At Taujih

Mengawal Wacana Iqomatuddiin

Tatkala Jihad Menjadi Fardhu ‘Ain

images5Tauhid adalah fardhu ‘ain, yang manusia manapun tidak akan selamat tanpanya. Namun ketika di dalam pelaksanaannya terjadi benturan waktu dengan fardhu ‘ain lainnya, bolehkah seseorang menangguhkan belajar tauhid secara detail -sementara mencukupkan tauhid mujmal- karena benturan tersebut?

Ketika musuh telah menyerang negeri muslim, memasuki kampung halaman, merampas harta, menodai kehormatan, menjadikan wanita dan anak-anak sebagai tawanan dan menjajah negeri, kewajiban jihad tidak boleh di tunda dan hukumnya menjadi fardhu ‘ain. Ummat Islam wajib berjihad ketika itu juga tanpa mempertimbangkan kesiapan maupun keseimbangan persenjataan dan jumlah.

Jika jihad ditunda ketika itu, maka akan hilang mashlahat-nya ; hilangnya nyawa, terampasnya harta, tertawannya wanita dan anak-anak, serta terdudukinya tanah kaum muslimin.
Kesadaran yang hadir setelah itu akan berhadapan dengan kenyataan pahit ; telah hilangnya milik berharga kaum muslimin dikuasai musuh. Selain itu, yang lebih menyedihkan, musuh pasti akan menutup semua sebab yang dapat menjadikan bangkit dan terkumpulnya kekuatan untuk merebut kembali milik-milik kaum muslimin yang telah mereka kuasai.

Lebih buruk lagi -nas-alulLaaha al-aafiyah- jika musuh telah berhasil menjadikan sebagian dari ummat Islam menjadi antek mereka, bekerja untuk mereka, menukar keyakinan mereka untuk mendapatkan kedudukan dari musuh, menghapuskan sejarah ummat Islam sehingga ummat Islam kehilangan masa lalunya.

Tentang Tauhid
Tentang fardhu ‘ain-nya seseorang untuk bertauhid tidak diragukan lagi, manusia manapun tidak akan selamat dari ancaman siksa tanpa tauhid. Namun apakah fardhu ‘ain pula mempelajarinya secara detail, hingga segala permasalahan yang berhubungan dengan tauhid menjadi jelas dan tidak ada ruang keraguan.
Begitu pula ketika terjadi benturan dengan fardhu ‘ain lainnya yang bersifat fauriy [segera], serangan musuh sudah memasuki kampung halaman dan mengharuskan kita menolak serangan tersebut.

Ada beberapa kalangan yang menganggap belajar tauhid lebih utama daripada jihad yang fardhu ‘ain. Hingga –dengan alasan tersebut– mereka meninggalkannya jihad beserta hal-hal yang berkenaan dengan jihad tersebut di antaranya I’dadul Quwwah.

Tauhid adalah rukun yang pertama dalam rukun iman yang berjumlah enam, sementara iman itu ada yang fardhu ‘ain, yaitu iman yang mujmal [secara global] dan ada yang fardhu kifayah, yaitu iman yang mufashol [secara terperinci], yang mana iman yang mufashol ini merupakan buah dari ilmu. Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata: “Tidak diragukan lagi bahwa setiap orang wajib untuk beriman secara mujmal [global] dengan ajaran yang dibawa oleh RasululLah shallalLaahu ‘alayhi wa sallam, dan tidak diragukan lagi bahwa mengetahui ajaran yang dibawa oleh RasululLah shallalLaahu ‘alayhi wa sallam secara mufashol [terperinci] itu adalah fardhu kifayah”. [Majmu’ Fatawa : III / 312] Perkataan ini dinukil secara lengkap oleh pensyarah kitab Al-‘Aqidah Ath-Thohawiyah. [Syarh Al Aqidah Ath Thohawiyah hal. 66, cet. Al Maktab Al-Islaami 1403 H]

Jelas, bahwa bertauhid mujmal merupakan fardhu ‘ain [sebagaimana iman yang enam], dan iman secara mufashol adalah fardhu kifayah yang ini di dapatkan dengan cara belajar secara detail. Hingga ketika harus berbenturan dengan kewajiban syar’I yang lain –misalnya jihad yang sifatnya fardhu ‘ain- maka iman mufashol harus di tunda pemenuhannya.

Imam Al-Qurofi Al-Maliki berkata: “Sesungguhnya permasalahan ini dibangun diatas pemahaman yang disimpulkan dari salah satu kaidah tarjih [menentukan yang lebih utama] dan patokan untuk menentukan mana perintah yang Alloh ta’ala lebih dahulukan, yaitu yang menyatakan bahwa apabila ada beberapa hak yang saling bertentangan maka didahulukan yang mudloyyaq [lebih mendesak] daripada yang muwassa’ [longgar], karena sempitnya waktu itu menunjukkan seolah-olah lebih diperhatikan oleh Sang Pembuat syariat sehingga waktu pelaksanaannya dibuat mudloyyaq [sempit], dan bahwa apa yang dibolehkan untuk diundur pelaksanaannya, dan dijadikannya sebagai kelonggaran, tanpa ada dalil. Dan yang bersifat al-fauriy [segera] itu lebih didahulukan daripada yang bersifat al-mutarokhi [memiliki toleransi waktu], karena perintah yang bersifat segera itu menunjukkan bahwa perintah tersebut lebih kuat daripada yang diakhirkan”.

“Dan fardhu ‘ain lebih di dahulukan daripada fardhu kifayah, karena perintah yang ditujukan untuk seluruh orang yang mukallaf [baligh dan berakal] itu menunjukkan bahwa perintah tersebut lebih kuat daripada perintah yang hanya ditujukan kepada sebagian orang saja”.
“Dan juga karena fardhu kifayah itu kemashlahatannya tidak terulang dengan diulanginya amalan, padahal sebuah amalan yang kemashlahatan berulang dalam segala bentuknya itu lebih kuat keterkaitannya dengan maslahat dari pada amalan yang tidak ada maslahatnya kecuali dalam beberapa bentuk saja. Oleh karena itu sesuatu yang dikhawatirkan akan terlewatkan itu lebih didahulukan pelaksanaannya daripada sesuatu yang tidak dikhawatirkan akan terlewatkan meskipun derajatnya lebih tinggi darinya”. [Al Furuq, Al-Qurofi, Darul Ma’rifah II / 203]

Tanda Kejujuran Iman
Bahwa melakukan I’dad untuk jihad yang hukumnya wajib ini adalah salah satu tanda dari tanda-tanda kejujuran iman dan terbebasnya diri dari sifat nifaq. Sesungguhnya keadaan orang-orang munafik dalam hal ini seperti apa yang disebutkan oleh Alloh ta’ala:
وَلَوْ أَرَادُوا الْخُرُوجَ لَأَعَدُّوا لَهُ عُدَّةً وَلَكِنْ كَرِهَ اللَّهُ انْبِعَاثَهُمْ فَثَبَّطَهُمْ وَقِيلَ اقْعُدُوا مَعَ الْقَاعِدِينَ
Jika mereka benar-benar ingin keluar [untuk berperang] pasti mereka akan mempersiapkan perbekalan, akan tetapi Alloh tidak menyukai keberangkatan mereka maka Alloh melemahkan kenginginan mereka dan dikatakan kepada mereka,”Duduklah kalian bersama-orang-orang yang duduk-duduk.” [QS Taubah: 46]

Maka hendaknya setiap orang mewaspadai dirinya sendiri dari usaha menghindar dari kewajiban besar ini dengan berbagai dalih dan alasan. Wa Allahu A’lam bi ash-Showab. [Fath]

Filed under: syubhat

One Response

  1. suarajihad mengatakan:

    wah salam kenal

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: