semakin bertambah banyak, sehingga jumlah tentara Amerika saja mencapai lebih dari 400.000 personel!

Dilihat dari segi kondisional, mereka menjadi pembuat keputusan, kendali keadaan ada di tangan mereka, kita tak bisa bertanya kepada mereka bagaimana atau mengapa. Bahkan kita tidak tahu apakah mereka mau membantu pasukan Arab, dalam menghadapi kemelut yang lainnya, ataukah tidak?

3. Apakah termasuk bentuk isti’anah, menjadikan tentara muslim nyaris tak bersenjata sedangkan tentara kafir yang dimintai bantuan itu menyandang senjata lengkap dan moderen, sejak dari kepala sampai ke telapak kakinya, lantas menembakkan timah putih dari moncong senapannya terhadap setiap muslim yang masuk dan keluar daerah itu ?

4. Apakah termasuk bentuk isti’anah membiarkan pasukan yang dimintai bantuan itu bermukim di negeri yang meminta bantuan, lalu menetapkan hukum sendiri untuk mengontrol produksi minyak dan sejenisnya, membangun pangkalan militer di dalam wilayah teritorial negara lain. Kelakuan mereka itu seolah bertutur, ‘Kami hanya akan merampas minyak dari pemiliknya! Kami tidak mempedulikan negeri ini kecuali karena adanya minyak!

5. Apakah masuk akal jika dikatakan bahwa keadaan kita saat berhadapan dengan Saddam adalah lebih lemah daripada keadaan saudara-saudara kita mujahidin Afghanistan yang berhadapan dengan Rusia, padahal kita adalah negara-negara terkemuka di dunia, rakyat kita seolah menjadi tambang keberanian di dunia, dan tanah air kita adalah benua?

Padahal Saddam belum menyerang kita, bahkan mungkin saja dia belum memikirkan hal itu sama sekali. Sedangkan Rusia telah menguasai negeri Afghanistan secara de jure. Mereka menyerang dengan mengerahkan mesin-mesin penghancur standar internasional dengan berbagai macam bentuknya – walau tanpa menyertakan senjata nuklir – kelakuan mereka sudah diketahui seluruh dunia; sampai kepada pertanyaan-pertanyaan yang lain yang berkaitan dengan hal ini.

Dari uraian di atas, kita dapat menyimpulkan beberapa poin penting berikut ini, yaitu :
1. Bahwasanya Amerika telah menjajah negeri Saudi dengan bantuan penguasa yang telah keluar dari tuntunan syariat Allah . . . mereka telah menjadikan Yahudi dan Nasrani sebagai teman dekatnya.

2. Bahwasanya jihad sudah menjadi fardhu ‘ain bagi setiap muslimin, khususnya bagi penduduk Jazirah Arab.

3. Apabila hukum jihad telah jelas, maka I’dad (persiapan jihad) pun harus dilakukan. Pintu untuk melakukan I’dad terbuka lebar-lebar. Menganggap remeh hal itu merupakan dosa besar.

4. Saudara-saudara kalian kaum muhajirin telah menjadi pelopor di dalam I’dad ini, susullah mereka dan bantulah mereka dengan tangan, lisan, harta dan doa.

5. Wajib bagi ulama mujahidin yang jujur untuk menyusul mujahidin dan muhajirin, menyatukan kekuatan dengan mereka untuk berjihad melawan kaum kuffar yang menjajah negeri kita, termasuk melawan sekutu mereka yang membukakan negeri ini untuk mereka.

Referensi :
1. Wa’du kessengger, Dr, Safar Hawali
2. Al-Qaul al-Mukhtar Fi Hukmi al-Isti’anah bi al-Kuffar, Syaikh Hamud bin ‘Uqola’ asy-Syu’aibi.

Filed under: Aqidah, Uncategorized

SADAR PERMUSUHAN

images6Judul analisa kita edisi ini mungkin dianggap provokatif. Tetapi tidak, yang sedang kita bahas adalah masalah tabi’at kehidupan. Jika dikatakan tabi’at, berarti sesuatu yang sudah bersifat bawaan dan cenderung tetap tidak berubah.

Tabi’at kehidupan yang tidak berubah, adanya pasangan-pasangan yang bersifat contras combine [pasangan yang berlawanan] ; siang-malam, senang-susah, panas-dingin, benar-salah, haqq-bathil dll. Pasangan contras combine ini bersifat tetap, tidak berubah, karena mengikuti tabi’at kehidupan yang telah ditetapkan-Nya.

Kebenaran Islam.
Dien al-Islam, agama yang dibawa oleh RasululLah shallalLahu ‘alayhi wa sallam sebagai Rasul terakhir, bukan risalah yang terpisah dari risalah yang dibawa oleh para Nabi sebelumnya. Risalah itu merupakan bentuk terakhir yang telah mencapai puncak kematangan dan kesempurnaannya. Klaim ini tentu akan dianggap sebagai klaim subyektif oleh para penganut adyaan [agama-agama yang lain], dan dianggap mau menang sendiri. Tetapi bukankah mereka juga melakukan hal yang sama dalam soal klaim tersebut. Bagi muslimin, jika dikatakan sikap itu sebagai klaim subyektif, katakan saja, “Rabb kami mengajari kami untuk bersikap subyektif, seperti Dia berlaku subyektif tatkala berfirman, ‘Inna ad-Diina ‘indalLaahi al-Islaam’ [sesungguhnya dien di sisi Allah adalah Islam]. Kami hanya mengikuti subyektivitas Allah saja”.
Jika klaim ini dipersoalkan, boleh saja dilakukan uji materiil terhadap otentisitas sumber ajaran, penelitian kesejarahan atas ajaran-ajaran agama yang kalian yakini dan yang kami yakini. Jika kalian meyakini kebenaran yang kami yakini bahwa kebenaran versi kalian itu salah dan telah mengalami campur tangan manusia, lalu mengapa kami tidak boleh meyakini kebenaran yang menurut kami benar, sekalipun menurut kalian itu salah? Jika demikian, kalian tidak adil. Padahal kami telah mengajukan cara untuk menguji kebenaran itu sehingga terbukti mana yang sungguh-sungguh benar [dalam arti otentik] dan penelitian kesejarahan atas siapa yang berada di atas jalan kebenaran.

Komitment Kita Kepada Kebenaran Islam.
Dalam keadaan Islam dan ummat-nya menang, kuat dan dikawal dengan kekuatan senjata, komitment terhadap kebenaran Islam bagi para pemimpin lebih mudah dan ringan untuk dikerjakan. Tetapi di saat Islam dan ummatnya lemah, di bawah dominasi kekuatan lain yang dapat memaksakan kehendaknya, komitment kepada Islam terasa berat dan banyak yang tidak sanggup melakukannya dengan terang-terangan.

Dekade ini, dan entah sampai kapan, kita menyaksikan AS dengan jumawa mendemonstrasikan kekuasaan dan pengaruhnya di seluruh dunia termasuk dunia Islam. Kekuasaan dan pengaruh itu baik dalam bidang informasi, teknologi, politik, budaya sampai militer. Negara-negara dunia ketiga berada di bawah pengaruh ini sekalipun dengan kadar yang berbeda-beda.
Yang paling dirasakan pengaruhnya, dan juga paling dikhawatirkan akibatnya akan luas dan sulit dikendalikan adalah pengaruh di bidang ekonomi. Investasi ekonomi bagi pemerintahan negara berkembang oleh para pengusaha dari negara ekonomi maju dipandang segalanya. Karenanya, demi investasi ini segala yang dianggap mengganggu pasti diretas dan dihancurkan ; kendala peraturan yang mengganggu iklim investasi, potensi gangguan keamanan dll semua dibersihkan.

Dalam bursa pencalonan presiden misalnya, para kandidat calon yang dianggap populer dan memiliki kans besar didukung publik rakyat, sementara pribadi kandidat tersebut dianggap mempunyai komitment yang kuat kepada Islam, AS mematok target, komitment kepada Islam harus dikontrol dan dipastikan aman, atau kalau tidak harus digagalkan. AS dan sekutu-sekutunya mempunyai skenario berlapis untuk memastikan tokoh yang muncul di negara-negara Islam harus tokoh yang jinak, tidak membawa agenda fundamentalis, menegakkan syari’at Islam memusuhi thaghut.

Uniknya, tokoh-tokoh Islam, jika ditanya apakah jika nanti menang dalam pemilihan umum akan membawa agenda untuk amandemen UUD dan menggantinya dengan syari’at Islam? Apakah nanti jika menang akan menjadikan Indonesia sebagai daulah Islamiyah? Terhadap pertanyaan-pertanyaan verbal seperti ini para kandidat presiden itu dengan tergopoh-gopoh menyatakan tidak, tidak ada agenda untuk menggolkan syari’at Islam. Ada lagi yang karena tergopoh-gopohnya, sampai mengatakan tidak ada istilah daulah Islamiyah dalam al-Qur-aan. Walaupun pernyataan tidak ada istilah daulah Islamiyah di dalam Al-Qur-aan itu benar, tetapi statement itu, merupakan pernyataan ketakutan yang oleh masyarakat Islam awam, dipandang sebagai kebenaran bahwa tidak adanya istilah daulah Islamiyah dalam Islam.

Suatu ketika, serombongan du’aat datang bertamu kepada kandidat yang gagal menjadi presiden itu. Kunjungan itu masih dekat waktunya dengan statement-nya soal yang disebut di atas, dan memang salah satu kepentingannya untuk melakukan konfirmasi terhadap statement-nya yang kontroversial. Di pintu rumahnya, sebelum mempersilahkan rombongan tamu masuk, dia bilang dengan tergopoh-gopoh, “Jika saudara-saudara membelah dada saya ini, saudara-saudara pasti akan mendapati di dalam dada saya tertulis ‘saya cinta daulah Islamiyah’”.

AS menerapkan standard yang jelas dalam sikap permusuhannya kepada Islam. Standard yang jelas itu, telah diturunkan dalam bentuk pertanyaan-pertanyaan teknis dan syarath-syarath untuk menguji apakah benar-benar mereka sedang berhubungan dengan pihak-pihak yang ke-Islam-annya tidak lagi membahayakan kepentingan AS. Sikap ini merupakan permusuhan yang jelas, taktis dan dingin, serta tanpa basa-basi.

Kejujuran dan Sadar Permusuhan.
Komitment kepada Islam memerlukan sikap shidq [jujur]. Pribadi para penegak Islam dan lembaga-lembaga yang diadakan untuk tujuan Islam, disyaratkan mesti memiliki sikap shidqu. Sikap ini akan terpancar dalam setiap statement dan ayunan langkah yang dilakukan. Selain itu, juga harus sadar permusuhan ; siapa kawan yang sesungguhnya dan lawan yang sesungguhnya tidak boleh kabur dan rancu. Dua syarat ini jika dijamin adanya pada pribadi dan lembaga perjuangan akan menumbuhkan tsiqqoh [sikap saling mempercayai] dan rasa aman dari kemungkinan pengkhianatan oleh kawan.

Dinamika perjuangan meniscayakan adanya ujian baik maupun buruk. Musuh mungkin menerapkan strategi penekanan, tetapi mungkin juga dengan menggunakan politik uang untuk menciptakan efek perpecahan, devide et impera. Terkadang dalam waktu yang sama sekelompok ummat Islam didekati, sementara sekelompok yang lain ditekan keras bak membelah bambu, yang sebagian diangkat tinggi sedang yang lain diinjak keras. Di saat-saat seperti itu, jika kedewasaan sikap itu belum dimiliki, kepercayaan antar pribadi maupun antar kelompok ummat Islam berada pada titik kritis.

Dalam masalah ini, perkataan Ibnu Taimiyah merupakan referensi yang matang dan dewasa : “Terhadap orang mu’min wajib atas kalian untuk memberikan perwalian kepadanya meskipun dia bertindak aniaya dan melampaui batas, sedang terhadap orang kafir kalian harus tetap sadar permusuhan sekalipun dia memberimu dan berbuat baik kepadamu”. Beliau selalu mendahulukan sikap tsiqqoh kepada sesama mu’min sekalipun hubungan sedang diuji dengan hal-hal yang tidak mengenakkan, sedang terhadap orang kafir beliau mengajarkan untuk selalu sadar permusuhan.

Mengapa Musuh Islam Selalu Berselubung?
Mengapa kita perlu memasang radar kuat untuk mendeteksi sikap musuh-musuh dari kalangan orang-orang kafir? Kita perlu sejenak membuka lembaran-lembaran sejarah untuk mengambil i’tibar dari padanya.

Dahulu di zaman abad pertengahan, orang-orang Nashrani di bawah para pemimpin mereka, dalam melancarkan perang terhadap Islam, mereka tampil elegant dan terbuka. Kaisar Armanus dari Bizantium, pernah menggerakkan hampir sejuta tentara untuk menghancurkan Kerajaan Saljuk di bawah Sultan Alib Arsalan. Pasukan Islam ketika itu hanya 20.000 tentara. Para Paus di Vatikan dan Ksatria perang Eropa mengerakkan Perang Salib dengan simbol-simbol keagamaan yang kental dan menyolok, dan secara terang-terangan mengatasnamakan agama dan tuhan mereka, salib besar mereka bawa selalu dan setiap pasukan mengenakan simbol itu. Ummat Islam lebih mudah menghadapi, sumber spirit perlawanannya juga lebih bersih dan lebih mudah menggerakkan muslimin dengannya.

Pengalaman pahit di abad itu, menjadikan barat [sebagai pewaris spirit Salib] menerapkan strategi berbeda. Mereka menyembunyikan spirit agama dalam kemasan bungkus yang menyamarkan spirit keagamaan itu. Mengapa? Mereka tidak ingin membangunkan spirit keagamaan ummat Islam yang sedang tertidur dan mengambil keuntungan momentum kemenangan selama belum sadarnya ummat Islam bahwa hakekat peperangan tidak berubah. Mereka sadar, jika mereka gagal menyembunyikan spirit itu, mereka pasti kalah. Sebab jika ummat Islam telah berangkat dari spirit keIslamannya tak mungkin dapat dikalahkan, ratusan tahun mereka telah merasakannya. Ideolog mereka menamakan perang yang dilancarkan oleh Usamah bin Laden dan jaringan Al-Qaedah sebagai UnHoly War [Bukan Perang Suci]. Bahkan edisi Indonesianya, lebih sarkastis ‘Teror Atas Nama Islam’. [‘Izzu]

Filed under: 'Adawah

PANDANGAN MURJI’AH DALAM HAL IMAN

Perbedaan yang mencolok antara ahlussunnah dgn murji’ah serta kelompok-kelompok sesat lainnya adalah dalam permasalahan iman. Dan tidak ada kesalahan yang lebih besar dalam urusan ad dien ini seperti salah dalam masalah iman. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata: “Sesungguhnya salah dalam ismul iman tidak seperti salah dalam ismul muhdats.” (lihat Majmi’ Fatawa 7/395, 12/468, 13/58, dan Ibnu Rajab Al Hambali rahimahullah mengatakan hampir serupa dengan ucapan Syaikhul Islam buka Jami’ul Ulum wal Hikam, hal 27)
Banyak orang yang tidak memahami iman sebagaimana yang dipahami ahlus sunnah, dan tidak juga memahami iman menurut firaq atau golongan-golongan yang menyelisihi ahlus sunnah, seperti khawarij, murji’ah fuqaha, ghulat murji’ah termasuk jahmiyyah dan ghulatnya dengan pemahaman ahlus sunnah. akhirnya jadi mazhab kombinasi yang tidak tentu haknya dan membingungkan mereka sendiri. Dan hasil dari campur aduknya pemahaman itu mereka memegangi i’tiqad atau prinsip yang jauh lebih sesat dari sesatnya jahmiyyah dan ghulat murji’ah al awail dalam memahami iman, yang mana mereka berpendapat bahwa: “Al kufr bil amal (kufur dengan amalan ucapan maupun perbuatan) adalah merupakan al kufrul amali (kufrun dunna kufrin atau kufur asghar), adapun kufur akbar adalah kufur i’tiqadi.

Dengan prinsip sesat ini maka mereka tidak mengkafirkan para pelaku dosa-dosa mukaffirah dan tidak menghukumi mereka baik secara lahir maupun batin sebagai orang yang telah kafir dan murtad, selama mereka tidak mendapat bukti bahwa orang tersebut telah kufur secara i’tiqadi. Sedangkan untuk mengetahui yang ada dalam batin musykil sebab ghaib, hanya Allah Ta’ala yang mengetahui kemudian pelaku itu sendiri. Sedangkan belum tentu ada satu dari sejuta orang, yang mau mengatakan bahwa dia melakukan dosa-dosa mekaffirah itu disertai dengan kufur i’tiqadi atau juhud dan istilah.

Golongan Jahmiyyah yang dikafirkan salaf itupun tidak separah ini. Sebab mereka secara hukum lahir mengkafirkan pelaku dosa mukaffir, hanya menurut mereka bisa jadi secara batin dia mukmin jika dalam hatinya masih beriman. Maka menurut Jahmiyyah pelaku dosa mukaffir secara lahir dia kafir, adapun secara batin boleh jadi beriman dan boleh jadi kafir, jika di dalam hatinya masih ada iman berarti beriman, jika tidak bearti telah kafir. Adapun ghulat murji’ah pada hari ini menganggap pelaku dosa mukaffir tidak kafir secara lahir maupun batin selama tidak terbukti adanya kufur i’tiqadi.

Adapun ahlus sunnah wal jama’ah dalam masalah ini tegas sekali, perhatikan ucapan syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah menyimpulkan i’tiqad ahlus sunnah, kata beliau:
“Dan secara global, maka barangsiapa yang mengucapkan atau melakukan sesuatu yang sesuatu itu adalah kekufuran, dia telah kufur dengan ihal tersebut meskipun dia tidak bermaksud menjadi kafir, sebab seseorang tidak bermaksud kufur kecuali dihendaki oleh Allah.” (Ash Sharimul Maslul, hal 177-178)

Amal anggota badan
Nah, bagaimana yang benar “amal anggota badan” menurut mazhab ahlus sunnah wal jama’ah?. Apakah ia termasuk pelengkap atau ia adalah pokok iman.
Martabat iman ada tiga: 1. Ashlul iman (dasar iman). 2. Al Imanul wajib (iman yang wajib). dan 3. Al Imanul Mustahab (iman yang sunnah).

Maka seluruh amal anggota badan yang masuk dalam martabat pertama (dasar iman), maka ia menjadi syarat sahnya iman. Seperti shalat lima waktu dan sebagainya. Kemudian yang masuk dalam martabat kedua (iman yang wajib), maka ia menjadi syarat kesempurnaan iman yang wajib, jika terpenuhi akan menghindarkan diri seseorang dari siksa. Seperti amanah, jujur dan sebagainya. Kemudian yang termasuk dalam martabat ketiga (iman yang mustahab), maka ia juga menjadi syarat kesempurnaan iman yang sunnah, jika dikerjakan akan meninggikan derajatnya di surga, seperti amalan-amalan yang sunnah dan meninggalkan hal-hal yang makruh dan mustabihat. (lihat Majmu’ul Fatawa 7/627 dan 19/293)

Dari sini kita dapat mengetahui dengan jelas tafrithnya murjiah dan ifrathnya khawarij dalam memahami dan menyikapi amal anggota badan.
Golongan murjiah menyamakan semua amalan anggota badan baik yang masuk dasar iman maupun iman yang wajib seluruhnya dianggap sebagai syarat kesempurnaan iman, sehingga bermazhab amal tidak dapat membatalkan iman.

Golongan khawarij menyamakan semua amalan anggota badan baik yang masuk dasar iman maupun iman yang wajib seluruhnya dianggap sebagai syarat sahnya iman, sehingga bermazhab menyamakan antara dosa-dosa yang merusakkan dasar iman kepada syirik, dengan dosa-dosa yang merusakkan iman yang wajib seperti berzina, mencuri dan sebagainya?
lalu siapa yang tersesat dari dua golongan ini?

Murjiah fuqaha’ tidak terlalu jauh sesatnya, sebab menyelisihi sunnah dalam pemahaman, tetapi dalam sikap menentukan hukum sama dengan ahlus sunnah, artinya meskipun mereka dalam i’tiqad tidak mengkafirkan dengan amalan, tetapi jika ada orang yang melakukan amalan yang dikafirkan Allah dan Rasul-Nya mereka juga mengkafirkannya, sebab dengan sendirinya orang yang dikafirkan Allah dan Rasul-Nya pasti hilang iman yang terdapat dalam hatinya.
Ghulat murjiah tersesat dengan kesesatan yang sejauh-jauhnya. Sebab tidak mengkafirkan seluruh amalan termasuk yang mengkufurkan, kecuali dengan syarat adanya juhud (pengingkaran) dan istihlal (penghalalan). Dengan demikian tidak mengkafirkan orang-orang yang telah murtad. Maka golongan ini dikafirkan salaf. Golongan ini yang banyak memenuhi bumi hari ini, sehingga umat islam yang bersemangat kembali kepada sunnah dan salaf pun tidak terhindarkan dari asap buruknya.

Pengaruh buruk yang timbul
Adapun pengaruh buruknya mazhab murjiah yang mengeluarkan amal perbuatan dari hakikat iman antara lain menggalakkan manusia dan memberanikan diri untuk berbuat maksiat. Sehingga berkatalah Ibrahin An Nakha’i rahimahullah: Murjiah telah meninggalkan ad dien (agama), lebih tipis dari pakaian yang tembus cahaya. Diriwayatkan oleh Abdullah bin Ahmad bin Hambal dalam kitabnya “As Sunnah hal 84).

Karena begitu halus lembut dan tipisnya murjiah dalam meninggalkan ad dien, maka tidak banyak manusia yang menyadari hal ini, kecuali orang-orang yang benar-benar memahami mazhab ahlus sunnah dan mendapat rahmat Allah.Bberapa banyak manusia maupun kelompok yang berselimutkan dengan mazhab murjiah bahkan ghulatnya, akan tetapi tenang-tenang saja dengan kesesatan itu, malah justru merasa paling benar sendiri, dan menganggap mazhab yang diikutinya merupakan satu-satunya mazhab salaf. Dan yang paling berbahaya dari kelompok ini adalah sikap salah alamat, karena banyak salah mengalamatkan ucapan-ucapan kepada ahlus sunnah, maka mereka pun salah mengalamatkan khawarij. Mereka dengan kebodohannya menganggap bahwa kelompok-kelompok ahlus sunnah yang menunaikan kewajiban berjihad melawan kuffar baik yang murtad maupun yang tulen, berdasarkan i’tiqad murjiah dan ghulatnya yang mereka pegangi mereka adalah orang-orang khawarij. Dengan demikian golongan ini mencurahkan segala kemampuannya untuk melawan para mujahidin dengan lisan-lisan mereka dan menggalakkan kepada kaum muslimin untuk memerangi mereka.

Bid’ah khawarij tidak begitu besar bahayanya terhadap masyarakat awam kaum muslimin jika dibandingkan dengan bahaya murjiah khususnya ghulatnya. Sebab kebanyakan masyarakat sudah menyadari kesesatan khawarij dan bid’ahnya sedangkan mereka tidak menyadari kesesatan murjiah dan bid’ahnya. Yang berbahaya lagi terhadap ummat adalah ghulat murjiah berkedok ahlus sunnah dan salaf yang mempengaruhi ummat untuk mengecap kelompok ahlus sunnah yang sedang berjihad dengan sebutan khawarij. Sehingga pemahaman ummat menjadi terbalik, yang ahlus sunnah dianggap khawarij, sedangkan yang ghulat murjiah dianggap sebagai ahlus sunnah.

Dan golongan ini, yakni ghulat murjiah yang bertopeng salaf ini, di dalam melariskan dagangannya membuat talbis dan menipu ummat. Mereka katakan bahwa mengkafirkan penguasa berKTP muslim yang berhukum dengan undang-undang produk manusia yang menyelisihi syari’at Allah adalah manhaj orang-orang khawarij. Lalu mereka tunjukkan sebagian ucapan-ucapan ahlul ilmi yang mengkafirkan penguasa tersebut yang sudah mereka opinikan bahwa ulama atau kelompok tersebut bermanhaj khawarij. Maka ditampilkanlah Sayid Qutb rahimahullah, Safar Hawali, Salman Audah, orang NII dan sebagainya, dan untuk meyakinkan ummat bahwa mereka benar-benar khawarij, dicarikan ucapan-ucapan mereka yang lain yang menurut mereka berbau khawarij, akan tetapi dalam masa yang sama, mereka menyembunyikan berpuluh-puluh ucapan ulama-ulama salaf yang lain seperti Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, Al Allamah Ibnu Katsir, Syaikhul Islam Abdul Wahhab dan lainnya, yang mereka juga mengkafirkan penguasa yang berhukum dengan undang-undang thaghut dan sebagiannya menyebut mereka sebagai thaghut-thaghut. Inilah yang tidak mereka nukil ucapannya, sebab kalau mereka nukil ucapannya, mereka akan kebakaran jenggotnya karena ulama-ulama itu termasuk yang mereka tokohkan dan kagumi dan banyak ucapan-ucapan nya yang mereka nukil dalam hal yang sesuai dengan selera mereka khususnya dalam menyanggah bid’ah dan kesesatan khawarij. Lagi pula sudah kadung mereka opinikan bahwa mereka adalah ulama-ulama bermanhaj salaf.

Coba seandainya yang mengatakan bahwa ulama yang mengikuti hukum penguasa yang menyelisihi syari’at adalah murtad lagi kafir itu Sayid Qutb dan sebagainya yang tidak mereka sukai, mungkin dijadikan bukti pertama dan utama yang menunjukkan bahwa shahibul qaul bermanhaj khawarij, namun karena syaikhul Islam, maka mereka pura-pura tidak tahu dan tak mau tahu. (Amru).

Filed under: Aqidah

ABDUL HADI AT TUNISY

images5Beliau termasuk dari para lelaki yang taat… beliau adalah Abdul Hadi At Tunisy. Allah memberikan kekuatan badan kepadanya, akal yang cerdas, hati yang bersih. Selalu menampakkan senyum sepanjang hidupnya, dan beliau seorang pemberani yang tidak dapat digambarkan keberaniannya.

Beliau termasuk orang yang pertama-tama datang ke Afghanistan bersama teman-teman arab lainnya. Pada saat itu orang-orang arab sedang membuka leber-lebar bantuannya.
Beliau adalah seorang bisnismen dan saudagar di Tunis dan Eropa. Dan beliau lihai dalam hal ulah-kanuragan (beladiri). Beliau menguasai karate dan telah menyandang sabuk hitam yang menunjukkan kekekaran tubuh beliau.

Allah memuliakan beliau dengan masuk ke bumi jihad dan bergabung dengan para ikhwah mujahidin Afghan di dalam jihad. Dan Allah memuliakan beliau dengan mengikuti banyak amaliyat, hingga Allah berkehendak beliau ditawan oleh musuh -.
Orang-orang Rusia menangkap beliau dan menjebloskannya ke dalam Penjara pusat di Kabul. Penjara inilah yang menampung tawanan mujahidin arab ketika terjadi aliansi utara. Semoga Allah membebaskan mereka. Amien ….. amien …..

Sebenarnya beliau adalah orang arab yang tertawan paling dulu di Afghanistan. Beliau selalu di pukuli dan disiksa dengan siksaan yang berat hingga mereka lelah di dalam menyiksa. Hingga pada akhirnya mereka memaksa beliau ditayangkan di siaran Televisi Afghan dan – beliau dipaksa – berbicara di depan manusia bahwasanya beliau datang ke Afghanistan dalam rangka membantu Amerika untuk menguasai Afghanistan… dan … dan … dan … – dipaksa untuk – berbicara yang dapat menyakiti pendengaran mujahidin. Maka beliaupun menolak paksaan itu hingga beliau disiksa, bahkan mereka mengkoyak-koyak tubuh beliau. Akan tetapi beliau – tetap tegar – bagaikan Gunung yang kokoh, seperti kokohnya Gunung Torabora yang diguncang dengan Bom tapi ia tetap kokoh tidak terkoyak.

Disana ada seorang ikhwah arab yang ditawan, lalu mereka mengeluarkannya setelah dipaksa untuk tampil di tayangan Televisi untuk mengucapkan apa yang mereka kehendaki.
Khabar – tentang kekokohan Abdul Hadi – sampai ketelinga pegawai penjara hingga menjadi berita utama di penjara. Datanglah salah satu perwira Rusia yang disebut-sebut sebagai pembesar dan orang yang terkemuka, dan ia berhenti di depan sel teman kita ini – Abdul Hadi -.
Perwira itu berkata : “ Keluarkan orang arab ini kepadaku agar ia mendapat pelajaran yang tidak dapat ia lupakan, dan akan aku beri pelajaran dia.

Benar … mereka mengeluarkan singa Abdul Hadi dan berhenti tepat di depan perwira itu. Perwira itu melihatnya dengan pandangan mengejek lalu memukulnya dengan pukulan yang kuat. Dia berkata : “ Di mana Robmu yang engkau sembah ? Suruh dia turun menolongmu !!!! Mendengar ejekan itu berkobarlah amarah sang singa, Abdul Hadi, beliau marah karana Allah ‘Azza wa Jalla, lalu beliau mengumpulkan sisa-sisa kekuatannya yang telah pudar dan beliau bergerak dengan gesit mengarah perwira itu dan langsung memukulnya. Hingga beliau dan perwira itu sama-sama jatuh pinsan. Begitulah beliau dalam kondisi lapang dan sempit. Beliau marah karena Allah dan menolong Dien-Nya. Sampai Allah memudahkan urusannya dan mengeluarkan beliau dari tahanan setelah berlalu lima tahun ia jalani di dalam penjara Rusia komunis.

Ketika engkau saksikan tubuhnya maka perasaan ini akan menjadi semangat….. engkau saksikan tulang iga dadanya semuanya remuk bekas pukulan, kedua tangan dan kakinya patah.
Sungguh siksaan macam apakah yang telah beliau alami !!! dan derita apakah yang beliau rasakan !!!

Syekh Sayaf membawa beliau ke negeri eropa untuk berobat, hingga Allah memberikan kesembuhan beliau setelah berobat selama satu tahun penuh. Kemudian beliau kembali lagi ke Afghanistan, dan beliau mendengar ada amaliyat besar-besaran di Jalalabad. Lalu beliau menyiapkan diri dan masuk bersama mujahidin ke medan perang dan terbuktilah kepahlawanan dan pengorbanan beliau.

Beliau masuk ke dalam bersama dengan salah seorang ikhwah dari Saudi – saya lupa kunyahnya -, dan beliau menjadi fotografer majalah Bunyanul Marshus.
Orang-orang Afghan pun mundur ….. dan orang-orang Komunis dapat menduduki daerah tersebut dan mengepung kedua ikhwan kita ini, lalu keduanya dibunuh oleh orang komunis sebagai pahlawan. Hingga keduanya terbunuh – semoga Allah merahmati keduanya – dan diterima-Nya masuk ke dalam Jannah-Nya.

Semoga Allah melimpahkan rahmatNya kepada Abdul Hadi At Tunisi dan menerima amalnya selama lima tahun mendekam di dalam penjara Rusia.
Semoga Allah melimpahkan rahmatNya kepada seorang arab yang paling dahulu di penjara di Afghanistan…..
Semoga Allah melimpahkan rahmatNya kepada semua syuhada’ dan menerima semua amalan mereka yang telah lalu …..

Filed under: Profil Mujahid

PENGUMUMAN

Mohon maaf kepada para pengunjung blog ini jika beberapa komentar tidak kami tampilkan. Di karenakan komentar yang tidak mendidik tidak ilmiyah dengan berdasar dalil dan cenderung emosional. Semua itu kami lakukan untuk meminimalisir perdebatan yang tidak ilmiyah dan di dasari atas emosi saja

Tanggalan

Jam dinding



Blog Stats

  • 310,886 hits

Pengunjung

online