At Taujih

Mengawal Wacana Iqomatuddiin

Peringatan kepada manusia dari kesesatan kelompok jaamiyah dan madkholiyah

oleh : Abu Muhammad Al Maqdeese
Dengan nama Allah dan segala puji bagi Allah, shalawat serta salam untuk Rasulullah Saw, keluarga sahabat dan orang-orang yang loyal kepadanya.
Sesungguhnya para pengikut jaamiyah dan madkhaliyah serta orang-orang yang berjalan diatas manhaj mereka sebenarnya mereka tidak lain hanyalah kelompok sesat dan murtad yang berwala’ (loyal) kepada para penguasa negara mereka secara umum dan kepada keluarga Sa’ud secara khusus, mereka itu adalah sekumpulan para ulama’ dan dai-dai penguasa bahkan mereka menjadi informan, intel penolong dan pembelanya.

Pada hakekatnya mereka itu khususnya para ulama’ dan dai-dai pada zaman kita ini hanya disebut dengan dua kalimat : (Mereka adalah Khawarij yang murtad terhadap para dainya, atau mereka itu Murji’ah yang zindik terhadap para penguasa thogutnya).
Mereka itu terhadap para dai yang mukhlisin seperti orang-orang yang dikatakan oleh Ibnu Umar Ra kepada mereka : (“Sejelek-jelek makhluk yaitu orang yang melihat ayat-ayat yang diturunkan untuk orang-orang kafir lalu dijadikan dalil untuk orang-orang mukmin”).
Dan mereka terhadap para penguasa thoghut adalah pemimpin yang suka mabuk dengan pedoman orang-orang yang berkata :(“dosa itu tidak membahayakan selama ada iman”)

• Di hijaz, diantara tokoh-tokoh mereka adalah :
1. Muhammad Amman Al Jaami : dia adalah orang yang berasal dari Atsyubi, datang ke Madinah al Munawwarah lalu dimudahkan baginya untuk belajar di Masjid Nabawi dan Jami’ah islamiyah, dia sebagai informan yang terkenal untuk para penguasa kepada para Syaikh dan penuntut ilmu dan sungguh dia itu telah celaka.
2. Robi’ bin Hadi Al Madkhali, seorang guru di Jami’ah Islamiyah yang bekerja penuh untuk para penguasa dan spesialis dalam memfitnah setiap dai yang menentang penguasa, awal kali yang mereka lakukan adalah terhadap Syaikh Mujahid Sayyid Quthub Rhm.
3. Falih bin Nafi’ Al Harbi, Syaikhnya para intel Sa’udi sebagaimana yang telah diketahui oleh Saudara-Saudara kita di Hijaz.
4. Muhammad bin Hadi Al Madkhali, penjahat para pemimpin keluarga Sa’ud dan penyair istana mereka yang sering mengisi di Jami’ah Islamiyah… dia menyerupai khowarij dalam sambutan baiknya dengan menganggap halal darah kaum muslimin dan mendapat berkahnya dengan membunuh mereka, serta mengharamkan darah orang-orang kafir dan orang-orang musyrik, dia juga mempunyai syair yang berkenaan dengan eksekusi mati dari penguasa Sa’udi terhadap empat orang ikhwan yang bertauhid, yang telah melakukan pembunuhan terhadap beberapa orang dari musuh islam dan orang-orang Amerika di Riyadh, sebagaimana dia berkata dengan penuh pujian kepada menteri dalam negeri Sa’udi berkenaan dengan tertangkapnya ikhwan-ikhwan tersebut dan menghukum mereka dengan hukuman mati.

– Berjalanlah hai anak yang memiliki tauhid!! Yang mengalahkan…
– Dan menghancurkan setiap thaghut dan syaitan…
– Dan mengangkat bendera islam tinggi-tinggi…
– Walaupun ada musuh dan pendengki…
– Sedangkan penguasa adalah mereka keluarga Sa’ud. Bagi mereka…
– Kita mendengar dan taat yang pasti dengan Al Qur’an…
– Dan tidak boleh seorangpun untuk membatalkan bai’at mereka…
– Dan barang siapa yang berkhianat maka dia mendapat dosa pengkhianatan…
– Wahai para penjaga keamanan setelah Allah di negaraku…
– Allah menjagamu dalam keadaan sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan…
– Wahai bapak Sa’ud semoga Allah memanjangkan umurmu…
– Dalam membela agama dan sangat membutuhkan bantuan dan pertolongan…
– Allah…Allah… di dalam buku yang telah tersebar…
– Manhaj takfir dan Ikhwan (ikhwanul muslimin)…
– Setiap di negeriku telah dipenuhi dengan buku itu…
– Dengan harga yang murah atau dengan cuma-cuma…
– Bakarlah buku-buku itu dan hukumlah…
– Orang-orang yang menjajakannya dikalangan para pemuda…
Syair ini menyerupai syair Amron bin Hattan seorang Khawarij Azariqah dalam memuji orang-orang murtad yang membunuh Ali Ra, dan saya mempunyai bantahan terhadap kasidah itu dengan sajak yang sama, di dalamnya saya jelaskan kesesatan pembuat syair ini dan di dalamnya saya singkap kebathilan tuan-tuannya dari kalangan thaghut yang kafir… judulnya (Ilaa Harisit Tandiid Wa Ruhbaanihi).

• Di kuwait para ikhwan kita menamakan mereka dengan para pemilik manhaj Al Inbithohi (tiarap) karena mereka melemahkan semangat para dai dan mujahidin dan karena tiarap mereka dari para pemimpin yang suka mabuk, mereka terbagi menjadi dua : yang berkelompok (berjamaah) dan yang tidak berjamaah, mereka berbeda-beda tingkat tiarapnya akan tetapi bertemu (sama) dalam satu pemikiran dan manhaj, diantara pentolan-pentolannya adalah :

1. DR. Abdullah Al Farisy (tidak berkelompok) dia dipecat dari organisasi Ihya’ut Turats, padahal organisasi itu didominasi oleh orang-orang yang beraliran inbithohi, contohnya adalah perkataannya terhadap para dai di dalam kaset (Al Fursan Ats Tsalatsah), Syaikh Abdur Rahim Ath Thahan menyebutnya sebagai (thaghut dan penyeru kesyirikan serta telah menjerumuskan dirinya sendiri ke dalam kekafiran). Renungkanlah hal ini, lalu kajilah kembali bantahannya mengenai penguasa thaghut dan serangannya terhadap orang-orang yang mengkafirkan mereka dan menamakan mereka dengan thaghut!! Qarun!! Yang mengingatkan pada sabda Nabi Saw mengenai anak-anak kecil yang bodoh dan sejelek-jelek ciptaan :

“ Mereka membunuh orang-orang islam dan membiarkan para penyembah berhala”

2. Falah Ismail Mundakar (tidak berkelompok, dia keluar dari organisasi, dan contoh keberanian dia di dalam mengkafirkan para dai yaitu perkataannya di dalam kaset yang direkam (Apabila orang yang beragama fanatik terhadap kelompoknya maka dia telah murtad!!) sebaliknya anda akan melihat dia membela Fahd ketika memakai kalung salib dan mengejek orang-orang yang menghukuminya dengan kekafiran. Untuk itu dia berkata : (Apakah memakai kalung itu merupakan sebuah kekafiran? Siapa yang berkata bahwa berbuat kekafiran itu menyebabkan dia kafir? Adapun berhukum dengan hukum selain apa yang diturunkan oleh Allah, para ulama mengatakan itu adalah kufrun duuna kufrin (kafir tapi tidak kafir), dan yang kedua apakah salib itu benar-benar salib? Ini hanyalah sekedar sebuah upacara keagamaan dan bersifat protokoler saja, yang sudah saling diketahui oleh berbagai negara, dan setiap negara memiliki simbol masing-masing serta hal ini hanyalah sekedar bertukar hadiah sebagaimana yang dilakukan pada masa Harun Ar Rasyid!!!.
Jelas kamu tidak akan merasa heran setelah kejadian ini jika kamu mengetahui bahwa pembimbing skripsinya untuk mendapatkan gelar magister bagi Mundakar itu yang paling berpengaruh dari para guru-gurunya adalah Amman Al Jaami.

3. Muhammad Al Anbari (tidak berkelompok)
4. Hammaad Al Utsman (tidak berkelompok)
5. Salim Ath Thawiil (tidak berkelompok) mereka itu sangat rajin dalam menyebarkan kesesatan mereka di kantor-kantor.
6. Adnan Abdul Qodir.
7. Muhammad Al Hammud (keduanya berkelompok dalam satu organisasi). Disana masih banyak lagi nama yang lainnya selain mereka, namun mereka inilah tokoh-tokohnya dan semuanya berkumpul untuk menutupi aib para thaghut dan membela kekafiran mereka serta menganggap mereka sebagai pemimpin yang sah, yang tidak boleh memberontak mereka, diwaktu yang sama mereka melancarkan peperangan terhadap para dai islam dan mujahidin atau orang-orang yang mengkafirkan para penguasa thaghut.

• Di Al Imarat (Emirat arab), Abdullah As Sabt (berjama’ah) dia adalah salah satu tokoh (poros) penting di dalam organisasi dan dia sangat giat menyebarkan kebathilan mereka yang telah disebutkan diatas, namun telah tersingkap kebathilannya dan dia telah cacat karena telah melakukan pelanggaran-pelanggaran masalah keuangan di Emirat Arab.
• Sedangkan di Urdun, termasuk orang-orang yang berjalan diatas manhaj mereka dan mengikuti langkah-langkah mereka dalam membela thaghut, memerangi para dai dan membuat kebohongan-kebohongan serta penipuan, diantaranya adalah :

1. Ali Al Halabi, orang yang berfatwa yang masyhur mengenai wajibnya melaporkan para dai dan mujahidin yang dia dan para pengikutnya menamakan mereka dengan Takfiriyin (orang-orang yang suka mengkafirkan), sebagaimana yang diajukan pertanyaan-pertanyaan kepada mereka : Apakah boleh melaporkan perkara orang-orang takfiriyin kepada penguasa pada masa sekarang ini? Lalu Al Halabi menjawa dengan jawaban yang membingungkan dan mengundang banyak penafsiran dengan berkata : (Apabila disana mengakibatkan kepada bahaya, kerusakan umat, penyesatan umat dan membangkitkan kejelekan maka hal ini adalah wajib).
Kemudian dia ditanya tentang fatwanya ini pada tanggal 2 Robi’ul Awal 1420, dia menyangkalnya dengan keras dan menuduh bahwa kebiasaan mereka itu suka berbohong kepada para dai!! Lalu disodorkan kepadanya kaset yang di dalamnya terdapat tanya jawab dengan suara Al Halabi, maka dia membuat-buat kebohongan kepada seluruh orang yang mendengar pengingkarannya beberapa saat setelah itu dalam majlis yang sama, yang dilakukan di salah satu rumah ikhwan di daerah Az Zarqo’ (Urdun) setelah shalat isya’ dan diikuti oleh sekitar 40 orang, maka dia berbalik dengan membela fatwanya ini dengan gerah, dan sesungguhnya fatwa itu dimaksudkan kepada orang-orang yang merusak manhaj salafus sholeh terhadap umat.

Lalu dia ditanya : Apakah buku-buku dan pandangan-pandangan Syaikh Safar Al Hawali, Syaikh Salman Al Audah dan Syaikh Umar Abdur Rahman Rhm – semoga Allah membebaskan penahanannya – serta orang-orang yang semisal dengan mereka apakah mereka itu termasuk para pemuda muslim yang bermanhaj salaf?
Maka dia menjawab tanpa rasa malu dan takut : (Itu termasuk kerusakan tidak diragukan lagi dan tidak disangsikan lagi) .

Hal itu sesuai dan sama dengan firqah (kelompok) Yazidiyah dari kelompok Khawarij, karena dalam perkataan mereka dengan membela orang yang bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah walaupun dia belum masuk ke dalam agamanya, namun bersamaan dengan itu mereka berlepas diri dari orang-orang yang bertauhid dan menghalalkan darah mereka. akan tetapi disana ada perbedaan antara dia dengan kelompok Yazidiyah itu, yaitu bahwa Yazidiyah menghalalkan darah orang-orang yang bertauhid karena sebuah dosa sedangkan orang-orang murtad sekarang ini telah menghalalkan darah orang-orang yang bertauhid karena ketaatan, seperti jihad, menerangkan perkataan yang benar dan berlepas diri dari thaghut serta mengkafirkan thaghut dan yang semisalnya.

2. Di Urdun juga ada Salim Al Hilali. Orang yang banyak berbicara tentang mujahidin dan para dai serta yang terkenal dengan pembajak buku-buku para dai dan ulama’. Contohnya lihat buku : (Al Kasyful Mitsali ‘An Saroqoti Salim Al Hilali) oleh Syaikh Ahmad Al Kuwaiti.
3. Masyhur Hasan, oleh Syaikh Ahmad Al Kuwaiti juga ada bukunya (Al Kasyful Masyhur ‘An Saroqoti Masyhur).

4. Termasuk orang yang membantu mereka dalam kesesatan dan juga sebagai penopang dana dengan penuh kemurahan hati adalah Sa’ad Al Hushaini yang ditunjuk sebagai duta besar Sa’udi di Urdun dan dia sebagai warga negara dan pembela Sa’udi hingga pikiran-pikirannyapun mengikuti langkah-langkah Jaamiyiin dan Madkhaliyyiin (pengikut-pengikut Jaamiyah dan Madkhaliyah).

• Di Maghribi, langka-langkah mereka diikuti dalam menikam orang-orang yang bertauhid dan membela para thaghut dan orang-orang murtad adalah :
1. Muhammad bin Abdur Rahman Al Maghrawi, dia tidak takut dengan ancaman-ancaman dengan mengangkat perkara-perkara orang-orang yang menyelisihinya dari kalangan para dai kepada penguasa.
2. Diantara mereka yang dari Al Jazair adalah Abdul Malik bin Ahmad Ramdhani, penulis kitab (Madaarikun Nadhzri Fis Siyasah), dia adalah sejelek-jelek dan seburuk-buruk dan penulisan dalam permasalahan ini, yang pada hakekatnya dia mengajak kepada politik inbithohiyyah (sikap tiarap) yang toleran dan berharap kepada thaghut serta keluar dari para dai, dia juga menganggap penguasa Aljazair dan pemimpin-pemimpinnya adalah sah, maka tidak boleh keluar dari mereka walaupun dengan lisan dan perkataan, oleh karena itu dia hingga sekarang tidak bisa melihat, karena telah buta matanya dan bashirahnya (mata hatinya) tertutup dengan suatu kekafiran yang nyata dan kesyirikan yang jelas serta terang-terangan memerangi agama yang telah dilakukan oleh pemimpin-pemimpin mereka, sebaliknya mereka berpura-pura buta (tidak melihat) akan kekafiran thaghut dan berusaha menutup-nutupinya, kamu akan melihat orang yang jelek ini diatas manhaj Syaikhnya Robi’ Al Madkhali yang melancarkan serangannya terhadap seorang mujahid yang agung Sayyid Quthub, maka tidak ada alasan dengan suatu ta’wil dan tidak perlu mengingatkannya untuk mengkaji ulang mengenai bencana-bencana yang telah dilakukannya dan orang-orang yang semisal dengan dia yang terus menerus dia gencarkan, mereka tidak menukil dari perkataan Sayyid Quthub sedikitpun dalam rangka untuk membalas secara penuh untuk kebaikan-kebaikan thaghut.

ingin down load, klik ling berikut Download

Iklan

Filed under: download buku, syubhat

Pembagian Jenis Syahid

Abdullah

syuhada'Sesungguhnya segala puji adalah kepunyaan Allah, kami memuji-Nya, memohon pertolongan-Nya, dan memohon perlindungan-Nya dari keburukan diri-diri kami, dari kejelekan amal-amal perbuatan kami. Barangsiapa yang Allah beri dia hidayah, maka tiada siapapun yang mampu menyesatkannya.Barangsiapa yang Allah telah sesatkan dia, maka tiada siapapun yang mampu memberinya hidayah. Dan aku bersaksi bahwa tiada Ilah (Tuhan) selain Allah Dia Yang Maha Esa, tiada sekutu bagi-Nya. Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya.

Definisi:

Diantara beberapa definisi syahid terdapat seperti berikut:

“Syahid ialah orang yang meninggal, tetapi jenazahnya tidak dimandikan dan tidak disholatkan: Ini disebabkan karena terbunuh ketika memerangi kafir, baik terbunuh oleh kafir, atau terkena senjata nyasar kaum muslimin, atau bahkan terkena senjatanya sendiri, atau terjatuh dari kendaraannya, atau disengat binatang berbisa lalu mati, atau tergilas kendaraan perang kaum Muslimin atau selainnya, atau terkena senjata nyasar yang tidak diketahui apakah itu senjata Muslim atau senjata kafir, atau orang yang didapati terbunuh seusai peperangan dan tidak diketahui sebab kematiannya, baik pada tubuhnya terdapat darah atau tidak, baik kematiannya saat itu atau setelah itu, kemudian meninggal dengan sebab-sebab tersebut sebelum pertempuran usai ” (Lihat Al-Majmu’ Syarhul Muhadzdzab 1/261). Adapun pengertian syahid secara umum, orang yang disebut sebagai syahid ialah mereka yang hilang nyawanya demi meninggikan (memperjuangkan) kalimat Allah[1].

Mengapa dikatakan syahid?

Ulama berbeda mengenai ini.
Diantara mereka ada yang mengatakan dikatakan syahid karena dia disaksikan/diperlihatkan kepadanya jannah (syurga). Dikatakan juga bahwa sebab dinamakan syahid ialah ruh-ruh mereka menyaksikan jannah, dan berada di Daarus Salaam (Jannah,syurga) dan mereka hidup disisi Rabb (Tuhan) mereka.

Jadi makna syahid (assyahiid) adalah Syaahid (Asy-Syaahid), yaitu berarti saksi, dan juga hadir (berada) di jannah. Imam Al-Qurthubi berkata: “Inilah pendapat yang benar” [2].

Diantara pengertian ‘syahid’ yang lebih kuat menurut Abu Ibrahim Al-Mishri ialah:
“Karena dia memiliki saksi (syahid) atas kematiannya. Saksi itu adalah darahnya sendiri, karena di hari kiamat nanti ia akan dibangkitkan oleh Allah dengan lukanya yang mengalirkan darah” (Lihat Al-Majmu’ An-Nawawi 1/277). Tetapi ia juga menyebutkan bahwa adakalanya orang yang syahid lukanya tak memancarkan darah. Wallahu A’lam. [3]

Jenis-jenis Syahid:

Pembagian ini menentukan aplikasi hukum dunia terhadap orang yang meninggal, yaitu memberlakukan hukum secara zhahir terhadap orang yang dikategorikan syahid atau tidak.

Dalam Shahih Bukhari disebutkan:

“Menceritakan kepada kami Abdullah bin Yusuf, menceritakan kepada kami Malik dari Sumyyin dari Abu Shalih dari Abu Hurairah r.a : bahwa Rasulullah s.a.w bersabda: Syuhada itu ada lima,yaitu Orang yang mati terkena cacar, orang yang mati karena diare, orang yang mati tenggelam, orang yang mati tertimpa runtuhan (longsor), dan orang yang syahid di jalan Allah” (Al-Bukhari, Kitab As-Sayru Wal-Maghazi: 2617)

Sedangkan dalam Shahih Muslim disebutkan pula:

“Dari Abu Hurairah r.a, katanya, Rasulullah s.a.w bersabda: Apa yang kalian ketahui tentang syahid?” Sahabat r.a menjawab: Barangsiapa yang terbunuh di jalan Allah maka dia syahid” Lalu Rasulullah s.a.w bersabda: “Kalau begitu syahid di kalangan ummat ku sedikit”, Sahabat r.a berkata lagi, kalau begitu siapakah mereka ya Rasulullah ? Rasulullah s.a.w bersabda: Barangsiapa yang terbunuh di jalan Allah maka dia syahid, barang siapa yang mati di jalan Allah, maka dia syahid, barangsiapa yang mati karena cacar maka dia syahid, siapa yang mati terkena diare dia syahid ” (Shahih Muslim, Kitaabul Imaarah:3539)

Dua hadits diatas menerangkan syahid secara umum dan secara khusus. Imam Nawawi dalam syarah hadits Muslim diatas menyebutkan:

Para ulama berkata : “Yang dimaksudkan syahid diatas adalah selain syahid Fie sabilillah (terbunuh ketika berperang di jalan Allah), mereka itu di akhirat memperoleh pahala para syuhada. Adapun di dunia, mereka dimandikan dan dishalatkan.Dalam kitab Al-Iman telah dijelaskan masalah ini. Adapun syuhada, terbagi kedalam Tiga jenis: Syahid dunia dan akhirat, yaitu yang terbunuh ketika berperang melawan kafir, dan syahid akhirat , hukum dunia terhadapnya tidak diperlakukan sebagaimana layaknya orang yang terbunuh di jalan Alah, mereka inilah yang dimaksudkan syahid (secara umum) dalam hadits ini, dan syahid dunia, yaitu orang yang berperang karena mencari ghanimah dan berpaling dari peperangan.

1. Syahid Dunia Akhirat

Yang dimaksud syahid dunia akhirat adalah orang yang terbunuh ketika berperang di jalan Allah dengan niat yang ikhlas, tidak ada unsure riya, tidak juga berbuat ghulul (mencuri harta rampasan perang). Jenis inilah yang merupakan syahid yang sempurna dan syahid yang paling utama, baginya pahala dari sisi Allah Yang Maha Agung. Soal niat ikhlas atau tidaknya, hanya dia yang bersangkutan dan Allah yang tahu. Manusia hanya menghukumi secara zhahir bahwa dia mati terbunuh di jalan Allah. Sehingga dia layak disebut sebagai syahid. Karenanya jenazahnya tidak perlu dimandikan,tidak perlu dikafankan, tidak perlu disholatkan, ia hanya dikuburkan dengan pakaian lengkap tatkala ia terbunuh syahid.

2. Syahid Dunia

Yaitu orang yang terbunuh ketika dia berperang, tetapi dia tidak ikhlas karena Allah, bukan demi menegakkan kalimat Allah (Islam). Soal niatnya, manusia selain dirinya tidak ada yang tahu. Akan tetapi ketika jasadnya ditemukan terbunuh ketika berperang melawan kafir, maka ia dihukumi sebagai syahid.Untuk syahid jenis pertama dan kedua ini, terdapat beberapa pendapat. Menurut pendapat Al-Ahnaf (Hanafiyah), mereka tidak dimandikan, tidak dikafani tetapi disholatkan. Menurut Hanabilah (pengikut mazhab Hanbali) mereka tidak dimandikan, tidak dikafankan dan tidak disholatkan. Menurut Malikiyah : Mereka tidak dimandikan, tidak dikafankan, tidak juga di sholatkan. Dan, menurut Syafi’iyah, bahwa mereka tidak dimandikan, tidak dimandikan dan tidak pula disholatkan”

3. Syahid akhirat saja

Yaitu orang-orang yang mati karena tenggelam atau terbakar dan semisalnya, sebagaimana terdapat dalam hadits-hadits Nabi. Orang yang termasuk kategori ini dimandikan, dikafani juga disholatkan.[4]

Penyebutan nama Syahid

Mengatakan “si fulan syahid” bukan berarti menghukumi bahwa dia masuk jannah (syurga), akan tetapi dimaksudkan untuk menentukan proses pengurusan jenazah, bagaimana jenazah itu diperlakukan. Jika ternyata memang syahid maka berlakulah ketentuan seperti disebutkan terdahulu.

Karena itu diperbolehkan menyebut si fulan syahid, dan hal ini telah menjadi sesuatu yang biasa (dan diterima) di kalangan Ahlus Sayru Wal-Maghazi (para pelaku Jihad sejak zaman awal) begitu pula ini berlaku di kalangan para penulis kitab dan ilmu rijal (salah satu cabang dalam ilmu hadits), mereka menghukumi bahwa orang-orang saat kematiannya memenuhi sebab-sebab kesyahidan, maka dia disebut sebagai Syahid.[5]

Wallaahu A’lam Bish-Shawab

Al-faqir Wal-Haqir IlaLlaah

Referensi:
# Ensiklopedia Sembilan kitab Hadits (Kutubut Tis’ah).
# Tahdzib Masyaari’ul Asywaaq Ilaa Mashaa-ri’il UsySyaaq Fi Fadhaa-ilil Jihaad, Syaikh Asy-Syahid Ibnu Nuhas Asy-Syafi’I.
# Aljihaadu Sabiiluna, Syaikh Abdul Baqi Ramdhun
# Ats-Tsamratul Jiyaad Fii Masaa-ili Fiqhil Jihaad, Abu Ibrahim Al-Mishri

Catatan Kaki:

[1] Ats-Tsamratul Jiyaad Fii Masaa-ili Fiq-hil Jihaad, hal 172.

[2] Tahdzin Masyaari’ul Asywaq Ilaa Mashaa ri’il Usy-Syaaq, hal 259.

[3] Ibid, hal 173.

[4] Aljihaadu Sabiiluna, Abdul Baqi Ramdhun, hal 155-156.

[5] Ats-Tsamratul Jiyaad Fii Masaa-ili Fiqhil Jihaad, hal 176.

Filed under: syubhat

MU’TAZILAH DAN DERADIKALISASI

deradMemang hari ini kita tidak mendapatkan sebuah institusi bernama mu’tazilah. Akan tetapi pemikiran dan manhajnya masih dipegangi oleh penerusnya dengan nama yang berbeda.

Kelompok pemuja akal ini muncul di kota Bashrah pada abad ke-2 Hijriyah, antara tahun 105-110 H, tepatnya di masa pemerintahan khalifah Abdul Malik bin Marwan dan khalifah Hisyam bin Abdul Malik.

Pelopornya adalah seorang penduduk Bashrah mantan murid Al-Hasan Al-Bashri yang bernama Washil bin Atha’ Al-Makhzumi Al-Ghozzal. Ia lahir di kota Madinah pada tahun 80 H dan mati pada tahun 131 H. Di dalam menyebarkan bid’ahnya, ia didukung oleh ‘Amr bin ‘Ubaid seorang gembong Qadariyyah kota Bashrah setelah keduanya bersepakat dalam suatu pemikiran bid’ah, yaitu mengingkari taqdir dan sifat-sifat Allah. (Lihat Firaq Mu’ashirah, karya Dr. Ghalib bin ‘Ali Awaji, 2/821, Siyar A’lam An-Nubala, karya Adz-Dzahabi, 5/464-465, dan Al-Milal Wan-Nihal, karya Asy-Syihristani hal. 46-48)

Seiring dengan bergulirnya waktu, kelompok Mu’tazilah semakin berkembang dengan sekian banyak sektenya. Hingga kemudian para dedengkot mereka mendalami buku-buku filsafat yang banyak tersebar di masa khalifah Al-Makmun. Maka sejak saat itulah manhaj mereka benar-benar terwarnai oleh manhaj ahli kalam yang berorientasi pada akal dan mencampakkan dalil-dalil dari Al Qur’an dan As Sunnah.

Oleh karena itu, tidaklah aneh bila kaidah nomor satu mereka berbunyi: “Akal lebih didahulukan daripada syariat yaitu Al Qur’an, As Sunnah dan Ijma’. Dan akal-lah sebagai kata pemutus dalam segala hal. Bila syariat bertentangan dengan akal menurut persangkaan mereka maka sungguh syariat tersebut harus dibuang atau ditakwil. (kata pengantar kitab Al-Intishar Firraddi ‘alal Mu’tazilatil-Qadariyyah Al-Asyrar, 1/65)

Ini merupakan kaidah yang batil, karena kalaulah akal itu lebih utama dari syariat maka Allah akan perintahkan kita untuk merujuk kepadanya ketika terjadi perselisihan. Namun kenyataannya Allah perintahkan kita untuk merujuk kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah, sebagaimana yang terdapat dalam Surat An-Nisa ayat 59. Kalaulah akal itu lebih utama dari syariat maka Allah tidak akan mengutus para Rasul pada tiap-tiap umat dalam rangka membimbing mereka menuju jalan yang benar sebagaimana yang terdapat dalam An-Nahl ayat 36. Kalaulah akal itu lebih utama dari syariat maka akal siapakah yang dijadikan sebagai tolok ukur?! Dan banyak hujjah-hujjah lain yang menunjukkan batilnya kaidah ini. Untuk lebih rincinya lihat kitab Dar’u Ta’arrudhil ‘Aqli wan Naqli, karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dan kitab Ash-Shawa’iq Al-Mursalah ‘Alal-Jahmiyyatil-Mu’aththilah, karya Al-Imam Ibnul-Qayyim.

New mu’tazilah
Gambaran dari Mu’tazilah hari ini adalah Islam liberal. Pemikiran ini telah masuk keberbagai kampus-kampus di Indonesia. Mereka jajakan pemikiran-pemikiran mereka kepada para mahasiswa dan dosen Islam. Dan bahkan para tokoh-tokoh seperti Hasyim Muzadi dan Masdar F. Mas’udi dari Nahdlatul Ulama, Syafi’i Ma’arif dan Moeslim Abdurrahman dari Muhammadiyah, Nurcholish Madjid dari Universitas Paramadina, atau Azyumardi Azra dari Institut Agama Islam Negeri Jakarta menjadi pendukung-pendukungnya.

Tujuan Jaringan Islam Liberal adalah mencegah pandangan keagamaan yang militan dan pro-kekerasan menguasai wacana publik Indonesia. Luthfi dalam situs islamlib.com menjelaskan Islam liberal sebagai “protes dan perlawanan” terhadap dominasi Islam ortodoks baik yang wajahnya fundamentalis maupun konservatif.
Kira-kira siapa yang menjadi sasaran mereka ?. Siapa lagi kalau bukan organisasi dan tokoh yang mengusung jihad dan amar ma’ruf nahi munkar semacam Front Pembela Islam, Jama’ah Anshorut Tauhid (JAT), Majlis Mujahidin dan yang lainnya. Mereka tak sekali dua kali melancarkan kritik terhadap organisasi-organisasi itu dalam web maupun mailing list Islam Liberal. Lihatlah berbagai artikel di http://www.islamlib.com yang rata-rata menghantam pemikiran-pemikiran Islam.

Ada enam isu yang jadi agenda pokok Islam liberal: anti-teokrasi, demokrasi, hak perempuan, hak nonmuslim, kebebasan berpikir, dan gagasan tentang kemajuan. Penjelasan lengkap enam agenda itu dibukukan oleh Charles Kuzman dalam Wacana Islam Liberal: Pemikiran Islam Kontemporer tentang Isu-isu Global.

Penggembosan terhadap jihad
Munculnya berbagai tulisan tentang deradikalisasi Islam diberbagai koran dan majalah memang membuat kita tergelitik untuk mengomentarinya. Jawa pos misalnya memuat artikal bersambung tiga kali pada tanggal 26, 27, 28, dan 29 bulan september 2009 ketika mengomentari sebuah slogan “isy kariman au mut syahidan” [ hidup mulia atau mati syahid ] . Yang salah satunya berjudul “jargon indah untuk agenda busuk”. Penulis mengatakan bahwa ia adalah kalimat yang haq akan tetapi dipakai untuk sesuatu yang batil. Dan pada tanggal 29 deberi judul “hidup tak mulia mati tak syahid”. Kalau dilihat dari alur tulisannya, para penilis adalah pengikut islam liberal. Yaitu dengan cara mencari dalil dari al qur’an dan sunnah serta kitab-kitab para ulama’ dan bahkan mengambil perkataan orang-orang kafir untuk membenarkan pemikirannya. Itulah ciri has mu’tazilah gaya baru.

Adalagi buku yang ditulis oleh seorang mantan polisi Dr Petrus Reinhard Golose dengan judul “Deradikalisasi Terorisme”. Dia memaparkan bagaimana merubah pikiran seseorang yang radikal, sehingga berubah menjadi tidak radikal. Masih banyak berbagai artikel dan buku yang mengusung deradikalisasi Islam. Semuanya memiliki tujuan penggembosan terhadap jihad. Mereka dibiayai besar besaran oleh Amerika. Maka jangan heran jika rekening mereka bertambah setiap menciptakan sebuah karya dalam tujuan deradilakisasi.

Mereka tidak tahu bahwa islam adalah agama yang paling kasih sayang. Mereka juga tidak tahu bahwa, hanya islamlah yang akan menjadikan ketenangan negeri ini. Sejarah telah mencatat betapa banyak rakyat bangsa romawi pada masa Umar Ibnul Khottob radhiyallahu ‘anhu yang lebih senang dikuasi Islam dibandingkan pemerintah romawi.

Akan tetapi Islam dan pengikutnya akan bersikap tegas dan bahkan siap mengorbankan jiwa dan raganya jika dinnya dilecehkan. Dan mereka akan senantiasa memperjuangkan idiologi Islam diterapkan dibumi hingga mencapai kemenangan atau syahadah. [ Amru ]

Filed under: 'Adawah

Koreksi terhadap majalah asy syari’ah

syaAdapun latar belakang saya menyampaikan koreksi dan pelurusan terhadap majalah Asy Syari’ah ini, Pertama: Semata-mata karena kehendak Allah Ta’ala, karena atas izin-Nya ada hamba Allah yang memberikan sebagian majalah tersebut kepada saya, sebagaimana yang saya sampaikan dalam muqaddimah risalah koreksi ini, Kedua: Menurut saya syubhat atau bid’ah atau kesalahan-kesalahan yang terdapat dalam majalah Asy Syari’ah jauh lebih berbahaya dibandingkan dengan syubuhat atau bid’ah atau kesalahan-kesalahan yang terdapat di dalam majalah-majalah, tulisan-tulisan yang lainnya, khususnya bagi masyarakat umum yang ingin kembali kepada as sunnah san berhasrat mengikuti jejak langkah salaf, dan di samping itu bid’ah-bid’ahnya akan lebih cepat dianggap sebagai sunnah apabila tiada seorangpun yang mengecamnya, dan mengoreksinya, sebab para pengasuhya dikenali oleh orang awam bahwa mereka adalah As Salafiyun (orang-orang salafi) dan tidak henti-hentinya mengaku sebagai kelompok ahlus sunnah wal jama’ah, kelompok bermanhaj salaf, al firqah an-najiyah, berilmu dengan ilmu yang benra dan sebagainya dan sebagainya.

Maka melihat kenyataan seperti itu dan demi menunaikan perintah Allah Ta’ala dan Rasul-Nya serta berusaha mengamalkan sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai berikut:

Artinya: “Ad-dien adalah nasihat, kami katakan: bagi siapa? Beliau bersabda: Bagi Allah, bagi kitab-Nya, bagi rasul-Nya dan bagi para pimpinan kaum muslimin dan orang-orang awamnya.”

Dan dalam hadits yang lain yang diriwayatkan Imam Al Bukhari dan Imam Muslim :

Artinya: “Dari Jabir bin Abdillah radliallahu’anhu berkata: Aku membai’at Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk mendirikan shalat, tegakkan zakat dan menasihati bagi setiap muslim.” (Mutafaq ‘alaih)

Dan tidak diragukan lagi bahwasanya menerangkan kesalahan-kesalahan dalam urusan ad-dien dan mentahdzir darinya serta memberikan sanggahan terhadapnya adalah merupakan sebesar-besar nasihat bagi Allah, bagi kitab-Nya, bagi Rasul-Nya dan seluruh kaum muslimin, sebab dengan mendiamkan kesalahan tersebut agama manusia akan rusak dan seterusnya akan membawa kepada rusaknya dunia mereka dan akhiratnya.

Saya bukan termasuk ahlul ilmi sebagaimana yang dikehendaki oleh Al Imam Al Auza’i rahimahullah yang telah tersebut di atas, akan tetapi saya hanyalah sebagai orang awam biasa yang dikaruniai Allah Ta’ala setitik ilmu, sehingga ? Alhamdulillah ? dengan setitik ilmu itu saya bisa membaca sebagian kitab-kitab ahlul ilmi dan memahami aqwal mereka, dan dari situ saya dapat mengetahui adanya kesalahan-kesalahan di dalam majalah Asy Syari’ah.

Dan menurut hemat saya kesalahan-kesalahan itu bermuara dari dua golongan, yaitu: 1- Kesalahan orang ‘alim yang diikuti dan 2- Dari kebodohan orang-orang yang menyangka diri mereka berilmu, dan saya menganggap ? wallahu a’lam ? bukan kesalahan golongan ketiga yaitu ahlul bid’ah dan ahluz zaigh, sebab kita melihat dari segi lalainya saudara-saudara kita para pengasuh majalah Asy Syari’ah dan semisalnya mereka adalah orang-orang yang hendak menghidupkan as sunnah. selengkapnya download ling berikut Download

Filed under: download buku, syubhat

KEMENANGAN DATANG SETELAH UJIAN

kSegala puji bagi Alloh, kami memuji, meminta pertolongan dan ampunan kepada-Nya, dan kami berlindung kepada Allah dari kejahatan diri serta keburukan amal perbuatan kami. Siapa yang diberi petunjuk oleh-Nya, maka tidak ada seorangpun mampu menyesatkannya, dan siapa yang Alloh sesatkan maka tidak ada seorangpun yang bisa memberinya petunjuk. Dan aku bersaksi bahwa tidak ada ilah (yang haq) selain Alloh, satu-satu-Nya dan tiada sekutu bagi-Nya, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan rosul-Nya. Beliau telah menyampaikan risalah, menunaikan amanah dan menasehati umat, serta meninggalkan mereka di atas mahajjatul baidho’ (keterangan yang sangat jelas), malamnya seperti siang, tidak ada yang menyimpang dari keterangan tersebut kecuali orang yang binasa.

Ihwan fiddin yang dirahmati Allah Ta’ala
Pernah ada seorang pemuda bertanya kepada imam Syafi’I rahimahullah. “Ya Aba Abdillah, mana yang lebih baik antara seorang yang diberi tamkin (kekokohan dimuka bumi) atau mendapatkan ujian dari Allah?” Imam Syafi’i mengatakan, Tamkin akan terwujud setelah seseorang mendapat ujian. Allah SWT. telah menguji Nabi Nuh, Ibrahim, Musa, Isa,Muhammad SAW. Ketika mereka bersabar atas ujian yang diberikan maka Allah kokohkan keduduka mereka. Jangan seorangpun diantara kalian mengira bisa terlepas dari rasa sakit.” (Al-Fawaid, Ibnul Qayyim)

Dan dari Sufwan bin ‘Umar ia berkata, Aku menjadi gubernur di Himsh, suatu ketika aku berjumpa dengan seorang kakek tua yang alisnya sudah berjuntai ke mata. Ia adalah salah seorang penduduk Damaskus. Ketika sedang mengendarai hewan tunggangannya karena ingin berangkat perang, ku katakan kepadanya: “Wahai paman, Alloh telah memberimu udzur,” Maka kakek itu menyingkap kedua alisnya lalu berkata, “Wahai keponakanku, Alloh telah memerintahkan kita berperang, baik dalam keadaan ringan ataupun berat.”
Sungguh, orang yang dicintai Alloh, pasti Dia uji,

صَبْراً عَلىَ شِدَّةِ اْلأَيَّامِ إِنَّ لَهَا عُقْبَى وَمَا الصَّبْرُ إِلاَّ عِنْدَ ذِيْ حَسَبِ
سَيَفْتَحُ اللهُ عَنْ قُرْبٍ يُعْقِبُهُ فِيْهَا لِمِثْلِكَ رَاحَاتٍ مِنَ التَّعَبِ
Sabarlah menghadapi kengerian berhari-hari,
kelak akan tampak hasilnya,
Sabar hanya dimiliki orang-orang yang mulia
Sebentar lagi Alloh kan bukakan setelah kesabaran itu
Ketenangan-ketenangan setelah kelelahan untuk orang sabar seperti-mu

Saudaraku yang dirahmati Allah Ta’ala
Sayyid Quthb Rohimahulloh berkata,
“Sesungguhnya iman bukan sekedar kata-kata yang diucapkan. Iman adalah kenyataan yang penuh beban berat, amanah yang melelahkan, jihad yang membutuhkan kesabaran, kesungguhan yang menuntut daya tahan menanggung beban. Tidak cukup orang mengatakan, “Kami beriman,” lantas mereka dibiarkan begitu saja melontarkan pengakuan ini; sebelum ia menghadapi ujian lalu ia teguh menghadapinya. Setelah itu, barulah ia keluar dalam keadaan steril unsur-unsur dalam jiwanya, dan bersih hatinya. Sama seperti api yang membakar emas untuk memisahkan unsur-unsur tak berguna yang terikut di dalamnya. Dan inilah asal kata iman dari sisi bahasa. Lain lagi dengan makna, cakupan dan petunjuknya. Fitnah ujian juga diberikan kepada hati. Ujian terhadap iman adalah perkara baku dan sunnah yang pasti berjalan di dalam timbangan Alloh Ta‘ala, “Dan sungguh Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, dan kelak Alloh akan tahu siapakah orang-orang yang jujur dan orang-orang yang dusta.” (QS. Al-Ankabut [29]: 3)

Iman juga merupakan amanah Alloh di muka bumi, tidak ada yang sanggup memikulnya selain orang yang me-mang layak memikulnya, dan kuat mengangkatnya, dalam hatinya ada keikhlasan untuk itu. Ia hanya sanggup dipikul oleh orang-orang yang lebih mengutamakannya daripada kehidupan serba santai, nyaman, aman, sejahtera, harta benda dunia dan kemewahan. Sungguh iman adalah amanah, amanah untuk menegakkan khilafah di muka bumi, membimbing manusia kepada jalan Alloh, serta merealisasikan kalimat-Nya dalam kehidupan nyata. Maka, iman adalah amanah yang mulia sekaligus berat, ia berasal dari perintah Alloh yang dengannya manusia terlihat wujud aslinya. Oleh karenanya, amanah ini memerlukan tempat khusus, yang mampu bersabar ketika ada ujian.” Demikian perkataan beliau Rohimahulloh.

Resiko bagi pemenempuh jalan jihad
Maka, kelompok yang menempuh jalan jihad di jalan Alloh, haruslah menyadari tabiat peperangan dan tuntutan-tuntutan yang harus dipenuhi guna mencapai target-targetnya. Mereka mesti menyadari tabiat jalan yang harus ditempuhnya. Yang konsekwensinya adalah tertumpahnya darah pengikut-pengikut mereka yang shaleh. Kelompok ini harus menyadari bahwa jalan ini mengandung resiko hilangnya orang-orang yang dicintai dan teman dekat, harus meninggalkan para kekasih dan tanah air. Sama seperti ketika para shahabat Nabi sallahu alaihiwasallam yang merupakan makhluk terbaik setelah para nabi menanggung pahitnya berhijrah, kehilangan harta, keluarga, dan tempat tinggal. Semuanya adalah dijalani di atas jalan Alloh. Lantas di manakah posisi kita dari mereka?

Tidak ada pilihan bagi kelompok ini selain bersabar untuk terus melanjutkan perjalanan di atas jalan yang ia tempuh, dan berharap pahala di sisi Alloh yang barangkali ada ketika ia kehilangan sebagian komandan atau anggotanya. Kelompok ini harus tetap berjalan di atas jalannya, dan menyadari bahwa ini adalah sunnatulloh ‘Azza Wa Jalla, dan bahwa Alloh pasti memilih hamba-hamba-Nya yang sholeh dari umat ini. Ia tidak boleh tergesa-gesa memohon kemenangan, sebab bagaimanapun janji Alloh akan datang juga, pasti itu.
Seorang muslim harus mengerti, bahwa mengikuti kebenaran dan bersabar di atasnya adalah jalan tersingkat untuk meraih kemenangan, walaupun jalan tersebut panjang, banyak rintangannya, dan sedikit yang mau menempuhnya. Sebaliknya, melenceng dari kebenaran tidak akan mendatangkan apapun selain kehinaan, walaupun nampaknya jalan itu mudah, dan para penempuhnya mengira kemenangan dekat. Sesungguhnya itu tak lain adalah fatamorgana. Alloh Ta‘ala berfirman:
وَأَنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيماً فَاتَّبِعُوهُ وَلا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ ذاَلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
“Dan bahwasanya inilah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah jalan itu. Dan janganlah kalian mengikuti jalan-jalan lain, sehingga kalian akan bercerai berai dari jalan-Nya. Yang demikian itu diwasiatkan kepada kalian agar kalian bertakwa.” (QS. Al-An‘âm [6]: 153)

Agar istiqomah dan tidak mundur dalam perjuangan, marilah kita renungkan sebuah pesan dari Ibnul Qoyyim : ”Seandainya raja-raja dan anak raja itu mengetahui apa yang kami rasakan, pasti mereka menguliti kami dengan pedang untuk mendapatkan kesenangan yang kami miliki.” (Ighasatul Lahafan, 1/197).
Pernah merasakan suasana seperti ini saudaraku? Coba kita renungkan bagaimana lukisan perasaan itu disampaikan oleh imam Ibnu Taimiyah rahimahullah saat ia dipenjara dan disiksa. Fisiknya tersiksa, tapi justru disanalah ia merasakan kenikmatan yang tak pernah ia rasakan sebelumnya. Dalam sebuah risalahnya ia menuliskan surat untuk rekan-rekannya. “Syukur Alhamdulillah kepada Allah. Aku kini beraa dalam kenikmatan besar yang selalu bertambah hari demi hari. Allah SWT memperbaharui nikmat-Nya kepadaku. Aku dapat menulis kitab dan itu adlah kenikmatan yang paling besar. Aku sangat ingin menulis kitab agar kalian bisa membacanya. Surat-surat yang kalian kirimkan telah sampai kepadaku. Aku dalam keadaan baik. Dua mataku dalam kondisi baik dan bahkan lebih baik dari keadaan sebelumnya. Aku dalam kenikmatan sangat besar, yang tak dapat terhitung dan terlukiskan. Alhamdulillah pujia kepaa Allah yang sangat banyak.” (Fatwa Ibnu Taimiya 28/47)

Begitulah perasaan seorang muslim yang jujur dalam kebenaran dan benar-benar kejujurannya. Ia justru memperoleh puncak obsesi dan keinginannya disaat ia mendapatkan ujian. Keinginan adalah apa yang dapat ia berikan untuk Islam dan kaum muslimin. Kegembiraannya adalah pada bagaimana ia melihat hasil perjuangannya kepada ummat. Obsesinya adalah bagaimana ia bisa berbuat lebih banyak untuk Islam. [ Amru ]

Filed under: tazkiyah

MEMBEDAH PRINSIP PEMIKIRAN KELOMPOK SALAFI GAYA BARU

syaikhosamaSegala puji hanya untuk Allah semata, dan keselamatan atas hamba-Nya yang terpilih. Amma Ba’d
Inilah Langkah-langkah yang menampakkan pemikiran baru, yang menisbahkan diri kepada sunnah, menyelimuti dirinya dengan pakaian salafiyah secara dholim, dan menyelimuti dirinya dengan selimut ahlus sunnah wal jama’ah secara dosa, yang ini semua mengakibatkan rusaknya seluruh amal da’I, dan menghapus faridhoh jihad fie sabilillah, amar ma’fur dan nahi mungkar, dan menambah perpecahan kesatuan ummah Islamiyyah.

Kami berkehendak mempelajari idiologi ini dan mengumpulkan prinsip-prinsip dan kaidah-kaidahnya tanpa menyebutkan siapa yang mengatakannya, akan tatapi yang kami inginkan adalah mengambil sikap berhati-hati dari idiologi yang tegak di atas dasar (suka) mencela, (suka) menyebarkan khabar (bohong), (suka) menjarh (mencela) tanpa celaan yang benar, (suka) menbid’ahkan tanpa ada kebid’ahannya (yang nyata), (suka) mengkafirkan tanpa menunjukkan rambu-rambunya, menyibukkan diri berdakwah kepada Allah dengan hinaan dan celaan, dengan cara mengkafirkan, membid’ahkan seluruh makhluk selain (kelompok) mereka, dan menampakkan peperangan kepada (selain kelompok mereka), seperti layaknya memerangi orang-orang kafir, munafik, sekuler dan kelompok kiri Kita bisa menyebut orang yang beridiologi seperti ini dengan “JARHIYYIN” (orang-orang yang suka mencela)… dikarenakan kesibukan mereka (dalam mencela), inilah pekerjaan dakwah mereka yang mendasar, menjadikan celaan sebagai dien, maka sampai kapan mereka menjadikan celaan dan makian sebagai dien ?!!

Sesungguhnya kewajiban kita adalah bekerja keras membuka kejelekan idiologi ini, dan menjauhkan para remaja ummat Islam secara umum dan para pemuda salafiyyah secara khusus dari tergelincir kepada idiologi ini. Wallahul Musta’an.

D. Abdurrozaq bin Khulaifah As Sayiji

untuk lebih lengkapnya, silahkan download di ling ini : http://www.4shared.com/file/137711361/3374da1a/PRINSIP_PEMIKIRAN_SALAFI_1.html

Filed under: Manhaj

I’DAAD AL-QUWWAH

Meraih Kemenangan Secara Bertahap

taliban_fightersI’dad merupakan tahapan proses menuju jihad. Yakni dengan mempersiapkan segala kemampuan baik fisik maupun ligistik perang. Tujuannya untuk meraih kemenangan di medan jihad, dan menggentarkan musuh serta orang-orang munafiq. Allah ta’ala berfirman,
وَأَعِدُّوا لَهُمْ مَا اسْتَطَعْتُمْ مِنْ قُوَّةٍ وَمِنْ رِبَاطِ الْخَيْلِ تُرْهِبُونَ بِهِ عَدُوَّ اللَّهِ وَ عَدُوَّكُمْ وَأَخَرِيْنَ مِنْ دُونِهِمْ لاَ تَعْلَمُونَهُمْ اللهُ يَعْلَمُهُمْ وَمَا تُنْفِقُوا مِنْ شَيْءٍ فِي سَبِيْلِ اللهِ يُوَفَّ إِلَيْكُمْ وَأَنْتُمْ لاَ تُظْلَمُونَ

Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang [yang dengan persiapan itu] kamu menggentarkan musuh Alloh, musuhmu dan orang-orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya, sedang Alloh mengetahuinya. Apa saja yang kamu nafkahkan pada jalan Alloh niscaya akan dibalas dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya [dirugikan]. [Al-Anfaal : 60]

Allah menjelaskan melalui lisan nabi-Nya, yang dimaksud ayat di atas adalah mempersiapkan fisik, berupa persenjataan dan logistik perang. Dhohir ayat ini tidak bisa ditafsirkan lain kecuali yang dimaksud. Imam Muslim meriwayatkan dari ‘Uqbah bin Amir, bahwa Nabi shallalLaahu ‘alayhi wa sallam setelah membaca ayat di atas, beliau bersabda,
أَلاَ إِنَّ الْقُوَّةَ الرَّمْيُ

“Ingatlah bahwasannya kekuatan itu adalah melempar [memanah]”. Beliau mengucapkannya tiga kali.
Perintah dalam ayat tersebut bersifat umum dengan menggunakan isim nakirah ‘quwwah’. Artinya apa saja yang merupakan bagian-bagian dari kekuatan yang dapat digunakan untuk peperangan yang bersifat luas dan dapat menggentarkan musuh-musuh Allah, semuanya masuk dalam cakupan ini. Sedang penjelasan yang diberikan oleh Rasulullaah bahwa yang dimaksud adalah melempar [memanah] hal itu bersifat khusus, mengarah secara spesifik kepada persiapan tempur.

Perintah ini bersifat mutlak, tidak terikat oleh waktu maupun tempat, tidak terikat kondisi lemah maupun kuat, dalam keadaan menang atau sedang kalah. Darimana dapat disimpulkan seperti itu? Allah telah mensifati orang-orang kafir dengan firman-Nya :
…وَلْيَأْخُذُوْا حِذْرَهُمْ وَأَسْلِحَتَهُمْ وَدَّ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا لَوْ تَغْفُلُوْنَ عَنْ أَسْلِحَتَكُمْ وَأَمْتِعَتِكُمْ فَيَمِيْلُوْنَ عَلَيْكُمْ مَّيْلَةً وّاَحِدَةً…
…dan hendaklah mereka bersiap siaga dan menyandang senjata. Orang-orang kafir ingin supaya kamu lengah terhadap senjatamu dan harta bendamu, lalu mereka menyerbu kamu dengan sekali pukul… [An-Nisaa’ :102]

Latar Belakang Situasi dan Keadaan Kaum Muslimin.
Perintah i’dad al-quwwah hadir kepada Nabi dan kaum muslimin tatkala prasyarat untuk meng-implementasi-kan perintah itu telah siap. Syari’at ini tidak hadir di ruang kosong hanya untuk wawasan dan tsaqofah tanpa tujuan untuk dilaksanakan. Bukan seperti itu tabi’at dien ini.

Sebelum turun perintah ini, shoff perjuangan kaum muslimin telah terbentuk, setelah hijrah ke Madinah. Tabi’at dasar kaum muslimin -sebagaimana manusia pada umumnya di saat itu- telah terbentuk sebagai abnaa’ al-harb [generasi yang siap untuk berperang] karena tuntutan lingkungannya untuk dapat mempertahankan hidup. Tidak hanya itu, perjalanan panjang da’wah Rasulullaah, keshabaran beliau dan para shahabat menghadapi tekanan berkepanjangan selama di Makkah, hingga hijrahnya beliau dan para shahabat dan penerimaan kaum Anshor, menjadi prakondisi bagi dilaksanakannya perintah i’dad menyongsong pertarungan ke depan dengan simbol kemusyrikan Quraisy Makkah yang pasti akan menyerang dan berusaha menghancurkan eksistensi mereka.

Setelah kekalahannya, ummat Islam mengalami de-militerisasi, ilmu pertahanan, penguasaan persenjataan, dan ketrampilan fisik militer merupakan monopoli tentara. Para pemimpin Islam tidak mendidik ummatnya untuk mengerti dan memahami masalah ini dengan benar. Ketika ummat telah mengalami demiliterisasi, sementara tentara yang memonopoli ilmu perang, penguasaan senjata dan terlatih secara phisik tidak dididik dan diamanati untuk mengawal pelaksanaan syari’at Allah, melindungi ummat Islam dari serangan dan kedhaliman musuh, padahal mereka telah dilucuti persenjataannya. Ummat yang awam menyangka bahwa perlindungan dirinya, keselamatan nyawa dan hartanya di tangan tentara. Untuk sebuah insiden penjambretan di jalan raya pun, solusinya mesti lapor kepada aparat. Tak ada lagi porsi pertahanan diri sendiri.

Pada kondisi kekinian ummat Islam, i’daad al-quwwah secara spesifik dalam bentuk melengkapi diri dengan ketrampilan teknis kemiliteran, jika beban ini diletakkan dalam kerangka pribadi sangat sulit terbentuk, sekalipun pelakunya memiliki ‘azzam yang sangat kuat. Jika hal itu diletakkan dalam kerangka jama’iy, yakni organisasi-organisasi ummat Islam yang mengambil peran itu, maka tindakan itu akan dianggap sebagai organisasi poros kejahatan yang dengan segera akan masuk daftar hitam organisasi terorist versi AS, rekening dibekukan, para anggotanya dikenai pencekalan ke luar negeri dan tindakan-tindakan lain seperti yang dialami oleh para pendahulunya. Padahal perintah ini jelas perintah Allah, melaksanakannya adalah amal sholih dan merupakan bentuk taqorrub kepada Allah. Jika kita tidak berhenti melakukan pencarian dan konsekuen dengan temuan-temuan kita secara jujur, kita akan mendapati betapa banyak perkara-perkara yang merupakan ‘amal sholih menurut Allah, tetapi dianggap kriminal oleh manusia, terutama oleh orang-orang kafir dan para pengikutnya.

Kewajiban Tadrib Askari
Sebagaimana ayat di atas dan hadits yang menjelaskan maksud dari ayat tersebut, maka tadrib askari menjadi kewajiban bagi kaum muslimin, dan me-realisasikannya merupakan bentuk ‘ibadah kepada Allah dan sarana untuk taqorrub kepada-Nya. Kewajiban ini dikuatkan oleh beberapa alasan:

Pertama, karena jihad menjadi wajib dalam beberapa kondisi: pertama, bila dua pasukan lawan bertemu dalam medan pertempuran, maka dilarang mundur. Kedua, bila musuh menyerang sebuah negeri, maka diwajibkan penduduk wilayah tersebut berjihad menghalau musuh. Ketiga, bila seseorang telah ditunjuk oleh imam kaum muslimin untuk berjihad, maka tidak ada pilihan kecuali berangkat jihad.

Kedua, Karena I’dad merupakan bukti keimanan, bila tidak melakukan atau menolak maka dikhawatirkan termasuk dalam golongan munafiqin. Allah berfirman :
وَلَوْ أَرَادُوا الْخُرُوجَ َلأَعَدُّوا لَهُ عُدَّةً وَلَكِنْ كَرِهَ اللَّهُ انْبِعَاثَهُمْ فَثَبَّطَهُمْ وَقِيلَ اقْعُدُوا مَعَ الْقَاعِدِينَ

Dan jika mereka bermaksud untuk keluar berjihad, tentulah mereka menyiapkan persiapan untuk keberangkatan itu, tetapi Allah tidak menyukai keberangkatan mereka, maka Allah melemahkan keinginan mereka, dan dikatakan kepada mereka: “Tinggallah kamu bersama orang-orang yang tinggal itu.” [At Taubah : 46-47].

Juga dikuatkan oleh hadits Nabi shallalLaahu ‘alayhi wa sallam, “Barangsiapa yang mati dalam keadaan belum pernah berperang [di jalan Allah] dan tidak pernah terdetik hatinya untuk berperang, maka ia mati dalam cabang kemunafikan”. [HR. Muslim]

Ketiga, Adanya ancaman bagi mereka yang tidak memelihara setelah mempunyai keterampilan melempar [menembak, memanah]. Walau tidak sampai haram, tapi hukumnya makruh bila tanpa ada alasan tertentu. Nabi shallalLaahu ‘alayhi wa sallam bersabda,
مَن عَلِمَ الرَّمْيَ ثُمَّ تَرَكَهُ فَلَيْسَ مِنَّا أَوْ قَدْ عَصَى

Barangsiapa yang menguasai keterampilan melempar[memanah, menembak], lalu ia tinggalkan, maka bukan termasuk dari golonganku, atau ia telah bermaksiat. [HR. Muslim]

Menghadirkan kesadaran bahwa setiap ‘amal yang kita kerjakan merupakan bagian dari i’dad merupakan upaya agar terhindar dari salah satu sifat kemunafikan. Sekecil apapun yang dibelanjakan seorang hamba dalam rangka i’dad akan mendapatkan nilai di sisi Allah, tidak akan dikurangi. Bahkan sekedar olah raga fisik secara teratur, jika diniyatkan untuk itu, akan ada nilainya.

Sarana Menuju Kemenangan
Kemenangan kaum muslimin dari musuhnya sangat erat kaitannya dengan dua syarat: Syarat umum dan syarat khusus. Syarat umum adalah adanya I’dad ruuhiy, yaitu bertambahnya keimanan seorang hamba zhahir maupun batin, bertambahnya ilmu dan ‘amal sehingga benar-benar menjadi hamba-Nya yang layak memperoleh pertolongan Allah.
وَكَانَ حَقًّا عَلَيْنَا نَصْرُ الْمُؤْمِنِينَ

Dan kami selalu berkewajiban menolong orang-orang yang beriman. [Ar-Ruum:47]

Adapun syarat khusus adalah I’dad maddiy untuk melaksanakan jihad fie sabilillah, baik persiapan senjata, persiapan logistik perang, pendanaan dengan mendorong ummat untuk ber-infaq di jalan Allah. Termasuk di dalamnya tadrib askary dengan berbagai macam bentuknya.

Yang demikian, karena dunia adalah tempat ujian, dan segalanya terjadi dengan sebab musabbab. Allah menguji orang-orang mukmin dengan kerasnya permusuhan orang-orang kafir untuk melihat kebenaran imannya: apakah ia akan berjihad melawan orang-orang kafir dengan banyak melakukan I’dad, atau tidak melakukannya? Kemudian Allah berfirman :
ذَلِكَ وَلَوْ يَشَاءُ اللَّهُ َلانتَصَرَ مِنْهُمْ وَلَكِنْ لِيَبْلُوَ بَعْضَكُمْ بِبَعْضٍ

Demikianlah, apabila Allah menghendaki niscaya Allah akan membinasakan mereka tetapi Allah hendak menguji sebagian kamu dengan sebagian yang lain. [Muhammad : 4]

Menyatukan Langkah
Dan termasuk dari I’dad maddiy, adalah menyatukan barisan kaum muslimin untuk menghadapi musuh-musuh mereka.
وَلا تَنَازَعُوا فَتَفْشَلُوا وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ وَاصْبِرُوا

Dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. [Al-Anfal : 46]

Allah menjadikan perpecahan di antara kaum muslimin sebagai sebab kekalahan, bahkan sebab utama, karena Allah memberikan kemenangan setelah mereka memberikan kesetiaannya antara satu dengan yang lainya.
وَمَنْ يَتَوَلَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَالَّذِينَ آمَنُوا فَإِنَّ حِزْبَ اللَّهِ هُمْ الْغَالِبُونَ

Dan barangsiapa menjadikan Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman menjadi penolongnya, maka sesungguhnya pengikut [agama] Allah itulah yang pasti menang. [Al-Maidah : 51]

Realitanya, barisan kaum muslimin terdiri dari banyak kelompok, yang satu dengan yang lainya boleh jadi berbeda-beda dalam menjalankan prioritas ‘amal yang mereka kerjakan. Faktor lain, karena tuntutan umat hari sudah sangat komplek dan beraneka ragam, yang semuanya itu harus dipenuhi dan mesti ada sebagian kaum muslimin yang memenuhi tuntutan tersebut. Karena itulah muncul beragam kelompok dengan beragam fokus perhatian.

Ada kelompok kaum muslimin yang memiliki pengalaman banyak dalam penyebaran akidah yang benar, mereka giat memberantas bid’ah dan khurafat yang menyebar di kalangan kaum muslimin. Ada yang dikaruniai kemampuan mengentaskan ‘ahli maksiat’ kembali ke jalan kebenaran, ada yang concern dalam dunia politik, ada yang kecenderungannya mengajak berjihad untuk membebaskan tanah-tanah kaum muslimin, mengembalikan kemulyaan mereka dan memperjuangkan syari’at Allah di muka bumi, ada yang dikaruniai banyak harta, ada juga yang ke-istimewa-annya melahirkan kader untuk mensuplai kebutuhan kader-kader perjuangan pelanjut misi.

Semua kelebihan yang dimiliki oleh masing-masing kelompok sangat dibutuhkan dalam kancah peperangan melawan makar dan tipu daya orang-orang kafir. Maka hendaknya setiap kelompok tegak dan istiqomah dalam melanggengkan kelebihan ‘amalan yang telah Allah berikan dan menyumbangkannya untuk satu tujuan, satu derap langkah menegekkan dien Allah di muka bumi, memberantas kekufuran dan kedhaliman serta mengembalikan peribadatan hanya untuk Allah semata. Wa Allahu A’lam Bi ash-Shawaab. [Abu Zaidan]

Filed under: 'Adawah

MEMBONGKAR SYUBHAT-SYUBHAT MURJIAH GAYA BARU

almaqdisiSesungguhnya segaka puji hanya milik Allah, Kami memuji-Nya, meminta pertolongan-Nya, dan meminta ampunan kepada-Nya. Kami berlindung kepada Allah dari keburukan jiwa kami dan dari kejelekan-kejelekan amal kami. Siapa orangnya yang Allah beri petunjuk maka tidak ada yang bisa menyesatkannya dan barangsiapa yang Dia sesatkan maka tidak ada yang bisa memberinya petunjuk.
Wa ba’du.

Ini adalah lembaran-lembaran yang mana aslinya telah saya tulis pada Bulan Muharram tahun 1408 H seputar materi yang diisyaratkan dalam judul, dan saat itu saya hanya membatasi pada masalah itu dan saya namakan “Raddul Hudaati ‘Ala Man Za’ama An Laisa Fil A’maali Wal Aqwaali Kufrun Man Lam Yartabith Bi’tiqaad Illashsholat” sebagai bantahan terhadapsebagian orang yang berpendapat seperti itu. Dan saya tidak begitu perhatian untuk menyebarkan dan menerbitkannya saat ini meskipun sebagian ikhwan kami di Pakistan telah mencetaknya dengan mesin tik, mereka mengcopynya dan menyebarkannya di kalangan mereka, serta sebagian mereka menyertakan beberapa tambahan.

Kemudian sesungguhnya saya tatkala melihat keberadaan Murjiah hari ini di negeri ini telah menjadi-jadi dan fitnah mereka makin mengakar dan menjalar serta menyebar di kalangan para pengekor, maka saya berpandangan untuk menyebarkannya supaya ikhwan kami para pencari Al Haq memanfaatkannya dalam membungkam segala syubhat Ahlut Tajahhum wal Irja (baca salafi maz’um), maka saya kembali mengambil aslinya(1), terus saya mengoreksinya dan menambahkan terhadapnya bantahan-bantahan atas syubhat-syubhat lain yang berkaitan dengan materi ini dan tidak jauh dari aslinya. Dan tidak ada penghalang bagi kami di masa mendatang bila mereka menciptakan syubhat-syubhat baru yang lain dan ia menyebar, kami menggugurkannya dalam juz lain yang akan datang serta kami merontokkannya bila masih ada sisa umur dengan pertolongan Allah dan taufiq-Nya.

Bila kalajengking itu kembali datang maka kami kembali menghadang
Sedang sandal selalu siap untuk menghajarnya.
Dan engkau akan melihat bahwa kami dalam pekerjaan ini tidaklah berbicara tentang suatu cabang dari cabang-cabang (ajaran Islam), namun ia adalah ashluddiin dan qaidahnya yang dengannya kami menghadang panah mereka yang telah sesat dan menyesatkan (manusia) dari jalan yang lurus. Kami meminta kepada Allah ta’ala agar memberikan keikhlasan kepada kami serta menjadikan kami dari hamba-hamba dan tentara-Nya al muwahhiddiin.

Inilah … segala puji di awal dan di akhir hanyalah milik Allah, shalawat (dan salam) semoga Allah limpahkan kepada nabi Muhammad. Keluarga, dan sahabatnya seluruhnya.

Abu Muhammad ‘Ashim
Al Maqdisy
1412 H

untuk downlod makalah ini silahakn klik di : Download

Filed under: download buku

PENGUMUMAN

Mohon maaf kepada para pengunjung blog ini jika beberapa komentar tidak kami tampilkan. Di karenakan komentar yang tidak mendidik tidak ilmiyah dengan berdasar dalil dan cenderung emosional. Semua itu kami lakukan untuk meminimalisir perdebatan yang tidak ilmiyah dan di dasari atas emosi saja

Tanggalan

Jam dinding



Blog Stats

  • 325,176 hits

Pengunjung

online