At Taujih

Mengawal Wacana Iqomatuddiin

WASIAT SYAIKH ASY SYAHIID ‘ABDULLOH ‘AZZAM

Suatu sore, senin 12 Sya’ban 1406 H. bertepatan dengan 20 April 1986 M. sepulang dari rumah kediaman Syaikh Jalaaluddiin Haqqooniy, kutulis kata-kata ini:

Segala puji bagi Alloh, hanya kepada-Nya kami memuji, memohon pertolongan, memohon ampunan, serta memohon perlindungan dari kejahatan diri kami dan dari keburukan amal perbuatan kami. Barangsiapa yang diberi peunjuk oleh Alloh, maka tiada seorang pun yang dapat menyesatkannya. Dan barangsiapa yang disesatkan-Nya, maka tiada seoarang pun juga yang dapat memberi petunjuk kepadanya.
Aku bersaksi bahwa tiada Ilaah selain Alloh, tiada sekutu bagi-Nya. Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya.

Ya Alloh ! Tiada kemudahan selain yang telah Engkau jadikan mudah, dan jika Engkau berkehendak, niscaya kesedihan akan Engkau jadikan kemudahan.
Sungguh kecintaan kepada jihad benar-benar telah menguasai hidupku, jiwaku, perasaanku, serta hati dan inderaku. Ayat-ayat muhkamat dalam surat at taubah yang menerangkan syariat terakhir mengenai jihad dalam Islam, benar-benar telah memeras kesedihan hatiku untuk mencabik-cabik duka jiwaku, sedangkan aku sadar akan kekuranganku dan kekurangan kaum muslimin dalam melaksanakan kewajiban perang di jalah Alloh ini.

Sesungguhnya ayatus saif (ayat tentang kewajiban mengangkat pedang) telah memansukh (menghapus hukum) lebih dari 120 (atau 140) ayat sebelumnya yang berbicara tentang jihad. Ini benar-benar merupakan bantahan yang telak dan jawaban yang tuntas bagi orang yang mau bermain-main dengan ayat-ayat Alloh yang berkenaan dengan perang di jalan Alloh. Juga buat orang yang begitu berani mentakwilkan ayat-ayat muhkamat atau berani membelokkan arti dhohir yang telah qoth’iy baik maksud maupun keabsahannya. Dan ayatus saif (ayat tentang kewajiban mengangkat pedang) itu adalah:

وَقَاتِلُوا الْمُشْرِكِيْنَ كَآفَّةً كَمَا يُقَاتِلُوْنَكُمْ كَآفَّةً وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ مَعَ الْمُتَّقِيْنَ
“ ….. dan perangilah musyrikin itu semuanya sebagaimana mereka memerangi semuanya; dan ketahuilah bahwasannya Alloh beserta orang-orang yang bertaqwa “. (QS. At Taubah [9]: 36).
Atau:

فَإِذَا انْسَلَخَ اْلأَشْهُرُ الْحُرُمُ فَاقْتُلُوا الْمُشْرِكِيْنَ حَيْثُ وَجَدْتُمُوْهُمْ وَخُذُوْهُمْ وَاحْصُرُوْهُمْ وَاقْعُدُوْا لَهُمْ كُلَّ مَرْصَدٍ فَإِنْ تَابُوْا وَأَقَامُوا الصَّلاَةَ وَءَاتَوُا الزَّكَاةَ فَخَلُّوْا سَبِيْلَهُمْ إِنَّ اللهَ غَفُوْرٌ رَحِيْمٌ
“ Apabila sudah habis bulan-bulan Haram itu, maka bunuhlah orang-orang musyirikin di mana saja kamu jumpai mereka, dan tangkaplah mereka. Kepunglah mereka dan intailah di tempat pengintaian. Jika mereka bertaubat dan mendirikan sholat dan menunaikan zakat, maka berilah kebebasan kepada mereka untuk berjalan. Sesungguhnya Alloh Maha Pengampun lagi Maha Penyayang “. (QS. At Taubah [9]: 5).

Sungguh mencari-cari alasan untuk tidak berangkat berjihad dengan alasan yang bermacam-macam itu akan mengotori jiwa. Karena merelakan diri untuk tidak berperang fii sabilillah merupakan sendau gurau dan main-main bahkan mempermainkan diin (agama) Alloh. Padahal kita diperintahkan agar berpaling dari orang-orang seperti mereka, berdasarkan nash Al Qur’an:

وَذَرِ الَّذِينَ اتَّخَذُوا دِينَهُمْ لَعِبًا وَلَهْوًا وَغَرَّتْهُمُ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا
“ Dan tinggalkanlah orang-orang yang menjadikabn agama mereka sebagai main main dan sendau gurau, dan mereka telah ditipu oleh kehidupan dunia “. ( QS. Al An’am : 70).
Sesungguhnya mencari-cari alasan dengan angan-angan tanpa melakukan i’daad (mempersiapkan kekuatan) adalah kondisi jiwa yang kerdil yang tidak mempunyai semangat untuk mencapai puncak gunung.

إِذَا كَانَتِ النُّفُوسُ كِبَارًا
تَعِبَتْ مِنْ مُرَادِهَا اْلأَجْسَامِ
Jika memang jiwa itu besar
Tentu badan itu akan bersusah payahlah untuk memenuhi cita-citanya …
Duduk-duduk berdampingan dengan masjidil harom dan memakmurkannya dengan berbagai amal ibadah tidak mungkin dapat dibandingkan dengan jihad di jalan Alloh. Dalam Shohiih Muslim disebutkan bahwa ayat:
أَجَعَلْتُمْ سِقَايَةَ الْحَآجِّ وَعِمَارَةَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ كَمَنْ ءَامَنَ بِاللهِ وَالْيَوْمِ اْلأَخِرِ وَجَاهَدَ فِي سَبِيلِ اللهِ لاَيَسْتَوُونَ عِندَ اللهِ وَاللهُ لاَيَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ {} الَّذِينَ ءَامَنُوا وَهَاجَرُوا وَجَاهَدُوا فِي سَبِيلِ اللهِ بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنفُسِهِمْ أَعْظَمُ دَرَجَةً عِندَ اللهِ وَأُوْلاَئِكَ هُمُ الْفَآئِزُونَ {} يُبَشِّرُهُمْ رَبُّهُم بِرَحْمَةٍ مِّنْهُ وَرِضْوَانٍ وَجَنَّاتٍ لَّهُمْ فِيهَا نَعِيمُُ مُّقِيمٌ {} خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا إِنَّ اللهَ عِندَهُ أَجْرٌ عَظِيمُُ {}
“ Apakah (orang-orang) yang memberi minuman kepada orang-orang yang mengerjakan haji dan mengurus Masjidil haram, kamu samakan dengan orang-orang yang beriman kepada Alloh dan hari kemudian serta berjihad di jalan Alloh. Mereka tidak sama di sisi Alloh; dan Alloh tidak memberikan petunjuk kepada kaum yang zhalim. Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Alloh dengan harta benda dan diri mereka, adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Alloh; dan itulah orang-orang yang mendapatkan kemenangan. Rabb mereka mengembirakan mereka dengan memberikan rahmat daripada-Nya, keridhoan dan jannah, mereka memperoleh di dalamnya kesenangan yang kekal. Mereka kekal di dalanya selama-lamanya. Sesungguhnya di sisi Alloh-lah pahala yang besar “. (QS. At Taubah [9]: 19-22)

… ayat ini turun ketika para shahabat berselisih pendapat tentang amal apakah yang paling utama sesudah iman. Di antara mereka ada yang mengatakan: “ Meramaikan Masjidil Harom (adalah amalan yang paling utama)“. Yang lain lagi berkata: “ Bukan, tapi (amalan yang paling utama setelah iaman itu adalah) memberi minum orang-orang yang beribadah haji “. Yang lain lagi berkata, “ Bukan, tapi (amalan yang paling utama setelah iman itu adalah) jihad di jalan Alloh “.

Dengan demikian maka ayat-ayat tersebut adalah merupakan nash yang menetapkan bahwa jihad di jalan Alloh itu lebih besar (derajat dan pahalanya) darin pada meramaikan Masjidil Harom, sebab peristiwa yang menjadi penyebab turunnya ayat ayat-ayat tersebut adalah adanya perselisihan pendapat di antara para shahabat seputar masalah ini. Padahal peristiwa yang menjadi sebab turunnya ayat itu tidak boleh dikhususkan atau dita’wilkan, sebab peristiwa yang menjadi penyebab turunnya suatu ayat itu masuk ke dalam apa yang dimaksud oleh ayat tersebut secara qoth’iy.

Dan semoga Alloh merahmati ‘Abdulloh Ibnul Mubaarok. Suatu ketika beliau berkirim surat kepada Al Fudloil bin ‘Iyaadl, yang berbunyi :
يَاعَابِدَ الْحَرَمَيْنِ لَوْ أَبْصَرْتَنَا
لَعَلِمْتَ أَنَّكَ بِالْعِبَادَةِ تَلْعَبُ
مَنْ كَانَ يَخْضِبُ خَدَّهُ بِدُمُوعِهِ
فَنُحُورُنَا بِدِمَائِنَا تَتَخَضَّبُ
Wahai orang yang beribadah di dua masjid harom, seandainya engkau melihat kami …
Tentu engkau akan mengerti bahwa engkau dalam beribadah itu hanya bermain-main …
Kalau orang pipinya berlinangan air mata …
Maka sesungguhnya leher kami berlumuran dengan darah …
Tahukah anda pendapat seorang yang ahli fiqih, ahli hadits dan sekaligus mujahid ini (yaitu ‘Abdulloh bin Mubaarok) tentang orang yang duduk-duduk bersanding dengan Masjidil Harom, beribadah di dalamnya, sedang pada saat yang sama kesucian Islam dilecehkan, darah kaum muslimin ditumpahkan, kehormatan mereka diinjak-injak dan dihinakan serta Diin (agama) Alloh dicabut sampai akar-akarnya! Saya katakan bahwa beliau berpendapat, “…. itu adalah bermain-main dengan Diin (Agama) Alloh ….. “.
Benar, membiarkan kaum mulimin disembelih di muka bumi, sedangkan kita hanya membaca Innaa Lillaahi Wa Innaa Ilaihi Rooji’uun dan Laa Haula Wa Laa Quwwata Illaa Billaahil ‘Aliyyil ‘Adziim sambil membuka telapak tangan kita dari kejauhan tanpa terdetik di hati kita untuk tampil membela mereka, sungguh ini adalah bermain-main dengan Diin (agama), gelitikan dusta perasaan yang dingin yang senantiasa menipu dirinya sendiri.

كَيْفَ الْقَرَارُ وَكَيْفَ يَهْدَأُ مُسْلِمٌ
وَالْمُسْلِمَاتُ مَعَ الْعَدُوِّ الْمُعْتَدِي
Bagaimana tetap tinggal diam, dan bagaimana seorang muslim bisa tenang …
sedang kaum muslimat bersama musuh yang kejam …

Saya berpendapat sebagaimanayang telah saya tuliskan dalam buku Ad Difaa’ ‘An Aroodhil Muslimiin Ahammu Furuudhul A’yaan (Terj. Mempertahankan Bumi Kaum Muslimin Adalah Fardhu ‘Ain yang Paling Utama). Dan sebelum saya berpendapat seperti ini Ibnu Taimiyah telah berpendapat seperti ini. Beliau mengatakan: “Jika musuh menyerang dan merusak seluruh urusan Diin (agama) dan dunia, maka tidak ada saat itu yang lebih wajib setelah iman selain melawan mereka.”

Saya berpendapat – walloohu a’lam – pada hari ini tidak ada bedanya antara orang yang meninggalkan jihad dengan orang yang meninggalkan sholat, puasa dan zakat ?
Saya berpendapat semua penduduk bumi sekarang ini memikul tanggung jawab besar di hadapan Alloh kemudia di hadapan sejarah.

Sungguh saya berpendapat tidak ada alasan yang bisa diterima untuk meninggalkan jihad, baik alasan berda’wah, menulis buku, tarbiyah (pendidikan) dan lain sebagainya.
Sungguh saya berpendapat pada hari ini setiap muslim di dunia ini memikul tanggung jawab disebabkan mereka meninggalkan jihad (perang di jalan Alloh). Dan semua orang Islam memikul dosa karena tidak memanggul senjata. Dan semua orang yang menghadap Alloh, selain ulidl dloror (orang-orang cacat, sakit) tanpa membawa senjata ditangannya, maka sesungguhnya ia menghadap Alloh dalam keadaan berdosa karena dia meninggalkan perang. Karena hukum perang sekarang ini adalah fardhu ‘ain bagi setiap muslim di muka bumi — selain orang-orang yang mempunyai udzur —, sedangkan orang yang meninggalkan kewajiban itu berdosa karena kewajiban itu definisinya adalah suatu amalan yang mana orang yang melakukannya mendapat pahala dan orang yang meninggalkannya akan dihisab atau berdosa.

Sesungguhnya saya berpendapat – walloohu a’lam – sesungguhnya orang yang dimaafkan Alloh dalam meninggalkan jihad adalah orang buta, orang pincang, orang sakit dan orang-orang lemah dari kalangan laki-laki, perempuan dan anak-anak yang tidak berdaya dan tidak tahu jalan. Maksudnya adalah tidak bisa berpindah ke medan perang dan tidak tahu jalan menuju ke sana.

Maka sekarang ini semua orang berdosa lantaran mereka tidak berperang, baik berperang di Palestina atau Afghanistan atau di belahan bumi manapun yang diinjak dan dinodai oleh orang-orang kafir dengan najisnya.
Dan saya berpendapat pada hari ini tidak ada seorangpun yang berhak untuk dimintai ijin untuk berperang atau berangkan berjihad di jalan Alloh. Seorang anak tidak wajib untuk ijin orang tua, seorang istri tidak wajib ijin kepada suaminya, orang yang berhutang tidak wajib iijin kepada orang yang menghutanginya, seorang murid tidak wajib ijin kepada syaikhnya, dan seorang yang dipimpin tidak wajib ijin kepada pemimpinnya.
Ini adalah ijma’ seluruh ulama di sepanjang sejarah. Bahwa dalam keadaan seperti ini seorang anak pergi berperang tanpa ijin orang tuanya dan seorang perempuan pergi berperang tanpa ijin suaminya, barangsiapa berusaha menyalahkan permasalahan ini benar-benar ia telah melampaui batas dan berbuat dholim, serta mengikuti hawa nafsu tanpa berdasarkan petunjuk dari Alloh.

Masalah ini sudah cukup gamblang dan tegas yang di dalamnya tiada lagi kekaburan atau kerancuan. Karena itu tidak ada peluang bagi siapa pun untuk membelokkan, menyelewengkan, atau bermain-main dengannya dan menta’wilkannya.
Sesungguhnya seorang amiirul mu’minin itu tidak dimintai ijin untuk berjihad dalam tiga keadaan :
1. Bila ia menihilkan jihad
2. Bila ijin itu akan mengakibatkan tujuan jihad itu terabaikan.
3. Bila sebelumnya telah diketahui bahwa ia melarang.

Saya berpendapat bahwa kaum muslimin pada hari ini bertanggung jawab atas setiap kehormatan yang dinodai di Afghanistan dan sertiap darah yang tertumpah di sana. Sesungguhnya – wallohu a’lam – mereka semuanya mempunyai andil dalam menumpahkan darah di Afghanistan lantaran mereka kurang mempunyai kepedulian. Karena mampu untuk mengirim senjata untuk melindungi mereka, atau dokter untuk mengobati mereka, atau harta untuk membeli makanan, atau buldoser untuk menggalikan parit.

Dalam Haasyiyah Ad Dasuuqiy / As Syarhul Kabiir II/111–112 dikatakan:
“Sesungguhnya orang yang memiliki kelebihan makanan dan melihat seseorang kelaparan (tapi) ia tinggalakan sampai mati, kalau orang yag memiliki makanan itu sebelumnya mengira bahwa orang yang kelaparan itu tidak mati, maka ia harus mambayar diyatnya (denda) dari harta kerabatnya. Namun jika ia sengaja membiarkannya mati maka ada dua riwayat dalam madzhab kita, pertama dia harus membayar diyat dari hartanya sendiri, dan riwayat kedua dia harus diqishos, karena (hakikatnya) dia telah membunuhnya “.

Maka, hisab dan siksa macam apakah yang sedang dinanti oleh orang-orang yang memiliki kekayaan dan harta benda, yang mereka hambur-hamburkan untuk memenuhi keinginan dan mereka belanjakan secara sia-sia untuk menuruti hawa nafsu dan kemewahan itu?
WAHAI KAUM MUSLIMIN

Hidup kalian adalah jihad, kemuliaan kalian adalah jihad, serta wujud dan eksistensi kalian terikat erat dengan jihad.

WAHAI PARA JURU DAKWAH !

Tiada nilainya kalian kecuali jika kalian memanggul senjata kalian, untuk membabat para thoghut, orang-orang dan orang-orang dholim. Sesungguhnya orang-orang yang mengira bahwa Islam ini bisa menang tanpa jihad dan perang, tanpa pertumpahan darah dan serpihan-serpihan daging mereka, sebenarnya mereka itu dalam kekaburan dan tidak memahami tabiat dari Diin (agama) Islam ini.

Sesungguhnya wibawa para juru dakwah, kekuatan dakwah dan kejayaan kaum muslimin itu tidak bakal terwujud tanpa perang. Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda :
وَلَيَنْزِعَنَّ اللهُ مِنْ قُلُوبِ أَعْدَاءِكُمُ الْمَهَابَةَ مِنْكُمْ وَلَيَقْذِفَنَّ اللهُ فِي قُلُوبِكُمُ الْوَهْنَ قَالُوا وَمَا الْوَهْنُ يَا رَسُولَ اللهِ ؟ قَالَ : حُبُّ الدُّنْيَا وَكَرَاهِيَةُ الْمَوْتِ. وَفِي رِوَايَةٍ كَرَاهِيَةُ الْقِتَالِ
“ Dan benar-benar Alloh akan mencabut rasa takut dari musuh-musuh kalian, dan melemparkan penyakit wahn ke dalam hati kalian ! para shahabat bertanya : Apakah penyakit wahn itu ya Rosul Alloh ! beliau menjawab : “ Cinta dunia dan benci dengan kematian “. Dalam riwayat lain, “ …benci dengan peperangan “.
Alloh Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

فَقَاتِلْ فِيْ سَبِيْلِ اللهِ لاَ تُكَلَّفُ إِلاَّ نَفْسَكَ وَحَرِّضِ الْمُؤْمِنِيْنَ عَسَى اللهُ أَنْ يَكُفَّ بَأْسَ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا وَاللهُ أَشَدُّ بَأْسًا وَاَشَدُّ تَنْكِيْلاً
“ Maka berperanglah kamu pada jalan Alloh, tidaklah kamu dibebani melainkan dengan kewajiban kamu sendiri. Kobarkanlah semangat para mukmin (untuk berperang). Mudah-mudahan Alloh menolak serangan orang-orang yang kafir itu. Alloh amat besar kekuatan dan amat keras siksaan(Nya) “. (QS. An Nisa’ [4]:84).
Sesungguhnya kemusyrikan itu akan merajalela dan berjaya jika tidak ada perang. Alloh Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

وَقَاتِلُوهُمْ حَتَّى لاَتَكُونَ فِتْنَةٌ وَيَكُونَ الدِّينُ كُلُّهُ للهِ
“ Dan perangilah mereka, supaya jangan ada fitnah dan supaya agama itu semata-mata untuk Alloh ”. (QS. Al Anfal : 39).

Dan yang dimaksud dengan fitnah di sini adalah kemusyrikan.
Sesungguhnya jihad itu merupakan jaminan satu-satunya bagi kebaikan di permukaan bumi ini. Alloh Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

وَلَوْلاَ دَفْعُ اللهِ النَّاسَ بَعْضَهُمْ بِبَعْضٍ لَّفَسَدَتِ اْلأَرْضُ
“ Seandainya Alloh tidak menolak (keganasan) sebahagian manusia dengan sebagaian yang lain, pasti rusaklah bumi ini ”. (QS. Al Baqoroh : 251).
Sesungguhnya jihad juga merupakan jaminan satu-atunya guna memelihara syi’ar-syi’ar dan tempat-tempat peribadahan. Alloh Subhanahu wa Ta’ala berfirman :
وَلَوْلاَ دَفْعُ اللهِ النَّاسَ بَعْضَهُم بِبَعْضٍ لَّهُدِّمَتْ صَوَامِعُ وَبِيَعٌ وَصَلَوَاتٌ وَمَسَاجِدَ يُذْكَرُ فِيهَا اسْمُ اللهِ كَثِيرًا
“ Dan sekiranya Alloh tiada menolak (keganasan) sebagian manusia dengan sebagian yang lain, tentulah telah dirobohkan biara-biara Nasrani, gereja-gereja, rumah-rumah ibadat orang Yahudi dan masjid-masjid, yang di dalamnya banyak disebut nama Alloh ”. (QS. Al Haj : 40).

WAHAI PARA JURU DAKWAH ISLAM !

Kejarlah kematian, nisacaya kalian akan dikaruniai kehidupan. Janganlah kalian terpedaya oleh angan-angan, dan janganlah tertipu oleh apapun dalam mentaati Alloh. Janganlah kalian tertipu dengan buku-buku yang kalian baca, dan dengan ibadah-ibadah sunnah yang kalian tekuni. Kesibukan kalian dalam urusan-urusan kecil yang membuai hati jangan sampai melupakan kalian dari masalah-masalah yang besar dan agung,
وتودون أن غير ذات الشوكة تكون لكم…
…dan kalian menginginkan bahwa yang tanpa senjatalah yang akan kalian hadapi…
Janganlah kalian mentaati siapapun dalam urusan jihad. Tidak perlu ijin dari komandan untuk pergi berjihad. Sesungguhnya jihad itu adalah penegak dakwah kalian dan benteng agama kalian serta perisai syari’at-syari’at kalian.

WAHAI ULAMA ISLAM !

Majulah kalian untuk memimpin generasi yang sedang kembali kepada jalan Robbnya ini. Janganlah mundur dan jangan gandrung serta cinta kepada dunia. Jauhilah hidangan-hidangan dari thoghut, karena hal itu akan menjadikan hati kalian gelap dan mati, serta akan menjadi dinding pemisah bagi kalian dari generasi ini, serta penutup antara hati kalian dan hati mereka.

WAHAI KAUM MUSLIMIN !

Telah lama tidur kalian. Burung-burung pipit telah menjelma menjadi burung-burung Elang di bumi kalian. Alangkah indahnya makna bait-bait puisi ini :
طَالَ الْمَنَامُ عَلَى الْهَوَانِ فَأَيْنَ زُمْرَةِ اْلأُسُودِ
وَاسْتَنْسَرَتْ عُصْبَ الْبُغَاثِِ وَنَحْنُ فِي ذُلِّ الْعَبِيْدِ
قِيْدُ الْعَبِيْدِ مِنَ الْجُنُوعِ وَلَيْسَ مِنْ زَرْدِ الْحَدِيْدِ
فَمَتَى نَثُورُ عَلَى الْقُيُودِ مَتَى نَثُورُ عَلَى الْقُيُودِ
“ Kian panjang tidur terlena dalam kehinaan
dimanakah gerangan barisan singa itu
sementara burung-burung pipit telah menjelma menjadi Elang
sedangkan kita kehinaan bak budak
belenggu perbudakan itu berupa buhul nestapa
bukannya rantai dari besi
lalu, kapan kita berontak belenggu itu?
kapan kita berontak belenggu itu?!

WAHAI KAUM WANITA !

Jauhilah kemewahan, karena kemewahan adalah musuh jihad dan kemewahan itu mengkerdilkan jiwa manusia. Waspaspadalah terhadap keadaan yang berlebih-lebihan. Cukuplah dengan yang perlu-perlu saja. Didiklah anak-anak kalian dengan kesederhanaan, dengan sifat kejantanan dan kepahlawanan serta jihad. Jadikanlah rumah kalain sebagai kandang singa, bukannya kandang ayam yang mana setelah gemuk dijadikan sembelihan penguasa durhaka. Tanamkanlah dalam jiwa anak-anak kalian kecintaan berjihad, mencintai lapangan pacuan kuda dan medan-medan pertempuran. Ikutlah kalian dalam merasakan segala kesulitan kaum muslimin. Usahakan dalam satu minggu sekali minimal untuk merasakan kehidupan kaum muhajirin dan mujahidin, yaitu hanya dengan makan sepotong roti kering dengan lauk yang tidak berlebihan dan beberapa teguk air teh.

WAHAI PARA REMAJA !

Tumbuhlah kalian dalam desingan peluru-peluru, dentuman meriam, raungan kapal terbang dan deru suara tank. Jauhilah kenikmatan hidup, dendangan musik dan kasur-kasur yang empuk.

ADAPUN ENGKAU WAHAI ISTRIKU !

Sebenarnya banyak hal yang ingin aku sampaikan kepadamu wahai Ummu Muhammad. Semoga Alloh melimpahkan pahala kepadamu karena jasamu kepadaku dan kepada kaum muslimin, juga karena dukunganmu kepadaku. Eangkau telah lama bersabar bersamaku menempuh jalan ini, dan engkau telah merasakan pahit dan manisnya hidup bersamaku. Dan engkau adalah sebaik-baik orang yang menolongku dalam menempuh perjalanan yang penuh berkah ini, dan dalam berjuang di medan jihad. Engkau telah kutinggalkan di rumah sejak tahun 1969 M, pada saat itu kita baru mempunyai dua anak kecil perempun dan seorang bayi laki-laki. Engkau hidup di sebuah kamar yang terbuat dari tanah liat yang tidak ada dapurnya dan tidak ada perabotnya. Dan kutinggalkan engkau dirumah ketika hamil tua sedangkan anggota keluarga telah bertambah, anak-anak sudah mulai besar, dan semakin banyak kenalan kita dan semakin bertambah pula tamu-tamu kita. Engkau terima semua itu hanya karena Alloh kemudian karena aku. Maka semoga Alloh membalas jasamu terhadap diriku dengan sebaik-baik balasan. Kalau bukan karena Alloh, kemudian karena kesabaranmu atas kepergianku yang sekian lama dari rumah, aku tidak akan mampu memikul beban yang begitu berat itu sendirian.

Benar-banar aku telah mengerti bahwa engkau adalah seorang wanita zaahidah (yang zuhud). Bagimu materi dunia ini tidak ada nilainya dalam hidupmu. Engkaupun tidak pernah mengeluh pada hari-hari yang berat karena sedikitnya uluran tangan pertolongan. Dan engkau pun tidak pernah bermewah-mewah juga tidak membanggakan diri tatkala Alloh membukakan sedikit pintu kenikmatan dunia. Dunia ini tidak pernah tinggal dalam hatimu, padahal seringkali dunia itu ada di tanganmu. Sesungguhnya kehidupan jihad itu adalah kehidupan yang lebih nikmat, juga menahan sabar atas kesempitan lebih indah daripada bergelimang diantara bermacam-macam kenikmatan dan tumpukan kemewahan.

Berpegang teguhlah dengan sifat zuhud, niscaya Alloh akan mencintaimu dan janganlah mencintai apa yang dimiliki orang lain, niscaya orang lain akan mencintaimu.
Al Qur’an adalah kenikmatan dan hiburan dalam hidup. Bangun sholat malam (tahajjud), puasa sunnah, serta beristighfaar pada waktu-waktu sahur (sepertiga malam terakhir) menjadikan hati lembut dan ibadah menjadi manis. Bergaul dengan orang-orang yang baik, tidak berlebih-lebihan di dunia, menjauhkan diri dari glamour dan orang-orang yang sibuk dengan dunia itu akan menjadikan hati tenang. Dan harapan kita hanya kepada Alloh, mudah-mudahan kita dikumpulkan di Jannah Firdaus, sebagaimana Dia telah mengumpulkan kita di dunia.

ADAPUN KALIAN WAHAI ANAK-ANAKKU !

Sungguh kalian hanya mendapatkann sedikit saja dari waktuku, juga hanya sedikit pendidikan dariku. Ya ! aku sibuk dan tidak sempat mengurus kalian. Tapi apakah yang harus aku perbuat, sedangkan bencana yang menimpa kaum muslimin seakan membuat wanita yang menyusui tak ingat akan nasib bayi yang disusuinya. Dan malapetaka yang menyiksa umat Islam begitu dahsyat seolah-olah jambul anak-anak berubah menjadi uban uban karenanya. Demi Alloh, tak kuasa aku hidup bersama kalian sebagaimana induk ayam hidup dalam sangkarnya bersama anak-anaknya. Tak sanggup aku hidup dengan hati dingin sedangkan api bencana membakar hati kaum muslimin. Tak rela aku tinggal besama kalian sepanjang waktu sedangkan derita dan kaum muslimin merobek-robek setiap orang yang memiliki hati nurani atau masih tersisa akalnya. Tidaklah kesatria jika aku hidup di tengah-tengah kalian sambil bergelimang dengan kenikmatan yang sebagian dihamparkan untukku dan sebagian lagi diangkat, diantara tumpukan daging dan beraneka ragam manisan. Demi Alloh, dalam hidupku aku telah membenci kemewahan baik berupa pakaian, makanan, ataupun tempat tinggal. Aku telah berusaha semampuku untuk mengangkat kalian kepada derajat para zaahidiin (ahli zuhud) dan menjauhkan kalian dari gelimangan orang-orang yang hidup dalam kemewahan.

Aku wasiatkan kepada kalian, berpeganglah dengan aqidah kaum salaf, yaitu aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah, dan jauhilah sifat berlebih-lebihan. Aku wasiatkan kepada kalian, untuk membaca dan menghafalkan Al-Qur’an. Jagalah juga lidah kalian. Begitu juga sholat malam, berpuasa, bergaul dengan teman-teman yang baik, dan bergabunglah bersama gerakan Islam. Tapi hendaklah kalian ketahui bahwa pemimpin gerakan itu tidak berhak melarang kalian berjihad, atau mengasikkan kalian dalam bidang dakwah hingga melalaikan dari medan-medan kejantaan dan medan-medan perang. Kalian tidak perlu minta ijin kepada seorang pun untuk berjihad di jalan Alloh. Belajarlah bagaimana menembakkan senjata dan mengendarai kendaraan perang. Tapi, menembak itu lebih aku sukai dari pada mengendarai. Aku wasiatkan kepada kalian, wahai anak-anakku agar kalian taat kepada ibumu, menghormati kakak-kakak perempuanmu (Ummu Al Hasan dan Ummu Yahya). Hendaklah kalian menekuni ilmu syar’iy yang bermanfaat. Hendaklah kalian taat dan hormat kepada kakak laki-laki kalian Muhammad.

Saya nasehatkan kalian untuk saling mencintai di antara kalian, dan berbaktilah kalian kepada kakek dan nenek kalian, hormatilah keduanya. Dan berbaktilah kepada kedua bibimu (Ummu Fayiz dan Ummu Muhammad). Karena beliau berdua itu memiliki jasa besar kepadaku sesudah Alloh. Sambunglah hubungan kekerabatan kita dan berbuat baiklah kepada keluarga dan tunaikanlah hak persahabatan kita kepada orang yang bersahabat dengan kita.

ADAPUN KEPADA MAKTAB AL-KHIDMAT

(Pada aslinya tertulis: “Saya wasiyatkan agar yang menjadi penanggung jawab setelahku adalah Abu Hudzaifah yang telah menghabiskan waktu mudanya untuk maktab ini. Khususnya dia telah menyumbangkan hartanya untuk para mujahidin. [Pada teks aslinya tidak tertulis “Wakilnya” adalah] Abu Sayyaaf [Fat-hiy] dan dibantu oleh Abu Hamzah dan Abu Haajir. Namun Syaikh ‘Abdulloh ‘Azzam mencoret tulisan ini. Silahkan lihat aslinya)

DAN KEPADA IKHWAH SEKALIAN!

Hendaknya kalian menghormati orang-orang yang menjadi pendahulu dalam berjihad ini, dan setiap mujahid mendapat keutamaan dengan lebih dahulunya dia berada dalam medan perang ini. Dan kepada para ikhwah hendaknya kalian menghormati ikhwah lainnya yang lebih dahulu dalam jihad ini, khususnya (pada teks aslinya tertulis: Abu Hudzifah, namun Syaikh Abdulloh Azzam mencoret dengan penanya. Silahkan lihat aslinya) Usaamah, Abul Hasan Al-Madaniy, Nuurud Diin, Abul Hasan Al-Maqdisiy, Abu Sayyaaf Dan Abu Burhaan. Adapun Abu Maazin sungguh saya mengenal (dalam teks aslinya tertulis; Wallohi [demi Alloh] namun Syaikh ‘Abdulloh ‘Azzam mencoretnya dengan penanya) dia sebagai orang yang lebih suci dari air yang turun dari langit. Dia ahli puasa, sholat malam dan bersemangat dalam berjihad. Alloh menggiringnya untuk jihad maka dia membantu dengan tidak banyak bicara. (dalam teks aslinya tertulis: “meskipun semua orang bersuara keras dan kalian jangan terpedaya dengan mereka” namun Syaikh ‘Abdulloh ‘Azzam mencoretnya dengan penanya. Silahkan lihat aslinya) dan dia adalah salah satu penopang jihad.

Tundukkanlah pandangan kalian dari ketergelinciran-ketergelinciran mereka dan hormatilah kedudukan mereka. Dan jangan kalian lupakan keutamaan Abul Hasan Al-Madaniy dan perannnya dalam membantu jihad. Terimalah nasehat-nasehat Abu Haajir. Dan hendaknya dia yang mengimami sholat kalian karena dia itu lembut dan khusyu’ (pada teks aslinya tertulis; “begitu pula saudara Abul Barro’ “, namun Syaikh ‘Abdulloh ‘Azzam mencoretnya dengan penanya. Silahkan lihat aslinya)

Dan banyaklah mendo’akan (pada teks aslinya tertulis: “dan banyaklah mendo’akan orang-orang yang menanggung maktab ini dengan harta pribadinya” namun tulisan ini ditulis dalam kurung oleh Syaikh ‘Abdulloh ‘Azzam dan kami tidak tahu apakah beliau bermaksud mencoretnya atau membiarkannya. Silahkan lihat teks aslinya. Dan yang benar saudara Usamah menanggung maktab ini pada awal dioperasikannya maktab Al-Khidmat sampai pada tahun 1986 M kemudian setelah itu beliau berhalangan untuk membantu) orang yang menanggung maktab ini dengan menggunakan uang pribadinya yaitu saudara Abu ‘Abdulloh Usaamah bin Muhammad bin Laadin. Saya berdo’ah semoga Alloh memberkahi keluarga dan hartanya. Dan kami mengharap kepada Alloh untuk memperbanyak orang-orang semacam dia. Demi Alloh saya belum mendapatkan orang yang semacam dia di dunia Islam. Oleh karena itu kami berharap kepada Alloh untuk menjaga agamanya dan hartanya. (dalam teks aslinya tulisan: “semoga Alloh memberkati … sampai perkataannya yang berbunyi ; tiang perkemahan maktab” kalimat ini digarisbawahi dan kami tidak tahu apa maksud syaikh ‘Abdulloh ‘Azzam. Apakah beliau bermaksud mencoretnya atau tidak. Namun kami menguatkan bahwa beliau tidak bermaksud mencoretnya. Silahkan lihat aslinya) dqn semoga Alloh memberkati kehidupannya. Dan kalian jangan lupa bahwa Abu Hudzaifah telah banyak menanggung proyek-proyek maktab ini dengan uang pribadinya. (dalam teks aslinya kata-kata “dengan uang pribadinya” ditulis dalam kurung oleh Syaikh ‘Abdulloh ‘Azzam, maka kami kuatkan bahwa beliau tidak bermaksud membuangnya. Silahkan lihat aslinya) maka banyaklah mendo’akannya, karena dia merupakan tiang perkemahan maktab.

ADAPUN KEPADA PERHIMPUNAN JIHAD !

Hendaklah kalian banyak memperhatikan Sayyaaf, Hikmatyar, Robbaaniy, Khoolis. Karena kita mengharapkan mereka (dalam teks aslinya tertulis “keduanya”) akan melanjutkan perjalanan jihad dan memelihara agar tidak menyimpang.

Dan janganlah kalian melupakan komandan di dalam negeri, khususnya Jalaalud Diin, Ahmad Syah Mas’uud, Ir. Basyiir, Shofiyulloh ‘Afdholiy, Maulawiy Arsalaan, (dalam teks aslinya tertulis: “dan perbaikilah hubungan kalian dengan Nash-rulloh Manshuur” namun dicoret oleh Syaikh ‘Abdulloh ‘Azzam. Silahkan lihat aslinya) Fariid, Muhammad ‘Alam dan Sir Alam (di Bagman), serta Sayyid Muhammad Haniif (di Logar).
سُبْحَانَكَ اَللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَإِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ
” Mahasuci Engkau ya Alloh, dan dengan memuji-Mu aku bersaksi bahwa tiada Ilah selain Engkau, aku mohom ampun dan bertaubat kepada-Mu “.

Hari Selasa 13 Sya’ban 1406 H.
bertepatan dengan 22 April 1986 M.

( ‘Abdulloh bin Yusuf ‘Azzam )

Filed under: 'Adawah, Nasehat tuk mujahidin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: