At Taujih

Mengawal Wacana Iqomatuddiin

DARI RAHIM IKHWANUL MUSLIMIN KE PANGKUAN AL-QAIDA

Syaikh Doktor Aiman Azh-Zhawahiri

Judul Asli: FURSAAN TAHTA RAAYATIN NABI

Penulis: Syaikh Doktor Aiman Azh-Zhawahiri

Penerjemah: Umar & Mush’ab

Editor: Fauzan

1. Buku pertama. Download
2. Buku ke dua. Download
3. Bulu ke tiga. Download

Iklan

Filed under: download buku, Uncategorized

MURJI’AH

I. PENGERTIAN
Murji’ah secara etimologi memiliki arti :
1. التأخير : Mengakhirkan. Tartibul Qamus Al Muhid : 2 / 313
2. الخوف : Takut. Al Misbahul Al Munir : 84
3. Angan-angan
4. Memberi
5. Mengharap.

Firman Allah Ta’ala dalam surat An Nisa’, ayat 104:
وَتَرْجُوْنَ مِنَ الله ِمَالَا يَرْجُوْنَ
“Sedang kamu mengharap dari Allah apa yang tidak mereka harapkan.”
Dan firman-Nya dalam Surat Nuh, ayat 13:
مَا لَكُمْ لَا تَرْجُوْنَ لله َوَقَارًا
“Mengapa kamu tidak percaya akan kebesaran Allah.”
Al Azhari menyebutkan perihal kata-kata Raja’ yang mempunyai arti ‘takut’ yaitu apabila lafadz Raja’ bersama dengan huruf nafi.

ٍSedangkan kata-kata Irja’ yang mempunyai arti takhir (mengakhirkan) sebagaimana dalam firman-Nya surat Al a’raaf:111 yang dibaca arjikhu yaitu akhirhu. Firaq Muashirah , Ghalib Ali Awwaji, Juz II hal : 745
Secara terminologi para ulama berbeda pendapat tentang ketepatan dalam mengartikan kalimat Murji’ah, secara ringkas kalimat Murji’ah adalah:

1. Al Irja’ : Mengakhirkan amal dari Iman.
Al Bagdadi berkata : “Mereka dikatakan Murji’ah dikarenakan mereka mengakhirkan amal dari pada iman.” Syarh Usul ‘Itiqad :1/ 25

Alfayaumy berkata: “Mereka adalah orang-orang yang tidak memberi hukuman kepada seseorang di dunia akan tetapi mereka mengakhirkan hukuman tersebut hingga datangnya hari kiamat.” Al Misbahul Al Munir : 84

2. Irja’ diambil dari bahasa yang berarti “takhir dan imhal“ (mengakhirkan dan meremehkan). Irja’ semacam ini adalah irja’ (mengakhirkan) amal dalam derajat iman serta menempatkannya pada posisi kedua berdasarkan iman dan dia bukan menjadi bagian dari iman itu sendiri, karena iman secara majaz, di dalamnya tercakup amal. Padahal amal itu sebenarnya merupakan pembenar dari iman itu sendiri sebagaimana yang telah diucapkan kepada orang–orang yang mengatakan bahwa perbuatan maksiat itu tidak bisa membahahayakan keimanan sebagaimana ketaatan tidak bermanfaat bagi orang kafir.
Pengertian seperti ini tercakup juga di dalamnya orang-orang yang mengakhirkan amal dari niat dan tashdiq (pembenaran).

3. Pendapat yang lain mengatakan bahwa yang dimaksud dengan Irja’ adalah mengakhirkan hukuman kepada pelaku dosa besar sampai datangnya hari kiamat yang mana dia tidak akan diberi balasan atau hukuman apapun ketika masih berada di dunia.

4. Sebagian mereka ada yang mengartikan Irja’ dengan perkara yang terjadi pada Ali, yaitu dengan memposisikan Ali pada peringkat ke-empat dalam tingkatan sahabat. Atau mengakhirkan (menyerahkan) urusan Ali dan Utsman kepada Allah subhanahu wata’alla serta tidak menyatakan bahwa mereka berdua beriman atau kafir.

Sebagian kaum Murji’ah yang lain ada yang tidak memasukkan sebagian sahabat Nabi Muhammad SAW yang berlepas diri dari fitnah yang terjadi antara sahabat Ali dan Muawiyah sebagai sahabat Rasulullah SAW.[1]
Baca entri selengkapnya »

Filed under: dirosatul firoq

NAMA-NAMA LAIN AHLU SUNAH WAL-JAMA’AH

Telah kita terangkan pada edisi yang lalu makna Ahlu Sunah wal Jama’ah. Kali ini, untuk lebih mengenal Ahlu Sunah kita ketengahkan beberapa nama lain Ahlu Sunah.

AHLU HADITS
1. Hadits secara bahasa berarti baru, lawan kata dari lama. Makna lainnya adalah khabar/berita. Dalam ayat disebutkan,’ Adapun dengan nikmat Rabbmu maka sebutlah/ceritakanlah.”[QS al Dhuha;11]. Artinya beritakanlah. Dalam pengertian selanjutnya sering dipakai untuk berita tertentu dalam dien [agama], seperti perkataan shahabat Ibnu Mas’ud,” Sesungguhnya sebaik-baik hadits [ucapan,berita] adalah kitab Allah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad …”

2. Hadits secara syar’i berarti apa yang dinisbahkan/disandarkan kepada Rasululah baik berupa perkataa, perbuatan, taqrir {penetapan} maupun sifat fisik dan akhlak beliau. Berdasar definisi ini imam Kirmani dan athibi tidak menyebut perkataan dan perbuatan shahabat {dalam disiplin ilmu hadits disebut sebagai hadits mauquf}.maupun perkataan dan perbuatan tabi’in {dalam disiplin llmu hadits disebut sebagai hadits maqthu’} sebagai hadits. Namun demikian, mayoritas ulama menyamakan antara hadits dengan sunah {arti sunah bisa dibaca pada edisi lalu}. Dengan demikian hadits mauquf dan hadits maqthu’ juga termasuk / bisa disebut hadits. [Ath Thohan 15, Al Athr 26-27, Al Khothib 20-21]. Ilmu hadits ada dua ; 1) Ilmu Hadits Riwyah yaitu ilmu yang mmepelajari perkataan, perbuatan, penetapan dan sifat Rasulullah. 2)Ilmu Hadits Dirayah atau juga dikenal dengan nama Ilmu Mustholahil Hadits yaitu ilmu yang membahas sanad {mata rantai perowi hadits} dan matan {kandungan sebuah hadits}.

3. Makna Ahlul Hadits. .Jika disebut Ahlul Hadits maka maknanya adalah para ulama dan pelajar yang mempelajari hadits-hadits nabi baik secara dirayah maupun riwayat dengan mengerahkan kemampuan dan kesungguhan, mengikuti kandungan hadits baik secara ilmu maupun secara pengamalan dengan menjauhi bid’ah dan hawa nafsu. [al Mishri 54]. Dengan demikian, Ahlu Haidts semakna dengan Ahlu Sunah, artinya mereka ini kelompok umat Islam yang paling berpegang teguh dengan sunah Rasulullah dan jama’ah. Karenanya imam Ahmad mengatakan,” Kalau mereka {jama’ah} itu bukan ahlu hadits, saya tidak tahu lagi siapa mereka itu.” Imam Abu Ismail Ash Shobuni dalam kitab beliau “ Aqidatu Salaf Ashabul Hadits “ menyatakan,” ..Mereka itu mengikuti Nabi Shallallahu ‘alaihi wa salam dan para shahabat beliau yang mereka itu laksana bitang…Mereka mengikuti salafush sholihin dari kalangan imam-imam dalam dien ini dan ulama kaum muslimin dan berpegang teguh dengan apa yang para ulama berpegang teguh dengannya yautu dien yang kuat dan kebenaran yang nyata dan membenci ahlu bid’ah yang mebuat bid’ah dalam dien, tidak mencintai mereka dan tidak pula brshahabat dengan mereka.” [Al Mishri 54].

4. Dari sini bisa diketahui Ahlu Sunah dan Ahlu Hadits itu semakna. Jika keduanya berdiri sendiri / bila salah satu disebutkan [Ahlu Sunah saja, atau ahlu hadits saja] tanpa yang lain, maknanya adalah satu sama lain saling memuat. Jika disebut ahlu sunah, maka ahlu hadits masuk didalamnya begitu juga sebaliknya. Dengan artian ini seluruh kelompok ahlu sunah masuk di dalamnya, baik kalangan ahli hadits, ahli fiqih, ahli ibadah, ahli perang [mujahidin} dan sluruh kelompok lainnya. Arti ini menjadi kata lain dari ahlul haqq {pengikut kebenaran}. Bila kedanya disebutkan secara bersamaan, maka makna ahlu hadits adalah khusus untuk para pakar hadits saja sedang ahlu sunah umum untuk kelompok ahli ibadah, ahli fiqih, ahli perang dan seterusnya. [alMishri 55, menukil dari Majmu’ Fatawa 4/91-95].
Baca entri selengkapnya »

Filed under: dirosatul firoq, Uncategorized

AHLUS SUNAH WAL JAMA’AH

1. DEFINISI SUNAH

SECARA BAHASA

Kata as Sunah yang mempunyai bentuk jamak / plural sunan secara bahasa berarti sejarah [perjalanan hidup] dan jalan [metode] yang dtempuh.

Ibnu Mandhur berkata,” Sunah makna awalnya adalah sunah thoriq yaitu jalan yang ditempuh oleh para pedahulu yang akhirnya ditempuh orang lain sesudahnya.”

Pengarang Mukhtarush Shihah [hal.339] berkata,” As Sunah secara bahasa berarti sejarah dan jalan yang ditempuh baik itu jalan yang terpuji maupun yang tercela.”

Ath Tanawy dalam Kasyfu Isthilahat wa al Funun [hal.703] berkata,” As Sunah secara bahasa adalah jalan, baik jalan itu terpuji[baik] maupun buruk.” [A’dzami 1/1]

Ibnu Faris berkata dalam Mu’jam Maqayisi Lughah 3/60,” Sunah artinya perjalanan hidup. Sunah Rasulullah artinya perjalanan hidup beliau. Sunah juga berarti jalan/metode baik terpuji maupun tercela. Kata ini diambil dari kata sunan yang bermakna jalan seperti disebutkan dalam hadits

“ Barang siapa mengawali jalan yang baik maka baginya pahalanya dan pahala orang yang mengikutinya tanpa berkurang sedikitpun pahala mereka. Barangsiapa mengawali jalan yang buruk dalam Islam maka baginya dosanya dan dosa orang yang mengikutinya tanapa berkurang sedikitpun dosa mereka.”[ Muslim no. 1017, juga no. 6800,6801]. ( Al Mahmud I/22, Al Qafari I/23).

Ibnu Atsir dalam Nihayah 2/223 berkata,“ Dalam hadits berulang kali disebutkan kata as sunah dan pecahan katanya. Asal maknanya adalah sejarah hidup dan jalan yang ditempuh.’ ( Al Mahmud I/23). Makna ini juga disebut dalam hadits,”

“ Kalian akan mengikuti jalan orang-orang sebelum kalian sejengkal demi sejengkal sehasta demi sehasta, sampai kalau mereka masuk lubang biawakpun kalian akan ikut.” Para shahabat bertanya,” Apakah orang Yahudi dan Nasrani wahai Rasulullah ?” Beliau menjawab,”Siapa lagi kalau bukan mereka.” [ Bukhari 3456, Fathul Bari VI/495,Muslim 2669/6781]

Begitu juga bila dikatakan,” Sholat witir itu sunah maka maknanya adalah jalan/ hal yang diperintahkan dan dilaksanakan para shahabat dan Rasulullah. [Al Mahmud I/23].

Dalam penggunaannya bila disebut kata sunah maka maknanya adalah jalan kebaikan saja. Ia ahlu sunah maka maknanya ia orang yang menempuh jalan yang lurus dan terpuji. [ al Mahmud 1/23, al Qafari 1/23, al Athr 26-27, dari Lisanul Arab].
Baca entri selengkapnya »

Filed under: dirosatul firoq, Uncategorized,

KEMULIAAN HANYA MILIK ORANG-ORANG YANG BERIMAN

Di antara hal lain yang menjadikan para pengikut Thoifah Manshuroh mampu menangkal fitnah tekanan realita dan fitnah keterasingan adalah perasaan diri lebih mulia karena iman. Karena dada dan jiwa mereka selalu dipenuhi rasa mulia yang hanya Allah jadikan bagi para pengikut agamanya saja, tidak kepada lain. Allah Ta‘ala berfirman:

“Maka janganlah kamu bersedih karena kata-kata mereka. Sesungguhnya kemuliaan itu adalah milik Alloh semuanya. Dia lah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. )
Jadi kemuliaan itu seluruhnya adalah milik Allah. Orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya serta agama-Nya sama sekali tidak memiliki bagian sedikit pun darinya, walau mereka memiliki kekuatan sepenuh langit dan bumi.

Alloh Ta’ala telah menyebutkan ciri-ciri para pengiktu Thoifah Manshuroh dalam firman-Nya:
“Hai orang-orang yang beriman, Barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, Maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintaiNya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad dijalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya), lagi Maha mengetahui.” (QS. Al-Maidah: 54)

Mereka merasa tinggi di hadapan musuh-musuh agama ini, walau pun musuh memiliki kemenangan, walau pun musuh memiliki kekuasaan materi. Sebab, kemuliaan itu hanya ada pada Islam, bukan pada selainnya. Sebaliknya, ketika Allah mensifati orang-orang beriman dengan kemuliaan, Allah juga berfirman tentang orang-orang yang menentang-Nya dan menentang rosul-Nya,
“Sesungguhnya orang-orang yang menentang Alloh dan rosul-Nya mereka itu ada dalam kehinaan.” (QS. Al-Mujâdilah: 20 )
Baca entri selengkapnya »

Filed under: Manhaj, tazkiyah, Uncategorized

Mencari Sosok Ulama Panutan

By : Anshar Al-Muslimin Publisher

Kaedah-Kaedah Umum Mengenali Sosok Ulama Panutan

[1]- Standar kebenaran adalah Al-Qur’an, Al-Sunah dan ijma’ ulama. Al-Qur’an dan Al-Sunah dipahami dan diamalkan sesuai pemahaman dan pengamalan para al-salaf al-shalih (generasi shahabat, tabi’in, tabi’u tabi’in) dan para ulama tsiqah yang mengikuti jejak mereka. Barang siapa berpegangan kepada ketiga sumber ajaran Islam ini, ia adalah seorang ahlu sunah wal jama’ah.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ قَالَ (تَرَكْتُ فِيْكُمْ شَيْئَيْنِ لَنْ تَضِلُّوا بَعْدَهُمَا كِتَابَ اللهِ وَسُنَّتِي وَلَنْ يَتَفَرَّقَا حَتىَّ يَرِدَا عَلَيَّ الْحَوْضَ).
Dari Abu Hurairah bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda,” Telah kutinggalkan di antara kalian dua hal. Kalian tidak akan pernah tersesat sesudah keduanya, yaitu kitabullah dan sunahku. Keduanya tak akan pernah berpisah sampai datang kepadaku di haudh nanti.”[1]

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata :

فَمَنْ قَالَ بِالْكِتَابِ وَ السُّنَّةِ وَ ْالإِجْمَاعِ فَهُوَ مِنْ أَهْلِ السُّنَّةِ وَ اْلجَمَاعَةِ
” Barang siapa berpendapat berdasar Al-Qur’an, Al-Sunah dan ijma’, ia adalah seorang ahlu sunah wal jama’ah.”[2]

Beliau juga mengatakan :

فَدِيْنُ اْلمُسْلِمِيْنَ مَبْنِيٌّ عَلَى اِتِّبَاعِ كِتَابِ اللهِ وَ سُنَّةِ نَبِيِّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَمَا اتَّفَقَتْ عَلَيْهِ اْلأُمَّةُ. فَهَذِهِ الثَّلاَثَةُ أُصُوْلٌ مَعْصُوْمَةٌ . وَمَا تَنَازَعَتْ فِيْهِ اْلأُمَّةُ رُدَّ بِهِ إِلَى اللهِ وَالرَّسُولِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.
” Dien (agama) umat Islam dibangun di atas dasar mengikuti (iitiba’) Kitabullah, Sunah Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa salam dan apa yang disepakati oleh ummat (ijma’ ulama mujtahidin). Ketiga hal ini adalah dasar-dasar yang ma’shum (terjaga dan bebas dari kesalahan). Adapun persoalan yang diperselisihkan oleh umat, harus dikembalikan kepada Allah dan Rasul Shallallahu ‘alaihi wa salam.”[3]

[2]- Tiada yang terjaga dan terbebas dari kesalahan dan dosa besar (ma’shum) selain para Nabi ‘alaihim sholatu wa salam. Setiap ulama -–termasuk para ulama sahabat radiyallahu ‘anhum— seberapapun tinggi kapasitas keilmuannya, bisa salah dan bisa benar. Pendapat, fatwa dan tindakan mereka bisa benar dan salah. Oleh karenanya, harus dikaji dan ditimbang berdasar Al-Qur’an, Al-Sunah dan ijma’. Apabila sesuai dengan ketiganya, berarti pendapatnya benar dan harus diterima, siapapun ulama Islam tersebut. Apabila menyelisihi ketiganya, berarti pendapatnya salah dan harus ditolak, siapapun ulama tersebut.
Sebagai konskuensinya, seorang muslim tidak boleh taklid buta kepada seorang ulama dengan menerima semua pendapat, fatwa dan tindakannya tanpa menghiraukan kebenaran dan kesalahannya, kesesuaian dan penyelisihannya terhadap Al-Qur’an, Al-Sunnah dan ijma’ ulama. Para ulama sejak generasi sahabat, tabi’in, tabi’u tabi’in sampai para ulama madzhab (Abu Hanifah, Malik, Syafi’i, Ahmad, Al-Auza’i, Laits bin Sa’ad, Thabari, Daud Al-Dzahiri dan lain-lain) telah melarang umat Islam untuk taklid buta. Mereka memerintahkan umat Islam untuk menimbang pendapat mereka dengan Al-Qur’an, Al-Sunah dan ijma’. Bila bertentangan dengan ketiga dasar tersebut, pendapat mereka harus ditinggalkan.

عَنْ عَائِشَةَ رَضِي اللَّه عَنْهَا قَالَتْ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ فِيهِ فَهُوَ رَدٌّ.
‘Aisyah radiyallahu ‘anha berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda : ” Siapa yang mengada-adakan hal yang baru dalam urusan kita (dien) ini, tanpa ada dasarnya dari dien, maka ia tertolak.”[4]

عَنْ الْعِرْبَاضِ بْنِ سَارِيَةَ يَقُولُ وَعَظَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَوْعِظَةً ذَرَفَتْ مِنْهَا الْعُيُونُ وَوَجِلَتْ مِنْهَا الْقُلُوبُ فَقُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ هَذِهِ لَمَوْعِظَةُ مُوَدِّعٍ فَمَاذَا تَعْهَدُ إِلَيْنَا قَالَ قَدْ تَرَكْتُكُمْ عَلَى الْبَيْضَاءِ لَيْلُهَا كَنَهَارِهَا لَا يَزِيغُ عَنْهَا بَعْدِي إِلَّا هَالِكٌ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ فَسَيَرَى اخْتِلَافًا كَثِيرًا فَعَلَيْكُمْ بِمَا عَرَفْتُمْ مِنْ سُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ الْمَهْدِيِّينَ عَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ*
‘Irbadh bin Sariyah radiyallahu ‘anhu berkata : Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salam memberi wejangan yang membuat air mata kami menetes dan hati kami bergetar. Kami berkata,” Ya Rasulullah ! Nampaknya, nasehat anda ini adalah wejangan orang yang akan berpisah. Apa yang anda pesankan kepada kami ?“
Beliau bersabda,” Aku telah meninggalkan kalian diatas jalan yang terang. Malamnya sama dengan siangnya. Tak ada seorangpun yang menyeleweng dari jalanku kecuali ia akan binasa (tersesat). Barang siapa di antara kalian dikarunia usia lebih panjang, ia akan melihat banyak perselisihan. Maka hendaklah kalian senantiasa komitmen dengan sunahku dan sunah al-khulafa’ al-rasyidin al-mahdiyin. Gigitlah dengan gigi geraham kalian !”.[5]

Shahabat Ibnu Abbas radiyallahu ‘anhuma berkata,” Hampir-hampir turun hujan batu dari langit atas kalian. Saya katakan “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda demikian”, tetapi kalian justru mengatakan “Abu Bakar berkata demikian.”

Demikianlah, perkataan sahabat Abu Bakar radiyallahu ‘anhu sekalipun tidak boleh digunakan untuk melawan Al-Qur’an dan Al-Sunah. Ketika khalifah Al-Manshur Al-‘Abbasi menawarkan ide mewajibkan buku hadits Al-Muwatha’ kepada seluruh rakyat, imam Malik bin Anas rahimahullah selaku pengarang buku tersebut justru menolaknya. Alasannya, seratus ribu lebih para sahabat radiyallahu ‘anhum telah berpencar ke seluruh penjuru negeri Islam, dengan membawa dan menyiarkan ilmu yang diterima dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salam. Setiap daerah mempunyai ulama dari kalangan sahabat. Otomatis, tingkat keilmuan setiap daerah berbeda dan bertingkat-tingkat. Dan tentu saja, ilmu Imam Malik belum mewakili ilmu keseluruhan sahabat yang telah terpencar tersebut.

[3]- Berdasar kedua poin di atas, kebenaran diukur lewat kesesuaian sebuah perkara dengan Al-Qur’an, Al-Sunah dan ijma’, bukan berdasar siapa yang mengatakan atau melakukan perkara tersebut. Senioritas, tingkat keilmuan atau banyak sedikitnya pengikut tidak menjadi ukuran dan jaminan sebuah pendapat atau tindakan sesuai dengan kebenaran. Seorang muslim hanya terpaku kepada Al-Qur’an, Al-Sunah dan ijma’ ulama. Ia tidak terpaku kepada figuritas, senioritas atau kemasyhuran ulama. Pun, tidak terpaku kepada banyaknya pengikut sebuah pendapat. Ia bisa menyeimbangkan antara menghormati para ulama, dengan memilah-milah pendapat dan tindakan mereka dengan timbangan Al-Qur’an, Al-Sunah dan ijma’.
Abdullah bin Mas’ud radiyallahu ‘anhu berkata :

” Barang siapa mengambil suri tauladan, hendaklah ia mengambilnya dari orang-orang yang telah mati, karena orang yang masih hidup tidak ada jaminan selamat dari fitnah (kesesatan, ketergelinciran, kesalahan). Mereka adalah para sahabat Muhammad radiyallahu ‘anhum ; generasi paling utama umat ini, paling baik hatinya, paling mendalam ilmunya, dan paling sedikit takaluf (membuat-buat, memaksakan diri, bersikap wajar dan apa adanya). Mereka telah dipilih Allah untuk menemani Nabi-Nya dan menegakkan dien-Nya. Kenalilah keutamaan mereka ! Ikutilah jejak-jejak mereka ! Berpegang teguhlah dengan akhlak dan sejarah kehidupan mereka sesuai kemampuan kalian ! Karena mereka berada di atas petunjuk yang lurus.”[6]
Baca entri selengkapnya »

Filed under: makalah, Nasehat tuk penuntut ilmu, Uncategorized

ADAB & TATA CARA MENCARI ILMU

A. MUQODDIMAH

Ibnu Taimiyah : ilmu yang baik adalah ilmu yang mengarah kepada pemahaman Al-Qur’an dan As-Sunnah, karena keduanya merupakan warisan Nabi. Siapa mau mengambil keduanya, maka akan beruntung.
Ibnu Abbas : benih-benih pengetahuan adalah mempelajari ilmu.
Ibnul Mubarok : pertama kali ilmu adalah niyat, kemudian mendengarkan, kemudian memahami, kemudian menghafal, kemudian mengamalkan, kemudian menyampaikan kepada orang lain.
Umar Maula Ghufroh : Orang yang pandai itu masih bisa dikatakan pandai selama ia tidak mendahulukan akal/hawa nafsu / ro’yu-nya kemudian ia mau mendatangi orang yang lebih pintar lagi darinya untuk menimba ilmunya.

Abu Kholid Al-Ahmar : akan datang suatu masa, mushaf Al-Qur’an dan tafsirnya tidak dibaca dan dikaji lagi, manusia saat itu hanya mengikuti pembicaraan dan pendapat seseorang. Hindarilah sikap seperti itu, jika tidak, hal itu hanya akan menampar wajah, memperpanjang komentar yang tidak jelas ujung pangkalnya dan membuat rusaknya hati.

Rusaknya pemikiran, mental & tindakan manusia hari ini merebak di berbagai kolong bumi. Keluarga yang nampaknya muslim telah teracuni pemikiran sekuler dan kafir, sehingga mereka jauh dari pemahaman Islam yang benar. Secara lahiriyah, gelar-gelar akademis sebagai Guru, Alim-ulama, Doktor, Sarjana, Profesor dan status sosial di tengah masyarakat sebagai ketua RT, RW, Lurah, Camat, Bupati, Gubernur, Menteri, Presiden bahkan sampai Direktur perusahaan tertentu telah mereka raih, akan tetapi hal itu tidak menjadikan mereka merasa takut kepada Allah dan semakin benar sikap ibadah kepada-Nya, bahkan bersikap sebaliknya.
Hal ini barangkali disebabkan ketika mencari ilmu, ada beberapa hal yang tidak benar, yaitu belum mengerti adab-adab mencari ilmu dan bagaimana cara meraih/mendapatkan ilmu yang bermanfaat.

Agar diri dan keluarga muslim tidak terjebak oleh pengaruh orang-orang kafir dan sekuler, kita ikuti kajian berikut ini.
Baca entri selengkapnya »

Filed under: makalah, Nasehat tuk penuntut ilmu, Uncategorized

Rambu-rambu menghadapi fitnah

Munculnya berbagai fitnah hari ini menjadikan kita harus selektif dan hati-hati dalam memahami islam. betapa tidak, munculnya berbagai pemikiran sesat dijajakan pada ummat dengan mengatas namakan ahlussunnah. dari itu, lewat tulisan kecil ini kita akan mengkaji rambu-rambu agar kita tdak terjerumus kedalam kesesatan.

Pertama: Jauhilah hawa nafsu
Ibnu Daqiq Al I’ed berkata tentang hal-hal yang membinasakan yang memasukkan penyakit “pertama: hawa nafsu, sedang ia adalah yang paling buruk, dan ia dalam tarikh kaum mutaakhirin adalah banyak.” Selesai.
Maka wajib atas pencari kebenaran untuk memurnikan (niat) untuk mencari al haq dan untuk tidak mengikuti hawa nafsu.

Allah ta’ala berfirman: “Dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, sehingga itu menyesatkanmu dari jalan Allah. Sesungguhnya orang-orang yang sesat dari jalan Allah bagi mereka adzab yang besar dengan sebab mereka lupa dari perhitungan.” (Shad: 26).

Hawa nafsu adalah satu thaghut dari sekian thaghut yang diikuti meyoritas manusia. Dan engkau tidak akan berpegang penuh erat dengan al ‘urwah al wustha dan bergabung dengan para pejalan sampai kamu berserah diri kepada Allah dan hukum-Nya saja dengan penyerahan yang muthlaq serta kafir terhadap tiap thaghut dan di antaranya thaghut hawa nafsu ini, Allah ta’ala berfiirman: “Terangkanlah kepadaku tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya. Maka apakah kamu dapat menjadi pemelihara baginya, atau apakah kamu mengira bahwa kebanyakan mereka itu mendengar atau memahami. Mereka itu tidak lain hanyalah seperti binatang ternak, bahkan mereka itu lebih sesat jalannya.” (Al Furqan: 43-44)

Dan firman-Nya ta’ala: Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran? (Al Jatsiyah: 23).
Maka hati-hatilah dari thaghut ini dan jauhilah ia sebagaimana engkau menjauhi thaghut-thaghut yang lain untuk merealisasikan tauhid yang merupakan haq Allah atas semua hamba dengan perealisasian yang sempurna.

Dan perhatikanlah sifat-sifat hamba-hamba-Nya yang binasa lagi berjatuhan di pintunya dalam ayat-ayat tersebut, dan sanksi yang Allah berikan kepada mereka dengan sebabnya, berupa penguncian terhadap hati dan pendengarannya serta penutupan terhadap pandangan, sehingga mereka telah menjadi lebih sesat dari binatang ternak mereka tidak mau melihat dalil-dalil dan bayyinat, terus mereka tidak mengambil ‘ibrah dengannya dan tidak menjadikannya sebagai penunjuk jalan atau mengambil pelajaran, sehingga thaghut ini telah mempermainkan mereka sekehendaknya, …. hawa nafsu itu menyertai mereka sebagaimana anjing menyertai tuannya….pujilah tuhanmu atas nikmat petunjuk kepada al haq dan at tauhid dan menangislah serta mohonlah kepada-Nya agar meneguhkanmu di atasnya dan menutup hayatmu dengannya.

Dan jadikanlah bagi hatimu dua kelopak mata yang keduanya
Menangis karena takut kepada Ar Rahman
Andai Tuhanmu berkehendak tentulah kamu juga seperti mereka
Karena hati itu ada di antara jemari Ar Rahman

Dan ingatlah firman Allah ta’ala: “Jika kamu bersabar dan bertaqwa, niscaya tipu daya mereka sedikitpun tidak mendatangkan kemudlaratan kepadamu. Sesungguhnya Allah mengetahui segala apa yang mereka kerjakan.” (Ali Imran: 120) dan firman-Nya ta’ala: “Sesungguhnya syaitan itu tidak ada kekuasaannya atas orang-orang yang beriman dan bertawakkal kepada Tuhannya. Sesungguhnya kekuasaannya hanyalah atas orang-orang yang mengambilnya jadi pemimpin dan atas orang-orang yang mempersekutukan dengan Allah.” (An Nahl: 99-100)
Baca entri selengkapnya »

Filed under: Nasehat tuk penuntut ilmu, tazkiyah

Fatwa Syaikh Hamud Bin Uqola tentang Kekafiran Penguasa dan Pembuat Undang-Undang Positif

Fadhilah Syaikh Hamud bin Abdullah Uqala Asy-Syua’ibi Hafizhahullah
Assalamu’alaikum warahmatullaahi wabarakaatuhu.

Pada masa sekarang ini, di dunia Islam, baik itu di Arab maupun selainnya telah banyak orang yang bersandar kepada hukum positif, sebagai pengganti dari hukum (syari’at) Allah, bagaimanakah hukum bagi para penguasa seperti itu? Kami memohon jawaban jawaban yang memuaskan dengan dalil-dalil syar’iyah dari Al-Qur’an dan As-sunnah dan pendapat-pendapat para ulama.
Jawab:
Baca entri selengkapnya »

Filed under: 'Adawah, Aqidah, Fatwa

HUKUM-HUKUM YANG TIMBUL AKIBAT MEMBERLAKUKAN HUKUM CIPTAAN MANUSIA

Menjalankan hukum ciptaan manusia pada sebuah negara menimbulkan dampak yang sangat berbahaya terhadap:
1- Penguasanya
2- Para pembela dan tentara penguasa tersebut
3- Negara itu sendiri
4- Kaum muslimin secara umum
5- Ahlul Kitab yang berada di dalam negara tersebut
6- Melaksanakan hukum ciptaan tersebut
Berikut ini penjelasan singkat tentang dampak-dampak yang berkaitan dengan hal-hal di atas download
smg bermanfaat

Filed under: 'Adawah, Aqidah, download buku, syubhat

PENGUMUMAN

Mohon maaf kepada para pengunjung blog ini jika beberapa komentar tidak kami tampilkan. Di karenakan komentar yang tidak mendidik tidak ilmiyah dengan berdasar dalil dan cenderung emosional. Semua itu kami lakukan untuk meminimalisir perdebatan yang tidak ilmiyah dan di dasari atas emosi saja

Tanggalan

Jam dinding



Blog Stats

  • 325,176 hits

Pengunjung

online