At Taujih

Mengawal Wacana Iqomatuddiin

SADAR PERMUSUHAN

images6Judul analisa kita edisi ini mungkin dianggap provokatif. Tetapi tidak, yang sedang kita bahas adalah masalah tabi’at kehidupan. Jika dikatakan tabi’at, berarti sesuatu yang sudah bersifat bawaan dan cenderung tetap tidak berubah.

Tabi’at kehidupan yang tidak berubah, adanya pasangan-pasangan yang bersifat contras combine [pasangan yang berlawanan] ; siang-malam, senang-susah, panas-dingin, benar-salah, haqq-bathil dll. Pasangan contras combine ini bersifat tetap, tidak berubah, karena mengikuti tabi’at kehidupan yang telah ditetapkan-Nya.

Kebenaran Islam.
Dien al-Islam, agama yang dibawa oleh RasululLah shallalLahu ‘alayhi wa sallam sebagai Rasul terakhir, bukan risalah yang terpisah dari risalah yang dibawa oleh para Nabi sebelumnya. Risalah itu merupakan bentuk terakhir yang telah mencapai puncak kematangan dan kesempurnaannya. Klaim ini tentu akan dianggap sebagai klaim subyektif oleh para penganut adyaan [agama-agama yang lain], dan dianggap mau menang sendiri. Tetapi bukankah mereka juga melakukan hal yang sama dalam soal klaim tersebut. Bagi muslimin, jika dikatakan sikap itu sebagai klaim subyektif, katakan saja, “Rabb kami mengajari kami untuk bersikap subyektif, seperti Dia berlaku subyektif tatkala berfirman, ‘Inna ad-Diina ‘indalLaahi al-Islaam’ [sesungguhnya dien di sisi Allah adalah Islam]. Kami hanya mengikuti subyektivitas Allah saja”.
Jika klaim ini dipersoalkan, boleh saja dilakukan uji materiil terhadap otentisitas sumber ajaran, penelitian kesejarahan atas ajaran-ajaran agama yang kalian yakini dan yang kami yakini. Jika kalian meyakini kebenaran yang kami yakini bahwa kebenaran versi kalian itu salah dan telah mengalami campur tangan manusia, lalu mengapa kami tidak boleh meyakini kebenaran yang menurut kami benar, sekalipun menurut kalian itu salah? Jika demikian, kalian tidak adil. Padahal kami telah mengajukan cara untuk menguji kebenaran itu sehingga terbukti mana yang sungguh-sungguh benar [dalam arti otentik] dan penelitian kesejarahan atas siapa yang berada di atas jalan kebenaran.

Komitment Kita Kepada Kebenaran Islam.
Dalam keadaan Islam dan ummat-nya menang, kuat dan dikawal dengan kekuatan senjata, komitment terhadap kebenaran Islam bagi para pemimpin lebih mudah dan ringan untuk dikerjakan. Tetapi di saat Islam dan ummatnya lemah, di bawah dominasi kekuatan lain yang dapat memaksakan kehendaknya, komitment kepada Islam terasa berat dan banyak yang tidak sanggup melakukannya dengan terang-terangan.

Dekade ini, dan entah sampai kapan, kita menyaksikan AS dengan jumawa mendemonstrasikan kekuasaan dan pengaruhnya di seluruh dunia termasuk dunia Islam. Kekuasaan dan pengaruh itu baik dalam bidang informasi, teknologi, politik, budaya sampai militer. Negara-negara dunia ketiga berada di bawah pengaruh ini sekalipun dengan kadar yang berbeda-beda.
Yang paling dirasakan pengaruhnya, dan juga paling dikhawatirkan akibatnya akan luas dan sulit dikendalikan adalah pengaruh di bidang ekonomi. Investasi ekonomi bagi pemerintahan negara berkembang oleh para pengusaha dari negara ekonomi maju dipandang segalanya. Karenanya, demi investasi ini segala yang dianggap mengganggu pasti diretas dan dihancurkan ; kendala peraturan yang mengganggu iklim investasi, potensi gangguan keamanan dll semua dibersihkan.

Dalam bursa pencalonan presiden misalnya, para kandidat calon yang dianggap populer dan memiliki kans besar didukung publik rakyat, sementara pribadi kandidat tersebut dianggap mempunyai komitment yang kuat kepada Islam, AS mematok target, komitment kepada Islam harus dikontrol dan dipastikan aman, atau kalau tidak harus digagalkan. AS dan sekutu-sekutunya mempunyai skenario berlapis untuk memastikan tokoh yang muncul di negara-negara Islam harus tokoh yang jinak, tidak membawa agenda fundamentalis, menegakkan syari’at Islam memusuhi thaghut.

Uniknya, tokoh-tokoh Islam, jika ditanya apakah jika nanti menang dalam pemilihan umum akan membawa agenda untuk amandemen UUD dan menggantinya dengan syari’at Islam? Apakah nanti jika menang akan menjadikan Indonesia sebagai daulah Islamiyah? Terhadap pertanyaan-pertanyaan verbal seperti ini para kandidat presiden itu dengan tergopoh-gopoh menyatakan tidak, tidak ada agenda untuk menggolkan syari’at Islam. Ada lagi yang karena tergopoh-gopohnya, sampai mengatakan tidak ada istilah daulah Islamiyah dalam al-Qur-aan. Walaupun pernyataan tidak ada istilah daulah Islamiyah di dalam Al-Qur-aan itu benar, tetapi statement itu, merupakan pernyataan ketakutan yang oleh masyarakat Islam awam, dipandang sebagai kebenaran bahwa tidak adanya istilah daulah Islamiyah dalam Islam.

Suatu ketika, serombongan du’aat datang bertamu kepada kandidat yang gagal menjadi presiden itu. Kunjungan itu masih dekat waktunya dengan statement-nya soal yang disebut di atas, dan memang salah satu kepentingannya untuk melakukan konfirmasi terhadap statement-nya yang kontroversial. Di pintu rumahnya, sebelum mempersilahkan rombongan tamu masuk, dia bilang dengan tergopoh-gopoh, “Jika saudara-saudara membelah dada saya ini, saudara-saudara pasti akan mendapati di dalam dada saya tertulis ‘saya cinta daulah Islamiyah’”.

AS menerapkan standard yang jelas dalam sikap permusuhannya kepada Islam. Standard yang jelas itu, telah diturunkan dalam bentuk pertanyaan-pertanyaan teknis dan syarath-syarath untuk menguji apakah benar-benar mereka sedang berhubungan dengan pihak-pihak yang ke-Islam-annya tidak lagi membahayakan kepentingan AS. Sikap ini merupakan permusuhan yang jelas, taktis dan dingin, serta tanpa basa-basi.

Kejujuran dan Sadar Permusuhan.
Komitment kepada Islam memerlukan sikap shidq [jujur]. Pribadi para penegak Islam dan lembaga-lembaga yang diadakan untuk tujuan Islam, disyaratkan mesti memiliki sikap shidqu. Sikap ini akan terpancar dalam setiap statement dan ayunan langkah yang dilakukan. Selain itu, juga harus sadar permusuhan ; siapa kawan yang sesungguhnya dan lawan yang sesungguhnya tidak boleh kabur dan rancu. Dua syarat ini jika dijamin adanya pada pribadi dan lembaga perjuangan akan menumbuhkan tsiqqoh [sikap saling mempercayai] dan rasa aman dari kemungkinan pengkhianatan oleh kawan.

Dinamika perjuangan meniscayakan adanya ujian baik maupun buruk. Musuh mungkin menerapkan strategi penekanan, tetapi mungkin juga dengan menggunakan politik uang untuk menciptakan efek perpecahan, devide et impera. Terkadang dalam waktu yang sama sekelompok ummat Islam didekati, sementara sekelompok yang lain ditekan keras bak membelah bambu, yang sebagian diangkat tinggi sedang yang lain diinjak keras. Di saat-saat seperti itu, jika kedewasaan sikap itu belum dimiliki, kepercayaan antar pribadi maupun antar kelompok ummat Islam berada pada titik kritis.

Dalam masalah ini, perkataan Ibnu Taimiyah merupakan referensi yang matang dan dewasa : “Terhadap orang mu’min wajib atas kalian untuk memberikan perwalian kepadanya meskipun dia bertindak aniaya dan melampaui batas, sedang terhadap orang kafir kalian harus tetap sadar permusuhan sekalipun dia memberimu dan berbuat baik kepadamu”. Beliau selalu mendahulukan sikap tsiqqoh kepada sesama mu’min sekalipun hubungan sedang diuji dengan hal-hal yang tidak mengenakkan, sedang terhadap orang kafir beliau mengajarkan untuk selalu sadar permusuhan.

Mengapa Musuh Islam Selalu Berselubung?
Mengapa kita perlu memasang radar kuat untuk mendeteksi sikap musuh-musuh dari kalangan orang-orang kafir? Kita perlu sejenak membuka lembaran-lembaran sejarah untuk mengambil i’tibar dari padanya.

Dahulu di zaman abad pertengahan, orang-orang Nashrani di bawah para pemimpin mereka, dalam melancarkan perang terhadap Islam, mereka tampil elegant dan terbuka. Kaisar Armanus dari Bizantium, pernah menggerakkan hampir sejuta tentara untuk menghancurkan Kerajaan Saljuk di bawah Sultan Alib Arsalan. Pasukan Islam ketika itu hanya 20.000 tentara. Para Paus di Vatikan dan Ksatria perang Eropa mengerakkan Perang Salib dengan simbol-simbol keagamaan yang kental dan menyolok, dan secara terang-terangan mengatasnamakan agama dan tuhan mereka, salib besar mereka bawa selalu dan setiap pasukan mengenakan simbol itu. Ummat Islam lebih mudah menghadapi, sumber spirit perlawanannya juga lebih bersih dan lebih mudah menggerakkan muslimin dengannya.

Pengalaman pahit di abad itu, menjadikan barat [sebagai pewaris spirit Salib] menerapkan strategi berbeda. Mereka menyembunyikan spirit agama dalam kemasan bungkus yang menyamarkan spirit keagamaan itu. Mengapa? Mereka tidak ingin membangunkan spirit keagamaan ummat Islam yang sedang tertidur dan mengambil keuntungan momentum kemenangan selama belum sadarnya ummat Islam bahwa hakekat peperangan tidak berubah. Mereka sadar, jika mereka gagal menyembunyikan spirit itu, mereka pasti kalah. Sebab jika ummat Islam telah berangkat dari spirit keIslamannya tak mungkin dapat dikalahkan, ratusan tahun mereka telah merasakannya. Ideolog mereka menamakan perang yang dilancarkan oleh Usamah bin Laden dan jaringan Al-Qaedah sebagai UnHoly War [Bukan Perang Suci]. Bahkan edisi Indonesianya, lebih sarkastis ‘Teror Atas Nama Islam’. [‘Izzu]

Filed under: 'Adawah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: