At Taujih

Mengawal Wacana Iqomatuddiin

JIHADPUN JUGA MENAHAN NAFSU

PUASAKita telah memasuki bulan ramadhan dan hampir selesai. Bulan yang penuh barokah dan pahala yang melimpah. Pada bulan tersebut ummat islam dilatih untuk menahan nafsu dari berbagai hal yang dilarang Allah Ta’ala.

Puasa adalah ibadah yang bernuansa jihad melawan hawa nafsu. Orang yang tidak bisa menahan nafsu syahwatnya, nafsu amarahnya, nafsu seksualnya, dan nafsu-nafsu lainnya selama berpuasa, berarti puasanya akan ditolak Rabbul Izzati. Rasulullah  pernah menegaskan dengan sabdanya:
مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِى أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ
“Barangsiapa yang tidak meninggalkan ucapan dan perbuatan dusta, maka Allah tidak butuh darinya untuk meninggalkan makanan dan minumannya.” [ HR. Bukhori ].

Inilah jihad muslim yang tiada hentinya, karena nafsu al ammarah bis suu’ senantiasa menyertainya, baik di kala jaga atau tidur. Namun, selain jihad melawan hawa nafsu ini, umat Islam diperintahkan juga berjihad melawan kekafiran dan kesyirikan. Jihad untuk mempertahankan diri dari serangan kaum kufar ini sering disebut dengan jihad qitali.

Allah  telah mensyariatkan jihad melawan kekufuran sebagai sarana ibadah dan perjuangan untuk menyiapkan individu muslim yang mampu membawa beban untuk mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat. Ibadah puasa penuh dengan kebaikan dan sumber pengkaderan untuk menyiapkan generasi yang mau berkorban lii’laai kalimatillah.

Antara jihadun nafs dengan jihadul kuffar
Jihad melawan orang-orang kuffar adalah merupakan jihad yang tertinggi. Bahkan ia merupakan ibadah yang mulia setelah keislaman seseorang. akan tetapi ada sebagian kaum Muslim memahami, bahwa jihad melawan hawa nafsu merupakan jihad besar yang nilainya lebih utama dibandingkan dengan jihad fi sabilillah dengan makna perang fisik melawan orang-orang kafir. Mereka menyandarkan pendapat mereka pada sebuah sebuah hadits yang berbunyi:
“Kita baru saja kembali dari jihad kecil menuju jihad yang besar. Para shahabat bertanya, “Apa jihad besar itu? Nabi saw menjawab, “jihaad al-qalbi (jihad hati). ‘ Di dalam riwayat lain disebutkan jihaad al-nafs”.178(178 KanZ al-‘Ummaal, juz 4/616; Hasyiyyah al-Baajuriy, juz 2/ 265)

Berdasarkan hadits ini, mereka berhujjah bahwa jihad memerangi orang kafir adalah jihad kecil (jihad al-ashghar), sedangkan jihad memerangi hawa nafsu adalah jihad besar (jihad al-akbar). Walhasil, jihad memerangi hawa nafsu memiliki nilai yang lebih tinggi dibandingkan jihad memerangi orang-orang kafir. Sesungguhnya, kesimpulan semacam ini adalah kesimpulan salah, akibat kesalahan dalam memahami nash-nash syariat.

Status hadits jihaad al-nafs lemah, baik ditinjau dari sisi sanad maupun matan. Dari sisi sanad, isnaad hadits tersebut lemah (dla’if). Al-Hafidz al-‘Iraqiy menyatakan bahwa isnad hadits ini lemah. Menurut Al-Hafidz Ibnu Hajar al-Asqalaaniy, hadits tersebut adalah ucapan dari Ibrahim bin ‘Ablah.179 (179 Lihat Imam al-Dzahabiy, Syiar A’laam al-Nubalaa’, juz 6/ 324-325. Di dalam kitab ini dituturkan, bahwasanya Mohammad bin Ziyad al-Maqdisiy pernah mendengar Ibrahim bin ‘Ablah berkata kepada orang-orang yang baru pulang dari peperangan (jihad), “Kalian baru saja kembali dari jihad kecil ffihaadal-ashghar), lantas, apayang kamu lakukan dalam jihad al-qalbiy.” Al-Hafidz al-Suyuthiy juga menyatakan, bahwa sanad hadits ini lemah (dla’if).

Sedangkan dalil-dalil dari alqur’an dan sunnah telah membantahnya, diantaranya adalah :
أَجَعَلْتُمْ سِقَايَةَ الْحَاجِّ وَعِمَارَةَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ كَمَنْ آَمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآَخِرِ وَجَاهَدَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ لَا يَسْتَوُونَ عِنْدَ اللَّهِ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ
“Apakah (orang-orang) yang memberi minuman kepada orang-orangyang mengerjakan haji dan mengurus Masjidil Haram, kamu samakan dengan orang-orangyang beriman kepada Allah dan hart kemudian serta berjihad di jalan Allah? Mereka tidak sama disisi Allah; dan Allah tidak memberikan petunjuk kepada kaum yang splim.” [al-Taubah:19].

Imam Bukhari meriwayatkan sebuah hadits dari Anas bin Malik , bahwasanya Rasulullah  bersabda:
رِبَاطُ يَوْمٍ فِى سَبِيلِ اللَّهِ خَيْرٌ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا عَلَيْهَا
“Berjaga-jaga pada saat berperang di jalan Allah lebih baik daripada dunia dan seisinya”. [HR. Imam Bukhari] Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Muslim, Turmudziy, dan lain-lain.
فَإِنَّ مَقَامَ أَحَدِكُمْ فِي سَبِيلِ اللهِ خَيْرٌ مِنْ صَلاَةِ سِتِّينَ عَامًا خَالِيًا
“Sesungguhnya, kedudukan kalian di dalam jihad di jalan Allah, lebih baik daripada sholat 60 tahun secara sendiri.” [HR. Imam Ahmad].

Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Turmudziy disebutkan, bahwa jihad lebih baik daripada sholat di dalam rumah selama 70 tahun. Masih banyak lagi riwayat yang menuturkan keutamaan dan keagungan jihad di atas amal kebaikan yang lain.

Apakah adil, kita mengatakan perang yang dilakukan oleh saudara-saudara kita di medan perang adalah jihad yang paling rendah?. Ketika dalam hitungan menit saja tubuh-tubuh mereka meledak, berpencarlah kaki-kaki mereka, tubuh-tubuh mereka melayang (mengambang) di air, darah berceceran dimana-mana, sampai-sampai jenazah-jenazah mereka tidak bisa dikuburkan (karena telah hancur).

Itu semua mereka lakukan untuk mendapatkan keridhoan-Nya. Dimana letak kerendahan dari jihad yang dilakukan oleh pemuda-pemuda tadi jika dibandingkan dengan aktivitas puasa kita, yang berbuka dengan makanan lezat, lalu bagaimana mungkin aktivitas puasa itu dinilai sebagai jihad yang paling besar? Demi Allah! Ini adalah pemberian nilai yang tidak sesuai. Jika kita menyampaikan permasalahan ini sebelumnya pada generasi pertama (Islam) maka mereka tidak akan pernah menyampaikan pandangan hukum berbeda, yaitu jihad adalah lebih berat dan tinggi dibandingkan jihadun nafs.

Jihadun nafs bagi seorang mujahid
Walaupun jihad di medan peperangan merupakan jihad yang agung, akan tetapi bagi seorang mujahid tidak diperbolehkan bangga dengan amal-amalnya. Kemudian meremehkan untuk mendekatkan diri dengan berbagai amal shalih yang menyebabkan keistiqomahan dia dijalan jihad.

Sudah banyak para mujahid dan aktivis Islam yang gugur ditengah jalan karena meremehkan amalan-amalan yang menjadikan hatinya dekat dengan Allah Ta’ala. Mereka tinggalkan qiyamullail, puasa sunnah, baca alqur’an, dzikir-dzikir yang diperintahkan dan amalan-amalan lainnya, karena telah menjadi mujahid atau aktivis Islam. Dan ketika menghadapi berbagai ujian, entah penyiksaan, ataupun kesempitan hidup, mereka berguguran ditengah jalan. Ketahuilah bahwa jihad cakupannya luas. Ia tidak hanya menghadapi musuh-musuh Islam dari orang-orang kafir. Akan tetapi ia adalah bentuk perlawanan kepada berbagai hal yang bertentangan dengan Islam. Imam Ibnul qoyyim membagi tingkatan jihad menjadi 4 bagian, diantaranya adalah :

1. Jihad menundukkan hawa nafsu meliputi 4 tahap:
– Berjihad dengan mempelajari ajaran agama Islam demi kebahagiaan dunia dan akherat.
– Jihad melaksanakan Ilmu yang diperolehnya itu, karena ilmu tanpa amal adalah tidak berarti dan bahkan membahayakan.
– Jihad dengan berdakwah berdasarkan Ilmu yang benar dan praktek nyata.
– Jihad menekan diri agar sabar terhdap cobaan dakwah berupa gangguan manusia (Empat hal inilah makna yang terkandung dalam surat Al-Ashr, yang kata Imam syafi’ seandainya Allah tidak menurunkan ayat kecuali Al-‘Ashr, niscaya cukup bagi manusia).

2. Jihad melawan syaithon meliputi dua hal:
– Jihad melawan pemikiran syaithon berupa syubhat dan keragu-raguan yang dapat merusak keimanan. Perlawanannya adalah dengan keyakinan.
– Jihad melawan syaithon yang membisikan agar terjerumus kepada syahwat hawa nafsu. Caranya dengan sabar dan menahan diri dengan berpuasa. (Lihat ,QS. As-Sajdah : 2)

3. Jihad melawan kaum kufar dan munafikin, melalui 4 tahap:
– Dengan Kalbu
– Dendan lisan
– Dengan harta
– Dengan tangan.
Jihad melawan kaum kuffar lebih utama dengan tangan, sementara terhadap kaum munafikin dengan lisan.

4. Jihad melawan kedholiman, kemungkaran dan bid’ah ditempuh melalui tiga
tahap :
– Dengan tangan kalau mampu, kalau tidak
– Dengan lisan, kalau tidak mampu
– Minimal dengan hati (HR.Muslim)
Demikian 13 tingkatan jihad yang telah dilaksanakan secara sempurna oleh Rasulullah . [Ibnul Qoyyim Al-Jauziyah, Zaadul Ma’ad, Juz 3 hal 6-12].

Puasa ramadhan adalah bulan jihad dan tazkiyah. Bagi seorang pejuang Islam tentunya tidak akan menyianyiakan kesempatan ini untuk meningkatkan ibadah. Jika kita belum ditaqdirkan untuk berjihad melawan orangorang kafir, maka kita berusaha untuk berjihad dengan sesuatu yang bisa kita lakukan. Berdo’alah untuk diri kita dan saudara-saudara kita seluruh mujahidin di seluruh dunia pada waktu sahur. Berdo’alah dengan do’a Umar Ibnul Khottob :
اللَّهُمَّ ارْزُقْنِى شَهَادَةً فِى سَبِيلِكَ ، وَاجْعَلْ مَوْتِى فِى بَلَدِ رَسُولِكَ – صلى الله عليه وسلم
Ya Allah, berikanlah aku rizki mati syahid dijalan-Mu. Dan jadikanlah kematianku di negeri rasul-Mu salllahu ‘alaihi wasallam [ diriwayatkan oleh Bukhori ].

Dengan do’a yang ikhlas dan amal yang shalih, serta keinginan yang kuat untuk berjihad dan mati syahid, Allah Ta’ala pasti akan memberikannya walaupun ia mati di atas tempat tidur. Rasulullah  bersabda :
مَنْ سَأَلَ اللَّهَ الشَّهَادَةَ بِصِدْقٍ بَلَّغَهُ اللَّهُ مَنَازِلَ الشُّهَدَاءِ وَإِنْ مَاتَ عَلَى فِرَاشِهِ
Barang siapa memohon Allah untuk mati syahid dengan sungguh-sungguh, Allah akan memberinya kedudukan syuhada’ walaupun ia mati di atas tempat tidurnya. [ HR. Muslim ].

Semoga Allah Ta’ala senantiasa memberikan kekuatan pada kita untuk mendapatkan pahala di bulan ramadhan ini, serta mengisinya dengan berbagai amal shalih. Dan semoga Allah Ta’ala mengistiqomahkan kita dijalan ini hingga kita meraih syahadah. [amru].

Filed under: syubhat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: