At Taujih

Mengawal Wacana Iqomatuddiin

DIBALIK KEBENCIAN TERHADAP HAKIMIYAH

Selalu ada pergulatan antara al haq dengan al bathil. Jika fir’aun yang menjadi toghut pada zaman itu dibantu oleh tukang-tukang sihirnya, maka para toghut hari ini dibantu oleh para ulama’ ulama’ su’ yang menjadi corong untuk memerangi kebenaran. Dan Allah Ta’ala telah mengirimkan sekelompok orang yang mempergunakan waktunya guna melindungi dan membela Dien ini dari kesesatan dan kehancuran. Merekalah At Thoifah al manshurah, sebuah kelompok yang dimenangkan Alah Ta’ala dalam menghadapi musuhnya, disaat orang-orang yang tidak senang melancarkan tuduhan-tuduhan yang keji terhadap mereka.

Di pihak lain, ada orang-orang yang mengaku dan merasa bahwa mereka adalah orang-orang yang mengadakan perbaikan. Padahal Allah telah berfirman tentang mereka,
“Dan ketika dikatakan pada mereka supaya jangan berbuat kerusakan di muka bumi ini dengan perbuatannya, mereka berkata ‘tapi kami adalah orang-orang yang mengadakan perbaikan’. Tapi sesungguhnya mereka adalah pembuat kerusakan namun mereka tidak menyadarinya” (Al Baqarah : 11-12)
Ibnu Katsir menafsirkan – janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi – adalah dengan kekufuran dan perbuatan maksiat.

Dari Abu al ‘Aliyah berkata : yaitu janganlah kalian bermaksiat di bumi, karena rusaknya bumi dengan maksiat kepada Allah. Karena barang siapa bermaksiat pada Allah di bumi atau memerintahkan untuk bermaksiat, maka telah berbuat kerusakan di bumi. Sebab kebaikan di bumi dan di langit dengan ketatan. (Tafsir Ibnu Katsir ayat tersebut).

Tidaklah ada sebuah kerusakan yang menyebabkan kekufuran dan kemaksiatan lebih besar, kecuali tidak diberlakukannya undang-undang dan syari’at Allah Ta’ala di bumi. Dan tidaklah ada dosa yang lebih besar dari syirik pada Allah dengan memberikan ketatan pada penghalalan apa yang telah Allah haramkan, dan pengharaman atas apa yang Allah telah haramkan.

Mereka adalah orang-orang yang berbahaya, karena mereka menganggap diri mereka sebagai orang-orang yang melakukan perbaikan padahal kenyataannya mereka adalah perusak agama.

Tuduhan terhadap hakimiyah
Orang-orang yang tidak senang terhadap jihad dan usaha penegakan syari’at islam dengan jihad, telah melancarkan tuduhan-tuduhan yang sangat keji. Mereka menyebutkan bahwa istilah hakimiyah adalah istilah bid’ah yang membutuhkan pengkajian. Bahkan al hakimiyah ini adalah salah satu aqidah syi’ah yang sangat busuk, yang menjadikan imamah sebagai usuluddin yang paling agung. Dan dilanjutkan bahwa sesuatu yang bid’ah, jika mereka memasukan istilah hakimiyah ini dalam tauhid yang ke empat dari tiga tauhid yang terkenal itu, dan menjadikan bab yang penting dalam masalah tauhid.

Tauhid hakimiyah sebenarnya lebih dekat dengan masalah Tasyri’ (pensyari’atan). Dan masalah Tasri’ adalah bagian terpenting dari tauhid al uluhiyah yang merupakan inti dakwah para rosul. Karena di antara makna ibadah yang wajib dimurnikan seluruhnya kepada Allah ta’ala saja adalah taat dalam tasyri’ dan hukum, Allah ta’ala berfirman:

           •          
“Dan sesungguhnya syaithan mewahyukan kepada wali-walinya supaya mereka membantah kamu, dan bila kamu menuruti mereka maka sesungguhnya kamu adalah orang-orang musyrik.” (Al An‘aam: 121).
Al Hakim meriwayatkan dengan isnad yang shahih dari Ibnu ‘Abbas Habrul Qur’an tentang sebab turun ayat ini: “Sesungguhnya segolongan orang dari kaum musyrikin dahulu membantah kaum muslimin dalam masalah sembelihan dan pengharaman bangkai, di mana mereka berkata: Kalian makan dari apa yang kalian bunuh dan tidak makan dari apa yang Allah bunuh? Maka Allah ta’ala berfirman: “…dan bila kamu menuruti mereka, maka sesungguhnya kamu adalah orang-orang musyrik.”

Allah ta’ala berfirman: “Dan Dia tidak mempersekutukan seorangpun dalam hukum-Nya,” dan dalam qira’ah Ibnu ‘Amir: “Dan janganlah kamu mempersekutukan seorangpun dalam hukum-Nya.” Asy Syinqithiy berkata dalam Adlwaul Bayan: “Dipahami dari ayat-ayat ini seperti firman-Nya ta’ala: “Dan Dia tidak mempersekutukan seorangpun dalam hukum-Nya,” bahwa orang-orang yang mengikuti ahkam (aturan-aturan) al musyarri’in (para pembuat hukum) selain apa yang telah Allah syari’atkan sesungguhnya mereka itu adalah musyrikun billah”.

Dan beliau menuturkan ayat-ayat yang menjelaskan hal itu, kemudian berkata: “Dan dengan nushush samawiyyah yang telah kami sebutkan, nampaklah dengan sejelas-jelasnya bahwa orang-orang yang mengikuti qawanin wadl’iyyah (undang-undang buatan,ed) yang disyari’atkan syaithan lewat lisan wali-walinya, seraya menyelisihi apa yang disyari’atkan Allah jalla wa ‘alaa lewat lisan rasul-rasul-Nya, adalah sesungguhnya tidak ada yang meragukan kekafiran mereka dan kemusyrikannya, kecuali orang yang telah Allah hapus bashirah (mata hati)nya dan Dia butakan dari cahaya wahyu seperti mereka”. Selesai (Adlwaul Bayan 4/83).

Dari sini jelaslah bahwa orang-orang yang mengatakan bahwa al hakimiyah adalah bid’ah, tidak lain karena ingin mengatakan bahwa pembuat syari’at selain Allah tidak menyebabkan kekafiran. Ia hanya kufrun duuna kufrin. Atau mereka istilahkan dengan kufur amali (perbuatan), dan sebutan yang lain. Bersamaan dengan itu, mereka mengadakan pembelaan terhadap toghut. Mencari muka dihadapan para toghut. Walaupun harus memplintir dalil-dalil agar sesuai dengan seleranya.

Tetapi perlu diingat, jika istilah itu dianggap bid’ah dan termasuk penyebutan yang tidak ada dalam pembahasan para salaf, akan tetapi perlu dipahami bahwa pembuatan syari’at selain Allah dan memaksakan syari’at tersebut kepada manusia, serta memerangi setiap orang yang menentangnya adalah bentuk kekafiran yang nyata.

Tunduk terhadap syari’at adalah Ushuluddien yang paling penting
Allah tabaaraka wa ta’ala telah berfirman: “Sesungguhnya Kami telah mengutus pada setiap umat itu seorang Rasul, (agar mereka menyerukan): “Beribadahlah kalian kepada Allah dan jauhilah thaghut.” (An Nahl : 36), Jadi ini adalah inti millah para Nabi serta poros roda dakwah mereka seluruhnya. Dan karenanya Allah ciptakan makhluk, Dia berfirman: “Dan Aku tidak ciptakan jin dan manusia, kecuali supaya mereka beribadah kepada-Ku” ( Adzariyat : 56), yaitu mereka mentauhidkan-Ku dalam ibadah, atau beribadah kepadaKu saja sebagaimana yang dituturkan Ahli Tafsir.

Dan ia tergolong al ‘urwatul wutsqa yang barang siapa berpegang teguh dengannya, maka dia selamat dan siapa yang berpaling darinya maka dia rugi, binasa dan sesat dengan kesesatan yang nyata, Allah ta’ala berfirman:
      ••                     
“…sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (Al Baqarah: 256)
Atas dasar ini maka tidak ada keraguan bahwa ia adalah permasalahan islam yang paling agung, intinya dan rukun-rukun ‘aqidah yang paling urgent.

Dan Syaikh Muhammad Ibnu Abdil Wahhab berkata “Inti dienul Islam dan pondasinya ada dua:
Pertama:
Perintah untuk beribadah kepada Allah saja tidak ada sekutu bagi-Nya.
Memberikan semangat atas hal itu.
Berloyalitas di dalamnya.
Dan mengkafirkan orang yang meninggalkannya.
Ke dua:
Memberikan peringatan dari syirik dalam ibadah kepada Allah.
Menyikapi dengan keras terhadap hal itu.
Melakukan permusuhan di dalamnya.
Dan mengkafirkan orang yang melakukannya”
(Majmu’atut Tauhid: 33).
Jadi, bab Tauhid Al Uluhiyyah dan segala yang berkaitan dengannya, baik itu dinamakan dengan Al Hakimiyyah atau yang lainnya –tidak ragu ia tergolong Ushuluddien yang paling penting– dan oleh karena itu Al Qur’an dari awal hingga akhir hanyalah diturunkan untuknya.

Ini adalah hal yang tidak dibantah, kecuali oleh orang yang hobi membantah, bahkan ia adalah lebih penting dan lebih urgent dari tauhidul Asma wash Shifat yang dijadikan oleh ad’iyaussalafiyyah (para pengaku salafiy) hari ini sebagai Ushuluddien yang paling penting, di mana bila disebut nama “’aqidah” di sisinya, maka ia membawanya kepada Al Asma wash Shifat, dan bila “ia” menyebut ‘aqidah, maka sesungguhnya ia baginya hanya satu (yaitu) Tauhidul Asma Wash Shifat…!!!

Oleh sebab itu, sesungguhnya engkau mendapatkan banyak dari mereka mensifati sebagian yang lain dengan ucapannya: “Fulan!! Alangkah bagusnya dia dan alangkah pandainya dia!! Sesungguhnya dia itu salafiyyul ‘aqidah!!” Seraya mereka memaksudkan bab ini dari bab-bab i’tiqad, dan beserta hal itu tidaklah berbahaya bagi mereka bila si fulan tersebut tergolong anshar thaghut atau penasehatnya…!!! Atau pengagumnya atau pendukungnya yang mendoakan baginya agar tetap jaya dan panjang umur kekuasaannya…!!!
Sebagai penutup, kami nukilkan sya’ir Ibnul Qoyyim yang dinukil oleh syaikh Sulaiman bin Nasir al ‘Ulwan dalam kitab At Tibyan Syarkhu Nawaqidhil Islam :

وَ اللهِ مَا خَوْفِي الذُنُوبَ فَإِنَّهاَ لَعَلَى سَبِيْلِ الْعَفْوِ وَالْغُفْرَانِ
لَكِنَّمَا أَخْشَى اِنْسِلاَخَ الْقَلْبِ عَنْ تَحْكِيْمِ هَذَا الْوَحْيِ وَالْقُرْانِ
وَرِضاً بِاَرَاءِ الرِجَالِ وَخَرْصِهَا
Demi Allah, tidaklah aku takutkan dosa karenanya
Masih ada jalan minta ampun dan ampunan
Akan tetapi aku takut cenderungnya hati untuk
Tidak berhukum dengan wahyu dan qur’an
Dan ridho dengan pikiran-pikiran manusia.
[Amru]

Filed under: Uncategorized

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: