At Taujih

Mengawal Wacana Iqomatuddiin

PENGANGKATAN PEMIMPIN DALAM ISLAM

imagesMereka yang terlanjur percaya bahwa Pemilu dalam sistem demokrasi bisa menghasilkan perubahan tampaknya harus kembali ‘gigit jari’. Pasalnya, Pemilu memang sekadar dimaksudkan untuk memilih orang, seraya berharap orang yang terpilih lebih baik daripada yang sebelumnya. Pemilu sama sekali menafikan, bahwa yang dibutuhkan oleh negeri ini bukan sekadar orang-orang terpilih, tetapi juga sistem yang terpilih. Dengan kata lain, Pemilu sama sekali melupakan, bahwa yang dibutuhkan oleh negeri ini bukan sekadar pergantian orang (penguasa dan wakil rakyat), tetapi juga pergantian sistem pemerintahan, politik, ekonomi, sosial, pendidikan dll dengan yang jauh lebih baik. Wajarlah jika usai Pemilu Legislatif ini, juga Pemilu Presiden nanti, perubahan untuk Indonesia yang lebih baik sebagaimana yang diharapkan oleh seluruh rakyat negeri ini tidak akan pernah terwujud, selama kebobrokan sistem sekular yang tegak berdiri saat ini tidak pernah disoal, dikritik dan diutak-atik, sekaligus diganti, karena sudah dianggap sebagai sistem yang baik, maka kesejahteraan dan keadilan rakyat tidak akan pernah mereka capai.

Sebenarnya yang perlu dibenahi oleh bangsa ini adalah sistim. Sedangkan bergantiannya presiden dan mentri tidak akan meyejahterakan rakyat jika sistimnya sesat. Termasuk dalam pemilihan presiden kali ini, sistim yang dipakai adalah sistim barat yang kafir. Maka jangan tanya hasilnya, jika caranya saja sudah tidak benar, pasti akan menghasilkann sesatu yang tidak baik.

Islam telah mewajibkan kepada ummatnya untuk mengangkat seorang kholifah. Demikian pula islam telah menjelaskan bagaimana pengangkatan seorang kholifah. Termasuk diantara sistim yang rusak dari sistim demokrasi adalah dalam pemilihan pemimpin. Kholifah dalam islam diangkat bukan dengan suara kebanyakan rakyat sebagaimana demokrasi. Melalui tulisan kecil ini kita bersama membahas metode pemilihan pemimpin dalam islam agar dapat membedakan antara yang haq dengan yang batil.

Disyari’atkannya pengangkatan kholifah
Memang tidak ada dalil yang jelas tentang pengangkatan kholifah dari alqur’an dan as sunnah. Akan tetapi kita bisa mengambil amalan khulafa’ ar rosyidin sebagai dalil tentang pengangkatan kholifah. Rasulullah  bersabda :
فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِى وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الْمَهْدِيِّينَ الرَّاشِدِينَ تَمَسَّكُوا بِهَا وَعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ
Hendaklah kalian mengikuti sunnahku dan sunnah khulafa’ ar rosyidin yang mendapat petunjuk, pegang teguhlah ia dan gigitlah ia dengan gigi geraham … ( HR. Abu Daud).
Dari hadist di atas jelas bahwa kita wajib mengikuti sunnah khulafa’ ar rosyidin. Dan diantara sunnah khulafa’ ar rosyidin adalah cara pengangkatan seorang kholifah.
Ibnu Rajab al Hanbali berkata : dalam hadist tersebut Nabi  memerintahkan untuk mengikuti sunnahnya dan sunnah khulafa’ ar rasyidin setelahnya dan memerintahkan untuk mendengar dan taat kepada pemimpin secara umum sebagai dalil bahwa sunnah khulafa’ ar rosyidin harus diikuti sebagaimana mengikuti sunnah rasulullah , berbeda dengan para pemimpin ( Jami’ul ‘ulum wal hikam : 249)

Rasulullah  juga bersabda :
عَنِ ابْنِ مَسْعُودٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « اقْتَدُوا بِاللَّذَيْنِ مِنْ بَعْدِى مِنْ أَصْحَابِى أَبِى بَكْرٍ وَعُمَرَ
“Dari Ibnu Abbas berkata, bersabda Rasulullah  : Ikutilah oleh kalian dua orang setelahku dari para sahabatku, Abu Bakar dan Umar.” (HR. At Tirmidzi No. 3742, katanya: hasan. Dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih Sunan Ibni Majah No. 97. Al Hafizh Ibnu Hajar mengatakan hadits ini didhaifkan oleh Al Bazzar dan Ibnu Hazm, lantaran Abdul Malik pelayan Rib’iy adalah seorang yang majhul (tidak dikenal). Al Hakim telah meriwayatkan pula penguatnya dari jalur Ibnu Mas’ud, namun sanadnya terdapat Yahya bin Salamah bin Kuhail seorang yang dhaif. Lihat Talkhish Al Habir, No. 2592. Namun menurut Imam Al Munawi hadits ini bisa dikuatkan oleh riwayat dari Ibnu Mas’ud tersebut, lihat Faidhul Qadir No. 1318-1319. Syaikh Al Albani pun menshahihkan riwayat dari Ibnu Mas’ud. Lihat Shahihul Jami’ No. 1144)
Syaikh Abdurrahman Al Mubarakfuri mengatakan, bahwa hadits ini menunjukkan bagusnya perjalanan hidup mereka berdua dan isyarat terhadap urusan kekhilafahan mereka berdua, sebagaimana dikatakan oleh Al Munawi. (Tuhfah Al Ahwadzi, 10/147. Al Maktabah As Salafiyah)

Ibnu Taimiyah juga berkata : Nabi  memerintahkan untuk mengikuti jalan khulafa’ ar rosyidin. Yaitu empat khulafa’ dan lebih khusus lagi adalah Abu bakar dan Umar. (Majmu’ fatawa 4/400).

Demikian pula ijma’ para sahabar radhiyallahu ‘anhum bahwa mereka sepakat akan pengangkatan kekhilafahan Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu serta khulafa’ ar rosyidin setelahnya. Mereka tidak ada satupun yang menentang metode pangangkatan tersebut kecuali orang-orang yang memang tersesat.

Masa sahabat adalah gambaran pengamalan islam yang paling sempurna. Merekalah yang telah mengorbakan harta, jiwa dan raganya untuk islam. Merekalah yang telah mengawal tegaknya syari’at dan berjihad bersama Rasulullah  . Bersamaan dengan itu, mereka menyaksikan turunya wahyu. Maka tidak ada orang yang lebih paham terhadap syari’at ini dibandingkan mereka. Dan mereka (para sahabat) telah banyak bersepakat tentang sesuatu yang tidak mereka dapatkan dari al qur’an dan as sunnah dalam rangka menjaga din ini seperti jam’ul qur’an (pengumpulan al qur’an menjadi satu lahjah) atau juga sepakatnya mereka tentang metode pengangkatan kholifah. Maka jika ada seseorang yang mengingkari ijma’ para sahabat dalam berbagai permasalahan, termasuk pengangkatan kholifah adalah karena kebodohan orang tersebut terhadap syari’at islam ini.

Metode pengangkatan kholifah
Pengangkatan kholifah pada masa khulafa’ ar rosyidin ada dua cara. Semuanya pernah dilakukan oleh mereka. Dan dua metode tersebut telah disepakati oleh parasahat pada masa itu tanpa ada yang membantahnya. as Syaikh Abdullah bin Umar bin Sulaiman ad Damiji dalam buku beliau Imamatul ‘Udma ‘inda ahlussunnah waljama’ah menjelaskan dua metode tersebut yaitu :
Pertama : Dengan cara dipilih
Sedangkan yang memilih adalah ahlul halli wal ‘aqdi. Cara ini dipakai pada saat pemilihan sahabat Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu dan sahabat Ali bin Abi Tholib radhiyallahu ‘anhu.
Dalilnya adalah perkataan Umar ibnu Khottob rodhiyallahu ‘anhu :
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ – رضى الله عنهما – قَالَ قِيلَ لِعُمَرَ أَلاَ تَسْتَخْلِفُ قَالَ إِنْ أَسْتَخْلِفْ فَقَدِ اسْتَخْلَفَ مَنْ هُوَ خَيْرٌ مِنِّى أَبُو بَكْرٍ ، وَإِنْ أَتْرُكْ فَقَدْ تَرَكَ مَنْ هُوَ خَيْرٌ مِنِّى رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم(متفق عليه)
Dari Abdullah bin Umar radhiyallahuma berkata : dikatakan pada Umar, tidakkah engkau memilih (kholifah), Umar berkata : jika saya memilih, maka telah memilih seseorang yang lebih baik dariku yaitu Abu Bakar, dan jika aku tinggalkan, maka telah meninggalkan (urusan kehilafahan) orang yang lebih baik dariku yaitu Rasulullah  . (HR. Muttafaqun ‘alaihi).
Sedangkan ahlul halli wal ‘aqdi dalam kitab nihayatul muhtaj ila syarhil minhaj 7/390 disebuatkan : adalah sekelompok manusia yang memiliki kedudukan dalam urusan din dan ahlaq serta kemampuan dalam melihat kondisi dan mengatur ummat. Mereka juga disebut dengan ahlus syuro, ahli ro’yi wat tadbir atau yang disebutkan oleh para ulama’ dengan : kumpulan para ulama’ dan pemimpin serta ahli taujih yang mungkin dapat berkumpul.
Dari ahlus syuro inilah mereka mengatur berbagai permasalahan ummat dalam berbagai masalah dunia dan akhirat. Jika ahlus syuro melihat suatu masalah sesuai dengan alquran dan as sunnah mereka akan menyetujuinya, dan jika tidak sesuai mereka tolak. Dan termasuk tugas ahlus syuro adalah memilih seorang kholifah dan berbagai wuzaro’nya (mentrinya).
Dari penjelasan di atas jelas bahwa ahlul halli wal ‘aqdi bukanlah DPR dan MPR hari ini. Jauh perbedaannya antara timur dan barat, dan langit dengan sumur. DPR dan MPR dipilih dengan hanya bersandarkan suara terbanyak. Sedangkan ahlulhalli wal ‘aqdi dipilih karena kemampuan dan ilmu dalam masalah din serta kondisi waqi’. DPR dan MPR dipilih tidak mempertimbangkan akhlaq, sedangkan ahlul halli wal ‘aqdi dipilih karena ahlaq mereka yang mulia dan kedalaman ilmu mereka. Jika ada yang menyamakannya, itu adalah ketidak pahaman mereka dengan din islam ini.

Yang kedua : metode al ‘ahdu atau istihlaf
Seorang pemimpin memilih penggantinya dari umat islam yang dia lihat layak untuk menempati kedudukannya. Ketika seorang khalifah merasa bahwa ajalnya telah dekat, dia bermusyawarah kepada ahlul hallu wal ‘aqdi untuk memilih calon penggantinya. Apabila orang yang direkomendasikan oleh khalifah disetujui ahlul halli wal ‘aqdi maka orang tersebut ditetapkan sebagai khalifah setelah wafatnya khalifah tersebut.
Dalilnya adalah hadist Rasulullah  :
عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ قَالَ لِى رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فِى مَرَضِهِ « ادْعِى لِى أَبَا بَكْرٍ وَأَخَاكِ حَتَّى أَكْتُبَ كِتَابًا فَإِنِّى أَخَافُ أَنْ يَتَمَنَّى مُتَمَنٍّ وَيَقُولَ قَائِلٌ أَنَا أَوْلَى. وَيَأْبَى اللَّهُ وَالْمُؤْمِنُونَ إِلاَّ أَبَا بَكْرٍ ».(مسلم)
Dari ‘Aisyah berkata, bersabda Rasulullah  ketika sakitnya : pagilkan Abu Bakar dan saudaramu sampai aku tuliskan wasiat. Maka sesungguhnya aku takut untuk berangan-angan ada yang mengatakan saya lebih berhak (atas kepemimpinan). Dan Allah dan kaum mukmini menyetujuinya kecuali Abu Bakar. (HR. Muslim).
Jabatan kholifah terus berlangsung selama ia masih hidup serta mampu dan tidak melakukan hal-hal yang menyebabkan pencopotannya. Berbeda jauh demokrasi yang melakukan pemilihan 5 tahun sekali sebagai ajang pesta. Dana dihambur-hamburkan, premanisme meningkat di jalanan, serta persaingan yang menghalalkan segala cara oleh partai dan caleg.
Itulah metode yang telah diajarkan para salaf kita dalam pengangkatan kholifah. Tidak ada jalan lain kecuali harus mengikuti mereka. Sedikit saja melenceng dari jalan tersebut akan menimbulkan kesengsaraan dan keblangrutan dunia dan akhirat. Allah Ta’ala berfirman : maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintahnya takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih (Al Ahzab : 63). Semoga kita senantiasa dibimbing menempuh jalan-Nya dan menjauhi lana-jalan selainnya. (Amru)

Filed under: syubhat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: