At Taujih

Mengawal Wacana Iqomatuddiin

shalat di belakang ahlul bid’ah (pengikut demokrasi dll)

Dalam masalah takfir, apakah boleh kita menjadi makmum penganut [ halalnya demokrasi ] padahal sudah datang hujjah pada mereka ?

Ada beberapa hal yang perlu dijawab dalam pertanyaan ini.
– kafirkah pengikut [halalnya] paham demokrasi secara keseluruhan ?
– Bolehkah sholat di belakang mereka ?

I. Syarat seseorang dianggap kafir adalah, jika seseorang mengamalkan atau mengucapkan atau meyakini hal-hal yang menjadikan batalnya islam seseorang. Itupun harus diikuti dengan syarat bulughul hujjah wa intifa’ul mawani’ [ sampainya hujjah dan tidak adanya penghalang-penghalang].

Sedangkan hukum demokrasi adalah batil. Ia adalah sebuah agama baru yang muncul dimasayarakat dunia hari ini. Karena sudah begitu memasarakat, sehingga sedikit orang yang mengetahui bahwa demokrasi adalah agama batil. Jika ada, itupun hanya orang-orang yang dirahmati Allah Ta’ala.
Sedangkan pemikiran demokrasi ini disebut juga bid’ah. Dan Islam membagi bid’ah menjadi dua. Bid’ah yang menyebabkan kekufuran dan bid’ah yang tidak menjadikan pelakunya kafir. Ciri-ciri bid’ah yang menyebabkan pelakunya kafir adalah : Orang yang mengingkari urusan yang telah disepakati ke-mutawatirannya di dalam syare’at. Seperti menghalalkan yang haram atau menghalalkan yang haram, atau berkeyakinan dengan sesuatu yang tidak pantas bagi Allah Rosul dan kitabnya dari urusan nafi (peniadaan) dan itsbat (penetapan), karena itu semua merupakan tindakan mendustakan kitab dan dan apa yang dibawa oleh Nabi Muhammad seperti bid’ahnya Jahmiyah didalam mengingkari shifat Allah Ta’ala dan perkataan mereka bahwa Al-Qur’an adalah makhluq. (ma’arijul qobul : 3/1228).

Permasalahan penghalalan dan pengharaman adalah hak khusus bagi Allah maka barang siapa menghalalkan dan mengharamkan selain yang datang dari Allah dan Rosulnya maka ia telah membuat suatu syare’at atau undang-undang dan barangsiapa yang membuat syare’at maka ia telah menuhankan dirinya. (al-wala’ wa al-bara’ fi al-islam : 141 ).
(( ألا له الخلق والأمر ))
“ingatlah ! menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah”
Dan untuk menetapkan kekafiran atas orang-orang semacam ini harus ada iqomatul hujjah atas mereka terlabih dahulu. (lihat ma’arij al-qobul 3/1229).

Maka bagi oragn-orang yang menjadi para pakar-pakar demokrasi, ia telah kafir. Karena telah menjadikan selain islam sebagi syari’at dan penentu segala keputusan. Sedangkan para pengikutnya, belum kita hukumi kafir karena ada penghalang kekafiran yaitu ta’wil dan taqlid.
Sedangkan sikap terhadap mereka, adalah menjelaskan keadaan mereka, mengingatkan ummat akan bahayanya, menyiarkan Sunnah dan menerangkannya kepada kaum muslimin, kemudian mengenyahkan kebid’ahan serta mencegah kezhaliman dan permusuhan mereka (Ahlul-Bid’ah). Semua itu dimanifestasikan dengan tetap berpijak pada keadilan serta berdasarkan Kitab dan Sunnah. [ Ma’alimul Inthilaqoh al-Kubra ‘Inda Ahlis-Sunnah wal-Jama’ah. Abdul Hadi al-Misry. 161 ].

II. Shalat dibelakang mereka
Sedang sholat dibelakang ahli bid’ah; (kecuali bid’ah mukaffiroh yaitu yang menyebabkan murtad), aslinya adalah makruh. Jika kita mendapatkan masjid yang lain maka hendaknya kita tinggalkan sholat dibelakanya, kecuali karena udzur syar’i yang mendesak pula. Tidak shalat di belakang mereka adalah sebagai pelajaran atas mereka dan agar ummat menjauhi mereka karena kebid’ahan.

Sedang orang yang telah murtad karena perkara yang ia yakini, perbuat atau ia katakan secara sadar dan suka rela, maka tidak halal untuk menjadi imam dimasjid kaum muslimin.

Namun jika ia seorang awam kaum muslimin-seperti kebanyakan imam masjid di indonesia-, lalu bertaqlid kepada ulamanya yang membenarkan suatu urusan (seperti demokrasi atau yang semisal), maka orang tersebut tidak boleh dikafirkan, sebab hukum demokrasi kebanyakan rakyat indonesia tidak mengenalinya, hal itu dikarenakan rumitnya masalah tersebut dan ruwetnya kondisi umat islam diindonesia.
sikap yang diambil oleh ahlus-Sunnah wal-Jama’ah ini tidaklah menghalangi mereka dari mendo’akan ahli Bid’ah agar mendapatkan hidayah, rahmat atau ampunan selama belum diketahui kemunafikan dan kekafiran bathin mereka.
wallahu a’lam bis showab. Semoga bermanfaat

Filed under: Manhaj, syubhat

One Response

  1. fatimah mengatakan:

    Ass.wr.wb. Pak, yg dimaksud ahli demokrasi itu siapa? Pengikut itu siapa? Kalo capres, cawapres, caleg, cagub, cawagub, cabup, cawabup caleg, kader dan pengurus partai apakah termasuk ahli? Kalo yg ikut nyoblos dan kpu apakah termasuk ahli or taklid?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: