At Taujih

Mengawal Wacana Iqomatuddiin

MURJI’AH GAYA BARU

Ahlul bid’ah semenjak dahulu senantiasa menggunakan penipuan dan pendustaan dengan memanfaatkan kebodohan para pengikutnya. Dan kita telah dapatkan buktinya pada pemimpin-pemimpin ahlul bid’ah masa dahulu dan hari ini. Dan lebih parah lagi ahlul bid’ah hari ini yang telah mengumpulkan berbagai cara dalam rangka melanggengkan kebid’ahannya dan menjauhkan pengikutnya dari kebenaran. Akan tetapi, Allah k akan senantiasa menampakkan din ini dan akan membongkar kesesatan mereka. Demikian pula dengan pengikut kebenaran yang betul-betul ikhlas dalam mencari kebenaran akan Allah k berikan padanya kekuatan untuk membedakan mana jalan yang lurus dan mana jalan yang bengkok.
وَكَذَلِكَ نُفَصِّلُ الْآيَاتِ وَلِتَسْتَبِينَ سَبِيلُ الْمُجْرِمِينَ
Dan demikianlah Kami terangkan ayat-ayat Al Qur’an, (supaya jelas jalan orang-orang yang saleh) dan supaya jelas (pula) jalan orang-orang yang berdosa. ( Al An’am : 55).

Sedangkan para ulama’ berkata tentang murji’ah :
مَا اِبْتَدَعَتْ فِي الْإِسْلاَمِ بِدْعَةً أَضَرُّ عَلىَ أَهْلِهِ مِنَ الْإِرْجَاءِ.
Imam Az Zuhri berkata : Tidaklah terdapat dalam islam bid’ah yang lebih bahaya terhadap pelakunya dibandingkan murji’ah.
لَيْسِ شَئ مِنَ الْأَهْوَاءِ أَخْوَفُ عِنْدَهُمْ – أَيْ السَلَفُ – عَلَى الْأُمَّةِ مِنَ الْإِرْجَاءِ .
Al Auza’I berkata : Bahwa sanya yahya bin Abi Katsir dan Qotadah keduanya berkata : Tidaklah ada kesesatan yang lebih ditakuti – yaitu para salaf – yang menimpa kepada ummat melebihi murji’ah. (Majmu’ fatawa 7/394 – 395).

Mengenal murji’ah
Irja’ diambil dari bahasa yang berarti “takhir dan imhal“ (mengakhirkan dan meremehkan). Irja’ semacam ini adalah irja’ (mengakhirkan) amal dalam derajat iman serta menempatkannya pada posisi kedua berdasarkan iman dan dia bukan menjadi bagian dari iman itu sendiri, karena iman secara majaz, di dalamnya tercakup amal. Padahal amal itu sebenarnya merupakan pembenar dari iman itu sendiri sebagaimana yang telah diucapkan kepada orang–orang yang mengatakan bahwa perbuatan maksiat itu tidak bisa membahayakan keimanan sebagaimana ketaatan tidak bermanfaat bagi orang kafir. (Firaq Muashirah , Juz II hal : 746).

Pada awal mulanya Irja’ muncul untuk mengcounter paham Khawarij yang mengkafirkan Hakamain [dua orang yang memutuskan perkara dalam masalah Ali dan Muawiyah], juga untuk mengcounter Ali bin Abi Thalib. Irja’ semacam ini bukanlah Irja’ yang bersangkutan dengan Iman, akan tetapi mereka hanya membicarakan tentang perkara dua kelompok yang berperang di antara para sahabat saja.

Dalam sejarah kemunculannya didapatkan bahwa orang yang pertama kali membicarakan masalah Irja’ adalah Al Hasan bin Muhammad bin Hanafiyah, beliau meninggal pada tahun 99 H. Dan setiap orang yang mengisahkan riwayat hidupnya akan menyebutkan tentang permasalahan Irja’ beliau.

Al Hafidz Ibnu Hajar di dalam buku yang telah diterbitkan menegaskan bahwa yang dimaksud dengan Irja’ yang dibawa oleh Al Hasan adalah Irja’ yang tidak dicela oleh Ahlus Sunnah, yaitu Irja’ yang berkaitan dengan iman, hal tersebut saya (Ibnu Hajar) tegaskan berdasarkan pada kitab yang dikarang oleh Al Hasan bin Muhammmad. Di akhir kitab “Al Iman”, karangan Ibnu Abi Umar dikatakan: “Telah diceritakan oleh Ibrahim bin Uyainah dari Abdul Wahid bin Ayman bahwa Al Hasan bin Muhammad menyuruhku untuk membacakan kitabnya kepada khalayak, yang bunyinya sebagai berikut:

“Amma ba’du. Kami wasiatkan kepada Anda sekalian agar bertakwa pada Allah, kemudian dia berwasiat tentang kitabullah dan agar mengikutinya serta menyebutkan keyakinannya lalu dia berkata pada akhir-akhir wasiatnya: “Kami telah mengangkat Abu Bakar dan Umar sebagai khalifah dan kami berjihad di masa mereka berdua, karena keduanya belum pernah dibunuh oleh ummatnya bahkan ummatnya tidak merasa ragu terhadap urusan-urusan mereka. Sedangkan orang–orang setelahnya yang berselisih maka kami akhirkan (posisi) mereka dan kami serahkan urusannya kepada Allah ……. .”
Inilah Irja’ yang telah dikatakan oleh Al Hasan bin Muhammad, dan permasalahan tersebut telah dikuatkan oleh Ibnu Hajar.

Kejadian tersebut di atas mengilhami beliau (Ibnu Hajar) untuk menulis suatu karangan yang berjudul : “Perkara Irja’ yang tidak berkaitan dengan iman tidak menjadikan seseorang tercela” (Syarh Usul ‘Itiqad :1/ 26- 27.)

Akan tetapi murji’ah hari ini sudah berkaitan dengan iman, sehingga sangatlah jauh perbedaan murji’ah hari ini dengan murji’ah pada masa dahulu. Murji’ah hari ini mengatakan bahwa “iman hanya dengan ucapan lesan dan keyakinan dalam hati, sedangkan perbuatan bukanlah termasuk dari iman, akan tetapi hanya pelengkap iman”. Sedangkan murji’ah pada masa para salaf dahulu, mereka masih sepakat dengan pengertian iman bahwa iman adalah keyakinan dalam hati diucapkan dengan lesan dan diamalkan dengan anggota badan, walaupun dalam beberapa hal mereka berpaham murji’ah.

Contoh pemikiran murji’ah
Diantara pemikiran murji’ah modern, yaitu mereka beranggapan bahwa orang-orang yang tidak menerapkan hukum islam tidaklah kafir, akan tetapi mereka adalah Kufrun duuna kufrin (kekufuran yang tidak sampai ketingkatan kafir). Mereka mengunakan perkataan Ibnu Abbas dalam menafsirkan surat Al Maidah ayat 44 :
وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ
Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir.

Beliau mengatakan :
إِنَّهُ لَيْسَ الْكُفْرُ الَذِي تَذْهَبُوْنَ إِلَيْهِ، إِنَّهُ لَيْسَ كُفْراًً يُنْقِلُ عَنِ الْمِلَّةِ:  وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ [المائدة: 44] كفر دون كفر”
Sesungguhnya ia bukanlah kafir yang kalian maksudkan, sesungguhnya ia bukanlah kekufuran yang mengeluarkan seseorang dari Islam (Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir). Kekufuran yang tidak mengkafirkan pelakunya.

Kalau kita teliti kembali bahwa atsar Ibnu Abbas ini adalah dari jalan Sufyan ibnu ‘Uyainah dari Hisyam bin Hujair dari Thowus dari Ibnu Abbas. Dan hadist ini diriwayatkan oleh Hakim dari jalan Hisyam ibnu Hujair.

Sedangkan Hisyam bin Hujair menurut para imam diantaranya :
Imam Ahmad bin Hambal : Bukanlah orang-orang yang taqwa.
Ibnu Ma’in berkata : Sesungguhnya ia dho’if sekali. Untuk lebih lengkapnya silahkan buka di kitab ( Min ma’rifatir rijali 2/203).

Sedangkan dari segi isi dari qoul ibnu abbas tersebut – jika benar – yaitu ketika beliau mendebat orang-orang khowarij, pada saat mereka mengkafirkan shabat Ali dan Mu’awiyah c serta kaum muslimin yang bermasam dengan beliau berdua dikarenakan perselisihan dalam hal kekhilafahan, perjanjian serta perdamaian yang diwakili oleh dua orang sahabat yaitu Amru bin ‘Ash dan Abu Musa al Asy’ari.

Kemudian Ali amengirim Ibnu Abbas mendebat mereka tentang hal tersebut. Maka sebagian menerima dan sebagian menolak.Orang-orang khowarij tersebut berkata : apakah kalian menghukumi dengan seseorang, padahal Allah k telah berfirman : “Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir.”(Al Maidah:44). Kemudian Ibnu Abbas menjawab ia adalah kufrun duna kufrin (kekufuran yang tidak sampai tingkat kafir). Karena Ibnu Abbas tahu betul bahwa yang mereka maksud adalah sahabat besar yaitu Ali dan Mu’awiyah h. bagaimana mungkin orang-orang yang telah menghabiskan hidupnya untuk Islam dan termasuk salah seorang yang dijamin masuk Jannah telah kafir. Tidak diragukan, inilah yang menyebabkan mereka sesat, karena telah mengkafirkan para sahabat.

Perkataan Ibnu Abbas ini kemudian dipakai oleh orang-orang murji’ah untuk menyatakan bahwa para penguasa yang tidak menerapkan islam dan menghukumi nyawa, harta, dan kehormatan kaum muslimin dengan hukum buatan manusia tidak boleh dikafirkan. Apakah mereka menyamakan pemerintahan Ali dan Mu’awiyah c yang siap menerapkan Islam dan menjadikan asas pemerintahannya al qur’an dan As sunnah dan termasuk masa yang Rasulullah ` memujinya sebagai masa khulafaurrosyidun dengan pemerintahan yang telah mencampuradukkan hukum Allah k dengan hukum-hukum lain ?. Tentunya jauh dan amat jauh sekali.

Syaikh Ahmad bin Muhammad Syakir berkata dalam ‘Umdatut Tafsir mengomentari perkataan Ibnu Abbas : Perkataan ini – Ibnu Abbas dan yang lainnya – adalah perkataan yang yang dipakai oleh orang-orang yang sesat pada hari ini yang mengaku sebagai orang yang berilmu. Mereka jadikan sebagai dalil diperbolehkannya penerapan syari’at-syari’at buatan manusia yang diterapkan di negri-negri kaum muslimin. (4/156).

Sebenarnya masih banyak subhat yang dikembangkan mereka. Akan tetapi karena terbatasnya lembaran pada majalah ini, kami tidak bisa menampilkan dengan lebih rinci. Tapi bagi yang ingin mendalaminya silahkan buka kitab :
1. Imta’unadri fii Kasyfi Subhaati Murji’atil ‘Asyri karangan Abu Muhammad Al Maqdisi.
2. Tabsyirul ‘Uqola’ bi talbisaati Ahli Tajahhum wal Irjaa’, karya Abi Muhammad Al Maqdisi.
3. Membongkar kedok salafi sempalan, diterbitkan oleh MIM dan kitab-kitab yang lain.
Tidaklah kami menyampaikan kecuali untuk kebaikan, tiada kekuatan kecuali Allah. (Amru).

Filed under: syubhat

One Response

  1. ibrahim mengatakan:

    ciri2 salafy(palsu): -mencela muslim yg berjihad(thdp kuffar teroris dia tdk berani mencela); -mengajak muslim utk ta’at pd ulama2nya bukan ta’at pd al qur’an; -ta’at pd pemimpin/raja2 yg menentang syariat islam dll

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: