At Taujih

Mengawal Wacana Iqomatuddiin

HAL-HAL YANG HARUS DIJAUHI OLEH PENCARI ILMU [2]

3. Mendengarkan ahlul bid’ah dan belajar dengannya. Diantara yang harus dihindari ahlul ‘ilmi adalah duduk bersama ahlul ahwa’ dan bid’ah. Dan diam di hadapan mereka, dan belajar pada mereka terutama bagi orang-orang yang masih awalan dalam mencari ilmu. Semua itu ditakutkan akan terpengaruh dengan mereka atau sedikit-sedikit akan terpengaruh dengan akhlaq dan subhat-subhat mereka tanpa ia sadari.
Rasulullah sallallahu alaihi wasallam bersabda :

“Sesungguhnya perumpamaan teman yang shalih dengan teman yang buruk adalah seperti penjual minyak wangi dan pandai besi. Seorang penjual minyak wangi bisa memberimu atau kamu membeli darinya, atau kamu bisa mendapatkan wanginya. Dan seorang pandai besi bisa membuat pakaianmu terbakar, atau kamu mendapat baunya yang tidak sedap.” (Hadits Shahih, diriwayatkan oleh Bukhari (No. 5534), Muslim (No. 2638) dan Ahmad (No.19163)
Dan beliau bersabda :

Diantara tanda hari kiamat disandarkan ilmu pada orang kecil.
Dan yang dimaksud kecil adalah ahlul bid’ah dan ahwa’ walaupun umur mereka mencapai seratusan tahun.
Berkata Abu shalih Mahbub bin Musa : Aku bertanya pada Ibnul Mubarak siapakah orang-orang kecil itu ?. beliau berkata : Ahlul bid’ah.

Dari Syu’aib bin Harb berkata : Aku mendengar At Tsauri berkata : Barang siapa yang mendengar dari ahlul bid’ah Allah tidak memberikan manfaat dengan apa yang ia dengar. Dan barang siapa menyalaminya maka telah lepas islam ikatan demi ikatan.

Aku katakan [ abu basyir ] : Bagaimana dengan orang yang menyalami para taghut kafir dan fajir, duduk dengan mereka, membela mereka …. Tidak diragukan lagi bahwasanya ia lebih pantas sebagai mana yang disebutkan At Tsauri rahimahullahu.

Demikian pula Imam Malik bin Anas berkata : Janganlah kalian ambil ilmu dari 4 golongan dan ambillah dengan yang selain itu. Janganlah kalian ambil ilmu dari orang bodoh yang dikenal kebodohannya walaupun banyak orang yang meriwayatkannya. Janganlah diambil dari pendusta yang berdusta dalam pembicaraan sesama manusia jika ia tertuduh dengan hal tersebut walaupun ia tidak tertuduh berdusta atas nama rasulullah. Dan janganlah diambil ilmu dari pengikut hawa nafsu yang mengajak manusia terhadap nafsu dan juga seorang syaikh yang memiliki keutamaan dan hali ibadah jika tidak mengetahui apa yang dikatakan.

4. Makan dari diin. Ia menjaga dirinya [ mengayakan dirinya ] dari apa yang berada di tangan manusia. Maka tidaklah ia mengajarkan dinnya kecuali jika diberikan upah. Dan tidak mengimami manusia dalam shalat kecuali jika diberi upah. Dan tidaklah ia membaca alqur’an kecuali jika diberi upah dari pengajaran alqur’an. Maka ini adalah jalan yang tidak pantas dilakukan oleh pencari ilmu yang mukhlis.

Dari Ubadah bin Shamit radhiyallahu ‘anhu berkata : Aku mengajarkan manusia dari ahlus shuffah kitab dan sunnah. Kamudian aku diberi hadiah oleh seorang dari mereka busur. Maka aku katakan : itu bukanlah harta, dan aku pakai panah tersebut di jalan Allah [ jihad ], sungguh aku akan datang pada rasulullah dan akan aku tanyakan. Kemudian aku mendatangi beliau dan aku katakan : wahai rasulullallah aku diberi hadiah seseorang busur dari pengajaranku qur’an, dan bukanlah harta, dan aku gunakan dengannya berjihad fisabilillah. Rasulullah bersabda : kalau kamu ingin beban dari beban api neraka maka terimalah. Maka aku katakan : Apa maksudnya wahai rasulullah : Kemudian beliau bersabda : Bara antara kedua pundakmu yang dikalungkannya atau digantungkannya. صحيح سنن أبي داود: 2915.

Dan Umar bin Khattab berkata : Wahai para ahlul ‘ilmi dan qur’an, janganlah kalian mengampil dari ilmu dan qur’an itu upah. Maka kalian akan didahului dunia kalian ke jannah [ maksudnya, kenikmataan dunia mereka akan menggantikan kenikmatan di jannah ].

Maka jika ada yang bertanya, apakah kesimpulannya tidak boleh mengambil upah dari pengajaran terhadap manusia tentang berbagai urusan dinnya ?

Aku katakan : Jika ia termasuk orang yang membutuhkan harta, dan ia punya waktu-waktu luang untuk mengajarkan pada manusia tentang urusan diin mereka, maka boleh mengambil sesutu yang bisa membantu kebutuhannya. Sedangkan yang selain itu maka tidak boleh. Wallahu ‘alam.

5. Rakus terhadap kehormatan, kepemimpinan dan ketokohan. Diantara yang menjadikan rusaknya din seseorang adalah rakus terhadap kehormatan dan kepemimpinan. Rasulullah bersabda :

مَا ذِئْبَانِ جَائِعَانِ أُرْسِلاَ فِيْ غَنَمٍ بِأَفْسَدَ لَهَا مِنْ حِرْصِ الْمَرْءِ عَلَى الْمَالِ وَ الشَّرَفِ لِدِيْنِهِ
Tidaklah dua ekor serigala yang lapar dilepaskan di dalam kawanan domba akan lebih merusak daripada rusaknya agama seseorang karena rakusnya kepada harta dan jabatan. (HR at-Tirmidzi) Yaitu sebagaimana dua serigala andaikan di tinggal atau di kirim diantara kawanan domba akan mencelakakannya dan merusaknya. Demikian pula rakusnya seseorang terhadap harta dan kehormatan maka sesungguhnya lebih bahaya dan merusak terhadap dien seseorang di bandingkan serigala pada kawanan domba.

Berapa banyak hakim yang mengorbankan agamanya dan ummatnya dan berwali kepada musuh ummat untuk menghancurkan ummat. Di sebabkan rakusnya terhadap kehormatan dan kepemimpinan dan berapa banyak para hakim yang mengianati orang-orang sekitarnya, dan membunuh setiap orang yang membahayakan hukum dan kekuasaannya secara dzolim. Dan tidaklah ia melakukan hal tersebut kecuali kerakusan terhadap kemuliaan dan kekuasaan.

Berapa banyak orang alim yang membawanya cinta terhadap kemuliaan dan dekat kepada penguasa dan beramal disisinya padahal dia berhias dan mengatas namakan ummat dan diennya.
Bukan berarti hal ini tidak penting darinya para ulama terhadap kekuasaan dan mengarahkan ummat, kemudian membiarkan kepemimpinan negeri dan ummat di tangan orang-orang fasik, kafir dan dzolim sebagaimana yang terjadi hari ini.

6. Tergesa-gesa memetik buah sebelum matang
Diantara yang harus di hindari oleh para pencari ilmu hendaknya tidak mendahului suatu urusan sebelum menguasainya. Maka janganlah tergesa-gesa memberi fatwa sebelum menjadi ahli dalam berfatwa dan sebelum terhimpun sarana-sarana yang wajib sebelum berfatwa. Dan janganlah tergesa-gesa mengarang sebelum matang dan ahli dalam hal tersebut. Dan janganlah tergesa-gesa memberi pelajaran dan naik di atas mimbar sebelum mempersiapkan hal tersebut. Maka barang siapa tergesa-gesa terhadap sesuatu sebelum masanya akan berakibat diharamkannya sesuatu itu darinya. Dan permisalan hal tersebut seperti orang yang menang sebelum berperang dan menjadi syaikh sebelum berlalu pada tingkatan murid.
Bersabda Rosulullah Shalallahu’alaihi Wasallam : “Barang siapa yang mengatakan atasku apa-apa yang belum aku katakan hendaknya ia siapkan tempat duduknya dari api neraka, dan barnag siapa dimintai saudaranya muslim untuk memberikan petunjuk kemudian ia tunjukkan atasnya dengan selain petunjuk maka ia telah menghianatinya, dan barang siapa di mintai fatwa dengan sebuah fatwa tanpa satu kejelasan mana sesungguhnya dosanya atas orang yang berfatwa”.

Dari Abi Laila berkata “ aku mengetahui 200 dari sahabtat Ansor diantara sahabat Rosulullah Shalallahu’alaihi Wasallam”.

Tidaklah dia ntara mereka seseorang yang ketika di tanya sesuatu kecuali senang bahwasanya cukup di bawa saudaranya, dan tidaklah membicarakan satu pembicaraan kecuali senang akaalu saudaranya telahmembicarakannya,

Dan dari Na’im bin Hammad berkata : “aku mendengar Ibnu Uyyainah berkata manusia yang paling berani terhadap fatwa adalah mereka yang sedikit ilmunya”.

Filed under: makalah, Nasehat tuk penuntut ilmu

One Response

  1. Umar Afdhal mengatakan:

    Takjub terhadap diri sendiri

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: