At Taujih

Mengawal Wacana Iqomatuddiin

HUKUM DZIKIR SECARA BERJAMA’AH

I TAR`IF DZIKIR
a. Dzikir secara bahasa berasal dari kata : (-ذكر -يذكر-ذكرا )
artinya : menyebut,mengucapkan mengagungkan,mengingat-ingat.(Almunjid :236 )

b. Secara istilah :
Sayyid syabiq berkata:”Dzikir ialah apa yang dilakukan oleh hati dan lisan berupa tasbih atau mensucikan Allah Ta’ala,memuji dan menyanjungnya,menyebut-nyebut sifat- sifat dan kebesaran,keagungganya,
serta sifa-t sifat indah yang dimilikinya”. (Fiqh Sunnah 4/213 ).


II. Anjuran untuk berdzikir :

a. Dari Al-Qur’an : Allah Ta’ala berfirman :

فاذكروني أذكركم واشكروا لي ولا تكفرون

”Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat pula kepadamu dan bersyukurlah pada-Ku dan jangan ingkar terhadap nikmat-nikmat-Ku”. ( Al Baqoroh :153 ).

وذكر ربك في نفسك تضرعا وخفية ودون الجهر من القول بالغدو والاصال ولا تكن من الغافلين

” Dan sebutlah nama Rabbmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut (pada siksanya) tidak mengeraskan suara dipagi dan di sore hari, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai.
{. Al A’raaf :205 }

b.Dari sunnah :
مثل الذي يذكر ربه والذي لا يذكر ربه مثل الحي والميت

” Perumpamaan orang-orang yang menyebut nama Rabb nya dengan orang yang tidak menyebut nama-Nya ,laksana orang hidup dan orang mati.” {HR. Bukhori fathul bari:11/208 }
أن رجلا قال يا رسول الله ان الله شرائع الإسلام قدكثرت علي فأخبربشيء اتثبت به قال لايزل لسانك رطبا من ذكر الله
sesungguhnya seorang laki-laki berkata :”Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku sesuatu buat pegangan ,” Beliau bersabda :”Tidak hentinya lidahmu basah dari dzikir kepada Allah . (HR At Tirmudzi 5/458,
Ibnu majah 2/317 ).

III . LARANGAN DZIKIR SECARA BERSAMA-SAMA

أََخْبَرَنَا اْلحَكَمُ بْنُ المُبَارَكِ أَخْبَرَنَا عَمْرُو بْنُ يَحْيَ قَالَ سَمِعْتُ أَبِيْ يُحَدِّثُ عن أبيه قال كنا نجلس علي باب عبد الله بن مسعود قبل الصلاة الغداة فإذا خرج مشينا معه إلي المسجد فجاعنا أبو موسي الأشعري فقال أخرج إليكم أبو عبد الرحمن بعد قلنا لا فجلس معنا حتي خرج فلما خرج قمنا إليه جميعا فقل له أبو موسي يا أبا عبد الرحمن إني رأيت في المسجد انفا أمرا أنكرته ولم أر والحمد لله إلا خيرا قال فما هو فقال إن عشت فستراه قال رأيت في المسجد قوما حلقا جلوسا ينتظرون الصلاة في كل حلقة رجل وفي أيديهم حصي فيقول كبروا مائة فيكبرون مائة فيقولوا هللوا مائة فيهللون مائة ويقول سبحوا مائة فيسبحون مائة قال فماذا قلت لهم قال ما قلت لهم شيئا انتظار رأيك وانتنظر أمرك قال أفلا أمر تهم أن يعدوا سيئا تهم وضمنت لهم ألا يضيع من حسناتهم ثم مضي ومضينا معه حتي أتي حلقة من تلك الحلق فوقف عليهم فقال ما هذا الذي أراكم تصنعون قالوا يا أبا عبد الرحمن حصي نعد به التكبير والتهليل والتسبيح قال فعدوا سيئاتكم فأنا ضامن أن لا يضيع من حسناتكم شيئ ويحكم يا أمة محمد ما أسرع هلكتهم هؤلاء صحابة نبيكم صلي الله عليه وسلم متافرون وهذه ثيابه تبل وانيته لم تكسر والذي نفسي بيده إنكم لعلي ملة هي أهدي من ملة محمد أو مفتتحو باب ضلالة قالو والله يا أبا عبد الرحمن ما أردنا إلا الخير قال وكم من مريد للخير لن يصيبه إن رسو ل الله صلي الله عليه وسلم حدثنا أن قوما يقرون القران لايجاوز تراقيهم

Telah mengkabarkan kepada kami Al-Hakam bin mubarrak,telah mendengar: aku:” menceritakan kepada kami Umar bin Yahya ia berkata “ayahku mengisahkan dari ayahnya ia berkata :” kami duduk didepan pintu rumah Ibni Mas`ud sebelum shalat shubuh,apabila beliau keluar kami berjalan bersamanya menuju masjid,(ketika kami sedang menanti beliau ) datanglah Abu Musa al asyar`I seraya bertanya “apakah Abu Abdurrahman telah keluar ? belum jawab kami,maka beliaupun duduk bersama kami menunggu sampai Ibnu Mas`ud keluar ketika beliau keluar kami semua berdiri ,lalu Abu Musa bertanya Hai Abu Abdurrahman ! sungguh tadi dimasjid aku melihat suaktu perkara yang aku ingkari,namun secara sekilas nampaknya hal itu baik .apaitu ? tanya Ibnu mas`ud , ia Abu Musa menjawab “sekiranya engkau dikarunia umur panjang engkau akan melihatnya .dimasjid aku melihat sekelompok orang duduk-duduk membentuk beberapa halaqah,mereka sedang menunggu shalat .setiap kelompok tersebut dipimpin oleh seorang sedang tangan mereka memegang batu kerikil.pimpinan jamaah tersebut berkata kepada jamaahnya :bertakbirlah seratus kali ! maka mereka bertakbir seratus kali.lalu ia berkata lagi : bertahlilah seratus kali! maka merekapun bertahlil seratus kali.maka ia berkata lagi : ”bertasbilah seratus kali! Maka mereka bertasbih seratus kali.Ibnu Masud bertanya kepada kepada Abu Musa :”lalu apa yang engkau katakan kepada mereka ?aku tidak berkomentar apa-apa menunggu pendapat dan perintah darimu ,”jawab Abu Musa “.tidakkah engkau perintahkan mereka untuk menghitung dosa-dosa dan engkau jamin bahwa perbuatan baik mereka tak akan sirna sedikitpun ? ” kata Ibnu Masud.maka berangkatlah beliau Ibnu masud dan kamipun memgikutinya hingga beliau sampai kepada salah satu halaqah tersebut,lalu beliau memberhentikan mereka seraya berkata “Hitunglah dosa-dosa kalian maka aku menjamin bahwa amalan baik kalian tidak akan sia-sia.celakalah kalian wahai umat Muhammmad ,alangkah cepatnya kalian menuju kebinasaan ,padahal para sahabat Nabi kalian masih banyak,dan bejana-bejana mereka belum pecah.Demi jiwaku yang berada ditanganya ! kalian berada diatas Adien yang lebih baik dari adien Nabi Muhammad atau kalian pembuka pintu kesesatan ? mereka menjawab :”Demi Allah hai Abu Abdurrahman ! kami tidak menghendaki kecuali kebaikan :.maka beliau mengatakan “berapa banyak orang yang menghendaki kebaikan tetapi ia tidak mendapatkan (karena ia mengamalkan suatu amalan yang tidak dituntunkan oleh Allah dan Rasul-nya ).
(HR Ad Darimi dalam sunanya,kitab al muqadimah ,hadist:204 ).

Mahmud Salma berkata :,Bukan termasuk perbuatan sunnah apabila seseorang duduk setelah shalat untuk membaca dzikir -dzikir ataupun doa doa yang matsur ( yang bersumber dari hadist shahih ) maupun yang tidak matsur dengan suara yang keras .apalagi kalau bacaan semacam ini dikerjakan secara kolektif (bersama sama ),seperti yang terlah terjadi dibeberapa daerah,namun sayangnya tradisi yang berlaku ini malah dianggap tidak benar jika tidak dikerjakan,bahkan orang yang melanggarnya malah dianggap sebagai orang yang melanggar syiar adin, padahal tradisi semacam ini harusnya ditinggalkan,karena tidak diajarkan oleh Rasullah Sallahu alaihiwasallam.

Muhammad Abdussalam Asy Syakiri berkata :”Membaca istighfar secara bersama-sama oleh para jama’ah setelah salam sholat merupakan perbuatan bid’ah, dan sunnahnya istighfar dilakukan sendiri-sendiri.begitu juga dengan lafadz“yaa arhama rohimin” ,yang dibaca secara bersama sama juga termasuk bidah . (sunan walmubtadiat :60 )

Asy Syatibi berkata Rasulullah Sallahu alaihiwasallam.
tidak pernah mengeraskan suaranya untuk membaca do’a maupun dzikir setelah selesai sholat kecuali untuk tujuan mengajari para sahabatnya sebab jika mengeraskan bacaannya atau suaranya terus menerus pasti akan dianggap sebagai sunnah dan ulama’pasti akan akan menganngap sunnah nabi dan selayaknya dicontoh”.
(Al I`tisham 1/351 )
Imam Nawawi mengatakan :“…hendaklah imam dan ma’mum tidak mengeraskan suaranya kecuali bila tujuannya untuk mengajari orang lain .”
(Fathul bari”11/326 )
Ibnu Hajar berkata :”Disebut dalam kitab “Al Atabiyah”sebuah riwayat dari Malik bahwa perbuatan tersebut (dzikir secara bersama-
sama ) dianggap bid’ah.” (Fathul Bari :11/326 ).

Asy Syatibi mengatakan :”Telah disimpulkan bahwa selalu membaca do’a secara bersama-sama bukan termasuk perbuatan
Rasulullah Sallahu alaihiwasallam.
dan juga bukan termasuk perkataan dan taqrirnya”.
(Al I`tisham :1/352 )

III.KESIMPULAN
Bahwa dzikir secara bersama-sama setelah melaksanakan sholat adalah perkara yang bid’ah, tetapi bila tujuannya untuk mengajari orang lain sesekali saja maka hal itu diperbolehkan tetapi tidak dilakukan setiap hari.

Filed under: fiqih

6 Responses

  1. fatchur mengatakan:

    ada-ada saja. dzikir kok dilarang.
    insyaallah sampai mati saya akan tetap dzikir, sendiri atau jama’ah. perkara diterima Allah atau tidak bukan urusan saya atau kamu, tapi urusan Allah.

  2. almartir mengatakan:

    apa-apa yg diadaadakan tanpa i,tiba pada rosulullah itu dilaranag…
    untuk apa kita bersaksi bahwa Muhamad utusan Alloh,kalo yg namanya utusan itu wajib diikuti,kalo memang BerIman/Tauhid.
    jng menggunakan Akal/hawanafsu yg dipakai menjadi sandaran dlm beribadah.. apapun jg ada tata cara panduan untuk pengoprasiannya yg BENAR termasuk Hp ente,masak pake panduan mesin cuci…

  3. rohmat mengatakan:

    الحق أحق أن يتبع
    kebenaran lebih berhak untuk diikuti……

  4. nahl muslim mengatakan:

    Assalamu’alaikum
    Akhi ,…artikelnya masih dangkal, belum cukup untuk membid’ahkan dzikir berjama’ah, ana ada artikel yang panjang berisi hadist-hadist tentang dzikir berjamaah. Intinya dzikir berjamah itu sunnah . Antum lihat juga dalam buku terbitan darul falah tentang syarah umdahtul ahkam oleh syaikh al-bassam,tentang hadist dzikir berjama’ah dengan suara keras seusai sholat . Nasehat ana untuk kita semua : Jangan mudah membid’ahkan suatu amalan yang kita belum benar-benar paham semua dalilnya. Mungkin dalilnya ada dikitab yang lain, karena tidak mungkin ulama berfatwa tanpa landasan ….
    kita sebaiknya berusaha mencarikan udzur untuk itu: seperti ” mungkin ada hadist lain yang saya belum tahu isinya” , kecuali jika memang perkara itu telah ada ijma’ ulama ( benar benar ulama) atas kesesatannya.
    watawa shoubil haq….
    Wallahu a’lam .

    • admind mengatakan:

      tolong antum baca makalah ini. insyaAllah memberi jwabn bg antum
      الفرق بين الجهر بالذِّكر بعد الصلوات والذِّكر الجماعي وموقف الإمام المجبر على ذلك
      السؤال : عندنا في مدينتنا وزارة الأوقاف تُلزم الأئمة بأن يدعو دبر الصلوات الخمسة جهراً ، فهل يجوز لهم ذلك ؟ ، وماذا يفعل الإمام الذي أُلزم بذلك ؟ . هناك بعض شباب السلفية عندما يدعو الإمام ينهضون ، ولا يكملون أذكارهم ، فمنهم من يصلي ركعتين ، ومنهم من يخرج من المسجد ، إنما أنا أجلس في مكاني ، وأكمل الأذكار ، ولا أنهض ، ولا أدعو معه ، أي : لا أؤمن على دعائه ، فهل فعل هؤلاء يقول به أحد من العلماء ؟

      الجواب:
      الحمد لله
      أولاً:
      ثمة فرقٌ بين الجهر بالأذكار في أدبار الصلوات ، وبين الذِّكر الجماعي ، والأول يقول به عامة علمائنا المعاصرين ، وله أصل في السنَّة ، ولا ينبغي أن يكون رفعاً يشوش على المصلين المسبوقين في صلاتهم ، والثاني – أي : الذكر الجماعي – مبتدع لا أصل له في السنَّة النبوية .
      سئل الشيخ عبد العزيز بن باز – رحمه الله – : ما حكم الذِّكر الجماعي بعد الصلاة على وتيرة واحدة ، كما يفعله البعض ، وهل السنَّة الجهر بالذكر أو الإسرار؟
      فأجاب :
      ” السنَّة الجهر بالذكر عقب الصلوات الخمس ، وعقب صلاة الجمعة بعد التسليم ؛ لما ثبت في الصحيحين عن ابن عباس رضي الله عنهما ” أن رفع الصوت بالذكر حين ينصرف الناس من المكتوبة كان على عهد النبي صلى الله عليه وسلم ” ، قال ابن عباس : ” كنت أعلم إذا انصرفوا بذلك إذا سمعته ” .
      أما كونه جماعيّاً بحيث يتحرى كل واحد نطق الآخر من أوله إلى آخره وتقليده في ذلك : فهذا لا أصل له ، بل هو بدعة ، وإنما المشروع أن يذكروا الله جميعا بغير قصد لتلاقي الأصوات بدءاً ونهاية ” انتهى .
      “فتاوى الشيخ ابن باز” (11/191) .
      وسئل الشيخ محمد بن صالح العثيمين – رحمه الله – : عن حكم ترديد الأذكار المسنونة بعد الصلاة بشكل جماعي ؟
      فأجاب :
      ” هذه بدعة ، لم ترد عن النبي صلى الله عليه وسلم ، وإنما الوارد أن كل إنسان يستغفر ، ويذكر لنفسه .
      لكن السنَّة الجهر بهذا الذكر بعد الصلاة ، فقد ثبت عن ابن عباس رضي الله عنهما أنه قال : ” كان رفع الصوت بالذكر حين ينصرف إذا سمعهم ” ، وهذا دليل على أن السنَّة الجهر به ، خلافاً لما كان عليه أكثر الناس اليوم من الإسرار به ، وبعضهم يجهر بالتهليل دون التسبيح ، والتحميد ، والتكبير ! ولا أعلم لهذا أصلاً من السنَّة في التفريق بين هذا وهذا ، وإنما السنَّة الجهر … .
      فالمهم : أن القول الراجح : أنه يسن الذكر أدبار الصلوات على الوجه المشروع ، وأنه يسن الجهر به أيضاً – أعني : رفع الصوت – ولا يكون رفعاً مزعجاً ، فإن هذا لا ينبغي ، ولهذا لما رفع الناس أصواتهم بالذكر في عهد الرسول عليه الصلاة والسلام في قفولهم من خيبر قال : ( أيها الناس ، اربَعوا على أنفسكم ) ، فالمقصود بالرفع : الرفع الذي لا يكون فيه مشقة وإزعاج ” انتهى .
      “مجموع فتاوى ابن عثيمين” (13/261-262) .
      وسئل الشيخ صالح الفوزان – حفظه الله – :
      مسجد نصلي فيه ، وعندما ينتهي الجماعة من الصلاة يقولون بصوت جماعي : أستغفر الله العظيم وأتوب إليه ، هل هذا وارد عن النبي صلى الله عليه وسلم ؟
      فأجاب :
      ” أما الاستغفار : فهو ثابت عن النبي صلى الله عليه وسلم ” أنه إذا سلَّم استغفر ثلاثًا قبل أن ينصرف إلى أصحابه ” .
      وأما الهيئة التي ذكرها السائل بأن يؤدَّى الاستغفار بأصوات جماعية : فهذا بدعة ، لم يكن مِن هدي النبي صلى الله عليه وسلم ، بل كلٌّ يستغفر لنفسه ، غير مرتبط بالآخرين ، ومِن غير صوت جماعي ، والصحابة كانوا يستغفرون فُرادى بغير صوت جماعي ، وكذا مَن بعدهم مِن القرون المفضلة .
      فالاستغفار في حد ذاته : سنَّة بعد السلام ، لكن الإتيان به بصوت جماعي : هذا هو البدعة ، فيجب تركه ، والابتعاد عنه ” انتهى .
      “المنتقى من فتاوى الشيخ الفوزان” (3/72) .
      وانظر أجوبة الأسئلة : ( 32443 ) و ( 34566 ) و ( 10491 ) .
      ثانياً:
      إذا عُلم الفرق بين الجهر بالأذكار والأدعية الثابتة عقب الصلاة وبين الدعاء الجماعي : تبين أنه لا يجوز للإمام أن يأتي بالأوراد التي عقب الصلاة جماعة بصوت واحد ، ولا أن يدعوَ دعاءً عامّاً بصوت جماعي ، كما لا يجوز لدوائر الأوقاف في بلاد الإسلام أن تُلزم الأئمة بهذا ؛ لعدم شرعيته .
      والدعاء الجماعي المبتدع أدبار الصلوات له صورتان :
      الأولى : ترديد الدعاء – سواء كان من أدعية أدبار الصلوات أم لم يكن – من جميع المصلين بصوت واحد .
      الثانية : أن يدعوَ الإمام ، ويؤمِّن المصلُّون على دعائه ، مع علمهم به ، وانتظارهم له .
      قال الإمام الشاطبي رحمه الله :
      ” الدليل الشرعي إذا اقتضى أمرا في الجملة ، مما يتعلق بالعبادات مثلا ، فأتى به المكلف في الجملة أيضا ، كذكر الله والدعاء والنوافل المستحبات وما أشبهها ، مما يعلم من الشارع فيها التوسعة ، كان الدليل عاضدا لعلمه من جهتين : من جهة معناه ، ومن جهة عمل السلف الصالح به .
      فإن أتى المكلف في ذلك الأمر بكيفية مخصوصة ، أو زمان مخصوص ، أو مكان مخصوص ، أو مقارنا لعباده مخصوصة ، والتزم ذلك بحيث صار متخيلا أن الكيفية أو الزمان أو المكان مقصود شرعا ، من غير أن يدل الدليل عليه ، كان الدليل بمعزل عن ذلك المعنى المستدل عليه .
      فإذا ندب الشرع مثلا إلى ذكر الله ، فالتزم قوم الاجتماع عليه على لسان واحد ، وبصوت ، أو في وقت معلوم ، مخصوص عن سائر الأوقات ، لم يكن في ندب الشرع ما يدل على هذا التخصيص الملتزم ، بل فيه ما يدل على خلافه ؛ لأن التزام الأمور غير اللازمة شرعا شأنها أن تفهم التشريع ، وخصوصا مع من يقتدى به في مجامع الناس كالمساجد ؛ فإنها إذا ظهرت هذا الإظهار ، ووضعت في المساجد كسائر الشعائر التي وضعها رسول الله صلى الله عليه و سلم ، في المساجد وما أشبهها ، كالأذان وصلاة العيدين والاستسقاء والكسوف ، فُهِم منها بلا شك أنها سنن ، إذا لم تفهم منها الفرضية ؛ فأحرى أن لا يتناولها الدليل المستدل به ، فصارت من هذه الجهة بدعا محدثة بذلك .
      وعلى ذلك ترك التزام السلف لتلك الأشياء ، أو عدم العمل بها ، وهم كانوا أحق بها وأهلها لو كانت مشروعة على مقتضى القواعد ؛ لأن الذكر قد ندب إليه الشرع ندبا في مواضع كثيرة ، حتى إنه لم يطلب في تكثير عبادة من العبادات ما طلب من التكثير من الذكر ، كقوله تعالى : { يا أيها الذين آمنوا اذكروا الله ذكرا كثيرا } الآية وقوله : { وابتغوا من فضل الله واذكروا الله كثيرا لعلكم تفلحون } بخلاف سائر العبادات .
      ومثل هذا الدعاء ؛ فإنه ذكر لله ، ومع ذلك فلم يلتزموا فيه كيفيات ، ولا قيدوه بأوقات مخصوصة ، بحيث تشعر باختصاص التعبد بتلك الأوقات ، إلا ما عينه الدليل كالغداة والعشي ، ولا أظهروا منه إلا ما نص الشارع على إظهاره ، كالذكر في العيدين وشبهه ، وما سوى فكانوا مثابرين على إخفائه …
      فكل من خالف هذا الأصل فقد خالف إطلاق الدليل أولا ، لأنه قيد فيه بالرأي ، وخالف من كان أعرف منه بالشريعة ، وهم السلف الصالح رضي الله عنهم ” الاعتصام (1/249-250) .
      وقال الشيخ بكر أبو زيد – حفظه الله – :
      في الذكر الجماعي ، قاعدة هذه الهيئة التي يُردُّ إليها حكمها هي : أن الذكر الجماعي بصوت واحدٍ سرّاً ، أو جهراً ، لترديد ذكر معين ، وارد أو غير وارد ، سواءً كان من الكل ، أو يتلقونه من أحدهم ، مع رفع الأيدي ، أو بلا رفع لها : كل هذا وصف يحتاج إلى أصل شرعي يدل عليه من الكتاب والسنَّة ؛ لأنه داخل في عبادة ، والعبادات مبناها على التوقيف والاتباع ، لا على الإحداث والاختراع ؛ ولهذا نظرنا في الأدلة في الكتاب والسنَّة : فلم نجد دليلاً يدلُّ على هذه الهيئة المضافة ، فتحقق أنه لا أصل له في الشرع المطهر ، وما لا أصل له في الشرع فهو بدعة ؛ إذاً فيكون الذكر والدعاء الجماعي بدعة ، يجب على كل مسلم مقتدٍ برسول الله صلى الله عليه وسلم تركها ، والحذر منها ، وأن يلتزم بالمشروع .
      ” تصحيح الدعاء ” ( ص 134 ) .
      وعلى الإمام – ومعه إخوانه الأئمة – أن يبذل وسعه في دفع الأمر من الأوقاف ، وبذل النصح لهم ببيان سنَّة النبي صلى الله عليه وسلم في هذا الباب .
      ويجوز للإمام أن يجهر بالدعاء الوارد عقب الصلوات ليؤمِّن على دعائه المصلون لكن بقصد التعليم ، لا بقصد الفعل ذاته ، وهي وسيلة للتخلص من أمر الأوقاف ، ولتعليم الناس ، وتأليف قلوبهم ، حتى إذا عقلوا السنَّة ترك ، وتركوا .
      وهكذا ما تفعله أنت ـ أيها الأخ الكريم ـ من الجلوس مع الجماعة ، وإكمال ذكرك وحدك ، هو أمر حسن إن شاء الله ، وما يفعله إخوانك من الانصراف ، وعدم شهود الدعاء الجماعي ، إن كان يترتب عليه مفسدة بين جماعة المسجدة ، أو تنافر في القلوب ، وإلقاء للبغضاء بين المسلمين ، فالأولى بهم أن يجلسوا مع الناس ، ويكملوا أذكارهم وحدهم .
      وإن لم يترتب على خروجهم مفسدة أو فتنة بين جماعة المسجد ؛ فما فعلوه لا بأس به إن شاء الله ، بل هو أمر مشروع ، وإن كان فيهم من يقتدي به الناس ، ويمكن أن يؤدي خروجه إلى منع ذلك ، فالمشروع في حقه أن يخرج ، ويعلم الناس السنة .
      والخلاصة : أن الدعاء بالهيئة الجماعية بعد الصلاة ، مخالف للسنة ؛ والخروج من المكان أمر مشروع لمن فعله ، خاصة ورفع الصوت على هذه الهيئة غالبا ما يحصل منه تشويش على الحضور ؛ فإن ترتب على ذلك الخروج مفسدة ، فالأولى الجلوس في المصلى ، وتكملون أذكاركم في أنفسكم ، حتى ينتهي الجماعة .

      والله أعلم

      http://www.islamqa.com/ar/ref/105644

  5. yunus bukhori mengatakan:

    bersatu jalan yang dicintai Alloh,berpecah itu yang dibenci Alloh,tinggal pilih jalan mana yang kalian mau,kebenaran sudah diungkap dengan jelas,kebatilan juga nampak jelas,jadi gunakan akal wras dan hati lapang,supaya tidak menyesal pada akhirnya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: