At Taujih

Mengawal Wacana Iqomatuddiin

SYARAT NASHR

وعد الله الذين آمنوا منكم وعملوا الصالحات ليستخلفنهم في الأرض كما استخلف الذين من قبلهم وليمكنن لهم دينهم الذي ارتضى لهم وليبدلنهم من بعد خوفهم أمنا يعبدونني لا يشركون بي شيئا ومن كفر بعد ذلك فأولئك هم الفاسقون
Dan Alloh telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang shaleh bahwa Dia sungguh- sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan mengganti (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap mengibadahi-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apa pun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasiq.
(An-Nuur 55)

Allah telah berjanji, dan janji Allah pasti benar. Kemenangan dan tamkin (peneguhan) dien di muka bumi dalam bentuk terlaksananya syari’at Islam, dihapusnya rasa takut sehingga para hamba Allah dapat merealisir ibadah hanya kepada Allah sendirian-Nya tanpa mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun.
Namun janji-Nya diikat dengan persyaratan-persyaratan yang mesti dipenuhi, yakni iman dan amal shalih secara sempurna. Para sahabat dulu, tatkala mereka berhasil merealisasikan iman yang sempurna dan amal sholeh yang sempurna, mereka berhasil meraih kekuasaan yang sempurna pula di muka bumi. Ketika iman generasi setelah mereka berkurang, berkurang pula kekuasaan mereka, sebanding dengan berkurangnya iman dan amal sholih mereka.

Dalam persoalan jihad, dituntut kesempurnaan baik dalam persiapan, pelaksanaan, maupun penjagaan terhadap ‘amal dan hasil yang telah dilakukan sehingga janji kemenangan tersebut akan terwujud. Akumulasi ‘amal yang dikerjakan oleh seorang mu’min ibarat anyaman benang helai demi helai sehingga menjadi kain indah yang dengannya aurat tertutup sekaligus keindahan dalam tampilan di hadapan Allah dan di depan manusia.

Dalam jihad, akhlaq seorang mujahid tidak muncul seketika hanya karena niyat ingin berjihad tanpa proses pembiasaan. Kebiasaan baik dalam mengamalkan perintah-perintah Allah dan upaya seseorang mengamalkan akhlaq Islam merupakan tabungan yang membuatnya sabar menempuh jalan mendaki jihad yang penuh masyaqqoh, kesulitan dan segala sesuatu yang tidak disukai hawa nafsu. Para shahabat dididik RasululLah shallalLaahu ‘alayhi wa sallam untuk membiasakan dengan tertib mengamalkan sholat, menunaikan zakat, tatkala para shahabat yang secara skill sudah dibesarkan di alam kehidupan yang terbiasa mempertahankan hidup dan eksistensi dengan senjata, dan mereka sangat ingin untuk segera membela harga diri dan agama yang dihina oleh musuh-musuh Allah dengan senjata. Allah berfirman :

Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang dikatakan kepada mereka, “Tahanlah tanganmu (dari berperang), dirikanlah sholat dan tunaikanlah zakat!” Setelah diwajibkan kepada mereka berperang, tiba-tiba sebagian dari mereka (golongan munafik) takut kepada manusia (musuh), seperti takutnya kepada Allah, bahkan lebih sangat dari itu takutnya. Mereka berkata: “Ya Rabb kami, mengapa Engkau wajibkan berperang kepada kami? Mengapa tidak Engkau tangguhkan (kewajiban berperang) kepada kami sampai kepada beberapa waktu lagi?” Katakanlah, “Kesenangan di dunia ini hanya sebentar dan akhirat itu lebih baik untuk orang-orang yang bertakwa, dan kamu tidak akan dianiaya sedikitpun. (An-Nisaa 77).

Perintah untuk mengeluarkan zakat, menunaikan infaq, memberikan perhatian kepada fuqoro’, masaakin dan orang-orang lemah dengan menggunakan harta yang dikuasakan Allah kepada orang-orang mu’min mendahului janji Allah ghanimah dan fai’ sebagai salah satu akibat logis dari peperangan. Bahkan Nabi mencela mereka yang berjihad dengan niyat untuk mendapatkan ghanimah dan keuntungan-keuntungan duniawi yang lain.
Jiwa yang telah tertempa dengan kesulitan dan penderitaan karena memperjuangkan terwujudnya penghambaan hanya kepada-Nya, tidak ada dalam upaya merealisir hal itu harapan keuntungan bendawi atau pengakuan penilaian dari manusia, ruh yang harapannya meninggi kepada keridloan Rabb-nya tanpa harapan disukai oleh manusia, membelanjakan apa yang dimilikinya tanpa harapan ganti dari manusia, bahkan sekedar terima kasih dari yang menerima. Semua dilakukan untuk meraih apa yang ada di sisi-Nya.

Bahkan ketika para shahabat telah dididik dengan celupan robbaniyah oleh RasululLah yang manshur sekalipun tidak pernah dilepaskan tanpa kendali, tetap diingatkan pada setiap tahapan disertai teladan hidup ditengah mereka. Dalam peperangan pertama yang diterjuni, peperangan yang merupakan pertarungan hidup mati keimanan dan kesyirikan, perang Badar diturunkan ayat yang mulia ini :
يا أيها الذين آمنوا إذا لقيتم فئة فاثبتوا واذكروا الله كثيرا لعلكم تفلحون وأطيعوا الله ورسوله ولا تنازعوا فتفشلوا وتذهب ريحكم واصبروا إن الله مع الصابرين
Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu memerangi pasukan (musuh), maka berteguh hatilah kamu dan sebutlah (nama) Alloh sebanyak-banyaknya agar kamu beruntung. Dan taatlah kepada Alloh dan Rosul-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu, dan bersabarlah, sesungguhnya Alloh beserta orang-orang yang sabar. (Al-Anfaal 45).

Ibnu Qayyim al-Jauziyah rahimahulLah menjelaskan ayat ini, “Di dalam ayat ini Allah memerintahkan kepada mujahidin dengan 5 perkara, jika lima perkara itu terkumpul pada suatu kelompok manapun berhak untuk mendapat pertolongan Allah baik musuh jumlahnya sedikit atau banyak”. Lima perkara itu adalah : ‘Teguh di jalan Allah, banyak berdzikir kepada Allah, ta’at kepada Allah dan rasul-Nya, menyatukan kalimat dan tidak saling berbantah-bantahan, dan yang terakhir yang merupakan kunci, pilar dan penopang keempat hal di atas, yaitu: Sabar”.

Sikap tsabat di jalan Allah, teguh, tidak mudah berpaling, tidak bergeser dari pos yang diamanatkan kepadanya sekalipun menghadapi bahaya dan bertubi-tubi dari musuh merupakan paduan dari kedewasaan dan kematangan mental, kuatnya keimanan kepada taqdir Allah dan harapan akan keridloan dan jannah-Nya. Adapun banyak berdzikir kepada Allah menjadikan hati seorang mujahid selalu terjaga ‘alaqot (hubungan)-Nya dengan Rabb-nya. Bagusnya hubungan seorang hamba dengan Rabb-nya membawa implikasi
muroqobatulLooh, merasa selalu diawasi oleh Allah sehingga dia akan selalu berusaha dalam keadaan baik karena selalu dilihat oleh Tuannya, selalu berusaha menyesuaikan antara hati, perkataan dan perbuatannya. Hamba yang seperti ini tentu saja menjadi pihak yang paling berhak untuk mendapatkan pertolongan-Nya dan dikabulkan permintaannya.

Ketika qalbu dan pikirannya selalu disibukkan dengan dzikrulLoh, sementara jawaarih-nya disibukkan dengan menta’ati Allah dan rasul-Nya, merealisir perintah yang telah dapat dilaksanakan tanpa menunda, mengusahakan syarat agar perintah-perintah yang belum dapat diamalkan menjadi dapat diamalkan. Hamba yang seperti ini semua waktunya diisi dengan ketaatan, seluruh jaga dan tidurnya bermakna, lantaran semua berorientasi untuk taat kepada Allah, istirahat dan tidurnya adalah dalam rangka supaya jasad dan pikirannya menjadi lebih segar untuk menunaikan ketaatan berikutnya.

Yang ke-empat adalah menyatukan kalimat, penjagaan persatuan dan menghindarkan dari berbantahan. Karena berbantahan akan menghantarkan kepada gentar dan kelemahan. Berbantah-bantahan merupakan satu barisan tentara tersendiri yang bisa menguatkan musuh. Dengan bersatu, pasukan seperti seikat anak panah yang tidak seorang pun mampu mematahkannya. Jika anak panah itu dipisah-pisah, musuh akan bisa mematahkannya.

Yang menyedihkan adalah ketika pasukan Islam telah terjangkiti penyakit senang berbantah dan cinta perpecahan. Pasukan seperti ini tidak akan sanggup memenangkan pertempuran melawan jundi kekafiran, penyokong kezhaliman, lantaran menyelisihi syarat kemenangan yang telah digariskan oleh Rabb-nya. Sejarah mencatat, perpecahan, saling menjatuhkan antar sesama barisan mujahidin, kehilangan kepercayaan sesama muslim, mengejar dan mengumpulkan ghanimah, saling bertempur sesamanya untuk memperebutkan kekuasaan, bahkan kadang dengan meminta pertolongan kepada penguasa kafir selalu menjadi permulaan runtuhnya kegemilangan Islam. Barangkali tidak ada torehan sejarah yang mencatat keruntuhan Islam dan ummat Islam yang tidak dimulai dari titik ini. Dan,…memang hal ini merupakan do’a Nabi kita yang tidak dikabulkan oleh Allah. Tentu kita tidak akan ber-hujjah dengan irodah kauniyah Allah ini untuk menerjang irodah syar’iyyah-Nya yang memerintahkan persatuan dan melarang perpecahan.

Kemudian, ke-empat syarat tersebut diikat dengan kunci yang kelima, yakni kesabaran di dalam jihad. Kesabaran ini sesungguhnya merupakan tabungan prestasi shabar yang dirajut dan dipilin dengan pilinan yang kuat sejak dari menuntut ilmu nafi’, mengamalkannya, mendakwahkan, dan tetap tabah meski mendapatkan cobaan dan kesakitan karena semua itu. Selanjutnya, dengan sadar menolak segala sesuatu yang mengotori keyakinan dan irodahnya, sehingga menjadi pribadi robbaniy yang fikirannya bersih tak terkotori kerusakan pemikiran dan irodahnya lurus mencari wajah Allah. Mujahid seperti ini yang insya Allah tidak disibukkan dengan mencari aib saudaranya sesama mujahidin, bergaul dengan baik sesama mujahidin dan memudahkan urusan mereka.

Adapun mereka yang disibukkan mencari aib saudaranya, melontarkan kalimat-kalimat kotor dan tuduhan-tuduhan yang dilandasi rasa sakit hati, dibarengi dengan perasaan merasa lebih tinggi, lebih baik dan lebih diridloi Allah, pada dasarnya tidak sedang membangun syarat untuk ditolong oleh Allah. Jika sebelumnya telah membangun akhlaq yang baik, maka apa yang dilakukan meruntuhkan bangunan kemuliaan akhlaq itu, apalagi jika sebelumnya memang tidak ber-akhlaq, tak ada yang dapat diharapkan kebaikannya. Tidak dimanfaatkan oleh musuh saja sudah merupakan prestasi.

Inilah lima hal yang menjadi dasar terbangunnya kemenangan. Ketika kelima hal ini –atau sebagiannya—hilang, kemenangan pun akan hilang sebanding dengan berkurangnya sebagian darinya. Jika semuanya terkumpul, satu sama lain akan saling menguatkan, sehingga pasukan tersebut akan melahirkan pengaruh yang besar dalam meraih kemenangan. Ketika kelima hal ini terkumpul dalam diri para shahabat, tidak ada satu pun bangsa di dunia yang mampu menandingi mereka. Mereka taklukkan dunia dan seluruh rakyat serta negeri tunduk kepada mereka. Tatkala generasi sepeninggal mereka berpecah belah dan melemah, terjadilah apa yang terjadi, la haula wa la quwwata illa billaahil ‘Aliyyi `l-‘Adzim; tiada daya dan kekuatan melainkan (dengan) pertolongan Alloh yang Maha Tinggi lagi Maha Agung.

Filed under: 'Adawah, analisa, syubhat, tazkiyah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: