At Taujih

Mengawal Wacana Iqomatuddiin

AL-KHANSA’ ; Ibu para Syuhadaa’

cadar“Segala puji bagi Allah yang memuliakanku dengan kematian mereka. Aku berharap kepada-Nya agar mengumpulkanku bersama mereka dalam naungan rahmat-Nya”

Itulah kalimat yang keluar dari lisan Al-Khansa’, ketika mendengar ke-empat anaknya gugur sebagai syuhadaa’ dalam perjuangan menegakkan Islam dalam perang Qodissiyah. Perempuan yang melahirkan para mujahid ini, dengan penuh ketabahan dan kesabaran telah mengokohkan anak-anaknya di medan jihad. Ia adalah Al Khansa’ sebutan dari seorang wanita yang bernama Tumazhir binti ‘Amru bin Syarid as-Sulami.

Ia masuk Islam tatkala mendengar dakwah Islam, ia bersama kaumnya Bani Sulaim mendatangi RasululLah dan menyatakan keislamannya. Ia ahli dalam syair. Bahkan suatu ketika Rasulullah menyuruhnya untuk melantunkan syair-syairnya. RasululLah kagum atas keindahan syairnya, beliau menyuruh Al-Khansa’ untuk melanjutkan syair’syairnya.

Ketika terjadi peperangan Qodisiyyah [Iraq], Al Khansa’ bersama keempat putra turut dalam peperangan. Ia menasehati putera-putera agar gagah dan tabah dalam perjuangan.

“Wahai anak-anakku, kalian telah masuk Islam dengan taat dan berhijrah dengan penuh kerelaan. Demi Allah yang tiada ilah yang haq selain Dia, kalian adalah putera dari laki-laki yang satu sebagaimana kalian juga putera dari wanita yang satu. Aku tak pernah mengkhianati ayah kalian, tak pernah mempermalukan khal [paman, saudara laki-laki ibu] kalian, tak pernah mempermalukan nenek moyang kalian, dan tak pernah menyamarkan nasab kalian”.

“Kalian semua tahu betapa besar pahala yang Allah siapkan bagi orang-orang yang beriman ketika berjihad melawan orang-orang kafir. Ketahuilah negeri akherat yang kekal jauh lebih baik dari negeri dunia yang fana, sebagaimana firman Allah, “Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga [di perbatasan negerimu] dan bertaqwalah kepada Allah supaya kamu beruntung”.[Ali Imran: 200]

“Andaikata esok kalian masih diberi kesehatan oleh Allah, maka perangilah musuh kalian dengan gagah berani, mintalah kemenangan atas musuhmu dari Ilahi.
Apabila pertempuan mulai sengit dan api peperangan mulai menyala, terjunlah kalian ke jantung musuh, habisilah pemimpin mereka saat perang tengah bekecamuk, mudah-mudahan kalian meraih ghanimah dan kemuliaan di negeri yang kekal dan penuh kenikmatan”.

Nasehat sang ibu ini membangkitkan semangat juang keempat putranya untuk maju di medan perang. Dengan gagah berani, di saat fajar menyingsing dengan menghunus pedang, mereka menghadang para musuh Allah sambil bersyair:

Saudaraku, ingatlah pesan ibumu
Tatkala ia menasehatimu di waktu malam
Nasehatnya sungguh jelas dan tegas,
Majulah dengan geram dan wajah seram
Yang kalian hadapi nanti hanyalah
Anjing-anjing Sasan yang mengaum geram
Mereka telah yakin akan kehancurannya
Maka pilihlah antara kehidupan yang tenteram
Atau kematian yang penuh keberuntungan

Begitulah, ia melesat bagai anak panah ke tengah-tengah musuh, berperang mati-matian, sampai akhirnya ia gugur sebagai syuhada. Majulah anak kedua sambil bersya’ir;

Ibunda adalah wanita yang hebat dan tabah,
Pendapatnya sungguh tepat dan bijaksana
Ia perintahkan kita dengan penuh kebijaksanaan
Sebagai nasehat yang tulus bagi puteranya
Majulah tanpa pusingkan jumlah mereka
Dan raihlah kemenangan yang nyata
Atau kematian yang sungguh mulia
Di jannah al-Firdaus yang kekal selamanya

Kemudian ia bertempur, menghancurkan musuh sampai titik darah penghabisan, akhirnya gugur sebagai syuhada menyusul saudaranya. Lalu anak yang ketiga mengikuti jejak kedua saudaranya, sambil bersyair ia maju ke medan pertempuran;

Demi Allah, takkan kudurhakai perintah ibu
Perintah yang sarat dengan rasa kasih sayang
Sebagai kebaktian nan tulus dan kejujuran
Maka majulah dengan gagah ke medan perang
Hingga pasukan Kisra terpukul mundur atau biarkan mereka tahu, bagaimana cara berjuang
Janganlah mundur karena itu tanda kelemahan
Raihlah kemenangan meski maut menghadang

Iapun tertempur mati-matian, sampai akhinya menyusul kedua saudaranya, gugur sebagai syuhada.
Majulah anak keempat menyusul ketiga saudaranya. Ia maju ke medan pertempuran seraya bersyair;

Aku bukanlah anak si Khansa’ maupun Akhram
Tidak juga Umar atau leluhur yang mulia
Jika aku tak menghalau pasukan Ajam [asing]
Melawan bahaya dan menyibak berisan tentara
Demi kemenangan yang menanti, dan kejayaan
Ataulah kematian, di jalan yang lebih mulia

Begitulah, ia bertempur habis-habis memperjuangan agama Allah. Bertempur dengan gagah berani yang akhirnya mengantarkan ia menyusul ketiga saudaranya, gugur sebagai syuhada’.

Begitu mendengar keempat anaknya gugur sebagai syuhada, Al-Khansa’ dengan tabah berucap, “Segala puji bagi Allah yang memuliakanku dengan kematian mereka. Aku berharap kepada-Nya agar mengumpulkanku bersama mereka dalam naungan rahmat-Nya”

Figur seorang ibu yang sukses mengantarkan anak-anaknya sebagai syuhada. Ibu yang dari rahimnya melahirkan para syuhada yang dengan gagah berani bertempur melawan musuh memperjuangkan agama Allah. [Kh-Sumber: Ibunda Para Ulama]

Filed under: Profil Mujahid

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: