At Taujih

Mengawal Wacana Iqomatuddiin

Waspadai Paham Murji’ah

Pengertian
Murji’ah mempunyai dua makna, yaitu:
1. Mengakhirkan, sebagaimana dalam firman Allah:”
قَالُواْ أَرْجِهْ وَأَخَاهُ (الأعراف : 111)
“Pemuka-pemuka itu menjawab: “Beri tangguhlah dia dan saudaranya” . (Al A’raf: 111). Jadi artinya merehkan atau mengakhirkan.

2. Memberi orang yang membutuhkan.
Bila Murji’ah dikaitkan dengan suatu jamaah maka yang dimaksud makna pertama mereka (orang-orang murji’ah) mengkahirkan amal dari pada niat.

Adapun berkenaan makna yang kedua, maka mereka berkata:”Maksiat tidak membahayakan keimanan sebagaimana ketaatan tidak bermanfaat bagi kekafiran. (
Dikatakan Murji’ah adalah salah satu kelompok ahli kalam yang menisbatkan diri kepada islam. Mereka mempunyai pemahaman yang salah dalam masalah akidah, yaitu dalam memahami iman. Mereka berkata:”Iman adalah pernyataan dengan lisan dan membenarkan dengan hati saja”. Sebagian dari mereka berpendapat (iman) hanya sebatas pernyataan lisan saja. Sebagian lagi mencukupkan iman hanya dengan membenarkan saja. Dan ada juga yang berkata:”Iman adalah ma’rifah (mengenal Allah).” (Mani’ bin Hammad Al Juhni, Al Mausu’ah Al Muyassarah fi Al Adyaan wa Al Madzahib wa Al Ahazab Al Mu’ashirah)

Sejarah Berdirinya
Orang yang pertama kali membicarakan masalah irja’ adalah Dzar Abdullah bin Al Madzhajiy kemudian diikuti oleh Ghailan Al Masyqiy dan Jahd bin Dirham. Ada juga yang berpendapat Al Hasan bin Muhammad bin Hanafiyah, beliau meninggal pada tahun 99 H. Namun dia tidak mengakhirkan amal dari Iman, dia hanya berpendapat bahwa pelaku dosa besar tidak dikafirkan. Ibnu Sa’ad berkata:”Al Hasan adalah orang yang pertama kali mengatakan tentang irja’. Dikisahkan bahwa Zadzan dan Maisarah datang kepadanya dan langsung mencelanya, lantaran sebuah buku yang ia tulis tentang murji’ah. Maka Al Hasan berkata kepada Zadzan:”Hai Abu Umar sungguh aku lebih suka mati dari pada tidak menulis buku itu.”

Buku yang ditulis Al Hasan ini hanyalah Irja’ sahabat yang ikut terlibat fitnah (perselisihan) yang terjadi setelah wafatnya Abu Bakar dan Umar bin Al Khththab.

Pada mulanya murji’ah muncul untuk mengcounter paham khawarij yang mengkafirkan dua hakim yang memutuskan perkara berkenaan konflik antara Ali dengan Mu’awiyah dan mengkafirkan pelaku dosa besar. Dan juga untuk mengcounter Mu’tazilah yang berpaham bahwa pelaku dosa besar tidak mukmin dan tidak kafir, ia berada pada tempat manzilah baina manzilatain (tempat yang berada di antara dua tempat, yaitu antara surga dan neraka). Jika dia meninggal dan belum bertaubat maka dia kekal di neraka.

Kemudian muncullah Murji’ah yang mengatakan amal itu bukan dari iman. Iman itu hanya amalan hati saja atau amalan lisan saja atau kedua-duanya, bukan amalan yang bermakna rukun (amalan dzahir), serta iman itu tidak bertambah dan tidak berkurang. Perbuatan maksiat tidak menjadikan iman seseorang berkurang sebagaimana ketaatan tidak bermanfaat bagi kekafiran. Dan sebaliknya, amalan shalih dan ketaatan tidak menjadikan iman bertambah,. Jadi iman tetap, tidak bertambah dan tidak berkurang baik melakukan ketaatan maupun maksiat. Sampai mereka mengatakan bahwa perbuatan kafir dan zindik pun tidak membahayakan bagi keimanan seseorang.

Pembagian Murji’ah dan Para Tokohnya
Menurut Abu Al Fath Muhammad Abdul Karim Asy Syahristani Murji’ah ada 4 kelompok, yaitu:
1. Murji’ah Khawarij.
Mereka adalah Sababiyyah dan sebagain Shafariyyah yang tidak mempermasalahkan pelaku dosa besar.
2. Murji’ah Qadariyah
Mereka adalah orang yang dipimpin oleh Ghilan Ad Dimasyqi. Sebutan mereka adalah Ghilaniyyah. Muhammad bin Syybaib, Ash Shalihi dan Al Khalidi juga termasuk dari kelompok ini.
3. Murji’ah Jabariyah
Mereka adalah Jahmiyah (para pengikut Jahm bin Shafwan. Dalam masalah iman mereka hanya mencukupkan diri dengan keyakinan dalam hati saja. Dan menurut mereka maksiat itu tidak berpengaruh pada iman dan ikrar dan amal bukan dari iman.
4. Murji’ah Murni
Para ulama’ berselisih pendapat tentang jumlah mereka. Dan diantara kelompok murji’ah murni ini adalah:
a. Al Yunusiyyah
Mereka adalah pengikut Yunus bin ‘Aun An Namiri. Menurut mereka iman adalah ma’rifatullah (mengenal Allah), tunduk dan tidak sombong kepada-Nya, serta mencintainya dengan hati. Barangsiapa yang terkumpul dalam dirinya perkara-perkara tersebut maka ia seorang mukmin. Dan selain itu dari amal-amal ketaatan bukan termasuk bagian dari iman. Meninggalkan ketaatan yang termasuk dari hahikat keimanan tidak berpengaruh (membahayakan ) iman. Mereka tidak diadzab jika imannya murni dan keyakinannya jujur.

b. Al ‘Ubadiyyah
Mereka adalah pengikut Ubaid Al Muktaib. Dia berpendapat dosa selain syirik diampuni, jika seorang hamba meninggal dalam keadaan bertauhid maka perbuatan dosa dan perbuatan buruk (maksiat) tidak membahayakannya.

c. Al Ghassaniyyah
Mereka adalah para pengikut Ghassan Al Kufi. Mereka berpendapat bahwa iman adalah ma’rifatullah (mengenal Allah) dan rasul-Nya, mengakui apa yang diturunkan oleh Allah dan apa yang datang dari Rasulullah secara global dan Iman tidak bertambah dan tidak berkurang.
d. Ats Tsaubaniyyah

Mereka adalah pengikut Abu Tsauban Al Murji’I. Mereka berpendapat iman adalah ma’rifah (mengenal) dan mengakui (keberadaan) Allah dan para rasulnya serta mengakhirkan amal dari iman.
e. At Tumaniyyah

Mereka adalah pengikut Abi Mu’adz At Tumani. Mereka berpendapat bahwa iman adalah terjaga dari kekufuran. Jika ia meninggalkan pilar-pilar keimanan yang menjaganya dari kekufuran atau salah satunya maka ia kufur. Setiap dosa besar maupun dosa kecil apabila kaum muslimin belum sepakat atas kekufurannya maka pelakunya tidak disebut fasik, namun disebut berbuat fasik dan maksiat. Pilar-pilar yang menjaga seseorang dari kufur adalah ma’rifah, tashdiq (pembenaran), mahabbah (kecintaan), ikhlas, dan mengakui terhadap setiap yang datang dari Rasul.

Dia berkata:”Barangsiapa yang meninggalkan shalat dan puasa sedang dia meyakini kehalalan perbuatan tersebut maka ia kufur. Namun jika ia meninggalkan keduanya dengan niat qadha’ maka ia tidak dikafirkan.
Ibnu Ar Rawandi dan Bisyr Al Murisi cenderung kepada madzhab ini. Mereka berkata:”Iman adalah membenarkan dengan hati dan lisan. Kufur adalah juhud (pembangkangan) dan pengingkaran. Sujud kepada matahari, bulan, berhala tidaklah kafir, namun merupakan tanda-tanda kekufuran.

f. Ash Shalihiyyah
Mereka adalah pengikut Shalih bin Umar Ash Shalihi. Diantara tokohnya adalah Muhammad bin Syubaib, Abu Syamr, Ghailan mereka mengbaungkan antara Qadariyyah dan Irja’.
Ash Shalihi berkata:”Iman adalah mengenal Allah secara mutlak, dan Allah hanya pencipta Alam semesta saja. Sedang kekufuran adalah bodoh terhadap Allah secara mutlak. Mereka juga berpendapat bahwa shalat bukanlah ibadah yang ditujukan untuk Allah, karena tidak ada ibadah kecuali hanya iman kepada-Nya, yaitu dengan ma’rifatullah (mengenal Allah). Dan iman berada pada satu tingkatan yang tidak bertambah dan tidak berkurang, begitu juga kekafiran berada pada satu tingkat, tidak bertambah dan tidak berkurang. (Abu Al Fath Abdul Karim bin Bakr Ahmad Asy Syahrastani, Al Milal wa An Nihal).

Pemikiran Murji’ah
Secara ringkas kesesatan pemikiran Murji’ah adalah:
1. Iman itu adalah tashdiq (pembenaran) saja, atau pengetahuan hati atau ikrar saja.

2. Amal tidak masuk dalam hahekat iman dan tidak pula masuk dalam bagiannya.
Mereka berkata : “Iman adalah membenarkan dalam hati atau membenarkan dalam hati dan diungkapkan dengan lesan, adapun amal menurut mereka adalah merupakan syarat kesempurnaan iman saja dan tidak termasuk di dalam pengertian iman. Barang siapa yang membenarkan dengan hatinya dan megucapkan dengan lisannya, maka dia adalah seorang beriman yang sempurna imannya menurut mereka, walau dia telah mengerjakan apa-apa yang dikerjakan dari meningggalkan kewajiban, mengerjakan yang haram-haram, dia berhak masuk surga walaupun belum beramal kebaikan sama sekali, dan menetapkan atas hal itu ketetapan-ketetapan yang batil, seperti: membatasi kekufuran dengan kufur takdzib (kufur bohong) dan menganggap halal hanya dengan hati.” (Majmu’ Fatawa Al Lajnah Ad Daimah)

3. Iman tidak bisa bertambah berkurang.
4. Orang yang berbuat maksiat tetap dikatakan mukmin yang sempurna imannya. Sebagaimana
sempurnanya tashdiq diakhirat kelak ia tidak akan masuk neraka. Bahkan orangg yang perbuatan kafir dan zindik pun tidak membahayakan keimanan seorang muslim sedikitpun.

5. Manusia pencipta amalnya sendiri dan Allah tidak dapa melihatnya diakhirat nanti (ini seperti pemahaman Mu’tazilah).

6. Sesungguhnya Imamah (khalifah) itu boleh datang dari golongan mana saja walaupun bukan dari Quraisy.

7. Iman adalah mengenal Allah secara mutlak. Dan bodoh kepada Allah adalah kufur kepada-Nya.

Kecaman Para Ulama’ terhadap Murji’ah
Para ulama bersepakat untuk tidak mengkafirkan Murji’ah. Namun mereka memberi kecaman yang sangat keras terhadap Murji’ah ini. Karena paham Murji’ah ini akan membuka pintu bagi ahli kejahatan dan kerusakan, menjerumuskan manusia dalam kemungkaran, perkara syirik dan perkara riddah (perbuatan murtad). Madzhab ini melemahkan agama, meniadakan ikatan antara perintah-perintah dan larangan-larangan, dan khauf (takut) terhadap Allah.

Begitu juga madzhab ini menggugurkan jihad Fi Sabilillah dan amar ma`ruf nahi mungkar, menyamakan antara orang yang shalih dan yang thalih (tidak shalih), orang taat dan orang yang maksiat, dan antara orang yang mustaqim (lurus) berpegang atas agama Allah dengan orang fasiq yang keluar dari perintah-perintah Agama dan larangannya.). Berikut adalah beberapa perkataan ulama’ yang memberi kecaman terhadap Murji’ah.
Az Zuhri berkata:”Tidak ada bid’ah yang lebih berbahaya dalam islam kecuali bid’ah irja’.”
Al Auza’I berrkata:”Yahya bin Abi Katsir serta Qatadah mengatakan bahwa tidak ada yang lebih ditakuit oleh umat dalam hal hawa nafsu melebihi irja’.”

Syuraik berkata:”Mereka adalah sejelek-jelek kaum, cukuplah Rafidhah disebut jelek tapi Murji’ah lebih jelek lagi karena mereka mendustakan Allah.
Sufyan Ats Tsauri berkata:”Murji’ah meninggalkan Islam lebih lembut dari pakaian Sabiri (yang tipis)
Adz Dzahabi berkata saat membicarakan dampak-dampak ‘aqidah Murji’ah:“Mereka membuat setiap orang fasiq dan perampok berani melakukan dosa-dosa besar, kita berlindung kepada Allah dari kehinaan”.
Ibrahim An Nakh’iy berkata: “Sungguh fitnah mereka ~yaitu Murji’ah~ lebih ditakutkan terhadap umat ini daripada fitnah Azariqah (satu sekte dari kalangan Khawarij).”

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata: “Sungguh orang-orang Murjiah dalam usul ini (iman) menjauh dari Al-Kitab, As Sunnah, dan perkataan sahabat dan tabi`in (orang-orang) yang mengikuti sahabat dengan baik, dan mereka Murjiah bersandar atas pendapat mereka dan atas apa-apa yang mereka ta`wilkan atas pemahaman mereka terhadap bahasa, dan ini adalah jalan Ahlu Bid`ah ( dalam memecahkan masalah).”

Mewaspadai Paham Murji’ah.
Ikhwan fillah, memang paham Murji’ah berkembang pada beberapa abad yang lalu. Dan sekarang mungkin tidak ada golongan yang berpaham Murji’ah secara mutlak. Para ulama pun telah memperingatkan dan menjelaskan umat atas kesesatan mereka. Namun bukan tidak mungkin bahaya laten Murji’ah akan mencul kembali. Terbukti ada sebagian golongan dari kaum muslimin pada saat ini yang mempunyai beberapa pemikiran yang sama dengan Murji’ah.

Murji’ah zaman kita walaupun mereka menyelisihi Murji-ah terdahulu dalam penamaan al iman dan definisinya sebagai definisi saja, akan tetapi sesungguhnya mereka menyelarasi Murji-ah terdahulu pada banyak konsekuensi definisi itu. Mereka walaupun mendefinisikan iman dengan definisi yang shahih dan memasukkan di dalamnya ucapan dan perbuatan di samping i’tiqad (keyakinan), namun mereka pada hakikat masalahnya tidak mengkafirkan kecuali dengan i’tiqad (keyakinan) saja.

Hal ini bisa kita lihat pemahaman mereka dalam memandang perbuatan kufur. Mereka berpendapat bahwa perbuatan kufur tidak menjadikan pelakunya kafir, dan tidak membahayakan keimanannya. Orang yang melakukan kekufuran tetap disebut sebagai mukmin yang sempurna selama hatinya tidak istihlal (menganggap halal perbuatannya). Karena mereka hanya membatasi kekufuran dalam I’tiqad (keyakinan) atau juhud qalbiy (pembangkangan) atau istihlal (menganggap halal perbuatannya).

Dari sini kaum muslimin harus mewaspadai pemahaman neo Murji’ah ini. Karena para pengusungnya tidak secara terang-terang menyatakan dirinya Murji’ah. Mereka berkedok ahlu sunah dan berkoar-koar (mengaku) bermahaj salaf. Padahal, pada kenyataannya mereka berbeda dengan ahlus sunah dan jauh dari manhaj salaf baik dalam pemahaman maupun tataran praktek. Dalam menyebarkan pahamnya, mereka menggunakan berbagai cara. Mereka mengunakan dalil bukan pada tempatnya, dalil umum digunakan dalam perkara yang khusus bahkan mereka tak segan-segan mengambil sepotong-sepotong perkataan para ulama’ ahlus sunah untuk mendukung pendapatnya. Wallahu a’lam bishawab. ( M Yazid Nuruddin)

Filed under: Aqidah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: