At Taujih

Mengawal Wacana Iqomatuddiin

BEBAN SEBUAH PERJUANGAN

Konfrontasi antara yang haq dan batil akan senantiasa ada dan terus berlangsung sepanjang zaman. Kedua jalan tersebut tidak akan pernah sepi dari pengusungnya. Kebatilan akan senantiasa menekan dengan berbagai cara agar yang haq sirna. Sementara hari ini kebatilan berada di atas angin. Ia mencengkramkan kuku-kukunya untuk menjadikan pengusung kebenaran menjadi orang-orang yang asing.

Sebuah konsekwensi
Begitulah realita kehidupan. Memberikan tekanan yang sangat kuat terhadap siapa saja yang berusaha melaksanakan perintah Allah. Mereka merasakan adanya perbedaan antara dirinya dengan orang-orang yang ada di sekelilingnya. Bahkan, orang-orang di sekelilingnya itu menolaknya dengan berbagai cara. Akhirnya mereka pun berjalan di atas jalan yang sangat “sepi”. Tak ada penolong tak ada penghibur. Semua yang di sekelilingnya memanggil-manggil untuk “pasrah” (dengan realita), atau berkompromi dengan kebatilan. Atau mengambil sikap “moderat”, atau berdiri sejajar dengan kebatilan di pertengahan jalan, dengan seruan-seruan dan berbagai slogan yang sudah cukup masyhur.

Fitnah ini terasa semakin berbahaya ketika seruan-seruan itu dibungkus dengan pakaian syar‘i serta menampilkannya dengan penampilan ilmiyah yang menganut prinsip moderat dan menolak sikap ekstrim. Akhirnya kecaman mengalir deras ke arah orang yang berusaha ingin melaksanakan perintah Alloh, ada yang mengalamatkan label fundamentalis, ekstrimis, bahkan teroris, belum lagi julukan sebagai khôrijiyyah (penganut faham khowarij). Semua ini berdampak agar ia merasa dirinya betul-betul berada di tengah kecaman dan berbagai tuduhan. Bahkan, tak kurang vonis berfaham Islam yang sesat pun teralamatkan kepada dirinya dan mengepung pendengarannya dari berbagai penjuru, dengan menyatakan bahwa jalan yang ia tempuh adalah keliru, menyimpang dari jalan yang lurus, jauh dari agama, dan menyelisihi seluruh penduduk bumi.

Diriwayatkan dari Fudhoil bin ‘Iyâdh Rahimahulloh bahwa beliau pernah berkata, “Bagaimana jika dirimu hidup hingga di suatu zaman di mana manusia tidak lagi membedakan antara yang haq dan yang batil, antara orang mukmin dan orang kafir, antara orang yang bisa dipercaya dengan pengkhianat, antara orang bodoh dan orang berilmu, tidak mengenali perkara ma’ruf, dan tidak mengingkari perkara yang mungkar ?”

Al-Imam Ibnu Bathoh mengomentari perkataan Fudhoil ini dengan mengatakan, “Innâ li `l-Lâhi wa Innâ ilaihi Rôji‘ûn…kita telah sampai kepada zaman tersebut, kita mendengarnya dan menyaksikan sebagian besarnya. Seandainya orang yang Alloh beri nikmat berupa akal yang sehat dan cara pandang yang jeli, lalu ia amati dan renungi kondisi Islam dan pemeluk-pemeluknya, lalu ia cocokkan dengan ajaran Islam yang masih lurus, tentu ia akan melihat dengan jelas bahwa mayoritas manusia sudah meninggalkan agamanya dan menyimpang dari petunjuk yang benar. Sungguh pada hari ini manusia telah berubah menganggap baik apa yang dulu mereka anggap buruk, menghalalkan apa yang dulu mereka haramkan, dan menganggap ma’ruf apa yang dulu mereka anggap kemungkaran.”

Bagian terakhir dari perkataan Ibnu Bathoh di atas mengisyaratkan akan adanya fitnah berupa tekanan realita kehidupan. Disebutkan di sana bahwa mayoritas manusia larut dalam tekanan realita hidup, yaitu pengaruh-pengaruh seruan kejahiliyahan yang begitu kuat dan mengepung seseorang dari berbagai penjuru. Ketika mental ciut, hati mengendor, ia pun berusaha sekuat tenaga menangkal berbagai tuduhan yang dialamatkan masyarakat kepadanya. Kalau perlu menyatakan berlepas diri dari tuduhan sekaligus para penganutnya, dengan kemudian menampilkan diri sebagai seorang yang menganut manhaj berbeda dengan saudara-sauranya. Yaitu manhaj yang yang di bangun di atas sikap moderat dan realistis, menolak sikap ekstrim dan edialisme semu. Manhaj itu pun berjalan dengan realita yang terus bergulir. Tidak ada usaha untuk menentang arus atau merubahnya. Yang ada adalah perbaikan dengan cara damai dan lembut, yang menjadikan realita dalam hidup sebagai pijakan utama dalam bersikap, lain tidak.

Manhaj “menyerah kepada realita hidup” ini memiliki mata rantai dan ciri khas-ciri khas yang kesemuanya berawal dari adanya tekanan dalam realita kehidupan jahiliyah. Jadi, menjaga kesejajaran diri dengan realita dan melebur dengannya serta tidak adanya keinginan untuk menempuh metode yang melawan arus menjadi landasan utama manhaj ini. Walau pun mereka harus memperkendur hukum-hukum yang sudah tegas (qath‘î) menurut Al-Quran dan Sunnah dalam menghukumi kondisi realita itu. Lebih berani lagi mereka menyatakan bahwa hukum sudah terhapus (mansukh). Sebagai contoh adalah sikap lancang mereka yang mengatakan bahwa hukum-hukum Ahli Dzimmah telah di mansûkh secara total dengan apa yang hari ini populer dengan hukum kependudukan.

Akan tetapi, walau pun mata rantai seperti ini dipermak sedemikian rupa agar memperoleh pembenaran dan beralasan dengan adanya multi tafsir, tetaplah orang-orang seperti ini tidak layak mendapatkan tempat di barisan at toifah al manshurah.

Di antara dampak paling berbahaya dari terjerumus ke dalam fitnah seperti ini adalah perasaan nyaman dan “biasa” dengan kemungkaran. Bahkan pengingkaran itu terkadang hilang dari dalam hati secara total. Ini semua karena mereka menganut manhaj yang berprinsip ingin berjalan sejajar dengan realita, akibatnya adalah perasaan nyaman kepada perbuatan munkar dan ridho kepadanya, bahkan mungkin pada taraf menganggap kemungkaran itu sebagai kebaikan, lalu menyerang orang yang mengingkarinya. Sebab, setiap kali seseorang merasa tertekan dengan kenyataan hidup, ia akan menyiapkan diri untuk kembali tertekan dan menyerah kepada keadaan pada giliran berikutnya. Jika ini terus berlangsung, lama-kelamaan sikap merasa tertekan kemudian menyerah kepada realita kehidupan menjadi akhlaq dan agama seseorang, dan secara terus menerus ia akan lemah untuk teguh di atas kebenaran, hingga akhirnya ia benar-benar menerima sikap menyerah dan mengalah kepada keadaan dalam segala permasalahan dengan mudah.

Sayyid Quthb Rahimahulloh berkata, “Penyimpangan yang sedikit di awal perjalanan akan berujung kepada penyimpangan total di penghujungnya. Dan pelaku dakwah yang menyerah dalam sebagian dakwah walau pun hanya sedikit, ia tidak akan mampu tetap teguh ketika belum apa-apa ia sudah menyerah. Sebab perasaan yang ia siapkan dalam dirinya untuk menyerah akan semakin bertambah setiap kali ia mundur satu langkah ke belakang.”

Fitnah tekanan realita terkadang membesar dan terasa berat dalam diri seseorang hingga tak jarang menjerumuskan dirinya ke dalam kekufuran yang nyata. Alloh Ta‘ala telah mengkabarkan kepada kita bahwa fitnah seperti ini menjadi penyebab utama terjerumusnya kebanyakan manusia ke dalam kekufuran dan kesyirikan walau pun ia telah mengetahui ilmunya, bahkan telah yakin akan kebenaran ajaran yang dibawa oleh para nabi dan rosul. Alloh Ta‘ala mengkisahkan tentang bantahan kaum Nabi Nuh kepada beliau, “Belum pernah kami mendengar (seruan) seperti ini pada masa nenek moyang kami terdahulu.” (QS. Al-Mukminûn: 24)

Mereka yang lulus
Adapun para pengikut Thoifah Manshuroh, mereka berusaha melawan tekanan realita kehidupan dan tidak ikut larut di dalamnya. Sebab, prinsip utama aktifitas mereka adalah menundukkan realita di hadapan perintah Alloh dan menyesuaikannya dengan perintah Alloh tersebut. Mereka bisa merealisasikan prinsip tersebut, pertama hanya berkat anugerah Alloh, dan kedua dengan kesabaran dan rasa yakin yang mereka miliki. Ini mengingat bahwa fitnah tekanan realita hidup adalah fitnah berupa keterasingan, dengan berbagai sisinya, yang mana itulah kehidupan yang dialami oleh para pengikut Thoifah Manshuroh dalam perjuangan mereka untuk melaksanakan perintah Alloh. Dahulu, Al-Hasan rahimahulloh pernah berkata, “Sungguh benar Alloh dan Rosul-Nya; dengan yakinlah surga dicari, dengan yakinlah neraka dihindari, dengan yakinlah kewajiban-kewajiban mampu dilaksanakan, dan dengan yakin pulalah kesabaran dalam memegang kebenaran bisa dipertahankan. Di dalam kesejahteraan yang dianugerahkan Alloh memang terdapat kebaikan yang banyak, demi Alloh kami menyaksikan orang-orang sanggup mendekatkan diri kepada Alloh di kala hidup tenang, akan tetapi ketika turun cobaan mereka tercerai berai.” Semoga kita diistiqomahkan Allah Ta’ala dalam kebenaran.[ amru ]

Filed under: 'Adawah, tazkiyah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: