At Taujih

Mengawal Wacana Iqomatuddiin

NASIONALISME Kesetiaan Kepada Tanah Air

images4Hari ini banyak kita temukan orang yang men-sakral-kan dan mengagungkan tanah air. Keyakinan ini bahkan telah menjadi pemikiran, keyakinan dan budi pekerti yang mendarah daging dalam setiap aktifitasnya. Hingga kita dapati orang yang dengan bangga mengatakan, “Kami siap mati demi tanah air, kami siap mengorbankan harta benda dan keluarga kami demi tanah air, kami siap untuk berperang demi membela tanah air dan kami siap mengorbankan apa saja demi membela tanah air ; Tanah air bagi kami adalah segala-galanya”.

Mereka merasa aman dan damai jika negaranya aman, tetapi jika suatu negri Islam dibelenggu dan dilibas oleh agresi negara-negara kafir, sama sekali tidak terlintas untuk membelanya, walaupun hanya dengan do’a. Mereka berkata, “Alhamdu lil-Laah negeri kita aman, tidak seperti Irak atau Afghanistan yang selalu menghadapi peperangan. Semoga kerukunan dan kedamaian seperti ini dapat terus dipertahankan”. Sehingga hampir tidak kita dapatkan negara muslim yang membela saudara muslimnya yang terjajah, seperti di Palestina, Afghanistan, Mindanao dan tempat-tempat yang lain. Ketika Iraq diserang [sebagian dari] mereka bilang, “Itu kan sarang kaum Rawaafidh [yakni orang-orang Syi’ah rafidhah] biarkan saja mereka dihancurkan oleh Allah”.

Mereka juga menerapkan undang-undang wadl’iy [buatan manusia] dan membatasinya dari setiap peluang untuk melaksanakan peraturan bersendi syari’at. Bahkan ada yang membelanya sebagai kufrun duuna kufrin. [lihat pada rubrik lain pada terbitan ini]
Mereka meneriakkan dan membakar semangat patriotisme, mewajibkan seluruh pemuda Islam untuk menghafal lagu-lagu kebangsaan dan menjadikannya nyanyian wajib. Dengan itu, mereka memecah-belah kekuatan umat Islam dan mencerai-beraikannya ke dalam petak-petak kecil negara bangsa sehingga tidak menambahkan kepada umat Islam kecuali kelemahan.
Bahkan mereka menolak syari’at Islam dan mengatakan bahwa syari’at akan menyebabkan perpecahan dan kekacauan. Syari’at Islam adalah syari’at orang-orang kuno dan syari’at bangsa bar-bar yang tidak layak diterapkan pada zaman modern. Jika diterapkannya syari’at Islam kita akan dipecah-belah dan dibeda-bedakan atas dasar agama ; ini seorang muslim, yang itu nasrani, yang itu hindu, yang lain budha dll.

Kalau para pendahulu mengusir penjajah Belanda dari negri ini karena semangat jihad, ingin mengusir missionaris agar tidak me-murtad-kan umat Islam untuk kemudian masuk ajaran agama mereka atau sekedar murtad saja, tetapi hari ini justru kita tetap memegang erat hukum-hukum yang ditinggalkan oleh penjajah dan menolak hukum Islam ?

Jika kita timbang dengan jujur, nasionalisme hanyalah slogan yang dipergunakan oleh politisi atau kelompok kepentingan untuk menjaga kelanggengan kekuasaannya. Sukarno, menjadikan nasionalisme untuk melangengkan kekuasaannya. Suharto tak beda, bahkan selain melanggengkan kekuasaan, juga menjadi topeng menjual kekayaan alam kepada pihak asing dan mendapatkan sedikit komisi untuk kepentingan pribadi.

Tidak berlebihan jika para ulama’ yang tergabung di dalam Lajnah Daimah berfatwa, “Barang siapa yang tidak membedakan antara Yahudi dan Nasrani dan semua orang-orang kafir dengan kaum muslimin kecuali dengan negri, dan menjadikan hukum mereka adalah satu, maka dia kafir”. (Lajnah Daimah : 1/541).

Nasionalisme dalam pandangan Islam
Islam memerintahkan ummatnya untuk membela dan mempertahankan tanah air dari gangguan dan aneksasi musuh. Tetapi tanah air yang diperintahkan untuk membela itu adalah tanah air yang menerima Islam dan melaksanakan hukum-hukum Allah. Meyakini syari’at Allah sebagai peraturan yang benar dan wajib diikuti serta menjadikan hukum Islam menjadi aturan kehidupan. Negeri yang menjadi persemaian dan pelaksanaan dua program besar ; hifdhu ad-dien wa tanfiduhu, menjaga dien al-Islam dan meng-aplikasi-kannya dalam kehidupan.
Jika ada tanah air seperti ini, maka wajib bagi penduduknya untuk membela dengan segenap kemampuannya. Jika ada pasukan musuh menyerang negeri tersebut wajib melaksanakan jihad di bawah komando pemimpin negara baik pimpinan itu sholih maupun fajir. Kalau ada gerakan pemurtadan wajib ditegakkan jihad untuk melawan mereka.

Ibnu Taymiyah berkata, ”Perang defensif merupakan bentuk perang melawan agresor yang menyerang kehormatan dan agama [yang menempati kedudukan paling penting]. Hukumnya wajib berdasar ijma’ [kesepakatan ulama’]. Musuh yang menyerang, yang merusak dien dan dunia, tidak ada kewajiban yang lebih penting setelah beriman selain melawannya. Tidak ada syarat, melawan sesuai dengan apa yang mungkin. Hal ini ditegaskan para ulama madzhab kami dan selainnya. Maka mesti dibedakan antara melawan musuh kafir yang datang menyerang, dengan mendatangi mereka di negeri mereka”. [Al-Fatawa Al-Kubra : I/236].

Imam an-Nawawi juga berkata, ”Jenis kedua dari jihad yang hukumnya fardhu ‘ain, yakni jika orang kafir menduduki negeri kaum muslimin atau menyerangnya, dan sudah berada di pintu gerbang negeri, ingin masuk untuk menguasai namun belum memasukinya, maka hukumnya fardhu ‘ain”. [Hasyiyah Ibnu Abidin : 4/126].

Adapun negri-negri yang hari ini menjadi kekuasaan orang-orang kafir, atau dikuasai oleh para toghut yang tidak mau menerapkan hukum Islam, padahal sebelumnya negri tersebut adalah negri kaum muslimin yang menerapkan hukum Islam, maka wajib kaum muslimin untuk membebaskannya dengan seluruh kemampuannya. Seluruh umat Islam berdosa jika tidak berusaha membebaskannya. Kadar dosanya tergantung kadar kedekatannya dengan negri yang terjajah tersebut.

Nasionalisme palsu
Diantara hal yang harus dipahami oleh ummat Islam, banyak penguasa thoghut yang menjadikan nasionalisme sebagai barometer kesetiaan. Jika loyalitas, kecintaan dan kepatuhan seseorang kepadanya tinggi, maka orang itu dinilai sebagai orang yang paling nasionalis. Tetapi jika ia tidak mendukung kebijakan-kebijakan negara, selalu bersikap kritis, maka ia dinilai sebagai orang yang tidak nasionalis, bahkan pada kondisi tertentu dianggap musuh negara. Sikap kritis dan masukan kritik kadang dianggap merongrong rezim yang berakibat kepada pencabutan hak-haknya sebagai warga negara, dikenai larangan ke luar negeri, dikenai tahanan rumah, atau dikenai ISA [Internal Scurity Act, akta keamanan dalam negeri] yang dengannya seseorang dapat ditahan selama 2 [dua] tahun tanpa proses peradilan.

Ada lagi yang lebih buruk, orang yang dianggap musuh, padahal orang tersebut tidak ada delik hukum apapun yang dia langgar, sementara para thoghut itu khawatir pengaruhnya di tengah masyarakat, maka mereka menggunakan pola lain, character assasination, pembunuhan karakter. Disebarkan issue di tengah masyarakat, bahwa da’i fulan, atau muballigh fulan pengikut kelompok sempalan, fundamentalis dst. Nasionalisme dijadikan sebagai senjata untuk menyerang musuh-musuhnya, melanggengkan kekuasaanya.

Tidak patut slogan-slogan kosong itu menipu seorang muslim. Seorang da’i tidak akan mundur kebelakang dalam menyampaikan al-haq hanya karena tuduhan-tuduhan miring ; baik dianggap tidak nasionalis maupun ikut berteriak mengajak masyarakat kepada paham nasionalisme. Kita mulai dengan Islam. Nasionalisme dalam arti ‘ashobiyah wathoniyah adalah bathil, sekalipun ikatan kekabilahan dan kesukuan dalam batas tertentu, ketika dibingkai dengan Islam justru merupakan modal dan tempat persemaian dilaksanakannya dien Allah.

Kalau kita simak, para tokoh yang dianggap nasionalis pada masa berkuasanya, di berbagai belahan dunia, mereka menjadi orang-orang yang paling dihujat, direndahkan dan dinista oleh rakyat setelah runtuh kekuasaannya. Hampir tidak ada yang selamat dari itu setelah selesai peran sejarahnya. Bukankah hal itu merupakan bukti terkuat bahwa apa yang mereka jual [yakni nasionalisme] selama berkuasa hanyalah isapan jempol dan pepesan kosong. Mengambil contoh dari yang masih hidup tidak ada jaminan selamat. Mereka yang telah mati dan dicatat kebaikannya selama hidup serta menyelesaikannya dengan kebaikan pada ujung kematiannya, itulah teladan yang sesungguhnya.

Syaikh Muhammad Ibnu Abdul Wahhab berkata, “Demi Allah! demi Allah! wahai saudaraku…, peganglah erat-erat sendi agama kalian, awalnya dan akhirnya, landasan dan puncaknya, yakni persaksian bahwa tiada ilah yang berhak diibadahi kecuali Allah. Ketahuilah maknanya, cintailah kalimat itu dan ahli-nya [orang yang meyakininya], dan jadikanlah mereka sebagai saudara-saudara kalian meskipun mereka jauh. Kafiri [ingkari] thoghut, musuhilah mereka dan bencilah mereka dan siapa saja yang mencintai mereka dan membela mereka, atau tidak mengkafiri mereka. Atau mereka yang berkata, ‘Tidak ada hak atasku untuk memusuhi mereka’, atau berkata, ‘Allah tidak menyuruhku untuk mengkafiri mereka’. Sungguh orang itu telah berdusta atas nama Allah. Sebab Allah telah membebani ia untuk mengkafiri mereka dan mewajibkan ia untuk membenci dan berlepas diri dari mereka meskipun mereka adalah anak-anak dan saudara mereka sendiri. Demi Allah! demi Allah! pegang teguhlah agama kalian, semoga kalian menjumpai Robb kalian tidak mempersekutukankan-Nya dengan sesuatu. Ya Allah, wafatkanlah kami sebagai muslim, dan pertemukanlah kami bersama orang-orang yang sholih”. (Amru).

Filed under: Aqidah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: