At Taujih

Mengawal Wacana Iqomatuddiin

Menimbang Mashlahat dan Mafsadat dalam Jihad

mjhdnBanyak yang meyakini jihad pada hari ini hukumnya fardlu `ain, bahkan fardlu `ain terpenting ; tak dapat dikalahkan oleh faridlah (kewajiban) yang lain. Namun, kewajiban jihad terikat berbagai syarath dalam pelaksanaannya.

Pelaksanaan ‘ibadah jihad sangat dekat dengan soal penumpahan darah, pembunuhan jiwa dan penghalalan harta. Perkara-perkara yang sangat besar pertanggung-jawabannya di hadapan Allah, maupun akibat yang ditimbulkannya di dunia. Jika mendatangkan mashlahat maka mashlahat-nya sangat besar, begitu pula ketika keliru dan mendatangkan mafsadat, maka mafsadat-nya juga sangat besar. Ada beberapa prinsip penting yang harus kita mengerti sehubungan dengan pelaksanaan kewajiban jihad fie sabilil-Laah.

Prinsip Pertama: Di antara perkara-perkara yang masuk dalam sebutan/kategori jihad fie sabilillah adalah berjihad dengan harta dan nyawa. Dan berapa banyak kalimat al-haqq, yang disampaikan oleh seorang mu`min -dalam atmosfer kelaliman dan kemunafikan- kepada pemimpin muslim yang lalim, melebihi hantaman ribuan pedang. Seperti disebutkan dalam sebuah hadits:
سيِّدُ الشُّهَدَاءِ حَمْزَةُ بْنُ عَبْدِ الْمُطَلِّبِ، وَرَجُلٌ قَامَ إِلَى إِمَامٍ جَائِرٍ فَأَمَرَهُ وَنَهَاهُ فَقَتَلَهُ
“Penghulu para syuhada` adalah Hamzah bin Abdul Muthalib, dan seorang lelaki yang mendatangi imam yang lalim, lalu dia memerintahnya dan melarangnya, sehingga imam lalim itu membunuhnya.” 

Rasulul-Lah shallal-Laahu ‘alayhi wa sallam bersabda:
إنَّ الْمؤمنَ يُجاهِدُ بسَيْفِهِ ولِسَانِهِ
“Sesungguhnya seorang mukmin itu berjihad dengan pedang dan lisannya.”2
Jihad yang paling utama dan mujahidin yang paling utama adalah seperti yang disabdakan Sayyid al-Mujahidin:
أَفْضَلُ الْجِهَادِ مَنْ عُقِرَ جَوادَهُ وأُهْرِيْقَ دَمَهُ
“Jihad yang paling utama adalah orang yang disembelih kuda perangnya dan ditumpahkan darahnya.”3

Rasulul-Lah shallal-Laahu ‘alayhi wa sallam pernah ditanya, “Wahai Rasulul-Lah, siapakah manusia yang paling utama?” Beliau menjawab, “Seorang mukmin yang berjihad dengan diri dan hartanya.” 4

Prinsip Kedua: Jihad fie sabilillah adalah jalan untuk meraih kemenangan, tamkin dan tegaknya khilafah. Hal itu tidak berarti dan tidak boleh pula dipahami bahwa dibenarkan mengabaikan wasilah-wasilah syar`iy yang lain seperti dakwah dan tabligh, tarbiyah dan tazkiyah, tholabul `ilmi dalam bentuk belajar dan mengajar, menggerakkan manusia menuntut pemberlakuan sistem Islam dengan kesadaran dan ilmu, dll. Sebab perkara-perkara itu termasuk hal-hal penting yang masuk dalam sebutan i`dad, dengan makna pengertiannya yang umum. Sebagai persiapan-persiapan awal yang penting bagi jihad fie sabilil-Laah.

Memang, pengertian paling spesifik dari sebutan i`dad, adalah i`dad fisik yang dengannya menggentarkan musuh kafir, seperti firman Allah subhaanahu wa ta’aalaa :
وَأَعِدُّوا لَهُم مَّااسْتَطَعْتُم مِّن قُوَّةٍ وَمِن رِّبَاطِ الْخَيْلِ تُرْهِبُونَ بِهِ عَدُوَّ اللهِ وَعَدُوَّكُمْ… (60)
“Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kalian sanggupi, dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kalian menggentarkan musuh Allah dan musuh kalian…” (Al-Anfal: 60).

Dalam Shahih Muslim terdapat riwayat dari ‘Uqbah bin Amir radliyall-Laahu ‘anhu, yang berkata, Aku mendengar Rasulullah shallal-Laahu ‘alayhi wa sallam ber-khotbah di atas mimbar: “Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kalian sanggupi,…
أَلاَ إِنَّ الْقُوَّةَ الرَّمْيُ، أَلاَ إِنَّ الْقُوَّةَ الرَّمْيُ،، أَلاَ إِنَّ الْقُوَّةَ الرَّمْيُ
“Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kekuatan itu adalah melempar, ketahuilah bahwa kekuatan itu adalah melempar, ketahuilah bahwa kekuatan itu adalah melempar.”
Rasulullah shallal-Laahu ‘alayhi wa sallam bersabda :
مَنْ عَلِمَ الرَّمْيَ ثُمَّ تَرَكَهُ فَلَيْسَ مِنَّا أَوْ قَدْ عَصَى
“Barangsiapa yang belajar melempar (menembak), kemudian dia meninggalkannya, maka dia tidak termasuk golongan kami atau telah ber-ma’shiyat.”5
Dan hampir seluruh persenjataan modern, prinsip bekerjanya adalah “melempar” atau ”melontar”.

Prinsip Ketiga: Jihad fie sabilillah seharusnya tidak dipahami sebagai melakukan tindakan inisiatif sendiri-sendiri secara sporadis tanpa mas’uliyah (kepimpinan), atau terburu-buru melakukan perang sebelum melakukan persiapan-persiapan awal yang penting. Barangsiapa terburu-buru melakukan sesuatu sebelum masanya, dia berpotensi gagal meraih tujuannya (termasuk tujuan ingin segera syahid).

Prinsip Keempat: Jihad fie sabilillah juga seperti ibadah-ibadah yang lain, disyaratkan baginya istitha’ah (kemampuan). Jika tidak ada kemampuan, dan nyata benar ketidaksanggupan seseorang untuk memikulnya, maka beban tersebut diangkat, karena Allah Ta`ala tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.

Akan tetapi, ketidaksanggupan tersebut tidak seharusnya membuat seorang mu`min meninggalkan i`dad (persiapan-persiapan secara bertahap sehingga menjadi mampu) untuk melaksanakan kewajiban jihad itu. Seorang mu`min (semestinya selalu berada di salah satu dari dua keadaan), kalau tidak berjihad di jalan Allah (karena belum mampu), maka dia dalam posisi menyiapkan persiapan untuk berjihad. Jadi apa yang mudah itu tidak gugur oleh karena sesuatu yang sulit.

Ibnu Taimiyah rahimahul-Laah berkata:
يَجِبُ الاِسْتِعْدادِ للْجهادِ بِإِعْدادِ الْقُوَّةِ وَرِباطِ الْخَيْلِ فِي وَقْتِ سُقُوْطِهِ لِلْعَجْزِ، فَإِنَّ مَا لاَ يَتِمُّ الْواجِبُ إلاَّ بِهِ فَهُوَ وَاجِبٌ
“Wajib melakukan persiapan untuk jihad, dengan menyiapkan kekuatan dan menyiapkan kuda-kuda perang pada waktu kewajiban jihad itu gugur lantaran lemah, karena sesuatu yang mana kewajiban itu tidak bisa terlaksana kecuali dengannya, maka ia jadi wajib karenanya.” 6

Prinsip Kelima: Jihad fie sabilillah di-syariat-kan adalah untuk menolak mafsadat dan mendatangkan mashlahat -sementara mafsadat yang terbesar adalah syirik, dan mashlahat yang paling bermanfaat dan paling utama adalah tauhid-. Tatkala yang terjadi sebaliknya, maka ia tidak di-syariat-kan. Kewajiban jihad seperti kewajiban ber-amar ma’ruf nahi munkar. Sebelum memutuskan untuk melakukan atau tidak melakukan, harus menimbang lebih dahulu antara mashlahat dan mafsadat-nya menurut timbangan syar`iy.

Dengan memahami prinsip-prinsip itu, kita lebih berhati-hati di dalam melangkah merealisir bagian-bagian syari’at Allah yang pada waktu panjang telah ditinggalkan oleh ummat ini. Jarak antara kesadaran bahwa perkara tersebut merupakan perintah syar’iy dan proses melengkapi persyaratan untuk mempunyai kemampuan melaksanakannya adalah waktu dan kesungguhan. Artinya, diperlukan waktu untuk itu, dan panjangnya waktu yang diperlukan tergantung kepada kesungguhan kita untuk melengkapi kemampuan itu. Setelah itu tinggallah masalah kejujuran.
Sikap itu lebih baik dibandingkan tergesa melangkah, untuk kemudian menyesal atau (na’udzu bil-Laah) berbalik sehingga tidak ada yang dapat dipersembahkan kepada Allah. (Abdullah Mufid)

1 HR Al-Hakim. As-Silsilah Ash-Shahihah (374)
2 HR Ahmad dan yang lainnya. Shahih Al-Jami` (1934)
3 Lihat: As-Silsilah Ash-Shahihah (552).
4 HR Al-Bukhari
5 HR Muslim
Sumber Utama: Al-Asas Al-Mabadi’ allati Tu`innu `ala Wihdatil Muslimin; Al-Jihad wa As-Siyasah Asy-Syar`iyyah; Limadza Al-Jihad fie Sabilillah? Ketiganya tulisan Syaikh Abdul Mun’im Musthafa Halimah “Abu Bashir Ath-Tharthusi”.

Filed under: 'Adawah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: