At Taujih

Mengawal Wacana Iqomatuddiin

DALIL LEMAH MURJI’AH TENTANG NAJASIY

Beberapa kelompok murji’ah banyak yang menggunakan kisah An Najasy sebagai dalil diperbolehkannya menerapkan hukum dengan selain yang diturunkan Allah k. bahkan mereka mengatakan : “hujjah lemah paham takfiriyah” mengatakan: …namun satu hal yang mungkin menjadi pemangkas syubuhat tersebut adalah, bahwa Najasyi adalah seorang penguasa atau raja di Habasyah (Ethiopia). Waktu itu ia telah masuk Islam namun tidak berhukum dengan hukum Allah karena keadaan tertentu. Apakah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menganggapnya kafir? Tidak! Bahkan Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa sallam melakukan shalat ghaib ketika Najasyi meninggal. Apakah Najasyi hidup di negara Islam? Apakah Najasyi tidak berhukum dengan hukum Allah pada satu dua perkara saja? Tentu jawabannya tidak. Ambillah pelajaran wahai orang-orang yang melihat. (Lihat majalah Asy Syari’ah no.08/1/1425 H/2004 hal 14).

Perhatikan ucapan dan hujjah di atas. untuk membela paham ghulat murjiahnya, dan sadar atau tidak sadar ucapan tersebut juga mengandung pembelaan terhadap para penguasa thawaghit pada masa kini. Mereka telah membuat perbandingan dan menempuh qias tidak pada tempatnya, yang mana para penguasa thawaghit yang siang malam tiada henti-hentinya memusuhi Allah Ta’ala, Rasul-Nya, Islam dan kaum mukminin disamakan dengan An-Najasyi radliallahu ‘anhu, maka perbandingan, persamaan dan qias seperti ini adalah rusak dan batil.

Sholat Rasulullah sallallhu alaihi wasallam pada Najasy
Adapun shalat Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa sallam shalat jenazah atas an Najasyi, telah termaktub dalam “Shahihain dan lainnya,” dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengetahui berita kematian beliau adalah melalui wahyu pada hari kematiannya sedangkan antara Madinah dan Habasyah begitu jauh jaraknya. Oleh karena itu hal itu termasuk di antara tanda-tanda kenabiannya, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Al Baihaqi, dan Ibnu Hajar juga mengisyaratkan kepadanya dan mengatakan bahwa menurut kebanyakan, wafatnya pada tahun ke sembilan sesudah hijrah. (Lihat Fathul Bari 3/188 dan 7/191).

Imam Al Bukhari meriwayatkan dari Abu Hurairah radliallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberitahukan kematian an Najasyi pemilik (shahib) Habasyah kepada mereka pada hari kematiannya dan beliau berkata: mintakan ampun untuk saudara kamu (hadits no.3880). Dan darinya: sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyuruh mereka membentuk shaf di mushalla, lalu shalat atasnya dan bertakbir 4 kali takbir (hadits no. 3881).

Dan imam Muslim meriwayatkan dari Anas radliallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menulis surat kepada Kisra dan Kaisar dan an Najasyi dan kepada semua rezim penguasa. Beliau menyeru mereka kepada Allah Azza wa Jalla, dan bukan an Najasyi yang beliau beritakan kematiannya pada para shahabatnya pada hari kematiannya dan beliau keluar dengan mereka lalu membentuk shaf dan shalat atasnya. Akan tetapi an Najasyi yang lain yang menjadi raja sesudahnya. Maka tidak diragukan lagi bahwa shalat Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa sallam atasnya menunjukkan keislamannya, sebab ada larangan menshalati jenazah orang musyrik dan memintakan ampun untuknya. (firman Allah: At Taubah: 84 dan 113)

Adapun mengenai apakah an Najasyi berhukum dengan apa yang diturunkan Allah atau berhukum dengan selain yang diturunkan Allah, maka hal ini tidak mungkin penetapannya atau penindakannya kecuali dengan berita yang shahih dalam masalah ini. sedangkan hal ini termasuk sesuatu yang tidak mungkin ditempuh. Akan tetapi yang pasti, bahwa para muhajirin yang berhijrah ke Habasyah yang berarti berpisah dengan Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa sallam tidak sampai kepada mereka sebagian syari’at-syari’at yang turun selama mereka tidak berada di sisi beliau. Inilah keadaan mereka dan termasuk keadan An Najasyi. Dan seorang muslim itu mukallaf atau dibebani dengan syari’at yang sampai kepadanya, adapun yang tidak sampai tidak dituntut dengannya. Dan keadaan an Najasyi yang meninggal dalam keadaan muslim sebagai bukti bahwa beliau telah menunaikan apa yang diwajibkan kepadanya sesuai dengan kadar yang telah sampai kepadanya dari dinul Islam, baik beliau telah berhukum atau belum berhukum dengan apa yang diturunkan Allah.

Maka apakah keadaan an Najasyi seperti itu bisa disamakan dengan keadaan para penguasa thawaghit pada masa kini, yang mana siang malam rakyat kaum muslimin menuntut agar berhukum dengan syari’at Islam, namun mereka tidak mendapat jawaban dari para penguasa thaghut itu selain dibunuh, dipenjara, dan disiksa serta persekongkolan jahat internasional dan regional untuk memerangi Islam dan kaum muslimin dengan slogan memerangi teroris dan ekstrimis? Maka bagaimana thawaghit seperti ini bisa disamakan dengan An Najasyi radliallahu ‘anhu, maka pikirkanlah wahai orang yang masih ada sisa akal! Bolehkah anda menqiaskan ular dengan belut?

Dan secara singkatnya untuk menjawab syubuhat Al Ustadz Qamar Suadi, Lc. dan semisalnya yang menjadikan shalatnya Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa sallam atas jenazah An Najasyi sebagai alasan tidak kufurnya para penguasa thawaghit yang tidak berhukum dengan apa yang diturunkan Allah, bahkan dengan begitu yakinnya tanpa mengetahui hakikat perbedaannya mengatakan, apakah Najasyi hidup di negara Islam? Apakah Najasyi tidak berhukum dengan hukum Allah pada satu dua perkara saja??

Penerapan syari’at pada masa Najasiy
Ucapan seperti ini bagi ghulat murjiah memang tidak aneh, sebab itulah mazhabnya, akan tetapi bagi mazhab ahlus sunnah sungguh nyleneh bin aneh, sebab menurut ahlus sunnah mengganti satu saja hukum Allah adalah kufur akbar. Untuk menjawab syubuhat itu, perlu diketahui bahwasanya menurut syari’at Islam taklif itu manath atau mengikuti kepada sampainya hukum-hukum syari’at disertai dengan adanya kemampuan. Maka an Najasyi tidak sampai kepadanya seluruh hukum-hukum Islam atau beliau mengamalkan dengan apa yang sampai kepadanya dan yang mampu beliau laksanakan. Adapun penguasa hari ini sungguh telah sampai kepada mereka apa yang diwajibkan atas mereka dan mereka mengerti maksud dari tuntutan para du’at yang benar lagi jujur dan tuntutan kaum muslimin agar mereka berhukum dengan syari’at Allah, dan lagi pula syari’at Allah secara lengkap berada di hadapan hidungnya, akan tetapi hal ini tidak menambah mereka selain bertambah sombong dan melampaui batas.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah telah menerangkan dasar ini yaitu bahwa taklif itu sesuai dengan kadar sampainya syari’at Islam kepadanya dan kemampuan yang ada padanya. (Lihat Majmu’ul Fatawa 19/215-225 dan termaktub juga persis dengannya dalam Minhajus Sunnah an Nabawiyah, 5/110-123)

Sebagai peringatan mengenai An Najasyi, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berpendapat bahwasanya An Najasyi tidak berhukum dengan Al Qur’an karena kaumnya tidak menyetujuinya sedangkan dia tidak mungkin menyelisihi mereka. Asy Syaikh Abdul Qadir bin Abdul Aziz mengatakan bahwa pendapat syaikhul Islam salah, dan pernyataan Syaikhul Islam tersebut hanya anggapan beliau, sebab tidak ditetapkan hal tersebut dengan nukilan yang shahih, yang benar menurut Asy Syaikh Abdul Qadir, An Najasyi tidak berhukum dengan Al Qur’an karena hukum-hukum syari’at belum sampai kepadanya secara rinci. Sebab kaumnya tidak setuju itu tidak termasuk uzur yang dibenarkan oleh syara’, di sinilah salahnya ucapan beliau. Kalau tidak demikian ini, niscaya dibolehkan bagi penguasa yang mana saja pada hari ini berhukum dengan undang-undang produk manusia dengan alasan mayoritas rakyatnya tidak setuju dan takut kepada mereka atau takut kepada kekuatan-kekuatan internasional dan negara-negara besar jika melaksanakan syari’at Islam. Jelas uzur seperti ini tidak diterima dan tertolak oleh syara’ dan tidak dapat menghalangi dari takfirnya.

Adapun dalil-dalilnya bahwa uzur ini tidak diterima dan bukan merupakan penghalang dari takfirnya, antara lain firman Allah Ta’ala (Al Maidah: 44). Allah Ta’ala berfirman:
فَلَا تَخْشَوُا النَّاسَ وَاخْشَوْنِ وَلَا تَشْتَرُوا بِآيَاتِي ثَمَنًا قَلِيلًا
“Maka janganlah kamu takut terhadap manusia, dan takutlah kamu kepada-Ku, dan janganlah kamu menukar ayat-ayat dengan harga yang murah.” Lalu berfirman ayat tersebut.
Firman-Nya lagi Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin (mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim. Maka kamu akan melihat orang-orang yang ada penyakit dalam hatinya (orang-orang munafik) bersegera mendekati mereka (Yahudi dan Nasrani), seraya berkata: “Kami takut akan mendapat bencana”. Mudah-mudahan Allah akan mendatangkan kemenangan (kepada Rasul-Nya), atau sesuatu keputusan dari sisi-Nya. Maka karena itu, mereka menjadi menyesal terhadap apa yang mereka rahasiakan dalam diri mereka. (S.Al Maidah:51-52)

Kisah raja Rumawi Heraklius yang tidak masuk Islam karena takut kaumnya (lihat Fathul Bari 1/43) dan (Zadul Ma’ad 3/62).
Berdasarkan hujjah-hujjah ini menjadi jelas salahnya ucapan syaikhul Islam tersebut. Dan syaikhul Islam meskipun beliau seorang alim yang sulit mencari tandingannya dan kehebatannya dalam bidang ilmu, namun beliau tidak makshum, yang makshum hanya anbiya’ dan mursalin. (Amru).

Filed under: syubhat

8 Responses

  1. dira mengatakan:

    Memberlakukan syariat Islam pada suatu negara-bangsa (nation-state) memang sulit. Toh penentuan batas-batas negara itu sendiri sama sekali tidak mencerminkan wilayah “kekuasaan Islam dan kaum muslimin”, melainkan batas-batas etnis dan jajahan kolonial.
    Mudah-mudahan Allah memberikan jalan dan kekuatan bagi kaum muslimin.
    Salam kenal.

    • ibrahim mengatakan:

      Minimal kita hrs berdakwah pd orang sekitar kita ttg keutamaan syariat islam & kebatilan ajaran demokrasi, liberalisme, humanisme dll utk memperoleh ridho-Nya!

  2. Fikri mengatakan:

    Alhamdulillah,,,

  3. rohmat mengatakan:

    penguasa yang tidak berhukum dengan hukum Allah tidak kafir dan bukan thaghut selama dia tidak menghalalkan perbuatan tersebut.
    mereka melakukan dosa besar yang tidak mengeluarkan dari islam……

  4. canggih mengatakan:

    benar kita harus berusaha sekuat tenaga memperjuangkan kalimat Allah dibumi ini dgn sbr n istiqamah.hkum Allah adalah wajib hrus ditegakan, brg siapa meyakini hukum selain Allh itu lebih baik adalah kufur. tp untuk kondisi di negara kta skrg hrus br22 sbr jgn terpancing shg jd korban2 tentara2 kafir.

  5. tsalits mengatakan:

    tidak ada seorang ahlussunnah yg tdk menginginkan tegaknya syariat islam,akan tetapi menegakkan syariat islam secara utuh dlm suatu negara bukanlah perkara yang mudah,,,jangankan dalam negara,dikeluarga kita saja banyak di antara kita yg belum mampu karena begitu banyak penghalangnya bahkan mungkin pada diri kita sendiri masih banyak melanggar syariat islam….dan yang sangat ana sayangkan,ana banyak menemui orang2 yg bersemangat menuntut penegakan syariat islam di negara akan tetapi justru dia sendiri banyak melanggar syariat seperti mendengarkan musik,potong jenggot,isbal,bahkan anak mereka tidak pakai jilbab…jd seolah2 syariat islam ini hanya yg berhubungan permasalahan hudud saja…..padahal menegakkan syariat pada diri dan keluarga kita tidaklah jauh lebih sulit dr menegakkan syariat di negara…..begitu indah perkataan “TEGAKKAN SYARIAT ISLAM PADA DIRI KALIAN,MAKA AKAN TEGAK SYARIAT DI BUMI KALIAN BERPIJAK”…..Barokalloohu fiykum jamii’aa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: