At Taujih

Mengawal Wacana Iqomatuddiin

PERSETERUAN ABADI ISLAM VS NASIONALIS

images 3Sejarah dari masa kemasa akan selalu terulang. Jika pada zaman dahulu manusia menjadikan berhala yang berbentuk patung untuk mempersatukan manusia, maka zaman sekarang manusia menjadikan sebuah isme untuk merekatkan satu sama lain. Ada sebuah ayat di dalam Al-Qur’an yang mengisyaratkan bahwa suatu masyarakat sengaja menjadikan ”berhala” tertentu sebagai perekat hubungan antara satu individu dengan individu lainnya. Sedemikian rupa berhala itu diagungkan sehingga para anggota masyarakat yang menyembahnya merasakan tumbuhnya semacam ”kasih-sayang” di antara mereka satu sama lain. Suatu bentuk kasih-sayang yang bersifat artifisial dan temporer. Ia bukan kasih-sayang yang sejati apalagi abadi. Gambaran mengenai berhala pencipta kasih-sayang palsu ini dijelaskan berkenaan dengan kisah Nabiyullah Ibrahim ’alaihis-salam.
وَقَالَ إِنَّمَا اتَّخَذْتُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَوْثَانًا مَوَدَّةَ بَيْنِكُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ثُمَّ يَوْمَ الْقِيَامَةِ يَكْفُرُ بَعْضُكُمْ بِبَعْضٍ وَيَلْعَنُ بَعْضُكُمْ بَعْضًا وَمَأْوَاكُمُ النَّارُ وَمَا لَكُمْ مِنْ نَاصِرِينَ
“Dan berkata Ibrahim ’alaihis-salam: “Sesungguhnya berhala-berhala yang kamu sembah selain Allah adalah untuk menciptakan perasaan kasih sayang di antara kamu dalam kehidupan dunia ini kemudian di hari kiamat sebahagian kamu mengingkari sebahagian (yang lain) dan sebahagian kamu melaknati sebahagian (yang lain); dan tempat kembalimu ialah neraka, dan sekali-kali tak ada bagimu para penolongpun.” (QS Al-Ankabut ayat 25)

jika “Berhala-berhala” di zaman dahulu adalah berupa patung-patung yang disembah dan dijadikan sebab bersatunya mereka yang sama-sama menyembah berhala patung itu padahal berhala itu merupakan produk bikinan manusia. Di zaman modern sekarang “berhala” bisa berupa aneka isme/ ideologi/ falsafah/ jalan hidup/ way of life/ sistem hidup/ pandangan hidup produk bikinan manusia. Manusia di zaman skrg juga “menyembah” berhala-berhala modern tersebut dan mereka menjadikannya sebagai “pemersatu” di antara aneka individu dan kelompok di dalam masyarakat. Berhala modern itu menciptakan semacam persatuan dan kasih-sayang yang berlaku sebatas kehidupan mereka di dunia saja. Berhala modern itu bisa memiliki nama yang beraneka-ragam. Tapi apapun namanya, satu hal yang pasti bahwa ia semua merupakan produk fikiran terbatas manusia. Ia bisa bernama Komunisme, Sosialisme, Kapitalisme, Liberalisme, Nasionalisme atau apapun selain itu.

Islam adalah negeri kita, keluarga dan kerabat kita. Di mana syari’at Islam ditegakkan dan kalimat Allah Ta’ala ditinggikan, maka di sanalah negeri kita tercinta. Adapun negara dalam arti sempit, yakni sepotong tanah yang ditulis batas-batasnya oleh manusia, dibuat pemisah, dibatasi warna kulit, suku dan kebangsaan maka itu sesuatu yang tidak pernah dikenal oleh islam. Dalam kata lain, islam tidakk mengenal nasionalisme. Hal itu muncul dalam rangka memberikan pemahaman yang rusak dan merusak yang ditebarkan oleh Barat dan para pengekornya untuk menyingkirkan semangat keislaman, meredupkan jati diri Islam yang telah mempersatukan berbagai suku, bangsa dan ummat serta menjadikannya sebagai satu ummat saja “Ummat Islam” serta “Ummat Tauhid”.

Nasionalis vs islam
Perseteruan antara pejuang-pejuang islam dengan orang orang nasionalis telah terjadi semenjak negeri ini menyatakan merdeka. Diawali dengan pembasmian gerakan-gerakan yang berbau islam seperti DI serta mengexsekusi pemimpinnya, sampai pada kasus Lampung dan Aceh. Tak sampai disitu, perseteruan itu berlanjut sampai sekarang dengan menuduh orang-orang yang berusaha menerapkan syari’at islam di negeri ini dengan sebutan teroris dan pemecah belah persatuan bangsa. Sebagai bukti adalah apa yang disampaikan Mantan Ketua Umum PBNU, K.H. Abdurrahman Wahid misalnya, secara terus terang bahkan mengatakan : “Musuh utama saya adalah Islam kanan, yaitu mereka yang menghendaki Indonesia berdasarkan Islam dan menginginkan berlakunya syari’at Islam”. (Republika, 22 September 1998, hal. 2 kolom 5). Selanjutnya ia katakan : “Kita akan menerapkan sekularisme, tanpa mengatakan hal itu sekularisme”.

Bahkan Taufik Kiemas, menyatakan bahwa PKS adalah contoh teroris berwajah politik. Dalam ceramahnya di Rajaratnam School of International Studies (RSIS), Nanyang Technological University (NTU), Singapura, Taufik Kiemas menyinggung gejala sektarianisme sebagai ancaman serius dari nasionalisme dan pluralisme. Menurut Taufik, sektarianisme itulah yang telah memicu kelompok teroris. “Bila kelompok teroris membentuk kelompok tersendiri akan lebih mudah untuk menumpasnya, tapi kini kelompok teroris itu telah masuk ke dalam partai politik, sehingga sulit dideteksi,” ujar dia. Tanpa tedeng aling-aling, Taufik menyebut Partai Keadilan Sejahtera (PKS) sebagai contoh ‘kelompok teroris berwajah politik’ . Jika pada PKS saja mereka bersikap seperti itu, apa lagi dengan para pejuang syari’at islam yang tidak terjun ke parlemen, pasti akan tambah benci.

Buku terbaru yang dikeluarkan oleh orang-orang liberal untuk menyudutkan pergerakan islam adalah “illusi Negara Islam” yang di editori oleh Abdurrahman Wahid atau Gus Dur. Ada sebuah tulisan dari Syafi’I Ma’arif dalam mengkritisi para aktivis islam dalam memberikan solusi dari berbagai permasalahan negara dengan mengatakan : Namun karena pengetahuan golongan fundamnetalis ini sangat miskin tentang peta sosiologis Indonesia yang memang tidak sederhana, maka mereka menempuh jalan pintas bagi tegaknya keadilan ; melaksanakan syari’at islam melalui kekuasaan. Jika secara nasional tidak mungkin, maka diupayakan melalui perda-perda (peraturan daerah). Dibayangkan dengan pelaksanaan syari’ah ini, Tuhan akan meridhoi Indonesia. [illusi negara islam : 9].

Orang-orang Nasionalis dan pendukungnya yaitu orang-orang Liberal menuduh para pejuang syari’at dengan orang-orang yang tidak mengetahui sosiologis Indonesia. Bahkan mereka meyakini bahwa tegaknya syari’at islam tidak akan membawa kesejahteraan. Dan yang mensejahterakana Indonesia adalah demokrasi, yang mewadahi berbagai keyakinan entah yang batil ataupun haq. Jelas ini adalah keyakinan yang membawa pada kekafiran. Karena orang muslim tidak akan berkeyakinan bahwa ada sebuah pemikiran yang lebih baik dari islam. As Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab dalam buku beliau nawaqidhul islam [pembatal keislaman], pada pembatal yang ke-tiga mengatakan : Barang siapa yang tidak mengkafirkan orang-orang musyrik atau ragu terhadap kekafirannya atau membenarkan madzhab mereka. Maka jelaslah kekafiran bagi mereka karena telah membenarkan madzhab demokrasi dan menolak islam.
Akan tetapi sudah menjadi sesuatu yang wajar jika mereka memusuhi islam dengan lesan atau bahkan harta dan jiwa mereka. Karena memang pekerjaan orang-orang kafir adalah memusuhi islam dan mengelurkan ummatnya dari din ini. Allah Ta’ala berfirman :

إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ لِيَصُدُّوا عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ فَسَيُنْفِقُونَهَا ثُمَّ تَكُونُ عَلَيْهِمْ حَسْرَةً ثُمَّ يُغْلَبُونَ وَالَّذِينَ كَفَرُوا إِلَى جَهَنَّمَ يُحْشَرُونَ
Sesungguhnya orang-orang yang kafir menafkahkan harta mereka untuk menghalangi (orang) dari jalan Allah. mereka akan menafkahkan harta itu, Kemudian menjadi sesalan bagi mereka, dan mereka akan dikalahkan. dan ke dalam Jahannamlah orang-orang yang kafir itu dikumpulkan, [ QS. Al anfal : 36 ].

Mereka yang jadi korban
Sedemikian hebatnya pengaruh Nasionalisme sehingga sebagian orang yang mengaku berjuang untuk kepentingan ummat-pun takluk di bawah ideologi buatan manusia yang satu ini. Betapa ironisnya perjuangan para politisi Islam tatkala mereka rela untuk menunjukkan inkonsistensi-nya di hadapan seluruh ummat demi meraih penerimaan dari fihak lain yang jelas-jelas mengusung Nasionalisme. Seolah kelompok yang mengusung ideologi Islam harus siap mengorbankan apapun demi mendapatkan keridhaan kelompok yang mengusung Nasionalisme. Seolah memelihara persatuan dan soliditas berlandaskan Nasionalisme jauh lebih penting dan utama daripada mewujudkan tegaknya syari’at islam.

Sedemikian dalamnya faham Nasionalisme telah merasuk ke dalam hati sebagian orang yang mengaku memperjuangkan aspirasi politik Islam sehingga rela mengatakan bahwa ”Isyu penegakkan Syariat Islam merupakan isyu yang sudah usang dan tidak relevan.”
Bahkan salah satu partai berasas Islam yang lahir di era reformasi, malah tidak bisa menyembunyikan ketakutannya sekalipun dibungkus dalam retorika melalui slogan gagah: “Kita tidak memerlukan negara Islam. Yang penting adalah negara yang Islami”. Bahkan, dalam suatu pidato politik, presiden partai tersebut mengatakan: “Bagi kita tidak masalah, apakah pemimpin itu muslim atau bukan, yang penting dia mampu mengaplikasikan nilai-nilai universal seperti kejujuran dan keadilan”.

Tidakkah para politisi ini menyadari bahwa ucapan mereka seperti ini bisa menyebabkan rontoknya eksistensi Syahadatain di dalam dirinya? Tidakkah mereka paham bahwa ucapan mereka bisa membatalkan keislamannya ? Dengan kata lain ucapannya telah mengundang virus ke-murtad-an kepada si pengucapnya. Wal ‘yadhu billah.

Sebagian orang berdalih bahwa jika kita mengusung syiar ”Penegakkan Syariat Islam” lalu bagaimana dengan nasib orang-orang di luar Islam?. Saudaraku, disinilah tugas kita orang-orang beriman untuk mempromosikan Islam sebagai “sebuah syari’at” yg bersifat Rahmatan lil ‘aalamiin. Tidakkah terasa aneh bila “mereka” bisa dan boleh dibiarkan mendikte aneka isme/ ideologi/ falsafah/ jalan hidup/ way of life/ sistem hidup/ pandangan hidup produk bikinan manusia kepada kita umat Islam, sedangkan kita umat Islam tidak mampu –bahkan kadang tidak mau- mempromosikan menyebarluaskan ajaran Allah kepada “mereka”? tidak yakinkah mereka bahwa islam adalah jalan terbaik bagi seluruh permasalahan ?.Wallahua’lam.- [amru].

Filed under: Aqidah

2 Responses

  1. satya mengatakan:

    ngawur wae njenengan iku

  2. vai mengatakan:

    kenapa ga memberontak?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: