At Taujih

Mengawal Wacana Iqomatuddiin

PERTOLONGAN ALLAH TELAH DEKAT

Mayoritas umat Islam hari ini hidup di banyak negeri dan wilayah dalam tumpukan kebimbangan, kerusakan akhlak, kehancuran harga diri, kehilangan hak dan properti, kekacauan pikiran, kelemahan pro-duktifitas dan aktifitas, keadaan lepas kontrol yang semakin mening-kat, dan penyimpangan-penyimpangan yang begitu deras dalam aki-dah, manhaj, serta urusan kehidupan politik dan ekonomi. Pada saat yang sama, tersebar seruan-seruan nasionalisme, pemikiran-pemikir-an sekulerisme, gelombang atheisme, serta slogan-slogan sufisme dan penyembahan berhala. Kerusakan ini tumbuh membesar dalam umat Islam. Namun, mayoritas mereka malah sibuk dalam perkara-perkara madharat dan tidak bermanfaat. Mereka lalai terhadap tujuan pen-ciptaan dan misi mereka dalam kehidupan ini.
Penyimpangan-penyimpangan, sesembahan-sesembahan selain Allah, kotoran-kotoran jahiliyah yang ada di setiap tempat, tradisi-tradisi yang menyelisihi syari’at, dan peraturan-peraturan yang me-nyimpang dari syari’at Allah ini harus dihancurkan. Oleh karena itu, kita harus kembali kepada Islam dengan konsepsi yang benar, yaitu berserah diri kepada Allah dengan tauhid ‘mengesakan’ dan tunduk kepada-Nya dengan menjalankan ketaatan, berlepas diri dari ke-syirikan dan pelakunya, menerapkan syari’at Allah di bumi-Nya, dan mengikhlaskan amal hanya kepada-Nya.

Inilah asas tauhid. Tanpa tauhid, kehidupan ini tidak ada artinya. Allah Ta’ala berfirman :
“Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka menyembah-Ku.” (QS Adz-Dzariyat [51] : 56)
Maksud menyembah-Ku adalah mentauhidkan-Ku.
Tauhid adalah pokok dien. Tauhid adalah kebenaran yang tidak pantas bagi pembelanya untuk memperlunak saluran dalam melaksa-nakan hak-haknya dan menghadapi masyarakat dengannya. Tauhid adalah aturan alam dan misi umat Islam kepada seluruh umat manu-sia. Allah Ta’ala berfirman :
“Katakanlah, ‘Hai Ahli Kitab, marilah kepada suatu kalimat (ketetap-an) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kalian, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatu pun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan selain Allah.’ Jika mereka berpaling, maka katakanlah, ‘Saksikanlah bahwa kami adalah orang-orang yang menyerahkan diri (kepada Allah).'” (QS Ali Imran [3] : 64)
“Katakanlah, ‘Marilah kubacakan apa yang diharamkan Tuhan kalian atas kalian, yaitu : janganlah kalian mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun, berbuat baiklah terhadap kedua orang tua, dan janganlah membunuh anak-anak kalian karena takut kemiskinan. Kami akan memberi rizki kepada kalian dan kepada mereka. Dan janganlah mendekati perbuatan-perbuatan keji, baik yang tampak di antaranya maupun yang tersembunyi, dan janganlah membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) melainkan dengan sesuatu (sebab) yang benar. Demikian itu yang diperintahkan oleh Tuhan kalian kepada kalian agar kalian memahami(nya). Dan janganlah mendekati harta anak yatim kecuali dengan cara yang lebih ber-manfaat hingga ia dewasa. Sempurnakanlah takaran dan timbangan dengan adil. Kami tidak memikulkan beban kepada seseorang me-lainkan sekadar kesanggupannya. Dan apabila berkata, hendaklah kalian berlaku adil meskipun terhadap keluargamu. Dan penuhilah janji. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepada kalian agar kalian ingat. Dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah ia. Dan janganlah kalian mengikuti jalan-jalan (yang lain) karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kalian dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepada kalian agar kalian bertakwa.'” (QS Al-An’am [6] : 151-153)

“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan), ‘Sembahlah Allah (saja) dan jauhilah thaghut’.” (QS An-Nahl [16] : 36)
Hakikat peribadatan kepada Allah Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa adalah menunggalkan-Nya dalam seluruh bentuk ibadah, me-mohon dengan sungguh-sungguh kepada-Nya, takut kepada-Nya, mencintai-Nya, berharap kepada-Nya, dan tunduk kepada-Nya. Maka, barang siapa yang mengaku beriman kepada Allah, men-tauhidkan-Nya, mencintai-Nya, takut kepada-Nya, dan berharap kepada-Nya namun tidak mau patuh terhadap perintah Allah dan perintah Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam, berhukum kepada selain syari’at Allah, dan memberikan wala’ ‘loyalitas’ kepada musuh-musuh Allah, Allah tidak membenarkan pengakuannya. Bahkan, ia adalah orang yang mengikuti setan dan mentaatinya. Allah Ta’ala berfirman :
“Katakanlah, ‘Jika engkau mencintai Allah, maka ikutilah aku nis-caya Allah akan mencintaimu.” (QS Ali Imran [3] : 31)

Firman Allah “Dan jauhilah thaghut” maksudnya adalah setan. Ini menurut Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu. Bukhari men-catatnya di dalam ‘Shahih’nya (8/251) dengan shighah ‘bentuk’ jazm ‘mati atau sukun’ (maksudnya, dibaca berhenti atau waqaf, pent.), sedangkan Ibnu Jarir dan yang lain mewashalkan (membacanya terus tanpa berhenti, pent.). Ada yang mengatakan, maksudnya adalah berhala dan segala sesuatu yang disembah selain Allah. Dikatakan pula, maksudnya adalah selain itu.

Semua ini benar. Tidak ada kontradiksi di antara makna-makna tersebut. Masing-masing mereka menjelaskan makna umum dengan sebagian macamnya. Hal ini sering terjadi dalam perkataan salaf di mana mereka menafsirkan ayat dengan sebagian bentuk tunggalnya. Mereka tidak bermaksud membatasi.

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah menyebutkan definisi thaghut secara komprehensif. Ia mengatakan, “Thaghut adalah segala sesuatu yang dilebih-lebihkan oleh seorang hamba hingga melewati batasnya; baik sesuatu yang diibadahi, diikuti, atau ditaati. Maka, thaghut se-tiap kaum adalah mereka yang dimintai keputusan hukum selain Allah dan Rasul-Nya shallallahu ‘alahi wa sallam, diibadahi selain Allah, diikuti bukan berdasarkan petunjuk Allah, atau ditaati dalam hal yang tidak mereka ketahui bahwa itu adalah bentuk ketaatan kepada Allah. Para thaghut alam ini apabila Anda memperhatikannya dan memperhatikan kondisi orang-orang yang bersamanya, maka Anda lihat mayoritas mereka menyimpang dari peribadatan kepada Allah menuju peribadatan kepada thaghut, dari berhukum kepada Allah dan kepada Rasul shallallahu ‘alahi wa sallam menuju ber-hukum kepada thaghut, serta dari ketaatan kepada Allah dan meng-ikuti Rasul-Nya shallallahu ‘alahi wa sallam menuju ketaatan kepada thaghut dan mengikutinya.”

Allah memerintahkan untuk kufur kepada thaghut dan men-dahulukannya atas iman kepada Allah sebagaimana mendahulukan nafyu ‘peniadaan’ atas itsbat ‘penetapan’ dalam kalimat tauhid la ilaha illallah. Seseorang tidak menjadi beriman kepada Allah hingga ia kufur kepada thaghut dengan segala maknanya yang komprehensif. Allah Ta’ala berfirman :
﴿فَمَنْ يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ وَيُؤْمِنْ بِاللَّهِ فَقَدْ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَى لَا انفِصَامَ لَهَا وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ﴾
“Maka, barang siapa kufur kepada thaghut dan beriman kepada Allah, sesungguhnya ia telah berpegang pada tali ikatan yang kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS Al-Baqarah [2] :256)

Dalam Shahih Muslim (23) dari jalan Marwan Al-Fazary dari Abu Malik dari bapaknya berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam bersabda, ‘Barang siapa mengucapkan la ilaha illallah dan mengkufuri semua yang diibadahi selain Allah, maka darah dan hartanya terlindungi sedangkan perhitungannya di-serahkan kepada Allah.'”

Inilah penjelasan kalimat ikhlash —yaitu la ilaha illallah, pent.— Maksud kalimat ini bukan sekadar mengucapkan. Sebab, sekadar mengucapkan tidak akan melindungi darah dan harta; tidak pula me-nyelamatkan diri dari siksa neraka. Masalah sebenarnya adalah masa-lah pengamalan maksud kalimat ini, yaitu mentauhidkan Allah, me-murnikan peribadatan hanya kepada-Nya, dan berlepas diri dari sega-la sesuatu yang diibadahi, diikuti, atau ditaati selain Allah dan Rasul-Nya shallallahu ‘alahi wa sallam. lengkapnya download ling ini. Download

Filed under: download buku

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: