At Taujih

Mengawal Wacana Iqomatuddiin

MAKSIAT PENUNDA KEMENANGAN

Segala puji bagi Alloh Ta’ala yang menguasai para diktator, dan yang memuliakan serta menolong orang-orang beriman. Shalawat serta salam semoga terlimpahkan kepada sebaik-baik mujahidin, dan komandan al ghurrul muhajjalin, yang diutus sebagai rahmat bagi seluruh alam, yaitu Muhammad bin Abdillah sallallahu alaihiwasallam, juga kepada seluruh keluarga dan sahabat beliau. Wa ba’du:

Penunda kemenangan yang paling dominan adalah maksiat. Entah bermaksiat kepada Allah atau maksiat kepada pimpinannya. Islam sama sekali tidak mengkhawatirkan banyaknya musuh dan besarnya senjata mereka, islam tidak mengkhawatirkan kalian lantaran berkumpulnya seluruh kekuatan jahat memerangi kalian, atau sikap melemah-kan semangat dari saudara-saudara kalian sesama muslim di berbagai belahan dunia; yang dikhawatirkan justru dari diri kalian sendiri, aku khawatir kalian terkena penyakit wahn (cinta dunia dan takut mati), merasa lemah dan kalah, kemudian banyak melakukan maksiat.
Kita bisa mengambil pelajaran dari peristiwa perang Uhud, Alloh Ta‘ala berfirman:

“…sampai pada saat kamu lemah dan berselisih dalam urusan itu dan bermaksiat kepada perintah (Rosul) sesudah Alloh memperlihatkan kepadamu apa yang kamu sukai. Di antaramu ada orang yang menghendaki dunia dan di antara kamu ada orang yang menghendaki akhirat. Kemudian Alloh memalingkan kamu dari mereka untuk menguji kamu…” [QS. Ali Imron: 152 ].

Ibnu Katsir berkata, “Tadinya keunggulan dan kemenangan berada di fihak Islam pada pagi harinya, tapi tatkala para pemanah bermaksiat dan sebagian pasukan merasa gagal, janji kemenanganpun tertunda, di mana datangnya kemenangan ini disyaratkan adanya keteguhan dan sikap taat.”
Peristiwa Uhud ini sungguh telah menorehkan peristiwa yang menakjubkan, antara lain: jumlah musuh tiga kali lipat lebih banyak daripada jumlah kaum muslimin, lalu Alloh memenangkan kaum muslimin di pagi hari; tapi tatkala mereka bermaksiat, Alloh timpakan musibah di sore hari.

Shahabat Jâbir Radhyilallohu ‘Anhu berkata, “Ketika perang Uhud, manusia bercerai berai dari sisi Nabi Shollallohu ‘Alaihi Wa Sallam, yang tinggal menyertai beliau hanya 13 orang Anshor dan Tholhah.”
Dalam hadits Anas Radhyilallohu ‘Anhu ia berkata, “Ketika pecah perang Uhud, kaum muslimin tercerai berai. Maka Anas bin Nadhr berkata, ‘Ya Alloh, aku memohon udzur kepada-Mu dari perbuatan shahabat-shahabatku, dan aku berlepas diri kepada-Mu dari perbuatan orang-orang musyrik itu.’”
Dulu, setelah pulau Qibrish ditaklukkan, Abu `d-Darda’ duduk sambil menangis tatkala menyaksikan penduduknya menangis dan dalam kondisi kacau balau. Maka ada yang bertanya, “Wahai Abu `d-Darda’, apa yang membuatmu menangis di hari ketika Alloh memuliakan Islam?” beliau menjawab, “Celakalah kalian, alangkah rendahnya makhluk di sisi Alloh ketika mereka meninggalkan perintah-Nya, padahal mereka dulu adalah bangsa yang menang dan kuat, mereka meninggalkan perintah Alloh dan akhirnya menjadi seperti yang kalian lihat.”

Jangan bermaksiat
Sebagian ikhwah menyangka bahwa Allah akan memakluminya jika ia bermaksiat lantaran menurutnya ia telah lama memperjuangkan Islam dan bergabung dengan para aktivis Islam. Maka ia pun memandang remeh urusan maksiat. Apalagi setelah berlalunya masa yang panjang dari perjuangannya.
Maksiat berbentuk apapun pasti akan mempengaruhi terhadap dirinya dan usaha dia dalam iqomatuddiin. Bahkan tertundanya kemenangan dan terseok-seoknya perjalan iqomatuddin ini bisa jadi disebabkan maksiatnya para pengusungnya.

Terkadang hukuman Allah tersebut tidak berupa fisik. Betapa banyak orang yang memandang sesuatu yang diharamkan oleh Allah, karenanya Allah menghalanginya dari cahaya bashirah.
Akibat lainnya; bahwa kemaksiatan itu akan mengantarkan kepada kemaksiatan yang lain, kemaksiatan akan melahirkan kemaksiatan berikutnya, begitu seterusnya.

Seorang yang bermaksiat mungkin saja melihat badan, harta, dan keluarganya baik-baik saja. Ia merasa tidak ada hukuman atas kemaksiatan yang dilakukannya. Sebenarnyalah saat itu ia sedang mendapat hukuman. Cukuplah menjadi hukuman baginya saat manisnya kelezatan berubah menjadi hambar tak berasa dan yang tersisa tinggal pahitnya penyesalan, kesedihan dan kegelisahan.
Kadang-kadang buah dari kemaksiatan berupa Allah menjadikan kebencian dari berbagai hati kepadanya, atau terhalanginya dakwah tanpa sebab yang jelas. Abu Darda` radhiyallahu’anhu berkata, “Ada seorang hamba yang sembunyi-sembunyi bermaksiat kepada Allah ta’ala lalu Allah menumbuhkan rasa benci dalam hati orang-orang yang beriman kepadanya tanpa pernah ia menyadarinya.”
Dalam kitab Al-Fawaid, Ibnul Qayyim telah meringkas berbagai macam pengaruh yang ditimbulkan oleh kemaksiatan dengan sistematika yang bagus sekali, beliau menulis:

Hidayah yang sedikit, ra`yu yang rusak, kebenaran yang tersembunyi, hati yang bobrok, ingatan yang lemah, waktu terbuang sia-sia, makhluk menjauhinya, takut berhubungan dengan Rabbnya, doa tidak dikabulkan, hati yang keras, rizki dan umur yang tidak berbarokah, terhalangi dari ilmu, diliputi kehinaan, direndahkan oleh musuh, dada yang sempit, mendapatkan teman-teman jahat yang merusak hati dan membuang-buang waktu, kesedihan dan kegundahan yang panjang, kehidupan yang menyesakkan dan pikiran yang kacau… semua itu merupakan buah kemaksiatan dan akibat kelalaian dari dzikrullah, seperti halnya tetumbuhan subur dengan air dan kebakaran bermula dari sepercik api. Begitupun sebaliknya, semua kebalikan dari hal-hal tersebut di atas merupakan buah dari ketaatan. [Al-Fawaid, Ibnul qayim, hal 43. cet. Maktabatul hayah, Beirut ]
Pernah salah seorang salaf ditanya, “Apakah seorang yang sedang bermaksiat itu dapat merasakan lezatnya ketaatan?” Ia menjawab, “Bahkan orang yang berhasratpun tidak (akan merasakan kelezatannya).”
Waspadalah terhadap kejahatan yang disepelekan. Ia mungkin saja dapat membakar negeri. Mematikan hati para pejuang islam dan menunda kemenangan yang Allah janjikan. [ amru ]

Filed under: tazkiyah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: