At Taujih

Mengawal Wacana Iqomatuddiin

JIHAD KITA LEMAH

Jihad adalah syari’at islam yang tidak bisa dibantah lagi. Jihad menjadi sebuah kewajiban aini’ dibanyak keadaan sebagaimana yang dijelaskan oleh para ulama’. Kewajiban jihad tidak dapat dirubah dan diganti dengan dipolitisir oleh pemikiran, hawa nafsu, atau dengan alasan Istihsan, karena andaikan saja ada metode yang lebih mulia dan lebih baik dari jihad, pasti Allah  akan mengajarkannya kepada kita. Dan tentunya hal itu akan lebih dahulu dikerjakan oleh para sahabat . Begitulah hukum Islam telah menetapkan bahwa jihad fisabilillah dan memerangi orang-orang musyrik merupakan kewajiban aini’ di beberapa kondisi dan menjadi kewajib kifa’i di kondisi lain. Dan kewajiban jihad ini adalah merupakan salah satu bentuk ibadah kita kepada Alloh  yang terbesar sehingga tidaklah layak seorang hamba yang serba terbatas mencari-cari pilihan lain dengan alasan kemaslahatan, istihsan atau yang lainnya.

Memang benar bahwa jihad merupakan sebuah hukum syar’I sebagaimana hukum-hukum syar’I lainnya. Yang dalam pelaksanannya disesuaikan dengan kemampuan dan kekuatan. Maka Sang Pembuat syari’atpun juga memerintahkan agar membangun sebuah kekuatan dan kemampun untuk pelaksanaan jihad, yaitu I’dad. Maka jelas kewajiban jihad tidak dapat dibantah. Adapun bila tidak mampu melaksanakannya dikarenakan keadaan lemah, maka wajib melaksanakan I’dad. (Al-jihad wal ijtihad, hal. 206)

Dengan demikian tidak ada jawaban lain kalau ada orang yang bertanya-tanya, apa yang akan kita lakukan agar sampai kepada kemulyaan Islam dan kekuasaan diatas muka bumi dalam kondisi seperti apa yang kita hadapi sekarang ini??? Tidak ada jawaban yang lain yang datang dari Al-Kitab dan As-Sunnah selain: I’dad kemudian Jihad. Sebagaimana yang terangkum dalam perkataan Ibnu Taimiyyah:

وَكَمَا يَجِبُ الْاِسْتِعْدَادُ لِلْجِهَادِ, بِإِعْدَادِ الْقُوَّةِ وَالرِّبَاطِ الْخَيْلِ فِي وَقْتِ سُقُوْطِهِ لِلْعَجْزِ فَإِنَّ مَا لاَيَتِمُّ الْوَاجِبُ إِلاَّ بِهِ فَهُوَ وَاجِبٌ.
“Dan sebagaimana wajibnya mempersiapkan kekuatan untuk berjihad dengan persiapan kekuatan dan menambatkan kuda dikala jihad tidak dikerjakan karena lemah, maka sesungguhnya sesuatu yang tidak bisa sempurna kecuali dengannya, maka sesuatu tersebut menjadi wajib.” (Majmu’ Fatawa XXVIII / 259)

Dan inilah yang menjadikan pembeda antara orang beriman dan orang munafiq sebagaimana yang dikatakan oleh Abdul Qodir bin Abdul Aziz dalam muqoddimah kitabnya Al-‘Umdah fii I’dadil ‘Uddah bersarkan firman Alloh:
وَلَوْ أَرَادُوا الْخُرُوجَ لأَعَدُّوا لَهُ عُدَّةً وَلَكِنْ كَرِهَ اللَّهُ انْبِعَاثَهُمْ فَثَبَّطَهُمْ وَقِيلَ اقْعُدُوا مَعَ الْقَاعِدِين
“Dan jika mereka mau berangkat, tentulah mereka menyiapkan persiapan untuk keberangkatan itu, tetapi Allah tidak menyukai keberangkatan mereka, maka Allah melemahkan keinginan mereka, dan dikatakan kepada mereka:”Tinggallah kamu bersama orang-oang yang tinggal itu”. (At-Taubah:46)

Sesungguhnya ketika kita katakan bahwa jihad itu adalah satu-satunya jalan meraih kemenangan dan kemuliaan, hal itu bukan berarti meremehkan wasilah-wasilah lainnya. Setiap kegiatan dakwah, tarbiyah dan tazkiyatunnafs serta mendidiknya sepaya berakhlaq dengan akhlaq Islam, perhatian terhadap belajar dan mengajar ‘ilmu syar’I serta berusaha untuk mewujudkan sebuah kelompok yang mempunyai nilai yang cukup tinggi baik akhlaq maupun keyakinan dan juga hal-hal syar’I lainnya yang membantu terwujudnya perkumpulan Islami yang bersih, Semuanya ini adalah masalah-masalah penting bagi setiap umat yang menginginkan kebangkitan. Dan ini termasuk dari pengertian I’dad secara luas. (Lihat Hukmul Islam Fid Dimuqrothiyyah, hal. 434).

Hukum I’dad Hari Ini
Abdul Mun’im mengatakan:” Dan I’dad – dengan pengertiannya yang luas – secara hukum syar’I hukumnya adalah wajib ‘aini kepada seluruh umat Islam baik indifidu maupun secara jama’ah, masing-masing sesuai dengan kemampuannya, karena Alloh tidaklah membebani seseorang kecuali yang ia mampu kerjakan walaupun sedikit kadar dan bentuknya. Sesungguhnya sedikit itu kalau digabungkan antara satu dan lainnya akan menjadi banyak, kuat dan berarti. Lihat Hukmul Islam Fid Dimuqrothiyyah, hal. 416

Syaikh Abu Qotadah pernah ditanya tentang hukum I’dad askari apakah hukumnya fardlu ‘ain bagi orang yang mampu. Beliau menjawab:”Saudaraku yang baik, ketahuilah bahwa jihad hari ini hukumnya adalah fardlu ‘ain bagi setiap muslim yang mampu. Maka jihad melawan orang-orang Yahudi hukumnya adalah fardlu ‘ain begitu pula jihad melawan para thoghut Arab maupun Ajam yang telah mengganti hukum syari’at, menghalalkan apa-apa yang telah diharamkan, membantu musuh-musuh Alloh dan membunuh orang-orang Islam lantaran mereka berpegang dengan agamanya. Harus diketahui bahwa jihad melawan mereka hukumnya adalah fardlu ‘ain. Maka jika sesuatu hukumnnya fardlu ‘ain, maka pembukaan dan wasilah-wasilahnyapun menjadi fardlu ‘ain pula, sebab wasilah hukumnya sama dengan tujuannya. Sedangkan I’dad adalah wasilah jihad yang tidak mungkin terlaksana kecuali dengannya. Dengan demikian maka hukum I’dad adalah fardlu ‘ain bagi setiap muslim yang mampu. Sedangkan I’dad askari adalah termasuk bagian dari I’dad. Akan tetapi pembagian macam-macam I’dad antara umat Islam harus dengan terorganisir dan tertib sehingga setiap orang berada dalam posisi yang sesuai dengan keperluan para mujahidin. Dengan demikian, posisinya dalam I’dad memenuhi kebutuhan umat Islam di negerinya.” http://www.tawhed.com/abuqatada publikasi tgl. 13 shafar 1422H.

qosamKetika bumi islam dirampas
Hari ini umat islam dalam keadaan lemah secara keseluruhan. Lemah dari segi minimnya personil maupun persenjatan. Ditambah lagi musuh yang menyerang umat islam bertambah banyak dan selalu meningkatkan kwalitas mereka. Tetapi semuanya itu tidaklah menjadikan umat islam menihilkan jihad sama sekali. Atau mungkin ada yang berpendapat cukup hanya dengan I’dad. Sehingga mempunyai personil yang ter tarbiyah ruhnya, jasadnya, fikriyahnya, dan jumlah yang memadai, kemudian berjihad.

Akankah kita mengatakan untuk ber I’dad bagi penduduk iraq yang telah dijajah oleh amerika. Akankah kita memerintahkan ber I’dad bagi penduduk moro yang dijajah pilipina. Dan akankah kita memerintahkan beri’dad pada penduduk-penduuk yang serupa dengan mereka seperti palestina, poso, ambon dan tempat lainnya ?. mereka harus keluar untuk melawan musuh walau dengan keadaan yang pas-pasan.

Ada pernyataan yang sangat bagus dari Syaikh Abdul akhir Hamad menukil perkataan Asy Syaukani dalam kitab As Sailul Jarror V/519 : ” Menyerang orang-orang kafir dan ahli kitab serta membawa mereka masuk kepada agama islam atau membayar jizyah atau membunuh, hal ini merupakan perkara yang sangat jelas dalam agama …… adapun tentang meninggalkan dan membiarkan mereka jika tidak memerangi, hal ini adalah sudah mansukh secara ijma’.
Lalu beliau berkata : ” dan sungguh disayangkan, sampai-sampai jihadud daf’I pun sebagian orang melarangnya. Dan masa kelemahan menjadi alasan dalam berpangku tangan. Setiap ada sebuah kelompok kebenaran berjihad melawan kelompok sesat yang diperintahkan di dalam nas-nas untuk diperangi, tiba-tiba ada orang yang mencela mereka dengan alasan kita berada dalam masa kelemahan sebagimana masa makkah, dan jihad pada masa lemah tidalah sah, ini jelas-jelas batil. Sesungguhnya agama ini telah sempurna dan nikmat Allahpun telah lengkap dan kita dituntut untuk melaksanakan perintah terakhir dari Rasulullah .

Masa Makkah telah selesai dan tidak ada lagi kata kembali ke masa tersebut. Dan sesungguhnya inti permasalahannya adalah bahwasanya orang lemah yang tidak mampu melaksanakan jihad ia tidak wajib berjihad, namun dia tidak berhak melarang orang lain yang melihat pada dirinya mempunyai kekuatan untuk berjihad kemudian ia berjihad. Dan juga bahwasanya kemampuan adalah syarat wajib bukan syarat sah.

Begitulah pemaparan dari Syaikh Abdul Akhir Hamad, bahwa jihad senantiasa ada dan tidak berhenti karena lemah. Akan tetapi jihad menjadi wajib pada saat bumi islam dirampas oleh orang-orang kafir. Semoga Allah menjadikan kita salah satu diantara orang-orang yang ber ‘Idad atau berjihad, karena tidak ada kelompok yang ketiga kecuali kelompok yang menyelisihi kebenaran. (Amru).

Iklan

Filed under: 'Adawah

At Thoifah Al Manshuroh

Definisi Thoifah Manshuroh

Kebanyakan para Ulama salaf berpendapat bahwa Ath Thoifah Al Manshurah adalah para ulama dan ahlul hadiits sebagaimana pendapat Al Bukhooriy dan Imam Ahmad bin Hambali, akan tetapi ada kerancuan pada pendapat mereka karena Rasulullah SAW bersabda :

…هذا الدين قا ئمة يقاتل عليه…
“… dien ini tegak yang berperang diatasnya…”
Juga riwayat-riwayat yang lainnya yang menyebutkan dengan jelas bahwa berperang itu merupakan ciri khas Thoifah ini, seperti riwayat Jaabir bin ‘Abdulloh, Imam bin Hushoin dan Yaziid bin Al Ashom dari Mu’aawiyah dan ‘Uqbah bin ‘Aamir, maka tidak mungkin Thoifah ini terdiri dari ulama saja akan tetapi mereka adalah Ahlul ‘Ilmi (Ulama) dan Ahlul Jihad (Mujahidin) oleh karena itu Imam An Nawawiy setelah menyebutkan perkataan Imam Al Bukhooriy, Imam Ahmad dan yang lainnya beliau berkata: ”Dan bisa jadi Thoifah ini terpisah-pisah diberbagai macam kalangan orang-orang beriman, diantara mereka ada ahli perang yang pemberani, ada para fuqoha, ada para ahli hadits, ada orang yang zuhud dalam melaksanakan amar ma’ruf nahi munkar, dan ada pula yang ahli dalam berbagai macam kebajikan dan tidak harus mereka itu berkumpul semuanya akan tetapi tersebar diberbagai penjuru dunia.” (Sahih Muslim Bisyarh An Nawawi, XIII /67)

begitu juga Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah Rahimahullah didalam fatwanya yang berkenaan dengan perang melawan orang-orang Tartar yang mengucapkan dua kalimat Syahadat namun berhukum dengan selain syari’at Islam, beliau berpendapat bahwa orang yang berjihad adalah orang-orang yang paling berhak masuk dalam kriteria Thoifah Manshuroh sebagaimana perkataannya: ”Sedangkan kelompok yang berada di Syam, Mesir dan lainnya mereka pada saat ini adalah orang-orang yang berperang melawan Dienul Islam dan mereka adalah orang-orang yang paling berhak masuk dalam Thoifah Manshuroh yang disebut oleh Nabi SAW didalam haditsnya yang shahih dan masyhur :

لا تزال طائفة من أمتى ظاهرين على الحق لا يضرهم من خالفهم ولا من خذلهم حتى تقوم الساعة وفي رواية مسلم : لا يزال أهل الغرب
“Akan selalu ada sekelompok dari ummatku yang dzohir diatas kebenaran, mereka tidak peduli dengan orang-orang yang menyelisihi dan mentelantarkan mereka hingga terjadi qiamat, dan diriwayat Muslim berbunyi :”Akan senantiasa ada ahlul ghorb” (orang-orang barat)
(Majmu’ Fatawa, XIII / 531)

Maka tidak diragukan lagi bahwa ‘ulamaa’ ‘aamiliin (Para ulama’ yang mengamalkan ilmunya) adalah orang-orang yang pertama masuk dalam kelompok ini dan sisanya seperti Mujahidin dan yang lainnya mengikuti mereka.

Dan yang mendorong para salaf untuk mengatakan bahwa Thoifah tersebut adalah para ulama, karena tidak ada perbedaan pendapat antara kaum muslimin tentang jihad kala itu, sedang daerah perbatasan telah dipenuhi dengan tentara dan pasukan yang dihadapkan kearah negara-negara musuh, dan juga karena yang menjadi perusak dien pada zaman itu adalah bid’ah dan kesesatan-kesesatan yang besar sehingga orang yang berperang untuk melawan semua itu adalah para ulama.

Sedangkan kita pada hari ini sangat membutuhkan kesungguhan para ulama dan Mujahidin yang masing-masing berada pada medannya, sesungguhnya dien ini tidak akan tegak hanya dengan ilmu saja, namun harus dengan keduanya secara bersamaan sebagaimana firman Alloh dalam surat Al Hadiid :

لَقَدْ أَرْسَلْنَا رُسُلَنَا بِالْبَيِّنَاتِ وَأَنْزَلْنَا مَعَهُمُ الْكِتَابَ وَالْمِيزَانَ لِيَقُومَ النَّاسُ بِالْقِسْطِ وَأَنْزَلْنَا الْحَدِيدَ فِيهِ بَأْسٌ شَدِيدٌ وَمَنَافِعُ لِلنَّاسِ وَلِيَعْلَمَ اللَّهُ مَنْ يَنْصُرُهُ وَرُسُلَهُ بِالْغَيْبِ إِنَّ اللَّهَ قَوِيٌّ عَزِيزٌ
“Sesungguhnya Kami telah mengutus rasul-rasul Kami dengan membawa bukti-bukti yang nyata dan telah Kami turunkan bersama mereka Al Kitab dan neraca (keadilan) supaya manusia dapat melaksanakan keadilan. Dan Kami ciptakan besi yang padanya terdapat kekuatan yang hebat dan berbagai manfaat bagi manusia, (supaya mereka mempergunakan besi itu) dan supaya Alloh mengetahui siapa yang menolong (agama) Nya dan rasul-rasul-Nya padahal Alloh tidak dilihatnya. Sesungguhnya Alloh Maha Kuat lagi Maha Perkasa”.(QS. Al Hadiid : 25)

Ibnu Taimiyyah berkata :”Dan sekali-kali tidak akan tegak Dien ini kecuali dengan kitab, mizan (timbangan) dan besi, kitab sebagai petunjuk dan besi sebagai pembela, sebagaimana firman Alloh:لَقَدْ أَرْسَلْنَا رُسُلَنَا… “Sesungguhnya Kami telah mengutus rasul-rasul Kami…”. Maka dengan kitab akan tegak ilmu dan dien, dengan mizan (neraca) akan tegak hak-hak dan transaksi serta serah terima keuangan dan dengan besi akan tegak hukum huduud.” (Majmu’ Fatawa, XXXV/361). Juga berkata : “dan pedang-pedang kaum muslimin sebagai pembela syari’at yang berupa Al Kitab dan As Sunnah” sebagaimana yang dikatakan oleh Jaabir bin ‘Abdulloh: ”Kami diperintahkan oleh Rasulullah untuk memukul dengan ini, yaitu pedang, orang-orang yang keluar dari ini, yaitu Al Qur’an” (Majmu’ Fatawa, XXV/365)

Beliau berkata : “Sesungguhnya tegaknya dien itu dengan kitab yang menjadi petunjuk dan besi yang menjadi pembela, sebagaimana yang disebutkan oleh Alloh SWT”. (Majmu’ Fatawa, XXVIII/396 dan seterusnya).

Saya katakan :”Dengan demikian dapat dikatakan bahwa Thoifah Manshuroh adalah Thoifah Mujaahidah (kelompok yang berjihad) yang mengikuti Manhaj Syar’i yang lurus yaitu Manhaj Ahlus Sunnah Wal Jama’ah.
lebih lengkapnya download di ling ini Download

Filed under: download buku

KETIKA PARA DA’I DIAWASI

poliKita hari ini masih merasakan nikmatnya beribadah dibulan ramadhan. Umat Islampun juga mengisi kegiatan-kegiatan ramadhan dengan berbagai acara-acara keislaman. Diantaranya adalah ceramah di masjid-masjid. Bahkan memasuki penghujung akhir ramadhan yang merupakan hari-hari mulia, ummat islam ramai-ramai mengadakan I’tikaf di masjid-masjid. Mereka tahu bahwa pada sepuluh akhir ramadhan Allah Ta’ala menurunkan lailatul qodar. Yaitu suatu malam yang lebih baik dari seribu bulan. Artinya, ibadah seseorang pada malam tersebut lebih baik dari pada ibadah selama seribu bulan dibulan yang lain.

Pengawasan terhadap aktivitas dakwah
Bersamaan dengan bulan ramadhan ini, ada sebuah pernyataan yang mengagetkan bagi ummat Islam. Apa yang dilansir beberapa media, diantaranya Republika.co.id tanggal 22 Agustu 2009 menjelaskan bahwa Markas Besar Kepolisian Indonesia (Mabes Polri) memerintahkan kepolisian di daerah meningkatkan upaya pencegahan tindak terorisme. Salah satu bentuknya adalah menggiatkan pengawasan terhadap ceramah keagamaan dan kegiatan dakwah.

Kepala Divisi Humas Mabes Polri, Irjen Nanan Soekarna, mengatakan, jika dalam materi dakwah itu ditemukan ajakan yang bersifat provokasi dan melanggar hukum, aparat akan mengambil tindakan tegas. Pengawasan itu, terang Nanan, bukan bermaksud membatasi ceramah atau dakwah.

Namun, upaya itu dipandang perlu untuk memantau dan merekam, apakah ada upaya provokasi dan pelanggaran hukum. ”Polisi tidak akan menghalangi dakwah dan tausiyah. Tapi, kita akan mencoba nempel di situ untuk lebih terbuka dan memantau,” ujar Nanan saat jumpa pers di Mabes Polri, Jumat (21/8). Jika tidak ada aparat saat itu, Nanan meminta masyarakat untuk memberikan informasinya. ”Kalau melanggar, akan kita luruskan. Kalau tidak bisa, akan kita tindak sesuai peraturan yang berlaku.”

Menanggapi penyataan tersebut, ketua Umum PP Muhammadiyah, Din Syamsuddin, menilai, jika dakwah sampai diawasi, itu merupakan kemunduran. Jarum jam sejarah, katanya, akan diputar kembali ke arah otoritarian dan penegakan hukum yang represif. ”Padahal, itu semua sudah dikoreksi melalui reformasi. Ini akan mengeliminasi prestasi demokrasi yang sudah dicapai bangsa ini. Kalau itu sampai terjadi, jelas set back,” ujarnya.

Ketua Dewan Dakwah Islam Indonesia (DDII), Adian Husaini, menolak bila dakwah dikaitkan dengan aksi terorisme. Sebab, kegiatan dakwah selama ini berjalan baik dan tidak ada masalah. Dia pun mempertanyakan, dakwah seperti apa yang mesti diawasi. ”Jangan membuat suasana antagonis, suasana permusuhan antara pemerintah dan umat Islam. Justru seharusnya umat Islam dirangkul. Jelas ini akan meresahkan umat Islam dan memunculkan situasi adu domba,” paparnya.

Reaksi keras juga datang dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang merasa keberatan atas kebijakan polisi mengawasi pengajian umat Islam selama Ramadan. MUI khawatir langkah itu akan menimbulkan keresahan dan saling curiga di masyarakat. “Itu tidak tepat dan berlebihan,” ujar Ketua MUI Amidan.

Menurutnya, selama ini tidak ada ceramah yang menganjurkan orang melakukan terorisme, apalagi selama Ramadhan. Semua ceramah dan kegiatan keagamaan bertujuan untuk meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah. Amidan mengatakan kegiatan terorisme di Indonesia selama ini dilakukan organisasi tersembunyi atau bawah tanah bukan secara terbuka seperti melalui ceramah di mesjid atau majelis taklim.

Kejadian di atas adalah salah satu bentuk ganjalan dakwah. Belum lagi jika kita mendengar adanya pemberitaan media secara besar-besaran bahwa orang yang berjenggot, istrinya berjilbab besar dan bercadar, serta aktiv diberbagai kegiatan keagamaan, mereka itulah kelompok yang berpaham sesat. Ini semua menambah permasalahan dakwah pada masa yang akan datang.

Sudah menjadi sunnatullah
Dakwah menegakkan tauhid dari masa-kemasa memang tidak pernah luput dari berbagai rintangan. Pada zaman dahulu nabi kita Muhammad  dianggap orang gila dan penyihir. Bahkan beliau diusir dari Makkah karena mendakwahkan tauhid. Nabi Ibrahim  juga diusir dari kampung halaman karena mengajak pada tauhid. Maka, jika para da’I hari ini dicurigai, diawasi dan mungkin ditangkap karena mengajak pada tauhid adalah sesuatu yang lumrah. Bisa jadi masa orde baru akan terulang lagi. Jika ada seorang da’I yang mengajak pada aqidah yang benar, akan tetapi bertentangan dengan adat dan kebiasaan serta undang-undang buatan pemerintah akan ditangkap tanpa proses hukum.

Perlu diketahui, sesungguhnya tetap teguh dalam mengucapkan kebenaran di hadapan para penguasa adalah pilihan terbaik. Memperdengarkannya kepada mereka apa yang mereka benci berupa tauhid, mencela sesembahan-sesembahan mereka dan baro’ terhadap mereka dan terhadap para penyembah dan pendukungnya. Hal tersebut adalah pilihan bagi orang yang ingin menjadi pembela din Allah Ta’ala dan menjadi golongon Thoifah Manshuroh. Mereka tidak perduli dengan orang-orang yang memusuhi mereka serta orang-orang yang enggan menolong mereka, sampai datang keputusan Allah ta’ala sedangkan mereka tetap seperti itu.
Rasulullah  juga telah memerintahkan kita untuk tetap menyampaikan kebenaran sebagaimana sabdanya :
أَلاَ لاَ يَمْنَعَنَّ أَحَدَكُمْ رَهْبَةُ النَّاسِ ، أَنْ يَقُولَ بِحَقٍّ إِذَا رَآهُ أَوْ شَهِدَهُ ، فَإِنَّهُ لاَ يُقَرِّبُ مِنْ أَجَلٍ ، وَلاَ يُبَاعِدُ مِنْ رِزْقٍ

Janganlah sekali-kali ketakutan kalian kepada orang itu menghalangi kalian untuk berkata yang benar, jika ia melihatnya atau menyaksikannya. Karena dengan mengatakan yang benar itu tidak dapat memperpendek ajal, atau menjauhkan rizki. [ HR. Ahmad ].

Imam Ibnul Qoyyim rahimahullah di dalam kitabnya yang berjudul Ighotsatul Lahfan berkata: “Di antara tipu daya musuh Alloh ta’ala adalah: ia menakut-nakuti orangorang beriman terhadap bala tentara dan antek-anteknya; sehingga kalau sudah takut, orang-orang beriman tidak akan lagi berjihad melawan mereka, tidak menyuruh mereka berbuat ma’ruf dan tidak melarang mereka berbuat munkar. Dan ini adalah termasuk tipu daya musuh yang paling besar terhadap orang-orang beriman. Dan Alloh ta’ala pun telah memberitakan kepada kita tentang hal ini, dalam firman-Nya yang berbunyi:

إِنَّمَا ذَلِكُمُ الشَّيْطَانُ يُخَوِّفُ أَوْلِيَاءَهُ فَلَا تَخَافُوهُمْ وَخَافُونِ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ
Sesungguhnya dia itu adalah syetan yang menakut-nakuti para pengikutnya. Maka janganlah takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku jika kalian beriman. [ QS. Ali Imran : 175 ].

Menurut seluruh ahli tafsir, yang dimaksud ayat tersebut adalah menakut-nakuti kalian terhadap pengikut-pengikutnya. Qotadah berkata: Menampakkan mereka itu besar di dada kalian. Oleh karena itu Allah ta’ala berfirman: Maka janganlah kalian takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku jika kalian beriman.

Dan jika iman seseorang itu kuat, akan hilang dari hatinya rasa takutnya terhadap para pengikut syetan. Dan jika imannya lemah, akan menguatlah rasa takutnya kepada mereka.” Sampai di sini perkataan Ibnul Qoyyim.

Mengatakan kebenaran adalah pilihan orang yang beriman. Bahkan sebesar-besar jihad adalah mengatakan kebenaran dihadapan pemimpin yang ja’ir. Allah juga telah menetapkan bahwa jika datang kebenaran, yang batil pasti akan lenyap. Tinggal kita, sabar dan teguhkah kita untuk mengatakan kebenaran sehingga Allah melenyapkan kebatilan dengan dakwah kita ?. Atau kita mundur dan diam sehingga kebatilan yang merajalalela. [ Amru ].

Filed under: analisa

JIHADPUN JUGA MENAHAN NAFSU

PUASAKita telah memasuki bulan ramadhan dan hampir selesai. Bulan yang penuh barokah dan pahala yang melimpah. Pada bulan tersebut ummat islam dilatih untuk menahan nafsu dari berbagai hal yang dilarang Allah Ta’ala.

Puasa adalah ibadah yang bernuansa jihad melawan hawa nafsu. Orang yang tidak bisa menahan nafsu syahwatnya, nafsu amarahnya, nafsu seksualnya, dan nafsu-nafsu lainnya selama berpuasa, berarti puasanya akan ditolak Rabbul Izzati. Rasulullah  pernah menegaskan dengan sabdanya:
مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِى أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ
“Barangsiapa yang tidak meninggalkan ucapan dan perbuatan dusta, maka Allah tidak butuh darinya untuk meninggalkan makanan dan minumannya.” [ HR. Bukhori ].

Inilah jihad muslim yang tiada hentinya, karena nafsu al ammarah bis suu’ senantiasa menyertainya, baik di kala jaga atau tidur. Namun, selain jihad melawan hawa nafsu ini, umat Islam diperintahkan juga berjihad melawan kekafiran dan kesyirikan. Jihad untuk mempertahankan diri dari serangan kaum kufar ini sering disebut dengan jihad qitali.

Allah  telah mensyariatkan jihad melawan kekufuran sebagai sarana ibadah dan perjuangan untuk menyiapkan individu muslim yang mampu membawa beban untuk mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat. Ibadah puasa penuh dengan kebaikan dan sumber pengkaderan untuk menyiapkan generasi yang mau berkorban lii’laai kalimatillah.

Antara jihadun nafs dengan jihadul kuffar
Jihad melawan orang-orang kuffar adalah merupakan jihad yang tertinggi. Bahkan ia merupakan ibadah yang mulia setelah keislaman seseorang. akan tetapi ada sebagian kaum Muslim memahami, bahwa jihad melawan hawa nafsu merupakan jihad besar yang nilainya lebih utama dibandingkan dengan jihad fi sabilillah dengan makna perang fisik melawan orang-orang kafir. Mereka menyandarkan pendapat mereka pada sebuah sebuah hadits yang berbunyi:
“Kita baru saja kembali dari jihad kecil menuju jihad yang besar. Para shahabat bertanya, “Apa jihad besar itu? Nabi saw menjawab, “jihaad al-qalbi (jihad hati). ‘ Di dalam riwayat lain disebutkan jihaad al-nafs”.178(178 KanZ al-‘Ummaal, juz 4/616; Hasyiyyah al-Baajuriy, juz 2/ 265)

Berdasarkan hadits ini, mereka berhujjah bahwa jihad memerangi orang kafir adalah jihad kecil (jihad al-ashghar), sedangkan jihad memerangi hawa nafsu adalah jihad besar (jihad al-akbar). Walhasil, jihad memerangi hawa nafsu memiliki nilai yang lebih tinggi dibandingkan jihad memerangi orang-orang kafir. Sesungguhnya, kesimpulan semacam ini adalah kesimpulan salah, akibat kesalahan dalam memahami nash-nash syariat.

Status hadits jihaad al-nafs lemah, baik ditinjau dari sisi sanad maupun matan. Dari sisi sanad, isnaad hadits tersebut lemah (dla’if). Al-Hafidz al-‘Iraqiy menyatakan bahwa isnad hadits ini lemah. Menurut Al-Hafidz Ibnu Hajar al-Asqalaaniy, hadits tersebut adalah ucapan dari Ibrahim bin ‘Ablah.179 (179 Lihat Imam al-Dzahabiy, Syiar A’laam al-Nubalaa’, juz 6/ 324-325. Di dalam kitab ini dituturkan, bahwasanya Mohammad bin Ziyad al-Maqdisiy pernah mendengar Ibrahim bin ‘Ablah berkata kepada orang-orang yang baru pulang dari peperangan (jihad), “Kalian baru saja kembali dari jihad kecil ffihaadal-ashghar), lantas, apayang kamu lakukan dalam jihad al-qalbiy.” Al-Hafidz al-Suyuthiy juga menyatakan, bahwa sanad hadits ini lemah (dla’if).

Sedangkan dalil-dalil dari alqur’an dan sunnah telah membantahnya, diantaranya adalah :
أَجَعَلْتُمْ سِقَايَةَ الْحَاجِّ وَعِمَارَةَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ كَمَنْ آَمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآَخِرِ وَجَاهَدَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ لَا يَسْتَوُونَ عِنْدَ اللَّهِ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ
“Apakah (orang-orang) yang memberi minuman kepada orang-orangyang mengerjakan haji dan mengurus Masjidil Haram, kamu samakan dengan orang-orangyang beriman kepada Allah dan hart kemudian serta berjihad di jalan Allah? Mereka tidak sama disisi Allah; dan Allah tidak memberikan petunjuk kepada kaum yang splim.” [al-Taubah:19].

Imam Bukhari meriwayatkan sebuah hadits dari Anas bin Malik , bahwasanya Rasulullah  bersabda:
رِبَاطُ يَوْمٍ فِى سَبِيلِ اللَّهِ خَيْرٌ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا عَلَيْهَا
“Berjaga-jaga pada saat berperang di jalan Allah lebih baik daripada dunia dan seisinya”. [HR. Imam Bukhari] Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Muslim, Turmudziy, dan lain-lain.
فَإِنَّ مَقَامَ أَحَدِكُمْ فِي سَبِيلِ اللهِ خَيْرٌ مِنْ صَلاَةِ سِتِّينَ عَامًا خَالِيًا
“Sesungguhnya, kedudukan kalian di dalam jihad di jalan Allah, lebih baik daripada sholat 60 tahun secara sendiri.” [HR. Imam Ahmad].

Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Turmudziy disebutkan, bahwa jihad lebih baik daripada sholat di dalam rumah selama 70 tahun. Masih banyak lagi riwayat yang menuturkan keutamaan dan keagungan jihad di atas amal kebaikan yang lain.

Apakah adil, kita mengatakan perang yang dilakukan oleh saudara-saudara kita di medan perang adalah jihad yang paling rendah?. Ketika dalam hitungan menit saja tubuh-tubuh mereka meledak, berpencarlah kaki-kaki mereka, tubuh-tubuh mereka melayang (mengambang) di air, darah berceceran dimana-mana, sampai-sampai jenazah-jenazah mereka tidak bisa dikuburkan (karena telah hancur).

Itu semua mereka lakukan untuk mendapatkan keridhoan-Nya. Dimana letak kerendahan dari jihad yang dilakukan oleh pemuda-pemuda tadi jika dibandingkan dengan aktivitas puasa kita, yang berbuka dengan makanan lezat, lalu bagaimana mungkin aktivitas puasa itu dinilai sebagai jihad yang paling besar? Demi Allah! Ini adalah pemberian nilai yang tidak sesuai. Jika kita menyampaikan permasalahan ini sebelumnya pada generasi pertama (Islam) maka mereka tidak akan pernah menyampaikan pandangan hukum berbeda, yaitu jihad adalah lebih berat dan tinggi dibandingkan jihadun nafs.

Jihadun nafs bagi seorang mujahid
Walaupun jihad di medan peperangan merupakan jihad yang agung, akan tetapi bagi seorang mujahid tidak diperbolehkan bangga dengan amal-amalnya. Kemudian meremehkan untuk mendekatkan diri dengan berbagai amal shalih yang menyebabkan keistiqomahan dia dijalan jihad.

Sudah banyak para mujahid dan aktivis Islam yang gugur ditengah jalan karena meremehkan amalan-amalan yang menjadikan hatinya dekat dengan Allah Ta’ala. Mereka tinggalkan qiyamullail, puasa sunnah, baca alqur’an, dzikir-dzikir yang diperintahkan dan amalan-amalan lainnya, karena telah menjadi mujahid atau aktivis Islam. Dan ketika menghadapi berbagai ujian, entah penyiksaan, ataupun kesempitan hidup, mereka berguguran ditengah jalan. Ketahuilah bahwa jihad cakupannya luas. Ia tidak hanya menghadapi musuh-musuh Islam dari orang-orang kafir. Akan tetapi ia adalah bentuk perlawanan kepada berbagai hal yang bertentangan dengan Islam. Imam Ibnul qoyyim membagi tingkatan jihad menjadi 4 bagian, diantaranya adalah :

1. Jihad menundukkan hawa nafsu meliputi 4 tahap:
– Berjihad dengan mempelajari ajaran agama Islam demi kebahagiaan dunia dan akherat.
– Jihad melaksanakan Ilmu yang diperolehnya itu, karena ilmu tanpa amal adalah tidak berarti dan bahkan membahayakan.
– Jihad dengan berdakwah berdasarkan Ilmu yang benar dan praktek nyata.
– Jihad menekan diri agar sabar terhdap cobaan dakwah berupa gangguan manusia (Empat hal inilah makna yang terkandung dalam surat Al-Ashr, yang kata Imam syafi’ seandainya Allah tidak menurunkan ayat kecuali Al-‘Ashr, niscaya cukup bagi manusia).

2. Jihad melawan syaithon meliputi dua hal:
– Jihad melawan pemikiran syaithon berupa syubhat dan keragu-raguan yang dapat merusak keimanan. Perlawanannya adalah dengan keyakinan.
– Jihad melawan syaithon yang membisikan agar terjerumus kepada syahwat hawa nafsu. Caranya dengan sabar dan menahan diri dengan berpuasa. (Lihat ,QS. As-Sajdah : 2)

3. Jihad melawan kaum kufar dan munafikin, melalui 4 tahap:
– Dengan Kalbu
– Dendan lisan
– Dengan harta
– Dengan tangan.
Jihad melawan kaum kuffar lebih utama dengan tangan, sementara terhadap kaum munafikin dengan lisan.

4. Jihad melawan kedholiman, kemungkaran dan bid’ah ditempuh melalui tiga
tahap :
– Dengan tangan kalau mampu, kalau tidak
– Dengan lisan, kalau tidak mampu
– Minimal dengan hati (HR.Muslim)
Demikian 13 tingkatan jihad yang telah dilaksanakan secara sempurna oleh Rasulullah . [Ibnul Qoyyim Al-Jauziyah, Zaadul Ma’ad, Juz 3 hal 6-12].

Puasa ramadhan adalah bulan jihad dan tazkiyah. Bagi seorang pejuang Islam tentunya tidak akan menyianyiakan kesempatan ini untuk meningkatkan ibadah. Jika kita belum ditaqdirkan untuk berjihad melawan orangorang kafir, maka kita berusaha untuk berjihad dengan sesuatu yang bisa kita lakukan. Berdo’alah untuk diri kita dan saudara-saudara kita seluruh mujahidin di seluruh dunia pada waktu sahur. Berdo’alah dengan do’a Umar Ibnul Khottob :
اللَّهُمَّ ارْزُقْنِى شَهَادَةً فِى سَبِيلِكَ ، وَاجْعَلْ مَوْتِى فِى بَلَدِ رَسُولِكَ – صلى الله عليه وسلم
Ya Allah, berikanlah aku rizki mati syahid dijalan-Mu. Dan jadikanlah kematianku di negeri rasul-Mu salllahu ‘alaihi wasallam [ diriwayatkan oleh Bukhori ].

Dengan do’a yang ikhlas dan amal yang shalih, serta keinginan yang kuat untuk berjihad dan mati syahid, Allah Ta’ala pasti akan memberikannya walaupun ia mati di atas tempat tidur. Rasulullah  bersabda :
مَنْ سَأَلَ اللَّهَ الشَّهَادَةَ بِصِدْقٍ بَلَّغَهُ اللَّهُ مَنَازِلَ الشُّهَدَاءِ وَإِنْ مَاتَ عَلَى فِرَاشِهِ
Barang siapa memohon Allah untuk mati syahid dengan sungguh-sungguh, Allah akan memberinya kedudukan syuhada’ walaupun ia mati di atas tempat tidurnya. [ HR. Muslim ].

Semoga Allah Ta’ala senantiasa memberikan kekuatan pada kita untuk mendapatkan pahala di bulan ramadhan ini, serta mengisinya dengan berbagai amal shalih. Dan semoga Allah Ta’ala mengistiqomahkan kita dijalan ini hingga kita meraih syahadah. [amru].

Filed under: syubhat

BULAN RAMADHAN, BULAN JIHAD DAN KEMENANGAN

annajah EDISI 48Bulan Ramadhan adalah bulan kekuatan ruhiyah yang mendorong seseorang untuk beramal. Sehingga seorang mukmin berkeyakinan bahwa ibadah yang telah Allah Ta’ala wajibkan akan menguatkan ruhnya dan mengembalikan kemuliaannya.

Sejarah telah mengingatkan kita tentang peristiwa kemenangan-kemenangan besar yang menjadi titik awal perubahan Islam. Para ulama’ ahli tarikh juga telah menulis sejarah kemenangan Islam dibulan ramadhan. Perang Badar, dimana 300 tentara Islam melawan sekitar 1000 orang kafir, terjadi pada bulan Ramadhan tahun 2 Hijriah. Perang Uhud juga terjadi pada bulan Ramadhan tahun 2 Hijriah. Dalam perang yang akhirnya dimenangkan tentara kafir itu, 1000 tentara Islam melawan 3000 orang kafir. Perang Ahzab terjadi pada bulan Ramadhan tahun 5 Hijriah, sedang penaklukkan kota Makkah terjadi pada bulan Ramadhan tahun 8 Hijriah. Perang Tabuk, perang pertama tentara Islam melawan kekuatan adikuasa Romawi ketika itu terjadi pada tahun 9 Hijriah. Bahkan kisah penyerbuan Spanyol yang menandai awal masuknya Islam ke daratan Eropa yang dipimpin oleh panglima Thariq bin Ziyad, juga terjadi pada bulan Ramadhan tahun 92 Hijriah. Ini artinya bulan ramadhan adalah bulan jihad, kemenangan dan kemuliaan.

Akan tetapi ramadhan kita pada masa-masa ini tidak dapat sebagaimana ramadhan pada masa kekhilafahan masih tegak. Ramadhan datang sedangkan ummat islam dalam keadaan didholimi. Lihatlah bagaimana jeritan dan luka umat islam di Palestina, Iraq, Afganistan, Pilipina selatan dan berbagai negeri Islam. Mereka mendapatkan sebelum ramadhan luka, dan kemudian datang ramadhan dengan luka baru.

Jika musuh-musuh Islam menghentikan serangan pada bulan ramadhan karena menghormati bulan tersebut (kata mereka), akan tetapi mereka datang setelah ramadhan dengan berbagai senjata untuk menghancurkan ummat Islam.
Bersamaan dengan mengalirnya darah ummat islam, kita akan mengenang beberapa kesuksesan dan semangat yang tinggi dari mujahidin diberbagai bumi jihad agar meneguhkan hati kita. Dan ramadhan tetap menjadi bulan jihad serta kemenangan walaupun ummat Islam lemah.

Mujahidin dibulan ramadhan
Ramadhan merupakan bulan jihad. Rasulullah  dan para Shahabat  telah memberi umat ini keteladanan, bahwa di bulan penuh barokah ini pintu-pintu surga terbuka lebar, sebab itu Khairu Ummah tersebut mengisinya dengan ibadah dan jihad. Hal inilah yang memberi semangat dan inspirasi para Mujahidin diberbagai bumi Islam untuk mengintensifkan serangannya ke wilayah-wilayah musuh. Di bawah ini akan kami cuplikkan beberapa kejadian-kejadian penting di bumi jihad.

Somalia
Pada paruh pertama Ramadhan 1428 H, para Mujahidin Somalia yang pernah membuat malu tentara AS (difilmkan oleh Hollywood dengan judul “Blackhawk Down’) ini telah berhasil menyerang markas kepolisian yang diback-up tentara penjajah Ethiopia di Mogadishu. Dalam serangan ini dilaporkan, banyak dari tentara Ethiopia tewas. Serangan ini dilanjutkan dengan operasi malam hari, pada 16 Ramadan 1428H, di mana sejumlah Mujahidinh Somalia dari Youth Islamic Movement menyerang sebuah kendaraan militer dekat Arafat Hospital di Al-Masani Street di Mogadishu. Banyak tentara kafir Ethiopia mati. Dalam serangan malam hari tersebut, para Mujahidin Somalia mendapatkan banyak ghanimah berupa amunisi berikut senjata api dari berbagai jenis.

Iraq
Sedangkan di Iraq, Pada tanggal 15 oktober 2006 bertepatan dengan 22 romadhon 1427 Hijriah, Majelis Syuro Mujahidin Irak bersama dengan kelompok yang beraliansi dengan mereka di tambah dengan Harokah Fursan Ul-Tauhid dan Jundu Millah Ibrohim serta berbagai kabilah dan suku di Irak memproklamirkan berdirinya daulah islamiyah Iraq, dengan wilayah meliputi Baghdad, Al-Anbar, Diyala, Kirkuk, Sholahuddien, Ninawah, Babil dan Al-Wassat. Dan di Ba’iat Asy-Syaikh Al-Mujahid Abu ‘Umar Abdulloh Ar-Rosyidi Al- Husaini Al-Quroisyi Al-Baghdadi sebagai Amirul Mukminin daulah islamiyah Iraq.

Berikut ini kami petikkan salah satu ucapan bai’at dari kelompok-kelompok Jihad tadi atas Abu Umar Al Quroisy Al Husaini Al Bagdadi;”Saya katakan kepada amir dan syaikh kami yang tercinta: laksanakanlah apa yang Allah perintahkan di dalam Al Qur’an dan As Sunnah. Sungguh demi Allah yang telah mengangkat langit tanpa tiang seandainya engkau membawa kami menyeberang lautan, pasti kami akan menyeberang bersamamu. Dan tidak ada seorangpun diantara kami yang tertinggal. Karena sejak hari ini kami adalah tentara-tentaramu yang gagah berani dan tulus. Maka bawalah kami mengarungi berbagai musibah dan mara bahaya apapun yang engkau inginkan, pasti tidak akan engkau dapatkan dari kami selain mendengar dan taat pada apa yang engkau katakan dan mentaati apa yang engkau perintahkan.”

Afganistan
Bulan Ramadhan tahun 1422 H negara Islam Afghanistan dibawah pimpinan Mulla Mohammad Omar penuh diisi dengan dentuman dan hujan lebat misil-misil dan bom-bom termasuk beberapa bom terbesarnya, daisy cutter, buatan Amerika.

Daisy cutter, nama yang diberikan kepada bom yang beratnya 7,5 ton yang dijatuhkan dengan payung terjun dari B-52 dan meledak beberapa meter di atas tanah yang ledakannya begitu hebat dengan menghancurkan dan membakar apa saja yang ada dipermukaan tanah seluas beberapa ratus meter. Daisy cutter ini adalah salah satu dari ratusan bom yang jatuhkan kepada mereka yang berada di sekitar Tora Bora, Afghanistan bagian timur, kemarin, Selasa, 11 Desember 2001. Daerah yang menurut Bush dan kelompok aliansi utara diperkirakan tempat Osama Bin Laden dengan Al Qaedanya berada dan mempertahankan diri.
Tapi dengan izin Allah Ta’ala syaikh Usamah dan para mujahidin selamat. Hanya ada beberapa yang gugur menemui syahid. Padahal perkiraan Amerika, syaikh Usamah dan al qoida akan hancur setelah penyerangan tersebut.

Palestina
Di Palestina, Ramadhan yang agung dan segala aktivitas yang ada di dalamnya memiliki warna khusus dan eksklusif. Dalam bulan Ramadhan, aksi jihad dan istisyhadiyah memiliki nuansa tersendiri. Para pemuda muslim yang merindukan syahadah berlomba dalam jihad dan aksi syahid. Mereka berbodong-bondong memburu syahadah demi menggapai pahala yang agung. Sedang aksi perlawanan dan penyerangan terhadap penjajah Israel, pada bulan Ramadhan juga menunjukkan gejala istimewa bila dibandingkan dengan bulan-bulan lain. Puasa tak pernah menyurutkan semangat mujahidin Palestina, justru sebaliknya.

Apa Selanjutnya?
Di hari-hari yang mengingatkan kita kepada peristiwa besar, Perang Badar Kubra, mengisahkan kepada kita sebuah episode kemenangan fiah qalilah (kelompok yang kecil) terhadap fiah katsirah (kelompok banyak) yang kafir. Yang menjelaskan kepada umat manusia, bahwa kemenangan milik orang-orang mukmin yang memiliki aqidah yang kokoh (aqidah rasikhah) di dalam hati, bukan sekadar senjata dan peralatan canggih. Itulah yang dapat disaksikan diberbagai bumi jihad hari ini. Berkat kemuliaan Ramadhan, dua atau tiga orang mujahidin mampu mengalahkan musuh-musuhnya dengan imannya yang kokoh dalam hati sebelum dengan senjata dan amunisi, dalam menghadapi sepasukan militer lengkap dengan persenjataan super canggih.

Apa yang kita saksikan dari perlombaan para pemuda Islam menyongsong syahadah fi sabilillah, khususnya di bulan Ramadhan yang mulia ini, dan berbagai kemenangan yang mereka
realisasikan dalam banyak persitiwa dalam menghadapi musuh yang dilengkapi dengan persenjataan modern dan canggih, adalah bukti nyata yang menunjukan bahwa peristiwa Badar dapat terulang kembali dalam belantara jihad.

Pada moment Ramadhan ini, di mana doa-doa orang yang berpuasa dikabulkan oleh Allah , kami mengajak kaum muslimin untuk menyelipkan doa pada setiap doa yang kita panjatkan. Baik ketika sedang berpuasa, berbuka, habis shalat fardhu, bermunajat di sepertiga malam, atau kapanpun khususnya di bulan Ramadhan ini. Do’a memiliki kekuatan yang dahsyat apalagi dibulan ramadhan.

Ingatkah kita dengan Syekh Muhammad Muhaisany yang berdoa di Mekkah Mukarromah pada bulan Ramadhan 1422 H ?. Doa beliau sungguh dahsyat dan menggentarkan hati seluruh ummat Islam dimanapun berada. Dalam doanya, Syekh Muhaisany banyak memohon kepada Allah  agar menolong mujahidin dimana pun mereka berada dan agar Allah  menghancurkan seluruh kekuatan toghut, terutama Amerika yang beliau sebut sebagai sumber toghut dan malapetaka di dunia ini. Akibat doa beliau yang dahsyat itu, rezim toghut Saudi berang dan memenjarakan beliau.

Jika kaum muslimin pada bulan ramadhan ini belum berkemsempatan untuk berjihad, minimal mereka mendo’akan kemenangan bagi para mujahidin dan kehancuran bagi orang-orang kafir. Walaupun kemampuan kita hanya sekedar do’a, namun tidak tertutup kemungkinan, jika doa itu terpanjat oleh jutaan ummat Islam di seluruh dunia, dengan diiringi istighfar, hamdallah dan shalawat Nabi, Insya Allah, Allah  berkenan memberikan pertolongan kepada pejuang-pejuang Islam. Waallahua’lam bishshawaab. [amru].

Filed under: makalah

Menimbang Mashlahat dan Mafsadat dalam Jihad

mjhdnBanyak yang meyakini jihad pada hari ini hukumnya fardlu `ain, bahkan fardlu `ain terpenting ; tak dapat dikalahkan oleh faridlah (kewajiban) yang lain. Namun, kewajiban jihad terikat berbagai syarath dalam pelaksanaannya.

Pelaksanaan ‘ibadah jihad sangat dekat dengan soal penumpahan darah, pembunuhan jiwa dan penghalalan harta. Perkara-perkara yang sangat besar pertanggung-jawabannya di hadapan Allah, maupun akibat yang ditimbulkannya di dunia. Jika mendatangkan mashlahat maka mashlahat-nya sangat besar, begitu pula ketika keliru dan mendatangkan mafsadat, maka mafsadat-nya juga sangat besar. Ada beberapa prinsip penting yang harus kita mengerti sehubungan dengan pelaksanaan kewajiban jihad fie sabilil-Laah.

Prinsip Pertama: Di antara perkara-perkara yang masuk dalam sebutan/kategori jihad fie sabilillah adalah berjihad dengan harta dan nyawa. Dan berapa banyak kalimat al-haqq, yang disampaikan oleh seorang mu`min -dalam atmosfer kelaliman dan kemunafikan- kepada pemimpin muslim yang lalim, melebihi hantaman ribuan pedang. Seperti disebutkan dalam sebuah hadits:
سيِّدُ الشُّهَدَاءِ حَمْزَةُ بْنُ عَبْدِ الْمُطَلِّبِ، وَرَجُلٌ قَامَ إِلَى إِمَامٍ جَائِرٍ فَأَمَرَهُ وَنَهَاهُ فَقَتَلَهُ
“Penghulu para syuhada` adalah Hamzah bin Abdul Muthalib, dan seorang lelaki yang mendatangi imam yang lalim, lalu dia memerintahnya dan melarangnya, sehingga imam lalim itu membunuhnya.” 

Rasulul-Lah shallal-Laahu ‘alayhi wa sallam bersabda:
إنَّ الْمؤمنَ يُجاهِدُ بسَيْفِهِ ولِسَانِهِ
“Sesungguhnya seorang mukmin itu berjihad dengan pedang dan lisannya.”2
Jihad yang paling utama dan mujahidin yang paling utama adalah seperti yang disabdakan Sayyid al-Mujahidin:
أَفْضَلُ الْجِهَادِ مَنْ عُقِرَ جَوادَهُ وأُهْرِيْقَ دَمَهُ
“Jihad yang paling utama adalah orang yang disembelih kuda perangnya dan ditumpahkan darahnya.”3

Rasulul-Lah shallal-Laahu ‘alayhi wa sallam pernah ditanya, “Wahai Rasulul-Lah, siapakah manusia yang paling utama?” Beliau menjawab, “Seorang mukmin yang berjihad dengan diri dan hartanya.” 4

Prinsip Kedua: Jihad fie sabilillah adalah jalan untuk meraih kemenangan, tamkin dan tegaknya khilafah. Hal itu tidak berarti dan tidak boleh pula dipahami bahwa dibenarkan mengabaikan wasilah-wasilah syar`iy yang lain seperti dakwah dan tabligh, tarbiyah dan tazkiyah, tholabul `ilmi dalam bentuk belajar dan mengajar, menggerakkan manusia menuntut pemberlakuan sistem Islam dengan kesadaran dan ilmu, dll. Sebab perkara-perkara itu termasuk hal-hal penting yang masuk dalam sebutan i`dad, dengan makna pengertiannya yang umum. Sebagai persiapan-persiapan awal yang penting bagi jihad fie sabilil-Laah.

Memang, pengertian paling spesifik dari sebutan i`dad, adalah i`dad fisik yang dengannya menggentarkan musuh kafir, seperti firman Allah subhaanahu wa ta’aalaa :
وَأَعِدُّوا لَهُم مَّااسْتَطَعْتُم مِّن قُوَّةٍ وَمِن رِّبَاطِ الْخَيْلِ تُرْهِبُونَ بِهِ عَدُوَّ اللهِ وَعَدُوَّكُمْ… (60)
“Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kalian sanggupi, dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kalian menggentarkan musuh Allah dan musuh kalian…” (Al-Anfal: 60).

Dalam Shahih Muslim terdapat riwayat dari ‘Uqbah bin Amir radliyall-Laahu ‘anhu, yang berkata, Aku mendengar Rasulullah shallal-Laahu ‘alayhi wa sallam ber-khotbah di atas mimbar: “Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kalian sanggupi,…
أَلاَ إِنَّ الْقُوَّةَ الرَّمْيُ، أَلاَ إِنَّ الْقُوَّةَ الرَّمْيُ،، أَلاَ إِنَّ الْقُوَّةَ الرَّمْيُ
“Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kekuatan itu adalah melempar, ketahuilah bahwa kekuatan itu adalah melempar, ketahuilah bahwa kekuatan itu adalah melempar.”
Rasulullah shallal-Laahu ‘alayhi wa sallam bersabda :
مَنْ عَلِمَ الرَّمْيَ ثُمَّ تَرَكَهُ فَلَيْسَ مِنَّا أَوْ قَدْ عَصَى
“Barangsiapa yang belajar melempar (menembak), kemudian dia meninggalkannya, maka dia tidak termasuk golongan kami atau telah ber-ma’shiyat.”5
Dan hampir seluruh persenjataan modern, prinsip bekerjanya adalah “melempar” atau ”melontar”.

Prinsip Ketiga: Jihad fie sabilillah seharusnya tidak dipahami sebagai melakukan tindakan inisiatif sendiri-sendiri secara sporadis tanpa mas’uliyah (kepimpinan), atau terburu-buru melakukan perang sebelum melakukan persiapan-persiapan awal yang penting. Barangsiapa terburu-buru melakukan sesuatu sebelum masanya, dia berpotensi gagal meraih tujuannya (termasuk tujuan ingin segera syahid).

Prinsip Keempat: Jihad fie sabilillah juga seperti ibadah-ibadah yang lain, disyaratkan baginya istitha’ah (kemampuan). Jika tidak ada kemampuan, dan nyata benar ketidaksanggupan seseorang untuk memikulnya, maka beban tersebut diangkat, karena Allah Ta`ala tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.

Akan tetapi, ketidaksanggupan tersebut tidak seharusnya membuat seorang mu`min meninggalkan i`dad (persiapan-persiapan secara bertahap sehingga menjadi mampu) untuk melaksanakan kewajiban jihad itu. Seorang mu`min (semestinya selalu berada di salah satu dari dua keadaan), kalau tidak berjihad di jalan Allah (karena belum mampu), maka dia dalam posisi menyiapkan persiapan untuk berjihad. Jadi apa yang mudah itu tidak gugur oleh karena sesuatu yang sulit.

Ibnu Taimiyah rahimahul-Laah berkata:
يَجِبُ الاِسْتِعْدادِ للْجهادِ بِإِعْدادِ الْقُوَّةِ وَرِباطِ الْخَيْلِ فِي وَقْتِ سُقُوْطِهِ لِلْعَجْزِ، فَإِنَّ مَا لاَ يَتِمُّ الْواجِبُ إلاَّ بِهِ فَهُوَ وَاجِبٌ
“Wajib melakukan persiapan untuk jihad, dengan menyiapkan kekuatan dan menyiapkan kuda-kuda perang pada waktu kewajiban jihad itu gugur lantaran lemah, karena sesuatu yang mana kewajiban itu tidak bisa terlaksana kecuali dengannya, maka ia jadi wajib karenanya.” 6

Prinsip Kelima: Jihad fie sabilillah di-syariat-kan adalah untuk menolak mafsadat dan mendatangkan mashlahat -sementara mafsadat yang terbesar adalah syirik, dan mashlahat yang paling bermanfaat dan paling utama adalah tauhid-. Tatkala yang terjadi sebaliknya, maka ia tidak di-syariat-kan. Kewajiban jihad seperti kewajiban ber-amar ma’ruf nahi munkar. Sebelum memutuskan untuk melakukan atau tidak melakukan, harus menimbang lebih dahulu antara mashlahat dan mafsadat-nya menurut timbangan syar`iy.

Dengan memahami prinsip-prinsip itu, kita lebih berhati-hati di dalam melangkah merealisir bagian-bagian syari’at Allah yang pada waktu panjang telah ditinggalkan oleh ummat ini. Jarak antara kesadaran bahwa perkara tersebut merupakan perintah syar’iy dan proses melengkapi persyaratan untuk mempunyai kemampuan melaksanakannya adalah waktu dan kesungguhan. Artinya, diperlukan waktu untuk itu, dan panjangnya waktu yang diperlukan tergantung kepada kesungguhan kita untuk melengkapi kemampuan itu. Setelah itu tinggallah masalah kejujuran.
Sikap itu lebih baik dibandingkan tergesa melangkah, untuk kemudian menyesal atau (na’udzu bil-Laah) berbalik sehingga tidak ada yang dapat dipersembahkan kepada Allah. (Abdullah Mufid)

1 HR Al-Hakim. As-Silsilah Ash-Shahihah (374)
2 HR Ahmad dan yang lainnya. Shahih Al-Jami` (1934)
3 Lihat: As-Silsilah Ash-Shahihah (552).
4 HR Al-Bukhari
5 HR Muslim
Sumber Utama: Al-Asas Al-Mabadi’ allati Tu`innu `ala Wihdatil Muslimin; Al-Jihad wa As-Siyasah Asy-Syar`iyyah; Limadza Al-Jihad fie Sabilillah? Ketiganya tulisan Syaikh Abdul Mun’im Musthafa Halimah “Abu Bashir Ath-Tharthusi”.

Filed under: 'Adawah

SIKAP AHLU AS-SUNNAH TERHADAP AHLU AL-BID’AH

12Banyak permasalahan ummat yang bersumber dari ketidak-jelasan pola hubungan dan pensikapan terhadap sesama ummat Islam terkait dengan perbuatan bid’ah yang tersebar di tengah-tengah ummat. Jenis-jenis dan tingkatan bid’ah serta kadar pensikapan kepada pelakunya menjadi hajat untuk dimengerti agar tidak salah dan berlebihan di dalam meng-implementasi-kannya. Berlebihan dalam maslah ini dapat berakibat rusaknya ukhuwah imaniyah, bahkan tumpahnya darah dan pembunuhan jiwa.

Pembagian bid’ah
Siapakah ahlu al-bid’ah yang mendapat permusuhan total, dan siapakah ahlu al-bid’ah yang mendapat perwalian (kecintaan) sebagian dan permusuhan pada bagian yang lain? Untuk mengetahui batas-batas dalam ber-mu’asyarah dengan ahlu al-bid’ah kita perlu mengetahui terlebih dahulu pembagian bid’ah tersebut.

Yang pertama, bid’ah mukaffiroh (bid’ah yang dapat mengantarkan pelakunya menjadi kafir) diantaranya :
Bid’ah jahiliyah. Sebagaimana Allah subhaanahu wa ta’aalaa berfirman :
وَجَعَلُوا لِلَّهِ مِمَّا ذَرَأَ مِنَ الْحَرْثِ وَالْأَنْعَامِ نَصِيبًا فَقَالُوا هَذَا لِلَّهِ بِزَعْمِهِمْ وَهَذَا لِشُرَكَائِنَا فَمَا كَانَ لِشُرَكَائِهِمْ فَلَا يَصِلُ إِلَى اللَّهِ وَمَا كَانَ لِلَّهِ فَهُوَ يَصِلُ إِلَى شُرَكَائِهِمْ سَاءَ مَا يَحْكُمُونَ (136(
Dan mereka memperuntukkan bagi Allah satu bahagian dari tanaman dan ternak yang telah diciptakan Allah, lalu mereka berkata sesuai dengan persangkaan mereka, “Ini untuk Allah dan ini untuk berhala-berhala kami”. Maka sesaji-sesaji yang diperuntukkan bagi berhala-berhala mereka tidak sampai kepada Allah; dan sesaji-sesaji yang diperuntukkan bagi Allah, maka sesaji itu sampai kepada berhala-berhala mereka. Amat buruklah ketetapan mereka itu. (Al An’aam : 136).

Atau bid’ah-nya orang-orang munafiq ketika mengambil Islam sebagai sarana untuk menyelamatkannya dari hukum Allah di dunia.

Juga bid’ah-nya orang yang mengingkari urusan yang telah disepakati ke-mutawatir-annya di dalam syari’at, seperti menghalalkan yang haram atau mengharamkan yang halal. Karena permasalahan penghalalan dan pengharaman adalah hak khusus bagi Allah. Maka barang siapa menghalalkan dan mengharamkan selain yang datang dari Allah subhaanahu wa ta’aalaa dan Rosul-Nya maka ia telah membuat suatu syari’at atau undang-undang. Barangsiapa yang membuat syari’at, maka ia telah menuhankan dirinya. (Al-Wala’ wa Al-Bara’ fi Al-Islam, Sa’id bin Salim al-Qohthoniy : 141).

Atau berkeyakinan dengan sesuatu yang tidak pantas bagi Allah Ta’aalaa dan Rosul-Nya dan kitab-Nya dari urusan nafyi (peniadaan) dan itsbat (penetapan). Keyakinan seperti itu merupakan tindakan mendustakan kitab Allah dan apa yang dibawa oleh Nabi Muhammad. Seperti bid’ahnya Jahmiyah dalam mengingkari dan meniadakan shifat Allah. Begitu pula perkataan kaum mu’tazilah bahwa Al-Qur’an adalah makhluq. (Ma’arij al-Qobul : 3/1228).

Atau bid’ahnya orang-orang yang melecehkan syari’at Islam dan menerjang pembatal-pembatal keislaman. Begitu juga orang-orang yang ingin menyatukan seluruh agama samawi, seperti yang diyakini oleh para penganut wihdah al-adyan (penyatuan agama-agama) yang banyak dikampanyekan oleh jaringan Islam liberal. Semua ini adalah bid’ah yang menyebabkan pelakunya keluar dari Islam.

Bid’ah-bid’ah yang sudah sampai tingkatan kufur tersebut, wajib bagi kaum muslimin untuk memusuhinya dan membencinya serta memeranginya setelah diberikan peringatan dan ancaman oleh para ‘alim robbaniy yang memiliki integritas ilmu syar’iy. Dan untuk menetapkan kekafiran atas orang-orang semacam ini harus ada iqomatul hujjah (tersampaikannya argumentasi) atas mereka terlebih dahulu. (Ma’arij al-Qobul : 3/1229).

Yang kedua adalah bid’ah ghoiru mukaffiroh (yang tidak menjadikan pelakunya kafir). Yaitu yang tidak mendustakan Al-Qur-aan dan apa yang dibawa oleh Rosulullah. Seperti bid’ah ruhaniyah yang di-ingkari oleh para pemuka sahabat. Mereka tidak dikafirkan dan mereka tidak mencabut bai’atnya. Seperti mengakhirkan sebagian waktu sholat atau mendahulukan khutbah sebelum sholat ‘ied seperti yang dilakukan salah seorang pemuka bani Umayyah (karena takut jama’ahnya bubar)… (Ma’arij al-Qobul : 3/1229).

Juga bid’ah yang sifatnya dibenci oleh para shahabat, seperti berkumpul untuk do’a, menyebut para penguasa pada khotbah jum’ah dan yang semacamnya. (Al I’tishom : II/37).
Bagi para pelaku bid’ah jenis yang kedua ini, tidaklah dikafirkan, akan tetapi diberikan perwalian sebatas perwalian mereka terhadap Islam dan diberikan permusuhan sebatas penyelewengan mereka dari Islam.

Adab dalam meng-hajr (mengisolir, menjauhi) ahlu al-bid’ah yang belum tingkatan sampai kafir
Islam mengajarkan pada kita untuk berlaku adil dalam mensikapi segala sesuatu. Islam juga mengajarkan kepada ummatnya bagaimana harus bersikap kepada saudaranya yang melakukan perbuatan bid’ah. Diantara adab yang harus diperhatikan adalah : Hendaknya sikap hajr (menjauhi) ahlu al-bid’ah dilakukan hanya karena Allah.

Seorang muslim haruslah memahami bahwa seluruh amalan hanya diperuntukkan bagi Allah. Maka barang siapa menjauhi ahlu al-bid’ah karena nafsu, atau mengisolir ahlu al-bid’ah dengan hal-hal yang tidak dituntunkan Islam, ia berdosa walaupun ia ber-argumentasi bahwa apa yang dilakukannya untuk menjaga Islam. Hajr (mengisolasi, menjauhi ahlu al-bid’ah) tidak menghalangi seseorang untuk mencabut perwalian karena Allah dan ukhuwah (persaudaraan) diantara umat Islam. Berapa banyak orang yang meng-hajr saudaranya muslim dengan mencaci secara terbuka, men-cap dengan label kafir dan julukan-julukan lain yang tidak pantas hanya karena melakukan beberapa kesalahan kecil diluar kesengajaan.

Ibnu Taimiyah rahimahul-Laah berkata :
“…seorang mukmin harus engkau ambil sebagai wali walaupun dia mendhalimi dan memusuhimu, dan orang kafir harus engkau musuhi walaupun dia memberi sesuatu dan berbuat baik kepadamu. Sesungguhnya Allah mengutus Rasul-Nya dan menurunkan kitab supaya dien itu hanya bagi Allah, supaya kecintaan hanya untuk para wali-Nya dan permusuhan untuk musuh-Nya. Apabila terkumpul pada seseorang ; kebaikan dan kejelekan (dosa), ketaatan dan ma’shiyat, sunnah dan bid’ah, maka ia berhak mendapatkan perwalian dan ganjaran sesuai dengan kebaikannya, dan berhak mendapatkan permusuhan dan balasan sesuai dengan kadar kejelekannya. Maka berkumpullah dua kewajiban dalam diri seseorang. Yaitu kewajiban untuk memberikan kecintaan dan kebencian. Seperti seorang pencuri yang fakir, dia dipotong tangannya dan diberi harta dari baitul maal untuk kebutuhannya ….” (Majmu’ Fatawa : 28/208-209).

Perkataan Ibnu Taimiyah ini perlu kita cermati agar tidak termasuk orang-orang yang jahil, keinginannya menegakkan syari’at Islam, pada saat yang sama mereka merobohkan sendi-sendi syari’at yang ingin ditegakkannya itu. Dahulu, orang-orang khowarij ber-maksud untuk melakukan amar ma’ruf nahi munkar (yang merupakan salah satu pilar syari’at Islam), tetapi mereka justru terjerembab dalam jurang menghancurkan ukhuwah imaniyah, bahkan menumpahkan darah, membunuh saudara-saudara muslim-nya. Jangan mengira bahwa yang bisa terperosok seperti itu hanya mereka, apalagi jika bekal ilmu yang dimiliki belum mencukupi.

Bagaimana sikap Imam Ahmad bin Hanbal rahimaul-Laah (yang Syaikh al-Islam Ibnu Taimiyah menasabkan diri kepada madzhab beliau) terhadap Jahmiyah? Apakah Imam Ahmad mengkafirkan mereka? Apakah semua jahmiyah dan seluruh pengikutnya dikafirkan? Tidak! Tidak seluruhnya dikufurkan oleh beliau. Padahal mereka telah menyakini bahwa Al-Qur’an itu makhluq. Dan mereka me-nafyi-kan shifat-shifat Allah. Mereka telah menyiksa para ulama’ Ahlu as-Sunnah pada waktu itu, mereka memperlakukan orang-orang beriman yang berbeda pandangan dengan mereka dengan siksaan dan penjara.

Mereka telah cabut perwalian, menolak syahadat, membiarkan orang-orang muslim ditawan musuh, hanya karena menolak bahwa “Al-Qur’an itu makhluq”. Imam Ahmad mendo’akan kholifah dan orang-orang yang telah menyiksa dan memenjarakannya, beliau memintakan ampun mereka, belaiu maafkan segala siksaan yang ditimpakan. Dan tidaklah mungkin Imam Ahmad mendo’akan mereka jika beliau menganggap telah kafir. Ahlussunnah sepakat bahwa orang kafir tidak boleh dimintakan ampun, seandainya dido’akan pun dido’akan agar mendapatkan hidayah Allah. (Majmu’ Fatawa Ibnu Taimiyah : 12/488-489).

Mereka adalah saudara kita
Beban menegakkan Islam merupakan tanggung jawab seluruh ummat Islam. Semua elemen ummat Islam mengambil bagian dalam usaha Iqomatud diin. Karena pada hakekatnya ummat Islam belum dianggap merdeka di dunia jika mereka belum dapat menerapkan Islam secara menyeluruh.

Jika selama ini kelompok-kelompok ummat Islam, yang eksistensi kelompok-kelompok itu merupakan akibat logis dari ketiadaan khilafah dan Imam Syar’iy menganggap dirinya sebagai kelompok tunggal dan tanggung jawab iqomatud-dien itu hanya ada dipundak kelompoknya, ketahuilah bahwa ketika itu berarti sedang bermimpi. Jika mimpi itu telah terlewati dan kita telah bangun, maka yang kedua, bersamaan dengan ‘amal Islamiy yang dikerjakannya, hendaknya mengalokasikan waktu untuk duduk berbincang dengan elemen ummat Islam lain untuk menentukan grand strategi bersama yang menjadi acuan dalam iqomatud-dien.

Sambil mewaspadai serigala berbulu domba yang kemungkinan ikut nimbrung duduk bersama. Seringkali terjadi, kecurigaan dan prasangka buruk yang berkembang di antara kelompok-kelompok ummat Islam, persoalannya karena kesenjangan komunikasi, sehingga banyak persoalan tidak dapat dilakukan sharing. Shabar menempuh proses ini sehingga tumbuh tsiqoh (saling mempercayai) menjadi modal terbesar menuju wihdah (penyatuan), setidaknya wihdah at-tashowwur (kesamaan persepsi) kalaupun belum sampai wihdah al-qiyadah (kesatuan kepemimpinan) dan wihdah al-barnamij (kesatuan program).

Persoalannya akan lain, jika sejak awal ada kelompok ummat Islam yang menganggap kelompoknya sebagai pewaris kebenaran dan berhak memonopoli ukuran hanya karena menemukan jargon kembali kepada salaf, padahal pada waktu yang sama jarak antara klaim salafiy dengan kelengkapan untuk menjadi salafiy (baik ilmu maupun adab) masih sejauh timur dan barat. Kemudian, pada kondisi seperti itu memandang setiap kelompok lain yang sejatinya juga sedang berproses menuju yang lebih baik (yang lebih mendekati salaf), terus dihukumi sebagai ahlu al-bid’ah, ahlu al-hawa, khawarij dll. Sungguh, jika begitu, masalahnya karena terjerembab kepada sikap ifrath (berlebih-lebihan) dalam memandang saudaranya dan dalam waktu yang sama terkena syubhat atas nama hajr kepada ahlu al-bid’ah. (Amru)

Filed under: Aqidah

MENYINGKAP SYUBHAT SEPUTAR DAULAH ISLAMIYAH

dauPada hari ini berkembang sebuah syubhat yang menyebutkan bahwa pembagian negara menjadi negara Islam dan negara kufur hanya berdasarkan kepada ada atau tidak adanya kebebasan mengumandangkan adzan dan melaksanakan shalat secara berjama’ah. Syubhat ini didukung dengan dalil-dalil yang berasal dari hadis, tetapi cara memahaminya tampak tidak akurat. Hadis yang menjadi dasar adalah larangan Rasulullah menyerang suatu wilayah jika terdengar adzan dikumandangkan. Untuk menuju kesimpulan sebagai negara Islam, mereka mengutip beberapa pendapat ulama’ di antaranya pendapat an-Nawawi v bahwa adanya larangan menunjukkan bahwa mereka islam.

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ : كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُغِيرُ إِذَا طَلَعَ الْفَجْرُ وَكَانَ يَسْتَمِعُ الْأَذَانَ فَإِنْ سَمِعَ أَذَانًا أَمْسَكَ وَإِلَّا أَغَارَ – مسلم.
Dari Anas bin Malik v Berkata : Bahwasanya rasulullah saw jika akan menyerang pada saat fajar, beliau mendengarkan adzan. Jika mendengar adzan beliau menahan (serangan) dan jika tidak mendengarnya beliau menyerang. (HR. Muslim).

Tentu kita tidak menolak bahwa mereka yang shalat dan adzan adalah islam. Memang keduanya adalah syi’ar Islam yang penting, sehingga ketika kita melihat orang melakukan shalat atau adzan kita bisa berkesimpulan bahwa mereka adalah Islam. Tetapi ketika setelah itu kita melihat mereka memuja berhala, mengeluarkan sesaji, salahkah kalau kita mengatakan bahwa ternyata ia masih syirik?

Ini baru dari aspek individunya. Padahal untuk menentukan status negara bukan sekedar dari individu saja. Sebut saja Turki, di sana bebas mengumandangkan adzan, bebas shalat berjama’ah, secara personal orangnya pun beragama Islam, tetapi mereka memproklamirkan negara sekuler. Akankah turki dimasukkan ke dalam negara Islam, sementara pemerintah Turki pun menolak klaim sebagai Negara Islam?

Dari sini kita bisa menerka, ke mana kira-kira arah fatwa tersebut dikemukakan. Fatwa tersebut tidak lain dan tidak bukan muncul untuk menyenangkan Fir’aun modern, George W Bush. Dengan fatwa tersebut, pemerintah mendapatkan legitimasi keagamaan untuk menggebuk mujahidin. Terlebih lagi ketika dikaitkan dengan fatwa lain yang menyatakan bahwa mereka adalah kaum Khawarij. Bagaimana tidak, Mereka dinilai sebagai kelompok liar yang keluar dari ketaatan kepada Ulil Amri. Rasulullah ` pun diriwayatkan pernah memerintahkan untuk membunuh kaum Khawarij ini.

Jelas, fatwa tersebut fatwa bathil. Persoalannya menjadi lebih berbahaya ketika fatwa itu diterima secara taken of granted oleh kaum awam. Apalagi yang mengemukakan adalah para ulama’ yang terkenal, sehingga mereka memandang sebagai sebuah kebenaran mutlak. Meskipun terkenal, suara mereka telah terbelenggu karena berbicara di hadapan moncong senjata.

Standar penilaian
Sebenarnya dalam menilai sebuah negeri, apakah itu negeri islam atau negeri kafir harus melihat pada ‘illahnya (alasanya). Dan setiap hukum halal dan haram atau hukum lainnya pasti ada alasannya. Sehingga para ulama’ membuat kaidah al hukmu yaduudru ma’a ‘ilatihi wujudan wa ‘adaman) {ada tidaknya sebuah hukum bergantung kepada ada tidaknya ‘ilah).
Demikian pula dalam menentukan apakah daulah tersebut daulah islamiyah atau bukan harus melihat alasan atau syarat-syaratnya. Jika syarat tersebut terpenuhi, maka negeri tersebut menjadi negeri islam, jika tidak maka negeri tersebut bukan negeri islam.

Sebagian pihak telah salah ketika mereka mengira bahwa menetapnya banyak umat Islam di beberapa negara dengan aman dan mampu melaksanakan beberapa syiar agama mereka, seperti adzan, sholat, shaum dan lain-lain, sudah cukup untuk menganggap negara tersebut sebagai negara Islam. Atau ada yang menyamakan antara pemimpin muslim dengan pemerintahan muslim. Jika pemimpinnya seorang muslim, maka pemerintahannya adalah pemerintahan islam. Bahkan sebagian pihak menyatakan, bagaimana kalian mengatakan negara fulan adalah negara kafir, padahal di ibukotanya ada lebih dari seribu masjid ? Ini semua jelas bukan standar dalam menilai status sebuah negara. Dan faktor yang paling dominan dalam menentukan sebuah negeri adalah hukum yang berjalan.

Sebagai kiasan yang mudah, sebuah Bank ribawi masih dikatakan Bank
Ribawi selama Bank ini tidak mengubah sistem ribawi kepada sistem
SPTF. Mungkin pengarahnya adalah orang Islam, mayoritas perkerja sektor
perbankan ribawi ini adalah orang Islam dan bukan orang kafir,
akan tetapi selama bank tersebut terus memberlakukan sistem ribawai maka Bank itu tetap Bank ribawi, tanpa melihat mayoritas pekerja atau pelanggannya beragama
Islam. Sama halnya pemerintahan. Jika yang berlaku adalah hukum selain hukum islam, walaupun para pelaksananya muslim, belum mengubah status negeri tersebut menjadi negeri islam. Yang diperbincangkan di sini adalah sistem yang digunakan oleh institusi tersebut dan bukan pekerja, pelanggan atau pemiliknya.

Diantara penjelasan para ulama’ tentang hal tersebut adalah Imam Asy Syarkhasi mengatakan dalam syarah (penjelasan) beliau atas kitab as siyaru al kabiru,”Sebuah negara berubah menjadi negara kaum muslimin dengan dipraktekkannya hukum-hukum Islam.” [As Siyaru al Kabir 5/2197].

Al qadhi Abu Ya’la Al Hanbali mengatakan,” Setiap negara di mana hukum yang dominan (superioritas hukum) adalah hukum-hukum kafir dan bukannya hukum-hukum Islam, adalah Daarul kufri.” [Al Mu’tamadu Fi Ushuli Dien hal. 276, Daarul Masyriq, Beirut, 1974].
Demikian juga yang dikatakan oleh Abdul Qahir Al baghdadi dalam bukunya, Ushulu Dien hal. 270, cetakan 2, Daarul Kutub Al Ilmiyah, Beirut. Syaikh Manshur Al Bahuti mengatakan,” Wajib hijrah bagi orang yang tidak mampu idzharu dien di sebuah Daarul harbi, yaitu negara di mana superioritas hukum adalah hukum-hukum kafir.” [Kasyful Qana’ 3/43].

Dan simaklah perkataan Ibnul Qoyyim v berikut ini :” Mayoritas ulama mengatakan bahwa Daarul Islam adalah negara yang dikuasai oleh umat Islam dan hukum-hukum Islam diberlakukan di negeri tersebut. Bila hukum-hukum Islam tidak diberlakukan, negara tersebut bukanlah Daarul Islam, sekalipun negara tersebut berdampingan dengan sebuah Daarul Islam. Contohnya adalah Thaif, sekalipun letaknya sangat dekat dengan Makkah, namun dengan terjadinya fathu Makkah ; Thaif tidak berubah menjadi Daarul Islam.” [Ahkamu Ahli Dzimmah 1/366, Ibnu Qayyim, cet. Daarul Ilmi lil malayiin, 1983 M].

Kesimpulan
Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa banyaknya umat islam, masih banyaknya syi’ar-syi’ar, penguasanya adalah orang islam dan lain sebagainya, tidak mengubah status sebuah negeri selama masih menerapkan syari’at selain syari’at islam.

Seseorang yang terkena syubhat ini lebih sulit untuk diberikan pemahaman dibandingkan seseorang yang belum mengetahui. Sebagaimana ahlibid’ah yang lebih dicintai setan dibandingkan ahli kabair. Karena ahli bid’ah berkeyakinan bahwa apa yang dilaksanakan dan diyakini adalah suatu kebenaran. Sedangkan pelaku dosa besar para pelakunya masih berkeyakinan bahwa yang mereka lakukan adalah kesalahan. Sehingga masih ada harapan untuk kembali pada kebenaran.

Orang yang berakal adalah orang yang biasa membedakan antara yang paling baik diantara yang baik. Mengetahui yang paling mendekati kebenaran diantara orang-orang yang ingin mendekati kebenaran. Dan sifat tholibul ‘ilmi adalah seorang yang senantiasa memahami dalil dan tidak taqlid buta kepada seseorang. Semoga Allah Ta’ala perlihatkan kepada kita kebenaran sebagai sesuatu yang benar, dan memberi kekuatan pada kita untuk mengikuti-nya, dan menunjukkan kita kebatilan sebagai sesuatu yang batil, dan memberi kekuatan untuk menjauhinya.” (Amru)

Filed under: syubhat

PENGUMUMAN

Mohon maaf kepada para pengunjung blog ini jika beberapa komentar tidak kami tampilkan. Di karenakan komentar yang tidak mendidik tidak ilmiyah dengan berdasar dalil dan cenderung emosional. Semua itu kami lakukan untuk meminimalisir perdebatan yang tidak ilmiyah dan di dasari atas emosi saja

Tanggalan

Jam dinding



Blog Stats

  • 325,176 hits

Pengunjung

online