At Taujih

Mengawal Wacana Iqomatuddiin

ABU ‘ASHIM ABDULLAH AS SHON’ANY

Nama asli beliau adalah Ashim Abdulloh, ia lahir dari sebuah keluarga mujahid terkenal di kotanya, sebuah keluarga besar yang telah banyak mempersembahkan putra-putranya sebagai tumbal penyambung mata rantai jihad, yang dengannya umat kembali bangkit dari tidur panjangnya, mereka jual darah mereka dengan murah dijalan ini sebagai bahan bakar api peperangan akidah yang takkan dapat berjalan mulus jika ia tak tergenangi dengan lautan darah sebagaimana kapal laut takkan pernah berjalan di daratan. Mereka biarkan tulang belulang mereka berserakan demi sebuah nama, Kalimah Toyyibah Laa ilaaha Illalloh.

Abu Ashim adalah salah satu dari ke 22 taruna cadet yang ikut serta dalam sebuah dauroh Kawadir, kursus khusus pelatih Invanteri yang diadakan disebuah kamp, sebuah kursus yang mencetak para instruktur medan atau pelatih lapangan yang nantinya akan memegang idaroh kamp yang akan membantu para senior mereka dalam mendidik putra-putra umat yang ingin ber-i’dad fi sabilillah. Sekitar awal tahun 2000 mereka menyelenggarakan kursus ini, tepatnya di sebuah kamp milik Jalaluddin Haq yang berada di pelosok kota Khost, ibukota daerah Paktia.

Setelah tamat dari daurah ini merekapun mulai turun ke lapangan bertugas sebagau instruktur di kamp yang ada, di antaranya adalah EL FAROUQ yang terletak di pinggir kota Kandahar. Disitulah ia mulai terkenal dengan sebutan gelar Sab’ul Lail, dulu kala kali pertama kami dengar nama itu, kami ingat artinya adalah tujuh malam, namun ternyata kami baru sadar akan kedangkalan kami berbahasa arab, sebab maksud dan arti sebenar nama itu bukanlah tujuh malam ataupun seribu satu malam sekalipun, akan tetapi maknanya adalah Anjing malam, yahhh… teriakan lantangnaya dimalam kelam yang bisa membangunkan seluruh penghuni muaskar memang layak diidentikkan dengan lolongan anjing malam, terlebih lagi kalau suara beliau di selingi dengan dentuman explosive rakitan ataupun ledakan peluru Roket Proppelant Granade RPG-7, atau suara rentetan Grinain dan salakan Salaka seventy Five caliber Double Barrel yang menyalak dengan peluru Double Action 0,75 calibernya.

Beliau juga terkenal sebagai seorang yang handal dalam mengemudikan mobil, khususnya mobil-mobil besar empat garda. Ia memang seorang ahli dalam mengendarai Jeep Land Cruiser Turbo Wagon 4x4WD, atau Pick Up Hilux Surf 4x4WD yang terkenal dengan sebutan Kavaleri Pick Up dan mobil sejenisnya seperti Prado dan Pajero yang memang banyak di gemari oleh para mujahidin, begitu pula kendaraan medan Land over. Yang lebih besar lagi ia juga lihai dalam memainkan Truk besar Big Foot, truk angkut militer Russia yang terkenal kelasakannya Kamaz 6 x 6 WD yang biasa menyandang senjata Salaka 14.7mm seventy five caliber Double barrel.

Yang mana dalam sejarahnya ia pernah mencatat rekor beberapa kali sebelum ia mendapat anugerah sebagai syuhada’ pertama yang syahid bersama kudanya disebabkan Smart Bomnya Anjing serikat. Catatan pertamanya adalah kisahnya dengan sebuah Pick Up Hilux Surf yang ia bawa hingga jungkir balik ketika mendaki jalan menuju muaskar Kholid yang memang kemiringannya hampir mencapai 90’, wajar saja ia terbalik, sebab memang secara nalar tempat itu tak mungkin dilalui mobil, namun ia tetap saja ngotot untuk melaluinya juga sehingga terbaliklah pick up malang tadi, namun anehnya tak ada kecederaan sedikitpun yang beliau derita. Baru setelah itu mulailah Bego-bego milik Bin Laden CO. turun tangan meratakan jalan yang menantang tadi.

Yang kedua kalinya adalah saat ia masih berada di muaskar kawadir, yang mana saat itu ia baru berlatih Individual Stock, yaitu yang ada dalam perang kota, melonpat dari kendaraan yang tengah melaju kencang. Waktu itu ia mendapat tugas sebagai sopir dan diserahi sebuah mobil mewah, jeep Land Cruiser Prado 4x4WD. Tanpa mereka sangka sebelumnya tenyata mereka masuk ke daerah yang menjadi kawasan ladang ranjau darat, akan tetapi bukan ranjau-ranjau buatan Russia, sebab memang sejak awal daerah Khost adalah tempat awal yang bebas dari cengkeraman Russia. Ranjau tersebut adalah ranjau ‘Anqudy, istilah mereka untuk ranjau darat yang ditebar melalui udara dengan perantaraan bom Cluster, atau bom curah, yang mana bom ini terpecah menjadi ratusan keping sebelum menyentuh permukaan bumi, lalu serpihan yang meledak akan menjadi bom yang mematikan, sedangkan serpihan yang tak sempat meledak akan menjadi ranjau darat yang siap meledak bila-bila masa ia mendapat tekanan dari atas. Saat itu beliau barusan sukses menurunkan semua anggota skuadnya, lalu beliaupun berbelok seratus lapan puluh derajat untuk kembali mengambil personilnya, namun tatkala ia pindah gear ke gigi dua, tiba-tiba terdengar ledakan keras yang ia sangka ban dia yang meletus, namun peliknya adalah mesin kendaraan itu langsung mati dan terhenti di tempat. Yang lebih mengherankan lagi adalah ternyata bau yang menyengat keluar bukan bau karet yang terbakar, akan tetapi bau mesiu yang lebih dominant. Setelah ia turun dan mengamati apa yang terjadi ternyata body kiri depan jeepnya telah terkoyak terkena ledakan ranjau darat. Setelah mereka soal siasat ternyata ranjau itu adalah warisan serangan udara dan peluru kendali Tomahawk Anjing serikat pada tahun 1998 yang lalu setelah peristiwa Nairobi & Tanzania. Akhirnya tamatlah riwayat Prado tersebut, sebab mesin Four Wheel Drivenya telah rusak teruk. Namun dengan izin Alloh Abu Ashim masih dalam lindungan-Nya, malah yang cidera adalah ikhwannya yang lain disebabkan pendaratan yang kurang mulus sehingga mengakibatkan luka lecet di sana sini.

Dua tahun telah berlalu, kini beliau telah menjadi intruktur lapangan, bukan kawadir cadet lagi. Dan lagi satu bahwasanya El Farouq kini telah ramai dikunjungi wisatawan dari manca negara, dari ujung timur jauh Phillipinna sehingga ujung barat Maghoorib, dari benua Ausrtalia sampai benua Amerika latin, Jamaica. Begitu pula dengan kondisi alam sekitar El Farouq yang sekarang sudah mulai di penuhi dengan muaskar yang lain, diantaranya adalah jabal Mim Tho’ untuk Uhud Base pangkalan peluncur rudal anti serangan udara dan tempat basic training senjat anti aircraft. Disampingnya ada Lembah Mim Dal untuk Artilery Basic Training, lalu dua buah muaskar taktik Invanteri yang dinamai dengan muaskar Kholid bin Walid sebagai kenangan atas taktik jitunya Abu Sulaiman Ibnu Waleed, serta sebuah muaskar lagi untuk training Shoiqoh Quwwatul Khoosoh, pasukan elitnya mujahidin. Meski mereka masih tetap berada dalam tenda-tenda milik UNHCR namun mereka dalam kesehariannya selalu tidur dipadang pasir luas dengan alasan menghindari serangan udara anjing serikat yang bila-bila bisa datang.

Kala itu sedang dalam keadaan musim panas yang mana kebanyakan orang sedang menikmati liburan musim panas mereka, sebagian dari merekapun mengisi liburan musim panas dengan berkunjung ke muaskar El Farouq, sehingga saat itu jumlah pemuda yang ikut serta dalam basic military training saja mencapai 350 orang belum lagi yang ada di kamp-kamp kursus lanjutan yang lain, seperti taktik invanteri dan artelery medan dan anti pesawat. Namun bukan semua yang datang ingin menuntaskan tadrib, ada yang hanya mampu bertahan dua atau tiga hari saja, selepas itu belah …. Namanya saja tourist yang ingin menghabiskan liburan musim panas, jadi jangan heran kalau dari mereka ada yang menanyakan mana muaskar yang menghijau dengan pepohonan rindangnya, kalau itu yang mereka cari, silahkan masuk muaskarnya MILF yang ada di Bumbaran atau kampnya Abu Sayyaf. Sedang kalau kalian cari pemandangan seperti itu di muaskar El Farouq, yaaa mana mungkin akan ketemu. Sehingga bukan hal baru lagi kalau jumlah satu peleton awal sebanyak 45 atau 50 orang namun ketika pelepasan tinggal belasan orang. Namun itu semua kami anggap sebuah kebaikan dimana kaum muslimin sudah mulai menengok bumi jihad yang umumnya terletak di tempat yang tidak menyenangkan, terlebih lagi jalan masuk ke tempat itu bukan semulus jalan tol, terkadang mereka harus menunggu selama satu bulan, bahkan sampai berbulan-bulan, atau kadang juga harus rela menyamar memakai baju perempuan Burqoh untuk bisa selamat dari polisi perbatasan yang kerjanya hanya menghalangi manusia daripada jalan Alloh demi gaji dunia yang tak seberapa.

Menjelang berakhirnya musim panas 2001, terjadilah apa yang telah alloh setujui dan berikan barokah atas sebuah serangan telak yang menikam jantung pertahanan dan perekonomian dedengkot kekafiran yang selama ini menginjak-injak bumi islam dan tanah sucinya, serta membawa lari seluruh kekayaan alam yang Alloh berikan kepada kaum muslimin dengan bantuan para penguasa penghianat bangsa. Beberapa hari sebelum terjadinya peristiwa itu, muaskar EL FAROUQ telah di kosongkan, baik dari personalnya maupun dari persenjataan dan amunisi yang sebelumnya memenuhi lorong-lorong gua bawah tanah yang mereka persiapkan untuk menghadapi perang darat berkepanjangan.

Namun hamper lupa…sebelum itu tokoh kita pada kisah ini yaitu Abu Ashim sempat menunaikan separoh diennya, ia menikah bersama dua orang ikhwahnya, Abul Aswad as Suweidy dan Syaif al Qohtony yang mendapat istri orang afrika barat daya, Mauritania.

Setelah itu terjadilah istinfar aam bagi seluruh mujahidin yang ada di emirat islam, sebagian pergi ke garis depan, sebagian lagi naik gunung Tora Bora yang terkenal dengan keganasannya. Dan sebagai seorang mudarrib, abu ashimpun mendapat tugas mempertahankan ibukota Emirat Islam, yaitu kota Kandahar.
Dan serangan itupun dimulai sekitar satu bulan setelah terjadinya peristiwa selasa mubarok, sebuah serangan telak atas pusat jantung pertahanan dan perekonomian Anjing Serikat. Serangan itu dimulai pada malam jum’at, sekitar pukul 21.00 waktu setempat yang mana beberapa detik sebelumnya pembicara pasukan aliansi utara menyatakan lewat siaran TV internasional bahwa serangan Anjing serikat tinggal beberapa detik lagi. Waktu itu di tengah kota Kandahar masih banyak warga sipil dari kalangan wanita dan kanak-kanak, sehingga ketika sebuah ledakan keras menghantam rumah dinas Amirul Mukminin yang berada di pinggir kota Kandahar maka jerit tangis kanak-kanakpun langsung terdengar memilukan, merekalah yang selama ini menjadi korban serangan udara anjing serikat. Malam itu kota Kandahar dihujani peluru kendali Tomahawk dan ratusan bom curah Cluster dan Bom yang kata mereka bom pintar namun tak juga menemukan posisi amirul mukminin dan mujahidin yang selama ini mereka cari. Ada tiga tempat yang mereka serang malam itu, satu tempat di pinggiran kota yaitu rumah Amirul mukminin, sedangkan yang kedua adalah Base Kamp EL FAROUQ yang mereka ratakan habis hingga tak tersisa lagi bangunan yang masih berdiri, namun tak ada korban jiwa yang jatuh, padahal di tempat itu ada puluhan mujahid yang berjaga. Satu lagi tempat yang mereka bombardier adalah kawasan pangkalan udara Taliban yang ada di Kandahar, ada dua komplek yang mereka hancurkan, satu buah pusat pengendalian radar yang sudah layak disebut sebagai rongsokan perang tinggalan penjajah Russia dan sebuah lagi komplek perumahan mujahidin Foreigner yang diantaranya rumah syaikh, namun rumah tersebut tak terkena langsung, hanya halaman rumahnya yang dihantam rudal yang tak pintar langsung, nyatanya rumah tersebut tak tersentuh satu buah bompun, padahal menurut ikhwah yang berjaga di tempat itu menyatakan bahwa tempat itu duhujani lebih dari 300 buah ledakan beruntun sepanjang malam, sehingga nampak langit yang memerah semerah jahannam, akan tetapi anehnya mereka tak berhasil membunuh satu foreignerpun, hanya dua orang anggota Taliban yang saat itu tengah menjaga radar, serta seorang paman Amirul Mukminin yang aslinya tidak berada ditempat kejadian, namun karena rasa perhatiannya kepada Amirul Mukminin ia pergi menuju ketempat jatuhnya bom pertama yang membuat ia syahid terkena serangan rudal susulan yang sepanjang malam itu tak henti-hentinya mengguncang kota Kandaharahar.

Hamper dua bulan serangan anjing serikat tak banyak membawa hasil, bahkan helicopter angkut tempurnya CH-46 Chinook double kipasnya hancur terhempas dihantam senjata personal anti Tank RPG-7 dan senapan mesin berat, 50 kaliber Dashaka 12.7mm pada malam jum’at saat mereka berusaha mendarat di komplek perumahan Amirul mukminin yang kosong tak ada orang yang menempatinya. Lalu merekapun dengan kecanggihan alat perangnya mengangkat bangkai Chinook tadi dan membuangnya di perbatasan Pakistan untuk menghilangkan jejak kekalahan mereka dan kegagalan operasi pendaratan mereka yang pertama. Hari-hari yang mereka lakukan hanyalah membom perumahan tak berpenghuni, yang juga sering membunuh penduduk sipil yang tak pernah tahu apa itu perang. Hingga akhirnya masuklah bulan Romadlon, namun sebelum itu kami sempat kehilangan para pahlawan kami yang tak lagi merasakan puasa romadlon tahun ini, 20 orang pergi meninggalkan kami dalam sebuah peristiwa Markas Yarmuk di subuh hari tanggal 29 Sya’ban, sebuah kesedihan yang menyelimuti hati kami saat kaum muslimin dengan riang menyambut datangnya bulan mubarok, kami berjanji akan kami balas serangan mereka dengan tangan kami sendiri kami takkan menyandarkan harapan kami kepada para penguasa bertopeng islam.

Dan masuklah bulan romadlon, sedang serangan udara yang tak dapat kami lawan terus berkelanjutan, penduduk sipil semakin banyak yang menjadi korban, pagi itu kala matahari belum lagi nampak, dua buah pesawat F-14 Tomcat mengitari langit Kandahar mengejar dua bauh Truk Tanki Minyak solar yang baru saja keluar dari kota, tak berapa lama setelah itu meluncurlah sebuah peluru kendali dari pesawat tadi, dan hancur leburlah kedua tanki tadi, padahal apa dosa mereka. Mereka bukan teroris bukan pula anggota Taliban.
Pertengahan romadlon mulailah terjadi pertempuran darat yang sebenarnya, namun bukan tentara anjing serikat yang turun tangan, akan tetapi mereka mengumpankan kaum munafikin sebagai pasukan depan, sedang anjing seriakat hanya memberiakan bantuan serangan udara tembakan dari udara, dalam propaganda mereka saja yang mengatakan bahwa tentara Marin anjing serikat telah turun di kawasan bandara, kenyatannya yang maju perang hanya kaum mukholifin.

Dan kini kita kembali kepada Abu Ashim yang saat itu menjadi penjaga keluarga mujahidin arab yang diasingkan ke perkampungan Panjwe, sebuah basis Taliban yang letaknya beberapa puluh kilometer dari kota. Malam itu abu Ashim berada di dalam kota, begitu pula keluarganya dan beberapa orang tetangganya, dan malam itu sebagaimana biasanya pesawat anjing serikat tak henti-hentinya menyerang posisi yang mereka anggap milik mujahidin, serangan malam itu mengarah kepada perumahan ikhwah arab yang telah diendus oleh para jassus munafikin, salah satunya adalah komplek perumahan ikhwah yang ada di sekitar markaz UNHCR umam mulhidah. Kami waktu itu sedang berpatroli malam dengan sebuah Jeep Land Cruiser Prado 4WD di jalan yang sama, kira-kira 500 meter dari tempat kejadian ketika sebuah peluru kendali GBU-SDRAM Smart Bomb menyambar sebuah Pick Up Hilux SURF 4×4 yang sedang berhenti didepan rumah pengantin baru kita, Abu Ashim As Shon’any, sebuah kilatan cahaya merah menyilaukan mata kami yang saat itu memang tengah memperhatikan arah depan sebab kami berpatroli tanpa menyalakan lampu kendaraan kami. Sebuah kobaran api mendahului suara gegar dentuman bom yang sampai menggetarkan Jeep yang kami tumpangi. Sekeliling daerah itu menjadi terang benderang, lalu terdengar suara desingan peluru kendali yang berdesis, setelah itu baru disusul dengan suara gelegar ledakan bom yang mungkin menerbangkan manusia yang ada di sampingnya seperti yang terjadi pada seorang kawan kami di Muaskar EL FAROUQ saat awal serangan udara dan rudal Tomahawk. Seketika itu tanpa ada yang menyuruh kami semua langsung keluar meninggalkan mobil kami.

Dan ledakan itulah yang menerbangkan penunggang kuda Kavalery Pick Up handal kita yang saat itu tengah menunggu keluarganya dan beberapa kanak-kanak untuk ia bawa menyingkir menuju ke desa Panjwe yang lebih aman, akan tetapi detik itu juga sebuah heli Tempur Apache AH 64 mengejar sebuah Flying Coast Van Hiace 4WD yang membawa sekeluarga mujahid arab yang juga gugur semuanya di terjang roket udara-daratnya helicopter Apache. Dua orang akhwat dan 6 kanak-kanak yang berada dalam Van tersebut terbang bersama mujahid penunggang kuda Four by Four yang tak kami temukan serpihan dagingnya sedikitpun, bahkan bangkai mobil Pick Upnyapun tak dapat lagi kami kumpulkan. Beliaulah orang pertama kurun ini yang gugur syahid bersama Kavalery Pick Upnya.

Filed under: Profil Mujahid

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: