At Taujih

Mengawal Wacana Iqomatuddiin

HUKUM MEMINTA PERTOLONGAN PADA ORANG KAFIR

images7Kami hanya meminta bantuan kepada tetangga kita orang nasrani, ketika rumah kita terbakar. Apakah hal seperti ini tidak diperbolehkan ?

Sesungguhnya bencana hebat dan petaka total yang menimpa Islam dan pemeluknya akibat mengundang tentara Kristen – Amerika dan Eropa – ke Jazirah Arab dalam Perang Teluk dengan jangka waktu yang tak terbatas, menjadi sebuah tragedi yang belum pernah terperikan pahitnya sepanjang sejarah kawasan ini, tidak di masa jahiliyyah maupun di masa Islam.
buruk dari tragedi ini mengguncangkan kekukuhan umat, sekaligus menempatkan para ulama di dalam sebuah ujian yang cukup pelik. Dalam menyikapinya, ulama terbagi dalam dua kelompok besar :

Kelompok pertama berpendapat bahwa sejumlah besar pasukan Kristen baik dari angkatan udara, angkatan darat maupun angkatan lautnya, – yang tersebar di seluruh penjuru negeri dari belahan timur sampai belahan barat – yang berdatangan ke negara Arab itu termasuk bab isti’anah (meminta bantuan) untuk melawan Irak dan Partai Ba’ats nya yang telah tersingkap kekafirannya sesudah serangannya atas Kuwait!! Bahwa sesungguhnya keberadaan kekuatan ini hanyalah sementara dan temporer, tidak akan sampai berbulan-bulan. Mereka akan segera berkemas dan kembali ke negeri mereka.

Sedangkan kelompok yang kedua berpendapat bahwa apa yang terjadi ini merupakan hasil dari rencana jangka panjang yang sudah diprogramkan sejak dulu. Rencana itu disusun dengan asumsi bahwa Irak akan menganeksasi Kuwait. Peristiwa itu menjadi pintu (akses) bagi masuknya kekuatan militer Barat untuk menjajah kawasan tersebut, sekaligus untuk menancapkan kuku kekuasaannya atas sumber-sumber minyak terbesar dunia. Dengan posisi yang sangat strategis di kawasan Teluk memungkinkan mereka untuk merealisasikan impian mereka dan ketamakan mereka secara historis terhadap kawasan ini.
Sesudah lewat sepuluh tahun dari kejadian itu, sekarang tampaklah tujuan busuk dari kekuatan militer ini. Tiada seorang pun yang mengalami kesulitan untuk mengetahui manakah di antara kedua kelompok di atas yang benar pendapatnya.

Masalahnya tidak sederhana
Yang membuat kita bersedih, masalah ini dipahami hanya dari konteks perselisihan fiqih, yang sangat jauh dari realita di lapangan. Yaitu perbedaan pendapat antara syaikh fulan dengan syaikh yang lain. Dan melupakan musibah yang terjadi dibalik peristiwa tersebut serta enggan untuk menyatukan pendapat.

Syaikh DR. Safar Al-Hawali di dalam risalahnya wa’du kisingger melontarkan pertanyaan-pertanyaan yang lebih bermuatan sebagai jawaban dari sekadar paparan persoalan. Beberapa pertanyaan di antaranya adalah :
1. Apakah termasuk bentuk isti’anah, menjadikan pemimpin pasukan koalisi itu – yakni Bush – sebagai orang yang berwenang memerintah dan melarang dalam persoalan ini, baik di waktu damai maupun di masa perang. Dimana jika mau dia bisa ikut turun ke medan tempur – dengan keridhaan si pemilik persoalan – yakni keluarga kerajaan. Demikian pula dengan para penguasa kawasan ini – seringkali mereka harus menerima butir perjanjian secara mutlak dengan ditekan lebih dahulu.

2. Bagaimana kita bisa menyepakati batasan keadaan darurat pada waktu dan tempat tertentu, apa dan bagaimana, di antara realita yang ada? Dari segi waktu tidak ada batasan yang definitif, tidak ada yang membatasinya selain mereka. Orang banyak telah mengetahui bahwa Amerika mempekerjakan penduduk setempat dengan janji-janji jangka panjang, ini mengiringi statemen mereka bahwa sesungguhnya perang telah berkecamuk hebat.

Dilihat dari segi lokasi, apakah mereka membiarkan satu bandara atau pangkalan militer tanpa memeriksanya? Dari sisi kuantitas, semua orang tahu bahwa jumlah mereka semakin hari semakin bertambah banyak, sehingga jumlah tentara Amerika saja mencapai lebih dari 400.000 personel!

Dilihat dari segi kondisional, mereka menjadi pembuat keputusan, kendali keadaan ada di tangan mereka, kita tak bisa bertanya kepada mereka bagaimana atau mengapa. Bahkan kita tidak tahu apakah mereka mau membantu pasukan Arab, dalam menghadapi kemelut yang lainnya, ataukah tidak?

3. Apakah termasuk bentuk isti’anah, menjadikan tentara muslim nyaris tak bersenjata sedangkan tentara kafir yang dimintai bantuan itu menyandang senjata lengkap dan moderen, sejak dari kepala sampai ke telapak kakinya, lantas menembakkan timah putih dari moncong senapannya terhadap setiap muslim yang masuk dan keluar daerah itu ?

4. Apakah termasuk bentuk isti’anah membiarkan pasukan yang dimintai bantuan itu bermukim di negeri yang meminta bantuan, lalu menetapkan hukum sendiri untuk mengontrol produksi minyak dan sejenisnya, membangun pangkalan militer di dalam wilayah teritorial negara lain. Kelakuan mereka itu seolah bertutur, ‘Kami hanya akan merampas minyak dari pemiliknya! Kami tidak mempedulikan negeri ini kecuali karena adanya minyak!

5. Apakah masuk akal jika dikatakan bahwa keadaan kita saat berhadapan dengan Saddam adalah lebih lemah daripada keadaan saudara-saudara kita mujahidin Afghanistan yang berhadapan dengan Rusia, padahal kita adalah negara-negara terkemuka di dunia, rakyat kita seolah menjadi tambang keberanian di dunia, dan tanah air kita adalah benua?

Padahal Saddam belum menyerang kita, bahkan mungkin saja dia belum memikirkan hal itu sama sekali. Sedangkan Rusia telah menguasai negeri Afghanistan secara de jure. Mereka menyerang dengan mengerahkan mesin-mesin penghancur standar internasional dengan berbagai macam bentuknya – walau tanpa menyertakan senjata nuklir – kelakuan mereka sudah diketahui seluruh dunia; sampai kepada pertanyaan-pertanyaan yang lain yang berkaitan dengan hal ini.

Dari uraian di atas, kita dapat menyimpulkan beberapa poin penting berikut ini, yaitu :
1. Bahwasanya Amerika telah menjajah negeri Saudi dengan bantuan penguasa yang telah keluar dari tuntunan syariat Allah . . . mereka telah menjadikan Yahudi dan Nasrani sebagai teman dekatnya.

2. Bahwasanya jihad sudah menjadi fardhu ‘ain bagi setiap muslimin, khususnya bagi penduduk Jazirah Arab.

3. Apabila hukum jihad telah jelas, maka I’dad (persiapan jihad) pun harus dilakukan. Pintu untuk melakukan I’dad terbuka lebar-lebar. Menganggap remeh hal itu merupakan dosa besar.

4. Saudara-saudara kalian kaum muhajirin telah menjadi pelopor di dalam I’dad ini, susullah mereka dan bantulah mereka dengan tangan, lisan, harta dan doa.

5. Wajib bagi ulama mujahidin yang jujur untuk menyusul mujahidin dan muhajirin, menyatukan kekuatan dengan mereka untuk berjihad melawan kaum kuffar yang menjajah negeri kita, termasuk melawan sekutu mereka yang membukakan negeri ini untuk mereka.

Referensi :
1. Wa’du kessengger, Dr, Safar Hawali
2. Al-Qaul al-Mukhtar Fi Hukmi al-Isti’anah bi al-Kuffar, Syaikh Hamud bin ‘Uqola’ asy-Syu’aibi.

Filed under: Aqidah, Uncategorized

One Response

  1. dira mengatakan:

    Ayo jihad…🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: