At Taujih

Mengawal Wacana Iqomatuddiin

Harokah Jihad Ibnu Taimiyah (I)

Download bukunya di sini : Download

Berikut ini adalah naskah transkrip ceramah pembicara pertama (Ust. Ahmad Rofi’I, Lc) dengan perubahan seperlunya berkaitan dengan kata-kata yang membingungkan.

Ceramah ini disampaikan pada acara: Bedah Buku Ibnu Taimiyyah wal ‘Amalul Jamaa’I (Harokah Jihad Ibnu Taimiyah). Hari dan tanggal: Ahad, 09 Mei 2010-07-22. Pukul: 08.00 s/d selesai. Pembicara Pertama: Ust. Ahmad Rofi’i, Lc, Pembicara Kedua: Ust. Farid Ahmad Okbah, MA, Tempat: Masjid Al-Azhar Jaka Permai Bekasi. Penyelenggara: LD Robbani bekerja sama dengan: Forum Aktifis Masjid dan Mushalla (FAMM) dan DKM Al-Azhar, Jaka Permai.

بسم الله الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمدلله، الحمد لله الدي هدانا لهدا وما كنا لنهتدي لولا أن هدانا الله، أشهد أن لاإله إلا الله وأشهد أن محمدا رسول الله وصفيه وخليله وخيرته من خلقه أرسله الله بشيرا ونديرا وداعيا إلى الله وسراجا منيرا
الصلاوة والسلام عليه وعلى آله وصحابته ومن تبع سنته الى يوم القيامة وبعد.
وقد قال الله عزوجل: يآ أيها الذين أمنوا اتقوا الله حق تقاته ولا تموتن إلا وأنتم مسلمون
يأيها الدين آمنوا اتقوا الله وقولوا قولا سديدا يصلح لكم أعمالكم ويغفرلكم دنوبكم ومن يطيع الله ورسوله فقد فاز فوزا عظيما
فإن أصدق الحديث كتاب الله وخير الهدي هدي محمد صلى الله عليه وسلم وشر الأمور محدثتها وكل محدثة بدعة وكل بدعة ضلالة وكل ضلالة في النار

Jama’ah sekalian, hadirin hadirat. Ikhwani wa akhwati a’azzaniyallahu wa iyyakum. Bersyukur kepada Allah SWT atas taufik, hidayah dari Allah SWT, kita akhirnya berkumpul di rumah Allah SWT untuk memahami Al-Qur’an, untuk menghayati Al-Qur’an, untuk bersama-sama sepakat mengamalkan Al-Qur’an, untuk juga menegakkan Al-Qur’an dan sunnah Rasulullah saw.

Saya mengingatkan saya pribadi dan setiap kita ummat Muhammad ‘alaihi shawatu wa salam bahwa di antara misi Rasul saw., dilahirkan dan dibangkitkan sebagai nabi dan rasul adalah, 3 ayat Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an. Satu di antaranya adalah Allah berfirman dalam surat Ash-Shaaf. Kata Allah SWT (yang artinya, red): “Telah bertasbih kepada Allah apa saja yang ada di langit dan apa saja yang ada di bumi; dan Dia-lah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.”

Allah memberi tahu kepada kita berupa berita, kalaulah Dia, siapa Dia, Dia adalah Allah yang telah mengutus Rasul-Nya (Muhammad bin Abdillah bin Abdul Muthalib). Membawa apa? Dibekali apa Rasul ini? Oleh Allah katakan, Rasul itu bukan mengarang sendiri, menciptakan sendiri, meneliti sendiri, merumuskan sendiri. Tidak! Allah SWT sudah membekali beliau dengan bil huda (petunjuk) dan wa diinil haqqi, yakni Islam. Dua-duanya adalah dari Allah SWT. Oleh karena itu, tidak benar bila ada orang yang mengatakan bahwa Islam itu atau ajaran Muhammad itu adalah hasil belajar Muhammad kepada para rahib atau hasil rekayasa para ummat Muhammad. Kalla, Al-Islam Allah turunkan kepada Muhammad melalui Jibril, Rasul yang punya andil, bahkan apa yang keluar dari omongan Rasul adalah wahyu. Allah berfirman, “Apa yang diucapkan Rasul itu bukanlah dari hawa nafsu, melainkan wahyu yang diwahyukan Allah kepadanya.” (An-Najm: 3-4.)

Mengingkari sunnah Rasul sama dengan mengingkari firman Allah. Mengingkari firman Allah, jangankan satu Al-Qur’an, satu huruf pun murtad menjadi kafir, halal damuhu (darahnya). Apa kata Allah?

“Dialah yang telah mengutus Rasul-Nya (dengan membawa) petunjuk (Al-Quran) dan agama yang benar untuk dimenangkan-Nya atas segala agama, walaupun orang-orang musyrikin tidak menyukai.” (At-Taubah: 33).

Muhammad dilahrikan di dunia ini adalah haqqan, Islam ini menang, ya’lu walaa yu’la ‘alaihi …. Islam harus tinggi, Islam harus menang, Islam harus unggul, Islam tidak boleh ada yang melebihi daripada Islam. Islam yang harus punya mengasuh dan mengayomi, membimbing, mengarahkan manusia penduduk bumi yang Allah cintai di muka bumi ini. Allah cinta kepada Islam, bukan kekufuran. Karena itu, Allah benci kepada kekufuran dan ridha kepada Islam.

“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu Jadi agama bagimu.” (At-Maidah: 3)

Allah ridha kepada Islam, Allah benci kepada kekufuran dan Allah tidak suka kepada orang-orang kafir. Para hadirin sekalian, berarti dengan ayat ini Allah memberitahu kepada kita semua bahwa Rasul lahir ke dunia untuk memenangkan Islam, agar bisa menjadi aturan bagi seluruh manusia. Bahkan, sekaligus Islam menjadi rahmatal lil ‘alamin. Kasih sayang Allah atas antum semua. Hanya saja, jama’ah sekalian, bahwa orang yang tidak suka kepada Islam adalah orang-orang musyrikun. Karena, kata Allah walau karihal musyrikun, betapapun orang-orang musryik itu benci. Ahlul kitab tidak patut untuk membenci Islam, malah mereka harus masuk Islam. Disebut ahlul kitab karena mereka berketurunan dari para nabi dan rasul yang mengajarkan Al-Islam, yang sama asalnya dari Allah.

Jama’ah sekalian, hadirin wal hadhirat yang dimuliakan Allah SWT! Berbicara tentang masalah buku yang akan kita bedah pada kesempatan ini Harokah Jihad Ibnu Taimiyah, lalu “Karena Harakah Itu Sunnah, Bukan Bid’ah”. Jadi, kalau Saudara-Saudara sekalian endus dari judulnya dikehendaki bahwa harakah jihad Ibnu Taimiyah, itu yang semestinya. Dan tidak boleh mengatakan bahwa harakah itu adalah bid’ah, karena ada contohnya. Jadi ada pernyataan dan ada alasan. Jadi harakah itu boleh, karena harokah itu sunnah, bukan bid’ah. Dari judulnya adalah, walaupun judul buku ini adalah kalau dilihat dari aslinya adalah berjudul Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah wal ‘Amalu al-Jama’i”, jadi Ibnu Taimiyah dan amal jama’i. Oleh karena itu, sebenarnya kalau terjemahan judul lebih menarik judul buku ini daripada judul kitab aslinya. Kalau terjemahannya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, berarti Ibnu Taimiyah. Wal ‘Amalu al-Jama’i, dan beliau menyikapi terhadap amal jama’i (amal jama’ah). Judulnya Harokah jihad Ibnu Taimiyah. Saya tidak akan mengurai kalimat ini, tetapi memang ilmu bisnis itu, bahwa judul buku itu harus menarik. Sehingga menarik minat pembaca untuk membeli dan membaca. Tapi kalau dikatakan Ibnu Taimiyah dan Amalul Jama’i, bisa tidak familiar, karena amal jama’i diterjemahkan tidak familiar juga. Kalau dikatakan amal jama’i itu adalah bekerja kolektif. Jadi kalau diterjemahkan Ibnu Taimiyah dan kerja kolektif. Oleh karena it,u tidak diterjemahkan seperti aslinya. Oleh karena itu, diterjemahkan menarik “Harokah Jihad Ibnu Taimiyah” sehingga agak serem sedikit, lalu orang penasaran, ah beli ah. Dan ini adalah biasa di dunia publisting, walaupun terkadang tidak sedikit yang menyimpang.

Nah oleh karena itu, saya tidak akan banyak bicara di sini. Yang jelas adalah pembelajaran yang dapat diambil daripada judul ini adalah ana punya pesan kepada Antum (Anda), bahwa apabila Antum mau beli buku dan buku yang Antum beli adalah buku terjemah, maka harus punya kaidah. Kaidah itu Antum catat!

Pertama, adalah tema dan bahasannya diperlukan dan memenuhi kebutuhan kita. Bukan judul, tapi temanya, bahasan-bahasannya atau kandungan buku itu adalah menjawab masalah yang kita butuhkan. Itu satu. Jadi Antum buka daftar isi. Kedua, adalah dari sisi penulis. Kalau penulisnya dari Ahlus Sunnah wal Jama’ah, maka Antum beli, tapi kalau penulisnya itu ahlul bid’ah, wal furqah atau wal mukhlifal kitab, maka jangan dibeli. Karena kata Imam Malik:
لايؤخد العلم عن أربعة: عن الفاجر وعن الكدب وعن صاحب البدعة يدعو الى بدعته
“Ilmu itu tidak boleh diambil dari empat orang, … yaitu dari orang yang ia itu termasuk ahlul bid’ah yang aktif menyerukan kepada kebid’ahannya.”

Maka orang yang seperti itu, hasil karyanya tidak boleh dinikmati, tidak boleh dibaca oleh kaum muslimin. Ini wasiat Imam Malik. Harus selektif memilih penulis buku yang akan dibaca.

Kemudian yang ketiga, adalah itsbata wa watsaiq ‘ilmiyah, yaitu referen-referen atau catatan-catatan kaki, rujukan-rujukan ilmiahnya yang jelas dan paten. Jangan dari orang kafir, orang Barat, (14: 33) … tapi jelas Allah berfirman, lihat Al-Qur’an ayat sekian, sabda rasul, lihat hadits ini dengan nomer sekian, atau aqwalus salaf (perkataan salaf), perkataan ulama zahid dan seterusnya. Berarti kita dituntut untuk memahami din sesuai dengan pemahaman salaful ummah (pendahulu ummat). Tapi kalau catatakan kaki tidak ada, ayat Al-Qur’annya tidak ada, ayatnya cukup terjemahan, haditsnya cukup terjemahan dan isnad saja, bahkan haditsnya Ibnu Majah, Ibnu Hibban, Baihaqi, cuman begitu tidak ada takhrijnya, saya berpesan untuk tidak membeli buku itu. Obyektif, tidak perlu keliru, karena buku tersebut belum diseleksi tentang keakurasian ilmiahnya, tetapi harus diseleski terlebih dahulu, haditsnya shahih berarti aman, oh haditsnya dha’if maka hati-hati kalau itu ada baru beli.

Kemudian ikhwan sekalian, yang tidak bakhil menampakkan naskah-naskah asli. Kalau Al-Qur’an menampakkan ayat Al-Qur’annya, Allah berfirman, “huwalladzi arsala rasulahu bilhuda wa diinil haqi” sehingga ada ajakan untuk syauq, rindu melihat nash-nash Al-Qur’an, untuk melihat naskah hadits Rasulullah saw. Dan jangan seperti buku-buku yang banyak beredar, cukup dengan artinya, artinya, artinya, artinya kan menurut penerjemah. Tapi kalau orang yang mengerti, ia bisa mengatakan, ini salah catatannya, ini tidak benar dan seterusnya. Oleh karena itu, buku apa pun yang Antum punya dan ingin dibeli, coba terapkan kaidah ini, insya Allah kita akan selamat.

Berikutnya adalah, saya akan mengomentari sedikit tentang buku ini. Saya termasuk yang mengawali. Oleh karena itu, saya akan sampaikan tentang poin kedua dalam tema buku ini. Tema kita saudara sekalian, ada empat perkara yang harus kita cermati. Di dalam buku ini, nanti Antum baca sendiri di rumah selengkapnya, karena kalau kita bahas satu per satu, maka waktunya tidak cukup. Tetapi, saya simpulkan bahwa dalam buku ini adalah pendapat “idzhar shuratin amaliyah liqiyadatil jihad min ghairi amiril mukminin”. Pendapat, perspektif yang kongkrit, dan aplikatif terhadap kepemimpinan jihad, komando gerakan jihad dan perang fii sabilillah yang dilakukan oleh bukan amirul mukminin.

Ibnu Taimiyah Rahimahullahu Ta’ala bukan amirul mukminin, bukan khalifah, bahkan pada saat itu ada kerajaan, tetapi beliau adalah iba terhadap nasib ummat, tidak rela dan tidak ridha ummat ini demikian diperlakukan. Oleh karena itu, beliau bangkit, beliau menjadikan dirinya sebagai qa’id, qa’id artinya adalah “komandan”, almujahidin adalah “mujahid”, menjadi pemimpin mujahidin, untuk kontra perang, untuk konfrontasi dengan Tar Tar yang mereka adalah tidak suka, bahkan memerangi Islam. Yang kemudian yang demikian itu tidak boleh didiamkan saja, harus dihadapi. Tampillah Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah memimpin perang itu, digambarkan hal itu di dalam buku ini. Jadi ikhwan sekalian, jika ingin tahu bahwa ada jihad tetapi tidak dipimpin oleh amirul mukminin. Di saat-saat ada orang mengatakan hari ini tidak boleh ada jihad karena amirul mukmininnya belum ada, sedangkan amirul mukminin adalah harus, wujubusy syarth adanya jihad. Kalau ada amirul mukminin berarti ada jihad ath-thalab, maka pada saat itu wajib berjihad. Kalau belum ada amirul mukmininnya belum ada jihad, tidak perlu berjihad (pendapat tersebut disebarkan oleh kelompok salafi berbau murji’ah, red).

Nah, jawabannya adalah pada saat ada pemimpin kaum muslimin, pada waktu itu raja-raja, ada qa’idin mujahidin dan dulu Chechnya punya pegawai negeri pada saat itu. Ibnu Taimiyah adalah amirun, imamul muslimin dan bukan dari kalangan muwazhaf atau abdi negara. Tetapi dia adalah qa’idun mujahidin. Di saat itu saja beliau melakukan suatu qiyadah al-jihad. Mestinya ketika ada khilafah wajib jihad, apalagi kalau tidak ada khilafah Islamiyah, apalagi kalau tidak ada amirul mukminin, lebih perlu lagi.

Para jama’ah sekalian. Jihad itu ada dua, ada namanya jihadu daf’ dan ada namanya jihad ath-thalab. Jihadu daf’i adalah fardu kifayah bagi kaum muslimin dalam rangka pembelaan terhadap diri kaum muslimin. Eksistensi mereka terusik, hak-hak mereka terhujat, bahkan keberadaan mereka terancam, bukan saja fisik tetapi juga akidah mereka. Pada saat itu kaum muslimin harus bangkit untuk membela akidah, untuk membela manhaj, untuk membela din, dan untuk membela kaum muslimin. Itu namanya adalah jihadu ad-daf’.

Yang kedua adalah aljihadu ath-thalab. Jihadu thalab itu adalah jihad yang merupakan institusi, kalau sudah ada qa’id atau amir atau khalifah atau imam kaum muslimin. Kata imam, setelah menimbang, memutuskan, menetapkan bahwa kaum muslimin seluruhnya harus mendisiplinkan jihad fii sabilillah. Seperti Allah berfirman,

“Berangkatlah kamu baik dalam keadaan merasa ringan maupun berat, dan berjihadlah kamu dengan harta dan dirimu di jalan Allah. Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui.” (At-Taubah: 41).

Infiruu, larilah kamu, larilah kalian pergi menuju jihad fi sabilillah. Khifafan dalam keadaan ringan atau tsiqalan dalam keadaan berat, berat maupun ringan kamu harus pergi ke medan jihad, kalau tidak kamu berdosa. Namanya adalah fardhu ‘ain. Para hadirin sekalian, itu adalah bagian dari sekian banyak contoh yang ada di buku ini bahwa ada namanya jihad tanpa dipimpin bukan oleh kolektif (khalifah).

Berikutnya, dalam buku ini ada juga yang merupakan bukti kongkrit bahwa kerja, aktivitas, kegiatan yang terordinir (terorganisasi, red) dengan baik, terprogram, sistematis, itu adalah termasuk pula digambarkan di dalam buku ini. Ini akan kita bahas, … maka dari itu kita akan bahas.

Para hadirin sekalian, bahwa al-‘amal al-jama’i, kerja kolektif, berjuang, berjihad secara terordinir dengan baik itu adalah bagian dari sunnah Muhammad Rasulullah saw. Dalilnya dari Al-Qur’an, dalilnya dari As-Sunnah, dalilnya dari al-aqwal al-ulama, dari aqlun yang shahih, dari fitrah yang shahih, dari hissi, bahkan dari qanun pun sekalipun. Nanti barang kali sedikit-sedikit akan kita bahas.

Yang ketiga adalah bahwa dalam buku ini juga idaman, bahwa merupakan gambaran kongkrit, tidak boleh dinyang-nyang (ditawar-tawar, red) terhadap kemungkaran. Bahkan dalam buku ini ada bahwa Ibnu Taimiyah Rahimahullah Ta’ala mengingkari kemungkaran itu dengan kongkrit, bahkan tidak mati (tak henti-hentinya, red) markas-markas, central-central kemungkaran itu ditawarin, didakwahin (didakwahi, red). Menunjukkan bahwa ingkaru mungkar itu harus ada, jangan jadi orang yang dingin, dinginnya terhadap kemungkaran itu akan melahirkan kejahatan. Katanya, udahlah jangan ikut campur urusan orang, nafsi-nafsi dan ini akan melumpuhkan dan menambah kemungkaran.

Berikutnya adalah bahwa sedikit terhadap penerjemah adalah dengan dimunculkannya buku terjemah ini agar mereka, barangkali menurut tafsiran saya, mempunyai keinginan untuk membangkitkan ruhul jihad dari kaum muslimin. Orang sekarang, apabila mendengar jihad itu ngeri, takut karena identik dengan apa yang dihembuskan oleh orang-orang kafir, yaitu bahwa terorisme, terorisme, terorisme. Padahal hadirin sekalian, justru yang menjadi korban adalah kaum muslimin. Nah, oleh karena itu maka ini juga harus kita hargai. Ada suatu keinginan bahwa jihad itu harus tumbuh dari kaum muslimin. Jangan sampai terlena, terjangkiti oleh wahnun.

يُوشِكُ الْأُمَمُ أَنْ تَدَاعَى عَلَيْكُمْ كَمَا تَدَاعَى الْأَكَلَةُ إِلَى قَصْعَتِهَا فَقَالَ قَائِلٌ وَمِنْ قِلَّةٍ نَحْنُ يَوْمَئِذٍ قَالَ بَلْ أَنْتُمْ يَوْمَئِذٍ كَثِيرٌ وَلَكِنَّكُمْ غُثَاءٌ كَغُثَاءِ السَّيْلِ وَلَيَنْزَعَنَّ اللَّهُ مِنْ صُدُورِ عَدُوِّكُمْ الْمَهَابَةَ مِنْكُمْ وَلَيَقْذِفَنَّ اللَّهُ فِي قُلُوبِكُمْ الْوَهْنَ فَقَالَ قَائِلٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا الْوَهْنُ قَالَ حُبُّ الدُّنْيَا وَكَرَاهِيَةُ الْمَوْتِ

“Hampir-hampir bangsa-bangsa memperebutkan kalian (umat Islam), layaknya memperebutkan makanan yang berada di mangkuk.” Seorang laki-laki berkata, “Apakah kami waktu itu berjumlah sedikit?” beliau menjawab: “Bahkan jumlah kalian pada waktu itu sangat banyak, namun kalian seperti buih di genangan air. Sungguh Allah akan mencabut rasa takut kepada kalian, dan akan menanamkan ke dalam hati kalian al-wahn.” Seseorang lalu berkata, “Wahai Rasulullah, apa itu al-wahn?” beliau menjawab: “Cinta dunia dan takut mati.” (HR Abu Daud: 3745).

Lalu apa wahnun itu, kata Rasulullah, hubbun dunya wa karahiyatul maut. Cinta dunia dan takut mati. Kalau sudah masalah dunia, sebelum istri bangun, sudah bertolak dari rumah. Isteri dan anak sudah tidur baru ia pulang ke rumah. Itu untuk urusan dunia. Tapi kalau untuk urusan ad-dakwah atau thalabul ‘ilmu (mencari ilmu), ngaji pun, ikut pengajian saja, nantilah sehabis isya’. Kalau sudah selesai kerjaan baru shalat. Kalau waktu libur, ada waktu senggang, atau sesudah undangan atau arisan baru ngaji. Kalau bentrok dengan undangan tidak jadi ngaji. Ikhwan sekalian, ini adalah musibah. Hubbunddunya wa karahiyatul maut. Bahkan tidak sedikit orang mengatakan, mengikuti pengajian itu lambat laun tambah susah. Para hadirin sekalian, ini di antara beberapa hal yang perlu kita perhatikan.

Berikutnya adalah seolah buku ini mengkaunter (membantah, red.) terhadap sekelompok orang yang anti terhadap orang yang bekerja secara terordinir (terorganisasi, red). Apabila mendengar organisasi, mendengar kerja yang teroganisir, atau tanzhim, seperti makan udang, langsung dia bentol-bentol, langsung buang air, alergi. Nah buku ini nampaknya mengkaunter itu. Nah oleh karena itu, maka saudara-saudara sekalian, dalam kesempatan kali ini sebelum saya masuk, ada positif dan negatifnya menampilkan tema seperti ini.

Satu: …….. (suara rekaman kurang jelas sehingga tidak bisa ditulis di sini, red.)

Kedua adalah bahwa pekerjaan secara terordinir tidak boleh pobi, harus terbiasa. Justru tidak nyunnah, tidak termasuk dalam kata Ahlus Sunnah jika bekerja itu tidak terprogram, tidak rapi, tidak tersusun, tidak terevaluasi, tidak terkontrol, itu justru bid’ah, bukan sunnah. Justru yang sunnah itu adalah yang terordinir, pelajari manhaj hijrah Rasul saw! Menurut apa yang saya pahami dan kumpulkan, hijrah Rasul dari Makkah ke Madinah itu terdapat pelajaran tidak kurang dari 50 poin, begitu terangkumnya Rasul bersama para sahabatnya hijrah. Tetapi sayangnya, ada orang yang anti terhadap kerja yang terorganisir. Jangan-jangan mereka terkena virus yang sengaja disebar oleh orang-orang kafir. Farriq tasquth, pecah belahlah kaum muslimin nanti kamu akan menjadi penguasa, jadi sayyid. Oleh karena itu, biarkan virus itu menyebar di tengah kaum muslimin, supaya mereka saling tuding, saling mengumpat, saling tengkar dan seterusnya, tidak mau satu sama lain bersatu, akhirnya mereka acak-acak kemudian bercerai berai, kemudian lemah, akhirnya mereka saat itu hancur. Sadari kaum muslimin bahwa itu tidak sesuai sunnah Rasul.

Ketiga adalah dalam buku ini bisa dibuktikan bahwa penyingkapan terhadap syubhat bagi orang yang mengatakan bahwa tanzhim itu adalah bid’ah. Saya akan bawakan aqwalul ulama ahlil ‘ilmi wal masyayekh (perkataan ulama ahli ilmu dan para syaikh, red.), tetapi tidak sekarang.

Berikutnya adalah negatifnya. Menurut saya mengangkat tema ini ada negatifnya, negatifnya adalah bahwa menentukan bahwa kita baru berfikir, sedangkan orang-orang sudah berbicara bagaimana meningkatkan etos kerja, juga meningkatkan bagaimana kaum muslimin bisa dijadikan sebagai objek. Kita baru memikirkan bekerja sama itu boleh, kan terlambat. Orang-orang sudah sampai Makkah, kita baru membawa tas mau berangkat. Ke mana? Oleh karena itu, jangan mau jadi orang yang terlambat. Bergabunglah dengan siapa saja, yang penting mengusung jayanya Al-Qur’an dan As-Sunnah ‘ala fahmi salafil ummah (berdasarkan pemahaman para salafus shaleh). Jangan munfaridin (sendirian), mun’azilin (memisah). Menyendiri sendiri saja, kerjanya sendiri saja, apa yang ia punya lebih baik dikerjakan sendiri, tidak terprogram. Kalau terprogram, hari ini saya beli bata, hari ini saya beli pasir, hari ini saya beli kusen, besok beli genteng, besok datangkan tukang, berikan gambarnya, baru dimulai pembangunannya. Tapi kalau sendiri-sendiri, mungkin khair, tapi masalahnya mampukah? Oleh karena itu saudara sekalian, ini adalah pelajaran, membahas ini seharusnya sudah puluhan tahun lalu. Seharusnya sekarang ini kita sudah membicarakan, wahai kaum muslimin, mari bangkit bagaimana cara membangun kekuatan. Baru kali ini, tapi tidak apa, Alhamdulillah daripada tidak. Oleh karena itu, para ulama berpendapat bahwa al-‘amal al jama’I dharuri.

Kedua seolah-olah buku ini dibahas dalam rangka memenuhi panggilan orang yang mengatakan bahwa tanzhim itu bid’ah, akhirnya kita kaunter (bantah, red) yuk! Jadi ada sedikit menganggap kita konsentrasikan untuk menoleh ke kanan ke kiri karena menjawab syubhat. Pada semestinya, kaum muslimin sekarang ini sudah tidak menoleh ke kanan dan ke kiri, mari fokus ke depan. Soolib, formasi salib terjadi di masjid Al-Barkah, Bekasi. Lalu kemudian bancinya tidak ada yang tahu, karena katanya BNK bekasi tidak pernah memberi izin, padahal acara mengatasnamakan BNK. Inikan banci. Ngaku dong, jentel, biar kita tau siapa yang bertanggung jawab.

Para hadirin sekalian, mereka sudah sampai situ. Mungkin saja kemarin itu dijadikan starter, nah ini ngicipin (mencoba, red) ini, ngerasa nggak? Eh, molor juga ni orangnya tidak sadar-sadar. Saudara-saudara sekalian, jangan menjadi orang yang “la hayata walaa maut”, tidak hidup tidak mati.

Para hadirin sekalian, pekalah terhadap lingkungan, bahwa Allah berfirman: (ولن ترضي عنك اليهود ولن النصاري) “Orang-orang Yahudi dan Nashrani tidak akan pernah rela kepada kalian…” Mereka tidak akan pernah rela sampai target kalian mengikuti mereka. Jadi kalau tergetnya supaya Antum jadi Nasrani, ataupun mengikuti ajaran mereka, mereka akan terus, sampai hari kiamat sampai ayat ini berlaku. Oleh karena itu, hal ini harus kita sadari. Al-Qur’an sikapnya adalah sir ‘ala tha’atillah, jalan terus, mudah-mudahan Allah memberkahi kita.

Jelas, jadi kalau tanzhim itu bid’ah, berorganisasi itu bid’ah jangan didengar, jalan terus. Jelas, karena tadi, bayangkan mereka juga saling memakan, Antum juga seperti itu, mau saja. Inikan bermasalah.

Kedua, bahwa isu jangan dari orang yang inkonsistensi (tidak konsisten, red.). Ketahui bahwa al-‘amalu al-jama’i adalah bisa berbentuk macam-macam, bisa berbentuk organisasi, bisa berbentuk lembaga, bisa berbentuk majelis, bisa berbentuk forum, bisa berbentuk yayasan, itu semua adalah ‘amal jama’i. Kalau orang yang punya yayasan, kemudian dia mengatakan bahwa kita tidak beramal jama’i, maka orang itu sama saja dengan orang yang mengingkari matahari di siang bolong yang terang. Para hadirin sekalian, yang namanya yayasan itu ada tujuan, ada kegiatan, ada visi, ada misi, ada program, ada pengurus, betul tidak? Itu namanya amal jama’i. Kalau mereka mengatakan tidak beramal jama’i, maka seperti orang yang mengingkari matahari di siang bolong.

Ikhwan sekalian, tadi telah dijelaskan supaya kita jangan sampai mengikuti apa yang menjadi pancingnya orang-orang kuffar wal musyrikun, kita orang Islam tapi terbawa arus, Islam sesuai desain orang-orang kafir. Ini bahaya. Misalnya, muncul sebuah ungkapan, ungkapan itu sebenarnya supaya kaum muslimin tidak berjihad dan itu adalah ada. Ada suatu lembaga yang mengatakan bahwa jihad bukan dari Islam, ah ini adalah kekeliruan, bahkan kesalahan, bahkan bisa jadi kebatilan, bisa jadi ke bid’ah.

Nah oleh karena itu, maka hadirin sekalian, saya ingin sampaikan sesuatu mudah-mudahan ada manfaatnya. Saya ingin sampaikan bahwa wasilah dakwah itu apakah disebut taufiki atau bukan? Tadi kan ada organisasi, yayasan, lembaga, forum, itu wasilah dakwah. Itu wasilah (sarana, red.), jangan dijadikan ghayah (tujuan, red.). Kalau ada yang menganggap organisasi ghayah, amal jama’i ghayah, apa pun lembaganya disebut ghayah, itu adalah orang-orang yang harus belajar dulu, sekolah lagi, dikasih pelajaran.

Syaikh Muhammad Shalih al-Utsaimin mengatakan, bahwa ketika ditanya apakah wasilah dakwah itu tauqifi atau bukan? Kata beliau, alqaulu alfashl, perkataan yang jelas dalam hal ini adalah “anna wasilata da’wah ma yashilu ila da’wati, wa laisa tauqifi”. Wasilah dakwah adalah yang dapat menyampaikan kepada dakwah, dan itu bukanlah tauqifi. La kinnahu la yumkinu dakwah bil haram, tidak mungkin berdakwah dengan cara yang haram, seperti dengan musik, seruling, ini adalah haram, kecuali kalau kita tidak bisa berdakwah kecuali dengan musik, dengan seruling, dan sejenis itu. Maka itu tidak boleh, haram. Jadi lembaganya, organisasinya tidak masuk tauqifiyah, ia adalah ijtihadiyah (bersifat pendapat, red.).

Berikutnya adalah ta’awun ‘ala birri wa taqwa. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah di sini adalah suuratun’amaliyah bagian daripada prospektif yang real, kongkret, yang nyata. Bagaimana beliau memimpin ummat beramal jama’i ini tidak mudah, beliau mengomando. Ini menunjukkan ada suatu amaliyah dengan cara terpimpin, baik secara penyataan atau perbuatan.

Saya akan mengatakan tentang apa yang dikatakan oleh Ibnu Katsir, misalkan, ketika beliau menafsirkan, “waltakum mingkum ummatui yad’una illal khair…” beliau menafsirkan ayat ini, kata beliau, maksud dari ayat ini harus ada sekelompok ummat yang menampakkan, yang menghadapi, yang mengkaunter terhadap kemungkaran-kemungkaran. Itulah kewajiban yang diberikan kepada ummat sesuai dengan kemampuan. Berarti harus ada firqah, harus ada suatu komunitas.

Saya bawakan perkataan Syaikh Abdurrahman as-Sa’di, kata beliau ketika menjelaskan tentang ayat “Wa a’iddu lahum mastatha’tum mingquwatin…” beliau mengatakan, fa yadkhul fi hadza, masuk dalam bersiap diri adalah al-isti’dadu bi kulli mastatha’, bersiap dengan segala kemampuan. Min quwatin ‘aqli, bisa berupa kekuatan akal. Min quwatin siyasyah, kekuatan politis. Bisa shina’iyah, kekuatan industri. Bisa ilmun nafi’, bisa juga dengan kekuatan ilmu yang bermanfaat. Bisa wa nizhamin nafi’, kekuatan yang bermanfaat; wal khail, berkuda; war ramyu, memanah. Dan juga bisa dengan berbagai media yang dapat melindungi kaum muslimin, termasuk membuat benteng-benteng yang melindung mereka.

Para hadirin sekalian, kalimat wa a’iddu lahum mastatha’tum …. jelas kita harus peka terhadap orang-orang yang mungkin mengancam Islam, mengancam kaum muslimin dan kita harus berjaga, bahkan sebelum terjadi. Kalau sekarangkan setelah terjadi. Kalau ada kejadian, kita baru main. Mereka sudah berencana, bahkan mereka sudah berbuat untuk menghancurkan Islam dan ummat Islam. Kaum musliminnya lehak-lehok, memble. Oleh karena itu, maka tidak boleh seperti itu.

Para hadirin sekalian, berikutnya adalah Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menyatakan akan bolehnya melakukan harokah untuk komitmen terhadap bekerja untuk meninggikan laailaha illa Allah muhammadurrasulullah. Di dalam Majmu’ Fatawa, beliau menjelaskan kepada kita, kata beliau, boleh berharokah selama sesuai syariat. Yang jelas sesuai dengan hadits rasul

مَا بَالُ أُنَاسٍ يَشْتَرِطُونَ شُرُوطًا لَيْسَ فِي كِتَابِ اللَّهِ مَنْ اشْتَرَطَ شَرْطًا لَيْسَ فِي كِتَابِ اللَّهِ فَهُوَ بَاطِلٌ وَإِنْ اشْتَرَطَ مِائَةَ شَرْطٍ شَرْطُ اللَّهِ أَحَقُّ وَأَوْثَقُ

“Bagaimana bisa orang-orang membuat syarat-syarat yang tidak ada dalam Kitab Allah. Siapa yang membuat syarat yang tidak ada pada Ktab Allah, maka merupakan syarat yang batal sekalipun dia membuat seratus syarat. Karena syarat yang dibuat Allah lebih hak dan lebih kokoh.” (HR Bukhori: 2010).

Kata Rasul, kenapa ada orang mensyaratkan sesuatu padahal syarat itu tidak ada dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah, maka walaupun ada 100 syarat seperti itu adalah bathilun, batil. Maka syarat dari Allah-lah yang hak, dan syarat dari Rasul-lah yang hak.

Saudara sekalian, adapun tentang wujud al-ama al-jama’I, maka banyak fatwa yang memperbolehkan kalau seandainya ikhwa sekalian mau berkoordinasi dalam sebuah organisasi, lembaga, atau kelompok, majelis-majelis, forum-forum, secara syar’i dibolehkan.

Terdapat fatwa dari lajnah da’imah al-buhuts, ad-durus, wal ifta wad dakwah wal irsyad ada fatwa tentang itu. Bahkan Syaikh Abdul Aziz bin Baz ada fatwanya, …. Bahkan Syaikh Utsaimin ada fatwanya. Semua mereka berfatwa boleh-boleh, tidak perlu ragu. Yang penting darimana perjalanan yang diusung oleh forum, majelis dan lembaga itu. Oleh karena itu, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah pada saat itu saja mengkoordinir bagaimana supaya kaum muslimin kuat. Itu ketika kondisi masih kondusif. Apalagi di saat situasi seperti ini, bisa wajib. Maka hendaknya, semua lembaga yang ada di Indonesia mempunyai kesadaran agar sunnah Rasulullah saw. hidup.

Demikian yang dapat saya sampaikan, mudah-mudahan bermanfaat. Wassalamu’alaikum warahmatullahi wa barakatuh.
Dari http://www.alislamu.com

Filed under: syubhat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: