At Taujih

Mengawal Wacana Iqomatuddiin

Bedah Buku Harokah Jihad Ibnu Taimiyah (II)

Ust. Farid Okbah, MA
Berikut ini adalah naskah transkrip ceramah pembicara kedua (Ust. Farid Okbah) dengan perubahan seperlunya berkaitan dengan kata-kata yang membingungkan.

Ceramah ini disampaikan pada acara: Bedah Buku Ibnu Taimiyyah wal ‘Amalul Jamaa’I (Harokah Jihad Ibnu Taimiyah). Hari dan tanggal: Ahad, 09 Mei 2010-07-22. Pukul: 08.00 s/d selesai. Pembicara Pertama: Ust. Ahmad Rofi’i, Lc, Pembicara Kedua: Ust. Farid Ahmad Okbah, MA, Tempat: Masjid Al-Azhar Jaka Permai Bekasi. Penyelenggara: LD Robbani bekerja sama dengan: Forum Aktifis Masjid dan Mushalla (FAMM) dan DKM Al-Azhar, Jaka Permai.

Bismillahirrahmanirrahim

الحمد لله وكفى والصلاة والسلام على أشرف المصطفى وعلى آله وصحبه ومن وفى
يآ أيها الذين أمنوا اتقوا الله حق تقاته ولا تموتن إلا وأنتم مسلمون
وقال رسول الله صلى الله عليه والسلام فإن أصدق الحديث كتاب الله وخير الهدي هدي محمد صلى الله عليه وسلم وشر الأمور محدثاتها فإن كل بدعة ضلالة وكل ضلالة في النار

Ikhwan fiddin rahimani wa rahimahukumullah, assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Alhamdulillah, pada hari ini kita mengkaji satu tema pembahasan penting, dan saya akan membacakan satu sms yang ditujukan kepada saya, di mana ada salah seorang yang ingin hadir dalam acara ini, mengajak temannya, tapi temannya itu nggak mau datang. Alasannya apa? Pak, afwan Pak. Pengarang buku itu Abdurrahman bin Abdul Khaliq, termasuk orang yang bermasalah menurut ulama Ahlus Sunnah. Waallahu a’lam. Dia tidak mau datang ke acara ini karena pengarang buku ini.

Tadi isinya sudah diungkapkan oleh Ust. Ahmad Rofi’i secara panjang lebar. Maka hadirin sekalian, omongan ini juga tidak efektif. Asy-Syaikh Abdurrahman bin Abdul Khaliq ini saya pernah bertemu dengan beliau ketika saya masih kepala pustaka di LIPIA dan beliau ini adalah seorang yang hafal Al-Qur’an. Waktu Ramadhan, orang suka shalat di belakang beliau karena selama Ramadhan itu sampai khatam Al-Qur’an. Beliau ini lulusan Madinah, Jami’ah Islamiyah. Dulu, Syaikh Abdurrahman bin Abdul Khaliq dekat sekali dengan pengkritik beliau. Yang mengkritik beliau pertama kali itu Syaikh Dr. Rabi’ al-Madkhali. Ust. Ahmad Rofi’i tahu. Kenapa kok sampai terjadi polemik antara keduanya? Mereka ini awalnya satu saudara, satu kawan, sama-sama ulama, dan saya menemukan buku karya Syaikh Dr. ar-Rabi’ yang berjudul Manhaj al-Anbiya’ fid Da’wati ila Allah, lalu dikasih komentar oleh Syaikh Abdurrahman bin Abdul Khaliq.

Awal buku itu, yang ditulis oleh Syaikh ar-Rabi’, yang dikatakan bermasalah menurut ulama Ahlus Sunnah. Padahal tidak semua, hanya sebagian kecil yang mempermasalahkan beliau karena adanya perbedaan. Yang kemudian, ketika Syaikh ar-Rabi’ menulis buku Ad-Da’wah ila Allah minta dikasih komentar oleh Syaikh Abdurrahman bin Abdul Khaliq, sebelum terjadi perbedaan. Yang menarik saat itu, ketika terjadi perbedaan antara Syaikh Abdurrahman bin Abdul Khaliq dan Syaikh Rabi’. Perbedaannya pada apa? Perbedaannya ada pada Syaikh Abdurrahman bin Abdul Khaliq mendukung adanya jama’ah-jama’ah yang memperjuangkan Islam, tetapi Syaikh Rabi’ tidak mau itu. Makanya Syaikh Rabi’ membantah Syaikh Abdurrahman bin Abdul Khaliq yang berjudul Jama’ah Wahidah Laa Jama’aat. Satu jama’ah bukan jama’ah-jama’ah. Kedua syaikh ini masih hidup.

Nah, kita jangan terbawa kepada arus perbedaan mereka, makanya jangan jadi muqallid (orang yang taqlid). Yang terjadi sekarang ini banyak muqallidun (orang-orang yang taqlid). Kita kalau mengikuti manhaj salafus shaleh itu harus menjadi muttabi’ (orang yang mengikuti, maksudnya mengikuti Sunnah), bukan muqallid (orang yang taqlid). Jangan lihat orangnya, lihat dalilnya. Dan saya melihat, perbedaan itu sesuatu yang lumrah karena Syaikh Abdurrahman bin Abdul Khaliq tinggal di Kuwait, yang negaranya bukan Saudi. Kalau Syaikh Rabi’ tinggal di Saudi dan berpendapat bahwa Saudi Arabia adalah negara yang telah menegakkan hukum Islam. Tapi Kuwait belum, Kuwait masih menggunakan parlemen, kaya di Indonesia. Makanya yang mengadopsi pendapat Syaikh Abdurrahman bin Abdul Khaliq bukan dari Saudi, tapi orang-orang luar Saudi. Itu kan karena urusan negara. Dasarnya apa?

Yang menarik saudara-saudara sekalian, buku yang dikasih komentar oleh Syaikh Abdurrahman bin Abdul Khaliq disobek oleh orang yang sangat ceroboh–dan saya sebut pengkhianat. Kan bukan punya dia, punya pustaka LIPIA. Astaghfirullah, saya lihat sudah disobek karena tidak setuju dengan Syaikh Abdurrahman bin Abdul Khaliq, bukan milik dia padahal. Ini menunjukkan apa? Emosi yang keliru. Nah model-model kayak ginilah, alergi duluan. Gak mau lihat, apa si isinya itu? Nah kalau model kayak gini ummat ini, wah bisa jadi rusak ummat ini. Jadi muqallidun (orang-orang yang taqlid), na’udzubillahi min dzalik.

Makanya kita harus obyektif. Siapa Abdurrahman bin Khaliq? Tadi sudah disampaikan. Dan yang menarik saudara-saudara sekalian, terjadinya polemik antara Syaikh Abdurrahman bin Abdul Khaliq dengan Syaikh Rabi’ Hafizhahullah, dua-duanya ulama kita, itu ditengahi oleh Syaikh bin Baz. Selesailah dan tidak ada masalah. Kata Syaikh Abdurrahman, Syaikh bin Baz menasihati saya. Saya terima seluruh nasihat beliau. Sehingga selesailah masalah. Kalau perbedaan pendapat, itu sesuatu yang lumrah. Nah orang-orang seperti ini (yang tidak hadir seperti dimaksud dalam sms, red) menafikan perbedaan pendapat. Ini tidak betul, apalagi seperti kita ini. Luar biasa, bercerai-berai, tertindas di mana-mana.

Sehingga kita akan mempelajari ini secara runtun, yang pertama berkaitan dengan pengarangnya. Kemudian yang kedua, untuk mendudukkan tema ini harus satu-satu. Harakah yaitu gerakan sekelompok orang yang ingin memperjuangkan Islam. Yang namanya gerakan itu adalah sarana, bukan tujuan. Tinggal bagaimana yang terkandung dalam gerakan itu, apabila mengandung tiga hal. Ini menurut tinjauan secara obyektif oleh Dr. Abdulwahab ad-Dailami. Dr. Ad-Dailami menulis kitab namanya Al-‘Amal al-Jama’i Mahasinuhu wa Jawanibu ‘ala Salabihi. Kelebihan, kebaikan, dan kekurangannya. Nah amal jama’i adalah gerakan, bisa organisasi, bisa lembaga, bisa yayasan … ya nggak? Bisa ormas, itu semua namanya amal jama’i. Itu oleh Syaikh Ad-Dailami, itu dinilai secara obyektif. Mana kelebihannya mana kekurangannya. Dan ini (adapun dalam buku ini adalah) pendapat Syaikh Abdurrahman Abdul Khaliq, maksudnya untuk perbandingan, selain tadi fatwa-fatwa disampaikan boleh. Tetapi itu kan suatu keputusan. Ini adalah merupakan suatu kajian, positif dan negatifnya di mana? Nah, kemudian beliau menyebutkan, ada titik kelebihan dan ada titik kelemahan. Bagi beliau, bahwa suatu jama’ah, suatu kelompok atau gerakan itu bagus apabila memenuhi tiga syarat, ini penting sekali.

Yang pertama niatnya bener. Yang pertama apa? Niatnya bener. Yang kedua, tujuannya bener. Yang ketiga sarananya bener. Jadi, yang pertama niatnya bener, yang kedua tujuannya bener, dan yang ketiga sarananya benar. Kalau ketiga ini terpenuhi, maka suatu jama’ah atau pergerakan itu bergerak ke arah yang benar.

Terus saya akan menyebutkan banyak hal, hanya di sini disebutkan macam-macam kelompok pergerakan. Memang ada beberapa yang urgen. Ada gerakan yang fokus bergerak meluruskan akidah dan berkhidmat membela Sunnah. Ada pergerakan khusus seperti itu, positif. Ada gerakan lain yang ingin menyelamatkan manusia dari jurang kerusakaan dipindah ke masjid, kalau masih sebatas itu benar, tinggal di masjidnya mau diapain, tinggal diarahkan. Ada pergerakan yang mencoba memperbaiki ummat ini dari pimpinannya. Makanya harus lewat gerakan politik, mereka masuk ke wilayah politik. Nah, ini ada garis singgung positif dan negatifnya. Makanya Anda bisa baca buku karangan Syaikh Abdul Ghani ar-Rihal yang berjudul Alislamiyun wa sharahatu Demoqrotiya (Orang-Orang Islam dan Fatamorgana Demokrasi), dan dalam hal ini sudah gagal sepuluh kali, jangan dilakukan. Kemudian ada gerakan atau kelompok yang mereka mengatakan ini tidak bisa diubah penguasa ini kecuali dengan jihad, harus jihad semua, angkat senjata. Tapi kelompok ini pun mengalami naik turun.

Saya ingin menyampaikan sesuatu perubahan baru. Di depan saya ada buku baru, “دراسات تصحية في فهم الجهاد والحسبة والحكم على الناس” Dirasat Tashihah fi Fahmi Jihad wal Hisbah wal Hukmu ‘alan Naas. Buku ini adalah hasil renungan kajian ulang terhadap gerakan jihad bersenjata. Telah terjadi usaha untuk merefleksi ulang dan mengoreksi jihad yang ada di Mesir, Jama’atul Jihad tetapi ini diperkirakan orang-orang yang tertekan, karena disiksa, karena dipaksa, mereka mengakui kesalahannya itu. Makanya belum bisa dijadikan pegangan. Tetapi, kalau ini baru pertama kali terjadi di dunia dan ini dipopulerkan oleh Dr. Ash-Shalabi. Dr. Ash-Shalabi adalah seorang pemikir Islam, akidahnya lurus, dan ahli tentang banyak hal. Kalau antum baca buku sirah nabawiyah yang ditulis oleh Dr. Ash-Shalabi sangat luar biasa. Tinjauan dari sisi syar’i, sisi politik, dari sisi sosial, dari sisi ekonomi, dari sisi militer, bahkan dari sisi intelijen. Ini sangat luar biasa, beliau menulis tentang sejarah, menulis tentang akidah, menulis tentang segala sesuatu sampai 20 kitab. Nah, beliau ini sedang berusaha untuk bagaimana mendudukkan masalah ini bersamaan dengan pemerintah Libia yang diwakili oleh anak dari Kaddafi (pemimpin Libia) sendiri yang anaknya ini subhanaAllah, Islamnya lurus. Namanya Dr. Saiful Islam. Seorang yang Islamnya lurus ternyata bisa menjembatani antara kaum mujahidin dengan pemerintah. Akhirnya, sekitar 137 para mujahidin dibebaskan dari penjara, masih sisa 200. Dan orang-orang yang menulis ini, mereka sampai sekarang masih dipenjara. Mereka menulis karena kesadaran, bukan karena dipaksa, tapi karena kesadaran mereka sendiri. Sampai mereka mengatakan, ternyata langkah-langkah kami selama ini mengandung kesalahan. Yang harus dikoreksi ada Sembilan poin. Di sini disebutkan ada Sembilan poin yang disampaikan oleh enam orang penulis ini yang harus dipelajari oleh mereka yang serius menangani jihad.

Sehingga karenanya, pelajaran-pelajaran dari mereka ini insya Allah menjadi pelajaran buat kita. Jangan sampai kita membuat kesalahan-kesalahan. Dan orang-orang inilah yang menulis kitab dan kitabnya dipegangi para mujahidin. Kitabnya apa? الخطوط العريضة للجماعة المقاتلة Al-khuthtuthu al-‘Aridhah lil Jama’atil Muqatilah (Pedoman-Pedoman Utama Bagi Jama’ah-Jama’ah yang Berperang). Lain jihad lain qital. Jadi, ini adalah nasihat baru untuk mereka yang beraktivitas jihad barang kali perlu untuk mendalami buku ini selain juga mendalami tentang fiqhul jihad oleh para ulama. Dan ada desertasi doktor, yang menurut informasi, buku ini sudah dilarang di beberapa negara. Judulnya الجهاد والقتال في السياسة الشرعية Al-Jihad wal Qital fi Siyasyah Syar’iyah oleh Dr. Muhammad Khairi. Saya punya kitabnya, tiga juz, yang di situ lebih lengkap lagi. Kalau tadi disampaikan ada jihad daf’, ada jihad thalab, itu memang sesuatu yang harus dipahami secara utuh ketika kita berjihad. Tetapi di sana diterangkan konsep jihad secara utuh dan nanti akan kita singgung. Ini masih berkaitan dengan gerakan. Jadi, gerakan ini timbul karena merasa tidak ada yang mengarahkan dari para ulama. Ini termasuk kelemahan banyak gerakan jihad, karena tidak diarahkan oleh para ulama, dan ini pernah dialami oleh mereka. Sehingga ketika mereka menulis buku ini dikirim kepada enam ulama di dunia, kemudian mereka memberikan masukan bahwa apa yang kalian lakukan ini sudah betul untuk dapat koreksi dan membuat langkah dalam memperjuangkan Islam.

Saudara-saudara sekalian, insya Allah ini akan kita bahas lebih lanjut dalam porsi lain mungkin ada bedah buku sendiri. Baraka Allah fiikum. Ada kelompok-kelompok lain yang memperjuangkan Islam lewat pendidikan, dan yang jelas nanti akan kisa sampaikan gerakan mana yang benar dari semua gerakan yang ada ini. Itu perlu penilaian tersendiri supaya kita tidak berada pada posisi yang salah. Jangan-jangan memperjuangkan Islam lewat Syi’ah umpamanya, jelas keliru. Memperjuangkan Islam lewat LDII, jelas keliru. Karena itu mengandung banyak penyimpangan.

Baraka Allah fii kum, ini berkaitan dengan gerakan. Karena pembahasan yang disampaikan oleh Syaikh Abdurrahman bin Abdul Khaliq lebih spesifik tentang gerakan jihad Ibnu Taimiyah, maka harus kita lihat apa yang disampaikan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, bukan pendapatnya Syaikh Abdurrahman bin Abdul Khaliq. Di sini ada sejumlah pendapat beliau, tetapi yang harus kita dudukkan secara ilmiah, bagaimana gerakan jihad Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah? Tadi sudah sebagian disampaikan oleh Ust. Ahmad Rofi’i yang akan saya lengkapi.

Saudara-saudara sekalian, berkaitan dengan gerakan jihad, ini Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menyebutkan dalam Majmu’ Fatawa. Saudara-saudara sekalian, kalau Anda ingin menguasai tentang pemikiran Ibnu Taimiyah, Anda perlu membaca kitab Majmu’ Fatawa, 37 juz yang kebanyakannya dikarang di penjara. Dan saya sudah membaca nukilan-nukilan Syaikh Abdurrahman dari buku aslinya, yaitu Majmu’ Fatawa juz 28. Sebenarnya intisari dari gerakan jihad Ibnu Taimiyah memang ada pada juz yang ke-28 ini. Tetapi, karena kita belum bicara masalah jihadnya, bicara gerakannya dulu saya mendapatkan nukilan pernyataan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah pada Majmu’ Fatawa juz 11 halaman 92 dan 93. Beliau menyebutkan secara jelas. Apa yang beliau sebutkan?

فإن كانوا مجتهدين على ما أمر الله ورسوله من غير زيادة ولا نقصا فهم مؤمنون لهم ما لهم وعليهم ما عليهم وإن كانوا ….

Maknanya, bila orang-orang yang ada pada gerakan itu, dalam jama’ah itu, dalam kelompok itu, mereka berkumpul atas dasar perintah Allah dan Rasul-Nya, bukan atas dasar kelompoknya, bukan untuk kepentingan politiknya, bukan untuk kepentingan ekonomi, bukan untuk kumpul antar orang, tetapi tujuannya untuk membela agama Allah dan rasul-Nya. Ini penting sekali kan? Tanpa ditambah, tanpa dikurangi. Berarti tidak ada bid’ahnya. Perhatikan itu, banyak sekarang itu jama’ah-jama’ah banyak bid’ahnya, termasuk kesalahan yang disebutkan di buku ini. Masukan dari Dr. Abdul Wahab ad-Dailami. Kesalahan banyak jama’ah yang mengandung penyimpangan itu yang melahirkan ta’shub (fanatik) pada mereka, adanya bai’at, nggak ada pimpinan jama’ah dengan bai’at khilafah. Padahal, mereka tidak punya negara, belum menjalankan hukum Islam secara benar dan utuh, tapi sudah membai’at. Ini yang menjadi masalah bagi banyak orang. Siapa saja mereka, tidak perlu saya nyatakan. Tanpa penambahan, tanpa pengurangan. Mereka membawakan hadits:

من مات و ليس في عنقه بيعة مات ميتة جاهلية (رواه المسلم)

(Siapa yang wafat, meninggal, sedang ia belum berbai’at, maka ia mati jahiliyah).

Ini orang LDII banyak yang menggunakan hadits ini, maka siapa yang tidak masuk ke kelompok LDII dikatakan sesat, kafir, dan matinya di neraka. Ini bentuk dari kelompok yang mengandung kesesatan. Sehingga karenanya, kata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, tanpa ditambah dan tanpa dikurang, jauh dari bid’ah. Fahum mukminun, mereka itulah orang-orang mukmin. Mereka punya hak untuk dibela, kalau mereka punya kesalahan harus diluruskan. Apabila kelompok itu menambah-nambah, seperti bid’ah, nambah-nambahi, atau mereka mengurang-ngurangi, tidak utuh, ditambahi atau dikurangi. Mitsla ta’ashub (seperti fanatik), di antaranya seperti ta’ashub (fanatik) kepada orang yang masuk kepada kelompok itu. Bener atau salah. Ini kesalahan yang banyak dimiliki jama’ah-jama’ah yang menganggap jama’ah-jama’ah lainnya keliru semuanya, yang bener hanya jama’ah kita. Itu yang keliru menurut Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. Kalau itu memang terjadi, kalau orang tidak masuk dalam kelompoknya, wah dia bukan ikhwan kita. Kalau kelompoknya baru dianggap ikhwannya. Nas’ala Allaha ‘afiyah. Menjadi ta’ashub (fanatik) dengan kelompok itu, dengan jama’ah itu. Yang tidak dalam kelompok itu, dia palingkan, dia tidak ditoleh. Bener atau salah kelompoknya itu. Ini adalah perpecahan yang dicela oleh Allah dan Rasul-Nya. Nah inilah pernyataan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, banyak yang belum dinukil oleh Syaikh Abdurrahman bin Abdul Khaliq.

Saudara-saudara sekalian, beliau menyebutkan lagi pada juz 28 pada halaman 20:

فمن والى شخصه على أن يوالى من ولاه ويعادي من عاده كانوا من جنس التار التار المجاهدين في سبيل الشيطان مثل هدا ليس من المجاهدين في سبيل الله تعالى ولا جند المسلمين ولا يجوز أن يكون من هؤلاء عسكر المسلمين بل هؤلاء من عسكر الشيطان

Kata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahullah, bila ada seseorang loyalitasnya ada pada satu orang, yang loyal sama orang itu yang lain tidak, bener salah pokoknya itu. Nah ini masalah, ta’ashub (fanatik) kepada perorangan. Kebenaran dinilai dengan orang, kalau ngaji sana sini itu gak bener. Kata Syaikhul Islam, kalau sampai orang itu berwala kepada orang itu, berbara’ atas dasar orang itu, maka orang seperti ini pantasnya di pasukan Tar-Tar. Padahal, pasukan Tar-Tar ini yang dihadapi Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. ‘Ala kuli hal dalam buku ini dijelaskan beliau berperang langsung memimpin melawan pasukan Tar-Tar. Yang mereka berjuang untuk jalan syaithan, seperti orang ini tidak pantes masuk dalam kalangan mujahidin yang berjuang di jalan Allah. Dan, tidak pantas berada di pasukan kaum muslimin, Dan mereka tidak pantas berada di laskar-laskar kaum muslimin. Tetapi, mereka pantasnya laskar musyrikun. Jelas itu ya? Ini pernyataan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahullah Ta’ala atas dukungan kelompok untuk berjuang di jalan Allah dengan syarat tidak mengandung penyimpangan. Ini penting sekali, sehingga karenanya hal ini dijelaskan oleh hadits Nabi saw. yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim.

عَنْ الْأَعْمَشِ عَنْ أَبِي وَائِلٍ عَنْ أَبِي مُوسَى قَالَ جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ الرَّجُلُ يُقَاتِلُ حَمِيَّةً وَيُقَاتِلُ شَجَاعَةً وَيُقَاتِلُ رِيَاءً فَأَيُّ ذَلِكَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ قَالَ مَنْ قَاتَلَ لِتَكُونَ كَلِمَةُ اللَّهِ هِيَ الْعُلْيَا فَهُوَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ

Dari Al-A’masy dari Abu Wail dari Abu Musa berkata, “Datang seseorang kepada Nabi Shallalahu’alaihiwasallam dan berujar, ‘Ada seseorang yang berperang karena dorongan fanatisme, atau berperang karena ingin memperlihatkan keberanian, dan ada yang berperang karena ingin dilihat orang, siapakah yang disebut fi sabilillah? ‘ Nabi menjawab: ‘Siapa yang berperang agar kalimatullah menjadi tinggi, ia berada fii sabilillah’.” (Bukhari 6904).

Rasulullah saw. ditanya oleh seseorang berjuang karena keberaniannya, seseorang berjuang karena membela kelompoknya, seseorang berjuang karena ingin tampil. Mana di antaranya yang disebut fi sabilillah ya Rasulullah? Kata Rasulullah saw., “Siapa yang berperang untuk menegakkan agama Allah, untuk menegakkan kalimah Allah, maka dia fi sabilillah.”

Kemudian, kita bicara sekarang berikutnya tentang jihad. Pembahasan pertama sudah selesai, sekarang berkenaan dengan jihad, bagaimana jihad Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah? Saudara-saudara sekalian, ada ulama Saudi dikenal oleh para ulama sebagai orang yang paham betul tentang Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah yaitu gurunya Syaikh Muhammad Shalih al-Utsaimin, Asy-Syaikh Abdurrahman as-Sa’di. Syaikh Abdurrahman as-Sa’di itu ulama besar Suadi yang menggali, mendalami pandangan-pandangan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dari Ibnu Qayyim Rahimahumaallah. Sehingga, beliau menulis kitab Thariqul Wushul ila Ilmil Ma’mul. Itu beliau menukil kitab-kitab Syaikh Islam dengan ringkasan. Jadi, kalau Anda ingin mendalami pandangan Syiakhul Islam Taimiyah dan Ibnu Qayyim Rahimahullah, maka bacalah buku beliau yang berjudul Thariqul Wushul ila Ilmil Ma’mul. Yang beliau menukilkannya semua, kemudian beliau jadikan dalam kitab kecil, As-Siyasah asy-Syar’iyah dan ini berkaitan dengan jihad fi sabilillah.

Dari awal sudah berbicara وجوب تعاون على جميع منافع العليا وخصوصا في الجهاد (wajib bekerja sama untuk kaum muslimin seluruhnya dalam rangka memperoleh manfaat yang besar dari ummat Islam, khususnya jihad). Beliau menguraikan jihad luar biasa, beliau berkata bahwa hakikat jihad adalah bersungguh-sungguh dan berusaha keras untuk menguatkan kaum muslimin dan memperbaiki mereka, menyatukan mereka, menggalang seluruh kekuatan yang terpecah pada mereka dan membela mereka dari agresi-agresi musuh-musuh ummat Islam, dan meringankan beban kaum muslimin dengan cara apa pun supaya mereka teringankan bebannya. Ini adalah Asy-Syaikh Abdurrahman as-Sa’di Rahimahullah, seorang pakar tentang Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. Saya lihat, beliau jauh lebih hebat dari sisi penguasaan tentang Ibnu Taimiyah daripada Syaikh Shalih al-Utsaimin, karena beliau ulama besar, gurunya Syaikh Muhammad al-Utsaimin.

Kemudian beliau katakan, أقسام الجهاد وأنواعه (Macam-Macam Jihad dan Kandungannya). نوعين الجهاد jihad itu ada dua macam.
جهاد يقصد به صلاح المسلمين وإسلامهم في عقائدهم وأخلاقهم وأدابهم وجميع أمور المسلمين في تربية علمية وعملية وهدا النوع هو أصل الجهاد ………………

Jihad yang pertama, adalah jihad yang dimaksudkan untuk mengembalikan kaum muslimin dan memperbaiki kaum muslimin. Baik dalam adabnya, baik dalam sopan santunnya, dalam seluruh sektor kehidupan kaum muslimin, duniawi maupun ukhrawi (akhirat). Dan dalam mendidik mereka, baik secara ilmiah maupun amaliyah, teori dan praktik. Macam inilah macam jihad yang pertama.

Atas dasar jihad inilah terbangun jihad yang kedua, yaitu jihad yang dimaksudkan untuk menangkal agresi daripada penjahat-penjahat yang ingin merusak Islam dan kaum muslimin dari kaum kuffar, kaum munafikin, dan orang-orang ateis, dan dari seluruh musuh-musuh agama yang harus kita halau semuanya. Inilah pernyataan dari Syaikh Abdurrahman as-Sa’di Rahimahullah setelah mendalami seluruh pernyataan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah.
Sekarang kita lihat dari penyataan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah sendiri. Saudara-saudara sekalian, ternyata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah di dalam kitab beliau Majmu’ Fatawa juz 32 halaman 364, jadi ketika melihat kehidupan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahullah Ta’ala ini ternyata sedang berusaha untuk mencapai Thaifah Manshurah (kelompok yang mendapatkan pertolongan). Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menyebutkan bahwa gerakan yang memperjuangkan Islam itu harus tergabung dalam Thaifah Manshurah (kelompok yang mendapatkan pertolongan). Kemudian beliau menyertakan ayat Al-Qur’an surat Al-Hadid ayat yang ke-25, beliau menukil ayat ini sebagai landasan bahwa sekarang apa yang kita ambil pelajaran dari Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dari gerakan jihad beliau, dari ilmu beliau, dari pengalaman beliau, yang tertuang dalam kitab Majmu’ Fatawa juz 32 halaman 364, beliau membawakan ayat, a’u dzubillahi minasy syaitan nirrajim.

“Sesungguhnya Kami telah mengutus rasul-rasul Kami dengan membawa bukti-bukti yang nyata dan telah Kami turunkan bersama mereka Al Kitab dan neraca (keadilan) supaya manusia dapat melaksanakan keadilan. Dan Kami ciptakan besi yang padanya terdapat kekuatan yang hebat dan berbagai manfaat bagi manusia, (supaya mereka mempergunakan besi itu) dan supaya Allah mengetahui siapa yang menolong (agama)Nya dan rasul-rasul-Nya padahal Allah tidak dilihatnya. Sesungguhnya Allah Maha kuat lagi Maha Perkasa.” (Al-Hadid: 25)

Saudara sekalian, beliau ketika menerangkan ayat ini beliau katakan yang memperjuangkan Islam hanya dua kelompok, ahlul ‘ilmi wa ahlul jihad. Ini ayat, apa ahlul ‘ilmi wa ahlul jihad. Maaf, hari ini yang kita lihat ada ahlul ‘ilmi tidak ada ahlul jihad, ada ahlul jihad tapi bukan ahlul ‘ilmi. Ini ada ketimpangan dan inilah yang menjadikan mereka sadar untuk kemudian mengoreksi langkah mereka. Makanya kalau kita ingin memperjuangkan Islam dengan benar, maka kita harus tergabung dalam kelompok ahlul ‘ilmi wa ahlul jihad supaya tidak salah jalan, supaya nggak ngantukan, yang ngantuk gak jadi ahlul ‘ilmi wa ahlul jihad.

Allahu yubarikikum. Makanya saudara sekalian, ini dasarnya Al-Qur’an dan haditsnya. Yang menarik, hadits-hadits yang dibawakan oleh mereka, yang mengaku dirinya yang paling benar, kita paling benar, kita paling salafi, itu hanya hadits itu-itu saja yang mereka bawakan, yaitu hadits thaifah manshurah yang berbunyi:

لَا تَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِي ظَاهِرِينَ عَلَى الْحَقِّ لَا يَضُرُّهُمْ مَنْ خَذَلَهُمْ حَتَّى يَأْتِيَ أَمْرُ اللَّهِ

“Senantiasa ada sekelompok ummatku yang dimenangkan atas kebenaran, tidak akan membahayakannya orang yang memusuhinya hingga hari Kiamat sedangkan mereka tetap seperti itu.” (Muslim: 3544).

Akan ada selalu sekelompok orang dari ummatku, golonganku. Sekelompok ini menurut para ulama, di antaranya mujahid dan sebagainya, tiga sampai seribu. Antum ada berapa? Tiga sampai seribu. Nah kalau ada kelompok jihad 1000 orang, aman dunia ini. Ini kata Rasulullah saw. dalam hadits riwayat Muslim. Bahwa kemudian akan ada selalu pada kelompok ummat ini mereka yang tampil membawa kebenaran yang tidak pernah surut karena tekanan dari orang lain, karena ancaman dari orang lain, sampai datangnya hari akhir atau kematian. Ini hadits yang dibawakan oleh mereka. Apa kata mereka, hum ahlul ‘ilmi, hum ahlul hadits, mereka ahlul ilmi, mereka ahlul hadits.

Mereka lupa kalau ahlul hadits di masa itu adalah mereka mujahidin. Lihatlah Sofyan ats-Tsauri. Sofyan ats-Tsauri seorang ulama ahlul hadits yang dipuji oleh Imam Ahmad, dipuji oleh ulama-ulama, seorang ulama manta ulama Syi’ah. Saya harapkan ulama-ulama Syi’ah berubah seperti beliau yang kemudian menjadi mujahid besar, yang kalau tidur bantalnya itu basah bukan karena iler, basah karena menangis takut kepada Allah. Subhana Allah, luar biasa. Lihatlah kehidupan Sofyan ats-Tsauri, seorang ulama yang dikejar-kejar oleh penguasa karena ketegaran beliau membawa kebenaran, itulah Sofyan ats-Tsauri Rahimahullah.

Lihatlah Abdullah bin Mubarak, seorang ulama besar, tabi’ut tabi’in, ahlul hadits, mujahid besar, pengusaha sukses yang mengatakan, “Saya berusaha untuk mencari uang untuk membiayai para da’i yang ada di lapangan itu, untuk membiayai mujahidin.” Mana pengusaha yang seperti itu? Usaha hanya untuk dirinya sendiri, dia jadi pengusaha besar tapi tidak untuk membela agama ini. Lihatlah Abdullah bin Mubarak, seorang ahli hadits, mujahid besar. Luar biasa.

Nah kita lihat sekarang, bagaimana ahlul hadits di masa sekarang ini. Yang harusnya mereka ahlul ilmi juga ahlul jihad. Itu hadits yang sering mereka bawakan. Ternyata ada hadits lain riwayat Muslim juga, jarang dibawakan hadits ini. Hadits ini dibawakan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahullah:
وَلَا تَزَالُ عِصَابَةٌ مِنْ الْمُسْلِمِينَ يُقَاتِلُونَ عَلَى الْحَقِّ ظَاهِرِينَ عَلَى مَنْ نَاوَأَهُمْ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ
“Dan senantiasa ada sekelompok dari kaum Muslimin yang memperjuangkan kebenaran (berjihad, qital) dan selalu menang atas orang yang memusuhinya sampai hari Kiamat.” (Muslim: 3549).
Akan ada sekelompok orang dari kaum muslimin yang mereka berperang di jalan Allah. Perhatikan itu, ada ungkapan jihad, ada ungkapan qital (jihad perang). Kalau jihad, bisa pengertiannya bukan cuman satu. Jihad melawan hawa nafsu, jihad melawan kezhaliman, dan jihad-jihad lainnya, termasuk berperang di jalan Allah. Umpamanya Rasul mengatakan:

أَفْضَلَ الْجِهَادِ كَلِمَةُ حَقٍّ عِنْدَ سُلْطَانٍ جَائِرٍ

“Sebaik-baik jihad adalah perkataan yang haq pada pemimpin yang lalim.” (Ahmad: 10716).

Sebaik-sebaik jihad, menyatakan yang benar kepada pemimpin yang zhalim. Jihad bukan berarti perang. Tetapi kalau qital, itu tidak ada lain kecuali perang.

“Dan perangilah mereka itu, sehingga tidak ada fitnah lagi dan (sehingga) ketaatan itu hanya semata-mata untuk Allah. jika mereka berhenti (dari memusuhi kamu), maka tidak ada permusuhan (lagi), kecuali terhadap orang-orang yang zalim.” (Al-Baqarah: 193).

Perangi mereka, dalam bahasa Inggris kalau perang itu namanya betel. Kalau qital itu namanya betel. Kalau perang namanya war. Kalau jihad atau perang namanya war. War itu bisa war pemikiran, war ekonomi. Tapi kalau betel, itu betul-betul perang senjata. Nah, qital itu ya betel itu. Betel itu artinya perang atau pertempuran.

Nah Baraka Allahu fikum. Hadits itu jelas diriwayatkan oleh Muslim, akan selalu ada sekelompok ummat yang berperang melawan mereka yang menentang Islam dan itu akan selalu terjadi sampai hari kiamat. Makanya dalam kitab Ushulus Sunnah wa I’tiqadihi, sayang kitab ini belum kita sebarkan di masyarakat kita, kita pajang di masjid-masjid untuk supaya jangan Anda klaim kebenaran. Ushulul Sunnah karangan Abu Hatim ini merupakan kumpulan dari pandangan-pandangan ulama dari abad pertama, abad kedua, abad ketiga, dan mereka adalah ahlul hadits dengan makna tadi itu. Abu Zur’ah ar-Razi, seorang ulama muridnya Imam Ahmad, temannya imam Bukhari, hafal sejuta hadits. Abu Hatim ar-Razi, jangan tanya, luar biasa ilmunya. Anaknya Ibnu Abi Hatim juga luar biasa ilmunya. Kemudian dikumpulkan seluruh pernyataan para ulama abad pertama, abad kedua, dan abad ketiga. Sampai menjadi sekitar 46 poin. Ini kalau menjadi pedoman ummat Islam saya kira menjadi hal-hal prinsip. Inilah sebenarnya yang disebut salafi, betul-betul berpegang kepada manhaj salaf. Bukan pendapat orang-orang yang baru sekarang ini. Sehingga karenanya kembali kepada arti hadits yang sudah jelas berperang di jalan Allah, maka kemudian Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menyebutkan bahwa ath-thaifah manshurah adalah ahlul ‘ilmi wa ahlul jihad. Jelas itu ya? Nggak ada yang ngantukkan? Ahlul ‘ilmi wa ahlul jihad. Bukan cuman ahlul hadits, tidak ada jihad atau ahlul jihad tidak ahlul ‘ilmi. Untuk itu, kita harus kembali kepada ahlul ‘ilmi wa ahlul jihad. Saya sampaikan pernyataan Al-Imam al-Baghdadi dalam kitab Al-Faqih wal Mumfaqih, juz 1 halaman 35:

…..أقرب الناس من درجة النبوة أهل العلم وأهل الجهاد قال ما أهل العلم؟ فدل الناس على ما جائت الرسول وأهل الجهاد جاهدوا على ماجئت الرسول

Kata Imam Al-Baghdadi meriwayatkan dari Ishaq beliau katakan, sedekat-dekat manusia kepada derajat kenabian adalah ahlul ‘ilmi wa ahlul jihad. Mereka yang berilmu dan mereka yang berjihad. Karena, ahlul ‘ilmi mengajarkan manusia atas apa yang diajarkan oleh Rasulullah saw. dan ahlul jihad memperjuangkan apa yang dibawa oleh Rasul-Nya. Jelas itu. Makanya Dr. Muhammad Khairi menyebutkan sebab jihad ada dua. Sebab jihad yang pertama adalah menangkal agresi dari musuh-musuh Islam, disebut dengan jihad daf’. Jihad yang kedua membela dakwah Islam, itulah jihad thalab, jihad offensive. Yang itu harus ada daulah, harus ada khilafah, harus ada pemimpin.

Barakallah fikum. Di sini ada tulisan yang dikarang oleh Syaikh Abu Bakar al-Jazairi. Sebagai contoh bagaimana beliau menggerakkan ummat Islam untuk berjihad di Afghanistan pada waktu terjadi agresi Rusia di Afghanistan. Dan seperti ini juga banyak dilakukan oleh ulama lain, seperti Syaikh bin Baz dan lainnya. Mereka menyerukan untuk datang berjihad, inilah kesempatan emas buat kalian. Ini beliau sampaikan Abu Bakar al-Jazairi Hafidzhahullah.

Sehingga karenanya saudara-saudara sekalian, jihad pada saat itu tidak ada imam besar, jihad di Afghanistan adalah faksi-faksi, di sana ada Hikmatiyar dan lainnya. Tidak ada imam besar. Tetapi kenapa para ulama menyerukan di sana ada jihad? Disebabkan karena di sana ada jihad daf’, jihad defensive. Cuman sayang, di buku ini tidak disebutkan jihadnya Ibnu Taimiyah itu jihad defensive atau offensive. Tapi kalau dalam kaidah perang dikenal istilah sebaik-baik defensive adalah menyerang dan sebaik-baik menyerang adalah defensive.

Ikhwani barakallah fikum. Pertanyaannya, bagaimana caranya kita mengangkat jihad? Karena pemahaman jihad tidak bisa ditinggal oleh siapa pun, Al-Qur’an pun menyuarakan jihad. Bahkan isinya perintah. Di akhir surat Al-Hajj Allah katakan: “Wa jahidu fillah haqqa jihadi ….”

(Berjihadlah kalian dengan sebenar-benar jihad). Dan jihad inilah yang dipraktikkan oleh Rasulullah saw. Makanya saudara-saudara sekalian, ketika Rasulullah saw. berjihad, apa yang beliau lakukan? Mendidik kader-kader ahlul ‘ilmi di rumah Al-Arqam. Dididik oleh Rasulullah saw. terus-menerus ditambah. Kaderisasi yang akan membawa Islam, yang memahami Islam, yang memperjuangkan Islam. Itulah kelompok yang dididik Rasulullah saw. di rumah Al-Arqam. Hasilnya apa? Hasilnya dari didikan Rasulullah di antaranya Mush’ab bin Umair dan Abdullah Ummi Maktum yang dikirim Rasulullah saw. ke Madinah untuk membuka Madinah. Setelah ilmu, terjunkan ke tempat dakwah. Berdakwalah Mush’ab bin Umair dan Abdullah Ummi Maktum sehingga tidak satu pun rumah di Madinah kecuali ada orang Islam. Subhanallah. Inilah rijal (laki-laki pilihan) dari orang-orang beriman. Ada rijal yang memperjuangkan Islam. Karena pemahaman yang benar dan berjuang dengan sungguh-sungguh. Ini harus ada di antara ummat ini. Inilah yang dinamakan menjadi ahlul ‘ilmi wa ahlul jihad. Adapun selebihnya yang membuka pesantren, yang buka tempat pendidikan, yang buka bakso, dan buka usaha-usaha dan kemudian terjun macam-macam itu, dukung mereka, dukung kader-kader yang memperjuangkan Islam, karena mereka tergabung dalam kelompok Ath-Thaifah Manshurah. Barang kali ini harus mulai dipraktikkan pada ummat ini. Dan saya yakin dengan kondisi ummat yang ada ini, kesempatan yang ada ini harus kita manfaatkan untuk membangun satu kelompok kekuatan bagi ummat ini sebagaimana yang dilakukan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah.

Saya bacakan pernyataan Ibnu Qayim, karena ini berkaitan dengan Ibnu Taimiyah, karena Ibnu Taimiyah ini enam kali dipenjara, keluar masuk penjara. Kata beliau ketika beliau diancam bunuh dan segala macam, beliau mengatakan dengan kata-kata yang ditulis dengan tinta emas.

“Aljannatu fi qalbi in qataluni faqatlni syahadah fain sajjanuni fas sijni khalwah fain tharaduni ….” (Kalau mereka membunuh aku, maka matiku syahid; kalau mereka memenjarakanku, penjara bagiku adalah tempat berkhalwat; kalau mereka mengusirku, kepergianku adalah dalam wisata). Luar biasa imannya. Imannya apa?

Luar biasa imannya. Nggak ngantu-an, diajak ngomong semangat aja ….
Barakallah fikum. Ikhwani barakallahu fikum. Saya yakin antum terlalu banyak tahajud malam. Nah kalau kemudian Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah ketika dipenjara itu datang surat dari sultannya bahwa sebenarnya kamu masuk penjara itu karena ada seorang ulama yang bernama Shan’aji yang menyarankan sebaiknya kita hukum aja orang ini. Kata beliau, jangan. Orang yang menyakiti saya, saya maafkan dia. Orang yang menyakiti saya, saya maafkan semuanya. Bahkan pernah ketika itu ada musuhnya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, namanya Akhna’i meninggal. Ibnu Qayyim senang sekali, dia sujud syukur meski di pasar. Kemudian beliau bilang, ya Syaikh, musuh Anda telah meninggal dunia. Innalillahi wa inna ilaihi raji’un. Ibnu Qayyim senang, kemudian Ibnu Taimiyah berkata, jangan kamu bersenang dengan kematian seorang muslim. Mari kita berkunjung ke rumahnya. Kemudian Ibnu Taimiyah ke keluarganya, dibuka pintunya sama anaknya, kata anaknya, ketika bapakku mati, kok mau datang ya? Kata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, saya datang untuk ikut berbela sungkawa dan saya nyatakan sekarang saya pengganti bapak kalian. Kalau ada masalah datanglah kepadaku dan saya bersedia untuk itu. Subhanallah, ini musuhnya, luar biasa betul. Coba lihat para da’i sekarang, kalau lihat para ustadz (yang lain) banyak muridnya (rasanya) takut. Kenapa? Banyak muridnya.
Perhatikan di dalam perkataan Ibnu Qayyim bahwa di Damaskus ada sejumlah kelompok, hizbi-hizbi, juga kelompok Ibnu Taimiyah beserta pasukannya itu, kemudian menghancurkan berhala-berhala. Yang tadi Syaikhul Islam punya pasukan yang tadi disebutkan sebagai kelompoknya itu. Nah barang kali, setelah ini dan selanjutnya membentuk pasukan. Dan saya harapkan antum semua belajar silat atau karate. Itu kan diperbolehkan, bebas aja itu. Karena Rasulullah saw. pernah bersabda:

علموا أولادكم الرماية والسباحه وركوب الخيل…

“Ajarilah anak-anak kalian memanah, naik kuda, dan berenang.” (HR Ahmad, no: 305)

Itu semua dalam bentuk kekuatan. Makanya antum semua jangan suka lemes-lemes, dan kuat fisiknya harus terus dibangun. Wa allahu a’lam, Allahumma shalli ‘ala muhammad wa’ala ali Muhammad.

Oleh: Ust. Farid Okbah, MA
Dari http://www.alislamu.com

Filed under: syubhat

2 Responses

  1. zulfikri mengatakan:

    Allahu akbar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: