At Taujih

Mengawal Wacana Iqomatuddiin

KETIKA PARA DA’I DIAWASI

poliKita hari ini masih merasakan nikmatnya beribadah dibulan ramadhan. Umat Islampun juga mengisi kegiatan-kegiatan ramadhan dengan berbagai acara-acara keislaman. Diantaranya adalah ceramah di masjid-masjid. Bahkan memasuki penghujung akhir ramadhan yang merupakan hari-hari mulia, ummat islam ramai-ramai mengadakan I’tikaf di masjid-masjid. Mereka tahu bahwa pada sepuluh akhir ramadhan Allah Ta’ala menurunkan lailatul qodar. Yaitu suatu malam yang lebih baik dari seribu bulan. Artinya, ibadah seseorang pada malam tersebut lebih baik dari pada ibadah selama seribu bulan dibulan yang lain.

Pengawasan terhadap aktivitas dakwah
Bersamaan dengan bulan ramadhan ini, ada sebuah pernyataan yang mengagetkan bagi ummat Islam. Apa yang dilansir beberapa media, diantaranya Republika.co.id tanggal 22 Agustu 2009 menjelaskan bahwa Markas Besar Kepolisian Indonesia (Mabes Polri) memerintahkan kepolisian di daerah meningkatkan upaya pencegahan tindak terorisme. Salah satu bentuknya adalah menggiatkan pengawasan terhadap ceramah keagamaan dan kegiatan dakwah.

Kepala Divisi Humas Mabes Polri, Irjen Nanan Soekarna, mengatakan, jika dalam materi dakwah itu ditemukan ajakan yang bersifat provokasi dan melanggar hukum, aparat akan mengambil tindakan tegas. Pengawasan itu, terang Nanan, bukan bermaksud membatasi ceramah atau dakwah.

Namun, upaya itu dipandang perlu untuk memantau dan merekam, apakah ada upaya provokasi dan pelanggaran hukum. ”Polisi tidak akan menghalangi dakwah dan tausiyah. Tapi, kita akan mencoba nempel di situ untuk lebih terbuka dan memantau,” ujar Nanan saat jumpa pers di Mabes Polri, Jumat (21/8). Jika tidak ada aparat saat itu, Nanan meminta masyarakat untuk memberikan informasinya. ”Kalau melanggar, akan kita luruskan. Kalau tidak bisa, akan kita tindak sesuai peraturan yang berlaku.”

Menanggapi penyataan tersebut, ketua Umum PP Muhammadiyah, Din Syamsuddin, menilai, jika dakwah sampai diawasi, itu merupakan kemunduran. Jarum jam sejarah, katanya, akan diputar kembali ke arah otoritarian dan penegakan hukum yang represif. ”Padahal, itu semua sudah dikoreksi melalui reformasi. Ini akan mengeliminasi prestasi demokrasi yang sudah dicapai bangsa ini. Kalau itu sampai terjadi, jelas set back,” ujarnya.

Ketua Dewan Dakwah Islam Indonesia (DDII), Adian Husaini, menolak bila dakwah dikaitkan dengan aksi terorisme. Sebab, kegiatan dakwah selama ini berjalan baik dan tidak ada masalah. Dia pun mempertanyakan, dakwah seperti apa yang mesti diawasi. ”Jangan membuat suasana antagonis, suasana permusuhan antara pemerintah dan umat Islam. Justru seharusnya umat Islam dirangkul. Jelas ini akan meresahkan umat Islam dan memunculkan situasi adu domba,” paparnya.

Reaksi keras juga datang dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang merasa keberatan atas kebijakan polisi mengawasi pengajian umat Islam selama Ramadan. MUI khawatir langkah itu akan menimbulkan keresahan dan saling curiga di masyarakat. “Itu tidak tepat dan berlebihan,” ujar Ketua MUI Amidan.

Menurutnya, selama ini tidak ada ceramah yang menganjurkan orang melakukan terorisme, apalagi selama Ramadhan. Semua ceramah dan kegiatan keagamaan bertujuan untuk meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah. Amidan mengatakan kegiatan terorisme di Indonesia selama ini dilakukan organisasi tersembunyi atau bawah tanah bukan secara terbuka seperti melalui ceramah di mesjid atau majelis taklim.

Kejadian di atas adalah salah satu bentuk ganjalan dakwah. Belum lagi jika kita mendengar adanya pemberitaan media secara besar-besaran bahwa orang yang berjenggot, istrinya berjilbab besar dan bercadar, serta aktiv diberbagai kegiatan keagamaan, mereka itulah kelompok yang berpaham sesat. Ini semua menambah permasalahan dakwah pada masa yang akan datang.

Sudah menjadi sunnatullah
Dakwah menegakkan tauhid dari masa-kemasa memang tidak pernah luput dari berbagai rintangan. Pada zaman dahulu nabi kita Muhammad  dianggap orang gila dan penyihir. Bahkan beliau diusir dari Makkah karena mendakwahkan tauhid. Nabi Ibrahim  juga diusir dari kampung halaman karena mengajak pada tauhid. Maka, jika para da’I hari ini dicurigai, diawasi dan mungkin ditangkap karena mengajak pada tauhid adalah sesuatu yang lumrah. Bisa jadi masa orde baru akan terulang lagi. Jika ada seorang da’I yang mengajak pada aqidah yang benar, akan tetapi bertentangan dengan adat dan kebiasaan serta undang-undang buatan pemerintah akan ditangkap tanpa proses hukum.

Perlu diketahui, sesungguhnya tetap teguh dalam mengucapkan kebenaran di hadapan para penguasa adalah pilihan terbaik. Memperdengarkannya kepada mereka apa yang mereka benci berupa tauhid, mencela sesembahan-sesembahan mereka dan baro’ terhadap mereka dan terhadap para penyembah dan pendukungnya. Hal tersebut adalah pilihan bagi orang yang ingin menjadi pembela din Allah Ta’ala dan menjadi golongon Thoifah Manshuroh. Mereka tidak perduli dengan orang-orang yang memusuhi mereka serta orang-orang yang enggan menolong mereka, sampai datang keputusan Allah ta’ala sedangkan mereka tetap seperti itu.
Rasulullah  juga telah memerintahkan kita untuk tetap menyampaikan kebenaran sebagaimana sabdanya :
أَلاَ لاَ يَمْنَعَنَّ أَحَدَكُمْ رَهْبَةُ النَّاسِ ، أَنْ يَقُولَ بِحَقٍّ إِذَا رَآهُ أَوْ شَهِدَهُ ، فَإِنَّهُ لاَ يُقَرِّبُ مِنْ أَجَلٍ ، وَلاَ يُبَاعِدُ مِنْ رِزْقٍ

Janganlah sekali-kali ketakutan kalian kepada orang itu menghalangi kalian untuk berkata yang benar, jika ia melihatnya atau menyaksikannya. Karena dengan mengatakan yang benar itu tidak dapat memperpendek ajal, atau menjauhkan rizki. [ HR. Ahmad ].

Imam Ibnul Qoyyim rahimahullah di dalam kitabnya yang berjudul Ighotsatul Lahfan berkata: “Di antara tipu daya musuh Alloh ta’ala adalah: ia menakut-nakuti orangorang beriman terhadap bala tentara dan antek-anteknya; sehingga kalau sudah takut, orang-orang beriman tidak akan lagi berjihad melawan mereka, tidak menyuruh mereka berbuat ma’ruf dan tidak melarang mereka berbuat munkar. Dan ini adalah termasuk tipu daya musuh yang paling besar terhadap orang-orang beriman. Dan Alloh ta’ala pun telah memberitakan kepada kita tentang hal ini, dalam firman-Nya yang berbunyi:

إِنَّمَا ذَلِكُمُ الشَّيْطَانُ يُخَوِّفُ أَوْلِيَاءَهُ فَلَا تَخَافُوهُمْ وَخَافُونِ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ
Sesungguhnya dia itu adalah syetan yang menakut-nakuti para pengikutnya. Maka janganlah takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku jika kalian beriman. [ QS. Ali Imran : 175 ].

Menurut seluruh ahli tafsir, yang dimaksud ayat tersebut adalah menakut-nakuti kalian terhadap pengikut-pengikutnya. Qotadah berkata: Menampakkan mereka itu besar di dada kalian. Oleh karena itu Allah ta’ala berfirman: Maka janganlah kalian takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku jika kalian beriman.

Dan jika iman seseorang itu kuat, akan hilang dari hatinya rasa takutnya terhadap para pengikut syetan. Dan jika imannya lemah, akan menguatlah rasa takutnya kepada mereka.” Sampai di sini perkataan Ibnul Qoyyim.

Mengatakan kebenaran adalah pilihan orang yang beriman. Bahkan sebesar-besar jihad adalah mengatakan kebenaran dihadapan pemimpin yang ja’ir. Allah juga telah menetapkan bahwa jika datang kebenaran, yang batil pasti akan lenyap. Tinggal kita, sabar dan teguhkah kita untuk mengatakan kebenaran sehingga Allah melenyapkan kebatilan dengan dakwah kita ?. Atau kita mundur dan diam sehingga kebatilan yang merajalalela. [ Amru ].

Filed under: analisa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: