At Taujih

Mengawal Wacana Iqomatuddiin

BEKAL TERJUN KE MEDAN PEPERANGAN

Tatkala seorang mujahid menerjuni satu medan pertempuran, dia harus siap dengan rangkaian pertempuran yang saling terkait satu dengan yang lain. Medan yang terhubungkan dengan logika kausalitas, dimana yang satu mengakibatkan yang lain, dan satu akibat berubah menjadi sebab bagi medan selanjutnya. Tidak boleh seorang mujahid berkehendak memasuki satu medan pertempuran, dengan kesengajaan untuk menyerah ketika berhadapan dengan medan pertarungan yang menjadi akibat dari medan pertama yang dimasukinya.

Masalah ini telah menjadi pemahaman umum bagi setiap petarung ideology dan system hidup apapun. Artinya, tak dapat diterima dalam jalan berpikir pembela nilai hidup apapun yang memasuki hulu sebuah aliran tetapi tidak bersedia menerjuni seluruh aliran sampai hilirnya. Tak terkecuali nilai hidup Islam. Sekalipun merupakan nilai ilahiyah yang diturunkan dari langit, tetapi ajaran itu untuk manusia dalam kehidupannya di dunia. Penegakan dan pemenangan Islam tetap bertumpu kepada usaha manusia yang menginginkan nilai tadi tegak ter-implementasi dalam kehidupannya.

Karena itu, adalah kesalahan mendasar ketika seorang muslim menginginkan tegaknya Islam dalam kehidupan tanpa kelelahan, cucuran keringat dan tetesan darah dalam memperjuangkannya, menyangka bahwa jalan penegakan Islam adalah hamparan karpet dan taburan wewangian. Kepasrahan dalam Islam, bukanlah semata kesediaan pasif menerima ketetapan Allah, melainkan kepasrahan aktif untuk merealisir apa saja yang Allah tetapkan ; perintahkah atau larangan. Ketika risalah datang dalam bentuk perintah maka seorang muslim pasrah menerima dalam arti aktif melaksanakan, dan tatkala risalah datang kepadanya dalam bentuk larangan, maka seorang muslim pasrah menerima dalam arti aktif meninggalkannya. Kepasrahan istislam adalah kepasrahan aktif, bukan kepasrahan menunggu tanpa berbuat.

Pesan Substansial Ibnul-Qoyyim dalam Maraatib al-Jihad.
Jika kita cermati paparan Ibnul-Qoyyim al-Jauziyah tentang maraatib al-jihad di dalam buku beliau Zaad al-Ma’aad li Hadyi Khayr al-‘Ibaad, yang membagi urutan persiapan jihad dari persiapan paling mendasar hingga puncak ketinggiannya menjadi 4 bagian besar dan memerincinya menjadi 13 rincian, sesungguhnya beliau merekomendasikan seorang muslim untuk mempersiapkan diri dengan kekomplitan bekal peperangan sebelum memasuki kancah pertempuran.

Martabat yang pertama dan kedua, yakni jihad an-nafs dan jihad asy-syaithan jelas-jelas merekomendasikan persiapan menyeluruh baik dari sisi ilmu dan pengamalannya, berdakwah dan bersabar atas segala ujian yang datang karenanya, mengikhlaskan niyat hanya mencari keridloan-Nya dan menjaga kelurusan pemahaman dari kekacauan pemikiran. Sebelum dua hal tersebut dengan perinciannya mantap benar pada seorang hamba, sementara dia memaksakan diri memasuki pertempuran, padahal masih memungkinkan untuk menempuhnya, menurut beliau sungguh berbahaya, ibarat mendirikan bangunan menjulang di atas pondasi pasir.

Peperangan menghadapi kekafiran, masih menurut beliau, dilakukan oleh seorang mu’min sepanjang masa, sejak seorang hamba masuk Islam sampai mati, sedang pertempuran terjadi sewaktu-waktu, tergantung kondisi ummat Islam dan kekafiran pada setiap zaman sejak diutusnya Muhammad RasululLah shallalLaahu ‘alayhi wa sallam hingga orang mu’min terakhir dicabut ruh-nya oleh Allah dengan angin lembut sebelum datangnya hari qiyamat.

Dinamika Situasi antara Ummat Islam dengan Musuh-musuhnya
Situasi antara ummat Islam dengan musuh-musuhnya sepanjang waktu bersifat dinamis, selalu berubah. Ada sunnah tadaawul, dimana kadang ummat Islam mengungguli lawannya, kadang orang-orang kafir memenangkan pertempuran, kadang antara keduanya terlibat gencatan senjata, atau dinamika keadaan lain yang selalu berubah. Tidak selalu terjadi denting senjata di medan pertempuran atau kepulan asap mesiu, namun keduanya merupakan dua perwujudan komunitas yang berlainan manhaj, berbeda jalan hidup. Hubungan antara keduanya adalah pergulatan untuk saling mengalahkan, selalu terlibat peperangan, sekalipun tak seluruh waktu terjadi pertempuran.

Karena itu, seluruh dimensi keyakinan, konstruksi sikap, ucapan dan tindakan seorang muslim menghadapi kekafiran adalah realisasi peperangan sepanjang waktunya, tidur dan jaganya. Mulai dari sikap wala’ (kesetiaan) antar sesama mu’min, baro’ (berlepas diri, memusuhi) kekafiran dan orang-orang kafir, persiapan pisik i’dad untuk memasuki pertempuran, mempersenjatai diri dan berlatih menggunakan senjata, berjaga-jaga di perbatasan, mencari informasi kekuatan dan kelengahan orang-orang kafir, sampai benar-benar menerjuni pertempuran hidup-mati, semuanya merupakan rangkaian peperangan yang pada setiap tahapnya memiliki nilai di sisi Allah.

Karena itu seluruh aktivitas dari mulai hulu hingga ke hilir yang bermuara mengkonkritkan eksistensi masyarakat yang meng-implementasikan syari’at Allah dan aktivitas tersebut tidak keluar dari panduan sunnah RasululLah shallalLahu ‘alayhi wa sallam semua bernilai ‘amal, dan wasilah untuk taqarrub kepada Allah. Tak benar bahwa hanya aktivitas mengangkat pedang, panah dan tombak, atau meletupkan mesiu saja yang dianggap bernilai jihad, justru karena kenyataannya pertempuran memang tidak mungkin berjalan seluruh waktu, tetapi sebagian waktu saja, meski kadang-kadang panjang, kadang singkat.

Yang diperlukan disini adalah ash-shidqu wa al-mujahadah (kejujuran dan kesungguhan). Jika berdasarkan perhitungan kondisi waqi’ secara jujur memang seharusnya memasuki pertempuran dan tidak ada penghalang, maka bertempur adalah tuntutannya ketika itu. Jika menurut kajian secara jujur memasuki pertempuran tidak menguntungkan karena belum memenuhi sebab untuk mendapatkan kemenangan, maka ber-mujahadah di dalam memenuhi sebab agar dapat memasuki kancah pertempuran sehingga dalam perhitungan akan memperoleh kemenangan adalah jawabannya.

عن أبي مالك الأشعري رضي الله عنه أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: «من فصل في سبيل الله فمات أو قتل فهو شهيد أو وقصه فرسه أو بعيره أو لدغته هامة أو مات على فراشه بأي حتف شاء الله مات فإنه شهيد وإن له الجنة» [رواه أبو داود]
Dari Abu Malik al-Asy’ariy radliyalLaahu ‘anhu bahwa RasululLah shallalLaahu ‘alayhi wa sallam bersabda, “Barangsiapa keluar di jalan Allah kemudian dia mati atau terbunuh maka dia syahid, atau terkena tendangan kaki atau terlempar dari kuda atau untanya (sehingga dia mati], atau terkena sengatan binatang berbisa, atau dia mati di tempat tidurnya (di kemahnya), atau kematian mengenainya di tempat manapun yang dikehendaki oleh Allah, sesungguhnya dia mati syahid dan baginya surga.[Abu Dawud].

Beberapa Contoh Rentangan Kondisi yang Dihadapi Ummat Islam dan Penilaian Syari’at Terhadapnya
Suatu saat, masih di tahun-tahun awal bi’tsah RasululLah berjalan melewati suatu tempat terbuka, beliau mendapati keluarga Yasir yang terpandang rendah di tengah masyarakat Quraisy sedang mengalami penyiksaan dari para bangsawan Quraisy lantaran keimanannya. Penyiksaan yang mengantarkan suami isteri tersebut meraih puncak kesabaran dan kesyahidan. Nabi, ketika itu berujar singkat,

صبرا أل ياسر, فإن موعدكم الجنة!
“Bershabarlah wahai keluarga Yasir, sungguh balasan buat kamu sekalian adalah surga!”
Beliau belum mampu melakukan tindakan pencegahan, atau turun tangan menghadapi mereka dengan pedang.
Dinamika terus menguat, tatkala sahabat ‘Utsman bin ‘Affan di-issue-kan dibunuh di Makkah pada saat negosiasi untuk melakukan ‘umrah dalam rangkaian perjanjian Hudaibiyah, reaksi yang timbul di kalangan para sahabat (komunitas Islam pada saat itu), 1400 orang ber-bai’at mati untuk menuntut darah ‘Utsman. Padahal kabar tersebut belum ter-konfirmasi kebenarannya.

لَقَدْ رَضِيَ اللَّهُ عَنِ الْمُؤْمِنِينَ إِذْ يُبَايِعُونَكَ تَحْتَ الشَّجَرَةِ فَعَلِمَ مَا فِي قُلُوبِهِمْ فَأَنْزَلَ السَّكِينَةَ عَلَيْهِمْ وَأَثَابَهُمْ فَتْحًا قَرِيبًا
Sesungguhnya Allah telah ridlo kepada orang-orang yang beriman tatkala mereka mambai’atmu di bawah sebuah pohon, maka Allah mengetahui apa yang ada di dalam hati mereka dan menurunkan ketenangan kepada mereka dan membalasi kepada mereka dengan kemenangan yang dekat. [Al-Fath 18].
Bani Nadhir, lantaran kelancangan mereka terhadap seorang muslimah di pasar mereka, seorang sahabat yang mengetahui on the spot spontan membunuhnya. Ketika sahabat tadi dibunuh oleh suku tersebut, seluruh klan Bani Nadhir diusir keluar dari Madinah.

هُوَ الَّذِي أَخْرَجَ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ مِنْ دِيَارِهِمْ لِأَوَّلِ الْحَشْر….
Dialah [Allah] Dzat yang mengusir orang-orang kafir dari kalangan Ahli Kitab [yakni Bani Nadhir] dari rumah-rumah [tempat tinggal] mereka sebagai pengusiran yang pertama,…[Al-Hasyr 2].
Begitulah gambaran singkat dinamika intern ummat Islam pergulatan ummat Islam menghadapi musuhnya sebagai sebuah komunitas.

Bahkan, pada skala individu, adakalanya syari’at menuntut sesuatu, tetapi ketika kondisi individu muslim tersebut tidak mampu melaksanakannya, sedang cadangan secara komunitas tidak mampu mem-back up, syari’at saja memakluminya, tidak memaksakannya, serta tidak menganggapnya berdosa, bahkan bersekutu di dalam pahala. Yang penting jujur. Ada beberapa orang sahabat jujur, bersungguh-sungguh, tetapi tidak memiliki sarana untuk berangkat berjihad dalam perang Tabuk. Padahal Nabi berangkat sendiri memimpin ekspedisi tersebut, dan mereka tahu jika Nabi berangkat, tak ada alas an bagi sahabat untuk menghindar dari kewajiban tersebut. Mereka berharap dapat ikut berangkat dengan menggunakan sarana umum yang tersedia bagi mereka yang ingin berangkat tetapi tidak mempunyai sarana, ternyata kendaraan, perlengkapan dan perbekalan telah habis. Mereka menangis karena terpaksa tertinggal. Terhadap mereka, dalam suatu kesempatan di perjalanan Tabuk tersebut beliau bersabda,

«مَا سِرْتُمْ مَسِيرًا وَلَا قَطَعْتُمْ وَادِيًا إِلَّا شَرِكُوكُمْ فِي الْأَجْرِ» [رواه مسلم وابن ماجة وأحمد]
“Tidaklah kalian berjalan di suatu jalan atau melintasi lembah kecuali mereka berserikat dengan kalian dalam pahala”.

Peperangan dalam seluruh segi dan aspeknya memang merupakan keharusan bagi seorang mu’min, sebagai konsekuensi logis yang mengikuti pernyataan imannya. Masuknya dia ke dalam Islam pun sejatinya adalah proklamasi peperangannya terhadap kekufuran dan orang-orang kafir, apapun manifestasi peperangan itu. Adapun pertempuran, kadang orang-orang mu’min masuk dalam kancah tersebut, kadang-kadang berada dalam keadaan sedang memenuhi persyaratan agar dapat menerjuninya, kadang mereka dikalahkan dan terbunuh karenanya, kadang juga mereka tertawan oleh musuhnya sehingga dirinya dalam penguasaan mereka, sehingga musuh dapat membunuhnya kapan saja mereka mau, tetapi mereka tetap sadar bahwa itu bagian dari peperangan sehingga mereka tidak membantu musuh sedikitpun dengan mengumpankan saudara-saudaranya, aset perjuangan yang dimilikinya, membeberkan program dan rencana-rencananya, apalagi para pemimpinnya, meskipun hanya dengan isyarat. Nas-alulLooha al-’afiyah.

Filed under: 'Adawah, makalah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: