At Taujih

Mengawal Wacana Iqomatuddiin

PERBEDAAN ANTARA HUKUM WADH’I DAN HUKUM ISLAM

Segala puji bagi Alloh yang telah menurunkan Al-Qur’an sebagai aturan dan jalan hidup bagi hamba-hambaNya. Sholawat dan salam semoga terlimpahkan kepada

junjungan kita Nabi Muhammad saw yang telah menyampaikan risalah Robb-Ilahi kepada seluruh umat manusia.

Dr. Sayid Muhammad Nuh dengan kata-kata yang indah menerangkan tentang kondisi umat manusia hari ini. Menurut beliau manusia pada zaman ini berada di tepi jurang yang sangat dalam, hampir-hampir kakinya terpeleset atau tanah yang dia injak itu longsor sehingga ia terperosok kedalamnya. Yang mengherankan, manusia kebibungan kesana kamari untuk mencari jalan yang selamat, padahal jalan keselamatan itu terbentang dihadapannya, dan bisa ia dapatkan dengan mudah untuk diraih. Jalan keuar itu adalah hukum atau syari’at Alloh yang berupoa Kitabbulloh dan sunnah Rosullulloh, itulah jalan keluar yang haqiqi.

Alloh berfirman dalam surat Al-Maidah ayat 50 yang berbunyi :

Artinya : ” Dan siapakah yang lebih baik hukumnya (undang-undangnya) daripada Alloh bagi orang-orang yang yakin “.

Hari ini sebagian besar manusia masih menolak Alloh, mereka lebih mempercayakan hidup merekan pada hukum buatan mereka sendiri yang labil dan rentan akan kegoncangan dan perubahan kondisi, waktu dan zaman, terbukti undang-undang buatan manusia itu tidak mampu menghantarkan manusia menuju apa yang mereka cita-citakan selama ini. Syariat Islam memiliki banyak kelebihan dan keistimewaan dibandingkan dengan seluruh undang-undang yang dibuat manusia di dunia. Dalam taaulisan singkat ini akan kita paparkan kelebihan-kelebihan itu, semoga bermanfaat.

II. PERBEDAAN-PERBEDAAN POKOK ANTARA SYARI’AH ISLAMIYAH DAN UNDANG-UNDANG BUATAN MANUSIA

Sebenarnya syariat islam itu tidak bisa dibandingkan dengan undang-undang buatan manusia. Dikarenakan terdapat perbedaan-perbedaan yang bersifat prinsipil antara keduanya, tidak hanya Ulama-Ulama islam saja yang mengatakan hal ini bahkan para pakar perundang-undangan baratpun juga mengakui hal ini. Diantara para pakar Eropa yang menyatakan hal ini adalah Fitz Gerald seorang dosen undang-undang Islam pada fkultas studi budaya timur dan Afrika. Dan juga seorang orientalis Italy yang bernama Nallino.

Para ulama’ menyebutkan beberapa perbedaan asasi antara syareat Islam dan undang-undang buatan manusia (hukum positif) diantaranya adalah:

1.Bahwasanya perundang-undangan (hukum positif) berasal dari manusia/buatan manusia sedangkan syareat Islam itu berasal dari Allah/buatan Allah.

Hukum positif seringkali mengalami perubahan karena si pembuat hukum tersebut lemah,sering lupa dan ilmunya terbatas,dia tidak mengetahui kejadian pada masa yang akan datang. Sehinnga hukum yang mereka buat itu hanya prediksi-prediksi yang tidak pasti,dan selamanya tidak akan sempurna karena si pembuatnya tidak sempurna. Adapun syareat Islam karena yang membuat Allah Yang Maha Berkuasa,Maha Sempurna dan Maha Mengetahui apa yang akan terjadi dan apa yang sudah terjadi, maka ia bersifat sempurna, kekal dan tidak akan berubah dengan perubahan tempat dan zaman. Allah berfirman :

Artinya : “Tidak ada perubahan atas ketetapan-ketetapan Allah.” (Q.S: Yunus:64).

2. Manusia sebagai pembuat hukum positif seringkali tunduk kepada hawa nafsu dan perasaan manusianya.

Sering kali hawa nafsu dan perasaannya itu menyelewengkannya dari kebenaran dan akhinya hukum yang dibuatnyapun melenceng dari kebenaran. Sehingga dampaknya kedilan tidak bisa tegak, kedholiman merajalela, dan staandard kebenaran tidak jelas. Apa yang dimaui hawanafsunya maka itulah kebenaran menurut mereka, dan apa yang tidak sesuai dengan hawanafsunya itulah yang mereka anggap salah. Jika yang membuat undang-undang berganti orang maka hukumnyapun ikut berubah akhirnya yang terjadi adalah kontradiksi dan kekacauan.

Sedangkan syari’at ialam adalah wahyu ilahi yang bersumber dari yang maha bijaksana dan maha mengetahui, baik keadaan hamba-hambanya maupun apa-apa yang berkenaan dengan hak-hak seorang hamba di dunia dan di akherar. Firman allah dalam surat Al-Mulk : 14 :

Artinya : “apakah allah yang menciptakan itu tidak mengetahui ( yang kamu lahirkan dan kamu sembunyikan ) dan Dia maha halus lagi maha mengetahui”

Dan Allah ta’ala sebagai pembuat syari’at terjauh dari sifat-sifat mahkluk berupa kekurangan-kekurangan, firman allah Thaha : 52 ;

Artinya : “Robb kami tidak akan salah dan tidak juga lupa”.

Syari’at islam dibangun diatas pondasi-pondasi umum yang diatasnya berdiri kehidupan manusia, dan tidak ada satu jalanpun bagi manusia untuk mengambil pandapat yang menyelisihi dalil-dalil syar’i.

Contoh : didalam islam seseorang tidak memiliki kelebihan diatas orang lain kecuali karena ketaqwaannya. Warna kulit, bahasa, bangsa tidak mempunyai nilai lebih jiaka tidak disertai dengan ketaqwaan. Bandingkan dengan Amerika yang masih mempermasalahkan ras, etnik, dan wanna kulit di abad 21 ini. Ini artinya islam telah meniadakan diskriminasi sejak 14 abad yang lalu, sedangkan Amerika sampai mmilenium ketiga ini masih mempertahankannya. Ini berarti Amerika telah tertinggal jauh dari islam dalam hal pengakuan HAM.

3. Sejak awal pertumbuhannya, hukum wadh’I (positif) hanya berlaku dalam suatu kelompok yang kecil dan sempit. Ia dibuat sebatas untuk mengatur kelompok itu dan hanya bisa berkembang seiring dengan adanya perkembangan cara berfikir, ilmu, adab dan kebutuhan kelompok itu. Pertumbuhannya bagaikan anak kecil. Hukum wadh’I berkembang dengan baik/cepat jika masyarakat/kelompoknya semakin berkembang. Jika perkembangan kelompok ini pelan, maka hukum wadh’I ikut pelan dan statis.

Berbeda dengan perkembangan syari’at islam, sejak awal ia sudah turun secara sempurna, tidak ada cacat dan kekurangan didalamnya. Syari’at islam tidak mengalami masa perkembangan dari sedikit menjadi banyak, dari aturan aturan kelompok-kelompok lalu disatukan sebagaimana halnya hukum wadh’i. Syari’at islam sudah lengkap dan maju, tanpa harus menunggau majunya ilmu dan kebutuhan kelompok. Syari’at islam bukan hanya terbatas bagi satu kelompok atau satu negara saja sebagaimana hukum wadh’I, namun ia adalah syari’ah untuk setiap negara dan setiap kelompok dan golongan karena ia bersifat Universal.

4. Hukum wadh’I terbatas oleh ruang dan waktu. Di satu negara atau kelompok boleh jadi ia tepat namun untuk negara lain ia tidak tepat. Untuk tahun ini mungkin masih relevan, namun untuk beberapa bulan atau tahun mendatang bisa jadi ia sudah usang dan harus dibuang. Setiap kebutuhan atau perkembangan kelompok terjadi , haukumnya harus ikut diubah.

Berbeda dengan syari’ah islam, ia cocok dengan segala ruang dan waktu. syari’ah islam telah teruji selama 14 abad, tetap konsist dan stabil tidak mengalami pergantian. Ia telah teruji mengatur dunia islam yang luas yang meliputi negara-negara di tiga benua : Asia, Afrika dan Eropa. Sebagai syari’ah terakhir bagi seluruh ummat manusia, syari’ah islam tidak mengalami penghapusan atau penggantian karena yang berhak mengganti adalah allah. sedang allah telah menetepkannya sebagai syari’at terakhir. Untuk mengatur kehidupan seluruh manusia di segala tempat dan waktu, syari’ah islam harus mampu memenuhi kebutuhan manusia. Dan itusemua telah terjawab dan terpenuhi, dengan fakta-fakta, antara lain :

A. syari’ah islam dibangun diatas dasar mendatangkan kemaslahatan dan menolak madhorot. Syari’ah islam hadir untuk mendatangkan maslahat bagi manusia dan menolak bahaya bagi mereka, baik di dunia maupun di akherat.

hal ini ditunjukkan oleh dalil-dalil yang banyak, antara lain :

1. Allah ta’ala menyebutkan sebab diutusnya Rosululloh :

Artinya : ” tidaklah Aku mengutusmu kecuali sebagai rohmat bagi semesta alam”

Rohmat Alloh mencakup pemeliharaan maslahat hamba dan penolakan bahaya yang mengancam meraka.

2. Alloh menyebutkan sebab-sebab disyareatkannya hukum adalah untuk mendatangkan maslahat dan menolak bahaya. Misalnya :

a). Qishash ( QS 2 : 179 ): untuk menjaga nyawa.

b). Dilarang judi dan miras ( QS 5 : 91 ) : untuk menjaga akal dan menghindarkan permusuhan.

c). I’dad (mempersiapkan diri untuk menghadapi musuh) (QS 8 : 60 ) : untuk mencegah sikap aniaya pihak lawan

d). Nikah bagi pemuda yang sudah mampu, untuk menjaga mata dan kemaluan.

3. Adanya rukhshoh pada beberapa keaddan darurat.

4.Syari’at menjaga maslahat manusia, baik tingkatan dhorurot (primer),hajiyat ( skunder) maupun tahsiniyat (lux). misalnya: (maqosid syareah belum tertulis di sini)

Untuk menegakkan dien disyari’atkan ibadah dan untuk menjaganya disyari’atkan jihad.

a) · Untuk menegakkan kemaslahatan jiwa disyari’atkan nikah, dan untuk menjaganya disyari’atkan qishosh.

b) Untuk menjaga akal diharamkan miras dan semisalnya.

c) Untuk menjaga keturunan disyari’atkan nikah , dan disyaria’kan juga hukuman bagi orang yang berzina,qodzaf (yang menuduh zina) dll.

d) Disyari’atkan berpakaian yang baik dan bersih untuk maslahat tahsiniyat.

B. Pokok-pokok syari’at dan tabiat hukum-hukumnya:

Syari’at islam memuat dua hukum pokok:

l Hukum-hukum yang terperinci,meliputi:

a) Hukum-hukum Aqidah

b) Hukum-hukum ibadah semisal sholat,puasa, haji,zakat dll.

c) Hukum-hukum akhlak yang mengatur kelurusan prilaku masyarakat.

d) hukum-hukum yang mengatur hubungan antaar individu, seperti hukum-hukum pernikahan, waris, hukum-hukum kriminal dan pidana.

Hukum-hukum yang terperinci ini tidak berubah dengan berubahnya ruang dan waktu. Dengan demikian, kemaslahatan bisa tetap terjaga dan semua orang bisa memahami dengan baik dikarenakan redaksi nash-nashnya lengkap dan mudah.

– Hukum-hukum yang hadir dalam bentuk kaedah-kaedah pokok yang tidak akan menyempitkan/mengabaikan kemaslahatan manusia dan tidak akan pernah ketinggalan jaman. Hai itu dikarenakan dari kaedah-kaedah ini memungkinkazn untuk dibuat aturan yang sesuai dengan kondisi ruang dan waktu. Diantara kaedah-kaedah itu adalah :

a) Prinsip Syuro (QS 42: 38, 3:159)

b) Prinsip persamaan hukum (QS

c) Prinsip keadilan (QS 4: 58,5: 8)

d) kaedah-kaedah “tidak boleh membahayakan diri sendiri dan orang lain”

C. Sumber hukum.

Sumber hukum islam sudah menunjukkan kemampuannya untuk menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman. Al-Qur’an dan As-Sunnah telah kita terangkan kemampuannya di atas. Selain itu , sumber hukum lain seperti Qiyas,ijtihad,istihsan, istislah, saddu dzaro’I’ dan lain lain akan mampu menjawab persoalan-persoalan baru dalam kehidupan.

5. Hukum wadh’I hanya mengatur hubungan sosial antar individu dalam satu kelompok atau masyarakat.

Adapun syari’ah islam adalah syari’ah yang syamil (lengkap). Secara garis besar hukum-hukum dalam syari’ah islam dibagi menjadi tiga:

a) Hukum-hukum Aqidah.

b) Hukum-hukum Akhlak.

c) Hukum-hukum amaliyah/fiqih, yang meliputi:

1. Hukum yang mengatur hubungan individu dengan Robbnya, yaitu ibadah seperti sholat,puasa, zakat.

2. Hukum-hukum mu’amalat dan adat, yang meliputi :

a) Hukum tentang masalah kekeluargaan seperti nikah, thalaq, nasab,warisan dll

b) hukum tentang transaksi individu, seperti jual beli,persewaan, pegadaian,jaminan dll

c) hukum perdata, seperti sumpah, tuduhan, kesaksian, pembelaan dll

d) hukum pidana, seperti qishosh, jilid,dll

e) hukum ketatanegaraan, seperti hubungan rakyat dengan pemerintah, hubungan warganegara muslim dengan dzimmi dll

f) hukum hubungan internasional, seperti hubungan antara negara islam dengan negara-negara lain dalam kondisi perang dan damai

g) hukum ekonomi negara, seperti pendapatan dan belanja negara dll

Hukum-hukum ini sama sekali tidak ada yang menandingi. Hukum wadh’I sama sekali tidak mengatur aqidah, ibadah dan akhlaq.

6. Hukum wadh’I(positif) meremehkan akhlaq dan moral. Zina, misalnya, sah sah saja suka sama suka. Minum-minuman keras juga sah-sah saja asal tidak berbuat onar saat mabuk. Jadi suatu ma’siyat baru dihukum saat mengganggu orang lain atau merusak kestabilan masyarakat. Selama tidak menyebabkan itu semua, ma’siat diperbolehkan dan bahkan dilindungi, seperti lokalisasi pelacuran, izin bagi diskotik, pub, klub malam dan lain-lain. Maka tak heran jika moral rakyat randah dan mengalami degradasi.

Berbeda dengan syari’at islam yang memerintahkan manusia untuk selalu untuk selalu berakhlaq dengan akhlaq terpuji dan menjauhi akhlak yang tercela. Dalam syari’ah islam, akhlak adalah suatu kewajiban dan bukan hanya sekedar pelengkap atau penghias saja.

7. Hukum-hukum dalam syari’at ialam mempunyai kewibawaan dan tempat-tempat tersendiri di dalam hati kaum muslimin, baik ia rakyat jelata atau penguasa. Sebabnya syari’at islam berasal dari Alloh , sehingga hukum-hukumnya termasuk dari dien yang harus dihormati dan ditaati dengan penuh kerelaan. Iman yang ada dalam hati mendorong untuk mentaati hukum-hukum ini tanpa paksaan. Ketaatan atas dasar kerelaan atau kesadaran penuh inilah yang menjamin terciptanya stabilitas yang mantap dalam masyarakat. Hal ini tentunya sangat jauh berbeda dengan hukum wadh’I yang memang tidak mampu menyentuh dan menguasai jiwa manusia. Hukum wadh’I terbatas pada perkara-perkara yang dipaksakan. Manusia tidak terikat secara batin, hanya takut pada hukumannya sajayang menggiring untuk mentaati hukum tersebut. Ketaatannya bersifat kucing-kucingan, kapan mampu dan ada kesempatan ia akan melanggarnya.

Contoh :

a.Miras bagi masyarakat jahiliyah Arab saat itu adalah minuman pokok mereka dan resmi. Setelah menerangkan madhorot miras, Alloh menyatakan keharamannya :

Artinya : “jauhilah ia supaya kalian beruntung”

Saat itu juga mereka menmumpahkan arak-arak mereka dan memecah botol-botolnya. Sejak saat itu mereka meninggalkan miras secara total.

b. Amerika ingin membebaskan bahaya miras dari masyarakat. Tahun 1930 dibuat UU pelarangan miras, untuk itu dibuatlah kampanye besar-besaran lewat TV, bioskop, buku-buku, buletin, dan koran-koran. Untuk kampanye ini pemerinntah Amerika menghabiskan kurang lebih 30 juta dolar, dicetak 9 juta lembar tulisan mengenai bahaya miras, dikeluarkan kira-kira 4 juta junaih untuk merealisasikan UU ini. Sampai tahun 1933, 200 orang telah dihukum mati, setengah juta orang telah dipenjara dan denda 1,5 juta junaih telah dipungut dari para peminum miras. Tapi karena rakyat terus menerus meminim minuman keras dan melawan UU, akhirnya pada tahun 1933 UU itu dibatalkan alias dicabut. Demikianlah karena UU buatan manusia tidak mampu menguasai hati dan jiwa manusia.

8. Hukuman bagi suatu pelanggaran / tindakan kriminal dalam hukum wadh’I terbatas pada hukuman dunia saja. Praktis secara akal si pelanggar bisa selamat dari hukuman dengan cara suap, kolusi dan sebagainya. Si pelanggar tidak akan pernah jera dan si korban semakin tertindas.

Berbeda dengan syari’at islam, hukumannya meliputi hukuman dunia dan akherat. Asli dari hukuman itu sendiri adalah hukuman akherat. Hanya saja kondisi masyarakat, hubungan sosial antar individu dan pemeliharaan hak serta kewajiban menuntuk adanya hukuman duniawi.

Adanya faktor hukuman duniawi menjadikan pelaku kejahatan jera, dan menjadi pelajaran bagi yang lain. Sedang hukuman ukhrowi lebih keras dan lebih mengikat, membuat seorang muslim senantiasa mengawasi dirinya sendiri. Ia akan selalu mentaati hukum Alloh, baik secara terang-terangan maupun saat ia sendirian. Jiwa-jiwa yang terbentuk adalah jiwa-jiwa yang menyadari “pengawasan malaikat”

Bahkan jika ia melanggar dan lepas dari hukuman dunuawi, ia akan meminta ditegakkan hukuman atas dirinya, baik karena malu kepada alloh dan menghormati hukum-Nya, ataupun karena sadar diakherat nanti masih banyak siksaan pedih yang menantiya. (QS 3: 30, ….: 7-8)

banyak fakta yang membenarkan hal ini, antara lain wanita alghomidiyah dan ma’iz yang minta dirajam karena berzina.

9. Hukum wadh’I hanya mengatur urusan yang lahir dan masuk akal saja. Hal ini dikarenakan karena sumbernya akal semata sedang tujuannya mencapai kepuasan hidup duniawi.

Syari’at islam mengatur dunia dan akherat, hal-hal yang lahir seperti ibadah, mu’amalah dan akhlaq dan juga hal-hal yang tidak nampak seperti urusan yang ghoib dan ibadah-ibadah hati. Demikianlah betapa sempurnanya syareat islam.

III. PENUTUP

Dari uraian singkat diatas semakin jelaslah kebenaran syari’at islam dan kebatilan hukum wadh’i. Hanya orang-orang yang benci dan tidak jujur saja yang menolak kebenaran syari’ah islam. Wallohu a’lam.

MAROJI’

1. Manna’ Qotthon, Tarikhu at-Tasyri’ al-Islamy, Beirut, Mu’asasah at-Risalah, Cet.25: 1417 H/1997 M.
2. Abdul Karim Zaidan, Al Madkhol liddirosasti asy-Syari’ati al-Islamiyah, Beirut, Mu’asasah ar-Risalah, Cet.11 : 1410 H/1989 M.
3. Umar Sulaiman Al-Asyqor, Asy-Syari’ah ai-Ilahiyah laa al-Qowaanin al-Jahiliyah, Kuwait, maktabah Al-falah, Cet 3 :1412 H/1991 M.
4. Majlis ‘ulama’ KSA, Majalatu al-Buhutsu al-Islamiyah, Edisi XXIX, Dzulqo’dah 1410 H-Shofar 1411 H.
5. Syid Muhammad Nuh, Haajatu al-Basyariyah al-Yaum ila al-Hukmi bima Anzalalloh, kairo, Daaru al-Yaqin, Cet 1 : 1417 H/1996 M.
6. Abdul Qodir Audah, At-Tasyri’ al Jina’I al Islamy, Beirut, Muasasah ar Risalah, Cet 11 :1412 H/1992 M.

Filed under: Uncategorized

One Response

  1. rizky mengatakan:

    thanks

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: