At Taujih

Mengawal Wacana Iqomatuddiin

ANTARA TAQLID DAN ITTIBA’


فدين المسلمين مبني على اتباع كتاب الله وسنة نبيه وما اتفقت عليه الأمة فهذه الثلاثة هي أصول معصومة

Ibnu Taimiyah berkata : Dien kaum muslimin dibangun atas dasar: Mengikuti Kitabullah, Sunnah Rasul-Nya dan Kesepakatan Ummat (Ijma’). Ini adalah tiga pokok/landasan yang maksum

Kita mendapatkan bahwa sebagian besar manusia dalam menjalankan agamanya hanya mengikuti apa-apa yang di ajarkan oleh Kyai-kyainya, atau Ustadznya tanpa mengikuti dalil-dalil yang jelas dari agama ini. Mengikuti di sini yang dimaksudkan adalah mengikuti tanpa dasar ilmu. Mereka hanya ikut saja apa kata Sang Kyai atau Sang Ustadz, seolah apa yang mereka katakan pasti benar. Sehingga mereka melihat kebenaran hanya diukur oleh ucapan-ucapan ustadz tersebut tanpa melakukan pengecekan terhadap dasar ucapan mereka. Mereka tidak mengecek apakah sumbernya dari Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam, atau hanya bersumber dari kesimpulan para syikh tersebut.

Lebih parah lagi ketika mereka menghukumi orang-orang yang berbeda pendapat dengan syaikhnya dianggap sesat, dan wajib dijauhi oleh segenap kelompoknya. Padahal mereka belum pernah membaca kitabnya, mendengar ceramahnya dan menyelami dalil-dalil yang digunakannya. Sungguh ini musibah yang besar.
Ingatlah wahai saudaraku kaum muslimin ….. bahwasanya kebenaran atau al haq itu bukan berdasarkan banyaknya pengikut atau status sosial orang yang mengucapkan, mungkin anda melihat mereka adalah syaikh yang cukup dikenal, luas ilmunya dan yang lainnya. Akan tetapi akankahh kita menolak kebenararan jika sumbernaya dari al quran dan As Sunnah yang terjaga dari kesalahan.

Ibnu Taimiyah berkata : Dien kaum muslimin dibangun atas dasar: Mengikuti Kitabullah, Sunnah Rasul-Nya dan Kesepakatan Ummat (Ijma’). Ini adalah tiga pokok/landasan yang maksum. Beliau juga berkata : Ciri Ahlul Furqoh adalah menyelesihi al-Kitab, as-Sunnah dan Ijma’. Maka barang siapa yang berprinsip dengan al-Kitab, as-Sunnah dan Ijma’ adalah termasuk ahlus-Sunnah wal-Jama’ah.

Ingatlah bahwa kebenaran akan tetap merupakan kebenaran meskipun hanya sedikit yang mengikutinya. Dan yang namanya kebatilan merupakan kebatilan sekalipun seluruh manusia mengikutinya. Dan kebiasaan mengekor tanpa ilmu ini jelas-jelas merupakan suatu hal yang sangat tercela. Bahkan Alloh mengharamkan untuk mengikuti sesuatu yang kita tidak mempunyai ilmu tentangnya. Sebagaimana disebutkan dalam Al-Quran ” Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya .” (QS. Al-Israa : 36).
Dan juga perkataan Imam Bukhori ” Bahwa ilmu itu sebelum ucapan dan perbuatan .”
Dampak yang nyata terhadap hal ini ialah semakin jauhnya para muqolid (orang-orang yang taklid) ini dari ajaran Islam yang murni, sehingga amalan-amalan mereka banyak yang bersumber dari hadits yang dhoif (lemah) atau bahkan hadits palsu dan bahkan mungkin mereka beramal tanpa ada dalil, hanya mengikuti ucapan Kyai atau Ustadznya. Jika dikatakan kepada mereka bahwa amalan mereka itu menyelisihi dalil yang shohih dari Rosulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam, mereka mengatakan “kami hanyalah mengikuti apa-apa yang ada pada bapak-bapak kami atau kyai / ustadz kami.”

Perbedaan taqlid dan ittiba’
Muqallid berasal dari kata ” taqlid ” yaitu mengikuti secara membuta tuli tanpa ilmu pengetahuan. Kalau ada orang yang menyuruh atau mengajarnya sesuatu ajaran atau amalan lalu ia mengikutinya tanpa melihat, apakah ada dalilnya dari Al Quran ataupun Hadis Nabi  ataupun tidak. Ataupun sekadar melihat orang mengamalkan suatu amalan lalu ia tanpa memeriksanya mengikuti saja. Jadi ringkasnya taqlid maknanya mengikuti tanpa ilmu.

Adapun Muttabi’ pula berasal dari kata ” Ittiba’ ” iaitu mengikuti seseorang dengan ilmu pengetahuan. Dan Muttabi’ artinya orang yang mengikuti berdasarkan hujjah atau dalil. Muttabi’ adalah lawan daripada Muqallid.
Allah Ta’ala telah melarang taqlid dalam kitab-Nya. Allah berfirman :

Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai Tuhan selain Allah[639] dan (juga mereka mempertuhankan) Al masih putera Maryam, Padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan yang Esa, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Maha suci Allah dari apa yang mereka persekutukan.

[639] Maksudnya: mereka mematuhi ajaran-ajaran orang-orang alim dan rahib-rahib mereka dengan membabi buta, biarpun orang-orang alim dan rahib-rahib itu menyuruh membuat maksiat atau mengharamkan yang halal.
Dari Hudzaifah  dan yang lainnya berkata : tidaklah mereka menyembah selain Allah, akan tetapi mereka mentaati dalam penghalan yang diharamkan Allah dan pengharaman yang dihalalkan Allah. (Ibnul Qoyyim dalam I’lamul Muwaqqi’in 1/439)

Bahkan ada hadist yang terkenal dalam hal ini, yang diriwayatkan dari “Adi bin Hatim  : Saya mendatangi Rasulullah  dan dileherku salib. Kemudian beliau bersabda : Wahai ‘Adi lepaskan berlaha itu dari lehermu !. kemudian saya lepas salib tersebut, lalu beliau membaca surat al Baro’ah ayat 31.

Kemudian Ibnul Qoyyim setelah menjelaskan berbagai dalil dari ayat ayat Al qur’an, belaiu berkata : Jika taqlid dilarang sebagaimana saya jelaskan didepan, maka wajib menerima dasar-dasar din dan harus tunduk terhadapnya, yaitu alqur’an dan sunnah. (I’lamul Muwaqqi’in 1/140)

Larangan taqlid dan perintah untuk ittiba’
Para imam-imam madzhab yang empat, Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Asy Syafi’i dan Imam ahmad bin Hambal memerintahkan untuk meninggalkan ucapamereka jika bertentangan dengan hadist Shohih.
Imam Abu Hanifah Rahimahullah

إِذَا صَحَّ الْحَدِ يْث فَهُوَ مَذْهَبِي
“Jika suatu hadits Shahih, itulah madzhabku.” Ibnu ‘Abidin dalam kitab al-Hasyiyah (I/63) dan kitab Rasmul Mufti (I/4)
لاَ يَحِلُّ لِأَحَدٍ أَ نْ يَأْ خُذَ بِقَوْلِنَا مَا لَمْ يَعْلَمُ مِنْ أَيْنَ أَخَذْ نَا هُ
“Tidak halal bagi seseorang mengikuti perkataan kami bila ia tidak tahu dari mana kami mengambil sumbernya.” Ibnu ‘Abdil Barr dalam kitab Al-Intiqa fi Fadhail Ats-Tsalasah Al-Aimmah Al-Fuqaha hlm 145, Ibnul Qayyim dalam I’lamul Muwaqqi’in, Ibnu Abidin dalam Hasyiyah Al-Bahri Ar-Raiq (VI/293) dan Rasmu Al-Mufti hal 29 dan 32.

إِذَا قُلْتُ قَوْلاً يُخَا لِفُ كِتَا بَ اللهِ تَعَالَى وَخَبَرَ الرَسُوْلَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَا تْرُكُوْا قَوْلِي
“Kalau saya mengemukakan suatu pendapat yang bertentangan dengan Al Qur’an dan Hadits Rasulullah Alaihi Sholatu Wa Sallam, tinggalkanlah pendapat itu.” Al-Filani dalam Kitab Al-Iqazh hlm 50.
Imam Malik bin Anas Rahimahullah

“Saya hanyalah seorang manusia, terkadang salah, terkadang benar. Oleh karena itu, telitilah pendapatku. Bila sesuai dengan Al Qur’an dan Sunnah, ambillah dan bila tidak sesuai dengan Al Qur’an dan Sunnah, tinggalkanlah.” 5)
“Siapapun perkataannya bisa ditolak dan bisa diterima, kecuali hanya Nabi Alaihi Sholatu Wa Sallam sendiri.” 6)

Imam Syafi’i Rahimahullah
“Setiap orang harus bermadzhab kepada Rasulullah Alaihi Sholatu Wa Sallam dan mengikutinya. Apapun pendapat yang aku katakan atau sesuatu yang aku katakan itu berasal dari Rasulullah tetapi ternyata berlawanan dengan pendapatku, apa yang disabdakan oleh Rasulullah Alaihi Sholatu Wa Sallam itulah yang menjadi pendapatku. HR Hakim dengan sanad bersambung kepada imam Syafi’i, seperti tersebut dalam kitab Tarikh Damsyiq, karya Ibnu Asakir (XV/1/3). I’lam Al-Muwaqqi’in ( II/363-364), Al-Iqazh hal 100.
“Bila kalian menemukan dalam kitabku sesuatu yang berlainan dengan Hadits Rasulullah Alaihi Sholatu Wa Sallam, peganglah hadits Rasulullah itu dan tinggalkanlah pendapatku itu.” Al-Khatib dalam Ihtijaj Bi Asy-Syafi’i (VIII/2).

Imam Ahmad bin Hanbal Rahimahullah
“Janganlah engkau Taqlid kepadaku atau kepada Malik, Syafi’i, Auza’i dan Tsauri, tetapi ambillah dari sumber mereka mengambil.” Al-Filani hlm 113 dan Ibnu Qayyim dalam al-I’lam (II/302)
Pada riwayat lain disebutkan : “Janganlah kamu taqlid kepada siapapun dari mereka dalam urusan agamamu. Apa yang datang dari Nabi Alaihi Sholatu Wa Sallam dan para Sahabatnya, itulah hendaknya yang kamu ambil. Adapun tentang tabi’in, setiap orang boleh memilihnya (menolak atau menerima).” Kali lain dia berkata : “Yang dinamakan ittiba’ yaitu mengikuti apa yang datang dari Nabi Alaihi Sholatu Wa Sallam dan para Sahabatnya, sedangkan yang datang dari para tabi’in boleh dipilih” Abu Dawud dalam masa’il Imam Ahmad hlm 276-277.
“Pendapat Auza’i, Malik dan Abu Hanifah adalah Ra’yu (pikiran) bagi saya semua ra’yu sama saja, tetapi yang menjadi hujjah agama adalah yang ada pada atsar (Hadits). Ibnu Abdil Barr dalam al-Jami’ (II/149).

Demikianlah wahai saudaraku kaum muslimin, pendapat dari empat imam tentang larangan taklid buta. Mereka memerintahkan kita untuk berpegang teguh dengan hadits Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam, serta melarangnya untuk mengikuti mereka tanpa melakukan penelitian. Jadi mereka para Imam yang empat melarang keras kepada kita untuk taqlid buta / membebek / mengekor tanpa ilmu.

Barang siapa yang berpegang dengan setiap apa yang telah ditetapkan di dalam hadits yang shohih, walaupun bertentangan dengan perkataan para imam, sebenarnya tidaklah ia bertentangan dengan madzhabnya (para imam) dan tidak pula keluar dari jalan mereka, berdasarkan perkataan para imam di atas. Karena tidak ada satu ucapanpun yang dapat mengalahkan ucapan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bahkan ucapan para shahabat pun !!! Sebagaimana perkataan Ibnu Abbas : “Aku khawatir akan datang hujan batu dari langit, aku ucapkan Rosululloh berkata .., engkau ucapkan Abu Bakar berkata, …dan Umar berkata…”.
Inilah sikap yang seharusnya kita ambil, mencontoh para shahabat, imam-imam yang mendapat petunjuk, di mana merekalah yang telah mengamalkan dien/agama ini sesuai dengan petunjuk Rosulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam, tidak mengada-ada (tidak menambah/mengurangi). Dan hal inipun menunjukkan kesempurnaan ilmu yang ada pada mereka (para Imam) dan ketaqwaannya. Kadang kala mereka mengakui bahwasannya tidak semua hadits mereka ketahui.Terkadang mereka menutupkan suatu perkara dengan ijtihad mereka, namun hasil ijtihad mereka keliru karena bertentangan dengan hadits yang shohih. Hal ini dikarenakan belum sampainya hadits shohih yang menjelaskan tentang perkara itu kepada mereka. Jadi sangatlah wajar bagi seseorang yang belum paham suatu permasalahan kembali berubah sikap manakala ada yang menasehatinya dengan catatan sesuai dengan sunnah yang shohih dari Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam. (Amru)

Filed under: Aqidah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: