At Taujih

Mengawal Wacana Iqomatuddiin

JIHAD KITA LEMAH

Jihad adalah syari’at islam yang tidak bisa dibantah lagi. Jihad menjadi sebuah kewajiban aini’ dibanyak keadaan sebagaimana yang dijelaskan oleh para ulama’. Kewajiban jihad tidak dapat dirubah dan diganti dengan dipolitisir oleh pemikiran, hawa nafsu, atau dengan alasan Istihsan, karena andaikan saja ada metode yang lebih mulia dan lebih baik dari jihad, pasti Allah  akan mengajarkannya kepada kita. Dan tentunya hal itu akan lebih dahulu dikerjakan oleh para sahabat . Begitulah hukum Islam telah menetapkan bahwa jihad fisabilillah dan memerangi orang-orang musyrik merupakan kewajiban aini’ di beberapa kondisi dan menjadi kewajib kifa’i di kondisi lain. Dan kewajiban jihad ini adalah merupakan salah satu bentuk ibadah kita kepada Alloh  yang terbesar sehingga tidaklah layak seorang hamba yang serba terbatas mencari-cari pilihan lain dengan alasan kemaslahatan, istihsan atau yang lainnya.

Memang benar bahwa jihad merupakan sebuah hukum syar’I sebagaimana hukum-hukum syar’I lainnya. Yang dalam pelaksanannya disesuaikan dengan kemampuan dan kekuatan. Maka Sang Pembuat syari’atpun juga memerintahkan agar membangun sebuah kekuatan dan kemampun untuk pelaksanaan jihad, yaitu I’dad. Maka jelas kewajiban jihad tidak dapat dibantah. Adapun bila tidak mampu melaksanakannya dikarenakan keadaan lemah, maka wajib melaksanakan I’dad. (Al-jihad wal ijtihad, hal. 206)

Dengan demikian tidak ada jawaban lain kalau ada orang yang bertanya-tanya, apa yang akan kita lakukan agar sampai kepada kemulyaan Islam dan kekuasaan diatas muka bumi dalam kondisi seperti apa yang kita hadapi sekarang ini??? Tidak ada jawaban yang lain yang datang dari Al-Kitab dan As-Sunnah selain: I’dad kemudian Jihad. Sebagaimana yang terangkum dalam perkataan Ibnu Taimiyyah:

وَكَمَا يَجِبُ الْاِسْتِعْدَادُ لِلْجِهَادِ, بِإِعْدَادِ الْقُوَّةِ وَالرِّبَاطِ الْخَيْلِ فِي وَقْتِ سُقُوْطِهِ لِلْعَجْزِ فَإِنَّ مَا لاَيَتِمُّ الْوَاجِبُ إِلاَّ بِهِ فَهُوَ وَاجِبٌ.
“Dan sebagaimana wajibnya mempersiapkan kekuatan untuk berjihad dengan persiapan kekuatan dan menambatkan kuda dikala jihad tidak dikerjakan karena lemah, maka sesungguhnya sesuatu yang tidak bisa sempurna kecuali dengannya, maka sesuatu tersebut menjadi wajib.” (Majmu’ Fatawa XXVIII / 259)

Dan inilah yang menjadikan pembeda antara orang beriman dan orang munafiq sebagaimana yang dikatakan oleh Abdul Qodir bin Abdul Aziz dalam muqoddimah kitabnya Al-‘Umdah fii I’dadil ‘Uddah bersarkan firman Alloh:
وَلَوْ أَرَادُوا الْخُرُوجَ لأَعَدُّوا لَهُ عُدَّةً وَلَكِنْ كَرِهَ اللَّهُ انْبِعَاثَهُمْ فَثَبَّطَهُمْ وَقِيلَ اقْعُدُوا مَعَ الْقَاعِدِين
“Dan jika mereka mau berangkat, tentulah mereka menyiapkan persiapan untuk keberangkatan itu, tetapi Allah tidak menyukai keberangkatan mereka, maka Allah melemahkan keinginan mereka, dan dikatakan kepada mereka:”Tinggallah kamu bersama orang-oang yang tinggal itu”. (At-Taubah:46)

Sesungguhnya ketika kita katakan bahwa jihad itu adalah satu-satunya jalan meraih kemenangan dan kemuliaan, hal itu bukan berarti meremehkan wasilah-wasilah lainnya. Setiap kegiatan dakwah, tarbiyah dan tazkiyatunnafs serta mendidiknya sepaya berakhlaq dengan akhlaq Islam, perhatian terhadap belajar dan mengajar ‘ilmu syar’I serta berusaha untuk mewujudkan sebuah kelompok yang mempunyai nilai yang cukup tinggi baik akhlaq maupun keyakinan dan juga hal-hal syar’I lainnya yang membantu terwujudnya perkumpulan Islami yang bersih, Semuanya ini adalah masalah-masalah penting bagi setiap umat yang menginginkan kebangkitan. Dan ini termasuk dari pengertian I’dad secara luas. (Lihat Hukmul Islam Fid Dimuqrothiyyah, hal. 434).

Hukum I’dad Hari Ini
Abdul Mun’im mengatakan:” Dan I’dad – dengan pengertiannya yang luas – secara hukum syar’I hukumnya adalah wajib ‘aini kepada seluruh umat Islam baik indifidu maupun secara jama’ah, masing-masing sesuai dengan kemampuannya, karena Alloh tidaklah membebani seseorang kecuali yang ia mampu kerjakan walaupun sedikit kadar dan bentuknya. Sesungguhnya sedikit itu kalau digabungkan antara satu dan lainnya akan menjadi banyak, kuat dan berarti. Lihat Hukmul Islam Fid Dimuqrothiyyah, hal. 416

Syaikh Abu Qotadah pernah ditanya tentang hukum I’dad askari apakah hukumnya fardlu ‘ain bagi orang yang mampu. Beliau menjawab:”Saudaraku yang baik, ketahuilah bahwa jihad hari ini hukumnya adalah fardlu ‘ain bagi setiap muslim yang mampu. Maka jihad melawan orang-orang Yahudi hukumnya adalah fardlu ‘ain begitu pula jihad melawan para thoghut Arab maupun Ajam yang telah mengganti hukum syari’at, menghalalkan apa-apa yang telah diharamkan, membantu musuh-musuh Alloh dan membunuh orang-orang Islam lantaran mereka berpegang dengan agamanya. Harus diketahui bahwa jihad melawan mereka hukumnya adalah fardlu ‘ain. Maka jika sesuatu hukumnnya fardlu ‘ain, maka pembukaan dan wasilah-wasilahnyapun menjadi fardlu ‘ain pula, sebab wasilah hukumnya sama dengan tujuannya. Sedangkan I’dad adalah wasilah jihad yang tidak mungkin terlaksana kecuali dengannya. Dengan demikian maka hukum I’dad adalah fardlu ‘ain bagi setiap muslim yang mampu. Sedangkan I’dad askari adalah termasuk bagian dari I’dad. Akan tetapi pembagian macam-macam I’dad antara umat Islam harus dengan terorganisir dan tertib sehingga setiap orang berada dalam posisi yang sesuai dengan keperluan para mujahidin. Dengan demikian, posisinya dalam I’dad memenuhi kebutuhan umat Islam di negerinya.” http://www.tawhed.com/abuqatada publikasi tgl. 13 shafar 1422H.

qosamKetika bumi islam dirampas
Hari ini umat islam dalam keadaan lemah secara keseluruhan. Lemah dari segi minimnya personil maupun persenjatan. Ditambah lagi musuh yang menyerang umat islam bertambah banyak dan selalu meningkatkan kwalitas mereka. Tetapi semuanya itu tidaklah menjadikan umat islam menihilkan jihad sama sekali. Atau mungkin ada yang berpendapat cukup hanya dengan I’dad. Sehingga mempunyai personil yang ter tarbiyah ruhnya, jasadnya, fikriyahnya, dan jumlah yang memadai, kemudian berjihad.

Akankah kita mengatakan untuk ber I’dad bagi penduduk iraq yang telah dijajah oleh amerika. Akankah kita memerintahkan ber I’dad bagi penduduk moro yang dijajah pilipina. Dan akankah kita memerintahkan beri’dad pada penduduk-penduuk yang serupa dengan mereka seperti palestina, poso, ambon dan tempat lainnya ?. mereka harus keluar untuk melawan musuh walau dengan keadaan yang pas-pasan.

Ada pernyataan yang sangat bagus dari Syaikh Abdul akhir Hamad menukil perkataan Asy Syaukani dalam kitab As Sailul Jarror V/519 : ” Menyerang orang-orang kafir dan ahli kitab serta membawa mereka masuk kepada agama islam atau membayar jizyah atau membunuh, hal ini merupakan perkara yang sangat jelas dalam agama …… adapun tentang meninggalkan dan membiarkan mereka jika tidak memerangi, hal ini adalah sudah mansukh secara ijma’.
Lalu beliau berkata : ” dan sungguh disayangkan, sampai-sampai jihadud daf’I pun sebagian orang melarangnya. Dan masa kelemahan menjadi alasan dalam berpangku tangan. Setiap ada sebuah kelompok kebenaran berjihad melawan kelompok sesat yang diperintahkan di dalam nas-nas untuk diperangi, tiba-tiba ada orang yang mencela mereka dengan alasan kita berada dalam masa kelemahan sebagimana masa makkah, dan jihad pada masa lemah tidalah sah, ini jelas-jelas batil. Sesungguhnya agama ini telah sempurna dan nikmat Allahpun telah lengkap dan kita dituntut untuk melaksanakan perintah terakhir dari Rasulullah .

Masa Makkah telah selesai dan tidak ada lagi kata kembali ke masa tersebut. Dan sesungguhnya inti permasalahannya adalah bahwasanya orang lemah yang tidak mampu melaksanakan jihad ia tidak wajib berjihad, namun dia tidak berhak melarang orang lain yang melihat pada dirinya mempunyai kekuatan untuk berjihad kemudian ia berjihad. Dan juga bahwasanya kemampuan adalah syarat wajib bukan syarat sah.

Begitulah pemaparan dari Syaikh Abdul Akhir Hamad, bahwa jihad senantiasa ada dan tidak berhenti karena lemah. Akan tetapi jihad menjadi wajib pada saat bumi islam dirampas oleh orang-orang kafir. Semoga Allah menjadikan kita salah satu diantara orang-orang yang ber ‘Idad atau berjihad, karena tidak ada kelompok yang ketiga kecuali kelompok yang menyelisihi kebenaran. (Amru).

Filed under: 'Adawah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: