At Taujih

Mengawal Wacana Iqomatuddiin

I’DAAD AL-QUWWAH

Meraih Kemenangan Secara Bertahap

taliban_fightersI’dad merupakan tahapan proses menuju jihad. Yakni dengan mempersiapkan segala kemampuan baik fisik maupun ligistik perang. Tujuannya untuk meraih kemenangan di medan jihad, dan menggentarkan musuh serta orang-orang munafiq. Allah ta’ala berfirman,
وَأَعِدُّوا لَهُمْ مَا اسْتَطَعْتُمْ مِنْ قُوَّةٍ وَمِنْ رِبَاطِ الْخَيْلِ تُرْهِبُونَ بِهِ عَدُوَّ اللَّهِ وَ عَدُوَّكُمْ وَأَخَرِيْنَ مِنْ دُونِهِمْ لاَ تَعْلَمُونَهُمْ اللهُ يَعْلَمُهُمْ وَمَا تُنْفِقُوا مِنْ شَيْءٍ فِي سَبِيْلِ اللهِ يُوَفَّ إِلَيْكُمْ وَأَنْتُمْ لاَ تُظْلَمُونَ

Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang [yang dengan persiapan itu] kamu menggentarkan musuh Alloh, musuhmu dan orang-orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya, sedang Alloh mengetahuinya. Apa saja yang kamu nafkahkan pada jalan Alloh niscaya akan dibalas dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya [dirugikan]. [Al-Anfaal : 60]

Allah menjelaskan melalui lisan nabi-Nya, yang dimaksud ayat di atas adalah mempersiapkan fisik, berupa persenjataan dan logistik perang. Dhohir ayat ini tidak bisa ditafsirkan lain kecuali yang dimaksud. Imam Muslim meriwayatkan dari ‘Uqbah bin Amir, bahwa Nabi shallalLaahu ‘alayhi wa sallam setelah membaca ayat di atas, beliau bersabda,
أَلاَ إِنَّ الْقُوَّةَ الرَّمْيُ

“Ingatlah bahwasannya kekuatan itu adalah melempar [memanah]”. Beliau mengucapkannya tiga kali.
Perintah dalam ayat tersebut bersifat umum dengan menggunakan isim nakirah ‘quwwah’. Artinya apa saja yang merupakan bagian-bagian dari kekuatan yang dapat digunakan untuk peperangan yang bersifat luas dan dapat menggentarkan musuh-musuh Allah, semuanya masuk dalam cakupan ini. Sedang penjelasan yang diberikan oleh Rasulullaah bahwa yang dimaksud adalah melempar [memanah] hal itu bersifat khusus, mengarah secara spesifik kepada persiapan tempur.

Perintah ini bersifat mutlak, tidak terikat oleh waktu maupun tempat, tidak terikat kondisi lemah maupun kuat, dalam keadaan menang atau sedang kalah. Darimana dapat disimpulkan seperti itu? Allah telah mensifati orang-orang kafir dengan firman-Nya :
…وَلْيَأْخُذُوْا حِذْرَهُمْ وَأَسْلِحَتَهُمْ وَدَّ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا لَوْ تَغْفُلُوْنَ عَنْ أَسْلِحَتَكُمْ وَأَمْتِعَتِكُمْ فَيَمِيْلُوْنَ عَلَيْكُمْ مَّيْلَةً وّاَحِدَةً…
…dan hendaklah mereka bersiap siaga dan menyandang senjata. Orang-orang kafir ingin supaya kamu lengah terhadap senjatamu dan harta bendamu, lalu mereka menyerbu kamu dengan sekali pukul… [An-Nisaa’ :102]

Latar Belakang Situasi dan Keadaan Kaum Muslimin.
Perintah i’dad al-quwwah hadir kepada Nabi dan kaum muslimin tatkala prasyarat untuk meng-implementasi-kan perintah itu telah siap. Syari’at ini tidak hadir di ruang kosong hanya untuk wawasan dan tsaqofah tanpa tujuan untuk dilaksanakan. Bukan seperti itu tabi’at dien ini.

Sebelum turun perintah ini, shoff perjuangan kaum muslimin telah terbentuk, setelah hijrah ke Madinah. Tabi’at dasar kaum muslimin -sebagaimana manusia pada umumnya di saat itu- telah terbentuk sebagai abnaa’ al-harb [generasi yang siap untuk berperang] karena tuntutan lingkungannya untuk dapat mempertahankan hidup. Tidak hanya itu, perjalanan panjang da’wah Rasulullaah, keshabaran beliau dan para shahabat menghadapi tekanan berkepanjangan selama di Makkah, hingga hijrahnya beliau dan para shahabat dan penerimaan kaum Anshor, menjadi prakondisi bagi dilaksanakannya perintah i’dad menyongsong pertarungan ke depan dengan simbol kemusyrikan Quraisy Makkah yang pasti akan menyerang dan berusaha menghancurkan eksistensi mereka.

Setelah kekalahannya, ummat Islam mengalami de-militerisasi, ilmu pertahanan, penguasaan persenjataan, dan ketrampilan fisik militer merupakan monopoli tentara. Para pemimpin Islam tidak mendidik ummatnya untuk mengerti dan memahami masalah ini dengan benar. Ketika ummat telah mengalami demiliterisasi, sementara tentara yang memonopoli ilmu perang, penguasaan senjata dan terlatih secara phisik tidak dididik dan diamanati untuk mengawal pelaksanaan syari’at Allah, melindungi ummat Islam dari serangan dan kedhaliman musuh, padahal mereka telah dilucuti persenjataannya. Ummat yang awam menyangka bahwa perlindungan dirinya, keselamatan nyawa dan hartanya di tangan tentara. Untuk sebuah insiden penjambretan di jalan raya pun, solusinya mesti lapor kepada aparat. Tak ada lagi porsi pertahanan diri sendiri.

Pada kondisi kekinian ummat Islam, i’daad al-quwwah secara spesifik dalam bentuk melengkapi diri dengan ketrampilan teknis kemiliteran, jika beban ini diletakkan dalam kerangka pribadi sangat sulit terbentuk, sekalipun pelakunya memiliki ‘azzam yang sangat kuat. Jika hal itu diletakkan dalam kerangka jama’iy, yakni organisasi-organisasi ummat Islam yang mengambil peran itu, maka tindakan itu akan dianggap sebagai organisasi poros kejahatan yang dengan segera akan masuk daftar hitam organisasi terorist versi AS, rekening dibekukan, para anggotanya dikenai pencekalan ke luar negeri dan tindakan-tindakan lain seperti yang dialami oleh para pendahulunya. Padahal perintah ini jelas perintah Allah, melaksanakannya adalah amal sholih dan merupakan bentuk taqorrub kepada Allah. Jika kita tidak berhenti melakukan pencarian dan konsekuen dengan temuan-temuan kita secara jujur, kita akan mendapati betapa banyak perkara-perkara yang merupakan ‘amal sholih menurut Allah, tetapi dianggap kriminal oleh manusia, terutama oleh orang-orang kafir dan para pengikutnya.

Kewajiban Tadrib Askari
Sebagaimana ayat di atas dan hadits yang menjelaskan maksud dari ayat tersebut, maka tadrib askari menjadi kewajiban bagi kaum muslimin, dan me-realisasikannya merupakan bentuk ‘ibadah kepada Allah dan sarana untuk taqorrub kepada-Nya. Kewajiban ini dikuatkan oleh beberapa alasan:

Pertama, karena jihad menjadi wajib dalam beberapa kondisi: pertama, bila dua pasukan lawan bertemu dalam medan pertempuran, maka dilarang mundur. Kedua, bila musuh menyerang sebuah negeri, maka diwajibkan penduduk wilayah tersebut berjihad menghalau musuh. Ketiga, bila seseorang telah ditunjuk oleh imam kaum muslimin untuk berjihad, maka tidak ada pilihan kecuali berangkat jihad.

Kedua, Karena I’dad merupakan bukti keimanan, bila tidak melakukan atau menolak maka dikhawatirkan termasuk dalam golongan munafiqin. Allah berfirman :
وَلَوْ أَرَادُوا الْخُرُوجَ َلأَعَدُّوا لَهُ عُدَّةً وَلَكِنْ كَرِهَ اللَّهُ انْبِعَاثَهُمْ فَثَبَّطَهُمْ وَقِيلَ اقْعُدُوا مَعَ الْقَاعِدِينَ

Dan jika mereka bermaksud untuk keluar berjihad, tentulah mereka menyiapkan persiapan untuk keberangkatan itu, tetapi Allah tidak menyukai keberangkatan mereka, maka Allah melemahkan keinginan mereka, dan dikatakan kepada mereka: “Tinggallah kamu bersama orang-orang yang tinggal itu.” [At Taubah : 46-47].

Juga dikuatkan oleh hadits Nabi shallalLaahu ‘alayhi wa sallam, “Barangsiapa yang mati dalam keadaan belum pernah berperang [di jalan Allah] dan tidak pernah terdetik hatinya untuk berperang, maka ia mati dalam cabang kemunafikan”. [HR. Muslim]

Ketiga, Adanya ancaman bagi mereka yang tidak memelihara setelah mempunyai keterampilan melempar [menembak, memanah]. Walau tidak sampai haram, tapi hukumnya makruh bila tanpa ada alasan tertentu. Nabi shallalLaahu ‘alayhi wa sallam bersabda,
مَن عَلِمَ الرَّمْيَ ثُمَّ تَرَكَهُ فَلَيْسَ مِنَّا أَوْ قَدْ عَصَى

Barangsiapa yang menguasai keterampilan melempar[memanah, menembak], lalu ia tinggalkan, maka bukan termasuk dari golonganku, atau ia telah bermaksiat. [HR. Muslim]

Menghadirkan kesadaran bahwa setiap ‘amal yang kita kerjakan merupakan bagian dari i’dad merupakan upaya agar terhindar dari salah satu sifat kemunafikan. Sekecil apapun yang dibelanjakan seorang hamba dalam rangka i’dad akan mendapatkan nilai di sisi Allah, tidak akan dikurangi. Bahkan sekedar olah raga fisik secara teratur, jika diniyatkan untuk itu, akan ada nilainya.

Sarana Menuju Kemenangan
Kemenangan kaum muslimin dari musuhnya sangat erat kaitannya dengan dua syarat: Syarat umum dan syarat khusus. Syarat umum adalah adanya I’dad ruuhiy, yaitu bertambahnya keimanan seorang hamba zhahir maupun batin, bertambahnya ilmu dan ‘amal sehingga benar-benar menjadi hamba-Nya yang layak memperoleh pertolongan Allah.
وَكَانَ حَقًّا عَلَيْنَا نَصْرُ الْمُؤْمِنِينَ

Dan kami selalu berkewajiban menolong orang-orang yang beriman. [Ar-Ruum:47]

Adapun syarat khusus adalah I’dad maddiy untuk melaksanakan jihad fie sabilillah, baik persiapan senjata, persiapan logistik perang, pendanaan dengan mendorong ummat untuk ber-infaq di jalan Allah. Termasuk di dalamnya tadrib askary dengan berbagai macam bentuknya.

Yang demikian, karena dunia adalah tempat ujian, dan segalanya terjadi dengan sebab musabbab. Allah menguji orang-orang mukmin dengan kerasnya permusuhan orang-orang kafir untuk melihat kebenaran imannya: apakah ia akan berjihad melawan orang-orang kafir dengan banyak melakukan I’dad, atau tidak melakukannya? Kemudian Allah berfirman :
ذَلِكَ وَلَوْ يَشَاءُ اللَّهُ َلانتَصَرَ مِنْهُمْ وَلَكِنْ لِيَبْلُوَ بَعْضَكُمْ بِبَعْضٍ

Demikianlah, apabila Allah menghendaki niscaya Allah akan membinasakan mereka tetapi Allah hendak menguji sebagian kamu dengan sebagian yang lain. [Muhammad : 4]

Menyatukan Langkah
Dan termasuk dari I’dad maddiy, adalah menyatukan barisan kaum muslimin untuk menghadapi musuh-musuh mereka.
وَلا تَنَازَعُوا فَتَفْشَلُوا وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ وَاصْبِرُوا

Dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. [Al-Anfal : 46]

Allah menjadikan perpecahan di antara kaum muslimin sebagai sebab kekalahan, bahkan sebab utama, karena Allah memberikan kemenangan setelah mereka memberikan kesetiaannya antara satu dengan yang lainya.
وَمَنْ يَتَوَلَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَالَّذِينَ آمَنُوا فَإِنَّ حِزْبَ اللَّهِ هُمْ الْغَالِبُونَ

Dan barangsiapa menjadikan Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman menjadi penolongnya, maka sesungguhnya pengikut [agama] Allah itulah yang pasti menang. [Al-Maidah : 51]

Realitanya, barisan kaum muslimin terdiri dari banyak kelompok, yang satu dengan yang lainya boleh jadi berbeda-beda dalam menjalankan prioritas ‘amal yang mereka kerjakan. Faktor lain, karena tuntutan umat hari sudah sangat komplek dan beraneka ragam, yang semuanya itu harus dipenuhi dan mesti ada sebagian kaum muslimin yang memenuhi tuntutan tersebut. Karena itulah muncul beragam kelompok dengan beragam fokus perhatian.

Ada kelompok kaum muslimin yang memiliki pengalaman banyak dalam penyebaran akidah yang benar, mereka giat memberantas bid’ah dan khurafat yang menyebar di kalangan kaum muslimin. Ada yang dikaruniai kemampuan mengentaskan ‘ahli maksiat’ kembali ke jalan kebenaran, ada yang concern dalam dunia politik, ada yang kecenderungannya mengajak berjihad untuk membebaskan tanah-tanah kaum muslimin, mengembalikan kemulyaan mereka dan memperjuangkan syari’at Allah di muka bumi, ada yang dikaruniai banyak harta, ada juga yang ke-istimewa-annya melahirkan kader untuk mensuplai kebutuhan kader-kader perjuangan pelanjut misi.

Semua kelebihan yang dimiliki oleh masing-masing kelompok sangat dibutuhkan dalam kancah peperangan melawan makar dan tipu daya orang-orang kafir. Maka hendaknya setiap kelompok tegak dan istiqomah dalam melanggengkan kelebihan ‘amalan yang telah Allah berikan dan menyumbangkannya untuk satu tujuan, satu derap langkah menegekkan dien Allah di muka bumi, memberantas kekufuran dan kedhaliman serta mengembalikan peribadatan hanya untuk Allah semata. Wa Allahu A’lam Bi ash-Shawaab. [Abu Zaidan]

Filed under: 'Adawah

One Response

  1. iman mengatakan:

    laaa izzah illa bil quwwah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: