At Taujih

Mengawal Wacana Iqomatuddiin

SYUBHAT SEKITAR MAWAANI’ AT-TAKFIR

sholatTema iman dan kufur merupakan tema yang paling penting dalam aqidah. Karena hal itu akan ber-implikasi langsung kepada wala’ dan baro’, praktek nyata dari aqidah. Sangat banyak hukum-hukum dan perlakuan yang ditimbulkannya baik di dunia maupun di akherat yang didasarkan pada persoalan ini. Alloh Ta’aalaa berfirman:

أَمْ حَسِبَ الذِيْنَ اجْتَرَحُوْا السَئِّاَتِ أَنْ نَجْعَلَهُمْ كاَلذِيْنَ آمَنُوْا وَعَمِلُوا الصَالِحَاتِ سُوْاء محياهم ومماتهم ساء ما يحكمون
Apakah orang-orang yang berbuat buruk itu menyangka bahwa kami akan menjadikan mereka seperti orang-orang yang beriman dan beramal sholih sama saja baik waktu hidup dan pada waktu mati. Sungguh jelek apa yang mereka tetapkan. [QS. Al Jaatsiyah: 21].

Adapun dampaknya di akherat: sesungguhnya manusia itu masuk jannah [surga] atau naar [neraka] ditentukan oleh iman dan kufur.

Dan adapun dampaknya di dunia: hukum-hukum yang ditimbulkan banyak sekali diantaranya adalah masalah warisan, janaiz, pernikahan, jihad dll.

Syubhat
Diantara mereka ada yang berkata bahwa seseorang jika masih melaksanakan sholat dan masih melaksanakan beberapa syari’at Islam tetap dianggap muslim walaupun telah melaksanakan pembatal keislaman atau beberapa pembatal keislaman.

Inti ajaran para rosul adalah tauhid. Tauhid merupakan syarat pokok diterimanya semua amalan dan ibadah. Ibadah akan menjadi sah dan diterima Allah Ta’ala jika memenuhi dua syarat, yaitu ikhlas dan mengikuti sunnah RasululLah shallalLahu ‘alayhi wa sallam.
Adapun diantara dalil untuk syarat yang pertama adalah:

Allah berfirman:
Dan orang-orang yang kafir amal-amal mereka adalah laksana fatamorgana di tanah yang datar, yang disangka air oleh orang-orang yang dahaga, tetapi bila didatanginya air itu dia tidak mendapatinya sesuatu apapun.Dan didapatinya [ketetapan] Allah di sisinya, lalu Allah memberikan kepadanya perhitungan amal-amalnya dengan cukup dan Allah sangat cepat perhitungan-Nya. [An-Nur: 39]

Dengan demikian, sesungguhnya orang yang melakukan kesyirikan itu tidak akan diterima amalannya, baik sholatnya, zakatnya, hajinya dan yang lainnya. Semua bentuk peribadatan yang mereka lakukan itu menjadi bathal dan semua amalannya tidak akan diterima di sisi Allah.
Lebih lanjut Allah Ta’ala berfirman:
لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ
Sungguh, jika engkau berbuat syirik, sungguh benar-benar akan hapuslah amalmu, dan sungguh benar-benar engkau termasuk orang-orang yang rugi.

Ibnu Qudamah berkata:
إَنَّ الرِدَّةَ تَنْقُضُ الْوُضُوْءَ وَتُبْطِلُ التَيَمُّمَ، وَهَذَا قَوْلُ الْأَوْزَاعِي وَأَبِي ثَوْر، وَهِيَ الْاِتْيَانُ بِمَا يَخْرُجُ بِهِ عَنِ الْإِسْلاَمِ إِمَّا نُطْقاً أَوْ اِعْتِقَاداً أَوْ شَكّاً يُنْقِلُ عَنِ الْإِسْلاَمِ، فَمَتَى عَاوَدَ إِسْلاَمُهُ وَرَجَعَ إِلَى دِيْنِ الْحَقِّ فَلَيْسَ لَهُ الصَلاَةَ حَتَّى يَتَوَضَّأَ وَإِنَّ كَانَ مُتَوَضِئاً قَبْلَ رِدَّتِهِ
Sesungguhnya kemurtadan itu membatalkan wudlu dan tayammum, dan ini adalah pendapat Al-Auza’iy dan Abu Tsaur. Sedangkan yang dimaksudkan dengan kemurtadan itu adalah melakukan amalan yang mengeluarkan dari Islam, baik itu berupa perkataan, keyakinan maupun keragu-raguan yang dapat mengeluarkannya dari Islam. Oleh karena itu jika ia kembali kepada agama yang benar, maka ia tidak sah sholatnya hingga ia berwudlu jika sebelum murtad ia telah berwudlu.” [Al-Mughni ma’a Asy-Syarh Al-Kabir I/168].

Beliau juga berkata:
وَالرِدَّةُ تُبْطِلُ الْأَذَانَ إِنْ وُجِدَتْ فِي أَثْنَائِهِ
Dan kemurtadan itu membatalkan adzan jika terjadi ketika ia adzan. [Al-Mughni ma’a Asy-Syarh Al-Kabir I/438].

Beliau juga berkata:
“Maka jelaslah bahwasanya orang yang tidak boleh dibunuh ataupun diperangi itu adalah orang yang masih sholat sedangkan tauhidnya benar dan ia tidak melakukan perbuatan kekufuran yang mengeluarkan ia dari Islam. Karena kalau ia telah murtad maka semua amalan dan ibadahnya itu tidak sah dan tidak ada manfaatnya”.

Memerangi Mereka yang Menolak Syari’at Islam
Para ulama’ telah ber-ijma’ atas wajibnya memerangi kelompok manapun yang mempunyai kekuatan dan tidak mau melaksanakan satu bagian dari syari’at Islam yang sudah jelas dan mutawatir. Baik yang tidak dilaksanakan itu sedikit maupun banyak. Jika mereka masih mengakui atas wajibnya syari’at tersebut maka mereka wajib diperangi sampai mereka melaksanakan apa yang mereka tinggalkan.

Adapun jika mereka tidak mau melaksanakan karena menentang, maka dengan demikian mereka jelas-jelas telah menolak sehingga status mereka murtad. Dan mereka diperangi sampai mereka kembali kepada Islam. Dan memerangi dua kelompok tersebut adalah wajib hukumnya secara ijma’.

RasululLah bersabda :
أُمِرْتُ أَنْ أُقَاتِلَ النَّاسَ حَتَّى يَقُوْلُوْا لاَ إِلَهَ إِلاَّ الله فَمَنْ قَالهَاَ فَقَدْ عَصَمَ مِنِّي مَالَهُ وَنَفْسَهُ إِلاَّ بِحَقِّهِ وَحِسَابُهُ عَلَى اللهِ
Saya diperintahkan untuk mememrangi manusia sampai mengucapkan Lailaha Illallah, maka barang siapa yang mengucapkannya harat dan jiwanya terjaga dariku kecuali memang karena haknya dan hisabnya terserah kepada Allah. [Shohihul Bukhori, Kitab az-Zakat, bab I, no.1399, II/110 dan Shohih Muslim, Kitab al-Iman, no.33, hal.52].

Orang-orang kafir yang masuk Islam jika mereka tidak melaksanakan syari’at Islam mereka diperangi. Oleh karena itu kelompok manapun yang mengaku Islam dan mengucapkan syahadatain namun tidak melaksanakan sebagian dari syari’at yang sudah jelas dan mutawatir, mereka wajib diperangi sebagaimana kesepakatan kaum muslimin.

Hal ini menunjukkan bahwa orang-orang yang masuk Islam itu diuji atas keislamannya, apakah mereka mau menegakkan sholat dan menunaikan zakat. Jika tidak, maka tidak ada penghalang untuk diperangi. Dan dalam masalah ini telah terjadi diskusi antara Abu Bakar dan Umar radliyalLaahu ‘anhuma sebagaimana yang tersebut dalam kitab Shohihayn dari Abu Huroiroh radliyalLaahu ‘anhu beliau berkata bahwa ketika RasululLah shallalLahu ‘alayhi wa sallam telah wafat, Abu Bakar menjadi kholifah dan orang-orang Arab kembali kafir, Umar berkata kepada Abu Bakar, ”Bagaimana Anda memerangi mereka padahal Rosululloh pernah bersabda, ‘Saya diperintahkan untuk memerangi manusia sampai mengucapkan Laa ilaaha IllalLaah, maka barang siapa yang mengucapkannya harta dan darah-nya terjaga dariku kecuali karena hak-nya dan hisabnya terserah kepada Allah”. Maka Abu Bakar mengatakan, ”Demi Alloh! aku akan memerangi orang-orang yang memisahkan antar sholat dan zakat. Sesungguhnya zakat itu adalah hak harta, demi Alloh!, jika mereka tidak mau membayar zakat unta atau kambing yang pernah mereka bayarkan kepada RasululLah, aku pasti akan perangi mereka!”. Umar berkata, ”Demi Alloh!, aku melihat bahwa Alloh telah melapangkan dada Abu Bakar untuk memerangi mereka, maka tahulah aku bahwa hal itu adalah benar”. Abu Bakar memerangi mereka dengan berdasarkan sabda Rosul: ”kecuali haknya.” Hal ini menunjukkan bahwa kadang-kadang orang yang telah mengucapkan dua kalimat syahadat itu terpaksa harus diperangi tatkala tidak memenuhi hak-hak yang mesti ditunaikan yang merupakan konsekuensi dari kalimat tersebut. Dan diantara hak yang dimaksud adalah menunaikan zakat.

Dan Umar radliyalLaahu ‘anhu semula menyangka bahwa hanya dengan mengucapkan dua kalimat syahadat saja dapat mencegah seseorang untuk masuk neraka di akherat kelak karena berpegang dengan keumuman lafadz yang tersebut dalam hadits, padahal tidak demikian. Lalu Umar sepakat dengan pendapat Abu Bakar radliyalLaahu ‘anhu. [Jami’ al- ‘Uluum wa al-Hikam, hal. 80-81]

Dan hukum orang yang meninggalkan seluruh hukum Islam adalah diperangi sebagaimana mereka juga diperangi jika mereka meninggalkan sholat dan zakat. Ibnu Syihab meriwayatkan dari Handzolah bin Ali bin Al-Asqo’, bahwasanya Abu Bakar radliyalLaahu ‘anhu Mengutus Kholid ibnu al-Walid radliyalLaahu ‘anhu Dan memerintahkannya untuk memerangi manusia jika mereka meninggalkan lima perkara. Maka barangsiapa meninggalkan salah satu dari lima perkara tersebut perangilah mereka sebagaimana halnya jika mereka meninggalkan lima perkara semuanya. Yaitu; dua kalimat syahadat, sholat, zakat dan shoum romadlon.

Dari Sa’id bin Jubair berkata bahwasanya Umar ibn al-Khoththob mengatakan, ”Seandainya orang-orang itu tidak melaksanakan haji, pasti akan kuperangi sebagaimana mereka juga akan aku perangi jika mereka tidak melaksanakan sholat dan zakat”. Inilah pembahasan tentang memerangi kelompok yang tidak mau melaksanakan bagian dari kewajiban-kewajiban tersebut. [Jami’ al- ‘Uluum wa al-Hikam, hal. 82]

Imam An-Nawawi berkata, ”Hadits tersebut menunjukkan atas wajibnya memerangi orang-orang yang tidak mau melaksanakan zakat atau sholat atau kewajiban Islam yang lain, baik banyak maupun sedikit, dasarnya adalah perkataan beliau [Abu Bakar], ’Jika mereka tidak mau membayarkan zakat unta atau kambing”’.

Imam Malik berkata, ”Menurut kami, setiap orang yang tidak mau melaksanakan suatu kewajiban dari kewajiban Alloh, dan kaum muslimin tidak bisa memaksanya, maka kaum muslimin wajib memeranginya sampai bisa memaksanya untuk melaksanakannya”. [Shahih Muslim bi Syarh an-Nawawi I/212].

Asy-Syaukani berkata, ”Dan orang yang meninggalkan rukun-rukun Islam [seluruhnya] atau sebagiannya, apabila ia terus dalam keadaan demikian, maka hukumnya wajib memeranginya sesuai dengan kemampuan. Dan begitu pulalah seharusnya hukumnya menurut syari’ah bagi setiap orang yang melakukan sesuatu yang diharamkan atau meninggalkan kewajiban”. [Ar-Roudloh an-Nadiyyah I/184, cet. Darut Turots].

Perkataan beliau shallalLaahu ‘alayhi wa sallam yang diriwayatkan oleh Imam Muslim ketika seorang shahabat bertanya, “Tidakkah kami perangi saja mereka wahai Rasulullah?” Kemudian beliau jawab, ”Tidak! selama mereka masih menegakkan sholat bersama kalian”. Sabda beliau ini bersifat umum. Hadits itu sendiri bukan satu-satunya yang berbicara tentang masalah tersebut. Sedangkan konsekuensi dari menegakkan sholat adalah juga melaksanakan perintah-perintah syari’at yang lain. Yang lebih penting lagi, para pendahulu kita dari kalangan shahabat radliyalLaahu ‘anhum dalam memahami masalah ini tidak seperti itu, sebagaimana praktek yang dilakukan oleh Abu Bakar Ash-Shiddiq dalam memerangi Ahlu ar-Riddah [Amru].

Filed under: Aqidah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: