At Taujih

Mengawal Wacana Iqomatuddiin

PENDAPAT SALAF TENTANG BERHUKUM DENGAN QONUN WADL’IY

rezim kufur saudiPermasalahan berhukum dengan syari’at Allah adalah permasalahan yang sangat penting dalam masalah tauhid. Ia adalah inti tauhid uluhiyah. Dengannya para rasul diutus, wahyu diturunkan dan diberi beban dakwah yang sangat berat yaitu dakwah kepada tauhid uluhiyah. Karenanya para rasul dimusuhi dan berperang dengan musuh-musuhnya.

Akan tetapi hari ini ada segolongan muslim yang berusaha untuk mengkaburkan kewajiban berhukum pada syari’at Islam ini dari ummat. Mereka ber-hujjah dengan perkataan Ibnu ‘Abbas radliyalLaahu ‘anhuma dalam menafsirkan surat al-Maidah ayat 44 dengan tidak jujur. Padahal pendapat Ibnu Abbas dalam persoalan ini tidak mungkin dimaksudkan terhadap para penguasa hari ini yang menyingkirkan syariat Islam untuk menjadi hukum yang berlaku atas hamba-hamba Allah dan mereka menggantinya dengan hukum-hukum buatan manusia, mereka mewajibkan rakyat untuk tunduk dan berhukum dengannya. Sesungguhnya maksud dari perkataan beliau “ kufrun duna kufrin ” adalah seorang qadhi syar’iy atau amir muslim yang didorong oleh syahwat dan hawa nafsunya untuk menetapkan hukum di antara manusia dalam satu atau lebih kasus dengan selain hukum Allah, namun dalam hatinya ia masih mengakui bahwa dengan hal itu ia telah berbuat maksiat.

Kita dapatkan hari ini bahwa perbincangan seputar permasalahan-permasalahan ini menjadi ciri umum dari pembicaraan dalam majlis-majlis. Sekiranya persoalannya sekedar sekali atau dua kali majlis saja, barangkali dapat dipandang sebagai kekeliruan biasa. Namun ketika kita mendapati banyak majlis yang telah berbicara seputar permasalahan di atas dengan menuduh orang-orang yang tidak sependapat dengan mereka sebagai orang-orang bodoh dan tergesa-gesa, dengan ungkapan-ungkapan pedas dan kasar, padahal sesama muslim. Sebaliknya ungkapan yang sebanding tidak mereka tujukan kepada para penguasa sekuler yang merupakan faktor terbesar terjadinya bencana di tengah ummat ini dengan kejahatan mereka menjauhkan ummat ini dari kitab Rabbnya dan sunnah Nabi-Nya ShallalLaahu ‘alaihi wa Sallam, dan kejahatan mereka memaksa ummat ini untuk berjalan sesuai keinginan Barat yang kafir dan ridha dengan program-program Yahudi dan Nashrani.

Kita lihat di antara pengaruh ini, banyak pemuda-pemuda yang mengikuti pendapat tersebut, melihat para penguasa sekuler mustabdil [yang merubah syariat Allah] sebagai ulil amri [penguasa] syar’iy yang wajib kita dengar dan kita taati dan bahwa keluar dari ketaatan kepada mereka layaknya keluar dari penguasa-penguasa syar’iy ummat Islam masa awal dahulu. Sebaliknya, kita melihat mereka menilai saudara-saudara mereka yang memusuhi penguasa tadi layaknya Khawarij ahli bid’ah, tidak layak disikapi selain dengan celaan dan cercaan, bahkan barangkali sebagian berpendapat lebih jauh lagi dengan meminta penguasa memusuhi mereka dan lain sebagainya. Bahkan ada yang terang-terangan dan berani memastikan sebagai kilaab an-naar [maaf, anjing neraka].

Pendapat Ibnu ‘Abbas dalam menafsirkan surat Al-Maidah ayat 44
Dalam masalah ini ada beberapa atsar dari Ibnu Abbas mengenai surat Al Ma’idah ayat 44, sebagiannya memvonis kafir secara mutlaq atas orang yang berhukum dengan selain hukum Allah, sementara sebagian atsar lainnya tidak menyebutkan demikian. Karena itu, dalam menafsirkan ayat tersebut ada penjelasan rinci, antara lain :

1- Imam Waki’ meriwayatkan dalam Akhbar al-Qudhah I/41, ”menceritakan kepada kami Hasan bin Abi Rabi’ al-Jurjani, ia berkata, telah menceritakan kepada kami Abdu ar-Razaq dari Ma’mar dari Ibnu Thawus dari bapaknya ia berkata, ”Ibnu ‘Abbas telah ditanya mengenai firman Allah, ”Dan barang siapa tidak memutuskan perkara dengan hukum Allah maka mereka itulah orang-orang yang kafir. “
Beliau menjawab, ”Cukuplah hal itu menjadikannya kafir.”
Sanad atsar ini shahih sampai kepada Ibnu ‘Abbas, para perawinya adalah perawi Ash-Shahih selain gurunya Waki’, yaitu Hasan bin Abi Rabi’ al-Jurjani, ia adalah Ibnu Ja’d al-‘Abdi. Ibnu Abi Hatim mengatakan perihal dirinya, ”Aku telah mendengar darinya bersama ayahku, ia seorang shaduq [selalu bersikap jujur].” Ibnu Hiban menyebutkannya dalam Ats-Tsiqat. [Tahdzibu Tahdzib : I/515], dalam At-Taqrib I/505 Al-Hafidz mengomentarinya, ”Shaduq.”

2-. Memang benar, ada tambahan yang dinisbahkan kepada Ibnu ‘Abbas dalam riwayat yang lain, yaitu riwayat Ibnu Jarir Ath-Thabari [12053] Ibnu ‘Abbas berkata, ”Dengan hal itu ia telah kafir, dan bukan kafir kepada Allah, Malaikat, kitab-kitab dan rasul-rasul-Nya.”
Sanad atsar ini juga shahih, para perawinya adalah para perawi kutubu as-sitah selain Hanad dan Ibnu Waki’. Hanad adalah As-Sariy al-Hafidz al-Qudwah, para ulama meriwayatkan darinya kecuali imam Bukhari. [Tadzkiratul Hufadz : II/507]. Adapun Ibnu Waki’ adalah Sufyan bin waki’ bin Jarrah, Al Hafidz berkata dalam At Taqrib I/312, ”Ia seorang shaduq hanya saja ia mengambil hadits yang bukan riwayatnya, maka haditsnya dimasuki oleh hadits yang bukan ia riwayatkan. Ia telah dinasehati, namun ia tidak menerima nasehat tersebut sehingga gugurlah haditsnya.” Hanya saja ini tidak membahayakan, karena Hanad telah menguatkannya.

3- Al Hakim [II/313] telah meriwayatkan dari dari Thawus ia berkata, ”Ibnu Abbas berkata, ” Bukan kufur yang mereka [Khawarij] maksudkan. Ia bukanlah kekufuran yang mengeluarkan dari milah.
Maksudnya adalah Kufur duna kufrin.”
Al-Hakim mengatakan, ”Ini adalah hadits yang sanadnya shahih.” Atsar ini juga diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim sebagaimana disebutkan dalam tafsir Ibnu Katsir [II/62] dari Hisyam bin Hujair dari Thawus dari Ibnu ‘Abbas mengenai firman Allah, “Dan barang siapa tidak berhukum dengan hukum Allah maka mereka adalah orang-orang kafir.”
Beliau berkata,”Bukan kekufuran yang mereka maksudkan.”
Hisyam bin Hujair seorang perawi yang masih diperbincangkan. Ia dilemahkan oleh Imam Ahmad bin Hanbal dan Yahya bin Ma’in dan lain-lain. [Tahdzibu Tahdzib VI/25]. Ibnu ‘Ady menyebutkannya dalam Al Kamil fi Dhu’afai Rijal [VII/2569]. Demikian juga oleh Al ‘Uqaily dalam Al Dhu’afa al-Kabir [IV/238].

4- Ibnu Jarir [12063] meriwayatkan dari sanad Ali bin Abi Thalhah dari Ibnu Abbas, ia bekata, ”jika ia juhud [ingkar] terhadap apa yang diturunkan Allah maka ia telah kafir, dan barang siapa mengakuinya namun tidak berhukum dengannya maka ia adalah dholim dan fasiq.”
Sanad ini munqathi’ [terputus] karena Ali bin Abi Thalhah belum mendengar dari Ibnu Abbas sebagaiamana ia juga masih diperbincangkan. [Tahdzibu Tahdzib IV/213-2141].

Atsar Ibnu ‘Abbas bukanlah satu-satunya pendapat
Banyak orang yang menganggap atsar Ibnu Abbas sebagai satu-satunya pendapat salaf dan para ulama tafsir, bahkan pendapat seluruh firqah najiyah dalam masalah ini. Namun realita tidak seperti itu, karena telah nyata adanya perbedaan pendapat di antara ulama salaf dalam masalah ini. Sebagian di antara mereka membawanya kepada kekufuran akbar tanpa merincinya.

 Imam Ibnu Jarir telah meriwayatkan dalam tafsirnya [12061] : dari Al-Qamah dan Masruq bahwa keduanya bertanya kepada Ibnu Mas’ud tentang uang suap, maka beliau menjawab, ”Harta haram.” Keduanya bertanya, ”Bagaimana jika oleh penguasa?” Beliau menjawab, ”Itulah kekafiran.” Kemudian beliau membaca ayat ini:

” Dan barang siapa tidak memutuskan perkara dengan hukum Allah maka mereka itulah orang-orang yang kafir.”
Atsar ini sanadnya shahih sampai Ibnu Mas’ud, para perawinya tsiqah para perawi kutub as-sitah. [Tahdzibu Tahdzib VI/240,VI/41-42,III/497-498,II/380].

 Abu Ya’la dalam musnadnya [5266] meriwayatkan dari Masruq, ”Saya duduk di hadapan Abdullah Ibnu Mas’ud, tiba-tiba seorang laki-laki bertanya, ”Apakah harta haram itu ?” Beliau menjawab, ”Uang suap.” Laki-laki tersebut bertanya lagi, ”Bagaimana kalau dalam masalah hukum.” Beliau menjawab, ”Itu adalah kekufuran.” kemudian beliau membaca ayat:
”Dan barang siapa tidak memutuskan perkara dengan hukum Allah maka mereka itulah orang-orang yang kafir.”

Atsar ini juga diriwayatkan oleh Al-Baihaqi [X/139], Waki’ dalam Akhbar al-Qudhat I/52, dan disebutkan Al-Hafidz Ibnu Hajar dalam Al-Mathalibu Al-‘Aliyah II/250.

Ath-Thabrani dalam Al-Mu’jam Al-Kabir [IX/229 no. 9100] meriwayatkan dari Abul Ahwash dari Ibnu Mas’ud ia berkata, ”Uang suap dalam masalah hukum adalah kekufuran dan ia uang haram di antara manusia.” Al Haitsami dalam Majma’ [IV/199] berkata, ”Para perawinya perawi kitab ash-shahih.”

Waki’ dalam Akhbar al-Qudhat I/52 meriwayatkannya dengan lafal, ”Hadiah atas vonis [yang menguntungkan] adalah kekufuran, ia uang haram di antara kalian.”

Perbedaan pendapat ini juga dikuatkan oleh apa yang dikatakan oleh Ibnu al-Qayyim dalam Madariju As-Salikin I/336-337, di mana beliau mengatakan, ”Ibnu Abbas berkata, ”Bukanlah kekafiran yang mengeluarkan dari milah, tapi jika ia mengerjakannya berarti telah kafir namun bukan seperti orang yang kafir kepada Allah dan hari akhir.” Demikian juga pendapat Thawus…Ada yang mentakwil ayat ini kepada makna para penguasa yang meninggalkan berhukum dengan hukum Allah karena juhud [mengingkari]. Ini adalah pendapat Ikrimah, dan pendapat ini lemah karena mengingkari itu sendiri merupakan kekafiran baik ia sudah berhukum maupun belum. Ada juga yang mentakwilnya dengan makna meninggalkan berhukum dengan seluruh kandungan kitabullah…ada juga yang mentakwilnya dengan berhukum dengan hukum yang bertentangan dengan nash-nash secara sengaja, bukan karena salah dalam mentakwil. Ini disebutkan oleh Imam al-Baghawi dari para ulama secara umum. Ada juga yang mentakwilnya bahwa ayat ini untuk ahlul kitab…sebagian lainnya membawa makna ayat ini kepada kekafiran yang mengeluarkan dari milah.”

Pendapat yang dinukil oleh Ibnu al-Qayyim ini secara tegas menerangkan bahwa pendapat Ibnu Abbas yang dijadikan patokan sebagai pendapat bukanlah satu-satunya pendapat dalam masalah ini. Sebagian salaf ada yang membawa kekafiran dalam ayat ini kepada makna kafir yang mengeluarkan dari milah, sementara sebagian lainnya tidak demikian.

Dengan ini semua, kalau ada yang berpendapat bahwa setiap orang yang berhukum dengan selain hukum Allah telah kafir dengan kafir akbar yang mengeluarkan dari millah, maka ia telah mengikuti ulama salaf yang lebih dulu mengatakan hal itu. WalLaahu A’lam. [Amru, dari waqofatu ma’a Syaikh al Bani, Abu Isro’ As Suyuthi dengan perubahan].

Filed under: Aqidah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: